Widget Recent Comments by Anyail Bedeh Beih
News Update :
Home » » Api Di Bukit Menoreh (6)

Api Di Bukit Menoreh (6)

Penulis : Unknown on Selasa, 28 Januari 2014 | 20.36

 

Koala

Buku 06
Untara dan Agung Sedayu kemudian tidak membuangbuang
waktu lagi. Segera mereka mulai dengan suatu latihan
yang keras. Ternyata Untara benar-benar ingin melihat,
sampai dimana puncak kemampuan adiknya.
Ketika latihan itu telah berjalan beberapa lama, maka
tahulah Untara bahwa apa yang dikatakan oleh Widura itu
memang sebenarnya demikian. Agung Sedayu mempunyai
bekal yang cukup untuk menjadi seorang anak muda yang
perkasa. Ketangkasan, kekuatan tenaga dan kelincahan.
Apalagi kini, setelah anak
muda itu menemukan
kepercayaannya kepada diri
sendiri, maka setiap
geraknyapun seolah-olah
menjadi lebih mantap.
Meskipun beberapa kali Untara
melihat kesalahan-kesalahan
yang masih dilakukan oleh
adiknya, namun kesalahankesalahan
kecil itu segera
dapat diperbaikinya.
Dalam latihan-latihan itulah,
maka Widura melihat betapa
Untara sebenarnya
mempunyai ilmu yang hampir
mumpuni. Bahkan kemudian Widura itu tersenyum sendiri
mengenangkan perkelahian antara Untara dan Sidanti. “Aneh”
pikirnya “Jarang aku temui anak muda sesabar Untara dalam
menghadapi lawan perkelahian apapun alasannya. Tetapi
terbawa oleh tugas yang diembannya, maka agaknya Untara
harus berlaku bijaksana. Kalau ia mau, maka Sidanti adalah
bukan lawannya.”

Namun Agung Sedayu ternyata telah mengagumkan pula.
Kini anak itu tampaknya tidak ragu-ragu lagi untuk sekalisekali
membenturkan tenaganya apabila perlu. Meskipun
beberapa kali ia terdorong surut oleh kekuatan Untara, namun
segera ia berhasil menguasai keseimbangan dengan
kelincahannya.
Untara melihat ketangkasan adiknya itu dengan penuh
kebanggaan didalam dadanya. Apa yang dilakukan oleh
Agung Sedayu, benar-benar jarang ditemuinya. Melatih diri
dalam lukisan-lukisan. Membuat perhitungan-perhitungan
dengan gambar. Tetapi ternyata dalam pelaksanaannyapun
Agung Sedayu mampu melakukan sebagian besar dari anganangannyayang
dituangkannya diatas rontal-rontal. Hanya
disana-sini Untara masih perlu memberinya beberapa
petunjuk dan perubahan, sehingga dengan demikian ilmu
Sedayu itupun menjadi semakin sempurna.
Ketika Untara telah cukup mengenal ilmu adiknya, serta
menganggap latihan itu telah cukup, maka segera ia
menghentikannya. Agung Sedayu,yang sebenarnya telah
menjadi kelelahan, sgera meloncat surut dan dengan wajah
yang riang ia berdiri bertolak pinggang. Meskipun demikian,
tampak juga dadanya menggelombang karena nafasnya yang
terengah-engah.
“Kau lelah” bertanya Untara.
Agung Sedayu mengangguk, jawabnya “latihan ini terlalu
keras bagiku.”
“Belum sekeras perkelahian sebenarnya” Untara menyahut
“Apalagi kalau kau bertemu dengan Macan Kepatihan dengan
tongkatnya yang mengerikan itu.”
Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian iapun segera
duduk diatas seonggok tanah disamping pamannya. Sedang
Untara masih saja berdiri untuk kemudian memberikan
beberapa petunjuk tentenag kesakahan-kesalahan yang
dibuat oleh Agung Sedayu.
“Sedayu” berkata kakaknya “kau ternyata mampu
bertempur seorang lawan seorang. Tetapi suatu ketika kau
akan turut serta dalam pertempuran brubuh. Pertempuran
antara laskar Pajang dan laskar Jipang. Dalam pertempuran

yang demikian kau tidak hanya dapat membanggakan
kekuatan pertempuran seorang lawan seorang. Tetapi kau
harus dapat menempatkan dirimu diantara kawan dan lawan.”
Agung Sedayu kemudian memperhatikan dengan seksama
petunjuk-petunjuk yang diberikan oelah kakaknya.
Kemungkinan-kemungkinan yang dapat terjadi didalam perang
atara dua kekuatan dalam jumlah yang banyak. Hal-hal yang
sebagian lagi pamannya telah memberitahukannya
kepadanya.
Tetapi Untara itupun berhenti ketika dilihatnya sebuah
bayangan yang bergerak-gerak dibelakang pucuk kecil itu.
Namun mereka tidak menjadi cemas karenanya. Orang itu
telah mereka kenal baik-baik. Kiai Gringsing.
Namun mereka menjadi heran ketika melihat Kiai Gringsing
itu tidak datang sendiri.
Ketika Untara melihat orang yang datang bersama dengan
Kiai Gringsing itu, tampak wajahnya menjadi tegang. Dengan
agak tergesa-gesa ia kemudian bertanya “Apakah ada
sesuatu yang penting dengan pekerjaanmu?”
Sebelum orang itu menjawab, terdengar Kiai Gringsing
tertawa. Katanya “Kenapa kau tidak mempersilahkan aku
dahulu, baru bertanya kepada orang ini?”
Untara tertawa. Jawabnya “Marilah Kiai. Aku
mempersilahkan Kiai.”
“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian kepada
Agung Sedayu ia berkata “ Apakah muridmu bertambah
seoang lagi Sedayu?”
Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia tidak menjawab.
Bahkan yang berkata kemudian adalah Kiai Gringsing “Nah,
sekarang bertanyalah kepada orang itu.”
Untara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya kepada
orang yang datang bersama dengan Kiai Gringsing
“Kemarilah”
Orang itu ragu-ragu sejenak. Ditatapnya wajah Agung
Sedayu dan Widura berganti-ganti.
Untara yang dapat meraba keraguan orang itu berkata
“Mereka adalah pemimpin laskar-laskar Pajang di Sangkal

Putung. Yang satu adalah adikku Agung Sedayu dan yang lain
adalah paman Widura.”
Orang itu menganggukkan kepalanya sambil berkata “Aku
pernah mendengar tentang paman Widura di Sangkal Putung,
tetapi baru kali ini aku melihat orangnya.”
Widura tersenyum, sahutnya “inilah orangnya. Tak ada
yang menarik.”
Orang itu tertawa pendek, yang mendengarpin tertawa
pula. kemudian Untaralah yang berkata “Soma, berkatalah.
Biarlah paman Widura mendengar pula.”
Soma menarik nafas dalam-dalam, kemudian setelah
menelan ludahnya ia berkata “Ada beberapa berita tentang
orang itu.”
Sebelum Soma meneruskan, terdengar Widura menyela
“Untara,aku telah memperkenalkan diriku, tetapi siapakah
kisanak ini?”
Untara mengerutkan keningnya. Sesaat ia berdiam diri,
namun kemudian jawabnya “ia salah seorang pembantuku.”
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Segera ia
mengerti, orang itu pasti dari pasukan sandi. Karena itu maka
Widura tidak bertanya lagi.
Kemudian berkatalah Soma itu seterusnya “Ketika aku
datang kepondokan kakang, ternyata kakang telah tidak ada.
Menurut pesan kakang terakhir, aku harus datang kerumah
itu. Dan yang aku jumpai adalah Kiai Gringsing.”
“Aku meninggalkan rumah itu dengan tergesa-gesa tanpa
aku rencanakan terlebih dahulu. Tetapi bukankah aku telah
berpesan kepada Kiai Gringsing?”
“Pesan yang aneh” gumam Kiai Gringsing.
Untara tersenyum dan Soma itupun tersenyum.
“Tak ada orang yang dapat berbicara dalam bahasamu
Untara” berkata Kiai Gringsing kemudian “dan pesan itu sudah
aku sampaikan. “Kemudian kepada Agung Sedayu Kiai
Gringsing berkata “He, Sedayu apakah kau dapat mengerti
bahasa Untara itu. Bulan muda,angin selatan, bintang utara.
Laju bersama gubug penceng. “Kiai Gringsing itupun
kemudian tertawa terkekeh-kekeh. “Ayo Sedayu apakah kau
tahu artinya?”

“Aku tahu Kiai” jawab Agung Sedayu.
“Apa?”
“Kisanak itu harus datang bersama Kiai menemui kakang
Untara disini.” Jawab Agung Sedayu sambil tertawa.
Untara tertawa, Soma itupun tertawa dan yang lain-lain
juga tertawa.
“Akupun dapat memberikan arti menurut kehendakku”
berkata Kiai Gringsing.
“Tetapi bukankah Kisanak itu datang kemari bersama Kiai?”
berkata Sedayu.
Kembali mereka tertawa. Tetapi Untara tidak berkata apaapa
tentang kata-kata sandi itu.
“Nah,Soma” berkata Untara kemudian “katakan berita itu?”
“Macan Kepatihan menempatkan beberapa orang untuk
mengamat-amati Benda, namun kemudian pergi ke Timur.”
Untara mengerutkan keningnya, katanya “Apakah dapat
diketahui, pada siapakah orang-orang Tohpati itu
bersembunyi?”
“Sudah, tetapi kami belum mengetahui jumlah itu.” Jawab
Soma “sedang dihutan-hutan disebelah barat kadang-kadang
tampak juga beberapa orang Jipang. Diantara mereka adalah
Plasa Ireng.”
Kini tidak saja Untara yang mengerutkan keningnya. Tetapi
Widurapun kemudian memperhatikan berita itu dengan
seksama. Bahkan dengan serta-merta ia berkata “Ada tandatanda
Tohpati akan menyergap dari barat?”
Untara mengangguk “Ya” jawabnya “Mereka sedang
menyusun kekuatannya di barat. Plasa Ireng dan pasti Alapalap
Jalatunda telah ditarik pula kedalamnya.”
Widura kemudian termenung sejenak. Agaknya Tohpati
benar-benar mengerahkan segala kekuatan dari sisa-sisa
laskar Jipang Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan mungkin
pula pimpinan laskar Jipang didaerah utara, yang terkenal
dengan nama Sanakeling.
Sesaat gunuk Gowok itu menjadi sepi. Mereka masingmasing
hanyut dalam arus angan-angannya. Widura merasa
bersyukur bahwa sampai saat ini Sidanti masih dapat
dikuasainya atas kebijaksanaan Untara,sehingga apabila

sergapan Tohpati itu datang beserta beberapa orang terkenal
dari laskar Jipang, tenaganya masih dapat dipergunakan.
Widurapun mengharap Agung Sedayu akan memperkuat
laskarnya pula disamping Untara sendiri.
Untara itupun kemudian mengangguk-anggukkan
kepalanya. Katanya kepada pembantunya “Aku terima
beritamu. Hubungi Trigata. Aku berada di Sangkal Putung.
Beritahukan setiap perkembangan keadaan.”
Orang itu mengangguk. Jawabnya “Tetapi pasti tidak
malam ini. Mungkin besok malam atau lusa.”
“Apakah ada tanda-tanda Tohpati menyergap malam hari?”
“Mungkin. Mereka menyiapkan obor dan panah-panah api.”
“Setan” Untara menggeram “Tetapi bukan tujuan mereka
menghancurkan Sangkal Putung,sebab mereka memerlukan
lumbung-lumbung padi disini. Tetapi bahwa mereka
menyerang pada malam hari adalah mungkin sekali.”
“Nah, aku akan pergi dulu kakang. Mungkin keadaan
berkembang terlalu cepat.”
“Baik,aku akan berada di Sangkal Putung .”
Orang itupun kemudian mengangguk, minta diri kepada
semua yang hadir ditempat itu, dan menghilang diantara
gelapnya malam.
“Petygas yang baik” gumam Untara.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
wajahnya masih tegang. Sebagai seorang yang bertanggung
jawab atas daerah itu, maka segera Widura membuat
perhitungan.-perhitungan.
Tiba-tiba ia teringat kepada Tambak Wedi. “Sepasar”
katanaya dalam hati. Kini dua hari telah dilampauinya. Tiga
dengan besok. “Gila orang yang tak tahu keadaan itu. Ia
terlalu mementingkan diri sendiri dan muridnya tanpa
memandang segenap persoalan dalam jangkauan yang luas.
Tetapi tiba-tiba ia teringat pula pada orang yang bertopeng
yang duduk dimukanya. Dan dengan serta-merta Widura itu
bertanya “Kiai” katanya “apakah Kaia bertemu dengan
Tambak Wedi di lapangan. Bukankah Kiai telah melemparkan
cemeti Kiai setelah Tambak Wedi melemparkan gelang
besinya.”

Orang itu tertawa “ya” jawabnya “ia memberi aku salam
yang hangat, sehangat api neraka. Tetapi setelah kalian bubar
orang itu pergi juga tanpa berbuat sesuatu. Aku sangka ia
akan marah kepadaku. Tetapi ia hanya mengancamku.”
“Apakah katanya?”
Kiai Gringsing itu diam sesaat. Kemudian dijawabnya “Ki
Tambak Wedi minta aku tidak ikut mencampuri urusannya
dengan kau. Kalau aku tidak memenuhinya, maka aku akan
dibunuhnya.”
Widura mengangkat alisnya. Setelah termenung sejenak ia
bertanya pula “Bagaimanakah jawaban Kiai?”
“Hem” Kiai Gringsing menarik nafas. Kemudian katanya
“Aku kira tak seorang pun yang berhak berbuat seperti Ki
Tambak Wedi itu. Kalau ia ingin berbuat sekehendaknya,
maka akupun akan berbuat sekehendakku. Bukankah nanti
apabila Ki Tambak Wedi marah aku mencari perlindungan
kepada Agung Sedayu?”
“Ah” Agung Sedayu mendesah, tetapi Widura dan Untara
tertawa.
Dan Kiai Gringsing itupun berkata seterusnya “Tetapi
lupakan sajalah Ki Tambak Wedi itu. Aku harap ia tidak
bersungguh-sungguh. Yang perlu kau pikirkan, bagaimana
kau dapat menghindarkan Sangkal Putung dari bencana yang
akan dapat ditimbulkan oleh Tohpati.”
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Untarapun
kemudian berdiam diri, sedang Agung Sedayu memandang
jauh kelangit, seakan-akan sedang menghitung bintang yang
berhamburan diatas dataran yang biru pekat.
Sesaat mereka saling berdiam diri. Widura sedang
mencoba menghitung-hitung kekuatan dipihaknya dan
membandingkan dengan kekuatan Tohpati. Dalam jumlah,
maka Widura dapat berbesar hati. Dengan anak-anak muda
Sangkal Putung, laskarnya pasti berjumlah lebih banyak dari
jumlah laskar Tohpati. Namun dalam penilaian seorangseorang,
maka Widura masih harus berkeprihatin. Meskipun
setiap orang di dalam laskarnya tidak akan kalah dari setiap
orang dalam laskar Jipang, tetapi anak-anak muda Sangkal
Putung, Widurapun tidak yakin kalau jumlah laskarnya akan

memadai. Karena laskar Jipang dapat berada dimana saja
yang mereka kehendaki, sehingga suatu ketika, jumlah laskar
Jipang itu dapat menjadi banyak sekali.
Karena itu maka Widura mengambil kesimpulan, bahwa
anak-anak muda Sangkal Putung itupun selagi sempat harus
mendapat penempaan sejauh-jauh mungkin. Bahkan orangorang
yang sudah agak lanjut usianya, asal mereka sanggup
dan bersedia, pasti akan menjadi tenaga bantuan yang berarti.
Sesaat kemudian, maka Kiai Gringsing itupun pergi
meninggalkan mereka. Katanya “Aku akan pulang kerumahku
diantara rumpun-rumpun bambu. Hati-hatilah, setiap saat
Tohpati itu akan datang. Mungkin benar ia akan menyergap
dari arah barat. Karena itu, awasilah arah itu baik-baik. Namun
jangan lengahkan penjagaan-penjagaan ditempat-tempat lain.”
“Baik Kiai” jawab Widura.
Namun Kiai Gringsing itu berpalingpun tidak. Orang itu
berjalan mendaki puntuk kecil, lewat dibawah pohon kelapa
sawit dan seterusnya hilang dibalik puntuk kecil itu.
Belum lagi Untara sempat berpaling, terdengar Agung
Sedayu bertanya”Siapakah sebenarnya orang itu?”
Untara tersenyum, jawabnya “Kiai Gringsing.”
Agung Sedayu hanya dapat menggigit bibirnya. Ketika
kemudian Untara dan Widura tertawa, maka anak muda itu
berdiri sambil menggeliat. Katanya ‘Apakah kita akan tidur
disini?”
Widura bahkan tertawa semakin keras. Katanya ‘Apakah
kau berani tidur disini? Bukankah setiap malam, apabila kita
berada ditempat ini kau selalu saja mengajak pulang? apalagi
ketika kau dengar Tohpati sedang berkeliaran didaerah ini?”
“Ketika itu tidak ada kakang Untara” jawab Sedayu.
“Bagaimanakah kalau aku lari apabila ada
bahaya?”bertanya Untara.
“Apa kakang sangka aku tidak bisa lari secepat kakang?”
bantah Agung Sedayu.
Kembali mereka tertawa. Namun terasa oleh Widura,
betapa kemenakannya itu mengalami banyak perubahan. Kini
ia sama sekali tidak tampak menjadi cemas seandainya
bahaya betul-betul mengancamnya. Apalagi setelah ia

mendapat beberapa petunjuk oleh kakaknya. Baik lukisanlukisannya
maupun pelaksanaannya, maka ternyata Agung
Sedayu benar-benar dapat menjadi seorang anak muda yang
perkasa. Apalagi hatinya benar-benar menjadi besar dan
tangguh. Maka kekuatan Agung Sedayu pantas
diperhitungkan.
Sesaat kemudian Widura dan Untarapun berdiri pula.
keperluan mereka agaknya sudah cukup buat kali ini.
Sehingga dengan demikian segera merekapun kembali ke
kademangan.
Hari itu setiap penjagaan menjadi lebih diperkuat. Gardugardu
peronda dan peronda-peronda keliling. Tohpati yang
berada disekitar tempat mereka, setiap saat dapat menyergap.
Namun yang harus mendapat pengawasan paling ketat adalah
justru daerah barat.
Sedang kerja Widura hari itu adalah menangani sendiri
latihan-latihan bagi anak-anak muda Sangkal Putung
disamping beberapa orang anak buahnya. Langsung
diberikannya beberapa petunjuk penting apa dan bagaimana
mereka harus berbuat di dalam pertempuran-pertempuran.
Swandaru, yang memimpin anak-anak muda itupun berlatih
dengan sekuat-kuat tenaganya, supaya namanya tidak terlalu
jauh dibawah nama-nama yang dikaguminya.
Sidanti,Sedayu,Widura dan Untara.
Hanya Sidantilah yang selalu bersikap acuh tak acuh atas
semua kesibukan itu. Meskipun demikian, sampai saat itu,
Sidanti masih berada dalam barisan Widura.
Hari itupun ternyata Tohpati belum menyergap Sangkal
Putung. Sehingga pada malam harinyau dan Agung Sedayu
masih dapat memanfaatkannya dengan beberapa latihan
penting. Juga anak-anak muda Sangkal Putung, oleh Widura
diajarinya bertempur dimalam hari. Bagaimana mereka harus
mengenal kawan dan lawan di dalam gelap dan bagaimana
mereka harus memberikan ciri masing-masing dan tandatanda
sandi. Selain itu Widurapun telah membuat beberapa
persiapan untuk bertempur malam hari. Obor-obor dan panahpanah
api untuk mengimbangi laskar Tohpati yang dengan api

akan mencoba mengacaukan pertahanan pasukan yang
berada di Sangkal Putung.
Namun dipagi hari berikutnya,ketika Untara dan Agung
Sedayu sedang sibuk mengurai lukisannya datanglah seorang
penjual keris yang ingin menemui Untara. Kepada para
penjaga dikatakannya bahwa ia mendapat pesanan dari
Untara itu.
Ketika seseorang menyampaikannya kepada Untara, maka
Untara itupun mengerutkan keningnya, kemudian katanya “Ya,
aku memang memesan sebuah keris. Bawalah orang itu
masuk.”
Sesaat kemudian orang yang menyebut dirinya pedagang
keris itu diantar masuk ke pringgitan.
“Duduklah” Untara mempersilahkan.
Orang itupun kemudian duduk diatas sehelai tikar pandan.
Dipunggungnya terselip sebilah keris, dan dianggarnya pula
keris yang lain, pada sangkutannya didalam jumbai dibagian
depan ikat pinggangnya.
“Paman” berkata Untara kemudian kepada Widura “apakah
paman tidak ingin melihat beberapa bilah keris?”
Widura tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Namun
demikian ia duduk pula dihadapan orang yang menyebut
dirinya pedagang keris itu. Agung Sedayupun kemudian hadir
juga diantara mereka.
Sesaat kemudian barulah Untara berkata kepada orang itu
“Apakah kau membawa keris itu?”
Orang itu menggangguk. Kemudian dijawabnya “Ya, Soma
telah menyampaikan pesan itu.”
Untara mengangguk-angguk. Bahkan Widurapun
mengangguk-angguk pula. Sedang Agung Sedayu sekalisekali
mencoba memandang wajah orang itu.
“Nah, marilah aku perkenalkan dengan pemimpin laskar
Pajang di Sangkal Putung” berkata Untara sambil menunjuk
Widura “Paman Widura.”
Orang itu mengangguk dalam sambil berkata “Aku adalah
utusan kakang Untara.”
Kembali Widura mengangguk-anggukkan kepalanya.
Segera ia tahu bahwa orang itu sama sekali bukan pedagang

keris. Tetapi orang itu adalah salah seorang pembantu sandi
dari Untara dalam kedudukannya sebagai seorang senopati
yang memegang kekuasaan atas nama Panglima Wira
Tamtama. Ki Gede Pemanahan.
“Namanya Trigata” sambung Untara.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Agung Sedayu
mengangguk-angguk pula. nama itu pernah didengarnya di
Gunung Gowok dahulu, ketika kakaknya berpesan pada
Soma.
“Nah sekarang, apakah yang akan kau sampaikan?”
“Kelanjutan dari berita-berita yangdibawa oleh Soma.”
“Ya”
“Tohpati hari ini berada dihutan-hutan sebelah barat
padukuhan Benda.”
Untara mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
katanya “apakah sangkamu persiapannya sudah selesai?”
“Kami menyangka demikian. Orang menyelundup kami
yang disekitar lingkungan mereka yang dapat kami hubungi
telah mendengar perintah untuk tetap ditempat bagi mereka.”
Kembali Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bagaimanakah dengan obor dan panah api?”
Trigata berpikir sejenak, kemudian jawabnya “Mungkin
akan benar-benar mereka pergunakan. Mereka tidak mau
gagal kali ini. Karena itu mereka akan mempergunakan alatalat
untuk mengacaukan pertahanan kita disini.”
Sesaat mereka kini berdiam diri. Masing-masing mencoba
membayangkan apakah kira-kira yang akan terjadi seandainya
laskar Macan Kepatihan itu benar-benar akan datang.
Yang mula-mula berbicara adalah Widura, katanya “Aku
harus menyiapkan orang-orangku.”
“Ya” berkata Untara “Tetapi tidak sekarang. Nanti sore
setelah matahari hampir tenggelam, supaya Tohpati tidak
sempat mengetahui, bahwa rencananya telah kita mengerti
sebelumnya.”
“Kau benar” berkata Widura “aku hanya akan membuat
latihan-latihan khusus pagi ini.”

