Buku 08
“Jangan panggil dengan sebutan yang terlalu jauh.
Panggillah dengan sebutan yang lebih dekat. Kakang. Juga
kepada Untara lebih baik kau memanggilnya demikian” potong
Widura.
“Ya” sahut Agung Sedayu “Aku lebih senang”
“Baiklah” sahut Swandaru “Marilah, minumlah”
Widura dan Agung Sedayupun minum pula air jahe yang
hangat. Dengan demikian maka keringat mereka semakin
banyak mengalir membasahi tubuh mereka.
Dalam pada itu Ki Tanu Metir itupun bertanya pula “Dari
manakah angger berdua malam ini. Apakah seperti biasanya
nganglang setiap gardu perondan?”
“Ya” sahut Widura “Dan ke gunung Gowok. Aku sedang
berlatih bermain pedang. Guruku, Agung Sedayu telah
mencobakan ilmu yang paling akhir”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Sedang Ki Demang
Sangkal Putung menjadi terheran-heran. Apalagi Swandaru
sehingga dengan serta-merta berdesah “Ah”
Mereka menjadi semakin tidak mengerti ketika Widura
berkata “Tetapi seorang yang menamakan diri Kiai Gringsing
selalu saja mengganggu kami, sehingga usaha kami itupun
tidak dapat kami lakukan seperti yang kami kehendaki”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebelum berkata sesuatu, maka Widura telah berkata pula
“Akhirnya kami tidak meneruskan latihan kami. Tetapi kami
berpacu dengan orang yang tidak kami kenal itu
kekademangan”
Ki Tanu Metir menarik alisnya. Kemudian sambil tersenyum
ia berkata “Siapakah yang lebih dahulu sampai?”
“Ki Tanu Metir” jawab Widura.
“He” sahut Ki Tanu Metir “Kau berpacu dengan Kiai
Gringsing, namun kenapa aku yang lebih dahulu sampai?”
Widura menggeleng, jawabnya “Entahlah. Aku tidak tahu”
Ki Tanu Metir itu menundukkan wajahnya. Widura dan
Agung Sedayu duduk dengan gelisahnya, sedang Ki Demang
Sangkal Putung dan Swandaru masih saja memandang
mereka dengan penuh pertanyaan yang memancar dari
wajah-wajah mereka.
Agung Sedayu yang semula juga ikut menjadi bingung
perlahan-lahan dapat menangkap, apakah yang dilakukan
pamannya itu. Bahkan kemudian tiba-tiba ia bertanya
“Bagaimanakah dengan kakang Untara?”
Pertanyaan itu mengejutkan Ki Tanu Metir, sehingga
dengan serta-merta ia menjawab “Sudah semakin baik.
Angger Untara sudah dapat bangun dan berjalan-jalan.
Sebentar lagi luka iu akan sembuh, meskipun masih
diperlukan waktu untuk memulihkan kekuatannya”
“Tetapi malam ini aku tidak harus berkuda ke Sangkal
Putung sendiri. dan Kiai tidak usah menyusulku dan setelah
Kiai kalah bertempur melawan aku, maka Kiai harus
bertempur melawan Alap-alap Jalatunda”
Ki Tanu Metir tidak dapat menyembunyikan senyumnya
lagi. Perlahan-lahan ia berdiri dan berjalan mendekati Untara.
Ternyata Untara itu juga tidak sedang tidur. Bahkan ketika ia
melihat Ki Tanu Metir itu mendekati maka desisnya
“Bagaimana Kiai?”
“Kemana aku harus bersembunyi lagi ngger?” bertanya Ki
Tanu Metir kepada Untara.
“Kiai tidak perlu bersembunyi lagi”
Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Kemudian
gumamnya “Tamatlah cerita tentang seorang dukun tua dan
tamatlah cerita tentang orang yang berkerudung kain
gringsing”
“Cerita itu sudah lama tamat” sahut Widura.
Ki Tanu Metir berpaling. Ditatapnya wajah Widura yang
aneh. Tetapi sesaat kemudian orang tua itu tertawa geli.
Katanya “Terlalu banyak yang ingin kau ketahui ngger. Tetapi
baiklah, aku tidak perlu bersembunyi lagi. Dugaanmu benar”
Widura tertawa. Agung Sedayupun tertawa. tetapi Ki
Demang Sangkal Putung dan Swandaru sama sekali tidak
tahu, apakah yang lucu.
Karena itu, maka Swandaru itupun segera bertanya
“Apakah yang aneh paman Widura?”
Widura menggeleng sambil tersenyum “Tidak apa-apa.
hanya suatu permainan saja”
“Permainan apa?”
“Ki Tanu Metir mencoba bersembunyi ketika melihat kami
lewat. Disangkanya kami tidak melihatnya”
Swandaru mengerutkan keningnya. Jawaban Widura itu
semakin membingungkannya. Sehingga kemudian ia
mendesaknya “Tetapi, bagaimanakah cerita tentang paman
Widura dan orang yang disebut gurunya yang bernama Agung
Sedayu itu?”
Oh” sahut Widura “Aku hanya bermain-main. Ki Tanu Metir
pernah bertanya kepadaku, siapakah guruku, karena aku tidak
mau menunjukkannya, maka aku jawab saja sekenanya,
Agung Sedayu”
Swandaru mengumpat-umpat didalam hatinya. Ia tahu
betul, bahwa bukan itulah jawaban dari pertanyaannya.
Meskipun demikian ia sudah tidak bertanya lagi. Namun,
bagaimanapun juga, ia tidak dapat menjajagi, bahwa senda
gurau itu telah mengungkapkan suatu peristiwa yang selama
ini menjadi teka-teki bagi Widura. meskipun Ki Tanu Metir
belum mengatakan kepadanya, namun Widura telah dapat
merabanya. Bagaimanakah yang pernah terjadi atas Untara.
Bagaimanakah sebabnya, maka orang-orang disekitar rumah
Ki Tanu Metir menyangka bahwa orang tua itu bersama
Untara telah hilang dibawa gerombolan Plasa Ireng. Kini
semuanya sudah menjadi agak jelas bagi Widura. sudah tentu
Plasa Ireng beserta Alap-alap Jalatunda tidak akan dapat
berbuat sesuatu terhadapnya.
Ki Demang Sangkal Putungpun sebenarnya mempunyai
keinginan untuk mengetahui, apakah sebenarnya yang
sedang dipercakapkan oleh Ki Tanu Metir dan Widura, tetapi
ia segera mengendalikan dirinya. Persoalan-persoalan diluar
dirinya, dan mungkin menyangkut kepentingan kelaskaran
Pajang, lebih baik baginya untuk tidak turut
mempersoalkannya apabila tidak diminta.
Sesaat kemudian kembali mereka duduk melingkar diatas
tikar pandan dipringgitan. Untara masih tetap berbaring
dipembaringannya. Meskipun lukanya telah jauh berkurang,
namun ia masih belum kuat benar untuk terlalu lama duduk.
Diantara mereka sudah terhidang berbagai makanan.
Meskipun sudah terlalu dingin, namun dapat juga untuk
menggerakkan rahang-rahang mereka.
Sambil makan Ki Tanu Metir berkata seakan-akan sambil
lalu saja “Bagaimanakah kabarnya angger Sidanti itu
sekarang?”
Widura mengerutkan keningnya. Dan dilihatnya wajah
Swandaru menjadi tegang.
“Tak ada kabarnya” jawab Widura “Tetapi sudah pasti ia
tidak akan kembali ke Sangkal Putung”
“Tetapi ia pasti mendendam” potong Swandaru tiba-tiba
“Aku telah melukainya”
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya.
Sebenarnyalah bahwa Sidanti itu mendendam. Tidak saja
kepada Swandaru tetapi juga kepada Agung Sedayu. Sedang
mereka, Widura dan Agung Sedayupun, mendengar dengan
jelas, apa yang dikatakan oleh Ki Tambak Wedi, bahwa
dendam Sidanti yang terbesar justru kepada Agung Sedayu
dan Swandaru. Agung Sedayu yang dianggap menggesernya
dari sudut hati Sekar Mirah, dan Swandaru yang telah
melukainya bahkan hampir membunuhnya. Tetapi Agung
Sedayu itu menjadi tenteram ketika ternyata bahwa Kiai
Gringsing yang sekarang duduk dihadapannya sebagai
seorang dukun tua itu, akan melindunginya.
Tetapi Swandaru tidak mendengar janji yang pernah
diucapkan oleh orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing.
Sehingga dengan demikian maka dadanya menjadi berdebardebar
apabila diingatnya nama itu. Sidanti. Selagi mereka
masih berada dihalaman yang sama, Sidanti telah pernah
menamparnya dua kali. Apalagi kini, maka Sidanti itu tidak
akan sekedar menamparnya saja. Tetapi pasti membunuhnya.
Ayahnyapun merasakan kecemasan itu. Karena itu selagi
mereka mempercakapkan Sidanti, maka sama sekali Ki
Demang Sangkal Putung itupun ingin mencari perlindungan
bagi anaknya. Maka katanya “Aku menjadi cemas juga akan
angger Sidanti itu. Hubungannya dengan Swandaru terlalu
jelek. Sehingga keadaan Swandaru kinipun selalu terancam
pula olehnya. Apalagi pada saat terakhir, Swandaru itu telah
berusaha untuk membunuhnya, sehingga dengan demikian
maka dendam angger Sidanti itupun menjadi semakin dalam
pula”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Perlahan-lahan ia berdesis “Swandaru berusaha
menyelamatkan aku”
Widura melihat kecemasan yang membayang diwajah
ayah-beranak itu. Baik Ki Demang Sangkal Putung maupun
Swandaru agaknya tidak akan dapat merasa tenteram. Karena
itu, maka Widura itupun menjadi iba pula kepada mereka.
Sehingga tanpa sengaja ia berkata “Jangan cemas kakang
Demang, selagi Ki Tanu Metir masih disini”
Ki Demang terkejut mendengar kata-kata Widura itu.
Bahkan Ki Tanu Metir itu sendiripun terkejut. Tetapi kembali Ki
Demang Sangkal Putung itu menjadi kecewa. Ia menyangka
bahwa Widura masih saja bergurau. Karena itu ia berdesah
“Ah, nasib Swandaru benar-benar mencemaskan”
Widura menyadari kata-katanya. Bahkan ia menyesal,
bahwa Ki Demang merasa ia hanya bergurau saja. Maka
katanya kemudian untuk meyakinkan Ki Demang Sangkal
Putung itu “Aku berkata sebenarnya kakang Demang.
Sekaligus aku minta pula keringanan hati Ki Tanu Metir untuk
menyelamatkan Agung Sedayu dan Swandaru bersamasama”
Ki Demang Sangkal Putung sama sekali tidak segara dapat
mengerti kata-kata itu. Sekali-sekali ditatapnya wajah Widura,
dan sekali-sekali diamat-amatinya dukun tua itu. Sehingga
akhirnya ia bertanya “Maksud adi, apakah apabila angger
Agung Sedayu atau Swandaru dicederai oleh angger Sidanti,
maka Ki Tanu Metir akan mengobatinya hingga sembuh?”
Ternyata Ki Demang Sangkal Putung itu benar-benar tidak
mengerti maksud Widura. dan sebenarnya bahwa Widura
mengatakan sesuatu sebelum lawan berbicaranya siap untuk
menerimanya. Widura mengatakan suatu hal diluar
pengetahuan Ki Demang Sangkal Putung. Tetapi, agak
sulitlah bagi Widura untuk berkata terus terang tentang Ki
Tanu Metir, meskipun ia sadar, bahwa itu harus dikatakannya.
Setelah menimbang beberapa lama, maka kemudian
Widura itupun menjawab “Ki Demang, biarlah Ki Tanu Metir
berusaha untuk memberikan beberapa pengetahuan kepada
Agung Sedayu dan Swandaru, sehingga mereka berdua tidak
dapat dikalahkan oleh Sidanti”
Ki Demang Sangkal Putung mengerutkan keningnya.
Katanya dengan ragu-ragu “Angger Agung Sedayu barangkali
dapat berbuat demikian. Sebab malahan angger Sedayu
sudah melampaui ketinggian ilmu Sidanti. Tetapi anakku itu?”
“Itulah yang aku maksud, kakang” sahut Widura “Biarlah Ki
Tanu Metir menuntun Swandaru dan Agung Sedayu. Karena
Agung Sedayu telah memiliki bekal yang cukup, maka biarlah
untuk Sementara Swandaru akan mendapat perhatian lebih
banyak daripada Agung Sedayu. Sebab ternyata bahwa
dendam itu disebabkan oleh Swandaru sedang berusaha
menyelamatkan Agung Sedayu. Sehingga karena itulah maka
akupun minta dengan sangat Ki Tanu Metir untuk memenuhi
permintaan itu”
Ki Demang Sangkal Putung benar-benar menjadi pening
mendengar keterangan Widura yang justru menjadikannya
semakin bingung. Swandarupun tidak kalah bingungnya.
Sehingga bahkan ia menjadi jengkel. Dengan bersungutsungut
ia berkata “Paman Widura, bahaya itu sebenarnya
sedang mengancam kami. Aku dan kakang Agung Sedayu.
Apakah dalam keadaan itu aku harus belajar mengobati lukaluka
supaya aku sempat mengobati lukaku seandainya Sidanti
mencelakakan aku?”
Widura benar-benar menjadi sulit untuk mengatakan
maksudnya. Sedang Ki Tanu Metir sendiri sama sekali tidak
membantunya. Karena itu, maka katanya kemudian kepada Ki
Tanu Metir “Ki Tanu Metir, tolonglah, jelaskanlah maksudku
kepada kakang Demang dan Swandaru. dan katakanlah
kepada kami, apakah Ki Tanu bersedia memenuhi permintaan
kami. Mengambil Agung Sedayu dan Swandaru sebagai murid
Kiai dan memberi mereka bekal keselamatannya dari
ancaman Sidanti”
Ki Tanu Metir mengangkat wajahnya. ditatapnya setiap
orang yang duduk disekitarnya satu demi satu. Kemudian
perlahan-lahan ia berkata “Jadi bagaimana angger Widura?”
“Terserahlah kepada Kiai” jawab Widura.
Ki Tanu Metir mengangguk-angguk. Kemudian kepada
Widura ia berkata “Angger, permintaan angger aku terima
dengan senang hati. Mudah-mudahan aku mampu berbuat
demikian, seperti yang telah aku ucapkan Ki Tambak Wedi
sendiri. sekarang apakah angger Agung Sedayu dan angger
Swandaru bersedia menerima tawaran itu?”
Agung Sedayulah yang dengan serta-merta menjawabnya
“Aku sangat berterima kasih atas kesempatan itu Kiai”
Tetapi Swandaru belum juga menyadari keadaannya. Ia
masih merasa seakan-akan percakapan itu seperti sendagurau
saja. Namun meskipun demikian ia tidak berkata apaapa,
hanya sinar matanya sajalah yang memancarkan
kebimbangan dan kebingungannya.
Ki Tanu Metir menangkap kebimbangan dihati Swandaru
itu. karena itu, maka katanya “Angger, aku tahu angger
menjadi ragu-ragu. Mungkin angger tidak mendapat
keyakinan, bahwa dengan belajar kepadaku, angger mungkin
akan menyelamatkan diri sendiri dari bahaya yang akan
ditimbulkan oleh Sidanti. karena itu, maka aku akan mencoba
menyakinkan angger untuk kepentingan keselamatan angger
sendiri” Ki Tanu Metir itu berhenti sesaat. Sekali lagi
ditatapnya wajah-wajah yang ada disekitarnya. Terasa
alangkah berat hatinya untuk mengatakan sesuatu yang
terkandung didalam dadanya. Sebenarnya Ki Tanu Metir
bukanlah seorang yang suka menunjukkan kelebihankelebihannya
kepada orang lain. Sebenarnyalah bahwa
apakah Swandaru percaya atau tidak, bukanlah
kepentingannya. Juga seandainya Swandaru itu kelak akan
mengalami nasib yang malang karena pokal Sidanti, itupun
sama sekali bukan kepentingannya. Namun ia sadari bahwa
seharusnyalah anak itu diusahakan untuk dapat
menyelamatkan dirinya sendiri. Meskipun Ki Tanu Metir itupun
mengetahuinya, bahwa pertentangan antara Swandaru dan
Sidanti tidak saja timbul karena persoalan Agung Sedayu itu.
Tetapi sejak masa-masa lampau sebelumnya, pertentangan
itu memang telah ada. Namun sebab yang langsung sekali
adalah usaha Swandaru membunuh Sidanti pada saat-saat
Sidanti hampir saja berhasil melumpuhkan Agung Sedayu.
Karena itu, oleh sesuatu tekanan didalam hatinya yang belum
pernah dikatakannya kepada orang lain, maka Ki Tanu Metir
merasa berkewajiban untuk menolong Swandaru itu, seperti ia
menolong Agung Sedayu sendiri, karena persoalan yang
bersangkut-paut.
Dengan demikian, maka setelah berhenti sejenak, Ki Tanu
Metir itu berkata “Angger Swandaru, sebelum angger mulai
dengan mematuhi petunjuk-petunjuk yang akan aku berikan,
adalah wajah sekali kalau angger harus menjadi yakin, bahwa
orang yang dipatuhi itu akan dapat memberinya sesuatu.
Karena itu, maka biarlah aku mencoba meyakinkan angger.
Aku bukan sengaja untuk menunjukkan keanehan dan
mungkin juga menyombongkan diri, tetapi aku tidak melihat
cara yang lain untuk itu”
Swandaru memandang Ki Tanu Metir tanpa berkedip. Ki
Demang Sangkal Putungpun menjadi semakin bingung. Tetapi
ia benar-benar ingin melihat, apakah yang akan dilakukan oleh
Ki Tanu Metir itu.
Ki Tanu Metir itupun kemudian berpaling kepada Agung
Sedayu dan berkata “Angger, apakah peristiwa yang angger
saksikan tadi mampu meyakinkan angger Swandaru?”
Agung Sedayu tahu benar maksud Ki Tanu Metir. Karena
itu segera diceritakannya apa yang baru saja dilihatnya. Tetapi
seperti juga Ki Tanu Metir, Agung Sedayu ragu-ragu, apakah
ceritanya cukup meyakinkan tanpa melihatnya sendiri.
Meskipun demikian, maka Agung Sedayu telah mencoba
menceritakan apa yang telah terjadi. Pertempuran antara Ki
Tambak Wedi dan Kiai Gringsing. Dan ternyata bahwa Kiai
Gringsing itu adalah Ki Tanu Metir itu sendiri.
Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putung mendengarkan
cerita itu sambil mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka
dapat mengerti beberapa bagian dari cerita itu. Namun
tampaklah pada wajah Swandaru, bahwa ia masih juga raguragu
mendengar cerita Agung Sedayu.
Mereka bukan tidak percaya pada Agung Sedayu, namun
mereka sangatlah sukar utuk membayangkannya, bahwa hal
itu dapat terjadi atas seorang dukun tua seperti Ki Tanu Metir
itu.
Ki Tanu Metirpun dapat menangkap keragu-raguan itu.
Tetapi apakah yang dilakukannya untuk meyakinkan mereka
itu.
Dalam kebimbangan itu tiba-tiba terdengar Untara berkata
“Aku juga mempunyai sebuah cerita. Apakah kau mau
mendengarkan Swandaru?”
“Tentu” sahut Swandaru kosong.
“Baiklah” berkata Untara pula. perlahan-lahan ia bangkit
dan dengan perlahan-lahan pula ia berjalan dan duduk
disamping Ki Tanu Metir.
“Lukaku sudah tidak berbahaya lagi” katanya.
Swandaru dan kesempatan memandanginya dengan
tegang. Cerita apakah yang akan dikatakan oleh Untara itu.
“Ki Demang Sangkal Putung dan kau Swandaru” berkata
Untara itu kemudian “Cerita ini adalah cerita tentang diriku
sendiri. Cerita tentang seorang prajurit yang gagal memenuhi
kewajibannya. Mungkin sebagian kalian telah mendengar dari
Agung Sedayu, namun aku yakin bahwa pada saat itu paman
Widura dan Agung Sedayu telah berusaha mencari aku”
Untara berhenti sejenak. Dilihatnya tidak saja Swandaru dan
ayahnya yang mendengarkannya dengan sungguh-sungguh.
Tetapi juga Agung Sedayu dan Widura sendiri.
“Aku kira, pada waktu itu hampir semua orang menyangka
aku telah hilang. Bahkan mungkin orang menyangka bahwa
aku telah diculik oleh gerombolan Plasa Ireng, sebab
sepeninggal Agung Sedayu kemari, pada waktu itu datanglah
Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Namun ternyata aku
selamat. Didalam rumah itu hanya ada aku berdua dengan Ki
Tanu Metir. Seorang dukun tua. Aku sedang terluka, agak
parah hampir seperti lukaku sekarang. Nah, siapakah menurut
dugaan kalian yang telah menyelamatkan aku dari tangan
Plasa Ireng itu?”
Widura dan Agung Sedayu menjadi semakin jelas akan
persoalan itu. Sudah tentu Plasa Ireng tidak akan mampu
mengambil Untara pada saat itu, sebab didalam rumah itu ada
Ki Tanu Metir, yang kemudian menamakan dirinya Kiai
Gringsing.
Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putungpun segera
dapat menjawab pertanyaan Untara itu. Sudah pasti Ki Tanu
Metir. Namun kembali mereka tidak dapat membayangkan,
apakah yang sudah dilakukan oleh dukun tua itu untuk
menyelamatkan Untara. Bagaimanakah rupanya kira-kira
kalau orang tua itu bertempur, apakah ia harus melawan Ki
Tambak Wedi ataukah ia harus berkelahi melawan Plasa Ireng
dengan beberapa orang kawannya.
Swandaru dan Ki Demang itu benar-benar berada dalam
kebimbangan dan keragu-raguan. Sehingga kemudian
terdengar Untara berkata seterusnya “Nah, ternyata Ki Tanu
Metirlah yang berhasil menyelamatkan aku. Setelah Ki Tanu
Metir itu berhasil mengusir Plasa Ireng dan orangnya, maka
segera akupun disembunyikannya diatas kandang kuda,
sementara itu Ki Tanu Metir pergi menyusul Agung Sedayu.
Baru setelah Ki Tanu Metir kembali, maka aku dibawanya
pergi, mengungsi ketempat yang tak banyak dikenal orang.
Dan memang tidak banyak orang yang akan menyangka
bahwa aku disembunyikan oleh dukun tua itu. Namun
sebenarnyalah demikian”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Dadanya sudah berdebar-debar seandainya kakaknya
mengatakan bahwa ia telah menjadi ketakutan dan hampir
menjadi pingsan ketika kakaknya itu memaksanya pergi ke
Sangkal Putung. Sehingga sampai saat terakhir, tidak
seorangpun dari Sangkal Putung yang mengetahui, bahwa
Agung Sedayu baru saja melampaui suatu masa yang tak
pernah disangkanya akan terjadi.
Swandaru dan Ki Demang Sangkal Putungpun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun keragu-raguan
yang bersarang didalam dada mereka, masih belum dapat
mereka lenyapkan.
Ki Tanu Metir yang melihat perasaan itupun kemudian
berkata “Angger Swandaru. Aku akan mencoba menunjukkan
beberapa permainan yang dapat meyakinkan angger. Bukan
semata-mata aku ingin dipercaya, namun semata-mata untuk
memberikan dasar-dasar kepercayaan kepada angger
Swandaru, bahwa usahanya akan tidak terlalu sia-sia.
mungkin memang tidak akan dapat berhasil seperti yang
diharapkan, misalnya, dalam waktu yang pendek akan segera
dapat mengimbangi Sidanti, namun setidak-tidaknya ada
usaha kearah itu. Mudah-mudahan lambat-laun akan berhasil
pula, meskipun dari sedikit”
Swandaru tiba-tiba menjadi gembira. Kalau ia akan dapat
melihat apapun yang dilakukan oleh Ki Tanu Metir, maka ia
akan dapat meyakininya apa yang dilihat itu. Dan apabila
demikian, maka ia berjanji didalam hatinya, bahwa ia tidak
akan merasa seorang murid yang tekun. Mudah-mudahan ia
tidak akan merasa selalu terancam hidupnya oleh Sidanti
sepanjang umurnya.
Karena itu ketika Ki Tanu Metir mengajak mereka itu
kehalaman, maka dengan serta-merta Swandaru itupun berdiri
dan berkata “Benar-benar diluar kemampuanku untuk
memikirkan apa yang telah terjadi itu, dan mungkin apa yang
terjadi dalam permainan ini. Tetapi aku berjanji, bahwa aku
akan menjadi seorang murid yang tekun, demi keselamatanku
sendiri dan demi kelangsungan ketentraman didaerah ini”
“Bagus” seis Ki Tanu Metir “Angger adalah putra seorang
Demang yang akan dapat nglintir kekuasaan itu. Mudahmudahan
angger akan dapat membawa bekal secukupnya”
“Terima kasih Kiai” jawab Swandaru.
Ki Tanu Metir itupun kemudian berjalan mendahului
mereka. Tetapi dimuka pintu ia berhenti. Sambil berpaling ia
berkata “Kita ke gunung Gowok”
Swandaru tidak peduli, apakah permainan itu dilakukan
dirumah, dihalaman, atau di gunung Gowok. Karena itu ia
menjawab “Marilah. Aku akan kut kemana Kiai akan pergi”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian kembali ia berjalan kehalaman. Ki Demang Sangkal
Putung yang ingin juga melihat hal-hal yang baginya tak dapat
dimengertinya itu ikut pula bersama Widura dan Agung
Sedayu. Hanya Untara sajalah yang tinggal dipringgitan dan
kembali ia membaringkan dirinya.
Para penjaga regol yang melihat mereka keluar menjadi
heran dan bertanya-tanya didalam hati. Kemanakah mereka
itu pergi? Widura dan Agung Sedayu baru saja pulang dari
nganglang. Sekarang mereka pergi lagi bersama Ki Demang,
Swandaru dan Ki Tanu Metir. Apakah ada seseorang yang
perlu segera mendapat pertolongan dukun tua itu?
Tetapi mereka ridak bertanya terlalu banyak. Mereka hanya
menyapa dan sekedar bertanya sepantasnya. Namun Widura
yang menjawabnya hanya sekedar menjawab sepantasnya
“Berjalan-jalan” katanya.
Mereka itupun kemudian berjalan tergesa-gesa ke gunung
Gowok. Disepanjang jalan itu, mereka hampir tidak bercakapcakap
sepatahpun. Masing-masing sedang sibuk dengan
angan-angannya.
Ki Tanu Metir itupun sibuk pula dengan pikirannya sendiri.
adalah aneh sekali, bahwa ia seakan-akan memaksa
seseorang untuk menjadi muridnya tidak atas permintaan
anak itu sendiri. hal yang benar-benar menggelikan. Bahkan
terpaksa ia membuktikan kepada anak itu sesuatu yang
meyakinkannya, untuk bersedia menjadi muridnya. Tetapi ia
tidak dapat menolak permintaan Widura. dan ia tidak dapat
membiarkan anak itu hidup dalam ketakutan atas bayangan
orang lain yang mendendamnya. Ia harus menolongnya,
meskipun dengan demikian terjadi kejanggalan itu.
Pada saat permulaan dari penurunan ilmu itu, Ki Tanu Metir
telah melihat sesuatu yang menarik perhatiannya pada
Swandaru. Anak itu memiliki sikap tinggi hati lebih dari Agung
Sedayu. Mungkin terpengaruh oleh kebiasaan hidupnya
sebagai seorang anak Demang, sehingga seakan-akan iapun
memiliki pula kekuasaan yang dimiliki oleh ayahnya,
Swandaru tidak segera menerima tawaran untuk menjadi
muridnya. Namun ia meragukannya. Ia tidak ingin melihat halhal
yang tidak dimengertinya itu lambat laun, namun dalam
kebimbangan ia menunggu, meskipun telah didenganya
beberapa keterangna mengenai dirinya.
Tetapi dengan demikian, maka Swandaru memnpunyai
sifat yang lebih terbuka pula. ia lebih senang melihat dan
membuktikan langsung daripada menyimpan teka-teki didalam
hatinya.
“Namun anak muda itu harus tahu” berkata Ki Tanu Metir
didalam hatinya “Bahwa bukan kehendakku untuk
mendapatkan murid-murid yang aku kehendaki, namun apa
yang aku lakukan adalah untuk kepentingannya semata-mata,
sehingga dengan demikian ia seharusnya tidak berbuat
sekehendaknya seakan-akan tidak memerlukannya, tetapi
harus benar-benar bertanggung-jawab bagi masa depannya
sendiri”
Tetapi Ki Tanu Metir belum dapat mengatakan itu sekarang
kepada Swandaru. Mungkin Agung Sedayu akan segera dapat
mengertinya, namun Swandaru pasti belum. Anak itu harus
melihat sesuatu lebih dahulu, sesuatu yang dapat menarik
perhatiannya dan kepercayaannya. Tetapi apa?
Ki Tanu Metir menarik nafas panjang. Ia harus berbuat
untuk menunjukkan kelebihannya dari orang lain. Benar-benar
suatu hal yang asing baginya. “Mudah-mudahan aku tidak
sekedar terdorong untuk menyombongkan diri” orang tua itu
tersenyum didalam hati.
Tanpa terasa merekapun kemudian sampai pula disebuah
tanah lapang kecil didekat puntuk kecil yang bernama gunung
Gowok. Widura dan Agung Sedayu sudah kenal betul dengan
gunung itu. Kepada batang kelapa sawit diatasnya, dan
kepada tanah lapang yang kecil itu. Jauh lebih baik dari Ki
Demang Sangkal Putung itu sendiri.
Swandaru menjadi gembira. Dilihatnya bintang-bintang
yang bergantungan dilangit yang biru. Dilihatnya awan yang
tipis bergerak lembut keutara.
Sesaat Ki Tanu Metir berdiri termangu-mangu. Terasa
sangatlah berat baginya untuk memulai sebuah permainan
yang aneh-aneh. Mungkin ia akan dapat berbuat demikian
dalam keadaan yang serta-merta, tetapi ketika hal itu
dirancangnya lebih dahulu, maka malahan terasa menjadi
sulit.
Setelah sesaat mereka tegak membeku, maka Ki Tanu
Metir menyadari, bahwa ia harus segera mulai. karena itu,
maka dengan agak canggung diambilnya sepotong besi yang
diselipkannya diikat pinggangnya. Dengan ragu-ragu ia
berkata kepada Swandaru “Lihatlah ngger, mungkin kau kenal
potongan-potongan besi semacam ini. Dengan potonganpotongan
besi semacam ini Ki Tambak Wedi menvoba
menakut-nakuti lawannya. Dengan tangannya Ki Tambak
Wedi membengkokkan besi-besi semacam ini sehingga
hampir berbentuk lingkaran, sehingga mirip dengan bentuk
senjata yang disukainya disamping nenggalanya seperti
kepunyaan Sidanti yang tertinggal di Sangkal Putung”
***
Swandaru tidak menjawab. ia hanya menganggukanggukkan
kepalanya saja. Ia menunggu apa yang akan
dilakukan oleh Ki Tanu Metir atas potongan besi itu.
Orang-orang yang berdiri tegak itupun kemudian melihat, Ki
Tanu Metir menggenggam besi itu erat-erat, kemudian dengan
kekuatan tangannya sepotong besi itu dilengkungkannya
hampir berbentuk sebuah lingkaran. Widura dan Agung
Sedayu menahan nafasnya. Terlebih-lebih Widura. ia pernah
melihat Ki Tambak Wedi menakut-nakutinya dengan
permainannya semacam itu.
Tetapi mereka terkejut ketika Swandaru itu berkata “Kiai,
apakah aku tidak dapat melakukannya?”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak mau
mengecewakan Swandaru. Besi yang lengkung itu
diluruskannya kembali dan diberikannya kepada Swandaru
“apakah angger ingin mencoba?”
Swandaru menjadi ragu-ragu sejenak. Tetapi kemudian ia
menjawab “Biarlah aku mencobanya Kiai”
Swandaru kemudian menerima potongan besi itu. Sesaat ia
diam. Dipandanginya Ki Tanu Metir dan potongan besi itu
berganti-ganti.
“Silakan ngger, silakan mencoba”
Swandaru itu masih berbimbang hati. Tetapi kemudian
dicobanya melakukan seperti apa yang baru saja diperbuat
oleh Ki Tanu Metir.
Ketika ia mencoba melengkungkan besi itu, Swandaru
benar-benar terkejut. Disangkanya pekerjaan itu amat
mudahnya. Karena itu, maka dikerahkannya segenap
kekuatan yang ada padanya. Dengan menggertakkan giginya,
kedua tangannya menekan potongan besi itu.
Ternyata kekuatan Swandarupun benar-benar
menakjubkan. Besi itu seakan-akan menggeliat, dan kemudian
perlahan-lahan membengkok. Tetapi hanya sedikit sekali.
Nafas Swandaru menjadi terengah-engah. Ternyata
kekuatannya yang dibangga-banggakannya selama ini hanya
mampu membengkokkan besi itu sedikit saja. Itupun telah
dikerahkan tenaganya sebesar-besar mungkin. Sedang Ki
Tanu Metir nampaknya dapat berbuat demikian mudahnya,
bahkan kedua ujung dan pangkalnya menjadi hampir bertemu.
“Bagaimana ngger?” bertanya Ki Tanu Metir kemudian.
Swandaru menyerahkan potongan besi itu kembali sambil
berkata “Aku tidak mampu Kiai”
Ki Tanu Metir tersenyum. Dilihatnya mata Swandaru selalu
memandanginya. Dari pandangan mata itu Ki Tanu Metir
melihat kepercayaan yang mulai tumbuh didalam hati
Swandaru. Namun kepercayaan itu belum cukup
meyakinkannya, bahwa Ki Tanu Metir benar-benar memiliki
kelebihan seperti yang dikatakan oleh Agung Sedayu.
Sebenarnyalah bahwa Swandarupun belum pernah melihat
kelebihan Ki Tambak Wedi dari orang lain. Tetapi Swandaru
telah mempercayainya. Ia percaya karena ia melihat kelebihan
Sidanti, murid Ki Tambak Wedi itu, selain setiap orang
menyebutnya sebagai seorang yang paling ditakuti disekitar
gunung Merapi. Swandaru percaya karena hampir setiap
mulut telah mengucapkannya. Sedang Ki Tanu Metir adalah
seorang yang sama sekali tak dikenal sebelumnya.
Ki Tanu Metir menyadari keadaan itu. Ketenaran seseorang
berpengaruh juga bagi kepercayaan orang lain terhadapnya.
Meskipun ketenaran belum tentu menunjukkan ukuran
sebenarnya dari seseorang. Namun Ki Tanu Metir tidak
mengingkari pendapat itu. Karena itu, maka ia masih harus
mendapatkan kepercayaan lebih banyak lagi dari calon
muridnya itu.
Namun setiap ia akan mulai, maka keragu-raguannya
tumbuh kembali didadanya. Permainan yang manakah yang
sepantasnya dipertunjukan. Apakah ia mengajak saja Agung
Sedayu atau Widura bertempur atau berdua bersama-sama.
Tetapi Ki Tanu Metir akan tetap merasakan kebimbangan
Swandaru seandainya Swandaru merasa bahwa Widura dan
Agung Sedayu telah bersama-sama bersetuju. Kalau
demikian, maka sebaiknya Swandaru itu sendiri yang
melakukannya.
Tetapi sudah tentu, bahwa permainan itu tidak harus
merupakan perkelahian. karena itu, maka berkatalah Ki Tanu
Metir kepada Swandaru “Kau telah melihat pameran dengan
kekuatan ngger. Tetapi tidak selalu bahwa kelebihan kekuatan
pada seseorang akan dapat menyelamatkannya dari orang
lain yang lebih lemah daripadanya. Kesempatan kelincahan
seseorang juga akan turut menentukannya. Nah, sekarang
marilah kita melihat, apakah kita cukup memiliki kelincahan”
Sebelum menjawab, maka Ki Tanu Metir itu kemudian
mencari beberapa buah batu. Batu itupun kemudian
diletakkannya dalam sebuah lingkaran yang tidak terlalu
besar. Kemudian katanya kepada Swandaru “Nah, marilah kita
bermain kejar-kejaran. Apakah angger Swandaru mampu
menyentuh aku didalam lingkaran ini? Kalau aku meloncat
terlalu jauh keluar lingkaran atau apabila angger Swandaru
berhasil menyentuh tubuhku, maka aku telah angger
kalahkan”
Swandaru mengerutkan keningnya. Permaian ini adalah
permainan anak-anak saja nampaknya. Karena itu maka ia
menjadi ragu-ragu. Sehingga Ki Tanu Metir itu mendesaknya
“Marilah ngger. Kejarlah aku”
Swandaru menarik nafas. Meskipun demikian dicobanya
juga untuk menyentuh Ki Tanu Metir didalam lingkaran itu.
Mula-mula ia merasa bahwa Ki Tanu Metir terlalu
menganggap dirinya sebagai anak-anak. Karena itu maka
dilakukannya permintaan Ki Tanu Metir itu dengan segansegan.
Ia berjalan saja mendekati orang tua itu, dan dengan
loncatan-loncatan dicobanya menyentuh tubuhnya. Tetapi
semakin lama Swandaru itupun menjadi semakin jengkel.
Telah berkali-kali ia mencobanya, tetapi setiap kali orang tua
itu selalu menghindarinya. Karena itu semakin lama Swandaru
menjadi semakin bernafsu. Lingkaran itu tidak terlalu lebar. Ia
tinggal mengejar dan menyentuh tanpa takut-takut untuk
mendapat serangan atau apapun dari orang tua itu. Tetapi ia
tidak pernah berhasil. Semakin cepat ia bergerak, maka orang
tua itu menjadi semakin cepat pula. sekali-sekali merunduk,
namun disaat yang lain meloncat tinggi-tinggi. Bahkan ketika
Swandaru telah benar-benar kehilangan kesabarannya, dan
dengan sepenuh tenaganya ia mengejarnya, maka Ki Tanu
Metir itu benar-benar telah membingungkannya. Sekali-sekali
ia bahkan kehilangan orang tua itu. Baru ketika orang tua itu
memanggilnya, disadarinya, bahwa orang tua itu telah berada
dibelakangnya.
Ternyatalah kemudian bahwa bukan Swandaru yang
berhasil menyentuh Ki Tanu Metir. Tetapi berkali-kali Ki Tanu
Metirlah yang menggamitnya sambil menghitung “Satu, dua,
tiga……” dan setiap sentuhan maka Ki Tanu Metir menambah
hitungannya. Ketika hitungan Ki Tanu Metir telah sampai
bilangan keduapuluh lima, maka ia berkata “Kalau kita
bertaruh ngger, setiap sentuhan sebutir kelapa, maka
duapuluh lima butir angger harus membayar”
Akhirnya Swandaru itupun berhenti. Nafasnya benar-benar
terengah-engah. Ia berdiri sambil bertelekan dengan kedua
tangannya pada pinggangnya. Dan dengan parau ia berkata
“Tidak dapat. Tidak dapat Kiai”
Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan
kepalanya. Sederhana sekali. Tetapi dengan permainan yang
sederhana itu, Ki Tanu Metir benar-benar telah menunjukkan
kekuatan dan kelincahan yang luar biasa.
Ki Demang Sangkal Putung yang telah memiliki
pengalaman yang jauh lebih panjang dari Swandaru segera
melihat, bahwa Ki Tanu Metir adalah seorang yang sakti
namun penuh kesederhanaan. Ia tidak menunjukkan
kelebihannya dengan cara-cara yang mengejutkan dan
mengerikan, namun dengan cara yang sangat sederhana. Dan
dengan demikian, maka Ki Demang itupun segera memahami,
bahwa sifat-sifat itulah sebenarnya sifat Ki Tanu Metir. Bukan
orang yang sesongaran dan terlalu membanggakan
kelebihannya.
Namun berbeda dengan Swandaru sendiri, Swandaru
adalah anak muda yang sedang berkembang. Anganangannya
membumbung tinggi keatas awan dilangit yang biru.
Tak pernah ia puas melihat keadaan sekitarnya. Ia ingin
segalanya yang serba besar, dahsyat dan mengejutkan.
Karena itulah maka ia sama sekali belum puas dengan apa
yang dilihatnya itu. Meskipun ternyata bahwa ia tidak mampu
menyentuh ujung baju Ki Tanu Metir, namun tidak demikianlah
kesaktian seseorang menurut angan-angannya. Seorang yang
sakti harus mampu berbuat sesuatu yang dahsyat dan
mengerikan. Memukul seekor lembu dengan tangannya
sehingga pecah kepalanya. Ia sama sekali tidak puas dengan
main-main kejar-kejaran, meskipun dengan demikian ia dapat
melihat kelincahan dan kecepatan bergerak Ki Tanu Metir.
Ki Tanu Metir yang melihat Swandaru itu berdiri dengan
nafas terengah-engah segera bertanya “Bagaimana angger
Swandaru. apakah angger dapat memahami apa yang angger
lihat?”
“Tetapi dalam keadaan bahaya Kiai” jawab Swandaru “Kita
tidak hanya sekedar berlari-lari dan menghindarkan diri.
Namun kita harus dapat melumpuhkan lawan. Apakah dengan
berlari-lari dan menghindar kita akan mampu menjatuhkan
musuh-musuh kita?”
Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
jawabnya “Yang paling baik bagi kita ngger, adalah
menyelamatkan diri kita. Apakah kita harus selalu
menjatuhkan lawan kita dalam setiap pertempuran?”
Swandaru menjadi semakin tidak mengerti. Lalu apakah
artinya pertempuran kalau kita hanya sekedar menghindarkan
diri dengan berlari-lari saja? Karena itu maka ia bertanya
“Jadi, apakah dengan berlari-lari menghindar persoalan akan
selesai? Tidak Kiai. Misalnya Sidanti itu. Kalau suatu ketika
aku bertemu dengan Sidanti, dan ia menyerangku, apakah
aku hanya akan mampu melarikan diri, atau katakanlah
menyelamatkan diriku sendiri. Apakah dengan demikian
persoalanku dengan Sidanti selesai? Bagaimanakah kalau
aku bertemu disaat yang lain?”
“Jadi bagaimana?” bertanya Ki Tanu Metir.
“Kalau aku bertempur” sahut Swandaru dengan nada yang
berat “Maka aku harus dapat menghindari serangan lawan
dan harus pula dapat membinasakan lawan”
Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas. Katanya “Jadi
angger harus dapat membinasakan lawan dalam artian
membunuhnya atau bagaimana?”
“Ya, demikianlah seharusnya”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Sekali
lagi ia melihat perbedaan yang tajam antara Swandaru dan
Agung Sedayu. Meskipun keduanya anak muda, dan bahkan
mungin sebaya, namun keduanya memandang persoalanpersoalan
yang harus dihadapinya dengan cara berpikir
berbeda. Swandaru, seorang anak yang bertubuh kokoh kuat
dengan bekal yang keras dan tegang dalam masa-masa
pancaroba. Ketika anak itu meningkat dewasa, maka ia
dihadapkan pada kekisruhan yang melanda kademangannya.
Dalam pada itu ia hanya mendapat tuntunan lahiriah sematamata.
Berlatih untuk bertempur. Membinasakan lawan kalau
tidak ingin dibinasakan. Sehingga semboyan yang ada
padanya adalah, dibinasakan atau membinasakan. Tidak ada
orang yang memberinya petunjuk, bahwa membinasakan
lawan tidak selalu harus membunuhnya. Seorang yang dapat
membinasakan lawan dalam tekad dan tujuannya yang salah,
dan menjadikannya orang yang baik sehingga menyadari
kesalahannya, untuk seterusnya menghentikan perbuatanperbuatan
itu, dapat juga dianggap sebagai usaha yang
berhasil, meskipun tanpa membunuhnya.
Tetapi ia tidak dapat memberitahukan hal itu sekarang. Dan
sudah pasti, bahwa Swandaru tidak akan segera dapat
mengerti. Pengertian tentang hal semacam itu, sudah tentu
diperlukan waktu. Dan Ki Tanu Metir itu menyadari, bahwa
waktu yang diperlukan untuk Swandaru akan jauh lebih
banyak dari waktu yang diperlukan untuk Agung Sedayu.
Swandaru pasti menganggap hal yang demikian sebagai
suatu kelemahan atau bahkan mungkin sifat-sifat cengeng.
Namun banyaklah contoh-contoh yang akan dapat
diberikannya. Seorang penjahat dan liar pada suatu ketika
akan dapat menjadi seorang alim yang berbudi. Yang bertobat
dengan tulus dan menjadi seorang hamba Tuhan yang baik.
Kesadaran yang demikian akan dapat terjadi dalam banyak
persoalan. Dalam persoalan yang bersifat pribadi maupun
persoalan yang lebih luas, sebagaimana yang dihadapi oleh
Widura. Para pengikut Arya Penangsang sampai saat itu,
masih belum mengakui keadaan yang dihadapinya. Sehingga
karena itu maka mereka terperosok kedalam perbuatanperbuatan
tercela. Bukan sebagai seorang prajurit yang
memanggul cita-cita kenegaraan yang tinggi, tetapi
kesempatan sebagai gerombolan-gerombolan yang menakutnakuti
rakyat.
Apa yang terjadi dihadapan Swandaru itulah yang
mendorongnya dalam masa pancaroba itu, berangan-angan
tentang kejantanan, kekerasan dan kemenangan-kemenangan
yang tampak oleh mata. Ki Tanu Metirpun menyadari, bahwa
tekad yang demikian tidak boleh dipatahkan, tetapi harus
mendapat penyaluran yang wajar. Perlahan-lahan. Karena
itulah maka Ki Tanu Metir itupun kemudian tidak mempunyai
pilihan yang lain untuk memenuhi harapan Swandaru,
meskipun tidak berlebih-lebihan. Ia harus dapat memberikan
suatu contoh yang tepat menurut selera anak muda dari
Sangkal Putung itu. Tetapi apakah yang dapat dipertunjukkan
dihadapannya. Dihadapan Swandaru dan orang-orang lain.
Apakah ia harus mematahkan pedang dengan jari-jarinya atau
memukul kelapa sawit itu hingga roboh dengan telapak
tangannya?
Tetapi bagaimanapun juga Ki Tanu Metir harus
melakukannya. Kali ini Ki Tanu Metir tidak mau berbuat
menurut seleranya. Ia harus dapat memenuhi selera
Swandaru. Karena itu, maka lebih baik baginya untuk bertanya
saja, katanya “Angger Swandaru, kalau angger tidak puas
dengan permainan kejar-kejaran itu maka permainan apakah
yang angger senangi?”