Untara menggangguk. Kemudian kepada Trigata Untara itu
berkata “Apakah menurut dugaanmu malam nanti Tohpati
akan bergerak.”
“Demikianlah” sahut Trigata.
“Baik” berkata Untara “usahakan melihat gerakan mereka
meskipun dari jarak yang jauh. Berilah tanda dengan panah
sanderan. Tetapi ingat, kau tidak usah membunuh diri.
Demikian kau melepaskan anak panah sanderan, kau harus
segera melarikan dirimu. Terserahlah kepadamu, siapakah
yang berani bertaruh nyawa berdiri diujung, yang lain akan
menerima tanda itu dan meneruskan ke Sangkal Putung.”
“Ah pekerjaan itu tidak terlalu berbahaya” sahut Trigata
“apalagi dimalam hari, kami akan dapat melakukannya dengan
aman. Sebab dapat kami lakukan dari jarak yang cukup jauh.
Pekerjaan ini jauh lebih aman dari melakukan pertempuran itu
sendiri.”
“Bagus, dimana kalian berada?”
“Di Tegal” jawab Trigata “dirumah seorang petani miskin
bernama Pada.”
“Kelak, apabila kau tidak datang sesudah serangan selesai,
kami akan mencari kalian.”
“Terima kasih” sahut Trigata.
Kembali kemudian mereka berdiam diri. Wajah Agung
Sedayu tampak tegang. Ada sesuatu yang bergolak didalam
dadanya. Setelah ia menemukan kepercayaannya pada
kekuatan yang tersimpan dalam dirinya, tiba-tiba timbullah
keinginannya untuk ikut serta dalam pertempuran itu.
Meskipun demikian maksudnya itu tidak segera
disampaikannya kepada kakaknya maupun pamannya. Ia
akan menunggu sampai nanti apabila diadakan pertemuan
diantara para pemimpiin laskar di Sangkal Putung.
Widura kemudian meninggalkan Pringgitan. Diberinya anak
buahnya beberapa petunjuk khusus. Meskipun belum
diberitahukannya bahwa Tohpati mungkin sekali akan
menyergap malam nanti, namun secara tidak langsung telah
dipersiapkannya anak buahnya untuk menghadapi
kemungkinan itu. Dipersiapkannya pula anak-anak muda
Sangkal Putung untuk menghadapi setiap kemungkinan,pula

laki-laki yang telah berumur agak lanjut. Diberikannya petunjuk
tempat-tempat yang harus mereka pertahankan dan
diberitahukannya pula cara-cara untuk melawan api apabila
timbul kebakaran.
Meskipun Widura belum mengatakan, namun sudah terasa
oleh anak buahnya, bahwa bahaya itu semakin dekat. Karena
itu, maka merekapun telah mulai mengatur hati masingmasing.
Siap menghadapi setiap kemungkinan.
Penduduk Sangkal Putung merasa pula, bahwa mereka
harus ikut serta mempersiapkan diri. Perempuan-perempuan
telah membuat persiapan secukupnya menghadapi masamasa
yang sulit. Kalau terjadi pertempuran, belum pasti
sehari, dua hari akan selesai. Dan yang paling mengerikan
bagi mereka, bagaimanakah kalau laskar Pajang bersamasama
anak-anak muda Sangkal Putung tidak mampu
menahan arus Macan Kepatihan?
Siang itu juga, Trigata meninggalkan Sangkal Putung
kembali ketempatnya. Di tempat persembunyiannya ternyata
telah berkumpul lima orang yang sipa melakukan tugas-tugas
mereka. Beberapa tanda sandi harus mereka berikan lewat
panah sanderan yang nanti akan memberitahukan beberapa
masalah mengenai gerakan Tohpati.
Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk.
Dimuka banjar anak-anak Sangkal Putung sibuk berlatih.
Sedang anak buah Widura sibuk pula mempersiapkan
senjata-senjata mereka.
“Jangan memeras tenaga kalian” Widura menasehati anakanak
muda Sangkal Putung “nanti apabila setiap saat
diperlukan, kalian telah menjadi kelelahan.”
Anak-anak muda itupun menurut pula. Mereka kini tinggal
mendengarkan beberapa petunjuk-petunjuk yang harus
mereka lakukan dalam pertempuran yang setiap saat mungkin
akan datang.
Ketika matahari telah condong kebarat, beberapa orang
penjaga diujung induk desa Sangkal Putung terkejut
mendengar pandah sanderan yang meraung-raung dilangit,
kemudian jatuh didekat mereka. Seseorang segera memungut
anak panah itu. Namun mereka tidak melihat sesuatu pada

anak panah itu. Karena itu, maka seorang dari mereka segera
meloncat keatas punggung kuda dan langsung berpacu ke
Kademangan.
Widura dan beberapa orang terkejut karenanya, ketika
seorang dengan tergesa-gesa lari naik ke pringgitan.
“Ki Lurah” berkata orang itu kepada Widura “sebuah anak
panah sanderan telah jatuh didekat gardu penjagaan kami.
Tetapi kami tidak menemukan sesuatu apapun pada anak
panah itu”
Widura mengerutkan keningnya. “Bawalah kemari” berkata
Widura. ketika Untara ikut serta melihat anak panah itu, maka
iapun mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian kepada
peronda yang menemukan anak panah itu ia berkata “Perkuat
penjagaan digardumu”
“Baik tuan” jawab orang itu.
“Kembalilah. Setiap perkembangan akan kami beritahukan,
tetapi kaupun harus melaporkan setiap perkembangan yang
kau ketahui” berkata Untara pula.
***
Orang itupun kemudian pergi meninggalkan pringgitan.
Disepanjang jalan ia menggerutu “Tidak juga mau
memberitahukan apakah sebenarnya yang akan terjadi”
Namun karena itulah maka para peronda itu menjadi semakin
berhati-hati.
Sepeninggal orang itu, maka Untarapun berkata kepada
Widura “Paman, anak-anak buahku telah mendapat kepastian.
Malam nanti Tohpati akan mulai menyergap Sangkal Putung.
Anak panah yang dikirim saat ini hanya sebuah. Menurut
pesan yang aku berikan kepada mereka, kalau Tohpati akan
bergerak sebelum tengah malam, mereka harus mengirimkan
dua anak panah. Sedang kalau kira-kira antara tengah malam
atau sesudah itu, satu anak panah. Sehingga dengan
demikian maka kemungkinan terbesar, Tohpati nanti akan
bergerak pada tengah malam”

Widura mengerutkan keningnya. “Waktu yang baik”
gumamnya. “Mungkin Tohpati memperhitungkan, bahwa pada
saat fajar mereka akan memasuki Sangkal Putung”
Keduanya kemudian berdiam diri. Masing-masing sedang
mencoba melihat setiap kemungkinan yang dapat terjadi.
Yang mula-mula berbicara adalah Agung Sedayu “Kakang,
apakah Alap-alap Jalatunda akan ikut serta dengan Tohpati?”
Untara mengangguk “Mungkin sekali”
Agung Sedayu menarik nafas. Namun ia tidak berkata
apapun. Untara yang melihat wajahnya, segera mengerti
perasaan adiknya. “Apakah kau sudah rindu kepadanya?”
Agung Sedayu tersenyum, tetapi ia masih belum menjawab
“Kalau begitu, apakah kau ingin bertemu malam nanti?”
Kini Agung Sedayu mengangguk “Ya” jawabnya “Aku
sangka Alap-alap Jalatunda itu tidak terlalu menakutkan”
Untara tersenyum, namun kini ia berkata kepada Widura
“Paman, barangkali sudah sampai waktunya paman
memberitahukan persoalan Sangkal Putung kepada para
pemimpin kelompok anak buah paman”
Widura mengangguk “Ya. Aku sangka demikian. Aku akan
memanggilnya beserta beberapa pemimpin anak-anak muda
Sangkal Putung, bapak Ki Demang Sangkal Putung dan
bapak Jagabaya”
“Jagabaya?” bertanya Untara
“Ya. Iapun bekas prajurit yang baik. Meskipun umurnya
telah agak lanjut, namun tekadnya masih menyala seperti
anak-anak muda”
Untara mengangguk-anggukkan kepalanya.
Widurapun kemudian memanggil semua orang-orang
penting di Sangkal Putung. Orang-orangnya sendiri, maupun
orang-orang Sangkal Putung. Dengan singkat Widura
menjelaskan kepada mereka, apakah yang sedang mereka
hadapi sekarang. “Mungkin orang-orang Tohpati itu lebih
banyak dari orang-orangnya terdahulu” berkata Widura
kemudian. “Karena itu setiap tenaga harus kita manfaatkan”
Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan
kepalanya. Iapun ikut bertanggung jawab atas apa saja yang
terjadi diwilayahnya. karena itu, maka katanya “Semua anakTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
anak, akan dikerahkan dan semua laki-laki yang masih
mungkin mengangkat senjata. Ada beberapa orang bekas
prajurit yang meskipun sudah ubanan, tetapi menyatakan
kesediaan mereka untuk ikut serta dalam pertempuran ini.
Enam atau tujuh orang. Bahkan mungkin lebih dari itu”
“Bagus” sambut Widura. “Beberapa orangku akan berada
dalam barisan anak-anak muda Sangkal Putung”
Ki Demang Sangkal Putung mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Bagus” katanya “Anak-anak Sangkal Putung akan
menjadi bergembira karenanya”
Tetapi hampir semuanya kemudian tak bersuara ketika
Widura berkata “Tetapi perhatian terbesar harus kita berikan
kepada pemimpin laskar Jipang itu, Macan Kepatihan. Disini
kita akan menentukan, siapakah yang pantas untuk
melawannya tanpa menimbulkan kemungkinan yang terlalu
buruk bagi kita”
Sesaat pringgitan itu menjadi sepi. Tak seorangpun yang
menyahut. Mereka saling berpandangan dan sebagian dari
mereka memandangi Untara dan Sidanti berganti-ganti. Tetapi
ada pula diantara mereka yang berpikir “Ternyata yang pantas
melawan Tohpati itu adalah Agung Sedayu”
Kesepian itu kemudian dipecahkan oleh suara Sidanti
perlahan-lahan “Kakang Widura, siapakah yang menurut
kakang paling pantas melawan Macan Kepatihan itu?
Widura terdiam sejenak. Ia menunggu Untara menjawab
pertanyaan itu. Dan sebenarnyalah kemudian Untara berkata
“biarlah kita melihat keseluruhan dari musuh kita. Diantaranya
mereka akan datang juga Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda
dan beberapa orang yang lain. Karena itu, maka tugas kita
akan menjadi berat. Aku sama sekali tidak menganggap
bahwa akulah yang paling pantas melawan Tohpati. Tetapi
aku akan bertanggung jawab terhadap atasanku. Biarlah aku
mencoba melawannya, dan sudah tentu Plasa Ireng, Alapalap
Jalatunda dan yang lain-lain itupun perlu mendapat
perhatian.”
Sidanti tersenyum. Jawabnya “aku sudah menyangka”
katanya “kemudian kami, yang lain-lain adalah anak-anak
yang tidak perlu ikut campur dalam pertempuran itu.”

“Bukan begitu” sahut Untara “aku,paman Widura tak akan
dapat berbuat sendiri-sendiri. Kekuatan laskar Sangkal Putung
adalah karena kita semua. Satu-satu dari diri kita masingmasing.”
Sidanti itu masih tersenyum. Tetapi ia tidak menjawab. Ia
sudah memperhitungkan sejak semula, bahwa Untara pasti
akan menempatkan dirinya melawan Macan Kepatihan.
Sedang ditangan Untara itu tergenggam kekuasaan. Sehingga
dengan demikian, tak akan ada kesempatan baginya untuk
menyainginya. Namun meskipun demikian, Sidanti
mengharap, mudah-mudahan kepala Untara dipecahkan olah
Macan yang garang itu dengan tongkat baja putihnya.
Untara melihat senyum yang aneh itu. Tetapi ia sama sekali
tidak berkata apapun. Dalam keadaan yang demikian, maka
kekuatan mereka sepenuhnya sangat diperlukannya. Karena
itu, maka ia pura-pura sama sekali tidak melihat senyum
Sidanti itu. Namun Hudaya, Citra Gati dan bahkan Agung
Sedayu tidak dapat melepaskan perasaannya yang ganjil. Dari
senyum itu mereka melihat, bahwa sesuatu tersembunyi
dibelakangnya.
“Kalau Untara itu telah mati oleh Tohpati” berkata Sidanti
“Maka keadaan Sangkal Putung akan kembali seperti semula.
Apalagi kalau aku mampu membunuh Macan Kepatihan itu.
Mudah-mudahan apa yang aku peroleh sekarang ini dari
guruku, setidak-tidaknya akan dapat mengimbanginya. Sebab
Tohpati itu sudah tidak sempat lagi mendalami ilmunya”
Akhirnya setelah Widura memberikan beberapa pesan
kepada pemimpin-pemimpin kelompok itu, maka pertemuan
itu segera dibubarkan. Mereka masing-masing kembali
kepada kelompoknya, memberikan kepada mereka beberapa
petunjuk dan sesaat kemudian mereka itu telah
mempersiapkan diri masing-masing untuk menghadapi suatu
pertempuran yang berat.
Anak-anak muda Sangkal Putungpun kemudian berlarilarian
hilir mudik. Mereka segera memanggil kelompok
masing-masing dan seperti juga anak buah Widura,
merekapun segera mempersiapkan diri mereka masingmasing.

Ketika kemudian matahari tenggelam dibalik punggung
bukit, laskar Sangkal Putung itupun telah siap dilapangan.
Beberapa orang bekas prajurit ada diantara mereka. Meskipun
orang-orang itu telah menjelang setengah abad, namun tubuhtubuh
mereka masih tegap, dan senjata-senjata mereka, yang
selama ini disimpannya. Namun kini senjata-senjata itu
diambilnya kembali. Terkenanglah mereka pada masa muda
mereka. Bertempur untuk suatu keyakinan yang
digenggamnya. Kini merekapun akan bertempur kembali untuk
suatu pengabdian atas kampung halaman mereka.
Swandaru berdiri dengan gagahnya. Pedangnya yang
besar tergantung dipinggangnya. Sekali-sekali ia menatap
langit yang biru bersih, yang dibayangi oleh warna-warna
merah. Matahari itu seakan-akan betapa malasnya. Gelap
yang turun perlahan-lahan terasa sangat menjemukan.
Mereka itu, anak-anak muda Sangkal Putung sedang
menunggu datangnya tengah malam.
Orang-orang yang sudah setengah tua, mendapat tugas
mereka sendiri. meskipun mereka membawa senjata pula,
namun mereka harus berada didalam desa mereka. Kalau
orang-orang Macan Kepatihan itu berhasil menembus
pertahanan laskar Pajang dan anak-anak muda Sangkal
Putung, maka merekapun akan ikut serta bertempur.
Disamping itu, kalau Tohpati itu kemudian menjadi putus asa,
dan mempergunakan panah-panah api untuk menimbulkan
kebakaran, maka adalah pekerjaan mereka untuk
mengatasinya. Sedang perempuan-perempuan muda tidak
kalah sibuknya. Mereka mendapat pekerjaan yang pantas
untuk mereka. Mempersiapkan makanan bagi mereka yang
akan berangkat berperang. Meskipun demikian, diantara anakanak
gadis itupun ada pula yang menyelipkan keris dan
patrem diantara ikat pinggang mereka seakan-akan
merekapun siap pula, apabila perlu, untuk ikut serta bertempur
bersama anak-anak mudanya.
Tetapi disamping semuanya itu, perempuan- perempuan
yang bersembunyi dibalik-balik pintu rumahnya mendekap
anak-anak mereka yang masih terlalu kecil dengan eratnya.
Mereka mencoba untuk menghibur anak-anak mereka.

Ketika malam turun, maka Sangkal Putung benar-benar
dikuasai oleh kegelapan. Hampir tak ada rumah yang
menyalakan lampunya, dan bahkan hampir tiada rumah yang
berpenghuni. Hampir setiap laki-laki telah keluar dengan
senjata ditangan, dan hampir setiap perempuan pergi
mengungsikan diri ke kademangan, berkumpul bersama
mereka untuk menanggungkan segala macam keadaan
bersama-sama. Apapun yang mereka alami, apabila
dipikulnya bersama-sama, maka terasa akan menjadi
bertambah ringan.
Meskipun hampir semua kekuatan laskar Widura dan anakanak
muda Sangkal Putung ditarik kearah barat, namun
Widura tidak mengosongkan setiap gardu di sudut-sudut lain.
Namun isi dari gardu-gardu itulah yang kemudian sebagian
diserahkan kepada laki-laki Sangkal Putung yang tidak ikut
serta dalam pertempuran langsung dengan anak-anak Macan
Kepatihan, meskipun satu dua diantara mereka telah
diperlengkapi dengan alat-alat tanda bahaya yang sebaikbaiknya,
untuk setiap kali apabila bahaya mengancam
mereka,segera mereka dapat memberitahukannya kepada
laskar cadangan yang ditinggalkan di kademangan, bersama
dengan beberapa orang Sangkal Putung sendiri, disekitar
lumbung-lumbung dan di banjar desa.
Kini para peronda telah tahu benar, apa arti panah
sanderan yang setiap saat akan meluncur disekitar tempattempat
mereka. Untara telah berpesan kepada anak buahnya,
bahwa apabila ada tanda-tanda Tohpati menggerakkan
laskarnya, supaay mereka segera mengirimkan anak panah
sanderan dua kali ganda berturut-turut. Dan apabila keadaan
amat mendesak karena suatu perubahan, sedang mereka
para petugas yang telah dikirim oleh Untara, tidak sempat
memberitahukan langsung, supaya dikirimnya panah
sanderan tiga kali berturut-turut.
Beberapa saat kemudian maka laskar Widura dan anakanak
muda Sangkal Putung telah siap seluruhnya dilapangan
dimuka banjar desa, segera untuk berangkat. Beberapa orang
laki-laki telah siap menempati tempat-tempat yang ditentukan,
dan tanda-tanda telah mereka kenal dengan baiknya.

Namun tiba-tiba mereka menjadi tegang ketika mereka
mendengar derap kuda yang berlari kencang memecah
kesepian. Widura dan Untara segera melangkah maju
menyongsong orang berkuda itu, sedang dibelakangnya
Agung Sedayu berdiri dengan berdebar-debar. Kali ini untuk
pertama kalinya ia mendapat kesempatan untuk ikut serta
bertempur dengan lawan yang sebenarnya. Sebilah pedang
tergantung dipinggangnya. Namun tanpa setahu kakaknya,
disakunya terdapat beberapa butir batu sebesar telur ayam. Ia
sendiri tidak tahu pasti apakah batu-batu itu akan bermanfaat.
Namun begitu saja timbul keinginannya untuk mencoba
apakah ia benar-benar dapat membidik dalam arti yang
sebenarnya. Membidik tidak saja dalam permainan-permainan
yang menggembirakan tetapi membidik dalam pertempuran
yang berbahaya.
Sesaat kemudian tampaklah seekor kuda berlari dengan
kencangnya. Demikian kuda itu berhenti, maka meloncatlah
seorang prajurit dihadapan Widura.
Widura dengan tergesa-gesa bertanya kepadanya “Ada
yang penting dipenjagaanmu?”
Orang itu mengangguk, katanya “kami menerima panah
sanderan tiga kali berturut-turut.”
Widura mengerutkan keningnya. Ketika ia berpaling kepada
Untara maka tampaklah Untara sedang berpikir. “ Ada sesuatu
yang menyimpang dari rencana semula.” desisnya.
Widura mengangguk.
Setelah Untara itu diam sejenak, maka katanya “siapkan
seluruh laskar yang ada. Kita siap berangkat kemana saja.
Beberapa orang berkuda supay bersiap pula. Apabila ada
perubahan arah, orang-orang itu dapat memberitahukannya
kesegenap sudut penjagaan.”
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
terdengar ia bersuit dua kali. Seorang yang bertubuh kecil
berlari-lari datang kepadanya.
“Sonja” berkata Widura “siapkan orang-orangmu. Setiap
saat kami memerlukan mereka.”
“Baik” sahut Sonja. Kemudian iapun berlari-lari kembali
ketempat kawan-kawannya sekelompoknya menunggu

didekat kuda-kuda ditambatkan. Mereka adalah kelompok
yang harus menyampaikan setiap berita kepada segenap
tempat yang diperlukan.
Sebelum Widura memberikan perintah-perintah berikutnya,
kembali mereka mendengar suara kaki kuda berderap. Sekali
lagi Widura, Untara dan orang-orang disekitarnya menjadi
tegang.
Seperti orang yang pertama orang itupun tergesa-gesa
berkata kepada Widura “kami telah menerima panah sanderan
dua kali berturut-turut.”
“He” Widura mengerutkan keningnya “mereka
mempercepat gerakan mereka.”
“itulah kecerdikan Macan Kepatihan itu” sahut Untara
“setiap rencana dirahasiakan didalam otaknya. Baru pada saat
terakhir dilakukannya rencana itu, sehingga orang-orang
mereka sendiri tidak dapat mengetahui sebelumnya. Karena
itulah maka Trigata itupun tidak dapat mengetahuinya dengan
tepat apa yang akan dilakukan oleh Macan Kepatihan. Karena
orang-orangnya yang dapat melakukan hubungan dengan
orang-orang dalam laskat Tohpati itupun tidak dapat
mengatakan dengan tepat pula.
Sekali lagi Widura mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian katanya “ Kita juga sudaj siap untuk berangkat.
Bukankah kita segera berangkat pula.”
“Marilah” sahut Untara. Sementara tetap kebarat.”
Sekali lagi Widura bersuit dua kali. Dan sekali lagi Sonja
berlari-lari kepadanya.
“Satu diantara kalian pergi ke Kademangan. Yang lain ke
setiap gardu peronda. Tohpati telah mulai bergerak. Ingat
jangan menimbulkan kegelisahan diantara mereka. Kemudian
kalian kembali ketempat ini dan separo dari kalian harus
berada digardu pertama sebelah barat.”
“Baik” Sonja mengangguk,kemudian kembali ia meloncat
berlari kekelompoknya. Sesaat kemudian maka mereka telah
menghambur kesegenap penjuru.
Kedua penjaga yang datang berkuda berturut-turut telah
kembali ketempat mereka pula mendahului laskar Widura.
Sedang para penghubung telah menghubungi gardu-gardu

yang lain. Mereka sengaja tidak mempergunakan tanda-tanda,
seperti dahulu, supaya Tohpati tidak menyadari bahwa
kehadirannya telah dinantikan.
Para prajurit serta laki-laki dari Sangkal Putung yang
merupakan kekuatan cadangan segera bersiap pula. Dengan
senjata ditangan mereka, mereka mengawasi setiap tempat
yang mereka anggap penting. Beberapa orang berjalan hilirmudik,
dari sudut yang satu ke sudut yang lain dengan pedang
terhunus. Setiap jalan yang masuk ke induk desa Sangkal
Putung telah tertutup rapat olah penjagaan yang ketat. Gardugardu
peronda telah dilengkapi dengan senjata-senjata jarak
jauh, panah, bandil dan alat-alat tanda bahaya.
Sementara itu laskar Widura telah mulai merayap kepintu
sebelah barat, lewat tiga jalan. Yang separi menyusur jalan
besar, sednag yang separo lagi dibagi menjadi dua pula.
Sebagian lewat sebelah utara dan sebagian lewat sebelah
selatan. Demikian pula anak-anak muda Sangkal Putung
itupun dibagi menjadi tiga. Sepertiga lewat jalan besar,
sepertiga lewat utara dan sepertiga lewat selatan.
Laskar itu kini telah keluar dari induk desa Sangkal Putung.
Setelah melewati sebuah bulaj kecil mereka akan sampai
kesebuah desa kecil yang hampir-hampir telah dikosongkan.
Semua orang-orangnya telah pergi mengungsi keinduk desa
Sangkal Putung.
Ketika Widura yang berjalan disamping Untara
menengadahkan wajahnya, tampaklah langut yang bersih
ditaburi oleh bintang-binang yang gemerlapan. Selembarselembar
awan mengalir dihanyutkan oleh angin yang lambut.
Sejenak kemudian laskar itupun telah sampai didesa kecil
itu. Induk pasukan tepat berada ditengah, sedang kedua
sayapnya masing-masing berada diujung desa-desa itu
sebelah utara dan selatan.
Para penjaga masih tetap berada ditempat mereka. Namun
mereka tidak lagi berada didalam gardu. Mereka lebih senang
berada dibali pepohonan. Ketika mereka melihat induk
pasukan itu datang, maka seakan-akan mereka bersorak
didalam hati mereka. Sebab dengan demikian, apabila laskar

Tohpati itu datang setiap saat, mereka tidak harus melakukan
perlawanan darurat.
Laskar Widura dan anak-anak muda Sangkal Putung itu
tidak maju terus. Mereka tinggal didalam desa itu, supaya
lawan mereka tidak segera melihat kehadiran mereka.
Ketika Widura telah mengenal keadaan sejenak ditempat
itu, maka segera diperintahkannya kepada para penjaga
“Nyalakan pelita didalam gardumu. Dan nyalakan beberapa
lampu di rumah-rumah yang terdekat.”
“Kenapa justru dinyalakan,Ki Lurah?” bertanya penjaga itu.
Biarlah laskar Tohpati menyangka, bahwa keadaan didalam
desa ini seperti dalam keadaan biasa. Kalau kau padamkan
lampunya dan semua lampu-lampu, maka itu pasti akan
mencurigakan Macan Kepatihan yang cerdik itu.”
Penjaga itu mengangguk-angguk. “Alangkah bodohnya
aku” katanya dalam hati.
Karena itu maka segera ia bergegas-gegas pergi kerumahrumah
yang telah kosong, untuk menyalakan lampulampunya.
Sedang ting digardunyapun segera dinyalakannya
pula.
“Bagus” desis Widura kemudian “desa ini akan memiliki
wajah seperti wajahnya disetiap hari. Tohpati yang
berpengalaman luas itu pasti pernah melihat pedesaan ini
dimalam hari sebelum ia memilih arah. Dan dengan demikian
ia pasti akan mengenal keadaan ini baik-baik.”
Dalam pada itu, maka beberapa pengawaspun telah dikirim
kedepan. Ketengah-tengah sawah yang menurut perhitungan
mereka akan dilalui oleh laskar Tohpati.
Malam yang masih terlalu muda itu telah menjadi semakin
gelap. Dan didalam gelap itulah berkeliaran laskar dari kedua
belah pihak dengan alat-alat penyebar maut ditangan mereka
masing-masing.
Sebenarnyalah Tohpati telah berada dihadapan hidung
laskar Pajang itu. Namun mereka menunggu untuk
menyakinkan, apakah yang sebenarnya terjadi dihadapan
mereka. Laskar Tohpati yang bergerak jauh sebelum waktu
yang ditentuka semula itu, dengan cepatnya mendekati

Sangkal Putung. Namun laskar itu terhenti ketika Tohpati
melihat suasana pedesaan dihadapannya.
“Desa itu terlampau sepi” desisnya.
Disampingnya berdiri seorang yang berwajah keras itu,
yang bernama Plasa Ireng, tertawa. Gumamnya “setidaktidaknya
mereka telah mendengar bahwa pedesaan mereka
terancam bahaya.”
Tohpati berdesis, kemudian gumamnya “Sanakeling.
Bawalah laskarmu melingkar ke selatan.”
“Baik” sahut orang yang bernama sanakeling. Bekas
pimpinan laskar Jipang daerah utara. Namun untuk
kepentingan kali ini agaknya mereka telah ditarik dalam satu
kesatuan. Namun sebelum Sanakeling itu bergerak, terdengar
Alap-alap Jalatunda yang berdiri dibelakang mereka berkata
“Aku melihat pelita-pelita itu dinyalakan.”
Tohpati tertawa. Dengan nada yang tinggi ia berkata
“Paman Widura benar-benar cerdik. Ia ingin menjadikan desa
itu seolah-olah tidak mengalami perubahan apa-apa. Namun
agaknya anak buahnyalah yang terlalu bodoh. Sanakeling.
Berjalanlah melingkari desa itu, langsung ke Sangkal Putung.
Sayang Paman Widura agak terlambat menyalakan lampulampu
itu. Kalau tidak maka kembali kami akan terjebak.”
Sanakeling kemudian dengan cepat membaw alaskarnya
ke selatan melingkari desa itu langsung menuju Sangkal
Putung.
Tetapi Widura dan Untarapun bukan anak kemarin petang.
Itulah sebabnya mereka telah memasang beberapa orang
jauh dihadapan laskar mereka.
Dalam keheningan malam yang dingin itu, tiba-tiba mereka
dikejutkan oleh sanderan yang meraung-raung diudara.
Sekali, dua kali dan kemudian satu kali lagi.
Untara mengangka alisnya “ada sesuatu yang terjadi dalam
barisan Tohpati itu.” Desis Untara.
Wajah Widura berubah menjadi tegang. Dengan gelisah ia
menunggu orang-orangnya yang diperintahkannya untuk
mengawasi setiap kemungkinan yang ada dihadapan mereka.
Tiba-tiba mereka dikejutkan oleh kedatangan seorang
pengawas dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya dan

seluruh pakaiannya kotor oleh lumpur. Dengantergesa-gesa ia
berkata “ aku melihat laskar berjalan melingkar diarah selatan
langsung menuju induk desa Sangkal Putung. Mereka pasti
masuk dari arah selatan pula. Tetapi barisan itu tidak begitu
besar.”
“Hem” geram Widura “Macan Kepatihan itu selalu membuat
berbagai macam permainan.”
“Mereka telah mencapai simpang empat di bulak sebelah”
orang itu berkata seterusnya.
“He?” Widura terkejut “begitu cepatnya?”
“Ya”
Tiba-tiba demang Sangkal Putung itu memotong “serangan
yang sangat berbahaya. Apakah aku bolah menarik laskar
Sangkal Putung kembali menyongsong mereka?”
“Jangan” sahut Widura. “kita belum tahu, siapakah yang
memimpin laskar Jipang itu. Mungkin justru itu adalah induk
pasukan mereka.”
Demang Sangkal Putung itupun terdiam. Baru sesaat
kemudian Widura berkata ‘keadaan itu sangat gawat. Biarlah
aku bawa laskar sayap kiri kembali ke kademangan.
Seterusnya aku serahkan pimpinan ini kepadamu Untara.
Kalau keadaan tidak terlalu gawat aku akan kembali kemari.”
Untara mengangguk “baiklah” jawabnya.
Widura itupun dengan cepat berlari kesayap kiri. Kemudian
segera laskar kiri itu ditarik mundur, kembali ke kademangan
Sangkal Putung.
Dengan tergesa-gesa mereka berjalan memintas. Mereka
tidak lagi lewat diatas jalan diantara daerah persawahan.
Namun mereka langsung memotong arah. Melompati
tanaman-tanaman yang menghijau. Bahkan sekali-sekali
tanam-tanaman itupun terpaksa terinjak-injak kaki mereka.
Namun tanaman itu besok bisa disulami. Tetapi kehancuran
kademangan mereka akan memerlukan banyak sekali
pengorbanan. Harta, benda, tenaga dan waktu. Itulah
sebabnya maka mereka tidak lagi sempat berpikir tentang
tanaman-tanaman itu.
Sesaat kemudian mereka dikejutkan oleh bunyi tanda
bahaya dari gardu selatan. Ternyata para peronda sempat

melihat kedatangan mereka, sehingga mereka terpaksa
membunyikan tanda itu, sementara beberapa orang yang lain,
telah mencoba menghambat gerakan itu dengan senjatasenjata
jarak jauh.
Tetapi mereka terkejut ketika mereka mendengar suara
tertawa dari barisan yang datang itu. “He” kenapa kalian
berteriak-teriak minta tolong?”
Pimpinan gardu itu sama sekali tidak memperhatikannya.
Dengan cekatan mereka terus-menerus menghujani anakanak
panah dari balik gardu mereka seberang menyeberang.
Dua orang lagi telah meloncat kebalik semak-semak
dibelakang pagar. Anak panah merekapun meluncur tak hentihentinya.
Ternyata usaha itu menolong pula. gerakan laskar
Sanakeling itu terpaksa berhenti sebentar. Mereka seang
melihat, apakah yang sedang dihadapi. Tetapi sesaat
kemudian Sanakeling itu tertawa pula, katanya sambil
menghitung “ tiga orang dibelakang gardu, dua orang dibalik
pagar dan satu orang memukul kentongan. Apakah kalian
berenam sudah jemu hidup? Dua diantara kalian benar-benar
mampu memanah. Namun yang tiga itu sama sekali tak akan
berarti apa-apa. Jangan membidik terlalu tinggi. Tarik tali
busurmu agak kuat, supaya lari panahmu agak cepat dan
keras.”
Yang mendengar suara Sanakeling itu benar-benar manjadi
sangat cemas. Orang itu dapat menebak dengan tepat berapa
orang yang sedang berjaga-jaga digardu itu. Mungkin
pemimpin barisan itu dapat melihat arah lepasnya anak-anak
panah. Tetapi ternyata orang itu dapat menebak pula,
siapakah diantara mereka yang benar-benar mampu
melepaskan senjata-senjata itu.
Karena itu maka orang itu pasti seorang yang telah
kenyang makan garam pertempuran.
Sebenarnyalah para pemuda di gardu itu berjumlah enam
orang. Dua diantaranya adalah anggota laskar Widura.
Sedang yang empat adalah orang-orang Sangkal Putung.
Karena itu, maka perlawanan merekapun berbeda dari mereka
yang telah mengalami pertempuran berkali-kali. Meskipun

demikian, panah-panah itu benar-benar menjengkelkang
Sanakeling. karena itu, maka tiba-tiba ia berteriak “He, dua
atau tiga orang, pergilah mendahului kami. Ambillah orangorang
yang mencoba merintangi perjalanan kami”
Pemimpin gardu itu terkejut. Sanakeling hanya
memerintahkan dua atau tiga orang. Apakah menurut
perhitungannya, orang-orang yang berada digardu itu benarbenar
tidak akan mampu berkelahi melawan tiga orang saja?
Kedua prajurit Pajang itu menggeram. Merekapun prajurit
yang telah masak. karena itu maka jawabnya “Kami berenam
disini seperti dugaanmu. Jangan mengirimkan dua atau tiga
orang. Marilah, datanglah bersama-sama, supaya kalian dapat
menilai pertahanan Sangkal Putung”
Sanakeling mengerutkan keningnya. Alangkah besarnya
kata-kata penjaga gardu itu. Namun kemudian Sanakeling itu
menjawab “Baiklah. Agaknya kau ingin bunuh diri” Sanakeling
itu diam sejenak. Namun tiba-tiba ia berteriak “Menyebar.
Masuki Sangkal Putung. Langsung ke kademangan dan
kuasai daerah-daerah perbekalan”
Serentak laskarnya bergerak. Kini mereka sama sekali tak
menghiraukan lagi anak panah yang menghujani mereka dari
balik gardu dan semak-semak.
Ketika kemudian terdengar seorang anggota laskar
Sanakeling itu mengaduh, karena pundaknya terkena anak
panah, Sanakeling menggeram “Setan, bunuh mereka
berenam”
Para penjaga gardu mendengar pula perintah itu. Karena
itu maka terasa dadanya berdesir. Betapapun juga, maka
mereka benar-benar tidak sedang membunuh diri. Dengan
demikian maka mereka harus memperhitungkan setiap
kemungkinan yang akan terjadi.Pemimpin peronda itupun
kemudian menusup dibalik semak-semak pula bersama ketiga
orang yang berada disekitar gardu. Ketika tanda bahaya dari
gardu itu telah disahut oleh gardu-gardu yang lain dengan
tanda kekhususannya, bahwa sumber tanda itu adalah dari
gardunya, maka pemukul tanda bahaya itupun melepaskan
kentongannya dan bersama-sama dengan kawan-kawannya
menyusup dibalik semak-semak pula. dengan beringsut sedikit

demi sedikit, mereka terus mengadakan perlawanan dengan
anak-anak panah mereka.
***
Namun laskar lawan mereka, menjadi semakin dekat pula.
bahkan beberapa orang tleah berlari melingkar dan meloncati
pagar-pagar batu yang melingkari desa itu.
Orang-orang yang berada didalam semak-semak itu
merasa, bahwa mereka tidak akan dapat melawan mereka.
karena itu maka merekapun semakin dalam membenamkan
diri kedalam padesan sambil mencari perlindungan didalam
gelapnya malam.
Tiba-tiba, keenam orang itu menengadahkan wajah-wajah
mereka. Dari kejauhan mereka mendengar derap orang
berlari-lari. “Laskar cadangan” pikir mereka. karena itu maka
pemimpin gardu itupun segera memberikan tanda sandi
kepada mereka. “Gardu selatan. Langsung dari arah angin.
Laskar lawan mendekati pada jarak limapuluh depa”
Sebenarnyalah mereka adalah laskar cadangan yang
berada dikademangan. Namun kekuatan merekapun tidak
seberapa. Meskipun demikian, keenam orang peronda itu
menjadi berbesar hati. Sebab dengan demikian, maka
perlawanan mereka akan
menjadi lebih berarti. Dari
kejauhan terdengar pemimpin
laskar cadangan itu menjawab
“Kami segera datang”
Yang menyahut kemudian
adalah suara Sanakeling. “Hem.
Kalian memanggil kawan-kawan
kalian. Baiklah. Agaknya kalian
ingin mendapat kawan lebih
banyak lagi dalam perjalanan
kalian ke akhirat”
Namun beberapa orang
Sanakeling itupun telah
sedemikian dekatnya. Sehingga

tiba-tiba saja mereka telah terlibat dalam perkelahian. Kedua
laskar Widura itu segera melepaskan busur mereka, dan
dengan serta-merta mereka telah mencabut pedang-pedang
mereka. Ketika beberapa orang melompat menerkamnya,
maka segera terjadi perkelahian yang sengit. Keempat
kawannya itupun tidak membiarkan kedua orang itu bertempur
sendiri. ketika mereka sudah tidak dapat membidikkan anak
panah mereka, maka merekapun segera melemparkan busur
mereka, dan dengan golok ditangan mereka menyerbu pula
dalam perkelahian iu. Namun mereka benar-benar belum
banyak berpengalaman dalam pertempuran malam. karena
itu, maka mereka tidak dapat melakukan perlawanan dengan
sebaik-baiknya. Setapak demi setapak mereka terdesak
mundur. Apalagi lawan-lawan mereka kemudian datang
berloncatan.
Tetapi dalam pada itu, laskar cedangan itupun telah datang
pula. segera mereka melibatkan diri dalam perkelahian itu.
Meskipun jumlah mereka belum memadai jumlah laskar
Sanakeling, namun didalam malam yang gelap itu, amatlah
sukar untuk membedakan, siapa kawan siapa lawan.
Meskipun laskar masing-masing agaknya telah memiliki tandatanda
sandi mereka masing-masing, namun dalam keributan
pertempuran itu, maka banyak diatara mereka yang menjadi
ragu-ragu. Laskar Jipang dan laskar Pajang yang telah jauh
lebih berpengalaman dari anak-anak muda Sangkal Putung
itupun masih juga belum dapat menempatkan diri mereka
dengan baik. Sebab sebenarnya mereka tidak terlalu biasa
mengadakan pertempuran dimalam hari dalam jumlah yang
cukup besar.
Sanakeling melihat kesulitan itu. Maka teriaknya kemudian
“Nyalakan obor. Jumlah kita lebih banyak. Apalagi lawanlawan
kita adalah cucurut-cucurut dari Sangkal Putung”
Pemimpin laskar cadangan itupun tak mau anak buahnya
berkecil hati karena teriakan-teriakan lawannya. Maka dengan
lantang pula mereka menjawab “He anak-anak muda Sangkal
Putung yang ikut dalam pertempuran ini. Lihatlah apa yang
kami lakukan. anggaplah pertempuran ini sebagai latihan.
Sebaba ternyata yang dikirim oleh Tohpati kemari tidak lebih

dari laskar yang mereka tempukan disepanjang pengungsian
mereka”
“Gila” sahut Sanakeling. “Inilah Sanakeling. Siapa yang
berteriak-teriak itu”
Pemimpin laskar cadangan itu tergetar hatinya. Sanakeling.
Nama itu pernah didengarnya sebagai pemimpin laskar Jipang
disebelah utara. Namun ia tidak mau mengecilkan hati anak
buahnya yang sedang bertempur itu. Maka katana didalam
gelap “Ha. Bukankah terkaanku benar. Sanakeling yang lari
dari tekanan laskar Pajang disebelah utara, yang dipimpin
langsung oleh Ki Panjawi”
“Gila. Siapakah kau. Ayo tampakkan dirimu”
Namun pemimpin laskar cadangan itu tidak mendekati
Sanakeling. Sebab ia tahu, bahwa orang itu benar-benar
bukan lawannya. Meskipun demikian ia menjawab “Disini.
Datanglah kemari”
Sanakeling menjadi marah bukan buatan. Ia meloncat
dengan garangnya kearah suara itu. Namun perkelahian
menjadi semakin ribut. Dan sekali lagi ia berteriak “Tenaga
kita berlebihan. Sebagian dari kalian nyalakan obor”
Sesaat kemudian beberapa obor telah menyala. karena itu
daerah pertempuran itu menjadi agak terang. Dibeberapa
bagian segera tampak wajah-wajah mereka samar-samar
didalam bayang-bayang yang selalu bergerak-gerak.
Pemimpin laskar Pajang menjadi cemas karenanya. Dengan
demikian keringkihan laskarnya segera akan nampak. Namun
demikian, laskar Pajang bersama laki-laki dari Sangkal Putung
sendiri itu telah siap mengorbankan apa saja yang ada pada
mereka.
Karena itu maka betapapun besarnya bahaya yang
mengancam, namun mereka sama sekali tidak gentar. Bahkan
dengan demikian, mereka segera menyerbu musuh-musuh
mereka, mengamuk sejadi-jadinya. Mereka telah siap
berkorban untuk kampung halaman mereka yang mereka
cintai. Sawah ladang mereka yang telah memberi kepada
mereka makan dan minum, serta lumbung-lumbung mereka,
persediaan buat hari-hari mendatang, persediaan buat anakanak
mereka dimusim paceklik. Dengan demikian, maka

pertempuran diujung desa Sangkal Putung itu segera
berkobar dengan dahsyatnya. Sanakeling yang melihat
keberanian laskar Sangkal Putung itu menggeram marah.
Dengan wajah yang merah padam segera iapun terjun
kekancah pertempuran itu.
Namun segera mereka dikejutkan oleh sorak-sorai yang
membahana, seolah-olah mengalir disepanjang jalan disisi
desa itu. Sesaat kemudian mereka melihat obor yang
beterbangan menuju kekancah pertempuran itu. Kemudian
diantara sorak yang menggelegar itu terdengar suara lantang
“He, siapakah yang memimpin sempalan laskar Tohpati?”
Suara itu belum terjawab. Namun obor-obor yang seolaholah
beterbangan berebut dahulu itu menjadi semakin dekat.
Dari antara mereka terdengar kembali suara “Angin barat.
Sayap selatan. Ayo, siapa yang berada dipihak lawan?”
Mendengar suara itu laskar Pajang yang sedang bertempur
itupun tiba-tiba bersorak pula. mereka mengenal tanda sandi
itu, dan merekapun mengenal suara itu, suara Widura. Karena
itu maka segera mereka menyahut “Laskar mereka dipimpin
oleh Sanakeling”
“Setan”geram Sanakeling “Siapa yang datang?”
Sebenarnyalah yang datang itu adalah Widura beserta
sebagian laskarnya. Dengan tergesa-gesa mereka
berloncatan diatas parit-parit dan pematang supaya mereka
segera sampai ke Sangkal Putung. Ketika mereka melihat
nyala obor yang menerangi daerah sekitar gardu selatan itu
hati mereka menjadi berdebar-debar. Rupanya laskar lawan
benar-benar telah sampai ke Sangkal Putung. Tanda bahaya
yang menggema diseluruh kademangan, telah mendorong
mereka untuk berjalan lebih cepat. Karena itu kemudian
mereka tidak saja berjalan cepat-cepat, namun mereka telah
berlari-larian berebut dahulu.
Demikian mereka memasuki Sangkal Putung. Maka segera
Widura memerintahkan kepada laskarnya untuk
mempengaruhi pertempuran itu dengan caranya. Laskar yang
dibawanya itu segera bersorak dengan riuhnya.
Ternyata usaha Widura itupun mempunyai pengaruh pula.
laskar cadangan yang lebih dahulu telah terlibat dalam