Swandarupun tertegun diam. Ia sendiri menjadi bingung.
Sejak lama ia mengangan-angankan untuk menjadi seorang
jantan yang tidak dapat dikalahkan. Tetapi yang bagaimana?
Ketika ia mendengar pertanyaan itu, maka iapun menjadi
bimbang. Ia tahu apa yang dimaksudkannya, tetapi ia tidak
dapat mengatakan.
Karena itu, maka Swandaru itupun berkata dengan jujur
“Kiai, aku sebenarnya hanya ingin menjadi laki-laki yang sakti.
Mungkin seperti Ki Tambak Wedi, atau setidak-tidaknya
seperti kakang Untara, atau yang lain-lain yang dapat
memenangkan pertempuran-pertempuran dan perkelahianperkelahian”
Sekali lagi Ki Tanu Metir menarik nafas dalam-dalam.
Kehormatan yang diidam-idamkan oleh Swandaru ternyata
adalah kemenangan jasmaniah. Kemenangan-kemenangan
dalam perkelahian-perkelahian dan pertempuran. Ia sama
sekali tidak mengangankan kemenangan lain yang dapat
dicapainya tanpa perkelahian dan pertempuran. Tetapi Ki
Tanu Metir menghargai kejujurannya. Swandaru itu berkata
apa saja yang dipikirkannya. Karena itu, maka Ki Tanu Metir
masih mempunyai harapan, bahwa kelak Swandaru itu akan
dapat dituntunnya sedikit demi sedikit.
Kali ini, Ki Tanu Metir benar-benar harus menunjukkan
ketangkasannya berkelahi. Tidak ada pilihan lain. Tetapi
bagaimana?
Tiba-tiba orang yang tampaknya demikian lemahnya,
berjalan tersuruk-suruk dan dahi yang berkerut-kerut itu
meloncat dengan garangnya. Dengan lantangnya ia berkata
“He angger Widura, cabutlah pedangmu. Berdua dengan
Agung Sedayu. Tidak, ayolah bertiga dengan Swandaru. cepat
sebelum aku melukai kalian dengan senjataku ini”
Hampir tak terlihat oleh mata mereka, Ki Tanu Metir tibatiba
telah menggenggam sebuah cambuk kecil yang berjuntai
beberapa cengkang. Bukan cambuk yang dipakainya
bertempur melawan Ki Tambak Wedi. tetapi cambuk ini agak
lebih kecil.
Tetapi gerak Ki Tanu Metir itu benar-benar mengejutkan.
Tiba-tiba saja ia sudah menyerang dengan senjatanya.
Letusan cambuk itu meledak-ledak ditelinga Swandaru seperti
letusan-letusan bambu sebesar paha yang termakan api.
Swandaru benar-benar terkejut melihat gerakan dan serangan
yang tiba-tiba itu. Tanpa disadarinya segera ia mencabut
pedangnya. Dan dengan serta-merta iapun bersiap
menghadapi setiap kemungkinan yang bakal datang.
Widura dan Agung Sedayupun segera menarik pedangnya.
Meskipun agak segan-segan juga, namun mereka terpaksa
menuruti kehendak itu. Sebab dengan demikian, maka mereka
telah membantu meyakinkan Swandaru terhadap kelebihan Ki
Tanu Metir.
Tetapi kembali Swandaru terkejut bukan kepalang, sebelum
ia sempat berbuat apa-apa, maka terasa seakan-akan sebuah
sambaran menyentuh pedangnya. Ternyata ujung cambuk Ki
Tanu Metir telah membelit pedangnya. Sebuah sentakan telah
merenggut pedang itu dari tangannya.
Sesaat Swandaru tegak seperti patung. Dilihatnya
pedangnya terlempar dan jatuh beberapa langkah
daripadanya. Demikian kagumnya ia melihat kecepatan itu,
sehingga untuk sesaat ia tidak bergerak seperti tonggak.
“Kenapa pedangmu kau lepaskan” bertanya Ki Tanu Metir
Swandaru tidak menjawab. namun ia segera menyadari
keadaannya. Dilihatnya kini Widura dan Agung Sedayu telah
menyerang Ki Tanu Metir itu dengan pedang masing-masing.
Namun serangan keduanya seakan-akan sama sekali tidak
berarti bagi Ki Tanu Metir. Dengan berloncatan serangan
kedua orang itu dengan mudahnya dihindari.
“Mereka tidak bersungguh-sungguh” pikir Swandaru. “Aku
akan membuktikan bahwa Swandaru bukan tikus yang kagum
melihat kucing menari-nari”
“Beri kesempatan aku mengambil senjataku” teriak
Swandaru.
“Ambillah” sahut Ki Tanu Metir sambil melayani Agung
Sedayu dan Widura.
Ki Tanu Metir itupun kemudian berkata pula “Marilah Ki
Demang kita bermain-main”
Ki Demang belum lagi selesai mengelus dadanya. Tidak
disangkanya bahwa dukun tua itu benar-benar mampu
bergerak selincah burung sikatan menghadapi ujung-ujung
pedang. Tetapi ia tersadar ketika Swandaru berbisik “Mereka
hanya pura-pura. Mari ayah, kita buktikan, apakah benarbenar
Ki Tanu Metir bukan hanya seorang dukun saja”
Mula-mula Ki Demang Sangkal Putung merasa segan pula.
tetapi ketika ia melihat Widura menggerakkan pedangnya
seperti baling-baling dan melibat Ki Tanu Metir sejadi-jadinya,
maka perlahan-lahan Ki Demang itupun menarik pedangnya
pula.
Kini mereka bertiga menghadapi Ki Tanu Metir dengan
pedang ditangan. Swandarupun kemudian dengan tergesagesa
memungut pedangnya pula. dengan hati-hati ia segera
mendekati lingkaran pertempuran itu untuk mencoba
menunjukkan bahwa iapun memiliki kekuatan yang dapat
dibanggakan. Kalau sekali lagi ujung cemeti itu membelit
pedangnya, maka pedang itu akan dipertahankan dengan
kekuatannya. Meskipun Ki Tanu Metir itu memiliki kekuatan
yang berlebihan, apakah ia dapat segera merebut pedangnya,
sedangkan orang-orang lain akan menyerangnya? Setidaktidaknya
ayahnya, apabila Widura dan Agung Sedayu hanya
berpura-pura saja.
Tetapi sekali lagi Swandaru itu terkejut bukan kepalang.
Baru saja ia mengacungkan ujung pedang itu, tiba-tiba sekali
lagi pedangnya meloncat dari tangannya. Dan sekali lagi ia
mendengar Ki Tanu Metir itu berkata “Jangan lepaskan
Swandaru”
Swandaru menggeram. Berlari-lari ia memungut
pedangnya. Kali ini ia tidak bernafsu untuk menyerang.
Digenggamnya pedangnya erat-erat. Tetapi kali ini ia benarbenar
menjadi bingung. Ketika terasa ujung cambuk Ki Tanu
Metir menarik pedangnya, maka pedang itu dipertahankannya.
Namun sebuah tarikan yang kuat telah membantingnya
terjerebab.
Tertatih-tatih Swandaru segera berusaha bangun. Sekali
lagi menggeram. Swandaru merasa bahwa tarikan ujung
cambuk itu terlalu tiba-tiba dan menyentak, sedangkan ia
menggenggam pedangnya terlampau erat, sehingga ia tertarik
kedepan dan kehilangan keseimbangan.
Ketika ia tegak berdiri, dilihatnya Ki Tanu Metir masih sibuk
melayani Widura, Agung Sedayu dan Ki Demang Sangkal
Putung. Bukan main panas hati Swandaru Geni itu. Ternyata
bahwa tiga kali ia kehilangan senjatanya, dan bahkan yang
terakhir kalinya ia terpaksa jatuh terjerebab mencium tanah.
Dengan lengan bajunya, Swandaru membersihkan debu
yang melekat diwajahnya. Bajunyapun menjadi kotor pula
karenanya. Namun semuanya itu tak dihiraukannya. Kali ini ia
benar-benar akan mempertahankan dirinya dari tarikan
cambuk itu. Betapapun kuatnya Ki Tanu Metir, namun apabila
ia benar-benar bertahan, maka ia pasti bahwa ujung cambuk
yang kecil itu akan terputus oleh tajam pedangnya, meskipun
terbuat dari janget tenatelon sekalipun.
karena itu, maka kini Swandaru memungut pedangnya
sekali lagi. Digenggamnya pedang itu erat-erat. Dengan hatihati
ia berjalan ketitik pertempuran, dan diacungkannya
pedangnya kearah Ki Tanu Metir. Dengan sepenuh tenaga ia
memegang hulu pedangnya. Sedang kedua kakinya yang
melangkah setengah langkah ditekuk pada lututnya sedikit.
Kini Swandaru berdiri rendah. Pedangnya teracung kearah Ki
Tanu Metir. Namun Swandaru itu sama sekali tidak bergerak.
Kakinya seakan-akan menghunjam jauh kedalam tanah,
sehingga anak muda itu kini seakan-akan sebuah pokok dari
sebatang pohon yang berakar jauh kepusat bumi.
“Kali ini aku akan bertahan sekuat-kuat tenagaku” kata
Swandaru didalam hatinya. Sehingga dengan demikian maka
Swandaru itu memusatkan segenap kekuatannya pada
genggaman pedangnya serta kedua belah kakinya.
Beberapa saat ia melihat pertempuran itu masih
berlangsung. Sebenarnya bahwa Ki Tanu Metir sangat lincah
dan cekatan diluar dugaan. Orang tua yang tampaknya tidak
memiliki daya gerak sama sekali itu ternyata seorang yang
dapat bergerak secepat kilat menjilat langit dan memiliki
tenaga sekuat tenaga raksasa. Meskipun demikian, Swandaru
masih tetap bertekad untuk bertahan dari kemungkinan yang
keempat. Pedangnya terjatuh atau dirinya terjerebab.
Tetapi kembali Swandaru itu terkejut. Kali ini Ki Tanu Metir
itu tidak menyerangnya, mencabut pedang dari tangannya
atau menariknya jatuh. Tiba-tiba Swandaru itu menjadi
bingung ketika Ki Tanu Metir itu bertanya kepadanya
“Swandaru, dengan berdiri mematung seperti itu, kau tidak
akan dapat mengalahkan lawanmu. Betapa lemahnya
lawanmu itu, maka ia akan dengan leluasa mencoba
menyerangmu dari arah yang dipilihnya. Sedang engkau
sendiri hanya tegak saja seperti sebuah tonggak. Kenapa?”
Pertanyaan itu benar-benar tak diduganya. Sesaat
Swandaru tidak dapat menjawab. bahkan wajahnya menjadi
merah. Dadanya bergelora dan berbagai perasaan
berkecamuk didalam hatinya. Tetapi kemudian ia menyadari
kebenaran kata-kata Ki Tanu Metir. Ia tidak dapat bertempur
dengan caranya itu. Berdiri diam tanpa bergerak.
karena itu, maka tiba-tiba Swandaru itu segera meloncat,
menyerbu kedalam pertempuran itu. Digerakkan pedangnya
dengan garangnya, terayun-ayun menggetarkan. Tetapi sekali
lagi pedangnya terlempar jatuh beberapa langkah
daripadanya.
Kali ini Swandaru benar-benar terpaku ditempatnya.
Kenapa hal itu dapat terjadi? Namun dengan demikian, benarbenar
ia mendapatkan suatu keyakinan akan kecepatan
bergerak Ki Tanu Metir itu. Dalam perkelahian itu, ia sama
sekali tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk
mencoba melawan Ki Tanu Metir. Ia sama sekali tidak
mendapatkan waktu sekejappun untuk ikut serta dalam
pertempuran itu. Sehingga dengan demikian, maka tiba-tiba
Swandaru berkata “Aku tidak akan mengambil pedangku
kembali.”
Ki Tanu Metir tersenyum dalam hati. Tetapi terdengar ia
bertanya “Kenapa ngger?”
“Hem” Swandaru menarik nafas panjang-panjang.
Jawabnya “Tak ada gunanya”
“Jadi bagaimana?” bertanya Ki Tanu Metir.
“Ya bagaimana? Aku sama sekali tidak sempat berbuat
apa-apa.”
Ki Tanu Metir itupun kemudian meloncat beberapa langkah
kebelakang sambil berkata “Sudahlah. Kita akhiri pertempuran
ini. Angger Swandaru telah menjadi jemu.”
Perkelahian itupun segera berakhir. Widura dan Agung
Sedayu tidak dapat menahan geli hatinya melihat Swandaru
berdiri bertolak pinggang. Wajahnya berkerut-kerut dan
bibirnya bergerak-gerak meskipun ia tidak berkata apapun
juga.
“Bagaimana? Bertanya Ki Demang Sangkal Putung pada
anaknya.
Swandaru menggeleng-gelengkan kepalanya. Jawabnya
bersungguh-sungguh “Aku tidak ikut apa-apa. Sama sekali
tidak.”
“Kenapa?” bertanya Widura sambil tertawa.
Sekali lagi Swandaru menggelengkan kepalanya. Pipinya
yang gembung itu bergerak-gerak lucu sekali. Namun kini ia
telah mendapatkan suatu keyakinan di dalam hatinya, bahwa
Ki Tanu Metir benar-benar orang yang luar biasa. Tetapi
meskipun demikian, selera Swandaru agak berbeda dengan
apa yang dilihatnya. Ia adalah seorang yang memiliki
kekuatan jasmaniah yang besar sekali. Tubuhnya yang besar
dan hampir bulat itu, baginya terlalu sulit untuk bergerak
cepat. Karena itu, maka ingin sekali ia melihat Ki Tanu Metir
melakukan suatu perbuatan yang dapat menggetarkan
dadanya. Namun ia tidak berani mengatakannya.
Disimpannya saja keinginan dalam hatinya. “Mungkin suatu
ketika aku akan melihatnya, atau barangkali Ki Tanu Metir
hanya mampu berbuat seperti itu. Membanggakan kecepatan
gerak tanpa dasar kekuatan?“ Namun kemudian katanya
didalam hatinya “Tetapi Ki Tanu Metir mampu
melengkungkansepotong besi.”
Swandaru itu menggeleng kepalanya kembali. Diakuinya
kekuatan Ki Tanu Metir. Tetapi hatinya bertanya pula “Aku
kurang puas. Aku kurang puas. Kenapa Ki Tanu Metir tidak
mau menggempur padas itu sampai pecah.”
Tetapi Swandaru tidak mengatakan ketidakpuasannya.
Ketidakpuasan itu disimpannya saja didalam hatinya.
Berbeda dengan Ki Demang Sangkal Putung. Demang itu
menjadi benar-benar kagum melihat Ki Tanu Metir itu. Orang
itu ternyata memiliki ketangkasan yang benar-benar tidak
dibayangkan sebelumnya. Kekaguman Ki Demang Sangkal
Putung tidak saja karena Ki Tanu Metir mampu bergerak
dengan kecepatan yang tidak dimengertinya, sehingga
Swandaru sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk
bermain pedang, tetapi orang tua itu kagum juga akan cara Ki
Tanu Metir untuk menunjukkan kelebihannya. Terasa bahwa
usaha Ki Tanu Metir untuk memperlihatkan kepada orang lain,
tidak terlalu berlebih-lebihan. Tanpa sikap sombong dan tidak
menunjukkan kesadaran diri akan kelebihan-kelebihannya.
Sikap yang dalam keseluruhannya benar-benar jarang
ditemuinya. Sederhana, berilmu tinggi dan keseimbangan
perasaan dan pikiran.
Orang-orang yang berada dilapangan kecil itu terkejut
ketika mereka mendengar kokok ayam jantan yang bersahutsahutan.
Bintang-bintang yang berjejal-jejal dilangit, satu demi
satu telah menghilang. Sedang ditimur membayang warna
semburat merah mengusap langit yang biru kehitaman.
“Hampir fajar” desis Ki Tanu Metir.
“Apakah permainanmu ini sudah cukup? Bertanya Widura
kepada Swandaru.
Swandaru mengangguk kepalanya. Jawabnya “Sementara
sudah cukup paman.”
“Sementara?” ulang ayahnya.
Swandaru tidak menjawab. Ditundukkannya kepalanya.
Namun hatinya menyahut “Ya. Sementara. Aku ingin melihat
kedasyatan tenaga Ki Tanu Metir. Menggugurkan gunung atau
mengeringkan lautan. Dasyat. Tidak sekedar kelincahan dan
kekuatan yang diam seperti melengkungkan sepotong besi.
Tetapi kekuatan yang hiduo. Yang menggetarkan dada ini.”
Namun kata-kata itu sama sekali tidak terloncat dari bibirnya.
“Nah, apakah kita dapat kembali sekarang?” bertanya Ki
Tanu Metir.
Semuanya mengiakan. Mereka segera akan melakukan
kewajiban ibadah mereka.
Ketika fajar merekah, maka burung-burung liar terdengar
berkicauan seakan-akan berebut keras meneriakkan selamat
pagi. Cahaya matahari yang cerah melontar mengusap ujungujung
pepohonan yang hijau segar. Dilangit awan yang putih
berhamburan mengalir ke utara didorong oleh angin ngarai.
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Anak muda itu
tegak berdiri disamping kandang kuda dibelakang rumah
Kademangan. Ditatapnya cahaya matahari yang bermain-main
diatas tanah yang kering seperti berloncat-loncatan
berkejaran.
***
Anak muda itu mengerutkan keningnya. Hampir saja
kepalanya dipecahkan oleh Sidanti dihalaman ini, disamping
kandang kuda itu. Namun kini ia akan mendapat kesempatan
yang lebih banyak untuk mematangkan diri sendiri. Ki Tanu
Metir yang dikaguminya itu telah berjanji untuk menjadikannya
seorang murid.
“Mudah-mudahan aku dapat menjadi seorang murid yang
baik” gumamnya.
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan
sendirinya. Ia mencoba memahami kata-kata Ki Tanu Metir
kepada Swandaru semalam. Dan ia dapat mengertinya.
Agung Sedayu itu kemudian berpaling ketika ia mendengar
gerit senggot diatas sumur. Dilihatnya seorang gadis
mengambil air dari sumur itu. Dada Agung Sedayu terasa
berdesir. Gadis yang sudah sering kali dilihatnya itu tiba-tiba
menjadi bertambah segar dalam siraman cahaya matahari
pagi yang bermain-main ditubuhnya. Tubuh yang bulat segar.
Tubuh yang kuat seperti tubuh kawan-kawannya gadis
pedesaan yang tidak saja duduk bersolek didalam biliknya
tetapi juga bekerja keras membantu ayah bundanya.
Perlahan-lahan Agung Sedayu berjalan menghampirinya.
Ketika gadis itu berpaling, maka Agung Sedayu tersenyum
kepadanya “biarlah aku membantumu”
“Jangan Tuan” sahut Sekar Mirah “Biarlah aku mengambil
air sendiri.”
Panggilan itu terasa asing baginya kini. Tiba-tiba ia sama
sekali tidak senang mendengar sebutan itu. Karena itu, maka
katanya “Mirah. Jangan panggil aku demikian. Biarlah kita
yang menghuni rumah ini bersikap akrab. Seperti Swandaru
kini tidak lagi diperkenankan bersikap terlalu hormat”.
Sekar Mirah menundukkan wajahnya. Dilihatnya
bayangannya didalam sumur. Bayangan seorang gadis remaja
yang segar gembira. Tetapi bayangan itu kemudian pudar dan
lenyap ketika upihnya menyentuh permukaan air itu.
“Bagaimana aku harus menyebut tuan?” bertanya Sekar
Mirah tanpa berpaling.
“Bertanyalah pada Swandaru.” sahut Agung Sedayu
“Bagaimana ia menyebut aku sekarang.”
“Ah” Sekar Mirah itu tersenyum. Diangkatnya takir upihnya
keatas. Dan dituangkannya air dari takir upih sebesar bejana
itu kedalam kelentingnya.
“Marilah, aku ambilkan air untukmu” berkata Agung
Sedayu.
“Jangan tuan” jawab Sekar Mirah
“Jangan panggil demikian”
“Bagaimana?”
“Bertanyalah pada kakakmu”
“Baik, aku akan merubah panggilan itu nanti kalau aku telah
bertemu dengan kakang Swandaru. Bukankah sekarang aku
belum tahu bagaimana aku harus memanggil tuan?”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya bertanya “Kenapa bukan orang lain yang
mengambil air ini?. Bukan pembatu-pembatumu?”
“Tak ada bedanya” sahut Sekar Mirah
Agung Sedayu terdiam. Ditatapnya sekali lagi Sekar Mirah
yang sedang menimba air itu seperti baru sekali dilihatnya.
Sekar Mirah yang merasa selalu diperhatikan oleh Agung
Sedayu menjadi segan. Sehingga katanya kemudian “Tuan,
apakah yang aneh padaku?”
“Oh” wajah Agung Sedayu menjadi kemerah-merahan.
Cepat-cepat ia berpaling sambil berkata “Tak ada. Tak ada
yang aneh padamu. Tetapi aku ingin membantumu mengambil
air”
“Tak usah” sahut Sekar Mirah
Agung Sedayu tidak lagi memaksanya. Dibiarkannya Sekar
Mirah menimba air. Mengisi kelentingnya dan kemudian
menjinjingnya pada lambungnya.
“Berat?” bertanya Agung Sedayu
Sekar Mirah menggeleng lemah “Tidak” jawabnya “Aku
sudah biasa mengambil air”
Agung Sedayu tidak berkata-kata lagi. Dilihatnya saja
Sekar Mirah itu berjalan sambil menjinjing kelenting itu. Terasa
hatinya menjadi tergetar melihat langkah gadis itu. Cepat,
lincah dan penuh gerak dan gairah atas pekerjaannya.
“Gadis yang keras hati” desah Agung Sedayu.
Sebenarnya Sekar Mirah mempunyai hati yang menyalanyala
menyongsong hari depannya. Dilihatnya setiap orang
dari anggota prajurit Pajang dengan seksama. Dinilainya
seorang demi seorang, dan dikaguminya mereka yang penuh
kejantanannya berjuang melawan musuh-musuhnya.
Itulah sebabnya mula-mula Sekar Mirah hampir tak pernah
berpisah dengan Sidanti. Didorongnya pemuda itu untuk
bertempur, berkelahi dan melawan musuh. Didesaknya
pemuda itu untuk menemukan tempat yang sebaik-baiknya
dalam kesatuannya. Dilecutnya Sidanti untuk meraih masamasa
yang gemilang pada masa-masa yang akan datang.
Dan Sidanti mendengarkannya dengan penuh minat.
Sidanti menerimanya dengan penuh harapan. Bukan saja apa
yang dikatakan oleh Sekar Mirah, namun demikianlah kata
hatinya sendiri. ia adalah seorang anak muda yang
memandang masa depan sebagai miliknya. Miliknya sendiri.
Sebagai api yang disiram minyak ia bertemu dengan Sekar
Mirah. Hasrat yang tersimpan dihatinya menjadi semakin
menyala. Apalagi gurunya adalah seorang yang bernama Ki
Tambak Wedi. Seorang yang bercita-cita setinggi awan
dilangit. Namun dirinya sendiri tidak pernah dapat
menggapainya, sehingga dengan demikian maka
dinobatkannya dirinya sendiri menjadi seorang yang disegani
dan ditakuti didaerah lereng gunung Merapi. Pertemuan
diantara merekalah yang sebenarnya telah membakar
Sangkal Putung. Bukan saja usaha Macan Kepatihan yang
nyata-nyata berhadapan beradu dada, namun Sidanti ternyata
merupakan bahaya yang membayang dibalik punggung.
Tetapi ternyata Sekar Mirah itupun menjadi kecewa
terhadap Sidanti. Ternyata bukan Sidanti yang ingin
didorongnya maju, tetapi dirinya sendiri. Ketika ia melihat
nafsu Sidanti yang menyala-nyala, justru ia menjadi kecewa.
Sidanti berjuang untuk dirinya sendiri, bukan untuk Sekar
Mirah. Sekar Mirah bagi Sidanti adalah seorang yang baik
hati, yang mendorongnya untuk semakin gigih berjuang. Tidak
untuk Pajang, tetapi untuk dirinya, Sidanti. Dan ternyata Sekar
Mirah adalah seorang gadis yang cantik.
Ketika kemudian hadir Agung Sedayu, maka hati Sekar
Mirah segera berkisar. Ia mengharap untuk menemukan
seorang pahlawan yang baru. Pahlawan yang dapat
mendengarkan suara hatinya. Pahlawan yang dapat mengerti
gelora dadanya. Pahlawan yang akan berjuang untuknya,
yang akan mempersembahkan setiap kemenangan
kepadanya.
Tetapi Sekar Mirah belum menemukannya pada Agung
Sedayu. Ternyata sampai kini Agung Sedayu benar-benar
seorang yang berjuang dengan tulus.
“Ia adalah kemenakan paman Widura” berkata Sekar Mirah
didalam hatinya “Sehingga karena itu maka ia tidak akan
berani berbuat diluar kehendak pamannya itu”
Karena itu, maka Sekar Mirah menjadi ragu-ragu. Ketika ia
melihat perang tanding dilapangan, antara Sidanti dan Agung
Sedayu dalam ketangkasan memanah dan seterusnya,
hatinya benar-benar berguncang-guncang. Sekali-sekali ia
kagum melihat ketangkasan Sidanti, serta nyala dan hasrat
untuk menggenggam masa depan ditangannya. Ia melihat
anak muda itu dengan penuh tekad menentang setiap
tantangan. Sedang Agung Sedayu seolah-olah dibayangi oleh
keragu-raguan dan kebimbangan. Tetapi kemudian perasaan
Sekar Mirah itu terlempar pada suatu harapan yang diilihatnya
dalam kemampuan Agung Sedayu. Ketrampilannya melepas
anak panahnya, serta ketepatan bidiknya telah menariknya
kedalam satu pertimbangan yang kacau.
Kemenangan Agung Sedayu pada saat itu telah benarbenar
meyakinkan Sekar Mirah, bahwa hari depan Sidanti
pasti akan benar-benar tertutup. Dalam pada itu, maka
hilanglah segenap keragu-raguannya. Ia tidak dapat lagi
bergantung pada anak itu, kepada Sidanti. Bahkan meskipun
seandainya Sidanti menemukan masa-masa yang maju dan
gemilang, maka masa-masa yang demikian adalah masamasanya
sendiri. Masa-masa yang dimilikinya sendiri. Bukan
masa-masa yang akan diperuntukkannya. Bahkan dirinyapun
bagi Sidanti, pasti hanya akan dipergunakan untuk
kepentingan anak muda itu. Sebagai pendorong dan penuntun
menjelang hari-hari yang akan lebih terang, bagi Sidanti.
Tetapi kini Sidanti sudah tidak ada di Sangkal Putung lagi.
Sidanti telah hilang dari halaman rumahnya. Ia mendengar
beberapa orang berkata kepadanya, seandainya perkelahian
diantara Agung Sedayu dan Sidanti itu dilakukan dengan jujur,
maka sudah pasti Sidanti tidak akan memenangkannya.
Tetapi tiba-tiba Sidanti telah berbuat curang. Tetapi karena
itulah maka Swandarupun menjadi terlibat pula kedalamnya.
Sekar Mirah yang kemudian bekerja didapur itupun tidak
dapat segera menggeser perasaannya. Agung Sedayu
tampaknya telah berubah. Ia kini tampak segar dan gembira.
Dihari-hari yang lewat, Agung Sedayu hampir tak pernah
keluar dari pringgitan. Baru sejak akhir-akhir ini seringkali ia
tampak berjalan-jalan dihalaman. Namun wajahnya masih saja
selalu dibayangi oleh kemuraman dan keragu-raguan. Tetapi
kini sudah tidak lagi. Wajah itu menjadi cerah. Dan Sekar
Mirah tidak dapat mengingkari dirinya lagi. Ia telah tertarik
pada wajah itu. Wajah yang tampak lebih halus dan lunak dari
wajah Sidanti. Tetapi apakah api yang menyala didada
Sedayu itu sedahsyat api yang menyala didada Sidanti?
Hari itu Sangkal Putung tidak mendapat perubahan apaapa.
seperti hari-hari yang lain, para petugas sibuk dengan
kewajibannya. Gardu-gardu masih berisi penjaga-penjaga
yang mengawasi keadaan. Dan warung diujung desa masih
juga ramai dikunjungi para pembeli dan penjual yang tidak
berani pergi ketempat yang lebih jauh.
Untara kini telah menjadi lebih baik. Ia telah dapat turun
kehalaman dan melihat laskar Pajang melakukan tugasnya.
Satu-satu Untara menanyakan kepada mereka, nama mereka
dan rumah tempat tinggal mereka. Keluarga mereka dan
segala sesuatu yang berhubungan dengan mereka itu sebagai
seorang prajurit dan sebagai manusia.
Ketika Untara itu bertanya kepada seorang yang berwajah
keras dan berjanggut tebal, maka didengarnya jawaban “Aku
beranak sebelas tuan”
“Sebelas” Untara terkejut “Dimana sekarang mereka
tinggal?”
“Pengging”
“Kau berasal dari Pengging?”
“Ya” jawab orang itu.
Untara meninggalkannya. Sebelas orang. Dan sebelas
orang itu semua beserta ibunya menunggunya dirumah.
Menunggu orang yang berjanggut tebal itu pulang.
“Hem” Untara menggeram. Katanya dalam hati “Persoalan
Macan Kepatihan harus cepat selesai. Kalau tidak, maka
persoalan ini akan berlarut-larut. Waktu yang akan dipakai
untuk merampungkan persoalan ini tidak terbatas pada
bilangan minggu, bulan dan bahkan tahun”
Tetapi Untara harus menunggu punggungnya sembuh
benar-benar. Kalau kekuatannya telah pulih kembali, maka ia
akan memimpin langsung laskar ini bersama Widura. Mereka
tidak boleh hanya menunggu saja, namun mereka harus
bergerak, menusuk dijantung pertahanan dan tempat
persembunyian mereka.
Adapun Agung Sedayu dan Swandaru sejak hari itu adalah
murid Ki Tanu Metir. Mereka sudah tidak lagi dibingungkan
oleh orang yang berkerudung kain gringsing. Namun Ki Tanu
Metir sendiri itupun masih membawa teka-teki pula bagi
mereka. Apakah sebenarnya ia seorang dukun tua saja?
Seorang dukun yang tidak mempunyai kepentingan langsung
dengan Agung Sedayu atau Untara atau Widura atau
Swandaru? namun Agung Sedayu dan Swandaru sama sekali
tidak mempersulit diri mereka. Mereka ingin mendapat ilmu
dari orang tua itu. Dan ia akan memanfaatkan ilmu itu kelak.
Sejak hari itu, maka Swandaru dan Agung Sedayu telah
mulai dengan hari pertama mereka berguru. Ki Tanu Metir
membawa mereka kesungai yang agak jauh dari Sangkal
Putung. Disanalah mereka mendapat beberapa petunjuk dari
Ki Tanu Metir. Petunjuk-petunjuk untuk memulai dengan
pelajaran-pelajaran jasmaniah. Mereka harus mendengarkan
petunjuj-petunjuk itu dan mencoba mengertinya.
Agung Sedayu mendengarkan setiap kata-kata Ki Tanu
Metir dengan seksama. Dicobanya untuk mengerti dan
dicobanya untuk mencernakannya. Namun Swandaru merasa
waktu itu terbuang-buang. Baginya lebih baik Ki Tanu Metir
langsung mengajarnya dengan unsur-unsur gerak daripada
harus mendengarkannya berbicara saja tentang beberapa hal
yang penting untuk masa depannya.
Tetapi Ki Tanu Metir itu berbicara terus, dan ia masih harus
mendengarkannya.
“Anak-anakku” berkata Ki Tanu Metir “Apa yang akan kalian
dapat, hendaknya akan dapat bermanfaat bagi masa-masa
mendatang. Bukan saja bagi kalian berdua, tetapi juga bagi
beberapa lingkungan kalian. Ilmu yang akan kalian pelajari
adalah sekedar alat. Alat itu tidak selalu harus dipergunakan
dalam setiap kesempatan dan keadaan. Tetapi alat hanya
akan dipergunakan pada kemungkinan yang paling tepat”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya sedang
Swandaru memandangi percikan-percikan air yang mengalir
dibawah batu-batu tempat duduk mereka.
“Hari ini adalah hari yang pertama bagi kalian” berkata Ki
Tanu Metir itu “Dan dihari pertama kalian harus yakini, bahwa
alat yang akan kalian terima bukanlah alat yang terbaik.
Katakanlah bahwa alat ini adalah alat yang paling jelek. Alat
yang hanya akan dipergunakan apabila sudah tidak ada alat
lain, yang dapat kalian pakai. Namun jangan pula mencari
sebab, sehingga kalian terdorong pada kemungkinan untuk
mempergunakan alat ini. Ingat-ingatlah, alat ini adalah alat
yang paling jelek yang kau miliki. Alat yang paling baik adalah
alat yang telah ada didalam dirimu. Kasih sayang diantara
sesama dan pegangan-pegangan yang kalian dapat dari
ibadah kalian kepada Tuhan. Ingatlah ini. Janganlah dengan
alat ini kalian mengorbankan apa yang sudah kalian miliki itu”
Kembali Agung Sedayu mengangguk-anggukkan
kepalanya dan Swandaru masih saja memandangi percikan
air dibawah tempat duduk mereka.
“Apakah kalian mengerti kata-kataku?” bertanya Ki Tanu
Metir itu kemudian.
“Ya Kiai” sahut Agung Sedayu dan Swandaru hampir
bersamaan.
“Bagus” berkata Ki Tanu Metir kemudian “Ingat, jangan
sesorangan. Jangan salah langkah. Bahkan tak ada
seorangpun didunia ini yang paling menang. Suatu ketika
seseorang pasti akan dikalahkan oleh yang lain, dan yang lain
itu akan dikalahkan pula orang yang lain lagi. Lebih baik kalian
tak pernah mempergunakan ilmu ini sepanjang hidupmu,
daripada setiap kali kau terpaksa melakukannya. Namun
kalian dengan ini mengemban tugas-tugas kemanusiaan yang
wajib kalian tegakkan. Sudah tentu tanpa mengorbankan segi
kemanusiaan yang lain”
Kembali Agung Sedayu mengangguk-anggukkan
kepalanya dan kali inipun Swandaru mengangguk-angguk
pula.
“Nah, kita kembali kekademangan” berkata Ki Tanu Metir
Swandaru terkejut. Jadi hanya inilah pelajaran pertama
yang akan diterimanya? Ia tidak sabar lagi. Sidanti dapat
datang nanti sore atau besok atau lusa. Apakah ia telah dapat
mencapai ilmu yang diharapkannya?
Ki Tanu Metirpun meihat perubahan wajah Swandaru.
Dilihatnya Swandaru itu memandanginya dengan penuh
keheranan. Karena itu maka Ki Tanu Metir itupun bertanya
“Kenapa ngger?”
Swandaru mengangkat alisnya. Kemudian jawabnya “Jadi
hanya inikah yang Kiai berikan hari ini?”
“Ya”
“Kenapa hanya duduk-duduk begini kita harus pergi jauhjauh
dari rumah?”
Ki Tanu Metir memandang Swandaru dengan heran. Anak
itu sama sekali belum dapat menyesuaikan dirinya sebagai
seorang murid terhadap gurunya. Namun Ki Tanu Metir tidak
menjadi kecewa karenanya. Sedikit demi sedikit ia harus
menuntun muridnya yang aneh itu.
“Swandaru” berkata Ki Tanu Metir “Lebih baik kita
mengambil tempat yang jauh daripada kita dilihat orang.
Bagiku tidak akan menguntungkan bila sebelum kita mulai
apa-apa orang-orang sudah meributkan perbuatan kita.
Mungkin hanya seorang dua orang sajalah yang
mengetahuinya, namun sampai sehari maka hal itu pasti
sudah akan sumebar kesegenap sudut kademangan. Dan
setiap orang akan menilaimu setiap hati. Hari ini kau dapat
berbuat apa, dan besok kau akan dapat berbuat apa lagi”
“Baik Kiai” jawab Swandaru “Aku sependapat. Tetapi
marilah segera kita mulai. Apabila besok atau lusa aku
bertemu dengan Sidanti, maka aku tidak lagi memerlukan
pertolongan orang lain untuk melawannya”
Ki Tanu Metir terkejut mendengar kata-kata itu. Namun
kemudian iapun tersenyum. Jawabnya “Angger, ketahuilah,
bahwa untuk membentuk seseorang menjadi seorang Sidanti,
itu diperlukan waktu bukan sehari dua hari. Tetapi setahun
dua tahun. Bahkan lebih. Tergantung juga kepada orangorang
itu sendiri. Kalau ia mampu, maka ia akan menjadi lebih
cepat terbentuk. Tetapi tidak dalam sehari dua hari. Apalagi
kau harus menyusul orang lain yang jauh lebih dulu
daripadamu. Bukankah dengan demikian kau memerlukan
waktu yang lama?”
Alangkah kecewanya Swandaru mendengar kata-kata Ki
Tanu Metir itu. Ia memang pernah mendengar, bahwa berguru
kepada seseorang diperlukan waktu yang lama. Tetapi kalau
setiap kesempatan dipergunakan sebaik-baiknya maka waktu
itu pasti akan dapat diperpendek. Seperti saat ini misalnya,
mereka hanya duduk-duduk saja diterik matahari, sesudah itu
pulang kembali kekademangan. Bukankah dengan demikian
mereka hanya membuang-buang waktu saja. Besoknya
mereka akan kehilangan waktu pula. Lusa dan seterusnya.
Tetapi Swandaru itu tidak berkata-kata lagi. Ketika Ki Tanu
Metir dan Agung Sedayu telah berdiri, iapun segera berdiri
pula.
Namun Ki Tanu Metirlah yang masih berkata lagi, katanya
“Swandaru, kau tidak perlu tergesa-gesa, asal untuk
seterusnya kau bekerja dengan tekun, maka mudah-mudahan
kau akan segera dapat menyusul Sidanti itu”
“Ya Kiai” sahut Swandaru kesal. Ia telah membayangkan
sejak semalam dirinya menjadi seorang yang perkasa
melampaui Sidanti, bahkan melampaui keperkasaan Tohpati.
Tetapi ia masih harus menunda keinginan itu. Bahkan sama
sekali ia belum mendapat apa-apa dihari pertama, kecuali
nasehat-nasehat saja.
Ia tersadar ketika Ki Tanu Metir itu berkata pula “Marilah
kita pulang”
“Marilah Kiai” sahut Swandaru kosong.
Tetapi sekali lagi Swandaru heran. Ki Tanu Metir itu
malahan pergi ketengah sungai sambil mengajak mereka
“Mari ikuti aku”
Swandaru dan Agung Sedayu menjadi ragu-ragu sejenak.
Kalau orang tua itu mengajaknya pulang, mengapa ia malahan
pergi ketengah, dan tidak berjalan menyusur tanggul seperti
semula.
Tetapi Agung Sedayu segera mengerti maksud orang tua
itu. Iapun kemudian mengikutinya meloncat dari batu kebatu
menyusul Ki Tanu Metir.
“Bukankah sungai ini nanti akan sampai dipinggir desa
Sangkal Putung dan sidatannya akan lewat sebelah halaman
rumahmu Swandaru?” bertanya Ki Tanu Metir.
“Ya” jawab Swandaru yang berdiri ditepian.
“Karena itu, marilah kita mengambil jalan memintas, lewat
sungai ini maka kita akan lebih cepat sampai”
“Ah” desah Swandaru “Aku lebih senang menyusur tanggul
ini”
Ki Tanu Metir tertawa. Agung Sedayupun tersenyum pula.
agaknya Swandaru benar-benar tidak tahu maksud gurunya,
sehingga karena itu, maka Agung Sedayu berkata “Swandaru,
mari kita bermain kejar-kejaran diatas batu-batu ini”
Swandaru menggeleng malas. Ia semakin kesal karenanya.
Waktunya telah banyak terbuang. Apakah mereka masih
harus bermain seperti anak-anak.
Tetapi kembali Agung Sedayu mengajaknya sambil tertawa
“Swandaru, lihatlah betapa Ki Tanu Metir meloncat dari batu
kebatu. Marilah”
Kembali Swandaru menggeleng. Katanya dalam hati “Akh,
apa lagi kerja orang tua itu. Bukankah lebih baik
memberitahukan kepada kita, apa yang harus kita lakukan?
Unsur-unsur gerak, satu atau dua, untuk diulang-ulang”
Tetapi dengan demikian Agung Sedayupun menjadi kesal
pula. Swandaru benar-benar tidak segera tahu maksud orang
lain tanpa diberitahukannya sejelas-jelasnya. Seperti juga
sifatnya sendiri yang selalu terbuka dan terus terang. Karena
itu, maka Agung Sedayu itupun terpaksa berkata “Swandaru,
kau ikut berlatih atau tidak?”
Swandaru terkejut. “Berlatih?” ulangnya “Berlatih apa?”
“Inilah latihan pertama yang harus kita lakukan”
“Oh” Swandaru itu tertegun sesaat. Kemudian dilihatnya Ki
Tanu Metir meneruskan perjalanannya. Meloncat dari satu
batu kebatu yang lain dengan lincahnya tanpa menyentuh air
sedikitpun juga. Bahkan sekali-sekali diloncatinya batu-batu
yang kecil dan goyah. Namun batu-batu itu seakan-akan
bergerakpun tidak.
Sesaat Swandaru terpaku ditempatnya. Dilihatnya Ki Tanu
Metir meloncat-loncat seperti orang sedang menari.
Dibelakangnya menyusul Agung Sedayu. Dengan hati-hati
anak muda itu meloncat pula dari batu kebatu. Namun
tampaklah betapa ia masih harus memperhitungkan setiap
langkahnya. Dicobanya mengikuti apa yang telah dilakukan
oleh Ki Tanu Metir. Namun sekali-sekali ia masih harus
berhenti menjaga kesetimbangan tubuhnya.
Tiba-tiba Swandaru itupun tertawa. digaruk-garuknya
kepalanya sambil bergumam “Alangkah bodohnya aku. Aku
tidak segera tahu maksud orang tua itu”
Maka dengan serta-merta Swandaru itupun berteriak
“Tunggu, aku ikut serta”
Ki Tanu Metir itupun segera berhenti. Demikian juga Agung
Sedayu. Mereka bersama-sama berpaling dan dilihatnya
Swandaru Geni meloncat keatas sebuah batu yang besar.
Tubuhnya yang bulat itu meluncur dari tebing sungai dan
mencoba berdiri diatas batu itu. Sesaat ia masih harus
mengatur keseimbangannya, namun kemudian ia tertawa
sambil berkata “Tunggulah, aku akan segera sampai
ketempatmu kakang Sedayu”
Swandaru itupun segera mulai dengan loncatanloncatannya.
Dari satu batu kebatu yang lain. Dicobanya juga
meloncati batu-batu yang telah tersentuh kaki Ki Tanu Metir.
Namun sekali-sekali batu-batu itu terguncang dan Swandaru
terpaksa berpegangan pada batu-batu yang lain. Bahkan satu
kali ia tergelincir dan jatuh masuk kedalam air.
“Gila” gumamnya seorang diri. Pakaiannya menjadi basah
kuyup. Dengan wajah bersungut-sungut ia muncul dari dalam
air seperti seekor tikus kehujanan.
Agung Sedayu dan Ki Tanu Metir tidak dapat menahan
tawa mereka. Ketika Swandaru kemudian bangkit dan berdiri
diatas sebuah batu maka Ki Tanu Metir berkata “Bukan apaapa.
kau hanya jatuh kedalam air”
“Ya, tidak apa-apa” sahut Swandaru kesal.
Tetapi tiba-tiba ia mengumpat ketika Ki Tanu Metir berkata
“Ulangi. Ulangi sekali lagi”
“Kenapa aku harus mengulangi. Apakah Ki Tanu Metir ingin
melihat aku sekali lagi jatuh kedalam air?”
“Tidak” jawab Ki Tanu Metir “Latihan ini adalah latihan
dasar. Sekedar menghangatkan tubuh. Karena itu, maka
angger harus dapat melakukannya.”
Swandaru bersungguh-sungguh. Dilangkahinya kembali
beberapa batu yang sudah dilampauinya. Dan sekali lagi
meloncat kejurusan Agung Sedayu. Namun kali inipun
Swandaru masih belum dapat berdiri dengan tegak pada batu
yang telah menggelincirkannya. Namun kali ini ia tidak jatuh
bulat-bulat kedalam air. Setelah beberapa saat ia bertahan
atas keseimbangannya, maka terpaksa ia harus terjun
kembali. Namun ia dapat tegak diatas kakinya, meskipun
didalam air juga.
“Bukan main” Swandaru itu mengeluh. Apalagi ketika Ki
Tanu Metir minta ia mengulanginya satu kali lagi.
Swandaru terpaksa mengulangi sekali lagi. Kali ini ia benarbenar
memperhitungkan setiap langkahnya. Dengan hati-hati
ia meloncat dari satu batu kebatu berikutnya. Dan ketika ia
meloncat kebatu yang itu-itu juga, maka ia menahan nafasnya.
Dijaganya keseimbangan tubuhnya benar-benar dan
ditapakkannya kakinya pada ujung jari-jarinya, dalam
pemusatan perhatian yang bulat.
Swandaru menarik nafas panjang ketika untuk yang ketiga
kalinya ia berhasil. Tubuhnya seakan-akan menjadi bertambah
ringan, dan keseimbangannya serasa menjadi lebih baik. Ia
tidak tahu apakah sebabnya hal itu dapat terjadi “Mungkin
karena aku telah melakukannya tiga kali berturut-turut”
katanya dalam hati.
Tetapi ia tidak dapat terlalu lama tegak berdiri menikmati
kemenangannya yang pertama itu. Ketika ia mengangkat
wajahnya, dilihatnya Ki Tanu Metir berkata “Marilah, teruskan
perjalanan ini sampai keujung desa Sangkal Putung”
Agung Sedayupun kemudian berputar dan melanjutkan
loncatan-loncatannya. Namun ketika suatu kali, dilompatinya
sebuah batu yang sedikit goyah, maka batu itupun bergerak
sedikit kesamping, dan kini Agung Sedayulah yang terbanting
dipermukaan air. Swandaru terkejut, namun kemudian ia
tertawa terbahak-bahak “Nah, rasakanlah. Aku sudah lebih
dahulu mandi. Kakangpun harus mandi pula”
Ki Tanu Metirpun berhenti pula. dilihatnya Agung Sedayu
bangkit dari dalam air sambil tertawa. Kainnya, bajunya, ikat
kepalanya menjadi basah kuyup. Perlahan-lahan ia berdiri dan
dikibaskannya pakaiannya yang dilekati pasir sungai.