pertempuran itu menjadi berbesar hati, sehingga karena itu
maka perlawanannya menjadi semakin seru. Meskipun saatsaat
itu tidak terlalu panjang, namun saat-saat itu adalah saatsaat
yang menentukan. Tekanan yang berat dari laskar
Sanakeling, hanpir-hampir menjebolkan laskar cadangan itu.
Apabila demikian, maka arus mereka benar-benar akan
melanda kademangan. Sehingga kademangan dan seluruh
Sangkal Putung pasti akan menjadi geger.
Beberapa orang dari laskar Sanakeling itu telah siap untuk
langsung menerobos masuk ke Sangkal Putung. Namun
karena sorak sorai yang riuh itu, serta nyala api obor yang
meluncur dengan cepatnya kedaerah pertempuran, terpaksa
mereka mengurungkan niat itu. Mereka menunggu sementara
apa yang akan terjadi.
Sanakeling yang melihat perubhan didalam tata
pertempuran itu segera mengatur anak buahnya. Mereka yang
telah bersiap untuk langsung masuk kejantun Sangkal Putung
segera ditariknya kembali. Mula-mula Sanakeling itu berharap,
bahwa dengan sebagian saja dari laskarnya, maka laskar
cadangan itu akan dapat dimusnahkan, sedang yang lain-lain
akan dapat merambas jalan masuk kepusat kademangan itu
sebelum laskar Tohpati datang. Namun tiba-tiba rencananya
itu terpaksa diurungkan. Dengan marahnya terdengar
Sanakeling itu menggeram “He, ternyata cecurut-cecurut itu
bertambah pula. jangan diberi kesempatan untuk memandang
fajar esok”
Terdengar kemudian suara tertawa “Aku pernah
mendengar suara itu” berkata suara itu diantara tertawanya.
“Setan” Sanakeling itu mengumpat “Siapakah yang
memimpin laskar Pajang itu?”
“apakah kau Sanakeling?” sahut Widura yang belum
menampakkan dirinya.
Sanakeling menggeram keras sekali. Sementara itu, laskar
Widura telah terjun pula kedalam pertempuran yang menjadi
semakin riuh.
“Inilah Sanakeling” teriak Sanakeling.
Sesaat Widura melihat pertempuran itu. Ia melihat
beberapa orang laskarnya menebar. Mengambil arah yang

tepat, langsung menghadapi laskar Sanakeling. Beberapa
orang diantaranya memegang obor ditangan kiri dan pedang
ditangan kanan. Sedang beberapa orang yang lain berusaha
melindunginya. karena itu maka pertempuran itupun
bertambah ribut pula. obor-obor berhamburan kian kemari
pada kedua belah pihak. Sedang kawan-kawan mereka sibuk
mempertaruhkan nyawa mereka.
Gemerincing pedang diantara pekik sorak gemuruh
membelah sepi malam. Sekali-sekali terdengar sebuah jerit
yang membumbung tinggi.
Tajam pedang berkilat-kilat dalam sinar obor yang
kemerah-merahan. Tetapi warna merah itu telah bertambah
merah karena darah yang tertumpah.
“Perang brubuh” desah Widura “keduanya tidak lagi pasang
gelar. Tetapi tiba-tiba Widura terkejut. Diantara riuhnya
pedang, tampaklah seseorang yang meloncat-loncat dengan
lincahnya. Sekali-sekali pedannya terjulur dan kemudian
terayun deras sekali. Widura itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. “itulah Sanakeling” desisnya. “Pedang ditangan
kanan dan bindi ditangan kiri.”
Widura tidak dapat membiarkannya menyambar-nyambar
diantara laskarnya. Karena itu, maka dengan tangkasnya ia
meloncat langsung menghadapi pemimpin laskar Jipang dari
utara itu.
“He” Sanakeling itu terkejut ketika ia melihat Widura hadir
dalam pertempuran itu.
Widura kini telah tegak dihadapannya dengan sebuah
pedang yang khusus. Pedang yang tidak terlalu tajam, namun
ujungnya runcing seruncing ujung jarum.
“Aku memang mengharap dapat bertemu dalam
pertempuran ini.” Berkata Sanakeling.
“Sekarang kau telah berhadapan dengan Widura. Menyesal
bahwa pertempuran kita kali ini tidak terlalu leluasa.” Sahut
Widura.
Sanakeling menggeram. Widura telah lama dikenalnya, dan
ia telah mengenal pula kemampuan yang tersimpan didalam
dirinya. Mereka dulu adalah kawan yang baik meskipun tidak
terlalu akrab. Namun keadaan yang memisahkan Pajang dan

Jipang sesudah Sultan Trenggana wafat, telah memutuskan
hubungan mereka pula.
Dan Sanakelingpun tahu, siapa yan memimpin laskar
Pajang di Sangkal Putung. Dari Tohpati dia mendengar,
bahwa Widura beberapa waktu dahulu, setelah ia memimpin
sendiri laskar Pajang di Sangkal Putung. Mungkin karena
tanggung jawab yang sepenuhnya berada dipundaknya.
Mungkin karena ketekunannya berlatih. Dan dari Tohpati ia
mendengar bahwa dalam barisan Widura itu pula terdapat
seorang anak muda yang bernama Sidanti, murid Ki Tambak
Wedi.
Sanakeling menyadari bahwa ia harus berhadapan dengan
salah satu diantara keduanya. Kalau ia harus melawan Sidanti
maka Plasa Irenglah yang harus melawan Widura atau
sebaliknya.
Sedangkan Tohpati akan dapat dengan leluasa membuat
rencana mengatur laskarnya untuk langsung menembus
jantung Sangkal Putung. Mungkin Plasa Ireng masih belum
memadai kekuatan Widura atau Sidanti,namun Alap-alap
Jalatunda akan dapat menyelesaikannya. Betapapun, tetapi
anak muda yang menamakan dirinya Alap-alap Jalatunda
memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang lain didalam
laskar Tohpati yang diperkuat itu.
Dan kini, ternyata yang tampil dihadapannya adalah
Widura. Karena itu maka katanya “Apakah aku berhadapan
dengan induk pasukan?”
Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba ia berpaling dan
berkata kepada seseorang yang berdiri tegak disampingnya
dengan sebuah tombak pendek ditangan. Orang itu adalah
seorang penghubung yang memang sedang menunggu
perintah. Karena itu ia tidak turut bertempur.
“Sampaikan kepada laskar yang tinggal, bahwa aku tetap
berada di Sangkal Putung. Sebab aku bertemu kawan lamaku
Sanakeling.”
Orang itu mengangguk, namun ketika ia sedang bergerak
maka Sanakeling itu berteriak ‘tungggu”
Orang itu berhenti, namun Widura memberi isyarat untuk
berjalan terus. “He” teriak Sanakeling “berhenti”

Tetapi orang itu tidak berhenti. Karena itu Sanakeling
berteriak pada anak buahnya “hentikan orang itu”
Seseorang meloncat maju memburunya. Namun orang itu
telah tenggelam dibalik lindungan beberapa orang kawannya,
sehingga Sanakeling seterusnya hanya mengumpat-umpat.
“He,Widura “ bertanya Sanakeling itu pula “apakah aku
berhadapan dengan induk pasukan?”
Widura berpikir sejenak “kemudian katanya “ya, kau
berhadapan dengan induk pasukan.”
Sanakeling mengerutkan keningnya, namun kemudian ia
tertawa terbahak-bahak. Katanya “jadi inikah induk pasukan
Sangkal Putung yang kau bangga-banggakan?”
“Aku tak pernah membangga-banggakannya. Sekarang kau
melihatnya sendiri.”
“Hem” Sanakeling menggeram pula. Sekali lagi ia
memandang pertempuran itu. Ia kini benar-benar terkejut.
Dalam pertempuran itu terjadi banyak sekali perubahan hanya
dalam waktu yang sangat pendek. Ternyata kehadiran laskar
Widura benar-benar telah merubah keseimbangan
pertempuran itu.
“Gila” Sanakeling mengumpat dengan kasarnya “ketahuilah
Widura, dibelakangku masih ada bagian dari laskar yang jauh
lebih kuat dari laskar ini. Kalau aku sudah berhadapan dengan
induk pasukan maka pasukanmu yang lain sesaat kemudian
pasti sudah akan musnah. Dan kemudian akan datang
saatnya induk pasukanmu ini musnah pula.
Widura tersenyum. Jawabnya “Ya, aku tahu. Sisa-sisa
laskar Jipang agaknya benar-benar telah dipusatkan disekitar
Sangkal Putung. Kalau sempalan laskarnya disini dipimpin
Sanakeling, maka dibagian yang lain masih ada Tohpati
sendiri, Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda dan siapa lagi?”
“Gila, kau sadari kedudukanmu Widura, kalau begitu kau
telah benar-benar siap mati. Nah lihatlah, Sangkal Putung
untuk yang terakhir kalinya.
Widura bergeser setapak. Disekitarnya pertempuran masih
berkecamuk. Namun mereka seolah-olah sama sekali tak
menghiraukan kedua pemimpin yang asyik bercakap-cakap
itu.

Tetapi kini mereka sudah tidak bercakap-cakap lagi.
Mereka masing-masing telah mengangkat pedang, dan
terdengar Sanakeling itu berkata “kau harus mati dulu Widura.
Laskarmu akan buyar dengan sendirinya.”
“Aku atau kau” sahut Widura.
Sanakeling tidak menjawab. Digerakkannya pedangnya
sambil berkata “apakah dadamu sudah berperisai baja.”
Widura menyilangkan pedangnya dimuka dadanya sambil
,menjawab “Inilah perisaiku.”
Sanakeling sudah tidak melihat kemungkinan lain daripada
menyelesaikan dahulu orang ini, pemimpin laskar Sangkal
Putung itu. Dengan demikian maka laskar Sangkal Putung itu
akan menjadi tercerai berai dengan sendirinya. Apalagi kalau
laskar Tohpati kemudian datang melanda desa yang sedang
ketakutan itu maka semuanya akan segera selesai. Meskipun
ia menjadi cemas juga melihat perkembangan pertempuran
itu.
Karena itu maka segera ditundukkannya pedangnya.
Dengan gerakan pendek dijulurkannya pedang itu kedada
Widura.
Gerak Sanakeling itu menjadi isyarat dari suatu perkelahian
yang akan menjadi dasyat sekali. Sebab Widura kemudian
mundur selangkah sambil menangkis dengan pedangnya.
Sentuhan dari kedua pedang itu untuk yang pertama kalinya,
disusul dengan sentuhan-sentuhan yang berikutnya. Semakin
lama menjadi semakin dasyat. Dan berkobarlahh pertempuran
antara Widura dan Sanakeling itu. Kedua-duanya adalah
pemimpin yang telah cukup banyak makan asam garamnya
peperangan. Masing-masing telah banyak memiliki
perbendaharaan pengalaman didalam dirinya. Karena itu
maka perkelahian itu segera menjadi perkelahian yang sengit.
Sanakeling pernah mendengar keteguhan perlawanan Widura
dari Tohpati sehingga ia dapat membandingkannya dengan
apa yang pernah dilihatnya atas orang itu dahulu. Sedang
Widura pernah mendengar tentangsn dari berbagai pihak.
Ketrampilannya, kecepatannya dan ketangguhannya.
Kini mereka berhadapan dalam satu pertempuran. Dan
ternyata apa yang telah mereka dengar itu sebenarnyalah

demikian. Sanakeling terpaksa mengagumi ketangguhan
lawannya, sedang Widura terpaksa berhati-hati karena
ketrampilan Sanakeling itu benar-benar mengherankan.
Dalam pada itu, penghubung yang mendapat perintah
Widura memberitahukan keadaan Sangkal Putung itu kepada
Untara, segera melakukan tugasnya. Dengan berlari-lari kecil
ia menghampiri kudanya yang ditambatkannya didalam gelap
tidak jauh dari pertempuran itu, ditunggui oleh beberapa orang
kawannya. Dengan tangkasnya ia meloncat keatas punggung
kudanya, dan seperti angin kuda itu dipacunya ketempat
kedudukan Untara, diujung Barat dari sebuah desa kecil dari
kademangan Sangkal Putung.
Untara menerima berita itu denga mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kemudian katanya “baik. Aku terima beritamu.”
Sesaat kemudian Untara segera mengurai keadaan yang
dihadapinya. Kini ia benar-benar memimpin induk pasukan
yang diserahkan oleh Widura itu kepadanya.
Ketika ia melihat Sidanti diantara mereka, maka anak muda
itu segera dipanggilnya “Sidanti, sampai saat ini belum ada
laporan bahwa induk pasukan Tohpati akan merubah arah.
Kalau ia menempuh jurusan ini, maka kita segera akan
berhadapan. sekarang, kau aku serahi untuk memimpin laskar
sayap kanan. Atas nama kakang Widura, yang dikuasakan
kepadku, ambillah pimpinan itu. Kalau Tohpati telah terlibat
dalam pertempuran dengan induk pasukan ini, maka ambillah
arah lambung dan usahakan serangan itu dengan sangat tibatiba”
Tetapi Untara itu terkejut ketika Sidanti menjawab sama
sekali diluar dugaannya “Aku adalah anak buah kakang
Widura. berilah perintah kepada kakang Widura. dan biarlah
kakang Widura yang memberi perintah kepadaku”
Untara mengerutkan keningnya. Meskipun demikian
ditahannya hatinya, katanya “Aku disini mendapat kekuasaan
dari kakang Widura”
Sidanti itu tersenyum. “Aneh, pangkat serta jabatanmu lebih
tinggi dari kakang Widura. Apakah wajar kalau kau
mewakilinya?”

Untara menarik nafas dalam-dalam. Pandangan matanya
melontar jauh menembus gelapnya malam, telah siap
menerkamnya, Macan Kepatihan beserta laskarnya yang
benar-benar telah mengerahkan segenap kekuatan yang ada
pada mereka.
Karena itu, betapa darahnya bergolak, namun Untara
mencoba sekuat-kuat tenagana untuk melawannya. Bahkan
katanya kemudian “Sidanti, kau benar-benar perasa. Dalam
keadaan seperti sekarang ini, marilah kita lupakan segala
persoalan diantara kita masing-masing. Marilah kita lupakan
seandainya ada perselisihan diantara pribadi kita masingmasing.
Marilah kita pusatkan kemampuan yang ada pada kita
untuk menghadapi lawan kita. Macan Kepatihan beserta
laskarnya”
Sidanti mendengar kata-kata Untara itu. Terasa juga
sesuatu menyentuh dadanya, sehingga karena itu katanya
“Baiklah. Untuk kali ini aku penuhi perintah yang tidak lewat
saluran yang sewajarnya itu, demi keselamatan Sangkal
Putung”
“Terima kasih Sidanti” sahut Untara
Sidanti itupun segera pergi kesayap kanan. Atas nama
pimpinan laskar Sangkal Putung ia memegang pimpinan
sayap kanan. Apabila induk pasukan telah terlibat dalam
pertempuran, maka ia harus segera menyerang dari arah
lambung.
Beberapa orang yang berada disayap kanan itu menjadi
kecewa atas kehadirannya. Tetapi mereka dalam keadaan
yang genting, sehingga Karena itu mereka tidak berbuat apaapa.
mereka menyadari bahwa Sidanti adalah kekuatan yang
tangguh untuk melawan setiap pimpinan yang namanya
menakutkan dari pihak lawan. Para anggota itupun telah
mendengar bahwa didalam pasukan lawan itu terdapat pula
nama-nama Plasa Ireng, Alap-alap Jalatunda, Sanakeling dan
yang lain-lain.
Diseberang kegelapan malam, Tohpati sedang sibuk
menilai keadaan pula. ketika didengarnya tanda bahaya
meraung-raung diseluruh Sangkal Putung, maka Macan

Kepatihan itu tertawa. katanya kepada Plasa Ireng “Mudahmudahan
laskar Pajang ditarik sebaian besar kearah suara itu”
Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda yang muda itu tertawa
pula. sambil mengangguk-anggukkan kepalanya mereka
berkata “Tanda bahaya itu pasti akan menarik sebagian besar
dari mereka. Karena itu marilah kita menerobos langsung
kepusat kademangan Sangkal Putung. Sebagian dari kita,
masih akan sempat menyelamatkan laskar Sanakeling,
apabila ia keroban lawan.
Macan Kepatihan mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya “Bagus. Marilah kita bergerak”
Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda segera pergi ke
kekelompoknya masing-masing. Dan sesaat kemudian
Tohpati itupun segera memerintahkan laskar induk itu untuk
maju.
Ternyata laskar induk itu tidak saja berjalan dalam
gerombolan yang liar. Mereka berada dalam sebuah garis
yang luas, hampir dalam gelar Garuda Ngalayang meskipun
tidak sempurna.
Sengaja Tohpati memisahkan sayap-sayapnya dengan
jarak yang cukup untuk memberi kesempatan kepada sayapsayapnya
itu melakukan kebijaksanaan menurut keadaan.
Apabila ternyata laskar lawan tidak begitu berat, maka sayapsayap
pasukannya dapat berjalanterus menuju kejantung
Sangkal Putung. Menduduki tempat-tempat yang penting,
terutama lumbung-lumbung padi serta tempat-tempat
perbekalan yang lain. Kemudian kademangan dan banjar
desa. Tetapi kalau lawan yang dihadapi cukup kuat, maka
mereka harus menempuhnya dari lambung.
Pengawas yang dipasang oleh Widura segera melihat
kedatangan laskar lawan itu dalam tebaran yang luas. Karena
itu segera ia merangkak-rangkak dan berusaha secepatnya
menyampaikan berita itu kepada induk pasukannya.
Untara yang menerima berita itu segera mengatur
laskarnya. Dipecahnya sebagian dari induk pasukan itu, untuk
dengan tergesa-gesa menempati sayap kiri.
“Citra Gati memimpin sayap ini?” berkata Untara.

Citra Gati termangu-mangu sejenak. Dipandangnya Agung
Sedayu dengan sudut matanya. Namun ia tidak bertanya
sesuatu. Meskipun demikian Untara memaklumi. Katanya
“Citra Gati, pimpinlah sayap ini. Biarlah Agung Sedayu
besertamu. Ia bukan salah seorang dari laskar paman Widura,
sehingga ia tidak dapat memegang pimpinan apapun. Tetapi
ia akan dapat memberimu bantuan.”
Agung Sedayu menarik nafas. Meskipun kini ia tidak
gemetar lagi, namun bagaimanapun juga, ia masih selalu ingin
bersama-sama dengan kakaknya. Tetapi ia tidak dapat
membantah. Karena itu maka katanya “Baik, kakang.”
“Cepat, berangkatlah.”
Citra Gati dan Agung Sedayu itupun segera membawa
sebagian laskar Pajang dan beberapa anak-anak muda
Sangkal Putung beserta mereka. Diantara mereka adalah
Swandaru yang seolah-olah ingin berada didekat Agung
Sedayu.
Kini Untara tinggal menantikan kedatangan laskar Tohpati.
Namun Untara tidak ingin bertempur didalam desa yang gelap
pekat. Karena itu, maka dibawanya laskarnya menyongsong
induk laskar Tohpati yang semakin lama semakin dekat.
Setelah Untara itu menempuh jarak beberapa puluh
langkah dari pedesaan maka laskarnya segera dihentikan.
Diperintahkannya untuk menempatkan diri masing-masing
sedemikian, sehingga tidak segera dapat dilihat oleh lawanlawan
mereka yang sedang mendekati. Apalagi dalam malam
yang gelap segelap malam itu. Hanya cahaya bintang yang
berkedipan dilangit sajalah yang dapat memberi kemungkinan
untuk dapat memandang pada jarak yang dekat.
Tetapi ternyata laskar Tohpati itu tidak maju langsung
dalam gelarnya. Ternyata beberapa orang diperintahkan oleh
Macan Kepatihan itu merambas jalan. Mereka berkewajiban
untuk mengetahui, apakah jalan yang mereka tempuh itu tidak
berbahaya. Sebab Tohpati memang sudah menyangka,
bahwa laskar Widura tidak akan menunggunya saja dipadesan
yang berada dimukanya itu.
Meskipun demikian, namun laskar yang dipimpin oleh
Untara itupun memiliki pengalaman yang cukup. Karena itu,

ketika mereka telah mengendap dibalik pematang, maka
dibiarkannya tiga orang laskar Tohpati yang mendahului
barisannya untuk berjalan dengan tenang. Dibiarkannya orang
itu melampaui barisan Untara yang diam-diam menunggu
kehadiran lawannya.
Karena itulah maka, laskar Tohpatipun berjalan dengan
tenangnya setenang ketiga orang yang mendahuluinya itu.
Mereka tidak menduga bahwa laskar Widura yang dipimpin
Untara beserta anak-anak muda Sangkal Putung itu telah
menunggu mereka dibalik lindungan bayangan pematang
yang hitam kelam.Maka ketika laskar Tohpati itu sudah
semakin dekat, tiba-tiba terdengar suara Untara memecah
sepi malam, mengatasi suara angin yang berdesah diantara
daun-daun padi yang masih sangat muda. Diantara heningnya
malam terdengar suara itu “Sergap…….!”
***
Seperti kuda yang lepas dari ikatan, maka laskar Untara
itupun berloncatan dari balik-balik pematang, langsung
menyergap lawan-lawan mereka yang terhenti karena terkejut.
Ternyata mereka masih memerlukan waktu sekejap untuk
melenyapkan desir yang menggoncangkan dada mereka.
Dengan serta-merta mereka menjulurkan senjata-senjata
mereka untuk menyongsong laskar Pajang yang melibat
mereka seperti badai.
“Setan” geram Tohpati.
Dengan lantang ia berkata
“Sayap kanan dan kiri, lihat
perkembangan keadaan”
Sayap-sayap kanan dan kiri
itupun tidak segera
meneruskan perjalanan
mereka menyusup langsung
kejantung Sangkal Putung.
Mereka menunggu sesaat
untuk melihat perkembangan
keadaan induk pasukannya.

Tiga orang yang mendahului gelar laskar Macan Kepatihan
itu ternyata terkejut bukan kepalang. Cepat mereka
berloncatan kembali dan langsung melibatkan diri dalam
pertempuran melawan orang-orang Pajang. Keadaan itu
benar-benar tak disangkanya. Ternyata orang-orang Pajang
telah berhasil dengan baik, menjebaknya dan menyergap
pasukannya.
Pertempuran itupun segera berkobar dengan sengitnya.
Tetapi pertempuran ini tidak berlangsung ditengah-tengah
desa yang rimbun dalam gelap pepat. Diudara terbuka, maka
mereka masih mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk
mengamati kawan dan lawan. Meskipun demikian
pertempuran itu tidak berlangsung terlalu cepat. Masingmasing
masih juga ragu-ragu untuk mengayunkan pedangpedang
mereka dengan lepas. Karena itu, baik laskar Macan
Kepatihan maupun laskar Widura dibawah pimpinan Untara
itupun menganggap perlu bahwa beberapa orang diantara
mereka menyalakan obor-obor.
Ternyata laskar yang dihadapi oleh Tohpati itu cukup berat,
sehingga terdengar suara Macan Kepatihan itu lantang
“Sayap-sayap kanan dan kiri, ikutlah menghancurkan lawan
disini. Baru kemudian kami bersama-sama memasuki Sangkal
Putung”
Untara mendengar pula aba-aba itu. Tetapi ia tidak
memberi aba-aba imbangan. Dibiarkannya sayap-sayapnya
menyergap kemudian setelah pertempuran menjadi riuh.
Sayap-sayap kanan dan kiri dari laskar Tohpati itupun
kemudian segera menyergap lawannya dari arah lambung.
Sehingga dengan demikian pertempuran itu menjadi
bertambah sengit. Ketika sekali lagi Untara mengawasi
pertempuran itu, maka hatinya menjadi tenang. Jumlah
laskarnya kini telah seimbang dengan laskar Tohpati. Namun
meskipun demikian, kemudian disadarinya, bahwa anak-anak
muda Sangkal Putung yang ikut serta dengan mereka, masih
belum memiliki kekuatan yang sama dengan laskar Pajang
sendiri. Karena itu maka Untara kemudian memerintahkan
kepada dua orang penghubung untuk segera menggerakkan
sayap-sayap laskar mereka.