“Hem” desis Swandaru “Memang segar kakang, mandi
dengan segenap pakaiannya”
Agung Sedayu tersenyum. Katanya “Kau nanti juga harus
melampaui batu ini Swandaru”
“He” Swandaru mengerutkan keningnya. Dilihatnya batu
yang telah menjatuhkan Agung Sedayu itu. Batu yang seakanakan
bergoyang-goyang digerakkan arus sungai yang tidak
seberapa deras.
“Ah” katanya dalam hati “Bagaimana mungkin”
Sesaat kemudian dilihatnya Agung Sedayu telah siap untuk
mengulangi langkahnya tanpa mendapat perintah dari Ki Tanu
Metir. Ia tahu benar, bahwa setiap kesalahan harus
dibetulkannya.Dipusatkannya segenap perhatiannya. Dengan
wajah yang tegang ditatapnya batu itu. Kemudian
ditahankannya nafasnya dan dengan sepenuh hasrat ia
meloncati kembali batu-batu itu sehingga akhirnya sampailah
ia kepada batu yang agak goyah itu. Namun kali ini ia berbuat
cepat sekali. Bahkan kakinya seakan-akan tidak berpijak pada
batu itu. Batu itu hanya disentuhnya saja. Sedang kakinya
yang lain segera meloncat kebatu yang lain pula.
***
Batu itupun bergerak pula sedikit. Namun Agung Sedayu
telah meloncat lebih lanjut, sehingga kali ini Agung Sedayu
selamat sampai kebatu berikutnya. Agung Sedayu itupun
kemudian berhenti. Kini ia melihat Swandaru yang semakin
lama menjadi semakin dekat. Ketika ia sampai kebatu yang
goyah itu, maka ia bergumam didalam hati “Aku sudah
bersedia, dan aku tidak akan jatuh lagi kedalam sungai”
Tetapi ternyata ia salah sangka. Batu itu adalah batu yang
goyah. Sehingga karenanya, maka ketika ia meloncat
keatasnya, sekali lagi ia terguncang dan kehilangan
keseimbangan. Meskipun ia berusaha untuk meloncat kebatu
yang lain, namun ternyata ia tidak berhasil.
Tetapi Swandaru kali ini tidak mau jatuh sendiri kedalam
air. Agung Sedayu yang menunggunya sambil tertawa tibatiba
terkejut. Dengan tidak disangka-sangka tangan Swandaru
meraih pundaknya, dan jatuhlah mereka berdua kedalam air
bersama-sama.
Ketika mereka muncul lagi dari permukaan air, maka
mereka tidak dapat menahan gelak tawa mereka yang seperti
meledak dari dada.
Ki Tanu Metir yang melihat mereka bergumul didalam air
itupun tertawa pula terkekeh-kekeh, sampai tubuhnya
terguncang-guncang. Demikian asyiknya ia tertawa dan
melihat murid-muridnya yang basah kuyup, sehingga Ki Tanu
Metir itu tidak melihat bahwa beberapa orang melihatnya
dengan pandangan yang tajam. Mereka sama sekali tak
mengetahuinya, apa yang dilakukan oleh kedua anak-anak
muda itu.
Tiba-tiba batu tempat Ki Tanu Metir berdiri berguncang, dan
hampir saja Ki Tanu Metir kehilangan keseimbangan. Secepat
kilat ia sempat berpaling dan memandangi orang orang ditepi
sungai itu. Tetapi sekejap kemudian tiba-tiba Ki Tanu Metirpun
terhuyung-huyung dan jatuh pula ke dalam air.
Agung Sedayu dan Swandaru terkejut. Ki Tanu Metir itupun
terpelanting jatuh. Tetapi segera mereka terlihat beberapa
orang ditepi sungai itu tertawa terbahak-bahak. Seseorang
diantaranya masih memegang sebutir batu, sedang orang
yang lain berkata “lemparanmu tepat kakang.”
Mata Agung Sedayu dan Swandaru terbelalak melihat
orang-orang itu, seorang diantaranya adalah orang yang
bertubuh tinggi tegap, berkumis melintang. Ditangannya
tergenggam sebatang tongkat besi baja putih dengan kepala
kekuning-kuningan berbentuk sebuah tengkorak.
Hampir saja Swandaru berdesis. Tetapi untunglah ia dapat
menahan diri. Namun hatinya berteriak “Macan Kepatihan”
Agung Sedayupun berdiri tegak tak bergerak. Tetapi tibatiba
mereka berdua terkejut ketika mendengar Ki Tanu Metir
berkata “E,tole tolonglah. Tolonglah aku berdiri.”
Sesaat mereka heran melihat Ki Tanu Metir tertatih-tatih
berusaha untuk berdiri. Namun sekali-sekali ia tergelincir
kembali. Tubuhnya benar-benar menggigil dan dengan
terbata-bata ia berteriak-teriak sambil melambaikan
tangannya.
Agung Sedayu cepat menangkap maksud Ki Tanu Metir.
Orang tua itu telah menjadi seorang tua yang tak berdaya.
Karena itu segera ia berlari dan menolong kym tang sedang
menggigil. Diangkatnya orang tua itu berdiri dan
didudukkannya diatas sebuah batu yang besar. Sedangkan
Swandaru melihat perbuatan Sedayu itu dengan herannya.
Kenapa orang tua itu harus ditolongnya berdiri dan harus
dipapah keatas sebuah batu yang besar? Bukankah orang tua
itu pula yang besar? Bukankah orang tua itu pula yang telah
memaksanya meloncat-loncat dan memberi mereka beberapa
contoh untuk melakukannya? Namun Swandaru tidak
bertanya apapun juga. Iapun perlahan-lahan berjalan
mendekati Ki Tanu Metir. Ia semakin heran ketika dilihatnya
orang tua itu menyeringai kesakitan. Ia sendiri telah tiga kali
jatuh terpelanting, namun ia tidak merasa apa-apa. Orang tua
itu baru sekali jatuh. Tetapi ia telah tampak sedemikian
payahnya.
Tetapi ia menarik nafas ketika ia mendengar orang tua itu
berbisik “Jangan terjadi bentrokan dengan orang-orang itu
sekarang”
“Oh” desahnya. Sekali dilayangkannya pandangan matanya
ketebing dan kemudian dipandanginya orang tua yang duduk
kedinginan diatas batu itu.
Tetapi Swandaru kini telah mengerti maksud Ki Tanu Metir
itu. Dan mereka berdua, Agung Sedayu dan Swandarupun
kemudian mengerti pula, bahwa sebenarnya Ki Tanu Metir
pasti akan mampu mempertahankan keseimbangannya
seandainya yang hadir dipinggir kali itu Ki Tambak Wedi,
tetapi orang tua itu pasti mempunyai pertimbangan lain
sehingga ia tidak mau terlibat dalam bentrokan dengan
Tohpati dan beberapa kawannya saat ini.
“He!” tiba-tiba mereka mendengar seseorang diantara
orang-orang yang berdiri ditebing itu berteriak “Siapakah
kalian?”
Ki Tanu Metir memandangi mereka dengan wajah
ketakutan. Kemudian jawabnya gemetar “Kami orang-orang
Benda tuan”
“Apa kerja kalian disini?”
“Kami sedang menyelusur air sawah tuan. Dan kami
berhenti sejenak untuk mandi”
Orang-orang itu tertawa. Kata salah seorang dari mereka
itu “Apakah kalian biasa mandi dengan seluruh pakaian
kalian?”
“Tidak tuan. Salah seorang anak itu tergelincir, namun
rupa-rupanya ia tidak mau melihat kawannya masih tetap
kering”
Kembali mereka tertawa. dan kembali terdengar salah
seorang berteriak “Apakah benar-benar kalian hanya
menyusuri air?”
“Ya tuan” sahut Ki Tanu Metir “Tetapi siapakah tuan-tuan
ini?”
“Kami dari Sangkal Putung” sahut orang yang bertongkat
baja putih itu.
Swandaru menjadi berdebar-debar. Ia pernah bertemu
muka dengan Macan Kepatihan itu, selagi Tohpati itu
bertempur melawan Sidanti dan Widura. tetapi pertemuan itu
hanya sekejap dan Tohpati waktu itu sedang disibukkan oleh
perkelahian itu. Sehingga agaknya Tohpati itu kurang
mengenalnya.
Ki Tanu Metir kemudian bertanya pula “Apakah yang akan
tuan lakukan disini?”
“Hem. Aku ingin mendapat beras, apakah orang-orang
Benda mempunyai persediaan cukup?”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia
menggeleng. Jawabnya perlahan-lahan “Ah, tuan telah
memeras semua persediaan kami. Beberapa orang Pajang
yang berada di Sangkal Putung itu? Setiap minggu kami harus
menyerahkan berbakul-bakul beras, sehingga kami sendiri
akan menjadi kelaparan karenanya”
Tohpati itu tertawa. Kemudian katanya “Bukankah dengan
demikian kalian membantu perjuangan kami melawan orangorang
Jipang?”
“Bagi kami tuan, sudah tentu lebih penting makan kami
sehari-hari”
Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Dipandangnya
ketiga orang yang berada dibawah tebing itu berganti-ganti.
Kemudian katanya “He, apakah anak-anak muda itu tidak mau
ikut bergabung dengan kami untuk melawan laskar Macan
Kepatihan?”
Ki Tanu Metir menggeleng “Mereka adalah cucu-cucuku.
Biarlah mereka menikmati ketentraman hidup dirumah.
Apakah keuntungan kami apabila anak-anak muda itu turut
bertempur?”
“Anak-anak muda seluruh kademangan Sangkal Putung
bangkit serentak. Mereka telah menyumbangkan tenaga
mereka untuk kemenangan Pajang. Apakah cucu-cucumu itu
tidak ikut serta he?”
“Sudah aku katakan buat apa mereka ikut bertempur? Dan
apakah sebenarnya keuntungan orang-orang Pajang dan
orang-orang Jipang yang kini saling bertentangan?”
“Kami sedang mempertahankan pendirian kami masingmasing.
Kami tidak senang melihat pengikut-pengikut Arya
Penangsang berkeliaran”
“Mungkin pimpinan tuan tidak senang melihat Arya
Penangsang. Tetapi apakah perlunya pertengkaran itu
berlarut-larut terus? Sejak Arya Penangsang terbunuh, maka
persoalan kalian sebenarnya telah selesai”
“Siapa yang bilang he, pak tua?”
Ki Tanu Metir tertawa. Kemudian katanya “Lima enam hari
yang lalu, kawan-kawan tuan datang kepondokku. Seorang
bertubuh sedang, masih sangat muda dan tampan. Dikawani
oleh seorang yang sudah menginjak setengah umur. Namun
wajahnya menunjukkan kewibawaan yang tinggi. Namanya
Untara dan Widura”
Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Kemudian ia
bertanya “Apakah yang mereka lakukan dipondokmu?”
“Apakah tuan-tuan kenal mereka?”
“Tentu” sahut Macan Kepatihan “Untara adalah senopati
laskar Pajang didaerah ini. Dikaki-kaki gunung Merapi.
Sedang paman Widura adalah pimpinan laskar Pajang di
Sangkal Putung”
“Oh, jadi mereka adalah pemimpin-pemimpin tuan?”
Macan Kepatihan menggigit bibirnya. Adalah tidak senang
mendengar pertanyaan itu. Tetapi ia terpaksa menjawab “Ya,
apa yang mereka lakukan?”
“Pertama, mereka mencari beras seperti tuan, mereka telah
membawa sepuluh bakul beras. Apakah tuan tidak mendapat
bagian dari yang sepuluh bakul itu sehingga tuan terpaksa
mencari sendiri?”
Tohpati terdiam sesaat. Tetapi kemudian jawabnya “Kau
benar-benar orang tua yang bodoh. Berapa ratus orang
Pajang yang berada di Sangkal Putung. Sepuluh bakul beras
hanya cukup untuk tiga hari, paling lama lima hari. Nah,
apakah yang akan kami makan besok, lusa dan seterusnya?”
“Dari desa-desa lain tuan akan dapat mengambil beras
pula. Tetapi itu tidak penting. Yang penting pemimpinpemimpin
tuan itu berkata kepadaku bahwa sebenarnya
mereka telah jemu bertempur”
“Tidak” sahut Macan Kepatihan.
“Apa yang tidak, tuan? Apakah tuan tidak bertanya bahwa
pemimpin-pemimpn tuan pernah berkata demikian? Atau
apakah tuan tidak percaya bahwa orang-orang Jipang juga
jenuh bertempur? Atau tuan tidak percaya bahwa setiap orang
sudah jemu melihat pertempuran? “Aku tidak percaya bahwa
pemimpin-pemimpin Pajang berkata demikian. Aku juga tidak
percaya bahwa orang-orang Jipang telah jemu bertempur
pula. Dan aku juga tidak percaya bahwa setiap orang sudah
jemu melihat pertempuran.
“Jadi jelasnya tuan tidak percaya kepadaku?”
“Bukan. Mungkin orang Pajang berkata kepadamu. Tetapi
mereka tidak berkata yang sebenarnya.”
“Mereka berbohong? Apakah gunanya?”
“Orang-orang Jipangpun tidak pernah merasa jemu
bertempur. Mereka sedang memperjuangkan sebuah cita-cita.
Dan cita-cita itu akan mereka bawa mati.”
“Cita-cita? Bertanya Ki Tanu Metir “apakah sebenarnya
cita-cita itu bagi orang Jipang? Apakah mereka akan
menghidupkan kembali dan meletakkan Arya Jipang yang
sudah gugur itu apabila mereka sudah berhasil? Tuan.
Apakah tuan tidak sependapat dengan pemimpin-pemimpin
tuan? Bahwa sebenarnya diantara mereka dan orang-orang
Jipang itu tidak terdapat soal-soal yang tidak perlu melibatkan
mereka dalam pertentangan yang berlarut-larut? Pemimpinpemimpin
tuan itu berkata, bahwa orang-orang Jipang yang
sekarang masih mengangkat senjata, sebenarnya hanyalah
orang-orang yang keras hati dalam kesetiakawanan mereka.
Kalau mereka setia pada cita-cita mereka semula, maka citacita
itu tidak akan dapat terlaksana. Apapun yang akan
mereka lakukan. Seandainya orang-orang Pajang akhirnya
dapat mereka tumpas, namun trah Sekar Seda Lepen, dasar
dari perjuangan Arya Penangsang telah punah. Tak ada orang
yang dapat menempatkan diri sebagai penerus cita-cita itu.
Tak ada orang yang dapat menamakan diri trah Sekar Seda
Lepen.”
“Tetapi itu adalah perjuangan menuntut keadilan. Siapakah
yang membunuh Sekar Seda Lepen? Kalau Sekar Seda
Lepen tidak terbunuh, apakah Arya Penangsang tidak akan
naik keatas tahta?”
“Ya,ya. Pemimpin tuan juga mengatakan dasar tuntutan
orang-orang Jipang itu, sekarang tuan juga mengatakan.
“Oh” Tohpati mengusap kumisnya. Hampir-hampir ia lupa,
bahwa ia mengaku sebagai orang Sangkal Putung.
Tetapi tak seorangpun tahu pasti, apa yang terjadi dengan
Sekar Seda Lepen. “Terdengar Ki Tanu Metir meneruskan
“dan semua itu telah lampau. Kalau kita tenggelam dalam
urut-urutan dendam, kapan kita akan berhenti berkelahi
sesama kita?”
Tohpati terdiam. Sesaat sambil mengurut-urut kumisnya
yang tebal melintang. Didalam hatinya timbullah berbagai
pertanyaan tentang orang tua yang mengaku berasal dari
padukuhan benda itu. Macan Kepatihan sama sekali tidak
dapat mengerti, kenapa orang-orang dari benda dapat
berkata-kata seperti yang diucapkan oleh orang tua itu.
“Mungkin orang-orang Widura, atau Widura sendiri pernah
berkata demikian seperti yang dikatakannya tadi.” Berkata
Tohpati dalam hatinya. Kemudian suara didalam hatinya itu
berkata pula “Apakah benar-benar Widura dan Untara sudah
jemu bertempur?” Tohpati kemudian menggelengkan
kepalanya ketika didalam hatinya terbetik suatu pertanyaan
“Apakah orang-orang Jipang tidak jemu bertempur? Kapankah
pertempuran itu akan berakhir?”
“Tidak” kata-kata orang itu dibantahnya sendiri didalam
hatinya pula “Aku tidak akan pernah jemu bertempur.
Syukurlah kalau orang-orang Pajang telah menjadi jemu. Itu
adalah pertanda pertama bahwa mereka telah sampai ketepi
jurang kehancuran mereka.”
Tetapi Tohpati itu terkejut ketika Ki Tanu Metir berkata pula
“Nah, Tuan. Kalau tuan tidak sedang mengejar-ngejar orang
Jipang, maka tuan akan dapat hidup didalam lingkungan
keluarga tuan. Didalam lingkungan anak istri tuan kalau tuan
sudah punya. Kalau tidak, maka ibu tuan dan ayah tuan tidak
akan selalu menunggu tuan diambang pintu halaman”
“Kami bukan laki-laki cengeng” sahut Tohpati “Setiap
perjuangan memerlukan pengorbanan. Kaupun harus
mengorbankan berasmu untuk perjuangan ini. Nanti siang aku
akan segera datang ke Benda untuk mengambil beras itu”
“Jangan tuan, jangan hari ini. Tuan pasti akan kecewa,
sebab perempuan-perempuan kami belum menumbuk padi.
Besok atau lusa baru tuan dapat datang mengambilnya”
“Aku perlu hari ini. Katakan kepada penduduk Benda,
bahwa laskar Pajang tidak dapat menunda kebutuhannya.
Siapa yang tidak tunduk kepada setiap perintah laskar Pajang,
maka ia akan dihabisi jiwanya. Kau dengar?”
“Huh, tuan menakut-nakuti kami. Laskar Jipangpun tidak
mengancam sekasar itu, tuan. Apakah tuan sedang bersenda
gurau?”
Tohpati tersenyum didalam hati. Kalau ia dapat
memisahkan laskar Pajang dari kekuatan rakyat yang
mendukungnya, maka kekuatan Pajang pasti akan berkurang.
Setidak-tidaknya di Sangkal Putung. Karena itu, maka
jawabnya “Persetan dengan laskar Jipang. Apakah mereka
juga sering mengambil beras ke padukuhan Benda?”
“Ya tuan, kadang-kadang. Tetapi mereka tidak pernah
mengancam seperti tuan”
“Jipang ternyata sedang berusaha mendekatkan dirinya
kepada orang-orang padesan untuk mendapat dukungan.
Tetapi Pajanglah yang berkuasa atas kalian, sehingga kalian
tidak bebas membantah perintahnya”
Mata Agung Sedayu dan Swandaru yang sejak tadi duduk
mematung, tiba-tiba memancarkan kemarahannya yang
selama ini ditahan didalam hatinya. Mereka tidak dapat
mendengar fitnahan yang sedemikian tajamnya atas laskar
Pajang yang berada di Sangkal Putung. Tetapi sebelum
mereka berbuat sesuatu, maka dengan isyarat tangan yang
disembunyikan dibalik batu, Ki Tanu Metir telah mencegah
mereka berbuat sesuatu.
Dalam pada itu, maka terdengar Ki Tanu Metir itu berkata
pula “Nah, itulah tuan. Kalau kalian, tuan-tuan tidak saling
bertentangan, maka tuan-tuan tidak perlu berebut pengaruh
atas rakyat padesan. Tuan-tuan dapat berbuat banyak untuk
orang-orang kecil seperti kami ini”
“Tidak mungkin. Mereka bertentangan kepentingan. Kami
orang-orang Pajang akan mempertahankan kemenangan
kami, meskipun kami tahu, bahwa tuntutan Arya Penangsang
itu adil”
Mendengar kebohongan itu, hampir-hampir Swandaru dan
Agung Sedayu tidak dapat menguasai diri. Tetapi sekali lagi Ki
Tanu Metir memberinya isyarat.
“Ya, katakanlah bahwa tuntutan Arya Penangsang itu adil.
Tetapi garis keturunan yang sekarang memegang kekuasaan
atas Demak telah patah. Putra-putra Sultan Trenggana telah
hampir punah pula. Pangeran Prawata telah dibunuh oleh
Arya Penangsang. Sunan Hadiri dari Kalinyamat. Kemudian
yang terakhir tetapi gagal adalah Adipati Jipang. Katakanlah
bahwa Arya Penangsang sedang berjuang menuntu warisan.
Lalu, apakah Adipati Hadiwijaya di Pajang harus dengan rela
hati menyerahkan lehernya untuk dipancung? Sedang
Hadiwijaya itu sama sekali tidak tahu menahu tentang
terbunuhnya Sekar Seda Lepen. Bukankah Adipati Pajangpun
merasa, bahwa kini sedang memperjuangkan keadilan?
Nah tuan, selama keadilan itu dilihat dari sudut yang
berbeda-beda, maka keadilan itu sendiri tidak akan dapat
serupa bentuknya. Karena itu maka yang paling baik adalah
apa yang dikatakan pemimpin tuan. Menjemukan.
Pertentangan yang berlarut-larut adalah menjemukan sekali.
Pertentangan itu tidak akan dapat memberikan apa-apa
kepada kami. Kepada orang-orang kecil. Bahkan hanya akan
menguras lumbung-lumbung kami. Beras-beras kami dan
hidup kami akan menjadi semakin kering. Tetapi kalau tuan
tidak saling bertentangan menimbang dendam dihati, maka
kami akan dapat bekerja dengan baik, dengan tenang, dengan
tentram. Dan tuan-tuan yang bijaksana akan dapat menuntun
kami, tidak dalam olah senjata, tidak dalam bermain pedang
dan tombak, tetapi dalam olah tetanen dan kebutuhan kami
sehari-hari”
Macan Kepatihan terdiam pula sesaat. Kata-kata itu benarbenar
menyentuh sudut hatinya. Tetapi tiba-tiba terdengar
orang yang berdiri disampingnya, Sanakeling, tertawa
terbahak-bahak. Katanya “He pak tua. Darimana kau dengar
uraian yang melingkar-lingkar itu?”
Ki Tanu Metir memandang orang yang berdiri disamping
Macan Kepatihan itu. Kemudian jawabnya “Sebagian aku
dengar dari pemimpin-pemimpin tuan sendiri. Dari orang yang
bernama Widura dan yang lain bernama Untara”
Sekali lagi Macan Kepatihan mengerutkan keningnya.
Kalau Widura dan Untara berpendirian demikian, maka
apakah sebenarnya yang telah mendorong mereka, orangorang
Pajang dan orang-orang Jipang saling berbunuhan?
Namun kembali Sanakeling berkata “Mungkin pemimpinpemimpin
kami sedang berputus asa karena mereka tidak
segera berhasil menguasai keadaan disini, begitu?”
Swandaru dan Agung Sedayu menjadi benar-benar muak
mendengar percakapan itu. Mereka menjadi heran, kenapa Ki
Tanu Metir masih juga telaten berbicara dengan Macan
Kepatihan. Apalagi orang yang berdiri disampingnya itu.
Yang paling sukar untuk mengendalikan dirinya adalah
Swandaru. Hampir-hampir ia berteriak memaki-maki.
Untunglah bahwa Agung Sedayu yang agaknya lebih tenang
menggamitnya. Agung Sedayu yang sejak masa anakanaknya
kelalu menghindari bentrokan-bentrokan, ternyata
berpengaruh juga sampai saat ini. Meskipun alasannya telah
berbeda. Dahulu Agung Sedayu menghindari setiap bentrokan
dengan siapapun juga karena ia takut mengalami. Tetapi
sekarang, ia menghindari bentrokan karena pertimbangan lain.
Kali ini gurunya tidak mengijinkannya. Kebiasaannya untuk
menghindari setiap pertentangan pada masa kecilnya ternyata
membantu memperliat hatinya, menambah kesabarannya.
Karena ini, apalagi disamping gurunya, ia sama sekali tidak
takut bertempur dengan beberapa orang yang berada diatas
tebing. Namun gurunya mengisyaratkan kepadanya untuk
tetap tenang dan menghindari betrokan. Meskipun Agung
Sedayu tidak tahu benar alasan gurunya, namun ia
mematuhinya.
Ki Tanu Metir yang mendengar kata-kata orang yang berdiri
disamping Macan Kepatihan menjadi seakan-akan terkejut.
Kemudian sambil mengangkat kepalanya ia bertanya “Apakah
pemimpin-pemimpin kalian benar-benar berputus asa?”
“Tentu” sahut Sanakeling “Kalau tidak, maka ia pasti tidak
akan mengigau seperti itu. Perang adalah kewajiban seorang
prajurit. Jadi apabila ada seorang prajurit yang tidak mau
berperang, maka ia adalah seorang prajurit yang tak bernilai”
“Oh, jadi apabila keadaan Pajang dan Jipang telah menjadi
baik kembali, maka apakah Adipati Pajang akan memecat
semua prajuritnya?”
“Ah, orang tua yang bodoh. Tentu tidak. Negara yang tidak
mempunyai prajurit maka negara itu akan tidak berarti. Setiap
saat lawan mereka akan dengan senang hati merampok
segala miliknya”
“Oh, jadi apabila peperangan yang satu sudah selesai,
maka setiap negara perlu membuat persoalan dengan negara
lain?”
He, kenapa?”
“Prajurit dan perang adalah satu, menurut tuan yang
disamping itu”
Macan Kepatihan tertawa. Sanakeling akhirnya tertawa
juga. “Alangkah bodohnya pertanyaan itu” gumam Sanakeling.
Tetapi Macan Kepatihan menggelengkan kepalanya.
Gumamnya “Tidak. Pertanyaan itu bukan pertanyaan yang
bodoh. Ia telah mengambil kesimpulan yang tepat dari katakatamu
sendiri”
“Tetapi maksudku bukan begitu kakang. Maksudku, setiap
prajurit harus bersedia berperang, tidak boleh jemu”
“Jelaskan kepada orang tua itu, jangan kepadaku” potong
Macan Kepatihan.
“Oh” Sanakeling mengerutkan keningnya. Dipandangnya
orang tua yang duduk diatas batu dibawah. Kakinya berjuntai
terendam didalam arus sungai yang tidak sedemikian keras.
Tiba-tiba wajah Sanakeling menjadi tegang. Dan dengan
bersungguh-sungguh ia berkata “Marilah kita tinggalkan orang
tua gila itu”
Sanakeling tidak menunggu jawaban Macan Kepatihan.
Segera ia memutar tubuhnya dan berjalan menjauhi tebing
sungai itu bersama beberapa orang yang lain. Namun ketika
Macan Kepatihan akan beranjak pergi, maka Ki Tanu Metir itu
memanggilnya “Tuan” katanya “Tunggulah sebentar”
Macan Kepatihan berhenti. Ditatapnya wajah Ki Tanu Metir
yang kedinginan. Katanya “Ada apa kakek?”
“Tuan, apakah nanti tuan akan datang kepadukuhan kami?
“Tentu. Prajurit Pajang tidak dapat menunggu lebih dari
saat yang telah ditentukannya sendiri. orang yang mencoba
menghambat perintahnya, maka ia akan dibinasakan”
“Tuan” berkata Ki Tanu Metir “Berapa tahun peperangan ini
akan berakhir?”
“Kenapa?”
“Aku ingin menghitung umurku dengan kemungkinankemungkinan
yang bakal erjadi, tuan. Kalau peperangan ini
masih akan berlangsung lama maka aku akan melihat
padukuhanku benar-benar menjadi kering, dan anak cucuku
pasti akan mati kelaparan. Sebab beras-beras kami akan
selalu mengalir keluar padukuhan kami. Sekali harus kami
serahkan kepada tuan. Kepada laskar Pajang. Sekali yang lain
kepada laskar Jipang”
“Kenapa kau beri juga beras kepada orang-orang Jipang?”
“Mereka datang dengan senjata ditangan tuan. Apakah
yang dapat kami lakukan? Baik orang Pajang maupun orang
Jipang. Dan sebenarnyalah pemimpin-pemimpin tuan menjadi
jemu berperang. Apakah tuah tidak? Seorang prajurit Pajang
pernah berkata kepadaku, bahwa ketika ia berangkat
kemedan perang, anaknya baru berumur tiga hari. Anak yang
lahir dari istrinya tercinta, setelah mereka hampir sepuluh
tahun kawin. Prajurit itu berkata ‘Kalau aku pulang nanti,
anakku pasti sudah besar. Tetapi ia pasti takut melihat
wajahku yang setiap hari menjadi semakin buas karena bau
darah’. Tuan, benarkah demikian? Apakah prajurit yang selalu
berada dipeperangan menjadi buas, eh, maksudku keras?”
Tohpati melangkah kembali ketebing sungai itu. Ia tertarik
mendengar kata-kata Ki Tanu Metir. Pertanyaan yang
didengarnya itu benar-benar telah menyentuh hatinya. Dan
tanpa setahunya ia menganggukkan kepalanya “Ya. Mungkin
prajurit itu benar. Setiap hari seorang prajurit dihadapkan pada
saat-saat yang tegang dan melihat kekerasan”
“Apakah tuan tidak berpendapat bahwa ketegangan dan
kekerasan itu sebaiknya berakhir?”
Tohpati tiba-tiba mengerutkan keningnya. Dan dengan
serta-merta ia melangkah surut. Ia tidak mau mendengarkan
pertanyaan-pertanyaan orang tua itu mebih banyak lagi.
Pertanyaan-pertanyaan yang mengetuk dinding hatinya.
Dinding hati seorang manusia yang kebetulan menjadi
seorang prajurit. Seorang manusia yang kebetulan memiliki
senjata ditangannya dan sedang memperjuangkan kehendak
dan cita-cita dengan senjata itu. Bahkan mencoba
memaksakan kehendak itu kepada orang lain dengan tajam
senjatanya, baik atau tidak baik menurut penilaian orang lain.
Tohpati kini tidak mau mendengarkan lagi Ki Tanu Metir
memanggilnya. Cepat ia berputar dan melangkah pergi
meninggalkan orang tua yang duduk berjuntai diatas batu.
Beberapa langkah daripadanya berdiri Sanakeling bertolak
pinggang. Disampingnya dua orang kawannya sedang
mengais-ngais tanah dengan ujung pedangnnya.
“Kenapa orang tua gila itu masih saja dilayani” gumam
Sanakeling.
Macan Kepatihan tidak menjawab. Ia berpaling sejenak,
namun ia berjalan terus sambil menundukkan wajahnya.
Sanakelingpun kemudian berjalan pula dibelakangnya
bersama kedua orang yang berdiri disampingnya. dikejauhan
tiga orang berjalan mendekati mereka dan berjalan dalam
rombongan itu pula. Dan mereka masih mendapat kawan
seorang lagi. Seorang anak muda yang bermata tajam,
setajam mata burung alap-alap. Mereka adalah orang-orang
yang harus mengawasi keadaan selama Tohpati berhenti
ditepi sungai. Untunglah bahwa Alap-alap Jalatunda tidak turut
menjenguk kedalam sungai itu. Apabila demikian, maka ia
pasti tidak akan melupakan Agung Sedayu.
Sepeninggal Macan Kepatihan, Swandaru tidak sabar lagi,
sehingga dengan serta-merta ia bertanya “Kiai, Tohpati itu
ternyata telah datang kehadapan Kiai. Kenapa orang itu tidak
saja Kiai tangkap? Tidakkah dengan demikian maka
pertempuran yang Kiai katakan menjemukan itu akan segera
berakhir?”
“Tidak mungkin ngger. Apakah kita bertiga akan mampu
menangkapnya?”
“Kenapa tidak? Bukankah mereka hanya berempat atau
lima orang? Kiai sendiri pasti akan mampu melakukannya”
***
“Mungkin aku mampu mengalahkan lima orang itu. Tetapi
bagaimana dengan kalian? Lihatlah, apakah mereka benarbenar
hanya berlima?”
“Bukankah aku masih dapat menghitung demikian baik?”
sahut Swandaru dengan nada tinggi.
“Belum tentu. Coba, tengoklah sekarang”
Swandaru menjadi ingin membuktikan kebenaran kata-kata
Ki Tanu Metir. Karena itu segera ia meloncat berlari ketebing.
Dengan tergesa-gesa ia mendaki tebing, dan dengan hati-hati
ia mencoba mengintip Macan Kepatihan yang sudah berjalan
agak jauh. Ketika dilihatnya rombongan itu, Swandaru menarik
nafas dalam-dalam. Ternyata Ki Tanu Metir benar. Mereka
tidak hanya berlima atau berenam. Tetapi sekarang
rombongan itu menjadi tidak kurang dari sepuluh orang.
Bahkan disudut-sudut desa dikejauhan masih mungkin pula
berdiri orang-orangnya yang sedang mengawasi keadaan
disekitarnya.
Perlahan-lahan Swandaru meluncur turun. Dengan
mengangguk-anggukkan kepalanya ia berkata “Ya, Kiai benar.
Mereka sudah bersepuluh sekarang. Mungkin masih akan
tambah lagi”
“Nah, karena itu, maka sebaiknya kalian tidak tergesa-gesa
menentukan sikap apabila kalian menghadapi sesuatu.
Cobalah membuat perhitungan-perhitungan yang cermat, baru
kalian menentukan sikap. Tetapi itu tidak berarti bahwa kalian
harus membuang-buang waktu untuk itu. Kalian perlu berpikir
cepat dan tepat”
Agung Sedayu dan Swandaru mengangguk-anggukkan
kepalanya mereka. Tetapi dalam pada itu Agung Sedayu
bertanya pula “Tetapi Kiai, bukankah yang mereka katakan itu
bohong belaka? Apakah benar bahwa orang-orang Pajang
dan Sangkal Putung selalu berbuat sedemikian kasarnya
terhadap penduduk?”
“Tentu tidak ngger”
“Tetapi orang-orang itu mengatakannya. Mereka berpurapura
menjadi orang Pajang. Dan berbuat hal-hal yang jelek
atas penduduk”
Ki Tanu Metir tersenyum. “Namun dengan demikian
bukankah kita dapat mengetahuinya, salah sebuah cara yang
mereka tempuh? Mereka ternyata tidak saja berperang
dengan pedang dan tombak, namun mereka mempergunakan
cara-cara yang licik untuk mengurangi kekuatan prajurit
Pajang dan laskar Sangkal Putung dengan memisahkan
mereka dari penduduk disekitarnya. Dan pengetahuan kita
atas cara itu adalah sangat penting. Angger Untara dan
angger Widura harus segera mengetahuinya pula”
Kembali Agung Sedayu dan Swandaru menganggukanggukkan
kepala mereka. Dan sekali lagi mereka menyadari
kekurangan mereka. Ternyata orang tua itu telah berbuat
menurut pertimbangan yang semasak-masaknya.
Dalam pada itu maka Ki Tanu Metir itu berkata pula “Nah
ngger, untuk menghindari kemungkinan-kemungkinan yang
kurang baik, maka marilah kita meninggalkan tempat ini
segera. Aku tidak dapat memastikan apakah mereka akan
kembali atau tidak. Namun apabila mereka kemudian
berbicara diantara mereka, dan diketemukannya persoalanpersoalan
yang mereka anggap kurang wajar, maka mereka
pasti akan segera kembali. Karena itu, maka marilah kita
segera menyingkir”
Swandaru dan Agung Sedayu mengangguk dan hampir
bersamaan mereka menjawab “Marilah Kiai”
Ki Tanu Metir itupun kemudian berdiri. Dan segera kembali
ia meloncat dari satu batu kebatu yang lain. Namun kali ini ia
berkata “Kalian tidak perlu menginjak batu bekas kakiku.
Pilihlah sendiri batu-batu mana yang mungkin kalian loncati.
Namun kalian dapat melihat, bagaimana caraku meloncat.
Cara inipun nanti akan sangat berguna bagi kalian dalam
langkah-langkah unsur-unsur gerak yang akan kalian pelajari”
Swandaru menarik nafas panjang. Ia tidak perlu lagi jatuh
terguling kedalam air. Kini ia dapat memilih batu-batu yang
tidak sesulit langkah Ki Tanu Metir. Namun meskipun
demikian sekali-sekali ia masih juga harus terjun kedalam air,
meskipun tidak terpelanting jatuh.
Ternyata Agung Sedayu lebih lincah dari Swandaru.
Kecakapannya dan bekalnya masih agak lebih banyak dari
saudara seperguruannya yang gemuk bulat itu. Bahkan dalam
olah senjatapun Agung Sedayu terpaut cukup jauh dari
Swandaru. Dan inilah kesulitan Ki Tanu Metir. Namun ia
adalah orang yang berpengalaman, sehingga kesulitan itupun
pasti akan dapat diatasinya.
Ketika mereka mendekati padukuhan Sangkal Putung, dan
ketika mereka sudah sampai disekitar tanah persawahan yang
sedang digarap, maka merekapun segera berhenti. Mereka
kemudian berjalan sebagaimana biasa menyelusur tepian
memasuki padukuhan Sangkal Putung.
Tetapi ketika seseorang melihat mereka, maka tiba-tiba
orang itu tertawa terkekeh-kekeh. Mereka segera mengenal
Swandaru dan Agung Sedayu. Tetapi bahwa mereka basah
kuyup adalah sangat menggelikan. “Anakmas Swandaru,
kenapa kau menjadi basah kuyup?”
Swandaru tersenyum lucu sekali. Dengan singkat ia
menjawab “Mandi”
“Apakah kalian mandi dengan seluruh pakaian kalian?
Dengan ikat kepala kaian dan kamus timang segala?”
“Ya”
“Tanpa membuka baju dan kain panjang?”
”Aku tejatuh, tahu” potong Swandaru.
“Bertiga?”
“Ya, bertiga. Kami berjatuhan kedalam sungai”
Orang itu tertawa berkepanjangan. Namun Swandaru tidak
memperdulikannya lagi. Mereka bersama berjalan tergesagesa
lewat pinggir kali, kemudian menyusuri parit sidatan yang
akan sampai dibelakang rumah Swandaru Geni.
Ketika mereka naik pinggiran susukan itu, maka Swandaru
itupun mengumpat-umpat. Regol belakang ternyata ditutup
rapat-rapat. Dengan jengkelnya Swandaru memukul-mukul
pintu regol itu. Namun tidak seorangpun yang mendengarnya.
“Gila orang-orang Sangkal Putung” desahnya.
“Marilah kita lewat jalan samping” ajak Agung Sedayu.
“Tidak mau” jawab Swandaru “Pakaian kita basah kuyup.
Mereka, seisi halaman pasti akan mentertawakan kita”
“Lalu bagaimana?”
Swandaru berpikir sejenak. Lalu tiba-tiba ia berjalan
mendekati sebatang pohon randu diluar regol halamannya.
Lewat pohon itu ia memanjat keatas. Kemudian dengan susah
payah ia mencoba menggapai dinding halaman. namun
ternyata ia tidak berhasil.
“Bagaimana?” bertanya Agung Sedayu.
Swandaru menggeleng “Sulit” desahnya.
“Turunlah, biar aku mencobanya” berkata Agung Sedayu.
“Huh. Sejak kecil aku sudah pandai memanjat. Kali ini aku
tidak dapat meloncati jarak ini. Apakah kau pikir kau lebih
pandai daripadaku?”
“Aku hanya akan mencoba” jawab Agung Sedayu.
Swandaru itupun kemudian meloncat turun. Kini Agung
Sedayulah yang mencobanya. Namun iapun tidak juga
berhasil. Ki Tanu Metir yang melihat mereka berdua sibuk
dengan pohon randu itu tersenyum. Kemudian katanya
“Turunlah ngger. Biarlah aku mencoba pula”
Agung Sedayupun turun pula dari pohon itu. Namun
mereka berdua, Agung Sedayu dan Swandaru menjadi heran
pula didalam hatinya, apakah Ki Tanu Metir juga cekatan
memanjat
Namun ternyata orang tua itupun masih sangat lincahnya.
Dengan cepat ia melonjak naik, seperti seekor tupai. Jauh
lebih cepat dari Swandaru dan Agung Sedayu. Tetapi Ki Tanu
Metir itu tidak berhenti ketika ia telah mencapai ketinggian
yang sejajar dengan dinding halaman. Ia masih naik lagi
beberapa depa. Kemudian dengan lincahnya orang tua itu
berjejak pada batang randu itu dan melenting hinggap diatas
dinding halaman yang cukup tinggi itu.
Sekali lagi Swandaru harus melihat bahwa kelincahan
orang tua itu benar-benar mengagumkan. Bahwa tidak saja
kekuatan tubuhlah yang menentukan segala-galanya. Namun
kecekatan dan kelincahan akan banyak dapat membantu
dalam segala persoalan jasmaniah.
Ki Tanu Metir itupun kemudian meloncat dan menghilang
dibelakang dinding, sedang sesaat kemudian regol dinding
itupun terbuka “Masuklah” berkata orang tua itu.
Swandaru dan Agung Sedayu segera melangkah masuk.
Meskipun mereka tidak berkata apapun, namun didalam
kepala Swandaru semakin tajamlah pengakuannya atas
seorang yang menamakan diri Ki Tanu Metir itu. Bahwa apa
yang telah diperlihatkan kepadanya barulah sebagian kecil
dari segenap ilmunya. Dan karena itulah maka ia menjadi
semakin mantap berguru kepadanya.
Jauh dari padukuhan Sangkal Putung, Tohpati berjalan
sambil menundukkan wajahnya. rombongannya semakin lama
menjadi semakin banyak, sehingga akhirnya sampai pada
duapuluh orang. Tidak banyak diantara mereka yang
bercakap-cakap. Sekali dua kali terdengar ada yang berbisikbisik
diantara mereka. Namun kemudian kembali mereka
berdiam diri.
Dalam perjalanan itu, hati Tohpati selalu diganggu seja oleh
pertanyaan-pertanyaan yang didengarnya dari Ki Tanu Metir
“Ya” gumamnya didalam hati “Berapa tahun pertempuran ini
akan berakhir?”
Tohpati itupun kemudian berpaling. Dilihatnya beberapa
wajah anak buahnya yang kosong. Kosong seperti otak
mereka yang kosong pula.
“Apakah kepentingan mereka bertempur?” desis Tohpati
didalam hatinya “Apakah mereka tahu juga, bahwa kami
sedang melepaskan dendam kami atasa gugurnya Adipati
Jipang?”
Tohpati itupun terkejut sendiri mendengar kata-kata hatinya
“Dendam. Ya. Ternyata mereka kini tinggal mencoba untuk
melepaskan dendam semata-mata. Seperti kata-kata orang
tua ditengah-tengah sungai itu. Sebab mereka sudah pasti
tidak akan dapat mencapai apa yang sejak semula mereka
perjuangkan mati-matian. Kembalinya tahta pada garis
keturunan Sekar Seda Lepen yang terbunuh sebelum sempat
duduk diatas singgasana.
Macan Kepatihan itu berdesah didalam hatinya. Apakah
sudah sewajarnya kalau ia membawa orang-orang yang tidak
tahu-menahu itu kedalam suatu peperangan yang tak akan
kunjung habis. Sedang ia tahu pasti bahwa akhir dari
perjuangan ini bukanlah suatu yang dapat dibanggabanggakan.
Bagi dirinya sendiri, sudah pasti tidak ada jalan
kembali. Namun bagi orang-orangnya yang tidak banyak
mengetahui tentang Arya Penangsang dan tuntutantuntutannya?
Tiba-tiba Macan Kepatihan itu mengumpat “Setan. Orang
tua itu bukan orang yang tolol”
Sanakeling terkejut. Selangkah ia menyusul maju dan
bertanya “Kenapa?”
Macan Kepatihan menggeram dengan marahnya.
Langkahnya tiba-tiba terhenti dan dengan kepala tengadah ia
mengulangi kata-katanya “Orang tua ditengah sungai itu
benar-benar bukan orang bodoh”Sanakeling mengangkat
alisnya. Kata-kata Tohpati itu mengherankannya. Apakah
yang sebenarnya menarik pada orang tua itu? Tohpati telah
memberi kesan kepada orang tua itu seolah-olah orang
Pajanglah yang selalu datang kepadesannya dan merampas
beras. Bukankah itu sudah memberikan suatu keuntungan.
Kalau orang tua itu menyebarluaskan kata-kata Tohpati, maka
mereka, penduduk Benda pasti akan membenci laskar Pajang
dan setidak-tidaknya akan mengurangi bantuan mereka
kepada orang-orang Pajang. Sehingga orang-orang Benda
tidak lagi akan memberikan banyak keterangan tentang
gerakan-gerakan Tohpati yang dapat mereka lihat dan mereka
ketahui.
Tetapi Sanakeling itu menjadi semakin terkejut ketika
Tohpati berkata “Ternyata kitalah yang bodoh. Bukan orang
tua itu”
“Siapakah orang tua itu menurut dugaanmu?” bertanya
Sanakeling.
Macan Kepatihan menggeleng “Aku tidak tahu. Tetapi
orang itu memberikan suatu kesan yang aneh didalam hatiku.
Ia bukan tidak sengaja mengajukan berbagai pertanyaan dan
pasti bukanlah kebetulan kalau mereka berada ditempat itu
disiang hari begini”
Sanakeling tidak bertanya lagi. Namun ia benar-benar
heran ketika ia melihat mata Tohpati kemudian menjadi
suram.
“Apakah kita akan kembali lagi kesungi itu untuk
meyakinkan diri?”
Tohpati menggeleng “Tidak ada gunanya. Mereka pasti
telah pergi. Mereka pasti bukan orang-orang Benda. Dan
anak-anak muda itu pasti bukan cucunya. Aku terpengaruh
melihat mereka basah kuyup, sehingga aku kehilangan
kewaspadaan dalam mengamati mereka. Sekarang aku baru
membayangkan kembali kedua anak muda itu. Matanya
bersinar tajam. Mulutnya terkatub rapat. Namun mereka duduk
dengan suatu kepastian didalam hati mereka. Mereka duduk
terlalu tenang dan mereka sama sekali tidak keheranan
melihat kita. Yang bertubuh kecil agaknya seorang anak muda
yang tenang dan menyimpan sesuatu didalam tubuhnya,
sedang yang gemuk rasa-rasanya aku pernah melihatnya”
“Dimana?”