Macan Kepatihan itu tersenyum melihat keseimbangan
pertempuran. Menurut perhitungannya, maka ia akan dapat
mengatasi lawannya itu. Namun ia tidak tahu, bagaimanakah
keadaan laskar Sanakeling. Kalau induk pasukan Pajang telah
ditarik untuk melawan laskar Sanakeling, maka keadaan
Sanakeling pasti akan gawat. Karena itu maka Macan
Kepatihan segera mengerahkan segenap kekuatan yang ada
padana untuk menebus kekalahan kecil yang dialaminya pada
benturan pertama.
Tetapi semakin lama Macan Kepatihan itu menjadi semakin
yakin, bahwa laskarnya akan dapat menjebolkan pertahanan
pasukan Pajang dan akan dapat langsung memasuki induk
desa Sangkal Putung.
Namun tiba-tiba ia terkejut. Dilihatnya sekumpulan pasukan
muncul diarah selatan, langsung menyerbu kedalam
perkelahian itu. Sesaat ia berdiri tegak seperti patung,
kemudian terdengar suaranya lantang “Sayap kiri, siap
melawan sayap lawan”
Yang berdiri disayap kiri terkejut mendengar teriakan itu.
Seorang anak muda dengan mata yang tajam setajam mata
alap-alap menengadahkan wajahnya. dilihatnya sekelompok
laskar langsung menyerbu kearah mereka yang sedang
menghantam lawan dari arah lambung iu. Dengan tergesagesa
anak muda itu menarik beberapa orangnya, yang
dengan tergesa-gesa pula melepaskan lawan-lawan mereka.
Dengan marahnya anak muda yang memimpin sayap
kanan laskar Macan Kepatihan itu menggeram. Kemudian
dengan senjata ditangan ia mendahului anak buahnya
menloncat menyongsong laskar yang datang itu.
Yang berdiri dipaling depan dari laskar Pajang adalah Citra
Gati. Ketika ia melihat lawan menyongsongna, segera
ditundukkannya pedangnya. Dan tanpa berkata sepatah
katapun maka kedua orang itu telah terlibat dalam satu
perkelahian, sedang anak buah merekapun segera
menghambur, dan dengan sengitnya kemudian campuh
beradu senjata.
Agung Sedayu yang berada didalam sayap itu melihat Citra
Gati bertempur dengan sekuat tenaganya. Lawannya adalah

seorang anak muda yang lincah, namun serangannya kuat
dan garang. Tiba-tiba dada Agung Sedayu bedesir “Alap-alap
Jalatunda” desisnya. Namun ia tidak berbuat sesuatu atas
perkelahian diantara kedua pemimpin sayap itu. Ketika kedua
belah pihak telah tenggelam dalam suatu pertempuran, Agung
Sedayupun ikut bertempur pula. pertempuran ini adalah
pertempuran yang pertama kali dialami. Meskipun dengan
pedangnya ia mampu melawan setiap serangan yang datang
kepadanya, namun terasa sesuatu bergolak didalam dadanya.
Ketika sekali pedangnya terayun, memukul pedang lawannya
dengan kekuatannya yang tercurah sepenuhnya, maka
pedang lawannya itu terpental jatuh. Kini kesempatan terbuka
baginya. Lamat-lamat ia melihat wajah orang itu dalam cahaya
obor dikejauhan menyeringai pedih. Dilihatnya betapa wajah
itu menjadi ketakutan melihat pedangnya. Ketika tangan
Agung Sedayu terjulur, dan ujung pedangnya hampir
menembus dada lawannya, tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu.
Ketakutan yang terbayang diwajah lawannya yang telah tidak
bersenjata itu membangkitkan iba dihatinya. Ia belum pernah
membunuh orang. Dan ia sendiri pernah mengalami, betapa
sakit perasaan yang dikejar-kejar oleh ketakutan. Karena itu
maka tiba-tiba tangannya yang sudah terjulur itu digerakkan
kesamping, sehingga pedangnya tidak menembus dada
lawannya yang telah berputus asa.
Lawannya terkejut bukan main. Matanya telah menjadi
gelap dan harapannya telah putus. Sekilas terbayang istrinya
yang masih muda menunggunya, serta anaknya yang baru
berumur tiga bulan. Anak yang masih belum pernah
ditimangnya, sebab selama ini ia selalu mengembara dari satu
tempat kelain tempat bersama-sama dengan Alap-alap
Jalatunda atau pemimpin-pemimpin Jipang yang lain.
Tetapi tiba-tiba terasa kaki lawannya itu mendesak
dadanya, dan terdengar suaranya lirih “Pergi. Kalau kau masih
berdiri disitu, aku bunuh kau”
Orang itu benar-benar tidak mengerti. Namun secepat kilat
ia meloncat kesamping, menyusup diantara teman-temannya
dan dengan nafas terengah-engah ia berdiri dibelakang
pertempuran itu. Sesaat ia mencoba untuk mengenangkan

apa yang baru saja terjadi. “Mustahil, mustahil” katanya dalam
hati sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun
ternyata ia masih hidup. Ketika ia menggeleng-gelengkan
kepalanya, maka yang dilihatnya masih saja perkelahian yang
seru. Ia tidak sedang mimpi. Karena itu segera ia meloncat
kembali, mengambil pedang seorang kawannya yang terluka
“Mari, berikan senjata itu kepadaku”
Kawannya yang terluka itu merangkak kesamping.
Diberikannya pedangnya kepada kawannya sambil berdesah
“Bunuhlah. Bunuhlah siapa saja yang kau temui. Aku sudah
dilukainya. Dan lukaku parah”
Orang itu menerima pedang itu dengan tangan gemetar.
Kawannya dilukai dadanya, sedang dirinya sendiri, yang telah
pasrah pada nasib, tiba-tiba mendapat kesempatan untuk
hidup. Dan apakah sekarang ia harus membunuh?
Tetapi ia tidak mendapat kesempatan ntuk berpikir lebih
panjang. Sekali lagi ia meliat seorang kawannya jatuh
terlentang dengan luka didadanya. Karena itu segera ia
meloncat kembali memasuki arena pertempuran yang menjadi
kian sengit.
Agung Sedayu masih juga bertempur dengan gagahnya.
Namun ketika ia melihat beberapa orang kawan dan lawannya
terluka, maka kepalanya menjadi serasa pening. Kini lututnya
sudah tidak gemetar karena ketakutan. Apalagi setelah
ternyata ia dapat melepaskan diri dari berbagai bahanya.
Namun ia masih belum sampai hati untuk membunuh orang,
meskipun dalam pertempuran.
Tetapi sementara itu pertempuran berjalan terus. Citra Gati
dengan gigihnya bertempur melawan Alap-alap Jalatunda.
Alap-alap yang masih muda itu bertempur dengan
tangkasnya. Pedangnya menyambar-nyambar seperti beratusratus
pedang.
Tetapi Citra Gatipun cukup berpengalaman. Pedangnyapun
berputar seperti baling-baling. Dengan sepenuh tenaga
dicobanya untuk melawan Alap-alap Jalatunda. Namun Alapalap
Jalatunda itu mempunya I beberapa kelebihan
daripadanya. Kelincahan dan kecepatannya. Sekali ia

menyambar dari samping, namun dengan cepatnya
pedangnya telah terjulur kearah lambung.
Agung Sedayu yang berdiri beberapa langkah dari
pertempuran itu kadang-kadang dapat menyaksikannya
dengan cermat. Ia melihat, bahwa Alap-alap Jalatunda itu
benar-benar tangkas. Tetapi meskipun demikian, kini Agung
Sedayu itu tidak menjadi gentar seperti pada saat ia melihat
Alap-alap Jalatunda bertempur melawan kakaknya. Bahkan
tiba-tiba terungkatlah kebenciannya kepad Alap-alap
Jalatunda itu. Sebab ia adalah salah seorang dari mereka
yang menyebabkan kakaknya terluka pada waktu itu.
Karena itu untuk melepaskan kebimbangannya melawan
setiap orang yang belum pernah dikenalnya dalam laskar
lawannya, maka tiba-tiba Agung Sedayu itupun meloncat
mendekati Citra Gati. Ia sama sekali tidak cemas lagi melihat
pedang Alap-alap Jalatunda itu. Meskipun demikian, ia
menjadi berdebar-debar juga. Kalau ia terpaksa terlibat dalam
pertempuran yang seimbang, apakah ia harus membunuh
lawannya? Namun demikian, ada juga keinginannya untuk
melepaskan gelora yang tersekap didalam dadanya. Gelora
kemarahannya kepada Sidanti yang belum ditumpahkannya.
Alap-alap Jalatunda yang sedang bertempur melawan Citra
Gati itu melihat seseorang mendekati perkelahian itu. Karena
itu segera ia berteriak “Ha, siapa lagi yang ingin bertempur
melawan Alap-alap Jalatunda?”
Dalam pada itu seorang prajurit Jipang tiba-tiba menyerang
Agung Sedayu. Namun dengan tangkasnya Agung Sedayu
menghindari serangan itu, bahkan dengan kerasnya ia
memukul pedang lawannya, kearah yang sama, sehingga
justru Karena itu, maka pedang itupun meloncat dan terlepas
dari tangannya.
Alap-alap Jalatunda sempat menyaksikan ketangkasan itu.
Karena itu maka segera perhatiannya tertarik kepada lawan
yang mendekatinya. Sambil bertempur melawan Citra Gati ia
berkata “He, alangkah tangkasnya anak itu. Siapakah kau?
Apakah kau ingin melawan Alap-alap Jalatunda?”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. namun diamatinya
perkelahian antara alap-alap itu melawan Citra Gati. Baru

sesaat kemudian ia berkata “Aku Agung Sedayu, adik Untara
yang cegat berempat disekitar Macanan”
“He, kaukah itu? Pengecut yang selama ini aku cari-cari”
“Kita bertemu disini. Apakah aku benar-benar pengecut?”
Citra Gati menjadi heran. Apakah mereka sudah
berkenalan? Tetapi kemudian diingatnya cerita Agung Sedayu
tentang perjalanannya malam-malam ia pertama kali datang di
Sangkal Putung. Karena itu maka katanya sambil
menggerakkan pedangnya, menangkis serangan Alap-alap
Jalatunda “Apakah kau bertemu dengan kawan lama?”
“Ya” sahut Agung Sedayu.
“Kalau kau yang bertempur melawan aku sekarang, maka
aku akan dapat melepaskan sakit hatiku. Bukankah kakakmu
yang namanya Untara itu membunuh tiga orang kawankawanku?”
teriak Alap-alap Jalatunda.
Agung Sedayu menarik nafas. Kemudian katanya “Kau
masih marah?”
“Setan” desis Alap-alap Jalatunda. “Kalau kau tidak
melarikan diri waktu itu, maka kau telah aku cincang dibawah
randu alas ditikungan”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. “Ya” katanya
dalam hati. “Kalau pada saait itu Kiai Gringsing tidak
menolongku, mungkin aku benar-benar telah dicincangnya”
Kemudian jawabnya “Tetapi sekarang kita bertemu lagi”
“Jangan lari. Setelah aku menyelesaikan yang seorang ini,
akan datang giliranmu”
Citra Gati tersinggung mendengar kata-kata itu. Karena itu
ia memperketat serangannya sambil berteriak “Apa kau
sangka aku ini dapat kau kalahkan?”
Alap-alap Jalatunda terkejut. Serangan Citra Gati benarbenar
berbahaya. Sedang seorang yang lain telah menyerang
Agung Sedayu pula. namun sekali lagi dengan mudahnya
Agung Sedayu dapat menghindarinya. Bertempur beberapa
saat, kemudian dengan sejuat tenaga melawan serangan
orang itu dengan serangan pula, sehingga kedua senjata
mereka beradu. Ketika pedang lawannya itu masih bergetar
ditangannya, mak dengan cepatnya Agung Sedayu memukul
pedang itu sehingga terlepas pula dari genggamannya.

Namun sekali lagi ia ragu-ragu untuk membunuhnya. Maka
dibiarkannya lawannya itu berlari menyusup diantara riuhnya
pertempuran.
Kini, setelah beberapa kali Agung Sedayu meyakinkan
kemampuannya, maka dengan tangkasnya ia meloncat
mendekati Citra Gati sambil berkata “Lepaskan anak muda itu
paman. Biarlah ia melawan aku dahulu”
Citra Gati mengangkat dahinya. Sebenarnya ia ingin
menyobek mulut Alap-alap Jalatunda yang telah menghinanya
itu. Tetapi ia tidak mampu. Karena itu maka jawabnya
“Silakan. Kalau kawan lama sudah bertemu, maka aku akan
menyingkir”
“Kau mau bunuh diri?” teriak Alap-alap Jalatunda
“Beberapa waktu yang lalu kau melarikan dirimu, sekarang
kau bersombong diri, melawan aku”
“Pada waktu itupun aku tidak lari” sahut Agung Sedayu
yang mencoba menutupi kekecewaannya atas masa lampau
itu “Waktu itu aku sedang menyelamatkan kakang Untara”
Alap-alap Jalatunda mencibirkan bibirnya. Anak muda itu
dapat mengingatknya dengan baik ketika Agung Sedayu
berdiri dengan gemetar melihat Untara bertempur seorang diri.
Tetapi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar menjadi heran,
bahwa kini Agung Sedayu benar-benar berani melawannya
atas kehendak sendiri. bahkan sengaja mendatanginya dan
menyatakan dirinya untuk bertempur melawannya.
Sementara itu pertempuran masih berlangsung terus. Citra
Gati yang kemudian melepaskan lawannya, segera mendapat
serangan dari orang-orang Alap-alap Jalatunda yang
menyangka bahwa Agung Sedayu dan Citra Gati akan
mengeroyok pimpinan sayapnya. Tetapi Citra Gati segera
berkisar dari tempatnya, dan menyambut serangan itu dalam
jarak yang cukup dari Alap-alap Jalatunda.
Kini Alap-alap Jalatunda berdiri bebas tanpa lawan seperti
Agung Sedayu. Anak buahnya segera mengerti bahwa
mereka beruda akan berhadapan sebagai lawan. Demikian
juga dengan anak buah Citra Gati. Karena itu maka mereka
tidak akan mengganggu kedua orang yang sudah siap untuk

bertempur itu. Bahkan mereka sedang sibuk melayani lawan
masing-masing.
Alap-alap Jalatunda itu sekali melayangkan pandangannya
kearena yang tidak begitu luas itu. Perkelahian masih
berlangsung dengan sengitnya. Terasa bahwa jumlah
lawannya agak sedikit lebih banyak. Tetapi beberapa orang
diatara mereka adalah anak-anak muda yang belum begitu
tangkas mempergunakan senjata-senjata mereka, sehingga
mereka terpaksa bertempur berpasangan. Tetapi anak buah
Widura sendiri, telah bertempur mati-matian. Dan sebenarnya
tandang mereka ngedap-edabi. Dengan demikian maka anakanak
muda Sangkal Putung yang berbekal tekad yang
menyala didalam dada mereka itupun menjadi garang pula.
diantara mereka, Swandaru tampak mempunyai beberapa
kelebihan. Bahkan kini ia tidak kalah tangkas dengan setiap
orang didalam pasukan kecil itu. Pedangnya yang besar
berputar menyambar-nyambar seperti baling-baling. Dan
setiap benturan, langsung terasa oleh lawannya bahwa
kekuatannya benar-benar bukan main. Karena itulah maka
Swandaru itu benar-benar mengamuk seperti banteng yang
terluka.
Alap-alap Jalatunda itu kemudian memandang Agung
Sedayu yang telah siap beridir dimukanya. Dengan wajah
yang tegan Alap-alap Jalatunda itu membentak “He, apakah
kau sekarang sudah mendapat seorang guru yang pilih
tanding? Yang mampu meremas prahara?
Agung Sedayu masih juga berdebar-debar. Meskipun
demikian ia merasa bahwa ia tidak takut lagi menghadapinya.
Karena itu maka katanya “Alap-alap Jalatunda, aku telah
mendapat guru yang sangat bauk. Aku berguru pada keadaan
dan waktu. Akhirnya aku beranimenghadipmu kini”
Alap-alap Jalatunda tertawa. katanya “Nah, berperisailah
dengan segala macam mantra, doa, aji dan ilmu. Namun
sebentar lagi dadamu akan tembus oleh ujung pedangku”
“Tidak. Aku hanya berperisai dengan keyakinan akan
kebenaran perjuanganku. Mudah-mudahan Tuhan
membenarkan pula”

“Huh, setiap orang meyakini kebenaran perjuangannya.
Akupun yakin, Karena itu jangan membual tentang kebenaran”
“Kau benar” sahut Agung Sedayu “Tetapi marilah kita cari
kebenaran yang jujur. Kebenaran yang dibenarkan oleh Tuhan
kita. Bukankah kau juga mengakui kebenaran yang mutlak
itu?”
“Pandangan kita tak akan bertemu”
“Mungkin tidak. Tetapi apa yang kau lakukan selama ini,
perampokan, pencegatan, perkosaan atas kebebasan dan
kemanusiaan adalah sama sekali tidak mencerminkan
kebenaran perjuanganmu”
“Jangan menggurui aku. Kita sudah memegang pedang
ditangan masing-masing”
“Bagus. Aku sudah siap”
Alap-alap Jalatunda tidak berbicara lagi. Segera ia
meloncat sambil menjulurkan pedangnya. Namun Agung
Sedayupun telah siap pula. ia telah banyak mengalami
penempaan selama ini. Dari kakaknya dimasa kanakkanaknya,
dari ayahnya dan akhirnya dari pamannya. Namun
ia sendiri telah menemukan banyak persoalan yang dapat
dipecahkannya lewat lukisan-lukisannya yang telah
disempurnakan oleh kakaknya, sehingga dengan demikian,
maka Alap-alap Jalatunda benar-benar menjadi heran. Agung
Sedayu adalah anak muda yang perkasa.
Demikianlah mereka terlibat dalam perkelahian yang sengit.
Alap-alap Jalatunda yang ber tanggung-jawab atas anak
buahnya, segera mengerahkan segenap kemampuannya
untuk secepat-cepatnya berusaha menyelesaikan
pertempuran itu. Sedang Agung Sedayu kemudian
melawannya dengan gigih.
Namun dalam pada itu, tiba-tiba timbullah berbagai
pertanyaan didalam diri Agung Sedayu. Ia belum pernah
mengalami pertempuran yang sebenarnya. Karena itu, ia
menjadi heran. Apakah Alap-alap Jalatunda itu tidak
bertempur dengan segenap kemampuannya? Apakah anak
muda itu sengaja memancingnya atau membiarkannya
menjadi lelah?

Sampai sedemikian lama, Agung Sedayu sama sekali tidak
merasakan sesuatu kesulitan untuk melawan Alap-alap
Jalatunda yang ditakutinya. Ia dapat melawan dengan baik,
bahkan kadang-kadang ia mampu melibat lawannya dalam
keadaan yang sangat sulit. Karena itu maka Agung Sedayu
justru menjadi bingung. Ia akhirnya menyangka bahwa Alapalap
Jalatunda belum bertempur dengan sepenuh
kemampuannya. Dengan demikian, maka Agung Sedayupun
berusaha menyimpan sebagian dari tenaganya untuk
menghadapi setiap saat apabila Alap-alap Jalatunda itu
mengerahkan ilmunya.
Tetapi sebenarnya bahwa Alap-alap Jalatunda telah
berjuang mati-matian untuk membinasakan lawannya. Namun
betapa ia menjadi heran. Lawannya itu menjadi seperti hantu
yang sangat membingungkannya. Sekali-sekali ia dapat
menghadapinya dengan mantap, namun tiba-tiba
bayangannya telah melontar mengitarinya seperti bayangan
hantu yang tidak berjejak diatas tanah. Karena itu, maka
keringat dingin telah mengalir disegenap wajah kulitnya.
Meskipun demikian Alap-alap Jalatunda itu masih bertempur
dengan garangnya.
Hal inilah yang tidak diketahui oleh Agung Sedayu. Ia
masih menyangka bahwa Alap-alap Jalatunda belum
bertempur sebenarnya.
Dengan demikian, maka Agung Sedayu itupun masih
menunggu. Disimpannya sebagian dari tenaganya. Apabila
saatnya datang, maka segera ia siap untuk bertempur matimatian.
Bagaimanapun juga, Agung Sedayu itu masih juga
terpengaruh kenangan masa-masa lampaunya. Ia masih
menganggap bahwa Alap-alap Jalatunda adalah seorang anak
muda yang perkasa. Karena itu maka ketika ia mengalami
pertempuran melawan alap-alap itu, ia menjadi ragu-ragu.
Sebab dalam perkelahian itu ternyata, bahwa Alap-alap
Jalatunda sama sekali tidak segarang yang disangkanya,
sehingga dengan demikian ia tetap mengira, bahwa Alap-alap
Jalatunda masih menyimpan sesuatu yang akan dipakainya
untuk mengakhiri pertempuran.