Macan Kepatihan berpikir sejenak. Dicobanya untuk
mengingat-ingat kapan ia melihat anak muda itu. Tetapi anak
muda itu basah kuyup seluruh pakaiannya, sehingga
memberikan kesan, seakan-akan anak itu benar-benar
seorang anak padesan yang bodoh. Namun setelah Tohpati
dengan segenap daya ingatnya mencoba mengenalnya, maka
tiba-tiba Macan Kepatihan itu berteriak “Gila!. Kita tidak saja
bodoh, tetapi kita sudah benar-benar gila, Sanakeling. Apakah
kaut tidak mempunyai mata lagi he?”
Sanakeling menjadi bertambah heran “Apa yang telah kau
lihat?”
“Anak itu. Anak yang gemuk itu. Bukankah anak itu pernah
turut dalam lomba memanah dilapangan dekat banjar desa
Sangkal Putung? Bukankah anak itu yang menjadi pemenang
diantara anak-anak muda Sangkal Putung?”
Sanakeling mengerutkan keningnya sambil menggigit
bibirnya. Akhirnya iapun tersentak sambil berkata “Ya, ya. Aku
melihat pula waktu itu. Aku memang melihat anak yang gemuk
seperti anak muda yang basah kuyup seperti tikus sawah itu
tadi”
“Hem” Tohpati menggeram, namun kemudian ia berkata
“Biarlah mereka kembali dengan suatu pengertian, bahwa
Tohpati tidak saja mampu bertempur dengan senjata. Tetapi
Tohpati juga berbuat hal-hal yang lain, yang dapat
mempersempit gerakan orang Pajang”
“Tetapi mereka kini mengetahui cara itu. Anak itu pasti
akan menyampaikannya kepada Widura atau Untara yang
sekarang sudah berada di Sangkal Putung pula”
“Ya. Tetapi Untara akan melihat pula bahwa luka-luka
Tohpati yang ditimbulkannya kini telah sembuh benar-benar.
Tohpati telah menjadi segar kembali. Dan sebentar lagi
Tohpati akan mampu menggulung Sangkal Putung”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya
“Marilah kita kembali. Kita lihat, apakah mereka masih berada
ditempat itu”
Tohpati menggeleng, katanya “Mereka bukan orang-orang
bodoh seperti kita. Mereka pasti tahu siapa kita. Karena itu
mereka pasti sudah pergi”
Sanakeling tidak menjawab. dilihatnya betapa Tohpati
menjadi sangat kecewa karenanya. Tetapi Sanakeling tidak
melihat bahwa hati Macan Kepatihan yang tak pernah dapat
digoncangkan itu kini sedang ragu-ragu. Diragukannya kataTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
katanya sendiri “Apakah ia benar-benar mampu menggulung
Sangkal Putung?”
Dan kembali beberapa pertanyaan telah
menggoncangkannya pula. Pertanyaan yang menggores
dinding hatinya “Apakah sebenarnya yang akan aku dapatkan
dengan menduduki Sangkal Putung? Makan. Itu saja?”
Pertanyaan itu tak pernah mengganggunya sebelum ia
bertemu dengan orang tua di tengah-tengah sungai itu.
Pertanyaan itu bahkan tidak pernah ada. Namun kini
pertanyaan itu sangat mengganggu ketenangannya. Bahkan
kemudian pertanyaan-pertanyaan yang lain bermunculan pula
didalam benaknya. Pertanyaan-pertanyaan yang dapat
menyulitkannya. Apakah ia untuk seterusnya akan dapat
menduduki Sangkal Putung apabila berhasil direbutnya?
“Tidak” pertanyaan itu dijawabnya sendiri. “Widura dan Untara
akan mengerahkan pasukan yang kuat untuk merebut Sangkal
Putung. Merampas kembali kademangan itu. Meskipun aku
telah mendapatkan beberapa pikul padi dan kekayaankekayaan
yang lain tetapi beberapa bulan kemudian, maka
kami akan kelaparan lagi. Dan pasukan Untara akan diperkuat
pula. Sedang apabila kami tetap bertahan dikademangan itu,
apakah yang akan kami lakukan kemudian? Menjadi Adipati?
Mewarisi cita-cita Arya Penangsang?”
“Menjemukan” desisnya tiba-tiba. Sanakeling terkejut
mendengar kata-kata itu sehingga dengan serta-merta ia
bertanya “Apa yang menjemukan?”
Tetapi Macan Kepatihan sendiri bukan main terkejutnya
mendengar kata-kata itu. Kata-katanya sendiri.
Sehingga karena itu maka Macan Kepatihan itu menjadi
gelisah. Apalagi ketika Sanakeling mendesaknya “Apakah
yang menjemukan he?”
Tohpati menjawab sekenanya “Widura dan Untara. Mereka
benar-benar menjemukan. Karena itu mereka harus segera
dilenyapkan. Ayo, kita kembali. Malam ini Sangkal Putung kita
bakar sampai habis. Persetan dengan segala lumbunglumbungnya
dan persetan dengan segala macam isinya”
Sanakeling mengerutkan keningnya. Dilihatnya wajah
Macan Kepatihan menjadi merah membara. Namun demikian
ia menjawab “Bagaimana mungkin. Sebagian orang-orang kita
tidak ada ditempat. Mereka sedang mencoba mengambil
perbekalan keutara”
“Aku tidak peduli”
“Masih harus dipertimbangkan” sahut Sanakeling. “Aku
tidak mau membunuh diri”
“Terserah kepadamu. Aku akan pergi malam ini”
“Jangan kehilangan perhitungan”
Tohpati tersadar dari kebingungannya. Ketika dilihatnya
Sanakeling penuh kebimbangan, maka berkatalah Macan
Kepatihan itu kemudian “Kau tidak sependapat?”
“Berbahaya sekali”
“Kapan orang-orang yang pergi itu akan datang kembali?”
“Tiga empat hari. Mereka akan membawa sisa-sisa laskar
kita yang betembaran disisi utara Pajang. Kekuatan itu akan
dipusatkan disini. Bukankah begitu kehendakmu? Nanti
apabila kau telah berhasil disini, maka kau akan membawa
seluruh barisan keutara dan melepaskan beberapa
kepentingan diselatan. Kalau keadaan diutara menjadi lebih
baik, kau akan bertempur dan memulai perjuangan seterusnya
dengan landasan daerah utara. Bukankah begitu?”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan
bimbangnya ia berkata “Ya. Aku pernah berkata demikian”
“Nah, karena itu, apakah kau akan menunggu orang-orang
yang pergi itu?”
“Ya, aku akan menunggu dalam waktu yang pendek.
Setelah itu, aku tidak akan dapat menunda lagi. Sejak kini
seluruh pasukan harus disiapkan”
“Bagus. Kita harus menebus kekalahan yang pernah
terjadi, bukan untuk mengulangi kesalahan itu”
“Ya, kau benar. Mari kita kembali”
Tohpati tidak menunggu jawaban Sanakeling. Dengan
tergesa-gesa ia melangkah kembali
kesarangnya. Sanakeling berjalan dibelakangnya bersamasama
dengan Alap-alap Jalatunda. Dengan berbisik-bisik alapalap
muda itu bertanya “Kenapa dengan Macan Kepatihan
itu?”
Sanakeling menggeleng. Entahlah. Mungkin orang tua
ditengah-tengah kali yang dijumpainya tadi membiusnya. Ia
tampak bingung dan hampir-hampir kehilangan
keseimbangan”
“Tetapi bukankah ia masih mendengarkan nasehat
kakang?”
“Untunglah demikian. Kalau tidak, maka ia akan membunuh
dirinya”
Alap-alap Jalatunda tidak menjawab. Ia berjalan saja
disamping Sanakeling. Didalam hatinya ia bergumam
“Untunglah, Tohpati mendengarkan nasehatnya. Kalau tidak,
maka laskarnya akan menjadi semakin tercerai berai”
Tetapi orang-orang itu ternyata tidak tahu kalau Untara
terluka. Sehingga dengan demikian maka mereka tidak
mempergunakan kesempatan itu untuk menghancurkan
Sangkal Putung meskipun Widura masih ada. Seandainya
Tohpati tahu, maka ia akan mempergunakan saat itu sebaik.
Dan bahkan Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda pasti akan
menyetujuinya. Mereka pasti tidak akan memperhitungkan
hadirnya seorang dukun tua yang pasti akan menggemparkan
mereka, seandainya ia mau berbuat sesuatu didalam
pertempuran yang terjadi
Karena itulah maka kini Macan Kepatihan benar-benar
telah kehilangan pengertian dan gambaran tentang kekuatan
yang sebenarnya ada di Sangkal Putung. Anak-anak muda
yan semakin hari tekadnya semakin menyala dan berlatih
dengan tak mengenal lelah. Orang-orang tuapun tidak juga
mau ketinggalan. Meskipun Sidanti meninggalkan Sangkal
Putung, namun Agung Sedayu telah siap menggantikannya
dalam setiap persoalan. Anak muda itu ternyata tidak kalah
dari Sidanti dalam segenap hal. Apabila ia telah memiliki
pengalaman seperti Sidanti, maka Agung Sedayu benar-benar
tidak akan mengecewakan.
Demikianlah ketika Macan Kepatihan menyiapkan kembali
sebuah serbuan yang akan dilancarkan atas Sangkal Putung,
maka Sangkal Putungpun sedang giat menempa dirinya.
Sementara itu Swandaru dan Agung Sedayu telah dengan
tekun menuruti nasehat-nasehat Ki Tanu Metir. Mereka kini
tidak lagi berlatih disungai. Tetapi mempergunakan ruangruang
tertutup dibelakang kademangan, atau ditempat lain
yang telah disediakan oleh Ki Demang Sangkal Putung.
Apabila malam datang, maka pergilah mereka berjalan-jalan
bersama dengan Widura dan kadang-kadang Untara ke
gunung Gowok. Ditempat itulah Swandaru dan Agung Sedayu
bekerja keras untuk membentuk dirinya. Namun sebagian
perhatian Ki Tanu Metir dititi-beratkan pada Swandaru. Anak
yang gemuk itu harus mencapai tingkatan yang tidak begitu
jauh dari Agung Sedayu. Barulah mereka dapat bersamasama
menerima pimpinan dan bimbingan yang serupa.
Semakin hati luka Untarapun menjadi semakin ringan.
Bahkan kini luka itu telah tidak mengganggunya lagi. Karena
obat-obat reramuan yang dibuat oleh Ki Tanu Metir dan
diminumnya setiap hari, maka kesehatannyapun telah benarbenar
pulih. Kekuatan tenaganya, ketangkasannya, sehingga
Untara telah benar-benar siap untuk melakukan tugasnya
kembali.
Dihari-hari terakhir, Untara telah mendengar pula dari
orang-orangnya bahwa kegiatan Tohpati telah ditingkatkan.
Tohpati telah melakukan kegiatan yang melampaui kebiasaan.
Tetapi setelah lewat tiga hari dari peristiwa dipinggir kali itu,
Tohpati ternyata belum melakukan sergapannya. Namun
dengan demikian, berarti kepada Tohpati telah menjadi dingin
kembali, dan persiapannya akan menjadi lebih masak.
Sebenarnyalah Tohpati kemudian menjadi lebih tenang. Ia
tidak lagi berbuat tergesa-gesa. Bahkan dua kali ia telah
menunda rencananya untuk menyerang Sangkal Putung.
Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orangnya
semula menganggap bahwa Macan Kepatihan merasa
persiapannya masih belum cukup masak. Namun setelah
Macan Kepatihan menunda rencananya sampai dua kali,
maka mereka terpaksa menduga-duga. Apakah yang
sebenarnya telah terjadi pada pemimpin laskar Jipang yang
gigih itu.
Tetapi tak seorangpun yang tahu, apakah yang telah
bergolak didalam dada Tohpati. Seorang senapati yang tidak
pernah ragu-ragu dalam mengambil setiap keputusan.
Seorang pemimpin yang mempunyai perbawa yang kuat, dan
seorang pemimpin yang berjiwa kepemimpinan. Tetapi pada
saat-saat terkhir, Tohpati tampaknya selalu ragu-ragu atas
segala keputusannya. Bahkan kadang-kadang tampak ia
menjadi bingung tak bernafsu.
Keadaan itu benar-benar mencemaskan beberapa orang
pembantunya. Terutama Sanakeling dan Alap-alap Jalatunda.
Namun sampai sedemikian jauh, belum ada diantara mereka
yang berani menanyakannya.
Meskipun laskar Jipang kemudian telah siap melakukan
segala macam perintahnya, meskipun seluruh sisa-sisa
pasukan Sanakeling, Alap-alap Jalatunda dan sisa-sisa laskar
Plasa Ireng beserta laskar yang tercerai berai telah berkumpul
dihutan-hutan disebelah barat Sangkal Putung, namun Tohpati
tidak segera mulai dengan serangannya. Bahkan tampaklah ia
menjadi murung dan ragu-ragu. Namun dalam saat-saat
terakhir, Macan Kepatihan itu selalu berjalan berkeliling, dari
seorang laskarnya keorang berikutnya. Mereka bercakapcakap
dan berbincang dalam berbagai persoalan. Mereka
berbicara tentang hal-hal yang sama sekali tidak bersangkutpaut
dengan kelaskarannya.
Beberapa orang anggota laskarnya menjadi heran dan
terkejut. Pemimpinnya yang ditakuti dan disegani itu tiba-tiba
telah datang kepadanya, menepuk pundaknya sambil
bertanya dalam banyak persoalan.
Seorang yang bertubuh tinggi kurus dan berkumis jarangjarang
hampir tak dapat menjawab ketika tiba-tiba saja Tohpati
telah berdiri disampingnya sambil bertanya “He, apa
kerjamu?”
Orang itu memandang pemimpinnya seperti baru sekali
dilihatnya, sehingga Tohpati itu mengulangi “Apa kerjamu?”
Terbata-bata orang itu menjawab “Duduk tuan, aku hanya
duduk saja”
Tohpati tersenyum. Dipandanginya wajah yang kurus pucat
itu. Tiba-tiba ia bertanya pula “Berapa umurmu?”
Delapan belas tahun, tuan”
“He?” Tohpatilah yang kemudian terkejut. Anak itu berumur
delapan belas tahun. Namun wajahnya tampak jauh lebih tua
dari umurnya itu. Sehingga hampir tidak percaya ia
mengulangi pertanyaannya “Umurmu berapa?”
Laskar yang kurus itu benar-benar menjadi heran. Namun
ia menjawab “Delapan belas tahun tua. Benar-benar delapan
belas tahun”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan wajah
yang suram ia berkata “Kau masih sangat muda. Apakah kau
masih mempunyai ayah dan ibu?”
Anak itu menggeleng. Tiba-tiba wajah anak itupun menjadi
suram pula sesuram wajah pemimpinnya. Dengan suara
parau ia menjawab “Ayah telah mati terbunuh beberapa bulan
yang lampau”
“Kenapa? Bertanya Tohpati “Siapakah yang
membunuhnya?”
“Ayah terbunuh ketika laskar Pajang memasuki
padukuanku. Ayah mencoba ikut bertahan. Namun ujung
tombak orang Pajang telah menyobek dadanya”
“Oh” Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Dengan
nada yang rendah ia bertanya “Sekarang apakah kau ingin
menuntut kematian ayahmu itu?”
“Tentu tuan. Aku harus membalas dendam yang membara
dihati. Aku telah bersumpah, bahwa aku harus dapat menebus
kematian ayahku dengan dua atau tiga orang Pajang. Aku
tidak peduli apa yang sebenarnya terjadi antara Jipang dan
Pajang”
***
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Ternyata anak ini
bertempur sama sekali tidak ada sangkut pautnya dengan
cita-cita Aya Penangsang yang dianggapnya sedang berusaha
menuntut keadilan. Anak itu sama sekali tidak tahu, apakah
yang dikehendaki oleh Adipati Jipang itu. Tidak tahu menahu
tentang Sekar Seda Lepen. Tidak tahu menahu tentang Sunan
Prawata, Ratu Kalinyamat yang bertapa hanya berkain
rambutnya sendii, karena suaminya terbunuh oleh Arya
Penangsang. Tidak tahu bahwa Adipati Pajang kemudian
telah berhasil membinasakan arya Penangsang dengan
tangan putra angkatnya Mas Ngabehi Loring Pasar. Tidak.
Anak itu tidak tahu apa-apa. Ia hanya mendendam karena
ayahnya terbunuh. Mungkin ayahnya sedang berjuang untuk
satu cita-cita. Tetapi anak ini tidak. Anak ini hanya ingin
melepaskan dendam dihatinya.
Tetapi ia melihat semangat yang menyala dari mata anak
itu. Mata yang jauh lebih besar dibandingkan dengan
tubuhnya yang kurus.
Tiba-tiba terluncur dari mulut Tohpati “Ibumu?”
Anak itu menggeleng. Jawabnya “Aku tidak tahu. Ibu telah
lama pergi”
“Kemana?”
Anak itu menjadi ragu-ragu. Tetapi kemudian dengan berat
hati ia menjawab “Ibu pergi dengan laki-laki lain”
Tohpati mengerutkan keningnya. Ia menjadi semakin iba
mendengar jawaban itu. Sebab dengan demikian, maka
adalah suatu kemungkinan bahwa ayahnyapun bertempur
bukan karena cita-cita. Tetapi sekedar melepaskan sakit
hatinya. Dan pengaruh keluarga yang buruk itu kemudian
telah memaksa anak itu untuk melakukan perbuatanperbuatan
yang memancarkan dendam dihatinya.
Tiba-tiba Tohpati mendengar kawannya yang duduk
disampingnya tertawa meringkik seperti seekor kuda. Tohpati
sama sekali tidak senang mendengar suara tertawa itu,
sehingga ia membentak “Kanapa kau tertawa?”
Orang yang tertawa itu terkejut. Ia sendiri tidak menyadari
bahwa ia telah tertawa. karena itu, maka ia menjadi ketakutan.
“Kenapa kau tertawa, he?” Tohpati mengulangi.
Sedemikian takutnya orang itu sehingga tanpa dapat
berpikir ia menjawab “Anak itu tuan. Anak itu berbuat seperti
laki-laki yang dikatakannya”
“He?” wajah Tohpati menjadi merah. Sambil
menggertakkan giginya ia bertanya kepada anak muda itu
“Apa yang telah kau lakukan?”
Anak muda itu menggigil seperti kawannya yang duduk
disampingnya. “Tidak, todal tuan” katanya dengan gemetar.
Sekali ia memandangi kawannya itu, dan sesekali ia
memandang kaki Tohpati. Ia sangat menyesal kenapa
kawannya itu mengatakannya, dan kawannya itupun bukan
main terkejut mendengar kata-katanya sendiri.
“Apa yang telah kau lakukan?” bertanya Tohpati dengan
nada yang berat penuh tekanan.
“Aku tidak apa-apa tuan” jawab anak muda itu terbata-bata.
“Apa yang sudah kau lakukan?” ulang Tohpati.
“Tidak ada tuan”
Sekali lagi Tohpati bertanya, kali ini perlahan-lahan “Apa
yang sudah kau lakukan?”
Tubuh anak muda itu menjadi semakin gemetar. Hampir tak
terdengar ia berkata “Aku hanya membalas sakit hatiku tuan.
Aku membenci perempuan karena ibuku yang tidak setia”
“Apa yang telah kau lakukan terhadap perempuan?”
Laki-laki itu menjadi semakin ketakutan. Hampir-hampir ia
menangis karenanya. Lamat-lamat ia menjawab “Tidak apaapa
tuan. Aku hanya berbuat menuruti perasaan. Aku sudah
menyesal”
Tohpati berpaling pada kata-kata yang duduk
disampingnya. laki-laki itupun menunduk dalam-dalam. Tibatiba
ia menyambar pundaknya sambil mengguncang tubuhnya
“Apa yang sudah dilakukannya?”
Laki-laki itu menjadi gemetar. Bibirnya bergerak-gerak
namun suaranya tidak juga keluar dari mulutnya. Ketika
Tohpati sama sekali mengguncang pundaknya, barulah ia
berkata “Ia, ia membawa istri orang tuan”
Bukan main marah Tohpati mendengar jawaban itu. Itu
adalah perbuatan terkutuk. Perbuatan yang tidak dapat
dibenarkan. Hampir saja ia memukul laki-laki kurus dan
berkumis jarang yang baru berumur delapan belas tahun itu.
Namun tiba-tiba disabarkannya dirinya. Sambil menggigit
bibirnya ia menggeram.
Tohpati mengangkat wajahnya. Apa yang dilakukan itu
bukanlah satu-satunya kejahatan yang telah pernah terjadi
diantara anak buahnya. Ia bukannya tidak mendengar bahwa
anak buahnya pernah pula merampok, mencegat orang dan
menyamunnya diperjalanan. Membunuh, menculik dan
berbagai kejahatan-kejahatan yang lain. Tetapi Tohpati
menyadari, bahwa itu adalah akibat yang tidak dapat
dihindarkan dari keadaan laskarnya kini. Keadaan yang serba
sulit dan tertekan. Beberapa orangnya telah menjadi berputus
asa dan kehilangan pegangan, seperti anak muda yang baru
berumur delapan belas tahun itu. Anak itu sama sekali tidak
tahu apa yang sudah dilakukannya.
Tohpati itu menekan dadanya sambil menarik nafas dalamdalam.
Kemudian katanya “Kenapa hal itu kau lakukan?”
Anak muda yang kurus pucat dan berkumis jarang itu tidak
dapat menjawab. Ia tidak pernah berpikir sebelumnya, kenapa
ia membawa perempuan itu. Barulah kini ia mencoba bertanya
kepada dirinya, kenapa ia membawa perempuan itu. Tetapi
perempuan itu tidak pernah merasa bahwa ia menyesal
karena perbuatannya. Perempuan itu sampai sekarang masih
juga selalu berusaha menyenangkannya dan memeliharanya.
Ia terkejut pula ketika mendengar Tohpati bertanya pula
“Kenapa kau bawa perempuan iu. Dan apakah perempuan itu
tidak ketakutan tinggal bersamamu diantara kawankawanmu?”
Laki-laki itu menggeleng “Ia senang tinggal bersama kami
tuan”
“Oh” Tohpati mengelus kumisnya “Siapakah perempuan
itu?”
Laki-laki itu ragu-ragu sesaat. Kemudian jawabnya
“Namanya Nyai Pinan”
“He?” sekali lagi Tohpati terkejut. Nyai Pinan. “Hem” Macan
Kepatihan itu menarik nafas dalam-dalam.Kdh “Untunglah
anak itu belum aku pukul kepalanya”
Tohpati itu tiba-tiba kehilangan kemarahannya. Ia menjadi
kasihan kepada anak laki-laki itu. Nyai Pinan adalah seorang
perempuan yang jauh lebih tua dari laki-laki itu. Perempuan
yang berumur tigapuluh lima tahu, bukanlah perempuan yang
perlu disesalkan apabila ia telah pergi meninggalkan
suaminya. Pantaslah bahwa perempuan itu sama sekali tidak
menyesal dan ketakutan tinggal diantara laskarnya, diantara
laki-laki yang kasar dan keras.
Macan Kepatihan itu tiba-tiba saja melangkahkan kakinya
pergi meninggalkan laki-laki itu. Sekilas masih terbayang
didalam benaknya, perempuan yang bernama Nyai Pinan itu
dahulu pernah dibawa oleh Plasa Ireng atau oleh orang lain
diantara laskarnya.
“Gila. Kehidupan ini benar-benar kehidupan yang liar.
Menjemukan, menjemukan”
Tohpati itupun kemudian langsung pergi kedalam gubugnya
ditengah-tengah hutan. Langsung ia merebahkan dirinya
diatas sebuah pembaringan bambu. Sekali-sekali terdengar ia
menggeram. Dibayangkannya kehidupan seluruh laskarnya.
Yang berada dekat-dekat disekitarnya, dan yang betebaran
dibeberapa tempat yang lain. Laskar yang diperintahkannya
untuk membuat Pajang kehilangan kesempatan membangun
dirinya karena kekisruhan-kekisruhan yang terjadi.
“Apakah hasil yang telah kucapai dengan itu” desahnya.
Dibayangkannya bahwa rakyatnya justru menjadi bingung
dan ketakutan. Tak ada ketenangan dan tak ada kesempatan
mereka menikmati hidup setenang-tenangnya.
“Tetapi bukankah itu yang aku kehendaki?”
Kata-kata itu dijawabnya sendiri “Ya. Kini ternyata bahwa
aku hanya sekedar mendendam dihati, melepaskan
kekecewaan dan sakit hati. Aku hanya ingin Pajang tidak
berhasil menenangkan dirinya dan melakukan rencanarencananya.
Itu saja.”
Macan Kepatihan itu menggeram. Dengan serta-merta ia
bangkit dan menghentakkan kakinya ketanah sambil berkata
kepada dirinya sendiri “Gila. Kenapa aku bertemu dengan
orang tua itu. Dengan orang yang mengatakan dirinya orang
Benda. Alangkah bodohnya aku. Orang itu bukan orang
Benda. Dan orang itu bukan orang yang bodoh.
Pertanyaannya telah menggoncangkan hatiku. Tetapi aku
sudah berada ditengah-tengah arus. Aku tidak dapat berjalan
kembali.”
Macan Kepatihan itu tiba-tiba melangkah dan berjalan
keluar. Diluar dipanggilnya seorang laskarnya. Katanya
“Panggil Sanakeling.”
Sesaat kemudian Sanakeling telah berada didalam
gubugnya. Wajahnya tampak tegang dan sekali-sekali
timbullah pertanyaan memancar dari matanya.
“Apakah kita sudah benar-benar siap” bertanya Macan
Kepatihan.
Pertanyaan itu terdengar aneh ditelinga Sanakeling. Macan
Kepatihan telah beberapa kali melihat sendiri, bahwa laskar
Jipang telah ditarik sebagian besar kedalam hutan itu untuk
melakukan rencananya yang tertunda-tunda. Kalau waktu
persiapan yang diperluakan terlalu lama, maka mereka akan
segera kehabisan persediaan baan makanan. Dengan
demikian maka ketahanan laskarnyapun pasti akan berkurang.
Meskipun demikian, maka Sanakeling itu menjawab
“Sudah. Sudah sejak beberapa hari yang lalu laskar Jipang
telah siap melakukan perintah. Bahkan kini mereka hampir
kehilangan gairah untuk bertempur karena pertempuran
tertunda-tunda.”
Tohpati mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak dapat
membantah kata-kata Sanakeling itu. Ia mengakui, betapa
seorang prajurit akan kehilangan semangatnya apabila
mereka harus menunggu dan menunggu, sedangkan mereka
sudah siap untuk melakukan setiap perintah.
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya Tohpati
menjawab “Baik. Aku tidak akan menunda sergapan untuk
kesekian kalinya. Tetapi aku harus yakin bahwa sergapan kita
kali ini akan berhasil.”
“Kita telah mengukur kekuatan mereka” sahut Sanakeling
“kita sudah tahu kekuatan-kekuatan yang ada didalam
Kademangan Sangkal Putung. Dan kita kini telah
memperhitungkan kekuatan itu pula. Orang yang berhasil
membunuh Plasa Ireng itupun telah kita perhitungkan. Tiga
orang itu dalam satu lingkaran pertempuran akan melampaui
kekuatan Plasa Ireng. Sedangkan lawan Alap-alap Jalatunda
ternyata memerlukan perhatian. Seorang dari mentaok akan
mengawasi Alap-alap Jalatunda. Widura serahkan kepadaku,
dan Untara adalah lawanmu. Terserah kepadamu, apakah
perlu seseorng untuk membantumu, ataukah kau merasa
bahwa kau akan berhasil melawannya sendiri. Sedang jumlah
laskar yang kita pergunakan kini ternyata bertambah banyak.
Hanya untuk mengumpulkan mereka aku memerlukan waktu
sehari. Sebab untuk mengurangi kesempatan, sebagian
tersebar dibeberapa tempat.
“Bagus. Siapkan mereka besok. Malam nanti aku akan
melihat-lihat keadaan.”
Sanakeling mengerutkan alisnya. Dengan ragu-ragu ia
berkata “Apakah kau bertanya sebenarnya?”
“Kenapa?”
“Apakah kali ini tidak akan tertunda lagi seperti hari-hari
yang lalu?”
Macan Kepatihan mendengar sindiran itu. Namun ia tidak
menjawab.
Sesaat mereka berdiam diri. Wajah Tohpati menjadi
tegang. Kemudian terdengar ia berkata “Tinggalkan aku
sendiri.”
Sanakeling mengangkat alisnya. Kemudian ia berdiri dan
berjalan keluar ruangan itu dengan hati bimbang. Sekali ia
berpaling dan dilihatnya Tohpati menekur kepalanya.
Pemimpin laskar Jipang itu tampaknya tidak segarang
beberapa saat yang lalu. Karena itulah Sanakeling menjadi
cemas. Ia tidak mau melihat setiap kelemahan yang ada
didalam dirinya, didalam tubuh laskarnya, apalagi dipucuk
pimpinannya. Ia menghendaki semuanya berjalan keras, cepat
dan dapat menimbulkan akibat yang menggoncangkan lawanlawannya.
Menimbulkan kengerian dan ketakutan.
Sepeninggal Sanakeling, maka Tohpati itupun segera
memanggil seorang yang telah agak tua. Orang itu telah agak
tua. Orang itu pernah menjadi penasehatnya dalam berbagai
hal. Seorang yang tidak saja memiliki pengalaman yang luas.
Namun ia adalah seorang yang memiliki daya pengamatan
yang jauh.
Orang tua itu berdebar-debar mendengar panggilan
Tohpati. Telah agak lama Tohpati tidak memerlukannya.
Hampir tidak pernah dapat ia menemui anak muda yang
menggemparkan seluruh daerah Demak itu. Namun kini tibatiba
Tohpati memanggilnya.
“Duduklah paman Sumangkar.”
Orang yang telah agak lanjut dan bernama Sumangkar itu
duduk disamping Tohpati sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya.
“Terima Kasih, ngger.”
“Kenapa paman tidak pernah menampakkan diri akhir-akhir
ini?”
“Sumangkar mengerutkan alisnya yang hampir memutih.
Jawabnya “Angger tidak pernah memanggil paman ini. Dan
karena itu maka aku tidak berani mengganggu
angger.”Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya serta-merta “Paman, aku akan memulai
dengan sebuah sergapan baru. Apakah paman sependapat?”
Sumangkar mengerutkan keningnya pula. Pertanyaan ini
agak aneh baginya. Sudah beberapa kali Tohpati
melakukannya tanpa minta pendapatnya. Tiba-tiba kini
pemimpin yang garang itu bertanya tentang rencananya itu.
Justru karena itu maka Sumangkar menjadi ragu-ragu.
“Bagaimana paman?” desak Tohpati.
Sumangkar menarik nafasnya dalam-dalam.
Dikenangannya ketika Tohpati itu menjadi sangat marah, dan
seterusnya hampir tak pernah ia diajaknya berbincang.
Tohpati itu marah ketika ia mencoba memperingatkan bahwa
segenap usaha yang akan dilakukan adalah sia-sia. Tetapi kini
ia menghadapi pertanyaan itu. Pertanyaannya yang seperti
pernah didengarnya dahulu.
Karena itu maka untuk sejenak Sumangkar menjadi raguragu.
Apakah sebabnya tiba-tiba saja Tohpati memanggilnya
dan bertanya kepadanya mengenai hal itu pula?
Karena Sumangkar tidak segera menjawab, maka Tohpati
itu mendesaknya “Bagaimana paman?”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
jawabnya “Raden. Pertanyaan itu sangat sulit bagiku.”
“Kenapa? Bukankah paman memiliki pengetahuan dan
pengalaman yang cukup dalam olah keprajuritan? Bukankah
paman bekas seorang yang cukup dekat dengan paman
Mantahun? Nah, bagaimanakah pendapat paman?”
“Akku adalah seorang yang telah berumur agak lanjut.
Seharusnya aku harus berkata sebenarnya menurut
pertimbangan didalam kepalaku. Namun aku tidak dapat
menutupi kenyataan, bahwa untuk berkata sebenarnya adalah
sulit sekali. Bukankah angger pernah marah kepadaku karena
aku tidak sependapat dengan angger?”
Tohpati menarik keningnya. Dipandanginya Sumangkar
tajam-tajam seperti ingin dilihatnya pusat jantungnya. Dan
karena itulah maka Sumangkar itu menundukkan kepalanya.
“Paman” berkata Tohpati “aku tahu paman adalah seorang
yang pilih tanding. Seorang yang memiliki kesaktian yang
sukar dicari bandingnya. Kenapa paman berpikiran terlalu
pendek. Kalau paman mempunyai tekad yang agak kuat
didalam dada paman, maka paman akan dapat
menyumabangkan tenaga paman dalam perjuangan ini. Tetapi
selama ini paman lebih senang mendekam didapur sambil
menghangatkan tubuh. Kenapa paman tidak lagi bersedia
memandi tombak atau memegang gagang pedang?”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya
“Sudah aku katakan Raden, alasan-alasan yang memaksa
aku untuk berdiam diri.”
“Tetapi kenapa paman tidak pergi saja dan menyeberang
ke pihak Pajang?”
Sumangkar mengangkat kepalanya sesaat. Namun
kemudian ditundukkannya lagi. Pertanyaan itu amatlah
sulitlnya. Meskipun demikian dijawabnya pula dengan jujur
“Raden, aku adalah hamba kepatihan Jipang sejak aku
melepaskan pakaian Wira Tamtama karena umurku yang
telah lanjut. Aku adalah saudara seperguruan Kakang Patih
Mantahun. Aku adalah kawan berbincang, dan aku salah
seorang yang ikut serta menyetujui tuntutan Arya Penansang
kepada Pajang dan putra-putra Sultan trenggana yang lain.
Tetapi caraku agak berbeda dengan cara yang telah ditempuh
angger Pangeran. Aku menyarankan agar angger melakukan
tuntutan dan perjuangan tanpa mengorbankan saudarasaudara
sepupunya dengan cara yang telah ditempuh.
Dengan demikian maka kawula Demak akan segera melihat
noda-noda pada dirinya. Tetapi itu telah ditempuhnya, dan aku
tidak dapat menghindarkannya. Kakang Mantahun adalah
seorang yang keras hati sehingga Arya Penangsang yang
terlalu dilanda oleh arus perasaannya itu terbakar oleh
rencananya. Dan terjadilah apa yang telah terjadi. Apakah
dengan demikian masih ada kemungkinan bagiku untuk
menyeberang ke Pajang?”
Tohpati mendengarkan kata demi kata dengan penuh
perhatian. Ia merasakan bahwa apa yang terjadi kemudian
adalah akibat dari ketergesa-gesaan para pembantu Arya
Penangsang. Namun sebagai seorang prajurit yang
terpercaya, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada
meneruskan perjuangan itu. Tetapi apakah yang dapat
dicapainya dengan perjuangannya itu?
Meskipun demikian Tohpati itu berkata tajam “Tetapi
paman selama ini hampir tidak berbuat apa-apa. Pada saat
Adipati Penangsang masih melakukan perjuangan, paman
ternyata menjadi seorang yang ditakuti digaris-garis perang.
Namun kemudian paman tidak lebih dari seorang juru masak
yang malas. Kenapa paman tidak mau bertempur seperti
masa-masa lampau itu?”
Sumangkar menarik alisnya tinggi-tinggi. Sebagai seorang
yang telah berusia lanjut, maka ia dapat berpikir dengan
tenang. Dan dengan enang pula ia menjawab “Kalau aku turut
dalam peperangan yang tidak akan berarti apa-apa ini Raden,
maka aku hanya akan memperpanjang penderitaan.
Penderitaan rakyat Pajang dan rakyat Jipang sendiri. Sebab
seperti yang pernah aku katakan, perjuangan ini tidak akan
berhasil. Apa yang dapat kita lakukan hanyalah pembalasan
dendam pada beberapa pihak. Melepaskan sakit hati dan
membuat onar dimana-mana. Apakah kira-kira demikian juga
cita-cita Arya Penangsang sendiri? Seandainya Arya
Penangsang berhasil merebut tahta, apakah yang kira-kira
akan dikerjakan? Memanjakan diri sendiri atau berbuat
sesuatu untuk membentuk Demak menurut seleranya? Nah,
bandingkanlah dengan apa yang kau lakukan ngger. Dengan
anak buah angger dan dengan seluruh perbuatan laskar
Jipang ini”
Tohpati mengerutkan keningnya. Terdengar ia menggeram.
Kata-kata Sumangkar itu hampir seperti kata-kata orang tua
yang dikumpainya disungai beberapa hari yang lampau. Katakata
orang tua yang telah memiliki berbagai pertimbangan.
Tetapi Tohpati masih ingin meyakinkan dirinya “Paman,
apakah dengan demikian kita tidak menjadi seorang
pengecut? Seorang yang tidak berani menghadapi pahit getir
perjuangan? Seorang prajurit sejati akan pantang menyerah.
Pantang menyerah kepada lawan, dan pantang menyerah
kepada keadaan”
“Raden benar” sahut Sumangkar “Jangan menyerah
kepada lawan.Jangan menyerah kepada keadaan. Namun
jangan membutakan diri atas kenyataan. Selama ini kita masih
dihadapkan pada cit-cita, maka kita tidak akan berputus asa.
Namun apabila kita menyakini kelemahan diri dan meyakini
bahwa apa yang hendak kita capai itu tidak akan terpenuhi,
maka sebaiknya kita menyadari keadaan. Korban telah
semakin banyak dan korban itu tidak akan berarti apa-apa.
Korban yang sia-sia. Korban dari nafsu pembalasan dendam
dan sakit hati”
Tohpati tidak berkata apa-apa lagi. Ia kini seakan-akan
melihat sebuah gambaran yang suram tentang masa depan
laskarnya. Ia kini melihat betapa korban berjatuhan dikedua
belah pihak tanpa dapat merubah keadaan. Korban yang
menurut Sumangkar adalah korban yang sia-sia.
Sesaat mereka berdiam diri. Tohpati dengan anganangannya
dan Sumangkar dengan angan-angannya pula.
namun sejenak kemudian terdengar Macan Kepatihan itu
menggeram “Apakah paman menyayangkan korban-korban
itu?”
“Ya” sahut Sumangkar pendek.
“Mati bagi prajurit adalah kemungkinan yang sudah
diketahuinya. Mati bagi seorang prajurit adalah kemungkinan
yang sama dengan kemungkinan untuk hidup. Sehingga mati
magi seorang prajurit sama sekali bukan suatu hal yang
mengejutkan”
“Angger benar. Mati bagi aku dan bagi angger adalah
kemungkinan yang paling dekat terjadi. Bahkan lebih dekat
dari kemungkinan untuk hidup. Tetapi apakah mati bagi
mereka yang sama sekali tidak tahu menahu persoalan ini
juga dapat dibenarkan? Apakah mati bagi orang-orang
Sangkal Putung, dukuh Pakuwon, Benda dan orang-orang lain
disekitar Pajang dan Jipang Wanakerta, disebelah barat
Demak dan disudut-sudut Bergota itu juga sudah wajar?
Laskar Raden yang terpencar dan menyusup didaerah-daerah
itu benar-benar tak terkendalikan. Rakyat didaerah itu dan
laskar Pajang berusaha untuk menumpasnya. Yang mati
diantara laskar angger dan laskar Pajang adalah wajar. Tetapi
rakyat yang tergilas oleh arus peperangnan itu?”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Bahkan
menurut bunyi disudut relung hatinya berkata “Bukan hanya
mereka. Tetapi bahkan anggota-anggota laskarnya sendiri
bukanlah orang-orang yang tahu akan keadaannya. Ada
diantara mereka yang hanya terlanjur terdorong oleh arus
yang tidak dapat dihindari tanpa keyakinan apa-apa. Tetapi
ada yang dengan sengaja dan mempergunakan kesempatan
untuk kepentingan-kepentingan yang kotor. Bahkan ada yang
kedua-duanya, putus asa dan kesempatan berbuat diluar
peraturan-peraturan. Merampas dengan dalih yang itu-itu juga,
untuk kepentingan perjuangan. Membunuh dengan dalih itu-itu
juga, mengkhianati perjuangan atau berpihak kepada musuh.
Menculik dan merampok. Bahkan segala perbuatan yang
bertentangan dengan perikemanusiaan. Apabila peperangan
ini masih berlangsung terus, maka hal-hal yang serupa itu
masih akan berlangsung lama.
Kembali mereka berdua terlempar dalam kesenyapan.
Yang terdengar hanyalah nafas Macan Kepatihan yang
semakin cepat mengalir lewat lubang-lubang hidungnya.
Matanya yang tajam menerkam dinding bambu yang
berlubang-lubang dihadapannya. Tetapi lubang-lubang itu kini
sama sekali sudah tidak kelihatan.
Ketika Tohpati berpaling menembus celah-celah tutup
keyong gubugnya yang tidak rapat, maka terdengar ia
berdesis “Sudah hampir gelap”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. “Ya,
sudah hampir gelap”
Tiba-tiba Tohpati berdiri. Beberapa langkah ia berjalan
kesudut ruangan itu. Diraihnya tongkat baja putihnya yang
tersangkut diatas pembaringannya. Sumangkar memandang
senjata itu dengan wajah yang tegang. Ia tidak tahu, apakah
yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan yang garang itu.
Tetapi ketika ia melihat Tohpati memutar tubuhnya, dan
dilihatnya dalam keremangan ujung malam itu kesan sikap
yang wajar, maka Sumangkarpun tidak beranjak dari
tempatnya. Dari lubang pintu cahaya pelita menembus masuk
kedalam ruangan. Bukan pelita, tetapi sebuah obor yang
menyala-nyala disamping dimulut pintu.
“Paman, aku ingin berjalan-jalan bersama paman malam
ini” suara Tohpati datar dalam nada yang rendah.
Dada Sumangkar berdesir. Tidak pernah Tohpati
membawanya pergi akhir-akhir ini. Kini tiba-tiba Macan
Kepatihan itu mengajaknya.
Banyak hal yang dapat terjadi kemudian. Apakah Macan
Kepatihan itu marah kepadanya, apakah Macan Kepatihan itu
ingin mendengar pendapat-pendapatnya lebih lanjut, adalah
teka-teki yang tak dapat diketahuinya. Tetapi sudah tentu ia
tidak dapat menolak. Kalau Tohpati ingin berbuat jahat
kepadanya, maka sudah tentu ia tidak akan pergi berdua,
sebab Sumangkar tahu pasti, bahwa Tohpati menyadari
keadaannya. Sumangkar bukanlah lawannya. Sumangkar
adalah takaran dua tiga kali daripadanya. Sebab Sumangkar
adalah suadara seperguruan dari gurunya, Patih Mantahun.
Tetapi apa yang dilakukan Sumangkar itu kemudian tidak lebih
dari seorang juru masak yang baik. Bahkan sebagian besar
dari laskarnya yang baru ditemukan oleh orang-orang Jipang
sepanjang peperangan atau prajurit-prajurit Jipang yang
tersebar dimana-mana tidak mengenal Sumangkar dengan
baik. Mereka menyangka bahwa orang itu benar-benar
seorang juru masak.
Ketika Sumangkar tidak segera menjawab, maka sekali lagi
Tohpati berkata “Paman, kita pergi berdua malam ini”
“Kemana ngger?”
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Pertanyaan itu adalah
pertanyaan yang aneh. Sumangkar pasti sudah tahu kemana
mereka akan pergi dalam keadaan serupa itu. Meskipun
demikian Tohpati itu menjawab “Paman pasti sudah tahu,
kemana kita akan pergi dalam keadaan ini. Dimana laskarku
sudah siap untuk menggempur Sangkal Putung”
“Oh, jadi kita melihat-lihat Sangkal Putung?”
“Ya”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Ternyata Tohpati
telah memaksanya untuk melibatkan diri kedalam peperangan
yang dibencinya itu. Peperangan yang semakin lama menjadi
semakin jauh daru bentuknya. Tetapi keputusan terakhir pasti
ada padanya sendiri.
Tohpati ternyata kemudian tidak menunggu Sumangkar
menjawab. perlahan-lahan ia berjalan kepintu dan sekali ia
berpaling. Ketika dilihatnya Sumangkar telah berdiri, maka
Tohpati itupun berjalan terus.
Dimuka gubug Sanakeling dan orang-orangnya, Tohpati
berhenti. Dipanggilnya Sanakeling yang sedang menghadapi
seceting nasi dan daging menjangan.
“Apakah kakang akan pergi?” bertanya Sanakeling.
“Ya” jawab Tohpati “Pekerjaanmu besok mengumpulkan
semua kekuatan. Malam ini aku ingin melihat Sangkal Putung
bersama paman Sumangkar”
Sanakeling mengerutkan keningnya. Ia kenal siapakah
Sumangkar itu. Ia kenal kebesaran namanya pada masamasa
lampau. Tetapi ia kenal juga, bahwa Sumangkar kini
lebih senang menjadi seorang juru masak dengan pisau dapur
ditangannya. Membelah daing binatang-binatang buruan dan
membelah kayu-kayu bakar.
Bagi Sanakeling, Sumangkar sekarang hampir-hampir tidak
berarti sama sekali. Seandainya Sumangkar itu mati
sekalipun, maka laskar Jipang tidak akan merasa kehilangan.
Sebab pekerjaannya segera dapat diganti oleh orang lain.
Karena itu, maka Sanakeling itupun bertanya “Apakah kau
tidak memerlukan orang lain?”
“Tidak” jawab Tohpati menggelengkan kepalanya.
Sanakeling tidak bertanya-tanya lagi. Macan Kepatihan
sudah cukup dewasa untuk menjaga dirinya, sehingga ia
sudah cukup mempunyai perhitungan.
Ketika Tohpati itu kemudian berjalan meninggalkannya,
maka segera Sanakeling masuk kembali kedalam biliknya,
menjatuhkan dirinya disebuah bale-bale dan kembali
meneruskan menikmati daging menjangan muda. Satu
kakinya diangkatnya keatas bale-bale sedang kakinya yang
lain berjuntai kebawah. Sambil mengunyah nasi, Sanakeling
berkata tersendat-sendat “He, panggil Alap-alap kerdil
digubugnya”
Seseorang yang brediri dimuka pintu berpaling. Sekali lagi
Sanakeling berkata “Panggil Alap-alap itu”
“Baik, baik Ki Lurah” jawab orang itu sambil berlari-lari
kegubug yang lain. Tetapi kemudian langkahnya terhenti.
Dilihatnya Tohpati dan Sumangkar berjalan dihadapannya
menuju ke gubug Alap-alap Jalatunda pula.
***
home
Home
Posting Komentar