Demikianlah maka mereka berdua masih berempur dengan
serunya, didalam riuhnya pertempuran antara laskar Widura
dan anak-anak Sangkal Putung disatu pihak dan laskar
Tohpati dilain pihak.
Sementara itu, induk pasukan merekapun bertempur
dengan serunya pula. mereka telah berjuang sekuat-kuat
tenaga mereka. Sejak munculnya laskar yang dipimpin oleh
Citra Gati itu maka Macan Kepatihan yang cerdik segera
dapat menduga, bahwa akan datang pula serangan dari sayap
lain. Karena itu segera ia berteriak “Siapkan sayap kiri”
Dan sebenarnyalah laskar Pajang yang dipimpin oleh
Sidanti itupun segera melanda lawannya seperti arus banjir
yang berusaha memecahkan tebing. Bergulung-gulung
gelombang demi gelombang.
Sidanti telah mengatur anak buahnya dalam sap-sap yang
tipis. Sebagian anak buahnya langsung berusaha masuk
kedalam barisan lawan. Sedang lawan-lawan mereka yang
berdiri dibaris terdepan, harus berhadapan dengan lapis-lapis
yang berikutnya. Dengan demikian, maka mereka menjadi
ragu-ragu. Karena itu itu maka pertempuran yang ribut itu
berlangsung dalam suasana yang tidak menentu. Apalagi
malam yang pekat telah melindungi wajah-wajah mereka
sehingga sukar untuk membedakan siapakah lawan dan yang
manakah kawan. Tetapi dengan demikian Sidanti telah
berhasil mengurangi kemungkinan yang tidak diharapkan bagi
mereka yang masih belum lanyah mempermainkan senjata,
sebab dalam keadaan demikian, mereka bertempur
berpasang-pasang, bahkan kadang-kadang dalam jumlah tiga
atau empat bersama-sama.
Dalam keadaan demikian itulah maka kedua belah pihak
memandang perlu untuk menyalakan obor-obor lebih banyak
lagi sehingga oleh sinar obor-obor itu mereka dapat sedikit
membedakan, antara lawan dan kawan.
Namun Plasa Ireng tidak membiarkan pertempuran itu
menjadi kisruh tidak menentu. Karena itu maka segera ia
berteriak “Jangan berkisar dari satu titik. Merengganglah, dan
carilah jarak diantara kawan sendiri”

Arena pertempuran yang mula-mula justru menjadi kian
sempit itu, maka perlahan-lahan menebar kembali. Laskar
Jipang bukan pula laskar kemarin petang. Karena itu segera
mereka dapat menempatkan diri mereka dengan baik.
Sidanti yang memimpin laskar Pajang itupun segera dapat
melihat siapakah yang memegang perintah dalam laskar
lawannya. Karena itu maka tanpa berkata apapun segera ia
meloncat menyerbunya.
Plasa Ireng terkejut melihat anak muda itu. Sekali ia
meloncat kesamping kemudian dengan menggeram ia berkata
“Siapakah kau?”
“Sidanti” sahut Sidanti. Namun sementara itu, senjatanya
yang berujung tajam dikedua sisinya berputar dengan
cepatnya. Sekali-sekali mematuk dan sekali-sekali
menyambar hampir menyentuh wajah Plasa Ireng.
Plasa Ireng itu menjadi marah bukan buatan. Dengan
menangkis setiap serangan Sidanti ia menggeram “apakah
kau sudah jemu hidup?”
Sidanti menyerang semakin garang. Meskipun demikian ia
menjawab “Kita berada dimedan pertempuran. Jangan ribut”
Plasa Ireng itupun kemudian berteriak nyaring. Dengan
garangnya ia melawan serangan-serangan Sidanti. Iapun
bukan anak-anak yang baru sekali menyaksikan darah
tertumpah. Plasa Ireng adalah prajurit sejak mudanya.
Seakan-akan ia memang dilahirkan untuk memanggul senjata.
Demikianlah perkelahian itu cepat menanjak menjadi
dahsyat sekali. Sidanti bergerak dengan lincahnya, sedang
Plasa Ireng bertempur dengan tangguhnya. Keduanya
memiliki beberapa kelebihan dari orang-orang kebanyakan.
Namun ketika Plasa Ireng sempat memperhatikan senjata
lawannya, maka iapun menjadi berdebar-debar. Ciri yang ada
ditangan Sidanti itu adalah ciri perguruan Tambak Wedi.
“Hem” desisnya sambil bertempur “Apakah kau murid Ki
Tambak Wedi?”
Sidanti menjadi berbangga hati mendengar pertanyan itu
“Ya” jawabnya singkat.
Sekali lagi Plasa Ireng menggeram “Jangan berbangga.
Aku mendengar nama Ki Tambak Wedi dari Macan Kepatihan.

Karena itu aku akan mencoba, apakah berita tentang Tambak
Wedi itu benar-benar mendebarkan hati”
Sidanti menjadi tersinggung karenanya. Maka senjatanya
menjadi semakin dahsyat berputar-putar mengitari tubuh
lawannya. Bagaimana Plasa Irengpun telah mencapai puncak
kemarahannya. Dengan demikian maka pertempuran itu
menjadi bertambah seru. Sebenarnyalah Sidanti memiliki
beberapa keanehan. Ia mampu meloncat-loncat seperti kijang,
namun kadang-kadang ia menyambar seperti elang. Dengan
penuh tekad, ia ingin menunjukkan kelebihannya dari setiap
orang dari kedua belah pikak. Ia ingin membunuh lawannya
itu, dan karena itu ia ingin membanggakan dirinya kepada
setiap orang di Sangkal Putung.
Tetapi Plasa Ireng itupun ingin berbuat serupa. Ia ingin
segera membinasakan murid Ki Tambak Wedi itu. Dengan
demikian iapun akan dapat membanggakan dirinya pula.
Plasa Ireng pernah mendengar dari Macan Kepatihan
bahwa murid Ki Tambak Wedi ternyata telah berhasil
menyelamatkan dirinya ketika ia bertempur melawan Macan
Kepatihan itu sendiri “Tetapi ia akan mati kali ini” berkata
Plasa Ireng didalam hatinya. Dengan demikian maka
pertempuran diantara
mereka menjadi semakin
seru. Masing-masing
berhasrat untuk membunuh
lawannya. Tanpa ampun,
tanpa pertimbangan lain.
Ketika keuda sayapnya
telah mendapatkan lawan
masing-masing, maka kini
Tohpati menjadi tenang. Kini
ia tinggal mengatur induk
pasukannya. Ketika dengan
seksama ia memperhatikan
pertempuran itu, maka ia
menarik nafas dalam-dalam.
Ia menyesal bahwa kunci
pertempuran itu telah dibuka

oleh laskar Pajang. Sesaat yang pendek itu ternyata benarbenar
berpengaruh atas laskarnya.“Hem” ia menggeram.
“Sekali lagi dapat disegap oleh Widura. Jaringan
pengawasannya benar-benar luar biasa. Tetapi sejak
pertempuran ini dimulai, aku belum melihatnya. Aku belum
melihat seorangpun yang memberi aba-aba pada laskar ini”
***
Sasaat ia masih berdiri tegak dibelakang garis
pertempuran. Namun kemudian ia tidak akan berdiri saja
seperti patung. Keitka ia melihat bahwa jumlah laskar
lawannya agak lebih banyak maka ia mengerutkan keningnya
“Tidak akan berpengaruh apa-apa” desah Tohpati itu. Namun
ia heran juga, kenapa mereka tidak terpancing oleh tanda
bahaya yang bergema diseluruh Sangkal Putung itu sehingga
jumlah mereka masih cukup banyak. Apakah jumlah laskar
Widura itu telah ditambah?
Namun mata Macan Kepatihan itu benar-benar tajam.
Sekali-sekali ia melihat satu duda orang diantara laskar
Widura yang mempunyai cara dan sikap yang agak berbeda
dari kawan-kawan mereka. Karena itu maka segera Tohpati
dapat mengambil kesimpulan bahwa laskar Widura ini telah
bergabung dengan anak-anak Sangkal Putung sendiri.
“Biarlah aku memberikan tekanan kepada laskar lawan itu.
Mungkin dengan demikian Widura akan menghampiri aku”
berkata Tohpati itu didalam hatinya.
Karena itu maka segera ia meloncat menyusup diantara
anak buahnya, sehingga sesaat kemudian senjatanya telah
berputaran diarena itu. Tongkatnya yang putih mengkilap
dengan ujung yang kekuning-kuningan segera
memberitahukan kepada lawan-lawannya bahwa Tohpati
sendiri telah hadir digaris peperangan. Karena itu, sebelum
mereka sempat berbuat apa-apa, maka seorang dua orang
telah terpelanting jatuh. Setiap ia bergerak, maka tak ada
seorangpun yang berani menyongsongnya seorang diri. Kalau
terpaksa mereka harus melawan Macan Kepatihan itu, maka
mereka berusaha untuk melawan berpasangan, tiga empat

orang sekaligus. Tetapi lawan-lawan mereka yang lainpun
segera menyerang mereka juga, sehingga setiap titik yang
dihampiri oleh Tohpati itu, maka seseorang dari laskar
lawannya pasti akan jatuh.
Tetapi Tohpati itu tidak terlalu lama dapat berbuat
demikian. Tiba-tiba dari laskar Pajang, muncullah seseorang
dengan sebuah pedang ditangan. Ketika tongkat Tohpati itu
terayun dengan derasnya kearah salah seorang prajurit
Pajang yang telah menjadi berputus asa karenanya, maka
tiba-tiba pedang itu telah menyentuhnya. Tidak terlalu keras,
namun dari arah yang tepat sehingga tongkat Tohpati itu
tergeser dari arahnya.
Tohpati menggeram keras sekali. Ketika ia melihat orang
yang menyentuh senjatanya itu didalam remang-remang
cahaya obor ia terkejut. Hampir berteriak ia berkata “He,
adakah kau adi Untara?”
Orang yang memegang pedang itu menyahut “Ya”
Sekali lagi Tohpati menggeram. Kini ia menemukan lawan
yang sebenarnya. Karena itu maka ia tidak mau membuang
waktu. Betempur melawan Widura, Sidanti atau siapapun,
Tohpati tidak akan memerlukan waktu yang terlalu banyak.
Namun kini Untara berdiri dihadapannya, maka dengan
demikian ada kemungkinan ia harus bertempur lebih lama lagi,
mungkin setengah malam, mungkin lebih.
Untara kini telah benar-benar siap untuk melawannya.
Pedangnya terjulur setinggi dada. “Kakang Tohpati” katanya
“Aku mendapat tugas untuk menyambut kedatanganmu”
Tohpati menggertakkan giginya. Dengan sekali loncat,
tongkatnya telah mulai menyerang Untara. Namun Untara
telah benar-benar siap. Meskipun Untara tidak mempunyai
senjata khusus seperti Tohpati itu, namun Untara mampu
mempergunakan setiap senjata untuk melawan Tohpati.
Karena itu ketika tongkat Tohpati itu terayun kearah
kepalanya, dengan tangkasnya ia merendahkan dirinya,
sedang tangannya segeramenggerakkan pedangnya,
mematuk lambung lawannya. Namun Tohpatipun mampu
bergerak secepat kilat, sehingga dengan memiringkan
tubuhnya, serangan pedang Untara telah dapat dihindari.

Kin Tohpati itu kembali mempersiapkan sebuah serangan.
Tongkatnya telah mulai berputaran seperti baling-baling.
Bahkan kemudian seakan-akan menjadi sebuah gumpalan
cahaya yang putih. Sedang kepala tongkatnya itu menjadi
seakan-akan seleret cahaya kuning yang beterbangan
diantara gumpalan yang berkilat-kilat itu.
Dalam pada itu terdengar Tohpati itu menggeram “Kenapa
kau berada disini adi?”
Untara tersenyum. pada saat itu tongkat Tohpati
menyambarnya kembali. karena itu, ia terpaksa bergeser
surut, namun kemudian ia meloncat maju dengan tangkasnya.
Kini ia menyerang dengan sebuha sabetan menyilang. Tohpati
terkejut. Cepat ia menarik diri setengah langkah, dan
mencondongkan badannya kebelakang. Ketika pedang Untara
itu lewat, maka tongkatnyalah kini langsung menyambar
tangan Untara itu. Namun Untarapun cukup cekatan. Dengan
lincahnya ia memutar dirinya dan menarik tangannya,
sehingga tongkat lawannya terayun tanpa menyentuhnya.
Meksipun mereka telah bertempur semakin cepat, namun
Untara masih sempat berkata “Huh. Hampir aku tidak sempat
menjawab untuk selama-lamanya. Nah kakang, aku datang
kemari khusus untuk menerima kedatangan kakang”
“Gila” Tohpati mengumpat “Apakah paman Widura sudah
ditarik ke Pajang?”
“Kakang mencari paman Widura?”
“Aku hampir membunuhnya” sahut Tohpati. Dalam oada itu
serangannya telah meluncur kembali.
Tetapi Untara sama sekali tidak lengah. Setiap saat ia
selalu siap menghadapi serangan lawannya. Bahkan dengan
garangnya Untara itupun segera menyerang kembali.
Untara dan Macan Kepatihan itupun kemudian terlibat
dalam perkelahian yang semakin lama menjadi semakin seru.
Mereka masing-masing adalah pemimpin yang mendapat
kepercayaan. Pada masa Jipang masih tegak, maka
disamping Mantahun sendiri, pepatih Jipang, maka Tohpatilah
prajurit yang paling dipercaya. Sedang Untara walaupun
masih agak lebih muda dari Tohpati, namun ia telah
menunjukkan kelebihan dari prajurit-prajurit yang lain,

sehingga panglima Wiratamtama memberinya kepercayaan
didaerah-daerah yang gawat, disekitar lereng gunung Merapi.
Tohpati itu bertempur semakin lama menjadi semakin
garang. Tongkatnya menyambar-nyambar seperti elang,
sedang kakinya meloncat-loncat dengan cepatnya, seperti
seorang yang sedang menari diatas bara api. Tetapi Untara
mampu melawannya dengan gigih. Seperti seekor banteng ia
siap menghadapi kemungkinan apapun juga. Tenang tetapi
yakin.
Anak buah masing-masingpun terpengaruh pula oleh
pertempuran kedua pemimpin itu. Merekapun kemudian
melepaskan segenap kemampuan yang ada pada mereka.
Karena itu, maka diarena pertempura itu semakin lama
menjadi semakin riuh. Suara senjata beradu, diselingi pekik
mereka yang lengah sehingga ujung senjata lawannya
hinggap ditubuhnya.
Malam yang gelap itu menjadi semakin gelap. Perlahanlahan
bintang-bintang dilangit merabat melewati garis
edarnya. Angin malam yang dingin berhembus perlahan-lahan
mengusap tubuh mereka yang sedang basah oleh keringat.
Dipinggir selatan induk desa Sangkal Putung, Widura
sedang berjuang dengan gigihnya. Sanakeling yang
melawannya telah memeras segenap kemampuan yang ada
padanya. Ternyata apa yang pernah didengarnya tentang
Widura, adalah bukan sekedar cerita belaka. Kini ia
berhadapan langsung dengan orang yang bernama Widura
itu. Tidak saja ia mempunyai kecepatan dan ketrampilan
bertempur, namun caranya mengatur anak buahnya benarbenar
mengagumkan. karena itu, maka Sanakeling harus
bertempur mati-matian sehingga dengan demikian ia akan
dapat mempengaruhi keadaan keseimbangan laskar mereka.
“Kalau aku mampu membunuh Widura, maka laskar mereka
akan dapat aku cerai-beraikan” pikir Sanakeling itu. Namun
ternyata Widura tidak mudah didesaknya. Bahkan semakin
lama menjadi semakin terasa bahwa Widura menjadi semakin
mapan.
karena itu, maka timbullah berbagai persoalan didalam
dirinya. Sudah cukup lama Sanakeling berusaha

mempertahankan kedudukannya. Namun laskar yang lain,
masih belum dilihatnya memasuki Sangkal Putung. Apalagi
kemudian terasa bahwa laskar Sangkal Putung itu benarbenar
sulit untuk dikuasai. Anak-anak muda Sangkal Putung
sendiri bertempur dengan gigihnya, disamping laskar Widura
yang telah masak menghadapi segala macam keadaan
pertempuran. karena itu, maka Sanakeling itu sama sekali
tidak dapat memberikan tekanan-tekanan seperti yang
diharapkan, apalagi merambas jalan kekademangan,
Tetapi Sanakeling bukannya prajurit yang berpikiran
pendek. Ia bukan seorang yang lekas menjadi berputus asa.
Ia masih tetap dalam pendiriannya, kalau ia dapat membunuh
Widura maka pekerjaannya akan dapat dilakukan dengan
baik.
Dalam keadaan yang demikian itulah pertempuran itu
menjadi semakin sengit. Laskar Widura dan laskar Sangkal
Putung ternyata melebihi jumlah laskar lawan. Namun ternyata
bahwa laskar Sanakeling memiliki pengalaman dan kelincahan
lebih baik dari laskar Sangkal Putung sendiri. Untunglah
bahwa laskar Widura mampu mengimbanginya, meskipun
jumlahnya tidak dapat memadai.
Dibagian lain, Agung Sedayu masih juga bertempur
melawan Alap-alap Jalatunda. Laskar Citra Gati disayap
itupun ternyata mampu mengimbangi lawannya. Beberapa
orang laskar Sangkal Putung ang tidak saja terdiri dari anakanak
muda, tetapi beberapa orang tua, namun justru bekas
prajurit-prajurit dimasa mudanya, ternyata memberinya banyak
bantuan. Meskipun tenaga orang-orang tua itu sudah tidak
sekuat anak-anak muda, namun pengalamannya benar-benar
dapat memberi beberapa keuntunga. Mereka masih dapat
membingungkan lawan-lawan dengan gerak-gerak yang aneh.
Kadang-kadang mereka menghilang didalam keriuhan
pertempuran, namun dengan tiba-tiba mereka muncul kembali
dengan sebuah serangan yang mengejutkan. Bahkan kadangkadang
mereka bertempur berpasangan dengan anak-anak
muda sambil memberi beberapa petunjuk kepada mereka.

Citra Gati yang melihat cara mereka bertemput, sempat
juga tersenyum. mereka adalah bekas prajurit Demak yang
tangguh dimasa muda mereka.
Tetapi Agung Sedayu sendiri, masih saja merasa
kebingungan. Ia ragu-ragu untuk segera mengakhiri
pertempuran. Kalau ia segera mengerahkan segenap
kemampuannya, apakah Alap-alap Jalatunda itu tidak menjadi
beruntung karenanya? Apakah Alap-alap Jalatunda sengaja
membuatnya tidak sabar, dan menunggu sampai ia menjadi
lemah?
karena itu, maka akhirnya ia memutuskan untuk melayani
saja lawannya. Dibiarkannya lawannya mengambil sikap lebih
dahulu, baru kemudian ia akan menyelesaikannya.
“Biarlah” katanya dalam hati “Akan aku layani Alap-alap
Jalatunda ini. Sehari, dua hari atau seminggu sekalipun. Kalau
ia masih mampu menggerakkan senjatanya, masa aku tidak
dapat melawannya dengan senjataku”
Dengan demikian Agung Sedayu itu bertempur saja
sekedar untuk melindungi dirinya dari sentuhan senjata
lawannya.
Tetapi disayap yang lain, keadaan Sidanti agak lebih sulit.
Laskar Plasa Ireng benar-benar memiliki kemampuan yang
baik. Dengan dahsyatnya mereka berhasil menekan laskar
yang dipimpin oleh Sidanti, sehingga pertempuran itu telah
bergeser beberapa langkah surut. Sidanti terpaksa mengambil
kebijaksanaan untuk menarik laskarnya mendekati induk
pasukan. Diharapkannya bahwa induk pasukan akan dapat
memberinya bantuan.
Untarapun kemudian melihat kesulitan Sidanti. Beberapa
kali ia mencoba untuk menilai induk pasukan itu. Namun
keadaan induk pasukan itu sendiri tidak sedemikian baiknya.
Ternyata laskar Tohpatipun mampu mengimbangi laskar
Untara. Bahkan terasa bahwa anak-anak muda Sangkal
Putung telah mulai susut tenaganya. Mereka belum biasa
memeras tenaganya untuk waktu yang lama, apalagi dalam
kesibukan yang membingungkan. Karena itu, maka Untara
menjadi prihatin. Walaupun demikian, ia berusaha untuk

memberi isyarat kepada Hudaya. Isyarat sandi yang sudah
mereka bicarakan sebelumnya.
Hudaya melihat gerak tangan kiri Untara. karena itu, maka
ia mengerutkan keningnya. Didalam hati ia bergumam “Biarlah
Sidanti itu mampus. Kenapa Untara itu memerintahkan aku
untuk membantunya?”
Sebenarnya bahwa isyarat sandi Untara itu adalah “Hudaya
dan beberapa orang, pergi membantu sayap kanan” Bantuan
itu memang hampir tak berarti. Tetapi sedikit banyak cukup
berpengaruh sekedar untuk mengurangi kesibukan Sidanti.
Sidanti melihat Hudaya dan beberapa orang memisahkan
diri dari induk pasukannya dan pergi kesayap yang
dipimpinnya. Tetapi ia menjadi sangat kecewa. Bantuan itu
sama sekali tidak berarti. Bahkan tersembullah suatu
prasangka didalam hati Sidanti yang mudah menjadi panas
itu. “Hem. Untara sengaja membiarkanku dalam kesulitan.
Setan. Telah menjadi sumpahku, bahwa Untara itu harus
disingkirkan”
Dan ternyata bahwa bantuan Hudaya itu hampir tak berarti.
Namun Hudaya sendiri telah berusaha sebaik-baiknya.
Bahkan hampir seperti orang yang kehilangan kesadaran diri.
Mengamuk sejadi-jadinya.
Namun hal itu telah mendorong Sidanti untuk berbuat lebih
banyak. Kemarahannya kepada Plasa Ireng, dirangkapi oleh
kemarahannya kepada Untara menjadikannya berjuang
sekuat-kuat tenaganya. Tetapi betapapun juga, kehadiran
Hudaya didalam sayapnya, telah mengurangi kesibukan
pikirannya. Ia menjadi agak tenang untuk menghadapi Plasa
Ireng tanpa banyak berpikir tentang laskarnya. Meskipun
bantuan yang didapatnya tidak banyak memberi kekuatan
pada laskarnya, namun ternyata banyak membantu
ketenangannya. Ia kini mencoba memusatkan perhatiannya
kepada lawannya. Plasa Ireng. Ia mencoba untuk sesaat
melupakan orang-orang lain didalam sayapnya yang dalam
keadaan sulit itu.
Dalam keadaan yang demikian itu, maka Sidanti benarbenar
menjadi seorang anak muda yang pilih tanding. Kalau
beberapa saat yang lampau ia berhasil menyelamatkan dirinya

setelah bertempur beberapa lama melawan Tohpati, maka kini
ia berusaha memeras segenap kemampuan yang ada
padanya untuk membinasakan lawannya. Selain itu, ternyata
Sidantipun seorang yang keras hati. Sekali ia bertekad untuk
membunuh lawannya, maka tak ada alasan apapun yang
dapat mencegahnya. Kali inipun ia bertekad membunuh Plasa
Ireng, seperti Plasa Ireng berusaha membunuhnya. Tak ada
pikiran lain didalam benaknya. Membunuh. Hanya itu.
Membunuh.
Dengan demikian maka Sidanti itupun kemudian memeras
segenap kemampuan yang ada padanya. Senjatanya
bergerak berputaran sehingga kemudian seakan-akan telah
berubah menjadi asap yang hitam kebiru-biruan. Senjata yang
hanya sebatang, namun berujung sepasang timbal-balik itu,
seakan-akan berubah menjadi senjata serupa yang berpuluhpuluh
jumlahnya. Menyerang tubuh Plasa Ireng dari segenap
arah.
Meskipun Plasa Ireng bukan seorang prajurit yang baru
saja belajar memegang senjata, namun tiba-tiba ia menjadi
bingung menghadapi permainan Sidanti. Permainan murid Ki
Tambak Wedi itu benar-benar memeningkan kepalanya.
Meskipun demikian, Plasa Irengpun tidak segera menjadi
cemas. Plasa Ireng adalah seorang prajurit yang tabah.
Berpuluh bahkan beratus kali ia mengalami kesulitan didalam
peperangan dan perkelahian perseorangan. Namun berpuluh
bahkan beratus kali ia dapat menghindarkan kesulitan itu.
karena itu, maka dengan sekuat-kuat tenaga yang ada
padanya, maka ia berusaha untuk mematahkan gumpalan
sinar hitam kebiru-biruan yang melandanya.
Tetapi gumpalan sinar hitam kebiru-biruan itu benar-benar
seperti asap yang tak dapat disentuh oleh senjatanya. Sidanti
yang menjadi semakin bernafsu itu, telah menyerangnya
tanpa pertimbangan kecuali membinasakan.
Sekali-sekali Plasa Ireng itupun meloncat muundur. Ia
menjadi berbesar hati ketika ia melihat laskarnya berhasil
menekan laskar Sidanti. Tetapi ia tidak dapat menutup
kenyataan bahwa desing senjata Sidanti itu seakan-akan
sebuah siulan maut yang selalu mengejarnya.

karena itu, maka ia sama sekali tidak menjadi cemas. Kalau
perlu ia dapat menarik satu dua orang untuk mengganggu
Sidanti.
Hudaya yang bertempur didekat Sidanti melihat kelebihan
Sidanti dari lawannya. Meskipun kebenciannya kepada anak
itu sampai keujung rambutnya, tetapi, dalam menghadapi
musuhnya, Hudaya berbesar hati juga melihat kemenangan
Sidanti. karena itu, maka ia berusaha untuk selalu berada
didekatnya. Ia sudah dapat memperhitungkan apa yang kirakira
akan terjadi. Sebagai seorang prajurit yang telah
bertahun-tahun hidup didalam arena pertempuran, maka ia
dapat menduga, bahwa apabila terpaksa Plasa Ireng pasti
tidak akan segan-segan memanggil satu dua orang untuk
membantunya.
Demikianlah pertempuran disayap kanan itu menjadi
semakin ribut. Laskar Sidanti menjadi semakin lama menjadi
semakin sulit pula. Plasa Irengpun semakin lama menjadi
semakin sulit pula. sekali-sekali ia meloncat berkisar disekitar
garis pertempuran berlindung dibelakang beberapa orang
laskar yang sedang berjuang. Namun akhirnya Sidanti berhasil
menekannya semakin dalam. Sidantipun mampu
memperhitungkan keadaa, bahwa daya tahan laskarnya masih
lebih baik dari daya tahan Plasa Ireng. Sehingga meskipun ia
melupakan laskarnya sejenak, tetapi ia akan mencapai hasil
yang pasti lebih baik.
Sehingga karena itu, maka Sidanti kemudian memusatkan
segenap kemampuannya untuk membinasakan lawannya itu.
Plasa Irengpin benar-benar merasakan, betapa seranganserangan
Sidanti semakin menekannya. Senjatanya yang
aneh benar-benar telah berputar-putar ditelinganya.
Betapapun Plasa Ireng mencoba mempertahankan dirinya,
namun Sidanti itu mendesaknya semakin kuat.
Akhirnya Plasa Ireng itu menganggap bahwa tak akan ada
gunanya ia bertahan seorang diri. Dalam peperangan, tak
akan ada celanya, apabila ia harus bertempur berpasanan.
karena itu, tiba-tiba terdengar ia bersuit nyaring.

Sidanti mendengar suara suitan itu. Terasa dadanya
bergetar. Iapun tahu pasti, bahwa Plasa Ireng memanggil
seorang atau dua orang untuk membantunya.
Dan sebenarnyalah, seseorang yang bertubuh tinggi,
namun tidak cukup besar dibandingkan dengan tingginya,
meloncat sg lincahnya, menyerbu ketempat pertempuran
antara Plasa Ireng dan Sidanti. Ditangannya tergenggam
sebilah tombak pendek. Dengan cepatnya ujung tombak itu
bergetar, dan dengan tangkasnya ia memotong seranganserangan
Sidanti.
Sidanti surut selangkah. Terdengar ia menggeram parau
“Setan. Apakah kau sudah kehabisan akal?”
Plasa Ireng tertawa “Didalam pertempuran, maka setiap
orang dipihak lawan adalah musuhnya. Panggillah orangorangmu
untuk ikut serta dalam pertempuran berpasangan ini”
Sidanti menjadi semakin marah. Plasa Ireng ternyata
mampu memperhitungkan kekuatan laskarnya. karena itu,
maka sekali lagi Sidanti dipengaruhi oleh keadaan laskarnya.
Namun tiba-tiba tanpa diduga-duga, Hudaya yang dengan
cepatnya memperhitungkan kemungkinan itu, meloncat
dengan cepatnya. Pedangnya terjulur lurus, langsung
kelambung orang yang tinggi itu. Orang itu terkejut, sekali ia
melangkah kesamping dan kemudian dengan memutar
tombaknya ua mencoba menghindarkan serangan Hudaya
berikutnya.
Tidak saja orang yang tinggi itu yang terkejut. Plasa
Irengpun terkejut pula. ia sama sekali tidak melihat tandatanda
Sidanti memanggil seseorang untuk melibatkan diri
dalam pertempuran diantara mereka. Tetapi Hudaya bukan
seorang yang hanya mampu berbuat karena diperintah. Iapun
mampu mengambil sikap dalam setiap pertempuran.
Demikianlah pada saat-saat yang penting itu Hudaya mampu
membuat perhitungan-perhitungan yang cermat. Ia menjadi
marah pula, ketika ia melihat saat-saat terkhir dari lawan
Sidanti itu diganggu oleh orang lain.
Dalam keadaan yang demikian itulah Sidanti yang berotak
cerdas itu mempergunakan keadaan sebaik-baiknya. Pada
saat orang yang tinggi itu masih dalam usaha menyelamatkan

dirinya, maka Sidanti meloncat dengan garangnya. Memutar
senjatanya dan mendesak Plasa Ireng sejadi-jadinya.
Plasa Ireng benar-benar terkejut dan karena itu sesaat ia
kehilangan keseimbangan. Keseimbangan gerak dan
keseimbangan pikiran. Dengan demikian maka justru ia lupa
untuk memberi isyarat kepada orang lain lagi untuk
membantunya. Perhatiannya tercurah sepenuhnya dalam
usahanya untuk mempertahankan dirinya. Tetapi ketika
kembali terasa nyawanya seakan-akan telah melekat diujung
senjata Sidanti, maka barulah ia teringat kembali kepada
orang-orang yang berdiri mengitarinya.
Tetapi Plasa Ireng itu telah terlambat. Getar senjata Sidanti
telah benar-benar memusingkan kepalanya. Maka demikian
terdengar ia bersuit dua kali untuk memanggil orangnya yang
lain, maka demikian pundaknya tergores oleh senjata Sidanti.
Plasa Ireng terkejut bukan buatan. Sekali ia melontar mundur,
namun Sidanti itu sempat mengejarnya, dengan satu loncatan
pula. Dan sebelum seseorang berhasil datang membantunya,
terdengarlah Plasa Ireng memekik pendek. Sekali lagi senjata
ciri perguruan Tambak Wedi yang dahsyat itu merobek
dadanya.
Kini Plasa Ireng benar-benar telah kehilangan
keseimbangannya. Matanya kemudian seakan-akan mejadi
gelap, dan sinar-sinar obor disekitarnya itu serasa menjadi
padang bersama-sama. Yang terasa kemudian sekali lagi
seubha tusukan menghunjam dadanya, langsung menembus
jantungnya. Plasa Ireng itu mengaduh sekali, kemudian ketika
Sidanti menarik senjatanya yang berlumuran darah, Plasa
Ireng itu terseret selangkah maju untuk kemudian jatuh
terjerebab dibawah kaki anak muda itu.
Ketika seseorang datang mendekatinya, orang itu terkejut.
Yang dilihatnya adalah Sidanti berdiri tegak diatas tubuh Plasa
Ireng. Karena itu betapa marahnya orang itu. Dengan sertamerta
ia menyerang Sidanti tepat didadanya.
Tetapi serangan itu tidak banyak berarti buat Sidanti. Sekali
Sidanti mengelak dan ketika senjata orang itu terjulur
disamping tubuh Sidanti, maka tangan Sidanti bergerak
dengan cepatnya. Sebuah goresan yang panjang telah

melukai lambung orang itu. Ketika orang itu berteriak ngeri,
maka sekali lagi Sidanti menusuk perutnya. Orang itupun
terbanting jatuh disamping tubuh Plasa Ireng.
Tetapi agaknya kemaran Sidanti masih belum tercurahkan
seluruhnya. Ketika sekali lagi ia melihat tubuh Plasa Ireng,
maka terungkatlah geram dihatinya. Karena itu dengan sertamerta
ia menggerakkan senjatanya, menyobek punggun
lawannya yang sudah tidak bernafas itu. Sekali, dua kali dan
dipuaskannya hatinya.
Hudaya yang semula tersenyum melihat kemenangan
Sidanti, tiba-tiba mengerutkan keningnya. Sambil melayani
lawannya ia melihat betapa Sidanti berbuat melampaui batas.
Hudaya sama sekali tidak menyangka, bahwa didalam hati
Sidanti itu tersimpan kekerasan, kekejaman dan kekasaran.
Ditubuh anak muda itu ternyata mengalir darah yang buram,
sehingga dengan tangannya, anak muda itu sampai hati
berbuat demikian atas lawannya yang sudah tidak dapat
melawannya.
“Anak setan” geram Hudaya itu “Alangkah kotornya tangan
anak muda itu”
Sidanti itu benar-benar seperti orang yang sedan
kesurupan. Dengan mata yang merah liar dan gigi gemeretak,
disobeknya tubuh lawannya yang terbaring diam
“Adi Sidanti” desis Hudaya yang tidak tahan lagi melihat
perbuatan Sidanti “Sudahlah. Jangan kau turuti hatimu yang
gelap”
“Tutup mulutmu” Sidanti itu membentak.
Dan Hudaya menutup mulutnya. Dalam keadaan itu, ia
lebih baik tidak membuat persoalan, sebab kemungkinan
menjadi salah paham sangat besar. Pada saat Sidanti sedang
kehilangan segenap pertimbangannya. karena itu, maka h
lebih baik memusatkan perhatiannya pada lawannya.
Diputarnya senjatanya dan dengan dahsyatnya ia menyerang
seperti taufan.
Tetapi bukan saja Hudaya yang heran melihat perbuatan
Sidanti. Hampir setiap orang, baik dari laskar Pajang maupun
dari laskar Jipang, hatinya tergetar melihat perbuatan itu.
Perbuatan yang melampaui batas-batas yang dibenarkan

dalam tata pergaulan keprajuritan. Apalagi anak-anak muda
Sangkal Putung. Mereka menjadi ngeri. Bagi mereka, lebih
baik memalingkan wajah-wajah mereka, dan memusatkan
segenap perhatian mereka untuk menyelamatkan diri mereka
dari kemungkinan yang sama dengan Plasa Ireng.
Perbuatan Sidanti itu ternyata berpengaruh bagi lawannya.
Mereka menjadi ngeri dan cemas. Selain kematian pemimpin
mereka, maka apa yang mereka lihat itu benar-benar telah
mengerutkan hati mereka.
Setelah puas dengan perbuatannya, Sidanti tegak berdiri
diatas mayat lawannya, satu kakinya menginjak punggung,
dan satu kakinya diatas kepala. Dengan lantang ia berkata
kepada laskar Jipang yang masih bertempur dengan gigihnya
“He, laskar Jipang yang keras kepala. Lihatlah, pemimpinmu
telah terbunuh mati oleh tangan Sidanti. Ayo, siapa yang
berani mengangkat diri menjadi senapati. Inilah Sidanti, murid
Tambak Wedi”
Suara Sidanti itu menggelegar, menyusup diantara dentang
senjata dan jerit kesakitan, menggema berputar-putar didalam
malam yang kelam, seakan-akan getar suara dari neraka,
memanggil-manggil setiap nama yang ikut serta dalam
pertempuran itu.
Malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang yang
gemerlapan dilangit bergeser setapak-setapak kebarat dalam
hembusan angin malam yang dingin. Selembar-selembar
awan yang putiih mengalir keutara seperti gumpalangumpalan
kapuk raksasa yang sedang hanyut.
Pertempuran diperbatasan kademangan Sangkal Putung
masih berlangsung dengan sengitnya. Disayap kanan, laskar
Jipang seakan-akan telah kehilangan semangat untuk
bertempur, setelah mereka menyaksikan pemimpin mereka
jatuh. Kekasaran Sidanti, meskipun menumbuhkan kengerian
didalam dada laskar Jipang, namun didalam dada itu juga
menyala dendam yang tiada taranya. Dendam yang seakanakan
tidak akan kunjung padam. Betapa perbuatan Sidanti itu
tergores didinding jantung mereka. Sebelum nyawa mereka
melayang, maka peristiwa itu tidak akan mereka lupakan.

Beberapa orang yang tidak dapat menahan hatinya melihat
pemimpinnya mendapat perlakuan yang sedemikian
menyakitkan hati, segera menyerbu bersama-sama. Namun
Sidanti benar-benar memiliki tenaga dan ketrampilan yang luar
biasa. Meskipun beberapa orang datang bersama-sama,
namun anak muda itu masih saja mampu untk mengalahkan
mereka.
Tetapi, ketika lawan Sidanti menjadi semakin banyak, maka
Hudaya juga berasa bertanggung-jawab pula atas
kemenangan yang harus mereka perjuangkan, betapapun
hatinya menjadi pedih melihat perbuatan Sidanti, namun ia
datang juga untuk membantunya.
Kemenangan-kemenangan yang didapatnya itu telah
mendorong Sidanti lebih jauh kedalam ketamakan dan
kesombongannya. Kematian Plasa Ireng merupakan racun
yang tajam yang menusuk langsung keotaknya. Dengan
membunuh Plasa Ireng maka Sidanti merasa bahwa ia wajar
untuk menerima kehormatan yang jauh dari semestinya.
Bahkan kematian Plasa Ireng itu telah menumbuhkan suatu
impian yang mengerikan.Laskar Jipang yang kehilangan
pemimpinnya itupun kemudian menjadi semakin kacau.
Seorang yang bertubuh tinggi kurus, yang bertempur melawan
Hudaya mencoba untuk mengambil alih pimpinan.
Dipanggilnya beberapa orang untuk menggantikan
perlawanannya terhadap Hudaya, dan ia sendiri meloncat
kesana kemari, memekik tinggi memberikan aba-aba kepada
sisa-sisa laskarnya. Namun usahanya itu tidak banyak
memberikan perubahan apaapa.
bahkan dengan demikian
maka ia memberi kesempatan
kepada Hudaya untuk
menghindari seitap lawannya,
dan membantu Sidanti yang
harus bertempur melawan
beberapa orang sekaligus.
***

Serangan orang-orang lain yang berusaha untuk
mencegahnya, terpaksa berhadapan dengan laskar Pajang
yang lain pula.
Demikianlah maka laskar Jipang disayap itu menjadi
semakin lemah. Kini orang yang tinggi kurus itulah yang
mengambil alih kebijaksanaan, mendekati induk pasukannya.
Didalam induk pasukan itu Tohpati bertempur dengan
dahsyatnya melawan Untara. Murid kepatihan Jipang yang
mendapat julukan Macan Kepatihan itu menggeram tidak
habis-habisnya. Untara ternyata mampu menandingi dalam
segala hal. Ketrampilannya, kecepatannya, bahkan
kekuatannya. karena itu, maka Tohpati itu semakin lama
menjadi semakin marah. Namun Untara tetap tak dapat
diatasinya.
Sedang Untarapun terpaksa mengerahkan segenap
kemampuan yang ada padanya. Tetapi bekal yang didapatnya
dari ayahnya Ki Saewa, ternyata cukup banyak untuk
menghadapi murid Mantahun ini.
Ketika mereka itu masih dicengkam oleh ketegangan,
karena pertempuran yang dahsyat diantara mereka, datanglah
seoran enghubung yang dengan hati-hati memberitahukan
kekalahan yang terjadi disayap kiri laskar Jipang itu. Dengan
tanda sandi, penghubung itu mengabarkan bahwa Plasa Ireng
terbunuh dipeperangan.
Alangkah terkejutnya Tohpati itu. Sekali ia meloncat jauh
kebelakang sambil berteriak nyaring “Siapa disayap laskar
Pajang itu?”
Orang itu berhenti sejenak untuk berpikir. Iam endengar
pimimpin laskar Pajang itu sesumbar menyebut namanya
sendiri. ketika kemudian teringat olehnya nama itu, maka
jawabnya “Namanya Sidanti”
“Sidanti?” ulang Tohpati
Yang menjawab adalah Untara “Orang itu berkata benar”
Tohpati menggertakkan giginya. Ingin pada saat itu ia
meremas tulang murid Tambak Wedi itu. “Hem, kenapa aku
tidak berusaha membunuhnya beberapa waktu dahulu? Aku
terlambat sesaat sehingga paman Widura mampu
membebaskannya” katanya dalam hati.

Kini Sidanti itu telah sempat membunuh seorang
kepercayaannya, Plasa Ireng. karena itu, maka kemarahan
Tohpati itupun telah meluap sampai keubun-ubunnya. Namun
ia tidak mendapat kesempatan sama sekali untuk
menumpahkan kemarahannya kepada Sidanti, sebab
dihadapannya masih berdiri Untara. Dan Untara ini masih
belum dapat dikalahkannya. karena itu, maka segera ia
menggeram “Pertahankan diri pada keadaan kalian kini.
Usahakan untuk menahan Sidanti dengan dua tiga kekuatan.
Sebentar lagi aku akan datang membunuhnya”.Orang itu
kemudian menghilang didalam hiruk-pikuk perkelahian,
kembali kesayap kiri. Disampaikannya pesan tu kepada orang
yang tinggi kurus, yang mengambil aluh pimpinan dari tangan
Plasa Ireng. Mendengar pesan itu maka orang itupun berteriak
“Pertahankan keadaan kalian. Macan Kepatihan sendiri
segera akan datang, membalaskan dendam kakang Plasa
Ireng“
“Plasa Ireng” desis Sidanti. Jadi orang yang dibunuhnya itu
adalah orang yang namanya ditakuti pula hampir seperti
Macan Kepatihan sendiri. dan karena itulah maka Sidanti itu
menjadi semakin membanggakan dirinya.
Berita itu telah membangkitkan kembali semangat
bertempur prajurit-prajurit Jipang itu. Sebagian dari mereka
segera menyerbu dengan dahsyatnya, sedang sebaigan yang
lain berusaha untuk tetap mengurung Sidanti dalam satu
lingkaran yang pepat.
Tetapi Hudaya tidak membiarkannya terpisah dari
laskarnya. karena itu, maka iapun segera berusaha
memecahkan kepungan itu, dan bertempur bersama-sama
dengan Sidanti. Namun meskipun Sidanti melihat usahausaha
yang dilakukan oleh Hudaya itu, tetapi ia tetap merasa,
bahwa dirinya sumber kemenangan dari laskar Pajang. Ia
yakin bahwa kekalahan sayap ini akan memperngaruhi
pertempuran keseluruhannya.
Tohpati yang marah itupun kini benar-benar memeras
tenaganya. Untara harus segera dibinasakan. Namun
membinasakan Untara adalah pekerjaan yang sulit. Tohpati itu

terpakasa melihat kenyataan yang dihadapinya, bahwa Untara
adalah seorang anak muda yang perkasa.
karena itu, maka perkelahian antara Macan Kepatihan dan
Untara itupun menjadi semakin sengit. Masing-masing telah
sampai kepuncak kemampuan mereka. Namun kini Untara
dapat memusatkan segenap perhatiannya pada lawannya
yang menakutkan ini, sebab dari pertanda yang ditangkapnya,
maka agaknya keadaan sayap kiri lawannya menjadi parah.
Dan Untara itu dapat memperhitungkan pula, bahwa Sidanti
berhasil membinasakan pimpinan sayap itu.
Namun Tohpati yang marah itu sedang membuat
perhitungan pula atas keadaannya. karena itu, maka kini ia
membiarkan Untara menyerangnya dan Tohpati
menempatkan dirinya dalam suatu pertahanan yang rapat. Ia
mencoba menilai sayap-sayap lainnya dan laskar yang dibawa
oleh Sanakeling.
“Disamping Untara dan Sidanti masih ada paman Widura”
katanya dalam hati. Namun Tohpati itu masih memiliki satu
kelebihan menurut dugaannya. Alap-alap Jalatunda.
“Meskipun demikian anak itu mampu mempengaruhi
keseimbangan keadaan”
Menurut perhitungan Macan Kepatihan yang berotak cair
itu, maka Widuralah yang telah mundur kembali ketika
didengarnya tanda bahaya, dan menyerahkan pimpinan
kepada Untara. karena itu, maka Tohpati mengharap bahwa
Widura itu akan menemukan lawannya yang seimbang,
Sanakeling. Sedang Alap-alap Jalatunda akan merupakan
seorang yang akan dapat menggilas laskar Pajang
diarenanya. Kalau orang-orang disayap kiri mampu bertahan
terhadap Sidanti, mak orang-orangya disayap kanan pasti
akan dapat menguasai lawannya dibawah pimpinan Alap-alap
Jalatunda.
Perhitungan Macan Kepatihan itu hanya sebagian saja
yang tepat. Namun ia tidak tahu, bahwa disayap kiri lawannya,
terdapat seorang anak muda yang bernama Agung Sedayu.
Yang meskipun masih sangat hijaunya, namun ia memiliki
persiapan yang jauh dari cukup. Persiapan-persiapan yang

selama ini tersimpan saja didalam dirinya. Kini sedikit demi
sedikit kekuatan yang membeku itu mulai dicairkannya.
Demikianlah maka akhirnya Tohpati mengambil
kesimpulan, bahwa keadaan laskarnya tidak terlalu parah.
Tetapi kemenangan-kemenangan kecil yang semula mulai
tampak dipihaknya, kini telah runtuh satu demi satu. Dengan
penuh tanggung-jawab Tohpati telah mengirim beberapa
orang untuk membantu sayap yang lemah disebelah kiri.
Orang-orang itu diharap dapat membantu menutup kebebasan
gerak Sidanti. Beru kemudian ia memusatkan perhatiannya
atas lawannya. Untara.
Untara yang bertempur dengan dahsyatnya itupun
menyadari, bahwa ia harus memeras segenap
kemampuannya. Dan kini hal itu telah dilakukannya. Sehingga
betapapun Tohpati berusaha untuk menguasainya, namun
usaha itu akan sia-sia saja.
Bahkan ketika Untara telah sampai kepuncak segala
macam ilmu yang tersimpan didalam dirinya, terasa bahwa
Macan Kepatihan bukanlah seorang yang tak dapat
dikalahkan. Dalam remang-remang cahaya obor, Untara yang
menerima turunan ilmu ayahnya itu, ternyata sempat
membingungkan Macan Kepatihan. Tongkat putih yang
menakutkan berujung kuning itu, sama sekali tidak lebih
mengerikan dari gerak pedang Untara. Pedang itu mampu
berputar dan mematuk dari segenap arah, menembus
gumpalan cahaya putih dan garis-garis kuning yang
membentengi Tohpati. Sekali-sekali terdengar kedua macam
senjata itu beradu, dan meloncatlah bunga-bunga api keudara.
Senjata Tohpati itu memang sebenarnya merupakan
senjata yang luar biasa. Hampir dalam setiap benturan
dengan pedang Untara, pasti meninggalkan bekas luka pada
pedang itu. Beberapa bagian tajamnya telah terpecah-pecah
sehingga pedang itu benar-benar mirip sebuah gergaji.
Untunglah pedang yang dipinjamnya dari Widura itu bukan
pula sembarang pedang. Sehingga betapapun kerasnya
benturan yang terjadi diantara kedua senjata yang digerakkan
oleh tenaga-tenaga raksasa itu, namun pedang itu tidak juga
dapat dipatahkan. Meskipun demikian, menyadari perbedaan

sifat kedua senjata itu, Untara kemudian tidak mau
membenturkan senjatanya langsung dalam arah yang
bertentangan. Untara selalu berusaha untuk memukul senjata
lawannya agak kesamping. Namun Untara itupun terpaksa
memperhitungkan apabila perkelahian itu berlangsung terlalu
lama, maka senjatanya akan menjadi semakin lemah.
Tetapi kelincahan, ketangkasan dan ketrampilan Untara
yang telah memeras segala macam ilmu yang dimilikinya itu,
ternyata benar-benar membingungkan Tohpati. Tohpati yang
ditakuti disetiap pertempuran dan bahkan setiap prajurit
musuhnya tidak berani menyebut namanya, namun ternyata
kini ia menemukan lawan yang tanggon. Nama Untarapun
merupakan nama yang mengerikan bagi laskar Jipang hampir
disetiap garis peperangan. Disamping kecerdasannya
mengatur laskarnya, Untarapun memiliki beberapa kelebihan
dari beberapa senapati yang lain. Dan ternyata Untarapun
mempunyai beberapa kelebihan dari Tohpati.
Keadaan Tohpati semakin lama menjadi semakin sulit.
Apalagi ketika disadarinya, bahwa laskarnya disayap kiri
benar-benar hampir pecah bercerai berai. karena itu, maka
Macan Kepatihan yang garang itu menjadi cemas. Cemas
akan nasib laskarnya yang sudah tidak begitu besar lagi
jumlahnya, yang dengan susah payah dikumpulkan dari
segala medan khusus untuk merebut daerah perbekalan ini.
Namun sekali lagi Macan Kepatihan itu terpaksa mengumpat
tak habis-habisnya. Ia merasa kini, bahwa gerakannya pasti
sudah tercium oleh hidung Untara itu sebelumnya, sehingga
Sangkal Putung benar-benar sudah siap menghadapi
kedatangannya.
Dua kali ia dikecewakan oleh laskar Pajang di Sangkal
Putung “Namun akan datang saatnya aku menebus setiap
kekalahan” geramnya.
Tetapi Untara itu seakan-akan menjadi semakin lama
menjadi semakin lincah. Pedangnya berputaran mengitari
segenap tubuhnya dari segala arah. Bahkan kemudian, sekalisekali
terasa ujung pedang itu menyentuhnya.
“Setan” geramnya. Dan diputarnya tongkatnya semakin
cepat. Tetapi Untarapun bergerak semakin cepat pula. anak

muda, yang mendapat kepercayaan langsung dari panglima
Wiratamtama itu benar-benar tidak mengecewakan. Dan ia
benar-benar dapat menanggulangi kedahsyatan Tohpati.
Alangkah terkejutnya Macan Kepatihan itu, ketika dalam
sebuah benturan yang dahsyat, tongkatnya tergetar
kesamping. Hanya sesaat yang sangat pendek, ia melihat
pedang Untara terjulur lurus kedadanya. Tohpati berusaha
untuk memukul pedang itu kembali dengan tongkatnya,
namun pedang itu berputar, dan dengan cepatnya pedang itu
menyentuh lengannya. Ketika Untara menarik pedang itu,
maka tajamnya yang menyerupai gergaji itu meninggalkan
bekas luka ditangan Tohpati. Luka yang menganga seperti
luka bekas gergaji. Terdengar Tohpati menggeram pendek.
Dengan cepatnya ia meloncat kesamping, dan sesaat ia
berusaha menjauhi Untara. Ketika ia memandang lengannya,
dilihatnya darah mengalir dari lukanya yang menganga,
seolah-olah dagingnya telah disayat dengan sebuah gergaji
yang tumpul.
“Gila kau Untara” desis Tohpati. Matanya yang meyala
menjadi semakin merah karena kemarahannya yang
memuncak. Mulutnya itu meskipun terkatub rapat, namun
terdengar giginya gemeretak. Dengan sebuah teriakan tinggi
Macan Kepatihan itu meloncat dengan garangnya, langsung
menyerang Untara dengan tongkatnya. Sebuah ayunan yang
deras sekali menyambar kepala Untara. Namun Untara tidak
tertidur karena kemenangan kecil itu. Dengan demikian segera
ia merendahkan dirinya dan tongkat Tohpati itu terbang lewat
diatas kepalanya.
Pertempuran yang sangat seru segera berkobar kembali.
Tohpati yang membara karena kemarahannya, melawan
Untara yang dengan sekuat tenaga ingin segera
menyelesaikan pekerjaannya yang sudah mulai tampak akan
berhasil. Sehingga dengan demikian kembali mereka
bertempur dalam puncak ilmu masing-masing.
Namun kali inipun segera terasam bahwa Untara memang
luar biasa. Meskipun ia masih lebih muda dari Tohpati, namun
Tohpati itu tidak dapat menutup kenyataan, bahwa Untara
mampu menandinginya dari selaga segi.

Kini Tohpati terpaksa membuat pertimbangan-pertinbangan
baru. Ia tidak boleh tenggelam dalam arus perasaan melulu. Ia
harus mampu meninjau pertempuran itu dalam segala segi,
segala kemungkinan dan segala akibat yang dapat timbul
karenanya.
Keringkihan disayap kiri benar-benar sangat
mengganggunya. Sedang Alap-alap Jalatunda yang diharap
akan dapat menimbulkan pengaruh yang baru bagi
perimbangan kedua pihak, ternyata masih belum mampu
berbuat apa-apa. Karena itu maka Tohpati terpaksa sampai
pada suatu keputusan untuk menghindarkan laskarnya dari
kehancuran.
Dalam kekalutan itu, sekali lagi Tohpati mencoba melihat
pertempuran itu. Namun malam sangat pekatnya. Ia hanya
melihat titik pertempuran disayap kirinya telah bergeser jauh
kebelakang, dan sayap kanannya masih saja belum mencapai
kemajuan. Sedang diinduk pasukannya, meskipun laskarnya
mendapat beberapa kesempatan yang baik, namun ia sendiri
telah terluka.
Untara yang telah masak itu melihat setiap kemungkinan
yang akan dilakukan oleh Tohpati. Ketika ia melihat sikapnya,
serta usahanya untuk melihat seluruh laskarnya, maka Untara
dapat meraba maksudnya. karena itu, maka tekanannya
diperketa, sehingga hampir-hampir Tohpati itu tidak sempat
berbuat lain daripada mempertahankan dri dari ujung pedang
Untara yang seakan-akan terbang memgelilingi kepalanya.
Sementara itu, laskar Tohpati disayap kiri telah benar-benar
hampir lumpuh, sehingga mereka tidak mampu lagi untuk
bertahan sendiri. mereka itu kemudian segera
menggabungkan diri dengan induk pasukan mereka.
Keadaan kedua pasukan diinduk pasukan itu kini menjadi
semakin ribut. Pertempuran diantara mereka menjadi seakanakan
tidak teratur lagi. Tetapi meskipun demikian, kedua
laskar itu masih tetap bertempur dengan gigihnya. Hanya
anak-anak muda Sangkal Putung kini benar-benar telah
menjadi pening. Meskipun beberapa orang laskar Widura
terus menerus berusaha untuk menuntun mereka dan bahkan
selalu mendampingi mereka, namun keadaan mereka itu agak

berbeda dengan laskar Pajang maupun laskar Jipang.
Sehingga dengan demikian maka keseimbangan kedua laskar
itu semakin lama menjadi semakin berat sebelah pula. Tetapi
dipihak Pajang mempunyai kelebihan yang ikut serta
menemtukan keseimbangan itu. Sidanti yang lepas tidak
mempunyai lawan yang seimbang itu, mengamuk seperti
serigala lapar. Namun beberapa orang Jipang yang berani
telah mengepungnya. Mereka berusaha untuk selalu
membatasi gerak Sidanti itu. Tetapi setiap saat Hudaya selalu
berhasil memecahkan kurungan itu, dan melepaskan Sidanti
untuk bertempur seperti elang yang merajai udara.
Tohpati adalah seorang pemimpin yang bertanggungjawab.
Ia tidak mau membiarkan korban berjatuhan tanpa arti.
Setelah memperhitungkan keadaan masak-masak, maka
yakinlah ia, bahwa ia tidak akan dapat menembus benteng
yang dipertahankan oleh Untara itu. Bahkan tangannya yang
telah terluka itu, semakin lama menjadi semakin lemah. Dan
darah yang mengalir menjadi semakin banyak pula.
Betapa Macan Kepatihan itu menjadi marah, dan betapa ia
menjadi sangat buas, namun ia tidak dapat menuruti
perasaannya tanpa menghiraukan kenyataan.
Sesaat kemudian terdengarlah Macan Kepatihan itu bersuit
panjang. Suitannya itu segera disambut oleh beberapa
pemimpin kelompok didalam pasukannya. Dan sesaat
kemudian menyalalah berpuluh-puluh anak panah berapi.
Untara terkejut melihat hal itu. Tetapi sebelum ia sepat
berbuat apa-apa, maka panah-panah api itu seperti hujan
berjatuhan didaerah laskarnya.
“Gila” Untara mengumpat. Ia tidak menyangka bahwa hal
itu akan dilakukan oleh laskar Tohpati. Meskipun ia tahu betul
bahwa Macan Kepatihan membuat anak panah api, tetapi
disangkanya anak panah itu hanya untuk dipergunakan untuk
membakar rumah atau apapun di Sangkal Putung sehingga
menimbulkan kekacauan dan mempengaruhi ketahanan
orang-orang Sangkal Putung.
Usaha Tohpati itu sebagian berhasil. Beberapa anak-anak
muda Sangkal Putung menjadi kacau dan hampir kehilangan

akal. Namun tiba-tiba terdengar Untara berteriak “Berlindung
didaerah lawan”
Anak-anak muda Sangkal Putung mula-mula tak mengerti
maksud aba-aba itu. Namun orang-orang Widura mendahului
mereka, menyerang dan langsung menyusup kedaerah
perlawanan musuh. Tetapi suitan itu ternyata mempunyai arti
yang lain pula. demikian laskar Pajang berusaha masuk dalam
garis pertahanan itu, maka laskar Jipangpun surut
kebelakang. Bahkan semakin lama menjadi semakin cepat.
Dan kemudian ternyatalah bahwa laskar Jipang sedang
menarik diri.
Untara melihat kenyataan itu. Ia berusaha untuk tidak
melepaskan lawannya. Mereka harus dapat melumpuhkan
pasukan Macan Kepatihan, sehingga untuk seterusnya tidak
mendapat kesempatan berbuat serupa. Menyerang Sangkal
Putung dengan kekuatan yang berbahaya.
Demikian pula terjadi disayap kanan laskat Tohpati itu.
Agung Sedayu yang menunggu kekuatan terakhir yang akan
diungkapkan oleh Alap-alap Jalatunda menjadi bertanya-tanya
didalam hati. Apakah Alap-alap Jalatunda itu sudah sampai
pada puncak kekuatannya? Kalau demikian, apakah yang
didengar tentang Alap-alap Jalatunda hanya sekedar
dongengan untuk menakutkan orang-orang yang
mendengarnya. Atau kemampuan dirinya telah cukup
mengatasi alap-alap itu dengan mudah?
Dalam kebingungan itulah Agung Sedayu melihat laskar
lawannya surut dengan cepat. Betapa ia berusaha mengejar
lawannya, namun Alap-alap Jalatunda itu kemudian
menenggelamkan diri dalam hiruk pikuk laskarnya. Mereka
mundur sambil melawan serta melepaskan anak panah.
“Bukan main” desah Agung Sedayu. “Mereka
mempergunakan anak panah” Agung Sedayu itu menyesal
bahwa ia tidak membawa anak panah dan busur. Tetapi tibatiba
ia terngat, bahwa dalam sakunya ada beberapa butir batu.
Timbullah keinginannya untuk bermain-main dengan batu itu.
Sekali ia melepaskan sebuah batu, maka terdengarlah
seorang lawannya yang sedang membidikkan anak panah

memekik tinggi, dan dalam remang-remang Agung Sedayu
melihat orang itu jatuh terjerebab. Sesaat ia melihat orang itu
menggeliat dan menahan sakit.
Agung Sedayu terkejut melihat akibat perbuatannya. Orang
itu tampaknya menjadi sangat menderita. karena itu, maka
tiba-tiba ia berlari-lari mendekatinya.
“Kenapa kau?” terndengar Agung Sedayu bertanya.
Orang itu masih menggeliat dan menyeringai kesakitan.
Dipegangnya perutnya sambil mengaduh tak habis-habisnya.
Sementara itu kawan-kawannya telah semakin jauh, mundur
dari pertempuran.
Agung Sedayu mencoba menangkap lawannya yang
kesakitan itu dan dicobanya untuk menenangkannya “Jangan
berguling-guling”
Tetapi alangkah terkejutnya Agung Sedayu itu, karena
sesaat kemudian orang itupun menjadi diam membeku.
“Oh” desah Sedayu “Apakah kau mati he?”
Dan sebenarnya orang itupun telah mati. karena itu, maka
Agung Sedayu menyesal bukan main. Tetapi ia tidak akan
dapat menghidupkannya lagi.
Swandaru juga melihat Agung Sedayu sibuk dengan orang
itu mendekatinya sambil bertanya “Kenapa dengan orang itu?”
“Aku tidak sengaja membunuhnya. Tetapi orang ini mati”
“Kenapa kalau mati? Bukankah orang itu orang Jipang?”
Agung Sedayu kini telah tegak berdiri. Digigitnya bibirnya.
Dan terasa sesuatu berdesir didadanya. “Ya” katanya dalam
hati. “Apakah kita sudah sampai sedemikian jauh menyimpang
dari peradaban manusia? Meskipun orang itu orang Jipang,
Pajang atau orang yang ditemuinya dipinggir jalan sekalipun
namun selama ia masih bernama manusia, apakah kita
biarkan saja mereka mati selagi masih ada kesempatan untuk
menolongnya?”
Tetapi ketika Agung Sedayu melayangkan pandangan
matanya, maka dilihatnya diberbagai tempat, tubuh-tubuh
yang terbaring membeku. Tetapi ada juga diantaranya
terdengar merintih menahan sakit. Agung Sedayu belum
pernah melihat medan pertempuran. Kali ini adalah kali yang
pertama. Karena itu ia menjadi ngeri. Meskipun kini ia tidak

tahut lagi untuk bertempur, tetapi apa yang dilihatnya benarbenar
mendirikan bulu romanya.
Namun sesaat kemudian Agung Sedayu itu mendengar
Swandaru berkata “Marilah. Musuh kita masih berada
dipelupuk mata kita”
Agung Sedayu menarik nafas dalam-dalam. Sesaat
kemudian dilihatnya Swandaru meloncat dan berlari kearah
laskar Jipang mengundurkan dirinya. Agung Sedayupun
kemudian mengikutinya pula, namun hatinya benar-benar
digelisahkan oleh pengalamannya yang pertama itu.
Meskipun demikian, ada sesuatu yang didapatkannya
dimedan peperangan itu. Disadarinya kemudian bahwa Alapalap
Jalatunda pada saat-saat bertempur, sama sekali bukan
sekedar menunggunya lelah sambil menyimpan kekuatan
terakhirnya. Tetapi Alap-alap Jalatunda itu benar-benar telah
mengerahkan segenap kemampuannya. Maka hatinya
menjadi semakin besar. Agung Sedayu itu semakin melihat
kemampuan yang tersimpan didalam dirinya. Ternyata Alapalap
Jalatunda yang pernah menghantuinya itu tidak lebih
daripada yang disaksikannya itu, yang ternyata masih berada
dibawah kepandaiannya bermain pedang.
“Aneh” desahnya didalam hati. “Apakah yang selama ini
memagari keberanianku untuk berbuat seperti ini?”
Agung Sedayu itu menjadi semakin percaya kepada diri
sendiri. Tetapi ia masih belum dapat melihat tubuh-tubuh yang
bergelimpangan dibekas medan pertempuran itu.
Laskar Jipang itupun kemudian mengundurkan dirinya
dengan cepat sambil melawan terus, sehingga dengan
demikian maka laskar Pajangpun tidak dapat berbuat banyak.
Mereka hanya dapat mendesak laskar musuhnya itu. Dalam
keadaan yang demikian, maka laskar dikedua belah pihak
hampir bercampur baur dalam satu lingkaran pertempuran.
Namun kemudian laskar Jipang itu menyebar dan dengan
cepat berusaha menyusup kedalam sebuah desa yang
pertama-tama mereka temui.
Diujung selatan induk desa Sangkal Putung, Sanakeling
melihat diarah barat, panah api menari-nari diudara. karena
itu, maka ia menjadi terkejut. Ia tidak menyangka bahwa

laskar induknya terpaksa mengundurkan diri. “Kalau demikian”
katanya dalam hati “Maka laskar yang aku hadapi dan
dipimpin oleh Widura sendiri ini bukan laskar induk. Jadi
siapakah yang memimpin laskar induk lawan ini?”
Tetapi Sanakeling tidak mendapat jawabannya. Dan ia
tidak sempat untuk menanyakannya. Kini ia harus mematuhi
perintah itu meskipun sebenarnya keadaan laskarnya sendiri
sama sekali tidak mengkhawatirkan. Tetapi kalau laskar induk
lawannya yang telah ditinggalkan oleh laskar Jipang itu
mengepungnya, maka laskarnya pasti akan tumpas. karena
itu, maka tidak ada pilihan lain daripada mengundurkan diri
pula.
Demikianlah maka seluruh pasukan Tohpati itu kini telah
ditarik mundur. Widurapun tidak berusaha mengejar lawannya
terlampau jauh. Sanakeling berhasil juga mengundurkan
dirinya dengan teratur, sehingga dari pihaknya tidak terlalu
banyak korban yang jatuh.
Induk pasukan yang dipimpin oleh Untara itu mengejar
lawannya sampai kedesa pertama yang dapat dicapai oleh
laskar lawannya. Demikian mereka memasuki desa itu, maka
seakan-akan mereka telah lenyap ditelan kegelapan. Oborobor
mereka segera menjadi padam, dan orang-orang
merekapun segera menyelinap dan hilang dibalik daundaunan
yang rimbun serta rumpun-rumpun bambu yang lebat.
Laskar Pajang sejenak menjadi ragu-ragu. Mereka sama
sekali tidak mendengar seorangpun memberikan aba-aba
kepada mereka. Apakah mereka harus mengejar lawan itu
terus atau mereka harus berhenti dibatas desa itu. Sebab
alangkah berbahayanya melakukan pengejaran didalam gelap
yang pekat itu.
Yang terdengar kemudian adalah suara Sidanti “He,
apakah yang harus kami lakukan?”
Tak ada suara yang menyahut. Karena itu sekali lagi
Sidanti berteriak “Apakah laskar Pajang ini laskar yang liar,
yang dapat berbuat sekehendak diri kita masing-masing? Ayo,
bagi yang memegang pimpinan, berikan perintah”

Kembali suara itu bergulung-gulung dan hilang ditelan
kabut malam.
Semua yang mendengar suara Sidanti itu menjadi tegang.
Mereka menunggu jawaban dari pimpinan mereka. Namun
jawaban yang ditunggunya itu tidak juga kunjung datang.
Hudaya, Sidanti dan beberapa orang lagi menjadi gelisah.
Citra Gati dan Agung Sedayu dari sayap yang lainpun telah
bergabung dalam induk pasukan itu pula.
Dalam ketegangan itu terdengar suara Agung Sedayu
gelisah “Kakang Untara, kakang Untara”
Tetapi Untara tidak menyahut. Karena itu seluruh laskar
Pajangpun menjadi gelisah. Dalam hiruk pikuk pengejaran
mereka tidak melihat kemana Untara pergi. Beberapa orang
dari mereka masih melihat Untara berhasil melukai Tohpati.
Dan kemudian berusaha mengejarnya. Tetapi tiba-tiba Untara
itu seakan-akan menjadi hilang lenyap ditelan oleh malam
yang kelam.
Suasana segera meningkat menjadi semakin tegang.
Ternyata Untara telah hilang. Dengan demikian, maka laskar
Pajang iu benar-benar menjadi bingung. Mereka tidak tahu
apa yang mereka lakukan.
Dalam ketegangan itu terdengar suara Citra Gati “Siapakah
yang melihat ki Untara untuk yang terakhir kalinya?”
“Aku” jawab salah seorang “Pemimpin kita itu telah melukai
Macan Kepatihan. Tetapi dalam hiruk pikuk pengejaran aku
tidak melihatnya”
“Dimana?” bertanya Citra Gati pula.
“Digaris pertempuran tadi”
“Mari kita cari”
Beberapa orang segera bergerak kembali kegaris
pertempuran beberapa langkah dibelakang mereka. Tetapi
terdengar Sidanti berkata “Kenapa kita cari ia disana.
Bukankah ia telah berhasil melukai Macan Kepatihan dan
mengejarnya. Marilah kita cari kedepan, kedalam desa ini”
Citra Gati berpikir sejenak. Untara pasti tidak akan berbuat
demikian. Berbuat sendiri dan meninggalkan laskarnya dalam
keragu-raguan. Pemimpin yang bodohpun akan tahu, bahwa
keragu-raguan dalam barisannya adalah sangat berbahaya.

Maka sesaat kemudian ia menyahut “Kita cari digaris
pertempuran”“Tidak” sahut Sidanti “Jangan membuang waktu”
****

Share this article :

Posting Komentar

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. EBOOK JADUL . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger