Widget Recent Comments by Anyail Bedeh Beih
News Update :
Home » » Api Di Bukit Menoreh Part 1

Api Di Bukit Menoreh Part 1

Penulis : Unknown on Selasa, 28 Januari 2014 | 19.30

 

Koala


Buku 01
Api di Bukit Menoreh

SEKALI_SEKALI terdengar petir bersabung di udara.
Setiap kali suaranya menggelegar memenuhi lereng Gunung
Merapi. Hujan diluar se-akan2 tercurah dari langit.

Agung Sedayu masih duduk menggigil diatas amben
bambu. Wajahnya menjadi kian pucat. Udara sangat dingin
dan suasana sangat mencemaskan.
“ Aku akan berangkat “ tiba2 terdengar suara
kakaknya,Untara dengan nada rendah.
Agung Sedayu mengangkat wajahnya yang pucat. Dengan
suara gemetar ia berkata“ Jangan, jangan kakang berangkat
sekarang”
“Tak ada waktu“ sahut kakaknya “sisa2 laskar Arya
Penangsang yang tidak mau melihat kenyataan menjadi gila
dan liar. Aku harus menghubungi paman Widura di Sangkal
Putung. Kalau tidak, korban akan berjatuhan. Anak2 Paman
Widura akan mati tanpa arti. Serangan itu akan datang
demikian tiba- tiba”.
“ Tidakkah ada orang lain yang dapat menyampaikan berita
itu? Potong adiknya.
“ Tak ada orang lain “ sahut kakaknya.
“ Tetapi…. “ bibir Sedayu gemetar.
“ Aku harus pergi “ Untara segera bangkit. Tetapi tangan
adiknya cepat2 menggapai kainnya.
“ Jangan,jangan “ adiknya berteriak “aku takut”
Untara menarik nafas panjang. Katanya “ kau hanya akan
berada di rumah ini sendirian malam nanti. Besok kau pergi ke
Banyu Asri. Kau akan tinggal disana sampai aku pulang”.
“ Aku takut,justru malam ini “ sahut adiknya “ bagaimana
kalau laskar yang liar itu datang kemari “
“ Mereka tak akan datang kemari “ jawab kakaknya “ aku
tahu pasti. Mereka akan menyergap Paman Widura. Karena
itu aku harus pergi”
“ Tidak - tidak “ mata Sedayu mulai basah. Dan akhirnya
dari matanya itu melelehkan air mata.
Sekali lagi Untara menarik nafas panjang-panjang. tanpa
sesadarnya ia terlempar kembali, duduk disamping adiknya.
Hatinya menjadi bingung. Ia tidak dapat berpangku tangan
terhadap laskar Widura yang sedang terancam bahaya. Tetapi
adiknya benar2 penakut. Anak yang telah mendekati usia 18

tahun itu sama sekali menggantungkan dirinya kepada orang
lain. Sepeninggal ayahnya beberapa tahun yang lampau dan
ibunya yang baru beberapa bulan, maka anak itu hamper tidak
pernah berpisah darinya. Apalagi didalam kekalutan keadaan
seperti saat itu. Sehingga dengan demikian Untara merasa seakan2
memelihara anak bayi.
“ Sedayu” katanya kemudian “umurmu telah hampir 18
tahun. Dalam usia itu Adipati Pajang yang dahulu bernama
mas Karebet, telah menggemparkan Demak, dan sekarang
dalam usia yang muda pula, Sutawijaya berhasil melawang
Penangsang yang perkasa “
“Aku bukan mereka“ jawab Sedayu
Untara mengeleng-gelengkan kepalanya, katanya “setidaktidaknya
kau harus malu kepada dirimu sendiri”
“Tetapi aku takut” Sedayu tidak menghiraukan kata-kata
kakaknya.
Kembali Untara termenung. Adalah salahnya sendiri,
apabila pada masa kanak-kanaknya adiknya itu terlalu
dilindunginya. Kenakalan kawan-kawannya pasti akan
dihadapinya. Karena itulah maka Sedayu terlalu tergantung
padanya. Dan sampai masa dewasanya, ia tidak mampu
berdiri diatas kakinya sendiri. Meskipun adiknya itu selangkah
dua langkah diajarnya juga cara-cara membela diri dan
didalam latihan-latihan dapat juga menunjukkan kelincahan
dan ketangkasan, namun kelincahan dan ketangkasannya itu
terbatas dibelakang dinding-dinding rumahnya. Hatinya terlalu
kecil untuk berhadapan dengan dunia. Terasa betapa kerdil
jiwanya. Apalagi setelah didengar oleh Agung Sedayu, betapa
laskar Penangsang yang sedang berputus asa itu berkeliaran
dilereng gunung Merapi.
Untara kini benar-benar kebingungan. Ia menjadi gelisah,
sedang waktu merambat terus kepusat malam. Dan hujan
masih saja memukul atap-atap rumah dan dedaunan.
Tiba-tiba Untara mengangkat wajahnya, gumamnya
“Bagaimana kalau kau ikut”. Namun terasa hatinya sendiri
beragu. Kalau ada bahaya diperjalanan dan adiknya itu kena
cidera, maka seluruh sanak keluarganya, terutama paman dan
bibinya di Banyu Asri akan menyalahkannya.

Agung sedayu memandang wajah kakaknya yang suram. Ia
tidak mengerti kenapa kakaknya, pada malam yang gelap dan
hujan yang pekat, memaksa diri pergi ke Sangkal Putung.
Ketika Sedayu sedang mencoba untuk berpikir, terdengar
kakaknya berkata “Bagaimana Sedayu? Kau tinggal dirumah,
atau kau ikut serta?”
“Kedua-duanya tidak menyenangkan” jawab Agung
Sedayu.
“Kau harus memilih salah satu dari keduanya” jawab
kakaknya, yang akhirnya tidak menemukan jalan lain. Sebab
yang melingkar-lingkar didalam dadanya adalah “laskar
paman Widura harus diselamatnyan”, dan itu adalah
kewajibannya.
Agung Sedayu menjadi bingung. Keduanya sama sekali tak
menarik baginya. Tetapi ia tidak dapat merubah keputusan
kakaknya untuk pergi ke Sangkal Putung. Karena itu akhirnya
ia memilih untuk ikut serta meskipun dengan dada yang
berdebar-debar.
“Bagaimana kalau kita berjumpa dengan laskar itu
diperjalanan” bertanya Agung Sedayu.
“Kemungkinan yang sama dengan kedatangan mereka
kerumah ini” sahut kakaknya.
Agung Sedayu tidak bertanya lagi. Ketika kakaknya berdiri
dan meraih kerisnya dari glodog disamping pembaringannya,
Agung Sedayupun berdiri pula. Dibetulkannya letak
pakaiannya dan kemudian diteguknya air sere dari mangkuk
bamboo dengan bibir yang gemetar. Namun hatinya tidak mau
tenang juga.
“Bawa kerismu” perintah kakaknya.
Agung Sedayu menjadi semakin gelisah, tetapi dengan
tangan yang menggigil disisipkannya kerisnya dipinggang kiri.
Diikutinya langkah kaki kakaknya melompati tludak pintu
menuju ke kandang kuda dibelakang rumah. Namun ketika
mereka telah berada diatas punggung-punggung kuda,
kembali Agung Sedayu berdesah “Apakah pekerjaan ini tidak
dapat ditunda?”
Kakaknya menggeleng “tidak” jawabnya “besok pagi-pagi
laskar yang liar itu akan menghantam paman Widura”

Agung Sedayu memandang malam yang pekat dengan
dada yang berdentang-dentang. Pakaiannya telah basah
kuyup oleh hujan yang semakin deras.
“Berdoalah” bisik kakaknya “Tuhan bersama kita”
Agung Sedayu menggangguk kecil. Tampaklah bibirnya
bergerak-gerak. Disebutnya nama Allah Maha Pemurah dan
Maha Pengasih.
Kemudian bergeraklah kuda-kuda itu menyusup kedalam
kekelaman malam.
Sesaat kemudian mereka meninggalkan padukuhan Jati
Anom menuju kearah timur. Dibelakang mereka berdiri tegak
gunung Merapi yang berselimut kepekatan malam dan
kepadatan butir-butir air hujan yang berjatuhan dari langit.
Ketika guruh menggelegar diudara dan kilat menyambar
diatas kepala mereka sekilas tampaklah jalan yang menjalur
dibawah kai-kaki kuda mereka. Becek dan merah, diwarnai
oleh tanah liat yang telah bertahun-tahun sedikit demi sedikit
meluncur dari lereng-lereng bukit.
Untuk beberapa saat mereka berdiam diri terpaku diatas
punggung kuda masing-masing. Hanya setiap kali Agung
Sedayu selalu menoleh kepada kakaknya, seakan-akan takut
ditinggalkannya. Tetapi kakaknya itu selalu menundukkan
kepalanya. Sebenarnyalah ia sedang berpikir. Apakah yang
kira-kira akan terjadi diperjalanan dan apakah yang akan
terjadi besok apabila laskar yang liar itu benar-benar akan
menyerang. Kedudukan Widura tidak begitu menguntungkan
dan jumlah orangnyapun tidak begitu banyak, sebab Sangkal
Putung bukanlah daerah yang langsung menghadapi
pertempuran. Tetapi sisa-sisa laskar Arya Penangsang
yangtidak mau melihat kekalahan Adipati Jipang itu berusaha
untuk menimbulkan keributan dimana-mana. Mereka
berkeliaran, bahkan melingkari Pajang dan kemudian
menyerang daerah-daerah yang jauh dibelakang garis perang.
Mereka datang setiap saat, dan kemudian menghilang seperti
hantu. Hutan-hutan jati dan bahkan hutan-hutan belukar
menjadi tempat persembunyian mereka.
Demikianlah petang tadi, sampang Untara menerima berita
tentang laskar yang telah kehilangan tujuan perjuangannya itu.

Merkea berhasrat untuk menyerang Sangkal Putung Timur.
Dan agaknya Widura sama sekali tidak menduga. Namun
lumbung-lumbung yang padat di Sangkal Putung, pasti akan
dapat memberi perbekalan yang baik bagi laskar yang liar itu.
Dan memang itulah tujuan mereka.
Angan-angan Untara terputus ketika mendengar adiknya
berbisik “Kakang, kau melihat bayangan dihadapan kita?”
Untara mengerutkan keningnya “Ya” jawabnya.
“Orang?” berbisik Agung Sedayu.
Untara menggeleng “Jangan mengada-adaSedayu.
Bukankah itu batang pohon jati yang roboh karena angina tiga
hari yang lampau?”
Sedayu mempertajam pandangannya. Namun bayangan itu
seperti seseorang yang bertubuh raksasa menghalang
dipinggir jalan. Tiba-tiba bulu-bulunya meremang dan hatinya
menjadi tegang. Ia merapatkan kudanya kesisi kuda
kakaknya.
“Hem” kakaknya menggerang “Kau bukan anak-anak lagi
Sedayu. Seharusnya kau berani menempuh perjalanan ini
seorang diri”
Sedayu diam saja. Tetapi hatinya masih tegang.
Ketika kilat menyambar dilangit, dan nyalanya memenuhi
lereng gunung Merapi itu, Sedayu menarik nafas panjang,
Bayangan itu benar-benar pokok pohon jati yang patah diputar
angin.
Tetapi baru saja Sedayu bernafas lega, tiba-tiba kembali
dadanya berdebar-debar. Tidak jauh dihadapan mereka
terbentang padang rumput dan beberapa ratus langkah lagi,
tampak tegak sebatang pohon beringin raksasa. Daerah yang
biasa disebut Lemah Cengkar.
“Kita lewat jalan ini?” terdengar suaranya lirih diantara
gemerisik hujan.
“Kenapa?” Tanya kakaknya.
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi kakaknya sudah
tahu jawabnya “Kau takut macan putih yang menjagai beringin
itu?”
Agung Sedayu mengangguk.

“Tidak” kakaknya meneruskan “Kita tidak lewat Lemah
Cengkar. Kita ambil jalan memintas. Kita belok ke kanan”
“Lewat jalan dipinggir hutan belukar?” Sedayu menjadi
semakin cemas.
“Ya” jawab kakaknya.
“Macanan?” desak adiknya.
“Ya”
Sedayu semakin gelisah. Katanya “Bagaimana kalau kita
tiba-tiba berjumpa dengan seekor harimau. Bukankah daerah
Macanan itu terkenal dengan harimau belangnya?”
“Harimau belang itu tidak seganas Macan Putih di Lemah
Cengkar” Untara menakut-nakuti adiknya, meskipun ia sama
sekali tidak takut terhadap macan putih maupun harimau
belang. Namun lewat Macanan jalan bertambah dekat.
Aung Sedayu terbungkam. Namun tubuhnya terasa
menggigil. Menggigil karena hatinya yang keciut dan menggigil
karena dingin. Tetapi kuda mereka berjalan terus. Bahkan
ketika Untara mempercepat lari kudanya, Sedayupun segera
melecut kudanya pula. Ia tidak mau berjarak lebih tebal tubuh
kudanya dari kuda kakaknya.
Perjalanan mereka menjadi kian sulit. Tanah yang liat
dijalan-jalan sempit itu tampak merah kehitam-hitaman.
Dihadapan merke terbentang hutan belukar. Pandangan mata
Untara yang tajam jauh mendahului kaki-kaki kudanya.
Tetapi tiba-tiba Untara mengangkat alisnya. Ketika kilat
menyambar ia melihat sesuatu dihadapannya. Kali ini ia
melihat bayangan. Bukan pokok kayu jati yang roboh. Dan
bayangan itu dilihatnya menghilang diujung jalan.
Untara menjadi berdebar-debar. Ia menoleh kapada
adiknya, namun agaknya Sedayu belum melihatnya.
Untara sendiri tidak pernah menjadi takut apapun yang
berada didepannya. Tetapi kali ini ia membawa adiknya.
Seandainya bayangan itu seekor harimau, maka akan
mudahlah untuk mengatasinya. Harimau tidak selalu
menyerang seseorang. Kalau harimau itu tidak berdiri
ditengah jalan, maka seandainya harimau itu lapar, kuda-kuda
mereka akan dapat berlari lebih kencang dari harimau itu.
Meskipun seandainya harimau itu mengadang mereka,

Untarapun tidak takut, sebab telah dua kali ia terpaksa
berkelai dengan harimau, dan harimau-harimau itu selalu
berhasil dibunuhnya. Dibunuh dnegan keris yang terselip
dipinggangnya itu.
Tetapi bayangan yang bergerak dan menghilang kedalam
hutan adalah bayangan yang tegak diatas kakinya. Ia melihat
dengan ketajaman matanya.Dan ia pasti bahwa bayangan itu
adalah bayangan seseorang.
Untara menarik nafas untuk merdedakan debar jantungnya.
Sekali lagi ia memandangi adiknya, bahkan tanpa disengaja ia
memperlambat kudanya.
Sedayupun cepat-cepat menarik kekang kudanya. Dengan
nafas yang bekejaran ia bertanya “Ada apa kakang?”
“Tidak ada apa-apa” sahut kakanya “Jalanan dihadapan
kita sangat licin”
“Oh” namun jantungnya menjadi semakin cepat
berdentang.
Akhirnya Untara menghentikan kudanya. Dilontarkannya
pandangan matanya kehutan dihadapannya “Apakah yang
tersembunyi dibalik kekelaman itu?”
Hati Agung Sedayu semakin cemas, desisinya :Adakah
sesuatu dihadapan kita?”
Untara berbimbang. Tidak seharunya ia menyembunyikan
bahaya yang mungkin berada dibalik kehitaman hutan itu.
Merkea harus berhati-hati. Tetapi kalau adiknya menjadi
ketakutan, keadaan akan lebih jelek lagi.
“Kita lampaui daerah yang licin ini dengan berjalan kaki”
jawab kakaknya. Ia tidak menunggiu lebih lama lagi.
Dituntunnya kudanya berjalan perlahan-lahan dengan penuh
kewaspadaan. Ia tidak tahu siapakah yang berada diujung
hutan itu. Kalai mereka menyerang dengan tiba-tiba, maka
duduk diatas punggung kida akan menjadi lebih berbahaya.
Seorang kawannya pernah mengalami nasib yang tidak
menyenangkan, ketika ia mengalami serangan dengan cara
pengecut. Dilintangkan oleh para penyerang itu, seutas tali
untuk menjatuhkan kudanya. Kemudian dalam keadaan yang
sulit kawannya itu tudak mampu mempertahankan diri. Dan
kini iat tidak mau mengalami nasib serupa itu.Hati Sedayu

menjadi bertambah kecut. Ia merasa sesuatu yang tidak pada
tempatnya. Karena itu ia bertanya lagi sambil merapatkan diri
disamping kakaknya “Adakah sesuatu yang berbahaya?”
Kakaknya tidak mau berbohong lagi. Jawabnya
“Bersiaplah. Mungkin kita berjumpa dengan bahaya, tetapi
mungkin pula kita mendapat teman”
Denyut nadi Sedayu seakan-akan berhenti. Dengan
tergagap ia berkata “Kakang, apakah tidak sebaiknya kita
kembali?”
“Nasib paman Widura tergantung kepada kita” sahut
kakaknya.
“Tetapi nasib kita sendiri?” desak adiknya.
Untara tidak tahu bagaimana menjawab pertanyaan itu.
Pertanyaan yang wajr. Tetapi ada sesuatu yang tidak
dirasakan oleh adiknya itu. Ia merasa wajib untuk
menyelamatkan laskar Widura, pamannya yang telah
bertahun-tahun bersama-sama dalam satu ikatan perjuangan.
Dan yang terakhir, mereka berdua berdiri dipihak Pajang
dalam pertentangannya dengan Jipang. Karena itu ada
beberapa dorongan yang kuat yang memaksanya untuk
berjalan terus.
Karena Untara tidak menjawab, Sedayu mendesaknya
“Kakang, kenapa kita tidak kembali. Bukankah nasib kita
sendiri lebih berharga dari nasib siapapun juga?”
“Belum pasti kita akan menjumpai bahawa Sedayu. Bahkan
mungkin kita akan mendapat teman seperjalanan. Syukurlah
kalau yang berada diujung hutan itu anak-anak paman Widura
sendiri”. Namun apa yang dikatakannya sama sekali tidak
diyakininya. Sangkal Putung masih agak jauh.
“Adakan seseorang diujung hutan itu?” Sedayu semakin
cemas.
“Ya” jawab Untara berat.
“Kakang lihat?” desak Sedayu.
“Ya” Untara menjadi semakin cemas. Kalau adiknya
menjadi ketakutan, sulitlah keadaannya.
Apa yang diduganya itu benar-benar terjadi. Tiba-tiba
Sedayu semakin merapatkan dirinya sambil merengek
“Kakang, marilah kita kembali”

“Jangan Sedayu” jawab kakaknya membesarkan hati
adiknya “Kita lihat siapakah yang berada diujung hutan itu”
“Mereka pasti laskar Arya Penangsang” sahut adiknya.
“Kenapa kita mesti takut kepada mereka?” bertanya
kakaknya.
“Mereka adalah orang-orang sakti” jawab adiknya.
“Kita juga laki-laki seperti mereka, Sedayu” bombing
kakaknya “Apabila mereka orang-orang sakti, mereka tidak
akan dikalahkan oleh laskar Pajang”
“Kita bukan laskar Pajang” bantah adiknya.
“Aku salah seorang dari prajurit Pajang” potong kakaknya.
Untara bukanlah seorang yang biasa menyombongkan dirinya.
Tetapi ia mengharap adiknya mempunyai kepercayaan
kepadanya dan tidak akan menyulitkan keadaanya
seandainya ia benar-benar harus menghadapi bahaya.
“Tetapi aku bukan” rengek adiknya pula. Bahkan kini
Sedayu telah mulai menarik-narik bajunya.
Untara menjadi gelisah. Tetapi ia tidak menjawab. Jarak
mereka telah semakin dekat dan Untara tidak memutar
langkahnya. Ketika adiknya akan berkata lagi, Untara berdesis
“diamlah supaya orang – orang dimuka kita tidak tahu bahwa
kau penakut. Dengan demikian mereka akan semakin berani.
Dan mereka akan mempermainkan kita seperti kelinci.”
Sedayu terbungkam. Betapa ia menjadi sangat takut untuk
menyatakan ketakutannya. Karena itu dengan lutut yang
gemetar iapun berjalan terus.
Tiba – tiba Untara menggeram. Untunglah mereka tidak
akan dapat melihat bamboo wulung yang kehitam - hitaman
itu. Apalagi di dalam kepekatan hujan malam yang kelam.
Namun ketajaman mata Untara dapat membedakannya
dengan warna air yang keputih – putihan memantulkan
cahaya cakrawala yang sangat lemah. Dan apabila kaki – kaki
kuda mereka menyentuhnya, akibatnya akan mengerikan
sekali.
Beberapa langkah dari bamboo yang melintang itu Untara
berhenti. Tak ada seorangpun yang tampak. Namun ia yakin
di dalam hutan, dibalik pohon – pohon yang rapat itu, pasti
bersembunyi seseorang atau lebih.

Ketika Sedayu melihat bambu yang melintang itu, maka
darahnya seakan – akan membeku. Ia pernah melihat cerita
kakaknya tentang seseorang yang malang melanggar seutas
tali yang terentang di jalan. Tetapi hatinya telah benar – benar
dicekam oleh ketakutan sehingga sama sekali ia tidak berani
berkata sepatahpun. Bahkan terasa lututnya semakin
gemetar, dan seakan – akan ia telah tidak mampu lagi untuk
berdiri tegak diatas kedua kakinya itu.
Sekali, Untara menarik nafas. Ia tak mau mendekat lagi.
Sebab dengan demikian, ia akan berada didalam kedudukan
yang kurang baik. Orang – orang yang berada di belakang
rimbunnya daun – daun akan dapat melihatnya dengan jelas,
sedang ia sendiri tak akan dapat melihat mereka. Karena itu,
sengaja Untara menanti salah seorang dari mereka atau
beberapa orang sekaligus datang kepadanya.
Untuk sesaat keadaan menjadi sunyi tegang. Nafas Sedayu
terdengar berebut dahulu keluar dari hidungnya. Ia tidak
berani berkata apapun, namun tangannya erat berpegangan
baju kakaknya. Perlahan – lahan tangan Untara meraba
tangan adiknya, dan dicobanya untuk melepaskan pegangan
itu. Sebab setiap saat ia perlu bergerak cepat. Tetapi Sedayu
berpegangan semakin erat bahkan sekali-sekali menariknya.
Untara menarik nafas.
Tiba-tiba Sedayu terkejut ketika kakaknya berkata lantang “
Biarkan mereka Sedayu. Kita tidak akan berbuat apa-apa.
Namun kalau mereka mengganggu kita, kau baru boleh
bertindak sesuka hatimu. Syukurlah kalau mereka sahabatsahabat
kita yang baik”
Sedayu tidak tahu maksud kata-kata itu. Bahkan debar
jantungnya seperti akan memecah dadanya. Ia ingin
mengatakan sesuatu namun mulutnya seperti telah tersumbat.
***

Tetapi yang
diharapkan Untara
terjadilah. Orang-orang
yang bersembunyi
dibalik pohon-pohin
yang rimbun itu
mendadak menjadi
tidak sabar. Sehingga
dengan demikian
terdengar salah
seorang diantara
mereka berteriak “Siapa
kalian?”
Pertanyaan itu bagi
Sedayu terdengar
seperti petir yang
meledak ditelinganya.
Kini tidak saja lututnya
yang gemetar, tetapi
seluruh tubuhnya menggigil dan dadanya bergetar,sedang
darahnya seolah-olah berhenti menyumbat kerongkongan,
sehingga nafasnya menjadi sesak. Ia tidak dapat bertahan
berpegangan baju kakaknya lagi ketika tangan kakaknya
menyentuh tangannya. Kini Untara dapat maju
selangkah,bisiknya “peganglah kendali kuda-kuda kita”
Tetapi Sedayu tidak menangkap kendali kuda Untara
bahkan dengan tidak disadarinya, kembali ia berpegangan
baju kakaknya.
Perlahan-lahan kakaknya menarik tangan adiknya adiknya
sambil berkata lirih “Sedayu,kalau kau tak mau memegang
kendali kuda, jangan berpegangan bajuku, berpeganganlah
tangkai kerismu.”
Tetapi hati Sedayu yang tinggal semenir itu tak dapat lagi
menangkap arti kata-kata kakaknya. Ketika kakaknya
bergeser selangkah lagi, tangan Sedayu terkulai lemas. Dan ia
berdiri diantara dua ekor kuda seperti tiang yang lapuk.

Sebuah sentuhan yang tak berarti akan dapat
merobohkannya.
Dalam pada itu kembali terdengar suara dari ujung hutan
berteriak diantara butir-butir hujan yang sudah mulai mereda.
“He, siapa kalian?”
Untara mencoba menembus kepekatan malam, namun ia
tak berhasil. Karena itu maka dijawabnya berhati-hati “kami
anak-anak dari sendang gabus. Siapakah kalian?”
“Ya” sahut Untara
“Anak siapa?” terdengar sebuah pertanyaan.
Untara beragu. Adakah mereka mengenal setiap orang di
Sendang Gabus. Untara sendiri tidak banyak mengenal orangorang
dari Sendang Gabus, meskipun pedukuhannya Jati
Anom tidak jauh dari Sendang Gabus itu. Untuk menyebut
namanya tak mungkin baginya. Seandainya orang-orang yang
bersembunyi itu sisa-sisa laskar Penangsang, maka nama
Untara pasti mereka kenal. Dengan demikian tak mungkin
baginya untuk melampaui tempat itu tanpa pertumpahan
darah. Karena itu ia mencoba menyembunyikan namanya
sejauh mungkin. Ia masih mencoba untuk menghindarkan diri
dari bentrokan kekerasan, sebab tugasnya adalah tugas yang
sangat penting. Kalau ia gagal mencapai Sangkal Putung
maka Widura akan mengalami bencana. Karena itu maka ia
menjawab untung-untungan “ Anak Sadipa”
“Sadipa” sahut suara diujung hutan
“Ya”
“Sadipa yang mana, yang tinggi sakit-sakitan atau yang
pendek kudisan?” bertanya suara itu pula”
Kembali pengenalannya atas orang yang bernama Sadipa
“Sadipa yang lain. Tinggi besar,berkumis panjang. Tetapi yang
satu tangannya cacat.”
“Bagus” sahut suara itu “kau benar-benar anak Sendang
Gabus, kau benar-benar kenal dengan Sadipa. Tetapi kenapa
kau berbohong ?”
Untara menjadi berdebar-debar. Ia telah menyebutkan
sebuah nama yang dikenalnya. Ia telah menyebutkan ciricirinya.
Tetapi orang dibelakang kegelapan itu tahu ia
berbohong.

Tiba-tiba Untara melihat banyangan yang bergerak-gerak
muncul dari balik pepohonan. Cepat ia melangkah surut,
selangkah saja dimuka adiknya. Nalurinya telah membawanya
untuk melindungi adiknya yang menggigil ketakutan.
Orang yang muncul dari hutan itu berjalan perlahan-lahan
mendekatinya. Terdengarlah ia tertawa lirih, namun suaranya
menghentak-hentak dada.
Agung Sedayu menjadi kian ketakutan. Namun kakaknya
tegak dimukanya seperti betu karang.
“Siapakah sebenarnya?” bertanya orang itu.
Untara mencoba mengawasi wajahnya. Lamat-lamat ia
melihat garis-garis yang keras. Tubuhnya tidak begitu tinggi,
namun ketat dan kekar. Orang itu masih beberapa langkah
maju.
“Ha” katanya kemudian, setelah ia berhenti kira-kira tiga
empat langkah dari Untara “dua anak yang berani”. Siapakah
namamu?”
“Aku anak Sadipa” Untara mengulangi.
Kembali orang itu tertawa “jangan berbohong” katanya
“Anak Sadipa yang tinggi besar,berkumis panjang dan satu
tangannya cacat, tidak segagah kalian. Aku kenal mereka.
Aku orang Sendang Gabus.”
Untara terkejut mendengar keterangan itu. Apakah orang
yang berdiri dihadapannya itu orang Sendang Gabus?
“Kalau kau orang Sendang Gabus, siapa namamu?” sahut
Untara.
“Tebak siapa aku?” ornag itu berkata sambil tertawa.
Kembali Untara diam. Ia mencoba mengingat-ingat semua
orang Sendang Gabus yang pernah dilihatnya. Dan tiba-tiba ia
teringat orang ini. Pande besi di Sendang Gabus.
“Aku ingat” tiba-tiba Untara menyahut “kau pande besi
Sendang Gabus.”
Orang itu mengangkat alisnya,katanya “ kau kenal aku?”
Ya, kau adalah salah seorang prajurit Jipang sambung
Untara. Namun dengan demikian Untara menjadi semakin
berdebar-debar. Pande besi itu kenal kepadanya dahulu.
Mudah-mudahan orng itu telah melupakannya.

Tetapi ternyata Untara tidak beruntung. Orang itu
selangkah maju, dan dicobanya untuk mengenal wajah Untara
baik-baik. Diamatinya anak muda itu dengan seksama. Maka
tiba-tiba katanya disertai derail tawanya “ Ha. Jangan bohong
lagi. Kalian anak Jati Anom.” Orang itu berhenti sejenak untuk
mengingat-ingat. Maka sambungnya menyentak “setan.
Bukankah kau yang bernama Untara. He?”
Untara tidak dapat lagi menyembunyikan namanya. Orang
itu ternyata masih mengenalnya. Namun meskipun demikian
ia menjawab “Ya, aku Untara. Bukankah kita bertetangga?”
“Persetan. Kau pengikut Karebet yang gila itu?” bentak
pande besi itu.
“Hem” Untara menarik nafas. “apakah bedanya?” kau
berada di pihak Jipang dengan keyakinanmu, aku berada di
pihak Pajang dengan keyakinanku.”
“Huh” sahut orang itu “kau sangka Karebet berhak merajai
pulau Jawa. Ia tidak lebih dari anak penunggu burung
disawah.”
“Yang penting bagiku,apakah yang telah di lakukandan
akan dilakukan bagi tanah kita ini.” Sahut Untara.
“Aku bukan tukang bicara seperti kau” bentak orang itu.
“Wahyu keratin tidak dapat hadir pada sembarang orang.
Tidak akan dapat hadir dalam diri penggembala seperti anak
tingkir itu.”
“Tetapi Penangsang telah mati. Apa katamu?” bantah
Untara
“Persetan. Namun Cita-citanya tetap hidup” jawab pande
besi itu.
Untara tersenyum. Katanya “Tahukah kau tentang yang kau
katakan itu? Cita-cita? Bukankah kau menghilang dari
Sendang Gabus karena kau tidak dapat membayar utangmu
pada Demang sendang Gabus?”
“Persetan. Persetan. Setiap pengikut Adiwijaya harus matu.
Kau pula harus mati” gertak pande besi itu.
“Kau akan membunuh aku?” bertanya Untara.
Orang itu berpikir sejenak. Ia kenal akan nama Untara yang
gemilang di laskar Pajang. Ia sadar bahwa ia sendiri tak
mampu melawannya. Karena itu ia menjawab “Ya,aku akan

membunuhmu. Maksudku golonganku. Golongan Arya
Jipang.”
“Hem” Untara menarik nafas “kenapa golongan? Paman
pande besi” sambung Untara “Paman bias mengakhiri cara
hidup yang tidak berketentuan itu. Orang –orang Pajang
bukan pendendam.”
“Persetan. “tiba-tiba orang itu bersuit nyaring, dan sesaat
kemudian muncullah tiga orang dari dalam belukar,
Terdengar Untara menggeram “empat orang” desisnya.
Sekali ia menoleh pada adiknya. Adiknya masih menggigil
ketakutan.Tampaklah mulutnya bergerak-gerak. Namun
suaranya sama sekali tak terdengar. Untara menyesal, kenapa
adiknya itu dibawa serta Kalau ia singgah sebentar di Banyu
Asri, adiknya dapat dititipkannya disana. Namun apakah
pamannya sedang dirumah juga belum pasti.
Tiga orang yang datang kemudian itupun kini telah berada
disamping si pande besi. Yang seorang bertubuh tingg9i
kekurus-kurusan, yang seornag lagi tinggi gagah sedang yang
seorang lagi masih sangat muda, lebih tua sedikit dari
adiknya.
“Untara” berkata si pande besi “sayang kami tidak biasa
menawan seseorang. Karena itu sama sekali tidak bermaksud
menangkap kalian.”
Untara menyadari arti kata-kata itu. Pande besi itu akan
berkata “kalian berdua akan kami bunuh”
Karena itu ia tidak dapat melihat kemungkinan lain daripada
bertempur melawan keempatnya. Tetapi bagaimana dengan
adiknya?
Tiba-tiba Untara berkata lantang “Sedayu,menepilah.
Biarlah aku saja yang menghadapi mereka. Kau tidakperlu ikut
serta. Orang-orang ini sama sekali tak cukup bernilai untuk
melawanmu.”
Si Pande besi menggeram “ Jangan terlalu sombong.”
Untara sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri,
tapi dia ingin menutupi kelemahan adiknya, sehingga orangorang
itu tidak akan berani mengganggunya. Untunglah
bahwa keempat orang itu tidak terlalu memperhatikan adik
Untara itu, sehingga mereka tidak mengetahui, apakah

sebenarnya yang sedang terjadi dengan anak muda itu.
Menggigil ketakuatan denagn dada sesak.
Pande besi Sendang Gabus bersama ketiga kawannya itu
tiba-tiba memencar. Ditangan mereka masing-masing
tergenggam senjata. Pande besi itu memegang sebuah
tongkat besi, si jangkung kurus memegang golok pendek,yang
gagah bersenjata belati di kedua tangannya, sedang si anak
muda memegang pedang.
“Anak iini bernama Untara” teriak si pande besi “karena itu
berhati-hatilah.”
“Untara” desis si anak muda. Tetapi ia tidak bertanya lebih
lanjut. Namun didalam dadanya terbersit suatu perasaan yang
aneh. Ia pernah terlibat bersama-sama dengan kawankawannya
dalam suatu pertempuran melawan prajurit-prajurit
Pajang yang dipimpin oleh Untara. Betapa kagumnya ia
melihat Untara yang perkasa itu. Kini ia berhadapan langsung
dengan orang itu. Tiba-tiba hatinya bergetar. Meskipun
demikian ia harus bertempur. Dengan ketiga kawannya ia
pasti dapat membunuh orang yang disegani itu.
Untara sadar bahwa lawan-lawannya benar-benar akan
membunuhnya bersama-sama dengan adiknya. Karena itu, ia
harus melawan mereka. Apabila terpaksa, maka bukan
salahnyalah kalau ada diantara mereka yang terpaksa mati.
Namun tidak mustahil pula, bahwa kemungkinan yang tidak
menyenangkan itu ada padanya.
Karena itu segera Untara bersiap. Ia harus menarik seluruh
perhatian dari keempat lawannya, sehingga tak ada
diantaranya yang mengganggu Agung Sedayu.
Maka dengan gerak yang cepat,secepat tatit menyambar
dilangit,Untara meloncat menyerbu diantara mereka. Dengan
berputar diatas sebuah kakinya, ia menyerang dua orang
sekaligus. Serangannya tidak begitu berbahaya, namun
benar-benar mengejutkan. Karena itu maka si jangkung
dengan sangat terkejut meloncat mundur,dan si tinggi gagah,
terpaksa meloncat kesamping. Meskipun mereka tidak dapat
dikenai oleh serangan Untara, namun serangan itu benarbenar
tidak mereka duga. Belum lagi debar jantung mereka
berhenti, mereka melihat Untara melayang dnegan garangnya.

Kali ini Untara tidak hanya mengejutkan mereka. Tangannya
yang cekatan dengan cepatnya meraih tongkat besi si Pande
Besi, dan dengan suatu tarikan yang cepat, tongkat itu sudah
berpindah ditangannya.
“Setan,demit,tetekan” pande besi dari Sendang Gabus itu
mengumpat tidak habis-habisnya. Sedang kawannya melihat
serangan itu seperti melihat seekor elang menyambar anak
ayam yang sama sekali tak berdaya. Tetapi pande besi itu
segera sadar. Segera ia meloncat pada si tinggi besar
“berikan aku sebuah pisaumu” teriaknya. Si pande besi tidak
menunggu jawaban. Segera direbutnya sebuah pisau
kawannya itu.
Sementara itu,kawan-kawannya yang lain telah menyadari
kedudukan mereka. Segera mereka menyerang bersamasama
dari arah yang berbeda-beda.Untara menarik nafas. Ia
bersyukur di dalam hatinya, bahwa keempatnya telah dapat
ditarik dalam satu lingkaran pertempuran. Karena itu Untara
tidak menyianyiakan waktu. Ia harus segera menyelesaikan
pertempuran itu, supaya ia sempat mencapai Sangkal Putung
sebelum subuh.
Pertempuran itupun segera menjadi semakin sengit,Pande
besi dati Sendang Gabus itupun ternyata memiliki kekuatan
tenaga yang luar biasa. Gerakannya pasti akan menimbulkan
getaran yang mengerikan. Ornga yang tinggi kurus itu memiliki
keistimewaan pula. Tangannya yang panjang setiap kali
terjulur mengulurkan angina maut. Sedang diujung tangannya
itu tampak sebuah golok berkilat-kilat. Orang yang tinggi besar
itupun mempercayakan dirinya pada kekuatan tangannya.
Pisau belatinya menyambar-nyambar dari segala arah.
Bahkan sekali-sekali sengaja dibenturkannya dengan tongkat
besi di tangan Untara. Namun Untara bukan anak-anak yang
sedang berlatih anggar. Setiap benturan dengan senjatanya,
telah memaksa lawannya untuk berpikir kembali. Bahkan
ornag yang tinggi besar itupun kemudian tidak berani lagi
mencoba-coba membenturkan senjatanya yang sebenarnya
terlampau pendek. Sedang si anak muda ternyata tangkas
dan cekatan sekali. Sekali-sekali ia meloncat menyerang,
namun apabila keadaannya sulit, cepat-cepat ia menarik

dirinya, meloncat surut. Namun seandainya ia bertempur
seorang diri, maka umurnya tidak akan lebih panjang dari
seekor sulung yang terjun ke dalam api.
Demikianlah Untara bekerja mati-matian. Malam yang
kelam telah menolongnya. Ia tidak perlu takut- takut
senjatanya akan mengenai kawan-kawannya. Ia dapat
menyerang setiap bayangan yang ada di setiap garis
serangannya. Teteapi lawannya tidak dapat berbuat demikian.
Mereka harus lebih berhati-hati. Sebab Untara itu benar-benar
lincah seperti anak kijang. Sekali-sekali ia melontar diantara
mereka berempat, namun tiba-tiba ia telah berada diluar
lingkaran. Bahkan sekali-sekali lawannya menjadi bingung,
seolah-olah Untara dapat melenyapkan diri diantara percikanpercikan
hujan yang hamper reda.
Agung Sedayu melihat perkelahian itu dengan denyut
jantung yang tak teratur. Sekali-sekali berdentang seperti
guntur didalam dadanya, namun sekali-sekali terasa berhenti
bergerak. Kakinya gemetar sehingga kedua lututnya beradu.
Meskipun demikian ia malihat juga anak muda sebayanya
bertempur melawan kakaknya. Timbullah keheranan di
daloam dadanya. Kenapa anak semuda itu berani berkelahi
melawan kakaknya? Kakaknya bagi Agung Sedayu adalah
orang yang sangat dikagumi. Orang yang dalam pandangan
Sedayu tak ada duanya di dunia ini. Meskipun demikian, ia
menjadi cemas. Apakah kakaknya dapat melawan empat
orang sekaligus. Ia belum pernah melihat perkelahian yang
sebenarnya. Perkalahian untuk mempertaruhkan nyawa. Yang
pernah rilihatnya, adalah bagaimana kakaknya berlatih.
Bahkan kadang-kadang ia ikut serta. Ia tahu bagaimana harus
menghindar, menyerang dan mempergunakan kesempatan
sebaik-baiknya. Namun keberaniannya tak ada untuk
melakukannya.
Untara masih bertempur dengan garangnya. Bahkan
lawan-lawannya semakin lama semakin menyadari
keperkasaannya. Namun tiba-tiba Untara menjadi cemas.
Pande Besi itu sekali-sekali melemparkan pandangannya
pada Agung Sedayu. Ia melihat bagaimana anak muda itu
berdiri. Ia melihat tangan Sedayu tergantung lemah. Bahkan

sekali-sekali anak itu menutup wajahnya. Sekali-sekali
memalingkan mukanya. Pande Besi yang licik itu berpikir di
dalam hatinya “anak yang satu ini aneh benar”
Memang Agung Sedayu sama sekali tidak menunjukkan
suatu minat atas perkelahian itu, bahkan terpancarlah
kengerian dan ketakutan dari wajahnya. Namun meskipun
demikian pande besi itu terpaksa menduga-duga “ada dua
kemungkinan” pikir pande besi “anak ini terlalu percaya
kepada kesaktiannya, sehingga ia kecewa melihat cara
kawannya bertempur. Tetapi kemungkinan yang lain, anak ini
seorang pengecut”
Dalam keragu-raguan itu diingatnya kata-kata Untara
“Orang-ornga ini sama sekali tak cukup bernilai untuk
melawanmu.”
Tetapi tiba-tiba pande besi itu tertawa. Suaranya benarbenar
nyaring. Ia sudah mendapatkan suatu kepastian, bahwa
anak itu anak yang kerdil. Kerana itu ia segera menemukan
cara untuk memecah perhatian Untara. Maka terdengarlah ia
berkata diantara derail tawanya “He Untara yang perkasa.
Sudah berapa lama kita bertempur. Kenapa kawanmu itu
hanya menonton saja seperti sabungan ayam.”
Dada Untara semakin berdebar-debar. Ia melihat
kecurigaan lawannya. Sikap adiknya benar-benar tidak
meyakinkan. Meskipun demikian ia menjawab “Buat apa ia
susah-susah menghadapi kalian? Aku sendiri cukup mampu
untuk melakukan.”
Pande Besi itu tertawa terus. Nadanya semakin tinggi dan
memuakkan, sehingga Untara benar-benar menjadi muak.
Cepat ia meloncat dan mengayunkan tongkatnya menyerang.
Suara tertawa pande besi itu terputus. Wajahnya tiba-tiba
berubah menjadi tegang. Hampir saja kepalanya retak oleh
sambaran senjatanya sendiri. Namun untunglah ia sempat
merendahkan tubuhnya sementara dengan lincahnya si anak
muda menyerang lambung Untara dengan pedangnya. Untara
terpaksa menggeliat untuk menghindari ujung pedang
lawannya. Dengan sebuah putaran ia meloncat tiba-tiba
tongkat besinya telah terayun kedada si tinggi besar.serangan
ini terlalu tiba-tiba. Hampir saja orang yang tinggi besar itu

terpaksa mengakhiri perkelahian. Untunglah bahwa kedua
kawannya yang lain sempat menolongnya. Orang yang tunggu
kurus sempat memukul tongkat Untara dengan goloknya.
Namun kekuatannya sama sekali tak memadai, sehingga
ketika goloknya tersentuh tongkat Untara, terasa senjatanya
terpental. Tangannya terasa nyeri dan tiba-tiba ia melihat
goloknya seperti terbang terlempar beberapa daripadanya.
Pande Besi, yang mengepalai gerombolan itu segera
melihat bahaya yang bakal datang. Mereka berempat dengan
senjata ditangan masing-masing tidak mampu menghadapi
Untara seorang diri. Apalagi kini salah seorang dari mereka
tidak bersenjata lagi.
Karena itu, maka segera ia mengambil keputusan untuk
melakukan rencana liciknya. Dengan tiba-tiba ia meloncat
surut, dan dengan berteriak nyaring ia berkata “Bunuhlah
Untara itu dengan senjata-senjata kalian aku akan mencoba
kesaktian anak muda yang seorang lagi.”
Untara terkejut mendengar teriakan itu. Maka perhatiannya
benar-benar menjadi terpecah. Ia melihat sebuah serangan
pedang mendatar ke arah perutnya, sementara itu orang yang
tinggi besar menusuknya dari punggung.
Namun Untara adalah seornag prajurut Pajang yang
terpercaya. Karena itu dengan cekatan ia menggeser
tubuhnya sambil merendahkann dirinya, pedang si anak muda
hanya lewat secengkal dari tubuhnya, sedang pisau orang
yang tinggi besar itu mematuk agak jauh. Namun karena itu,
Untara memerlukan beberapa saat untuk membebaskan diri
dari serangan-serangan berikutnya. Sementara itu si pande
besi telah berlari kea rah Agung Sedayu.
Agung Sedayu melihat seseorang menyerangnya. Karena
itu maka darahnya serasa benar-benar berhenti mengalir.
Dengan gerak nalurinya, yang dituntun oleh latihan bersama
kakaknya, tangannya bergerak meraba hulu kerisnya. Namun
tangan itu gemetar da kehilangan kekuatannya. Maka kerisnya
tidak juga lolos dari wrangkanya. Bahkan yang terdengar
suaranya terbata-bata “Kakang, kakang Untara.”
Pande Besi yang licik itu tertawa nyaring. Suaranya kini
benar-benar menjadi buas seperti hantu yang haus darah. Ia

telah yakin bahwa anak muda yang seorang itu akan dapat
dijadikannya korban pertama tanpa kesulitan. Maka katanya
sambil berlari “Tahanlah Untara. Biarlah ia melihat anak muda
yang satu ini mengalami nasib yang malang.”
Sesaat Untara menjadi bingung. Ia sudah tidak mendapat
kesempatan lagi untuk mengejar si Pande Besi. Ia telah
tertinggal beberapa langkah. Kalau saja adiknya mampu
berbuat sesuatu maka ia akan mendapat kesempatan untuk
menolongnya. Tetapi adiknya telah menjadi kaku ketakutan.
Tiba-tiba Untara membungkukkan badannya. Diraihnya
sebuah batu sebesar telur. Dengan sekuat tenaganya ia
melempar kudanya yang berdiri disamping adiknya. Kuda itu
manjadi terkejut. Sambil meringkik tinggi kuda itu meloncat
dan berlari kencang tanpa arah. Untunglah bahwa kuda yang
seekor lagi terkejut pula, dan seperti yang lain kuda itupun
melontar seperti panah.
Kedua ekor kuda itu benar-benar memberi kesempatan
kepada Untara. Sebab dengan itu si pande besi terpaksa
tertahan beberapa saat. Ia tak mau melanggar kuda-kuda
yang menjadi liar itu. Dan sesaat itu telah cukup bagi Untara.
Untara tidak menghiraukan lagi ketiga lawannya yang lain.
Dengan serta merta, seperti si Pande Besi, Untara meloncat
berlari kencang-kencang. Dengan penuh kemarahan yang
mengguncang-guncang dadanya, langsung ia menyerang
dengan tongkat besinya. Tongkat besi itu terayun deras sekali.
Untara telah menggunakannay dengan penuh tenaga. Si
Pande Besi itu tidak menyangka bahwa Untara dapat secepat
itu menyusulnya. Segera ia memutar tubuhnya, namun ia
sudah tidak mungkin untuk menghindar. Untara meloncat
dengan garangnya, dan yang dilihatnya tongkat besi itu telah
terayun diatas kepalanya. Karena itu si pande besi hamper
saja dapat menangkisnya dengan pisau belatinya.
Tetapi pisau itu terlalu pendek untuk menahan ayunan
tongkatnya sendiri. Namun tongkat itu kini diayunkan oleh
tangan yang jauh lebih kuat dari tangannya. Tangan seornag
tamtama yang sedang dibakar oleh kemarahan.
Karena itu meskipun si pande besi mancoba untuk
menghindar benturan langsung dengan memukul tongkat

Untara kesamping, namun usahanya itu tidak banyak
menolongnya. Tongkat Untara masih mengenai pelipisnya.
Maka terdengarlah pande besi yang malang itu berteriak
tinggi. Kemudian ia terlempar dan jatuh berguling. Sesaat
kemudian nafasnyapun terputuslah.
Untara menarik nafas. Ia berlega hati bukan karena ia
dapat membunuh lawannya, tetapi karena ia telah berhasil
menyelamatkan adiknya. Namun untuk sesaat Untara
kehilangan kewaspadaan anak muda yang bersenjata pedang
itu benar-benar lincah. Tiba-tiba saja serangannya mengarah
kepunggung. Karena itu segera Untara berkisar selangkah
kesamping. Namun saat yang mengejutkan itu dapat
dipergunakan oleh orang yang bertubuh tinggi besar dan
bersenjata pisau.dengan penuh nafsu dendam orang itu
menusuk leher Untara. Tusukan itupun sedemikian tiba-tiba
pada saat Untara sedang menghindari sambaran pedang si
anak muda. Karena itu Untara tidak dapat berbuat banyak.
Pada saat Untara mencoba merendahkan tubuhnya dan
berputar setengah lingkar, pisau itupun berubah arah. Untara
masih dapat melihat pisau itu melingkar, namun tak ada waktu
lagi baginya. Yang dapat dilakukan hanyalah mencondongkan
tubuhnya sedikit ke belakang, tetapi pada saat itu terasa ujung
pisau itu mencegat pundak kirinya.
Terdengar Untara menggeram. Kemarahannya kini telah
benar-benar membakar seluruh darahnya. Dengan gigi
gemeretak Untara memandang orang yang bertubuh tinggi
besar itu untuk sesaat. Kemudian seperti gelombang yang
menghantam tebing Untara meloncat maju. Tongkat besi
ditangannya berputar seperti baling-baling, yang kemudian
dengan dasyatnya menyerang lawannya. Apalagi ketika terasa
betapa pedih luka dipundaknya itu. Darah yang merah segar
mengalir semakin lama semakin deras. Karena itu Untara
harus menyelesaikan pertempuran sebelum ia kehabisan
darah, atau dirinya akan ditelan oleh maut beserta adiknya
sekaligus. Orang yang tinggi besar itu terkejut melihat
serangan Untara yang membadai. Cepat ia meloncat surut. Ia
sudah tidak akan dapat mempertahankan dirinya dengan
pisaunya itu. Dalam keadaan yang sulit itu, kawannya yang

tinggi kekurus-kurusan tampil kedepan. Goloknya yang besar
bergerak-gerak dengan cepatnya. Sebuah tusukan yang
dasyat mengarah kelambung lawannya. Namun Untara yang
marah sempat mengelak. Bahkan kini Untara sudah tidak lagi
mengekang diri. Ia sempat berjongkok menghindari golok
lawannya. Dan sekaligus tongkatnya bergerak mendatar.
Terdengarlah sekali lagi jerit kesakitan, ketika terdengar
sebuah benturan. Benturan antara tongkat besi ditangan
Untara dengan tulang-tulang kaki orang yang kurus itu. Sesaat
kemudian terdengar tubuhnya terbanting. Pada saat itu orang
yang bertubuh tinggi besar melihat suatu kemungkinan untuk
membunuh Untara. Ia tidak akan dapat menyerangnya pada
jarak jangkau tangannya karena kecepatan bergerak
lawannya. Karena itu, selagi Untara masih belum dapat berdiri
tegak orang itu dengan sepenuh tenaga melemparkan
pisaunya kearah tubuh lawannya.
***
Untunglah Untara
melihat pisau
itu.karana itu ia
mengurungkan
geraknya. Bahkan
sekali lagi
merendahkan
tubuhnya sambil
berputar, sehingga
pisau itu tidak
menghunjam ke
dalam tubuhnya.
Sebenarnyalah
bahwa nasib
manusia ditentukan

oleh kekuasaan diluar kemampuan jangkau manusia. Pisau
yang berlari seperti panah itu meluncur dengan cepatnya
melampaui Untara. Namun tanpa disangka-sangka
terdengarlah sebuah jerit tertahan. Orang yang terbaring
karena tulang kakinya retak itu tiba-tiba terguling sekali,
kemudian ia mencoba mengangkat wajahnya dengan
pandangan aneh. Tetapi sesaat kemudian kepalanya jatuh
terkulai. Mati. Sebuah pisau telah tertancam langsung
menyayat jantung.
Yang melihat peristiwa itu untuk sesaat terpaku diam.
Untara dan kedua lawannya. Dada mereka masing-masing
terguncang oleh peristiwa yang tak mereka sangka-sangka.
Apalagi orang yang bertubuh tinggi besar itu. Tanpa
disengajanya, ia telah membunuh kawannya sendiri.
Kini Untara untuk seterusnya tinggal menghadapi dua
lawan. Namun darah telah terlalu banyak mengalir dari
lukanya. Karena itu tubuhnyapun semakin menjadi lemas.
Sebab dengan demikian berarti maut akan menerkamnya.
Karena itu segera ia bersiap untuk melanjutkan pertempuran
itu.
Kedua lawannyapun telah bersiap pula. Anak muda yang
bersenjata pedang itu setapak demi setapak maju mendekat,
sedang orang yang bertubuh tinggi besar yang kini tidak
bersenjata lagi itu masih mencoba untuk mencobanya dengan
tangannya.
Kedua lawan Untara itupun agaknya melihat kemungkinan
yang dihadapinya. Mereka lamat-lamat melihat darah meleleh
dar luka di pundak Untara. Karena itu mereka asal saja dapat
memperpanjang perlawanan mereka Untara pasti akan dapat
mereka binasakan. Alangkah mereka dapat berbangga
kepada kawan-kawan mereka bahwa mereka telah berhasil
membunuh salah satu perwira Pajang yang bernama Untara.
Nama yang disegani oleh lawan dan dikagumi oleh kawan.
Sesaat kemudian kembali anak muda itu menyerang
dengan tangkasnya. Kemampuannya memainkan pedang
cukup menarik perhatian Untara. Tetapi Untara tidak banyak
mempunyai waktu. Kalau ia terlambat maka ia akan ditelan
oleh maut. Karena itu selagi masih cukup mempunyai tenaga,

maka ia harus berjuang untuk menyelamatkan nyawanya,
nyawa adiknya dan berpuluh-puluh orang lain di Sangkal
Putung. Karena itu,tidak ada pilihan lain bagi Untara,kalau ia
tidak membunuh lawan-lawannya, maka taruhannya adalah
berpuluh-puluh nyawa di Sangkal Putung termasuk nyawanya
sendiri.
Tetapi anak muda, lawannya itu benar-benar lincah.
Dengan sengaja ia memancing Untara untuk bergerak terlalu
banyak, sehingga dengan demikian darah yang mengalir dari
luka menjadi semakin banyak pula. Namun Untara bukan
anak-anak lagi, karena itu meskipun ia memuji didalam
hatinya atas kecerdasan lawannya, namun ia mengumpatumpat
pula.
Namun Untara selalu menahan dirinya untuk tidak hanyut
dalam arus kemarahannya. Ia menyerang dengan dasyat,
namun ia tidak membiarkan tenaganya diperas sia-sia.
Meskipun tenaga Untara telah banyak berkurang, namun
kekuatan lawannyapun tinggal separo dari semula. Dengan
demikian maka segera tampak, bahwa Unatara akan segera
dapat mengatasi kedua lawannya. Kedua ornag itu semakin
lama semakin terdesak, dan akhirnya sampailah mereka pada
batas kemampuan mereka. Selagi Untara masih kuat
mengayunkan senjatanya, maka sekali lagi terdengar sebuah
pekik kesakitan. Orang yang tinggi besar itupun rebah ditanah
untuk tidak bangun lagi.
Yang tinggal kini adalah anak muda yang lincah itu.
Meskipun anak muda itu melihat kelemahan lawannya, namun
ia masih mampu untuk menilai diri sendiri. Karena itu, tiba-tiba
ia meloncat surut dan dengan lantang ia berteriak “kali in kau
menang Untara, tetapi lain kali kau akan menyesal. Apalagi
kawanmu, pengecut itu, seumur hidupnya tidak akan tenteram
selam aku masih hidup di dunia ini.”
Untara tidak mau mendengar kata-kata itu. Cepat ia
meloncat menyerang. Tetapi ia sudah tidak setangkas semula.
Tulang-tulangnya seperti menjadi lemas dan tak berdaya.
Karena itu ia menjadi cemas, jangan-jangan anak muda itu
akan berlari-larian dan menunggunya sampai ia terkulai jatuh.

Dengan demikian, maka ia tak akan berdaya lagi menghadapi
kemungkinan apapun.
Tetapi tidaklah demikian. Anak muda itu bahkan tiba-tiba
meloncat menjauh, dan berlari meninggalkan tempat itu. Ia
sudah tidak melihat lagi ketika Untara terhuyung-huyung
berjalan mendekati adiknya.
“Sedayu” desisnya.
Sedayu masih menggil ketakutan. Tetapi ia melihat Untara
dengan susah payah datang kepadanya. Karena itu iapun
segera berlari mendekat “Kakang, kenapa kau?” terdengar
suaranya gemetar.
Nafas Untara semakin lama semakin cepat mengalir.
Badannya gemetar seperti orang kedinginan. Dengan mata
yang sayu dipandanginya wajah adiknya yang pucat. Dan
sekali-sekali tangannya meraba luka pundaknya. Luka itu
cukup dalam, namun sebenarnya tidak begitu berbahaya
seandainya darahnya tidak terlalu banyak mengalir.
“Tolong” desis Untara “balut lukaku”
Sedayu melihat luka yang menganga di pundak kiri
kakaknya. Ia menjadi ngeri melihat luka itu. Tetapi dipaksanya
dirinya untuk membalut luka itu dengan sobekan kain
kakaknya.
“Sedayu” Untara berdesis sambil menahan nyeri “darahku
sudah terlalu banyak mengalir. Kau dapat menolong aku
berjalan”
“Tentu” jawab adiknya. Namun matanya beredar mencari
kuda mereka. Tetapi kuda itu sudah tak tampak lagi.
Tetapi Untara masih berkata lagi “Jangan membuang
waktu. Kuda-kuda itu sudah tidak ada disekitar tempat ini.”
Sedayu tidak menjawab. Dicobanya memapah Untara
berjalan di jalan-jalan yang becek berlumpur. Sekali-sekali
terdengar Untara menggeram. Tidak saja karena perasaan
pedih yang selalu menyengat-nyengat pundaknya, namun
juga berbagai perasaan telah bergelut di dalam dadanya.
Untara tidak saja mencemaskan dirinya, namun ia cemas juga
akan nasib adiknya. Lebih-lebih lagi tentang nasib Widura
dengan laskarnya. Anak muda yang melarikan diri itu dapat
membawa banyak akibat. Ia akan dapat kembali mencar

mereka berdua disekitar tempat ini dengan kawan-kawankawan
baru, atau anak itu dapat memperhitungkan arah
perjalanannya, sehingga serangan ke Sangkal Putung akan
dipercepat.
Pikiran sedayupun tidak pula dapat berjalan lagi. Ia
melangkah dengan hati yang kosong. Berbagai perasaan tang
memukul-mukul dadanya telah menjadikan Sedayi kehilangan
pengamatan diri. Ia tidak merasakan dan menyadari apa yang
telah dilakukan. Ia berjalan kareena kakaknya menaruhnya
berjalan sambil menggantung dipundaknya dengan tangan
kanannya.
Untara menjadi semakin cemas ketika diantara rasa
sakitnya timbul suatu perasaan aneh. Matanya serasa akan
selalu terkatub. Dan sesaat-saat kesadarannya seperti lenyap.
Segera Untara tahu bahwa ia telah hampir kehabisan darah.
Dengan demikian ia akan dapat pingsan setiap saat. Dalam
kecemasannya Untara masih menyadari, bahwa ia tidak akan
mungkin dapat mencapai Sangkal Putung dalam keadaannya
itu,apabila ia tidak mendapat pertolongan.
Sekali-sekali Untara menarik nafas. Disekitarnya
terbentang hutan belukar meski tidak terlalu tebal. Namun
tempat itu tak akan ditemui rumah seseorang.
“Kalau saja aku dapat mencapai rumah Ki Tanu Metir” tibatiba
ia berdesis
Adiknya terkejut mendengar suara kakaknya “apa katamu?”
ia bertanya.
“Rumah Ki Tanu Metir” jawabnya.
Sedayu pernah pula pergi kerumah Ki Tanu Metir bersama
ayahnya dahulu di Dukuh Pakuwon. Tetapi rumah itu masih
agak jauh. Dan tiba-yiba saja Sedayu menyadari keadaannya.
Dengan penuh ketakutan ia memandang berkeliling. Belukar.
Kalau saja tiba-tiba ada binatang buas yang muncul
dihadapan mereka, maka celakalah mereka berdua. Sehingga
dengan demikian Sedayu tidak teringat lagi kepada kata-kata
kakaknya, bahkan katanya dengan gemetar “jalan dihadapan
kita sangat gelapnya. Bagaimanakah nasib kita kalau kita
bertemu dengan harimau misalnya?”

“Hem” kakaknya menahan perasaannya, katanya tanpa
menghiraukan adiknya “kita pergi ke tempat Ki Tanu Metir.”
“Masih jauh” sehut adiknya.
“Kalau lukaku tak diobati” jawab kakaknya “aku akan mati”
Sedayu menjadi ngeri mendengar kata-kata kakaknya.
Bagaimana kalau kakaknya benar-benar mati. Karena itu ia
berdiam diri, meskipun hatinya dicekam oleh ketakutan. Takut
kepada kegelapan dihadapannya, takut kepada nasibnya.
Memang ia takut kepada segala-galanya. Tetapi ia lebih takut
lagi kalau kakaknya mati.
Karena itu ia tidak berani membantah lagi. Dipapahnya
kakaknya berjalan menuju ke Dukuh Pasewon, meskipun
kengerian selalu merayap-rayap dadanya.
Untara semakin lama semakin lemah. Meskipun demikian
ia selalu berusaha untuk mempertahankan kesadarannya.
Sungguh tidak menyenangkan apabila ia harus mati karena
darahnya kering. Baginya lebih baik mati dengan luka pedang
menembus jantungnya. Tetapi ia tidak berputus asa. Ia
percaya bahwa Allah Maha Pengasih. Karena itu ia selalu
memanjatkan doa didalam hatinya, semoga Allah
menyelamatkannya.
Tiba-tiba langkah mereka terhenti. Mereka mendengar
gemerisik daun di dalam belukar. Hati Sedayu yang kecut
menjadi semakin kecil. Dengan suara gemetar ia berbisik
“Kakang, kau dengar sesuatu?”
Untara mengangguk. Tetapi ia tidak dapat berbuat sesuatu.
Tubuhnya telah demikian lemahnya. Karena itu maka yang
dapat dilakukan hanya menyerahkan diri sepenuhnya kepada
sumber hidupnya.
Tetapi tiba-tiba Untara mengangkat wajahnya. Katanya lirih
“Bukan langkah manusia dan bukan pula binatang buas yang
sedang merunduk. Kau dengar ringkik kuda?”
“Ya” sahut adiknya.
Untara kemudian bersiul nyaring. Kudanya adalah kuda
yang jinak. Seandainya kuda itu kudanya, maka akan
dikenalnya suara siulan itu.
“Ya Allah, serunya ketika dari dalam belukar muncul seekor
kuda yang tegar kehitam-hitaman. “Itu kudaku”

Wajah Sedayupun menjadi agak cerah,katanya “lalu,
apakah kita akan berkuda?”
“Ya” sahut kakaknya “kudamu tak ada,namun kita berdua
akan berkuda bersama-sama”
“Kembali?”
“Tidak” jawab Untara “kerumah Ki Tanu Metir, supaya
lukaku diobatinya.”
Sedayu tidak membantah. Ia takut kalau kakaknya mati.
Karena itu dibantunya Untara naik ke atas punggung kudanya,
baru kemudian iapun naik pula. Untunglah bahwa kuda Untara
adalah kuda yang kuat, karena itu, meskipun diatas
punggungnya duduk dua anak muda, namun kuda itu masih
dapat berlari kencang.
Kini harapan didalam dada Untara tumbuh kembali. Ia akan
dapat mencapai rumah Ki Tanu Metir lebih cepat. Mudahmudahan
Ki Tanu Metir ada dirumahnya.
Demikianlah, setelah mereka menembus rimbunnya
pategalan yan gsubur diujung hutan, sampailah mereka
kepadukuhan kecilyang dinamai orang Dukuh Pakuwon.
Dipedukuhan kecil itulah tinggal seorang dukun yang sudah
setengah tua. Yang dengan pengalamannya ia mengenal
berbagai jenis dedaunan yang dapat dipakainya untuk
menyembuhkan luka dan bahkan dikenalnya beberapa jenis
racun yangmenusuk ke dalam tubuh seseorang.ornag itulah
yang bernama Ki Tanu Metir. Kepadanya Untara meletakkan
harapannya, mudah-mudahan Ki Tanu Metir dapat
menolongnya.
Kuda-kuda anak muda itu berhenti dimuka sebuah pondok
kecil. Pondok Ki Tanu Metir. Setelah menolong kakaknya
turun dari kuda,maka dipapahnya kakaknya itu kepintu yang
tekatup rapat.
Namun demikian Untara berlega hati ketika dilihatnya
cahaya lampu yang memancar menembus lubang-lubang
dinding.
Perlahan-lahan Untara mengetuk pintu rumah itu dengan
penuh harapan. Ki Tanu Metir adalah sahabat almarhum
ayahnya dahulu. Mudah-mudahan sisa-sisa persahabatan itu
masih membekas dihati dukun tua itu.

Ketika mereka telah beberapa kali mengetuk terdengarlah
sapa dari dalam lirih “Siapa?”
“Aku Ki Tanu” jawab Untara “Untara dari Jati Anom”
“Untara” ulang Ki Tanu Metir “Untara, o, adakah engkau
angger Untara putera Ki Sadewa?”
“Ya Ki Tanu” jawab Untara dengan suara gemetar.
Ki Tanu Metir segera mengenal suara itu. Suara seseorang
yang sedang mengalami cedera. Karena itu dnegan tergesagesa
orang tua itu berjalan ke arah pintu. Terdengar suara
telumpahnya diseret diatas lantai tanah.
Sesaat kemudian pintu bambu itu bergerit, dan muncullah
dari celah-celahnya seorang tua bertubuh sedang. Rambutnya
telah hamper seluruhnya menjadi putih. Alisnya yang tumbuh
jarang-jarang diatas sepasang matanya telah memutih pula.
Dahinya terbuka lebar, serta dibawahnya memancar sepasang
mata yang tajam bening.
Ketika ia melihat Untara dipapah adiknya, orang tua itu
terkejut dan terloncatlah dari mulutnya “Kau terluka ngger?”
“Marilah” Ki Tanu Metir mempersilahkan “duduklah” biarlah
aku mencoba melihat luka itu.”
Untara berlega hati. Ia tak perlu memintanya. Orang tua itu
telah berusaha untuk menolongnya atas kemauan sendiri.
Segera orang tua itu menuntun Untara dan dipersilahkan
duduk diatas bale-bale bambu. Katanya kepada Sedayu
“Tolong ngger peganglah cilupak ini, mataku telah menjadi
kurang baik”
Sedayupun segera melangkah mengambil lampu minyak
kelapa dan membawa kedekat kakaknya. Sementara itu Ki
Tanu telah sibuk membuka pembalut luka dipundak Untara.
Ketika Ki Tanu melihat luka yang menganga itu, ia
menggelengkan kepalanya, gumannya “Hem, luar biasa”
“Apa yang luar biasa?” desis Untara.
“Tubuhmu sangat tahan ngger”. Sudah berapa darah yang
tertumpah. Angger masih tetap sadar. Marilah, bersandarlah
supaya angger tidak terlalu lelah.”
Untara segera bersandar pada setumpuk bantal. Terasa
tulang-tulangnya seperti dilolosi. Sebentar-sebentar matanya
terkatub dan perasaannya seperti hilang-hilang datang.

Karena itu segera Untara memusatkan segenap kekuatan
betinnya untuk bertahan. Sementara Ki Tanu Metir
memelihara luka itu, tiba-tiba terbersit kembali dalam pikiran
Untara “Widura harus diselamatkan”
Tetapi kemudian disadarinya keadaan diri. Dengan
demikian Untara hanya dapat menarik nafas untuk mencoba
menentramkan hatinya yang bergolak.
Sambil mengusapi luka Untara dengan reramuan daundaunan
Ki Tanu bertanya “Agaknya angger berdua menjumpai
bahaya diperjalanan.”
“Ya” jawab Untara singkat
“Penyamun?” bertanya Ki Tanu pula
Untara menggeleng lemah “Bukan” jawabnya “sisa-sisa
laskar adipati Jipang”
“Hem, guman Ki Tanu “mereka berkeliaran ditempat ini.”
“Disini?” Untara terkejut mendengarnya.
“Ya,disekitar tempat ini” jawab Ki Tanu.
Untara diam sejenak. Nafasnya menjadi kian sesak. Namun
darahnya sidah tidak mengalir lagi dari lubang lukanya.
“Salah satu diantara mereka adalah pande besi dari
Sendang Gabus” berkata Untara lirih.
“Ya, mereka itulah” sahut Ki Tanu segerombolan orang –
orang yang putus asa. Adakah angger bertemu dengan pande
besi itu?”
“Ya” jawab Untara
“Sendiri?”
“Tidak. Mereka mencegat jalan diujung hutan. Berempat.
“Angger berdua” potong Ki Tanu.
“Ya” jawab Untara. Tetapi Sedayu segera menundukkan
wajahnya.
“Sungguh luar biasa. Angger berdua berhadapan dengan
empat orang yang bengis. Pande besi itu terkenal didaerah ini”
berkata Ki TAnu seterusnya “Bagaimana dengan mereka?
Dan siapa sajakah mereka itu”
Untara menarik nafas dalam-dalam. Lukanya sudah tidak
terlalu pedih. Tetapi tenaganyalah yang terasa semakin susut.
Karena itu ua menjawab singkat “Aku belum kenal mereka”

“O” Kitanupun segera menyadari keadaan tamunya, maka
segera ia menyelesaikan pekerjaannya. BAru kemidoan ia
duduk disamping Agung Sedayu dan dibiarkannya Untara
meristirahat bersandar setumpuk bantal.
“Bagaimanakah lawanmu yang tiga orang angger?”
bertanya Ki Tanu kepada Sedayu.
Sedayu menjadi bingung. Sebenarknya ia malu mendengar
pertanyaan itu, Tetapi akhirnya ia menjawab “Seorang tinggi
kekuru-kurusan”
“Sebenarnya ia orang lugu” potong Ki Tanu “Sayang ia
terlalu mudah terpikat. Namanya Tumida”
“Yang seorang tinggi besar” sambung Sedayu.
“Aku belum mengenalnya” gumam Ki Tanu.
“Yang seorang lagi masih muda” Sedayu meneruskan.
“Sebaya angger?” bertanya Ki TAnu.
“Kira-kira” Sedayu mengangguk.
“Alap-alap Jalatunda” desis Ki Tanu “Anak itu ikut serta?”
“Ya” jawab Sedayu, namun dadanya bergetar. Nama Alapalap
Jalatunda pernah didengarnya.
Mendengar nama itu Untara terperanjat pula. Desisnya
“Jadi anak itukah yang disebut Alap-alap Jalatunda. Pantas ia
lincah dan cerdas”
“Ya” sahut Ki Tanu “Nama itu timbul sesudah laskar
Penangsang pecah. Pande besi dan Alap-alap Jalatunda
menjadi terkenal. Mereka bersarang di Karajan”.
Di Karajan?” ulang Untara heran “Disamping Jati Anom?”
“Ya” jawab Ki Tanu.
Untara kemudian termenung. Kalau demikian mereka
bukan bagian dari laskar yang akan memukul Sangkal Putung.
Dengan demikian Untara menjadi sedikit berlega hati. Namun
kecemasannya yang lain segera timbul. Kalau demikian maka
mereka segera akan datang kembali dengan kawan-kawan
baru mereka menjelajahi tempat ini untuk mencarinya.
Ketia ia sedang berangan-angan terdengar Ki Tanu
bertanya kepada Seday “Merka itukah yang melukai angger
UNtara?”
“Ya” jawab Sedayu.

Ki Tanu mengangguk-angguk, kemudian seperti orang
terbangun daru tidurnya ia bertanya “Lalu siapakah angger
ini?”
“Sedayu” jawab Sedayu, “adik kakang Untara”
“Pantas, pantas” orang tua itu mengangguk-angguk “Kalian
menjadi seakan-akan sepasang burung rajawali yang perkasa.
Kalau tidak, tidak akan kalian dapat melawan Pande besi dan
Alap-alap Jalatunda sekaligus. Apalagi bersama kedua
kawan-kawannya yang lain. Lalu bagaimana dengan mereka?
Adakah mereka mengejar kalian?”
Sekali lagi Sedayu menundukkan wajahnya. Kemudian
perasaan malu merayapi dadanya. Telinganya menjadi gatal
mendengar orang tua itu menyebut mereka berdua seperti
sepasang burung rajawali. Tetapi sejalan dengna itu Sedayu
menjadi semakin kagum kepada kakaknya. Bukankah
kakaknya sendiri dapat melawan mereka berempat, dan
membunuh tiga diantaranya. Maka segera ia menjawab
dengan bangga “Tiga diantaranya terbunuh, Anak muda yang
bernama Alap-alap Jalatunda itu melarikan diri”.
“Luar biasa, luar biasa” gumamnya. Diamat-amatinya
Untara yang bersandar sambil memejamkan matanya.
Perlahan-lahan orang tua itu mengusap keningnya sambil
berdesis “Nama Untara benar-bbenar cemerlang. Kini akan
tumbuh nama baru disampingnya, Sedayu”
Agung Sedayu menggigit bibirnyya. Ia tidak berani
memandangi wajah kakaknya yang menjadi kian pucat. Kalau
saja ia mampu berbuat seoerti yang dikatakan orang tua itu,
maka kakaknya pasti tidak akan terluka. Karena itu tiba-tiba
tanpa disengajanya, Sedayu memandang kepada dirinya.
Seorang penakut yang tidak ada bandingnya. Pada saat
kakaknya berjuang untuk menegakkan Pajang, ia hanya dapat
bersembunyi dirumah pamannya di Banyu Asri. Pada saat
anak-anak muda memandi senjata, yang dilakukan tidak lebih
daripada membantu bubunya menanak nasi dan membelah
kayu. Tidak lebih daripada itu.
Sedayu memejamkan matanya. Tetapi seakan-akan
bayangan masa lampaunya menjadi semakin jelas.
DIkenangknya kembali masa kanak-kanaknya. Ayah dan

ibunya terlalu menanjakannya setelah dua orang kakaknya
yang lain, adik-adik Untara, meninggal pada umurnya yang
tidak lebih dari empat dan enam tahun. Karena mereka takut
kehilangan Agung Sedayu pula, maka mereka memeliharanya
agak berlebih-lebihan. Agung Sedayu menyadari semuanya
itu. Tetapi semuanya sudah lampau.
Agung Sedayu terkejut ketika ia mendengar kakaknya
berkata “Sedayu, Aku tidak mampu untuk bangkit berdiri.
Bagaimanakah dengan paman Widura?”
Sedayu tidak tahu, bagaimana ia harus menjawab
pertanyaan itu, karena itu ia berdiam diri.
“Jangan pikirkan yang lain” potong Ki Tanu,
“berisitirahatlah”
Untara berdesis menahan perasaan-perasaan yang
bergumal didalam dadanya, perasaan cemas dan bingung.
Akhirnya terdengar ia berkata perlahan-lahan “Sedayu. Hanya
negkaulah yang aku harapkan untuk menolong
menyelamatkan paman Widura”
Sedayu terkejut mendengar kata-kata itu. Dengan tergagap
ia bertanya “Apa yang harus aku lakukan?”
“Kau pergi ke Sangkal Putung” desis Untara.
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Benarkah
kakaknya menyuruhnya ke Sangkal Putung? Sebelum ia
bertanya terdengar Untara berkata pula “Agung Sedayu, aku
tidak tahu lagi, bagaimana aku harus melindungimu. Disini dan
diperjalanan ke Sangkal Putung akan sama saja bahayanya.
Bahkan mungkin bahaya itu akan datang kemari lebih dahulu.
Sebab orang-orang Alap-alap Jalatunda pasti kan mencari
aku. Kalau benar sarang mereka di Karajan, maka mereka
pasti akan sampai ketempat .ini. Mereka pasti
memerhitungkan bahwa kita akan datang kemari. Dan
mencobanya mencari”
“Tetapi Sangkal Putung tidak terlalu dekat” potong Sedayu
terbata-bata. “Jalannya gelap dan licin. Dan bagaimanakah
kalau aku bertemu dengan Alap-alap Jalatunda?”
Anak itu akan kembali ke Karajan, Sedang kau akan pergi
ke selatan. Kalau kau ingin menempuh jalan yang paling

aman, meskipun agak jauh, pergilah menyusur Kali Sat,
kemudian kau akan sampai Sangkal Putung dari arah barat”.
Mulut Agung Sedayu terasa menjadi beku. Perjalanan ke
Sangkal Putung benar-benar tidak menyenangkan. Ia
menyesal kenapa ia ikut dengan kakaknya. Kalau ia berada
dirumah, maka keadaannya pasti akan lebih bail.
Ki Tanu menlihat Agung Sedayu dengan keheran-heranan..
Katanya ragu-ragu “Sebenarnya aku tidak tahu mengapa
angger harus pergi ke Sangkal Putung. Namun aku melihat
sesuatu yang tidak aku duga. Kalau perjalanan ke Sangkal
Putung memang penting, kenapa angger Sedayu
berkeberatan? Dan apa pula keberatannya kalau angger
bertemu dengan dengan Alap-alap Jalatunda?”
***
Agung Sedayu benarbenar
menjadi bingung.
Bahkan Utarapun tak
tahu, bagaimana
menjawab pertanyaan Ki
Tanu Metir itu. Karena
itu sesaat kemudian
suasana menjadi beku.
Yang terdengar
kemudian adalah suara
Ki Tanu pula “Bukankah
angger Sedayu berdua
dengan angger Untara
mampu menghadapi
Alap-alap Jalatunda itu
sekaligus dengan Pande
besi Sendang Gabus?
Bukankah pade besi itu
bahkan terbunuh
bersama-sama dengan dua kawannya lagi?”

“Angger Sedayu, dalam gerombolan itu tak ada seorangpun
yang melampaui kesaktiannya dari si pande besi yang tamak
itu. Karena itu jangan takut dengan Alap-alap Jalatunda”
Mulut Sedayu seakan-akan tersumbat. Nafasnya terdengar
meloncat satu-satu, namun dadanya terasa sesak.
Sedang Untara masih duduk bersandar tumpukan bantal.
Matanya kadang-kadang terbuka, tetapi kadang-kadang
terpejam. Dalam kekelaman pikiran itu Untara benar-benar
menjadi bingung. Ia hampir-hampir tidak tahu apa yang
sebaiknya dilakukan. Dengan sisa-sisa kesadarannya yang
masih ada, Untara membuat perhitungan-perhitungan.
Akhirnya ia mendapat kesimpulan bahwa Agung Sedayu lebih
aman diperjalanan ke Sangkal Putung daripada tinggal di
dukuh Pakuwaon. Didorong pula oleh rasa tanggung jawab
terhadap Widura, maka kemudian ia berkata perlahan-lahan
namun penuh kepastian “Agung Sedayu, tinggalkan tempat ini
sebelum Alap-alap Jalatunda datang mencabut nyawa kita.
Pergilah ke Sangkal Putung dan temuilah paman Widura”
Jantung Agung Sedayu terasa berdentangan. Dengan
suara gemetar ia mencoba membantah perintah itu “Kalau aku
bertemu dengan mereka, bukankah kepergianku tidak ada
gunanya?”
Tidak, kau tidak akan bertemu dengan mereka. Aku sudah
pasti” jawab Untara “Tempuhlah jalan barat”
“Bagaimana dengan tikungan Randu Alas?” Sedayu
menjadi semakin cemas.
“Omong kosong dengan gendoruwo mata satu” Untara
hampir membentak “Pergilah”
Bibir Agung Sedayu tampak bergerak-gerak namun tak
sepatah katapun terloncat dari bibirnya, bahkan akhirnya
matanyalah yang berkaca-kaca.
Ki Tanu masih belum dapat mengerti, kenapa Agung
Sedayu tiba-tiba menjadi ketakutan. Tetapi sebelum ia
bertanya lagi terdengar suara Sedayu mengiba-iba tanpa
malu-malu “kakang, aku takut”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
mengerti kini, siapakah sebenarnya Untara dan bagaimanakah
dengan Sedayu. Karena itu iapun berdiam diri.

Tiba-tiba ornag tua itu terkejut ketika Untara berkata
dengan keras sambil meraba hulu kerisnya dengan tangannya
yang lemah “Sedayu, pergilah! Kalau kau tidak mau pergi
juga, biarlah kau memilih mati karena kau berbuat seperti
seorang laki-laki atau mati karena kerisku sendiri”
“Kakang” Sedayu hampir menjerit. Namun wajah Untara
seolah-olah telah menjadi beku.
Seakan-akan suara adiknya tidak didengarnya. Bahkan
dengan mata terpejam Untara berkata pula “Bagiku Sedayu,
daripada kau mati ketakutan selama Alap-alap Jalatunda itu
nanti mencekikku, lebih baik kau mati dengan luka senjata
didadamu”
Tubuh Sedayu benar-benar menggigil. Jantungnya
berdentangan seperti guruh yang menggelegar didalam
rongga dadanya. Sementara itu Ki Tanu Metir berkata dengan
terbata-bata “Angger Untara, apa yang akan angger lakukan
itu?”
“Kalau Sedayu tidak mau pergi, akan aku bunuh dia”
desisnya.
“Angger” Ki Tanu Metir mencoba menenangkannya “jangan
berkata begitu”
Untara tidak menjawab, namun terdengar ia menggeram.
Akhirnya berkatalah Ki Tanu Metir “Angger Sedayu,
kakangmu telah menentukan apa yang akan dilakukan.
Karena itu sebaiknya angger pergi. Bukankah puncak
ketakutan angger itu adalah maut. Dan maut itu berada dalam
gubug ini. Kalau angger pergi ke Sangkal Putung, belum pasti
angger bertemu dengan maut itu. Seandainya demikian, maka
maut diperjalanan itu akan jauh lebih baik daripada maut yang
akan menerkam angger disini. Baik itu dilakukan oleh angger
Untara, maupun dilakukan Alap-alap yang gila itu, yang pasti
akan jauh mengerikan lagi”
Kepala Sedayu tiba-tiba menjadi pening. Berdesakdesakanlah
perasaan yang bergumul didalam dadanya. Maut
terlalu mengerikan. Dan maut itu tiba-tiba saja kini hadir
dihadapannya. Sehingga seperti seorang perempuan cengeng
Sedayu membiarkan dirinya hanyut dalam perasaannya tanpa
malu. Sedayu menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

Dan terdengar suaranya gemetar “Adakah kakang berkata
sebenarnya”
“Akan kulakukan apa saja yang telah aku katakan, Sedayu”
suara Untara lirih namun pasti “Tinggalkan tempat ini segera.
Aku sudah muak melihat kau merengek-rengek seperti bayi”
Dada Agung Sedayu hampir meledak mendengar kata-kata
itu. Namun mulutnya bahkan menjadi terkunci. Seperti patung
ia tidak bergerak, sampai kakaknya membentaknya “Pergi
sekarang juga!”
Perlahan-lahan Sedayu berdiri. Kakinya hampir-hampir
tidak kuat lagi menahan berat tubuhnya. Tetapi ia takut. Takut
kepada kakaknya. Takut kalau kakaknya akan membunuhnya.
Dan ketakutannya itu begitu menekan dadanya, sehingga
melampaui ketakutannya atas kegelapan malam diluar dan
tikungan randu alas. Karena itu meskipun hayatnya serasa
telah terbang meninggalkan tubuhnya, Sedayu berjalan juga
menuju kepintu. Ketika Ki Tanu Metir mendahuluinya, dan
membuka pintu untuknya, orang tua itu mendengar Sedayu
menahan isak didadanya. Maka bisiknya menghibur “angger,
serahkan jiwa dan ragamu kepada yang memilikinya. Kalau
sudah saatnya akan diambilNya, maka berlakulah
kehendakNya meskipun angger berperisai baja. Namun kalau
angger akan disingkirkan dari bencana, maka berlakulah pula
kehendakNya itu. Karena itu jangan takut”.
Agung Sedayu menganggukkan kepalanya, namun
ketakutan yang mencekamnya tidak juga mau
meninggalkannya.
Dimuka pintu sekali lagi ia menoleh kepada kakaknya.
Tetapi kakaknya memejamkan matanya. Karena itu Sedayu
melangkah terus. Diluar dilihatnya kuda kakaknya. Dengan
gemetar ia melangkah kepunggung kuda itu.
“Selamat jalan ngger” desis Ki Tanu Metir. Aging Sedayu
tidak menjawab. Namun kepalanya terangguk. Dengan hati
yang kosong ia menarik kekang kudanya, dan ketika kuda itu
bergerak menyusup kedalam malam yang pekat, maka
Sedayu merasa seakan-akan dirinya telah menyusup
kedaerah maut.

Akhirnya ketika Sedayu sadar, bahwa perjalanan itu harus
dilakukannya, maka segera ia memacu kudanya dengan mata
yang hampir terpejam. Setiap kali ia membuka matanya,
setiap kali dadanya berdesir. Dimalam yang gelap itu selalu
dilihatnya seakan-akan bayangan-bayangan hitam
menghadangnya diperjalanan. Namun ia sudah tidak dapat
lagi berpikir. Karena itu ia tidak mau lagi melihat apapun yang
berada diperjalanan itu.
Ketika Sedayu telah hilang dibalik kekelaman malam, Ki
Tanu Metir menutup pintunya kembali. Kemudian perlahanlahan
ia mendekati Untara yang lesu. Dan terdengarlah ia
bertanya “Kenapa hal itu angger lakukan?”
Untara menarik nafas dalam-dalm. Terdengar ia bergumam
“Mudah-mudahan Tuhan melindunginya”
Ki Tanu Metir duduk perlahan-lahan disamping Untara. IA
mengangguk-angguk kecil ketika terdengar gumam Untara
pula “Kasihan Sedayu”
“Tetapi bukankah angger menghendakinya?” bertanya
orang tua itu.
“Aku hanya ingin supaya Sedayu meninggalkan rumah ini
dan sekaligus aku ingin paman Widura melindunginya, selain
keselamatan laskar paman Widura sendiri. Paman Widura
kenal anak itu” jawab Untara.
Kembali Ki Tanu metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
Tahulah ia sekarang bahwa Untara sama sekali tak
bersungguh-sungguh dengan ancamannya.
“Anak itu benar-benar keterlaluan” berkata Untara pula
“Aku hanya menakut-nakutinya, supaya ia mau pergi.
Ketakutan hanya dapat dikalahkan dengan ketakutan yang
lebih besar. Dan aku sudah berhasil mengusirnya. Mudahmudahan
ia selamat” Untara berhenti sejenak, kemudian
terdengar ia meneruskan dengan susah payah “Bukankah
lebih baik Ki Tanu Metir menyingkirkan aku pula sebelum
Alap-alap Jalatunda datang kemari?”
“Tidak angger, tidak” sahut orang tua itu cepat-cepat
“Angger memerlukan perawatanku disini”
“Tetapi” jawab Untara “kalau hal itu membahayakan ki
Tanu? Kalau mereka datang kemari, dan ditemuinya aku

disini, maka tidak saja aku yang akan dibunuhnya, tetapi Ki
Tanu akan diganggunya pula”
“Jangan berpikir tentang aku” berkata Ki Tanu Metir “Luka
angger agak parah, Aku sedang mencoba untuk
mengobatinya”
Untuk sesaat keduanya terdiam. Ketika Untara mendengar
derap kuda dihalaman, hampir saja ia berteriak memanggil
adiknya itu kembali, tetapi segera ia mempergunakan akan
dan perhitungannya untuk melawan perasaannya. “Kalau
Alap-alap Jalatunda itu tidak datang kemari, dan Sedayu
menemui bencana dalam perjalanannya, akulah yang
bertanggung jawab” katanya dalam hati. Dan Untara sadar,
apabila terjadi demikian maka peristiwa itu pasti akan
menyiksanya seumur hidup. Ia akan kehilangan adiknya dan
sekaligus ia sama sekali tidak berhasil menyelamatkan Widura
dan laskarnya. Tetapi kalau Alap-alap Jalatunda yang bengis
itu benar-benar datang kerumah itu bersyukurlah ia, meskipun
nyawanya sendiri pasti akan melayang. Namun ia telah
berhasil untuk terakhir kalinya menyelamatkan adiknya. Tetapi
kemungkinan yang lebih jelek lagi, Alap-alap Jalatunda itu
berpapasan dengan adiknya, dan adiknya itu dibunuhnya
setelah anak itu menunjukkan tempatnya, kemudian Alap-alap
itu datang membunuhnya. “Aku telah berusaha” pikir Untara.
Segalanya akan mungkin terjadi. Untara menarik nafas dalamdalam.
Dengan penuh kepercayaan kepada kekuasaan
Tuhan, Untara berhasil menenangkan dirinya. Bahkan ia
berdoa semoga kemungkinan yang paling baiklah yang terjadi.
Agung Sedayu selamat sampai Sangkal Putung dan Alap-alap
Jalatunda tidak datang kepondok itu.
Tetapi Untara terkejut ketika didengarnya bentakanbentakan
kasar jauh ditikungan jalan. Ketika ia membuka
matanya, dilihatnya Ki Tanu Metir berdiri dengan gelisah.
“Suara apakah itu Ki Tanu?” bertanya Untara lemah.
Ki Tanu Metir tidak segera menjawab. Dicobanya untuk
menangkap setiap kata-kata kasar dan keras yang memecah
kesepian malam itu.
Lamat-lamat terdengar suara itu “Dimana he, dimana
rumah dukun itu?”

Tak terdengar jawaban, namun terdengar seseorang
mengaduh perlahan-lahan. Sesaat kemudian terdengar
bentakan “Kalau kau tak mau mengatakan, maka kaulah yang
akan kami bunuh”
“Ampun” sahut suara yang lain “aku hanya mendengar
suara kuda berderap”
“Gila, aku tidak bertanya apakah kau mendengar suara
kuda itu. Tunjukkanlah rumah Tanu Metir. Orang itu akan
mengatakan segala-galanya dan kau akan aku lepaskan”
teriak yang lain.
Kembali tak terdengar jawaban, dan kembali terdengar
suara kasar dan beberapa buah pukulan.
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Desisnya “Orang itu
tidak mau menunjukkan rumah ini”
“Kasihan” geram Untara. Terdengar giginya gemeretak
menahan marah. Tetapi tubuhnya sudah terlalu payah. “Ki
Tanu” katanya kemudian “Biarlah mereka menemukan aku.
Maka nyawa orang itu dan mungkin nyawa Ki Tanu dapat
diselamatkan”
“Apakah arti nyawa-nyawa kami” jawab Ki Tanu Metir
“angger adalah salah seorang yang sangat berguna, sedang
kami adalah orang-orang yang tak berarti”
Untara terharu mendengar jawaban itu. Ternyata bahwa
jiwa kepahlawanan tidak saja berkobar didalam dada para
prajurit yang dengan senjata ditangan mempertaruhkan
nyawanya demi pengabdiannya kepada tanah kelahiran dan
kebenaran yang diyakininya, tetapi didalam dada orang tua
itupun ternyata menyala api kepahlawanan yang tidak kalah
dahsyatnya. Melampaui keteguhan hati seorang prajurit
dengan senjata ditangan menghadapi lawannya dalam
kemungkinan yang sama, membunuh atau dibunuh. Tetapi
orang tua itu, seorang dukun yang hidup diantara para petani
yang sederhana, telah menantang maut dengan perisai
dadanya, kulit dagingnya.
Untara menggeleng lemah “Tidak” katanya, “sudah
sewajarnya seorang prajurit mati karena ujung senjata, namun
tidak seharusnya aku berperisai orang lain untuk

keselamatanku. Karena itu biarlah mereka menemukan aku
disini. Selagi sempat, biarlah Ki Tanu Metir menyelamatkan
diri”.
“Ini adalah rumahku” jawab Ki Tanu Metir “Kalau aku lari
sekarang, maka kerumah ini pula aku akan kembali, dan
orang-orang itu akan dapat menemukan aku disini. Tak ada
gunanya”
Sekali lagi Untara menarik nafas. Sebelum sempat ia
menjawab berkatalah Ki Tanu Metir “Angger, kenapa kita tidak
berusaha menyelamatkan diri kita berdua? Angger akan aku
sembunyikan. Kalau-kalau orang-orang yang gila itu datang
kemari, dan tidak menemukan angger maka akupun akan
selamat pula”
“Hem” Untara menggeram. Belum pernah ia berpikir untuk
menyembunyikan diri pada saat musuhnya datang. Tetapi kali
ini keadaannya jelek sekali. Bahkan tubuhnya semakin lama
menjadi semakin lemah, meskipun darahnya tidak lagi
mengalir.
“Mungkinkah itu” terdengar suara Untara lirih, sedang
ditikungan bentakan-bentakan kasar masih terdengar.
“Marilah angger aku sembunyikan disentong kiri. Aku
timbuni angger dengan ikatan bulir-bulir padi”. Ki Tanu Metir
tidak menunggu Untara menjawab. Segera ia mencoba
menolongnya berdiri. Untara takut kalau-kalau mereka berdua
akan roboh, tetapi agaknya Ki Tanu yang tua itu masih cukup
kuat untuk memapahnya.
Disentong kiri, Ki Tanu Metir segera membongkar timbunan
bulir-bulir padi. Perlahan-lahan Untara ditolongnya masuk
kedalam sebuah bakul yang besar “Melingkarlah disitu ngger,
dan berusahalah untuk dapat bernafas” berkata Ki Tanu Metir.
Kembali Untara menggeram, Namun ia mengharap bahwa
dengan demikian, ia dan sekaligus Ki Tanu Metir dapat
diselamatkan. Lusa apabila luka dibahunya itu sudah sembuh,
ia akan datang kembali untuk bertemu dengan Alap-alap
Jalatunda.
Dengan tergesa-gesa Ki Tanu segera menimbuni Untara
dengan ikatan bulir-bulir padi. Seikat demi seikat dengan hatihati.
Didalam bakul yang besar itu Untara memejamkan

matanya. Terasa nafasnya menjadi semakin sesak. Namun ia
masih dapat bernafas.
Demikian Ki Tanu selesai dengan pekerjaannya, terdengar
pintu rumahnya diketuk keras-keras, dan terdengarlah suara
kasar memanggilnya “mbah dukun, buka pintumu”
Untara menjadi berdebar-debar. Ternyata Alap-alap
Jalatunda atau orang-orangnya benar-benar datang. Meskipun
demikian ia masih dapat mengucap syukur karena adiknya
telah pergi.
Untuk sesaat Ki Tanu Metir berdiri dengan tegang. Ia tidak
segera beranjak dari tempatnya sehingga terdengar kembali
pintu rumahnya dipukul keras-keras “He, buka pintu Ki Tanu”
Ki Tanu tidak mungkin untuk mengelak lagi. Karena itu
dengan terbata-bata ia berteriak dari sentong kiri “Ya, ya
tunggu. Aku sudah bangun”
Tersuruk-suruk Ki Tanu Metir bergegas pergi ke pintu,
dengan menyeret telumpah dikakinya. Sementara itu kembali
terdengar pintunya hampir berderak patah “Aku tidak sempat
menunggu” terdengar suara dibelakang pintu.
“Ya, ya” sahut orang tua itu “aku sedang berjalan”
Sesaat kemudian Ki Tanu Metir telah membuka pintunya.
Demikian pintu itu menganga, demikian beberapa orang
dengan senjata ditangan berloncatan masuk. Dua orang yang
lain memasuki rumah itu sambil mendorong-dorong seorang
yang bertubuh kecil pendek.
“Kaukah itu Kriya” terloncat dari mulut Ki Tanu Metir. Orang
itu menyeringai ketakutan. Jawabnya “Ya kiai, aku diseretnya
ketika aku sedang melihat air diparit. Aku sangka karena hujan
yang lebat ini, parit-parit akan banjir. Waktu aku sedang
menutup pematang, datanglah orang-orang ini”
“Tak usah mengigau” bentak salah seorang dari mereka
“Monyet itu tidak kembali ke Jati Anom. Mereka pasti kemari
untuk mengobati lukanya”
“Siapa?” berkata Ki Tanu Metir.
Seorang anak muda diantara mereka perlahan-lahan
melangkah mendekati Ki Tanu Metir “Hem” geramnya “Kita
telah berkenalan kiai, namun baru hari ini aku sempat
mengunjungi rumahmu”

“Ya, ya angger, aku pernah mengenal nama angger.
Bukankah angger Alap-alap Jalatunda?”
“Siapakah yang memberi aku gelar demikian” bertanya
anak muda itu. Namun terasa pada nada kata-katanya betapa
ia bangga mendengar sebutan itu.
“Aku tidak tahu” sahut Ki Tanu Metir “Mungkin karena
kedahsyatan angger, maka dengan sendirinya nama itu
tumbuh”
Anak muda itu tertawa lirih. Kemudian katanya “Bagus.
Kalau kau sudah mengenal aku maka jangan sekali-sekali
mengganggu pekerjaanku”
“Tidak ngger, tidak” sahut Ki Tanu cepat-cepat “aku pasti
akan membantu angger”
Disentong kiri, Untara masih dapat mendengar semua
percakapan itu. Karena itu ia menjadi semakin berdebar-debar
ketika didengarnya nama Alap-alap Jalatunda. Anak itu bukan
lawan yang berat baginya. Tetapi dalam keadaannya kini,
maka tak ada yang dapat dilakukan. Meskipun demikian,
dibelainya juga hulu kerisnya. Tangan yang pertama
menyentuhnya, pasti akan digoresnya dengan keris itu. Dan ia
yakin, setiap goresan ditubuh lawannya, betapapun kecilnya,
akibatnya adalah maut. Warangan yang keras dikerisnya itu
benar-benar sangat berbahaya, apabila tidak segera dapat
penawarnya.
Sebentar kemudian Untara mendengar Alap-alap Jalatunda
berkata “Ki Tanu, aku sedang mencari seseorang. Ia terluka
ketika ia mencoba melawan aku. Adakah seseorang datang
kemari untuk berobat?”
Ki Tanu Metir berdiam diri sesaat. Ia sedang mencoba
mencari jawaban atas pertanyaan itu. Tetapi karena itu maka
Alap-alap muda itu membentaknya “Jawab pertanyaanku”
Ki Tanu Metir menggeleng, jawabnya “tidak ngger, tak
seorangpun datang kemari”
Alap-alap Jalatunda tertawa. Katanya “Kiai adalah seorang
dukun yang terkenal. Orang yang terluka itu pasti pernah
mendengarnya. Karena itu ia mesti datang kemari. Apakah
untung rugimu kalau kau sebut dimana dia sekarang?”

O, angger benar. Tak ada untung ruginya kalau aku
menyebut tempatnya, kalau aku mengetahuinya. Tetapi
siapakah orang itu?” bertanya Ki Tanu Metir.
“Jangan berpura-pura. Orang itu bernama Untara. Sangat
berbahaya bagi kami dan bagi kalian” jawab Alap-alap
Jalatunda.
“Hem. Untara” ulang Ki Tanu Metir. “Tak seorangpun
datang kemari sehari ini”
“Baru beberapa saat. Aku telah melukai pundaknya.
Jangan bohong” bentak anak muda itu.
“Aku tidak berbohong ngger” jawab Ki Tanu.
Pandangan mata Alap-alap Jalatunda itu menjadi tajam,
benar-benar seperti mata burung alap-alap. Selangkah ia maju
mendekati Ki Tanu Metir sambil berkata “Kau sudah tua.
Tidakkah kau ingin menikmati sisa-sisa hidupmu? Jawab
pertanyaanku dimana Untara kau sembunyikan”
Ki Tanu Metir menjadi gemetar. Namun ia menjawab juga
“Tak ada ngger, benar-benar tak ada”
“Dengar Ki Tanu” bentak anak muda itu “Aku bertemu
dengan anak itu diujung hutan. Ia mencoba melarikan diri.
Dalam perkelahian seorang lawan seorang, aku telah
melukainya. Kemudian Untara yang mempunyai nama yang
cemerlang itu bertempur berdua dengan kawannya. Karena
mereka berdua itulah maka mereka sempat melarikan diri.
Nah katakan kepadaku, dimana dia sekarang. Kawankawanku
yang menyusuri jalan ke Jati Anom tidak
menemuinya. Ia pasti datang kemari”
“Tidak ngger” jawab Ki Tanu “sungguh tidak”
“He monyet bungkik” teriak Alap-alap itu kepada Kriya
“Jawab pertanyaanku”
Kriya itupun didorongnya maju. Dan terdengarlah Alap-alap
yang garang itu berteriak “Kau lihat orang berkuda masuk
kedukuh Pakuwon”
“Aku dengar derap kuda” sahut orang itu.
Tiba-tiba sebuah pukulan bersarang diwajahnya, sehingga
Kriya itupun terpelanting jatuh. “Ampun” mintanya.
“Kau lihat dua orang diatas satu punggung kuda seperti
katamu tadi ditikungan” teriak Alap-alap itu.

Kriya terdiam. Matanya memandangi Ki Tanu Metir, dan
dari mata itu memancar kengerian yang tersangkut dihatinya.
Orang yang pendek kecil itu benar-benar berada dalam
kesulitan. Ia tidak dapat mengingkari penglihatannya, yang
sudah terdorong dikatakannya ditikungan ketika bertubi-tubi
tangkai-tangkai senjata mengenai punggungnya. Tetapi ia
takut pula untuk menyebutnya sekali lagi dihadapan Ki Tanu
Metir. Bukan karena Ki Tanu Metir mempunyai kekasaran dan
kebengisan seperti orang-orang itu, namun karena Ki Tanu
Metir adalah orang tua yang disegani dipadukuhan itu. Ki Tanu
Metir adalah seorang yang sangat baik bagi mereka. Apabila
anak istri orang-orang padukuhan itu sakit, maka Ki Tanu
Metir pasti bersedia untuk menolongnya. Pagi, sore, siang
atau malam. Karena itu Kriya tidak sampai hati untuk
mengatakan apa yang dilihatnya, Sebab dengan demikian,
maka akan celakalah orang tua yang baik hati itu.
Tetapi tiba-tiba dadanya berdesir ketika Kriya melihat Alapalap
Jalatunda melangkah mendekatinya. Dengan
mengerutkan tubuhnya yang kecil itu, serta menutupi ubunubun
dikepalanya dengan kedua telapak tangannya ia
memohon “Ampun”
Alap-alap jalatunda tertawa. Seperti anak nakal yang
tertawa-tawa melihat seekor anjing ketakutan, ia memandangi
Kriya yang kecil dan pendek itu “Kenapa kau tak mau
mengulangi kata-katamu. Kau takut kepada orang tua ini?”
berkata anak muda itu sambil menunjuk Ki Tanu.
Sekali lagi Kriya memandangi wajah Ki Tanu Metir, wajah
yang biasanya selalu bening, namun kali inipun tampak,
betapa perasaan cemas sangat mengganggunya.
Tiba-tiba terdengarlah orang tua itu berkata perlahan-lahan
“Kriya, berkatalah sebenarnya”
Kriya tidak segera mengetahui maksud Ki Tanu Metir.
Karena itu untuk sesaat ia beragu, sehingga terdengar Ki
Tanu Metir berkata mengulangi “Katakanlah apa yang kau
ketahui kepada angger alap-alap Jalatunda”
Meskipun dengan ragu-ragu, kemudian Kriya membuka
mulutnya ketika ia mendengar Alap-alap Jalatunda itu tertawa
dan selangkah mendekatinya sambil menggerak-gerakkan

ujung pedangnya dimuka wajahnya “Ampun ngger,
Sebenarnya aku melihat orang berkuda itu”
“Hem, baru sekarang kau katakan ktu “geram Alap-alap
Jalatunda. “Lalu?”
“Ya, dua ekor kuda diatas punggung orang…..eh …..eh….,
dua orang berkuda diatas satu punggung kuda” sahut Kriya
kebingungan.
Kemudian Alap-alap Jalatunda itu memutar tubuhnya
menghadap Ki Tanu Metir sambil tertawa menyeringai.
Katanya “Kau dengar dukun tua, lidah si bungkik itu terputarputar?”
“Aku dengar” jawab Ki Tanu Metir “Tetapi adakah
seseorang yang masuk kepadukuhan ini pasti datang
kerumahku? Bagaimanakah kalau orang itu sekedar lewat dan
terus ke Glagah Legi atau ke Gedawung?”
Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya, namun
jawabnya “Hanya disini tinggal seorang dukun yang ternama”
Dan tiba-tiba mata Alap-alap itu menjadi liar “Mana dia”
bentaknya, sehingga Kriya terkejut dan menggigil karenanya.
Untara yang mendengar bentakan-bentakan itupun menjadi
gelisah. Apakah yang akan dilakukan terhadap orang setua Ki
Tanu. Tetapi Untara terkejut ketika jawabnya Ki Tanu justru
menjadi tenang “Angger, kalau angger tidak percaya, silakan
mencarinya”
Mata Alap-alap Jalatunda yang liar itu beredar berkeliling
kesegenap sudut, kemudian sekali lagi ia berteriak “Bohong!”
Tiba-tiba diantara mereka, diantara kawan-kawan Alap-alap
Jalatunda itu terdengar seseorang tertawa. Suaranya
menggelegar dan jauh berbeda dengan suara Alap-alap
Jalatunda “He Alap-alap kecil, agaknya kau terlalu baik hati.
Jangan buang-buang waktu. Berpencarlah dan cari disemua
sudut rumah ini”
Ki Tanu Metir terkejut mendengar suara itu. Demikian juga
Untara. Orang yang menyebut “Alap-alap Jalatunda dengan
sebutan Alap-alap kecil itupun pasti bukan orang kebanyakan.
Karena itu dada Untara menjadi semakin berdebar-debar.
Alap-alap Jalatunda sendiri mengerutkan keningnya.
Kemudian sahutnya “Bagus”, dan kepada anak buahnya ia

berkata “Carilah orang yang bernama Untara itu sampai
ketemu. Suguhkan dia kepada tamu kita kakang Plasa Ireng”
“Plasa Ireng” Untara menyebut nama itu didalam hati. Dan
debar jantungnyapun menjadi bertambah cepat, sejalan
dengan tubuhnya yang bertambah lemah. Plasa Ireng adalah
orang yang benar-benar menakutkan. Ia adalah salah seorang
prajurit Jipang yang dipercaya. Seperti Arya Jipang sendiri,
Plasa Ireng adalah seorang pemarah, dan bahkan Plasa Ireng
memiliki sifat-sifat yang jauh lebih bengis dari Arya
Penangsang. “Orang itu ada disini pada saat aku tak mampu
menemuinya” pikir Untara. Seandainya Untara tidak terluka,
maka dengan penuh gairah Plasa Ireng itu akan disambutnya.
Tetapi keadaan Untara sedemikian buruknya, sehingga untuk
berdiripun agaknya terlalu payah baginya, hanya karena
darahnya terlalu banyak mengalir.
Sesaat kemudian orang-orang Alap-alap Jalatunda itu
memencar kesegenap sudut rumah Ki Tanu Metir. Setiap
lekuk-lekuk diperiksanya, bahkan sampai-sampai gledeggledeg
bambupun dibukanya. Tetapi tak seorangpun mereka
ketemukan. Sentong kanan, tengah dan kiripun mereka jenguk
pula, bahkan dengan lampu ditangan mereka. Namun
disentong-sentong itu mereka hanya melihat setumpuk bantal
dan disentong kiri seonggok untaian padi didalam bakul yang
besar. Namun Untara tak mereka temukan.
Selagi mereka sibuk mencari-cari, kembali terdengar Plasa
Ireng terawa nyaring diluar pintu. Katanya “Kuda itu telah
kemari, tetapi aku melihat bekas kakinya meninggalkan
tempat ini”
Alap-alap Jalatundapun segera meloncat keluar. Segera
iapun mengamat-amati bekas kaki-kaki kuda itu dibawah
cahaya oncor ditangan Plasa Ireng. Kemudian terdengar ia
memanggil “Bawa Kriya kemari”
Kriya yang pendek itupun segera didorong keluar.
Kemudian diseret mendekati alap-alap Jalatunda yang masih
terbungkuk-bungkuk mengamat-amati telapak-telapak kaki
kuda.
“Kriya bungkik..!” teriak Alap-alap muda itu “Kau lihat orang
ini datang. Pasti kau lihat ia pergi”

“Ya, aku lihat” jawab Kriya terbata-bata.
“Kenapa kau tidak bilang sejak tadi? Kau sengaja
mempermainkan kami?” bentak Alap-alap Jalatunda sambil
melekatkan ujung pedangnya pada perut Kriya yang kecil itu.
“Tidak, tidak..” sauara Kriya hampir merintih.
“Atau kau termasuk gerombolan orang yang bernama
Untara itu?” desak Alap-alap Jalatunda’
“Tidak…” sahut Kriya.
“Jadi kenapa kau lindungi dia?” desak anak muda itu. Ia
harus dapat berlaku kasar, sekasar Plasa Ireng.
“Aku tidak tahu kalau kuda yang datang itu kemudian juga
kuda yang aku lihat meninggalkan padukuhan ini” jawan Kriya
mencoba menyelamatkan dirinya.
“Kenapa? Adakah perbedaanya?” pertanyaan itu
sedemikian cepatnya sehingga Kriya tidak sempat
mempertimbangkan jawabannya. Karena itu tiba-tiba meluncur
dari mulutnya “Yang datang berdua, yang pergi hanya
seorang”
“Ha” jawaban itu benar-benar mengejutkan. Kriya sendiri
terkejut mendengar jawaban itu. Ki Tanu Metir yang
mendengar percakapan itu mengerutkan keningnya. Ia tak
akan dapat mengelak lagi. Tetapi ia tidak kehilangan
ketenangannya. Karena itu sikapnya benar-benar
mengherankan.
Tiba-tiba terdengar Alap-alap Jalatunda tertawa berderai
dan Plasa Ireng itupun tertawa pula. Terdengar Plasa Ireng
berkata “Yang seorang melarikan diri, tetapi kawannya yang
luka ditinggalkannya disini”
Untara mnenjadi gelisah. Bukan karena dirinya sendiri,
namun dengan demikian maka Ki Tanu Metir pasti akan
mengalami bencana. Alap-alap Jalatunda yang ingin
mendapat pujian dari Plasa Ireng itu dapat berbuat hal-hal
diluar dugaan. Dan apa yang dilakukan Plasa Ireng sendiri
akan sangat mengerikan. Apalagi ketika Untara mendengar
Plasa Ireng membentak “He dukun celaka, aku tidak telaten
melihat cara Alap-alap kecil itu mencari lawannya. Untara
adalah seorang yang sangat berbahaya. Aku ingin
menemuinya disegala medan peperangan namun aku selalu

gagal. Hanya namanya saja yang pernah aku dengar.
Disegala garis perang Untara pasti berhasil menyapu lawanlawannya.
Nah, tunjukkan kepadaku sekarang dimana orang
itu” Kemudian katanya kepada Alap-alap Jalatunda “Alap-alap
kecil, serahkan Untara kepadaku, kau dapat menemukan yang
seorang lagi”
“Anak itu telah pergi” jawab Alap-alap Jalatunda.
“Kau dapat memeras keterangan dari orang pendek itu
kemana ia melarikan diri. Pakai kudaku. Kejar dia dan bawa
dia kemari atau penggal lehernya dan tinggalkan disekitar
Sangkal Putung”
Perintah-perintah itu mengalir seperti pancuran. Dan
perintah-perintah itu benar-benar mengejutkan.
Dada Untarapun tiba-tiba bergolak dengan dahsyatnya.
Untara sesaat ia lupa tentang lukanya. Yang didengarnya
kemudian adalah suara Alap-alap Jalatunda “Untara adalah
lawanku. Karena itu aku ingin menyelesaikan perkelahian itu”
Plasa Ireng menarik nafas, tampak dahinya berkerut.
Katanya “Kaukah yang melukainya?”
“Sudah aku katakan” jawab Alap-alap Jalatunda.
“Dalam perkelahian seorang lawan seorang?” desak Plasa
Ireng.
“Ya” sahut anak muda itu.
Tiba-tiba Plasa Ireng tertawa, katanya “Jangan mengelabui
orang tua. Aku tahu siapakah Untara dan siapakah Pratanda
yang sekarang bergelar Alap-alap Jalatunda. Atau kau takut
kepada yang seorang itu pula”
Wajah Alap-alap Jalatunda menjadi merah. Namun tidak
berani berbuat sesuatu meskipun hatinya melonjak. Meskipun
demikian ia menjawab “Jangan memperkecil arti Alap-alap
Jalatunda didaerah ini. Kenapa aku takut kepada yang
seorang lagi. Berdua dengan Untara aku telah berhasil
mengalahkan mereka”
“Jangan ulangi!” bentak Plasa Ireng. Sikapnya benar-benar
garang. Apalagi kepada lawan-lawannya. Kepada Alap-alap
Jalatunda itupun ia berkata “Kalau sekali lagi kau sebut
kemenanganmu itu, aku tampar mulutmu. Sekarang pakai
kudaku, kejar yang seorang sampai ketemu” kemudian

kepada Kriya Plasa Ireng berkata “kearah mana kuda yang
itu?”
Kriya yang kecil pendek itu telah kehilangan seluruh
hatinya, karena itu maka jawabannyapun meluncur dengan
lancarnya “keselatan”
“Terus?” desak Plasa ireng.
“Tidak. Disimpang tiga membelok kebarat” jawabnya.
“Nah, kejar dia. Lewat Kali asat” perintahnya.
Alap-alap Jalatunda masih berdiri ditempatnya, sehingga
Plasa Ireng membentak “Pergi…!”
Alap-alap Jalatunda yang garang itu tidak membantah.
Bergegas-gegas ia pergi kejalan kecil dimuka halaman Ki
Tanu Metir. Dan sesaat kemudian terdengarlah derap kuda
berlari.
Mendengar derap kuda itu, berdentanglah jantung Untara.
Segera ia mencemaskan nasib adiknya. Tiba-tiba saja ia
mencoba menyibakkan tumpukan padi diatasnya. Namun
terasa pundaknya menjadi semakin sakit. Dan ketika ia
meraba pundak itu, terasa darahnya kembali mengalir. Karena
itu dicobanya untuk menenangkan dirinya. Ia mencoba
berpikir, apakah yang sebaiknya dilakukan. Dalam pada itu
terdengar Plasa Ireng membentak “He dukun tua, kangan
menyamakan aku dengan Pratanda yang cengeng itu. Sekali
aku bertanya, kau harus menunjukkan tempat Untara. Kalau
tidak sebaiknya aku sobek mulutmu, dan aku bakar rumah ini.
Nah, tunjukkan tempat Untara itu sekarang”
Sekali lagi Untara menggeliat. Ia sama sekali tidak rela,
apabila dukun yang naik itu mengalami bencana karena
dirinya. Tetapi dengan demikian, keadaannya menjadi
semakin buruk. Darah yang kembali mengalir dari lukanya itu,
sangat mempengaruhinya. Sehingga Untara menjadi sangat
cemas. Ketika matanya seakan-akan tidak dapat dibukanya
lagi, sesaat kesadarannya seperti hilang. Dan tiba-tiba ia
menjadi sangat pening. Lamat-lamat masih didengarnya Ki
Tanu Metir menjawab tenang “Sayang ngger Plasa Ireng, aku
tidak dapat menunjukkan tempat itu”
“He..!” Plasa Ireng berteriak “Kau mencoba membantah.
Jangan mengorbankan dirimu untuk monyet yang ganas itu”

“Ia berada dirumahku” jawab Ki Tanu, “karena itu
keselamatannya berada ditanganku”
Jawaban itu benar-benar mengejutkan. Untarapun terkejut.
Namun ia tidak mau mengorbankan orang tua itu. Tetapi
ketika ia mencoba sekali lagi untuk bangkit, maka kepalanya
menjadi semakin peningnya. Perlahan-lahan kesadarannya
menjadi semakin tipis. Dan ketika ia mencoba berteriak untuk
menunjukkan dirinya maka dunia seakan-akan kelam. Untara
tidak sadarkan diri.
***
Malam yang gelap masih merajai seluruh permukaan bumi.
Satu-satu dilangit bintang berebut dahulu muncul dari balik
awan yang mengalir dihanyutkan angin selatan. Udara yang
dingin membelai daun-daunan dan pohon-pohonan yang
masih basah.
Diatas jalan berbatu-batu menuju Sangkal Putung, lewat
Kali asat terdengarlah suara kaki kuda berderap .Kuda itu
berlari dengan kencang, namun tidak dengan kecepatan
penuh. Penunggangnya, Agung Sedayu, bukanlah seorang
penunggang kuda yang berani. Karena itu, meskipun
perasaan takut selalu mengejarnya, namun ia tidak berani
memacu kudanya dengan kecepatan penuh.
Ketika Agung Sedayu mencoba memandang jauh kedepan,
jantungnya menjadi berdebar-debar. Sekali lagi ia harus
membelok kemudian ia kan sampai ke Bulak Dawa. Diujung
bulak yang panjang itulah terdapat sebuah pohon randu alas
raksasa, yang terkenal dengan sebutan tikungan randu alas.
Dibawah randu alas jalan membelok kekiri lewat Kali asat dan
sekali lagi ia harus membelok kekanan. Kemudian ia akan
sampai kejalan lurus langsung menuju Sangkal Putung.
Teringatlah ia akan ceritera tentang genderuwo bermata
satu penunggu randu alas itu. Terasalah seluruh bulu-bulunya
tegak. Tetapi terdorong oleh ketakutannya yang lain,
ketakutannya kepada kakaknya yang akan membunuhnya,
maka dipaksanya juga kudanya berlari. Meskipun demikian

Agung Sedayu tidak henti-hentinya meratap didalam hati.
Perintah kakaknya dirasanya telah menghadapkannya pada
suatu pilihan yang sama-sama mengerikan baginya. Seakanakan
kakaknya sengaja menjerumuskannya kedaerah maut.
Berjalan ke Sangkal
Putung atau tinggal
dirumah Ki Tanu Metir,
maut itu dapat hadir
setiap saat untuk
mencekiknya.
Ketika sekali lagi
Agung Sedayu
memandang kedepan,
kudanya telah sampai
dikelok jalan, dan
sesaat kemudian
dihadapannya
terbentang daerah
persawahan yang
panjang. Bulak dawa.
Kini hujan telah
benar-benar teduh.
Bahkan diantara
bintang-bintang
dilangit, tampak bulan tua muncul dari balik awan. Cahayanya
yang kemerah-merahan memencar terlempar keatas daundaun
padi yang subur ditanah persawahan. Disana sini air
yang bergenangan memantulkan sinar bulan yang redup itu.
Sekali-sekali Agung Sedayu menengadahkan wajahnya.
Mula-mula ia agak berlega hati, ketika malam tidak lagi
sedemikian pekat. Namun tiba-tiba karena itu maka terasa
segenap bulu-bulu ditubuhnya menjadi tegak.
Jauh diarah timur, remang-remang dilihatnya hutan yang
terbujur keselatan, seakan-akan raksasa sedang lelap tertidur.
Sepi. Agung Sedayu segera memalingkan wajahnya. Kalau ia
menempuh jalan timur, maka ia akan menyusur jalan ditepi
hutan itu. Ia manarik nafas. Untunglah kakaknya berpesan
untuk menempuh jalan barat, meskipun agak jauh sedikit.

Lewat jalan ini, jaranglah orang bertemu binatang buas yang
kelaparan, dan mencari mangsanya sampai keluar daerah
perburuan mereka.
Tetapi tiba-tiba mata Sedayu terbentur pada sebuah pohon
yang besar menghadang diujung jalan. Randu alas. Tanpa
disadarinya Sedayu menarik kekang kudanya, sehingga kuda
itu memperlambat larinya. Pohon itu dimata Sedayu seolaholah
berbentuk seorang raksasa yang tegak memandangnya
dengan penuh nafsu. Tidak. Malahan tiba-tiba rimbun daunnya
berubah menjadi kepala hantu yang bulat keputih-putihan,
genderuwo mata satu. Hampir Sedayu memekik ketakutan.
Tetapi suaranya tak sempat meloncat keluar. Sekali lagi ia
menarik kendali kudanya, lebih keras. Dan kini kuda itu
berhenti.
Jantung Sedayu berdebar terlalu cepat. Terdengarlah
nafasnya berkejaran lewat lubang hidungnya. Tiba-tiba
perasaan takutnya memuncak. Tetapi ketika terpikir olehnya
untuk kembali ke dukuh Pakuwon, hatinya diterkam oleh
ketakutan yang lain. Kakaknya siap membunuhnya.
“O” terdengar Agung Sedayu mengeluh. Dirasanya seakanakan
dirinya adalah manusia paling sengsara diatas bumi ini.
Kakaknya yang selama ini amat menyayanginya, menjaganya
setiap saat, tiba-tiba kini membiarkannya dihadang maut.
Bahkan memaksanya untuk terjun kedaerah yang mengerikan
itu. Terasa mata Sedayu menjadi basah karenanya. Ia tidak
dapat mengerti, mengapa ia harus pergi ke Sangkal Putung
malam ini. Ternyata Untara lebih sayang kepada Widura
daripada kepadanya.
“Ibu, ayah” desisnya. Tetapi ia terkejut mendengar
suaranya sendiri. Kalau ayah dan ibunya yang sudah
meninggal itu tiba-tiba datang, maka iapun akan mati
ketakutan. Karena perasaan itulah maka Sedayu menjadi
semakin bingung. Ingin ia berteriak, namun tak bisa
dilakukannya.
Tanpa disadarinya, ketakutannya itu telah membawanya
mendekati bencana yang jauh lebih besar dari yang
dikhayalkan tentang genderuwo bermata satu. Jauh

dibelakangnya berderap seekor kuda yang lain, Alap-alap
Jalatunda.
Pada saat Agung Sedayu dibakar oleh ketakutan, pada
saat itu Alap-alap Jalatunda memacu kudanya habis-habisan.
Mula-mula ia ragu-ragu terhadap pemuda yang dikejarnya.
Apakah pemuda itu tidak akan mencelakakannya. Seandainya
pemuda itu benar-benar seperti yang dikatakan Untara, maka
kedatangannya adalah untuk mengantarkan nyawanya. Tetapi
kemudian diingatnya, bagaimana sikap anak muda itu ketika
pande besi sendang gabus menyerangnya. Tiba-tiba Alapalap
Jalatunda itu tersenyum. Kalau Agung Sedayu benarbenar
anak yang mumpuni, ia pasti mengambil jalan timur.
Ternyata anak itu menurut Kriya telah mengambil jalan barat.
“Menyenangkan” desisnya “Aku akan mendapat permainan
yang baik, jauh lebih baik dari Untara yang luka itu” Maka
Alap-alap Jalatunda itupun memacu kudanya lebih cepat
“Mudah-mudahan aku dapat menyusulnya”
Kaki-kaki kuda Alap-alap Jalatunda itupun berderap pula
diatas jalan berbatu menuju Kali Asat. Dibenaknya sama
sekali tidak terhiraukan genderuwo mata satu di tikungan
randu alas. Ceritera itu pernah didengarnya pula. Tetapi hati
Alap-alap yang muda itu tidak sekecil hati Agung Sedayu.
Karena itu Alap-alap yang garang itu tidak pernah gentar
seandainya betul-betul ada genderuwo mata satu
menghadang didepannya, bahkan ia akan lebih gentar apabila
ia bertemu dengan Untara.
Karena itu Alap-alap Jalatunda berpacu dengan penuh
gairah. Kalau ia dapat menangkap anak muda itu, memenggal
kepalanya dan melemparkan kedua bagian tubuh yang
terpisah itu maka ia akan dapat menggetarkan laskar Pajang
yang bersarang di Sangkal Putung.
Kembali Alap-alap Jalatunda tersenyum dan bersamaan
dengan itu, kudanya dipacu semakin cepat. Kini ia bertekad
untuk dapat menyusul anak muda itu.
Di Bulak dawa Agung Sedayu masih terpekur diatas
punggung kudanya yang tegak seperti patung. Dadanya yang
penuh sesak oleh gelora perasaannya seakan-akan hendak
meledak. Bahkan akhirnya Agung Sedayu tidak berhasil

menguasai dirinya, sehingga beberapa kali terdengar ia
mengeluh. Ditengah-tengah bulak yang panjang dan sepi itu,
seolah-olah Agung Sedayu mendapat kesempatan untuk
meledakkan segala himpitan didadanya.
Agung Sedayu tidak tahu, sudah berapa lama ia berhenti
ditengah-tengah jalan diantara sawah-sawah yang terbentang
sedemikian luasnya, tetapi akhirnya ia terkejut ketika lamatlamat
didengarnya derap kuda dibelakangnya.
Perlahan-lahan Agung Sedayu mengangkat wajahnya.
Didengarnya suara itu baik-baik, “Derap kuda”, desisnya.
“Siapa?”
Sedayu mencoba untuk menebak “Adakah kakang Untara”
katanya seorang diri. Kemudian ia menggeleng “Lukanya agak
parah” kata-katanya dijawabnya sendiri.
“Adakah mereka itu gerombolan Alap-alap Jalatunda?”
kembali ia berkata sendiri. Mendengar kata-katanya itu sendiri
dada Sedayu berdentang. Namun karena pengalamannya
yang picik maka perhitungannyapun picik pula. Katanya “Alapalap
Jalatunda tidak berkuda”
Untuk sesaat Agung Sedayu menjadi agak tenang. Bahkan
ia mengharap mendapat teman untuk melewati tikungan randu
alas. Tetapi tiba-tiba tumbuhlah didalam benaknya
“Bagaimanakah kalau Alap-alap Jalatunda itu menemukan
kudaku?”
Sekali lagi dada Agung Sedayu berguncang. Pikiran itu
semakin lama menjadi semakin kuat. Malah kemudian Agung
Sedayu menjadi pasti. Pikirnya “Derap kuda itu adalah derap
kudaku sendiri, tetapi dengan Alap-alap Jalatunda
dipunggungnya”.
Demikianlah tiba-tiba kaki Agung Sedayu menjadi gemetar.
Dalam kecemasannya, maka lenyaplah segala akalnya yang
jernih. Yang ada didalam hatinya tinggallah “Bagaimana aku
harus bersembunyi dibulak ini?”
Derap kuda dibelakangnya itupun semakin lama menjadi
semakin dekat. Ia tidak dapat menira-irakan, masih seberapa
jauhnya. Namun dimalam yang sepi itu, suara derap itu rasarasanya
tinggal beberapa langkah dibelakangnya.

Tiba-tiba mata Agung Sedayu tersangkut pada sebuah parit
yang agak dalam. Tanpa berpikir lagi, maka dengan tergesagesa
ia meloncat turun. Demikian tergesa-gesanya sehingga
ia jatuh terjerebab ditanah yang becek. Tertatih-tatihia bangun,
kemudian berlari-lari terjun kedalam parit, sehingga pakaian
yang basah menjadi semakin kuyup. Tetapi Sedayu sama
sekali tidak menghiraukannya lagi. Bahkan kemudian, dengan
tidak mengingat persoalan-persoalan yang dapat terjadi
kemudian, anak yang ketakutan itu memungut sebuah batu
dan dengan batu itu ia melempar kudanya. Kuda itu terkejut.
Satu kali kuda itu meloncat, kemudian berputar-putar dan
berlari kencang-kencang kearah tikungan randu alas.
Pada saat itulah Alap-alap Jalatunda muncul dikelok jalan
dibelakangnya. Hati anak muda yang sedang berpacu itupun
berdesir ketika didalam keremangan cahaya bulan ia melihat
seekor kuda yang berlari searah dengan kudanya. “Adakah
kuda itu kuda kawan Untara?” Jarak kedua ekor kuda itu
masih belum terlalu dekat. Dengan demikian Alap-alap
Jalatunda masih belum dapat melihat bahwa dipunggung kuda
itu tak ada seorangpun yang menaikinya. Karena itu, sesaat ia
masih diganggu oleh keragu-raguannya. Jangan-jangan
penunggang kuda itu benar-benar sakti seperti yang dikatakan
Untara.
“Bukankah aku Alap-alap Jalatunda” desisnya. “Alap-alap
Jalatunda tidak mengenal takut. Meskipun seandainya yang
berkuda itu Untara sendiri”. Alap-alap yang muda itu
tersenyum sendiri ketika dari sudut hatinya terdengar jawaban
“Ya, karena kau tahu pasti bahwa Untara sedang terluka
parah”
Alap-alap Jalatunda itupun segera memacu kudanya
secepat angin. Ia tidak mau melepaskan buruannya atau
menunggu sampai ke Sangkal Putung. Orang itu harus segera
ditangkapnya. Hidup atau mati. Karena itu tiba-tiba Alap-alap
itu berteriak ngeri, mirip seperti suara burung alap-alap yang
berteriak diudara. Kudanya itupun berlari semakin kencang
seperti gila.
Agung Sedayu seakan-akan membeku didalam air parit
yang dingin. Ia melihat seekor kuda lari dimuka hidungnya.

Dilihatnya pula anak muda sebayanya duduk merapat
diatas punggung kuda itu seperti sedang berpacu. Dalam
keremangan cahaya bulan Agung Sedayu dapat mengenal,
bahwa penunggang kuda itu adalah anak muda yang tadi
bertempur dengan kakaknya, Alap-alap Jalatunda. Maka dari
itu giginya gemeretak, tetapi sama sekali bukan karena
kemarahannya.
Untuk beberapa saat Agung Sedayu tidak dapat
menggerakkan meskipun hanya ujung jarinya. Hatinya
berdebar-debar seakan-akan bunyi guruh meledak-ledak
didalam rongga dadanya.
Suara kuda Alap-alap Jalatunda itupun semakin lama
semakin samar. Ketika Agung Sedayu menjengukkan
kepalanya yang gemetar lamat-lamat dilihatnya sebuah noktah
hitam semakin lama semakin menjadi kabur. Dan akhirnya
hilang seakan-akan ditelan oleh gendoruwo bermata satu
diujung jalan. Tetapi Sadayu kini sudah tidak ingat lagi kepada
gendoruwo bermata satu itu. Dan matanyapun kini dapat
melihat pohon randu alas itu dengan jelas. Lingkaran yang
keputih-putihan ditengah-tengah bayangan hitam itu tidak lain
adalah bagian-bagian yang tak berdaun. Sedayu menarik
nafas. Namun ketakutan yang lain kini mencekamnya.
Bagaimanakah seandainya Alap-alap Jalatunda itu nanti
kembali. Dan perasaan takutnya itu semakin lama semakin
menghunjam kepusat dadanya. Demikian takutnya sehingga
akhirnya Agung Sedayu tidak dapat lagi berpikir. Tiba-tiba saja
ia berdiri dan merangkak menaiki tepian parit. Seperti orang
yang kehilangan kesadaran diri, Agung Sedayu berlari-lari
kearah jalan kembali ke dukuh Pakuwon. Biarlah kakaknya
membunuhnya, daripada mati karena tangan Alap-alap
Jalatunda yang garang itu. Mula-mula ada juga niatnya untuk
lari kemana saja. Tidak kearah Alap-alap Jalatunda dan tidak
kembali ke kakaknya. Tetapi kemana? Dan apakah yang akan
terjadi dengan dirinya besok lusa dan seterusnya. Karena itu
maka niat itupun tak berani dilakukannya. Ketika Agung
Sedayu hampir sampai kepangkal jalan bulak yang panjang
itu, sebelum ia membelok tiba-tiba sekali lagi ia mendengar
derap kuda. Karena itu langkahnyapun terhenti. Dicobanya

untuk mengetahui dari arah mana kuda itu datang. Ketika ia
menoleh, disepanjang bulak dawa itu tak dilihatnya sesuatu,
sementara itu derap kuda itupun menjadi semakin dekat.
Sekali lagi Agung Sedayu menjadi sedemikian bingungnya
sehingga kembali ia berlari keparit ketepi jalan. Tetapi parit itu
melengkung dan berbelok. Karena itu ia memerlukan waktu
untuk mencapai kelokan parit itu.
Ketika kuda itu muncul disiku jalan, Agung Sedayu baru
mencapai tanggul parit, sehingga dengan tergesa-gesa ia
meloncat terjun kedalamnya. Namun orang yang berkuda itu
sempat melihatnya. Dan tiba-tiba saja penunggangnya
menarik kekang kudanya, dan tepat dimuka Agung Sedayu
terjun, kuda yang berlari kencang itupun berhenti.
Agung Sedayu masih terbaring di dalam parit. Hanya
wajahnya sajalah yang berada di permukaan air. Ketika ia
mendengar bahwa derap kuda itu berhenti, maka ia manjadi
semakin ketakutan da kembali merataplah ia di dalam hati.
Meratapi nasibnya yang malang semalang-malangnya.
Didengarnya orang diatas punggung kuda itu menggeram.
Dan kemudian didengarnya orang itu berkata “Siapa yang
bersembunyi di dalam parit?”
Mendengar suara itu dada Agung Sedayu bergoncang.
Serasa nyawanya telah berada diujung ubun-ubunnya.
“He, jawablah” terdengar suara itu pula. Berat dan lantang
“Siapa itu? Kalau kau ingin berbuat baik, datanglah. Kalau kau
tidak datang, bersiaplah. Kita akan bertempur.”
Agung Sedayu benar-benar menjadi beku. Ia tidak dapat
berbuat lagi sesuatu apapun. Tubuhnya menggigil namun
mulutnya masih terkunci.
“Nah” suara itu berkata pula “Kau tidak mau menampakkan
dirimu. Siapapun kau aku tidak akan takut. Berkemaslah, kita
mengadu kesaktian.”
Sedayu masih mendengar orang itu meloncat turun.
Kemudian tiba-tiba ia melihat sesosok tubuh menjenguknya
dari atas tanggul. Melihat orang itu Sedayu benar-benar
hampir pingsan. Seorang yang mengenakan sebuah topeng
untuk menutupi wajahnya. Tubuhnya yang sedang berbalut

dengan sebuah kain gringsing. Ketika orang itu melihat Agung
Sedayu, maka berderailah tertawanya.
“He” kenapa kau berbaring disitu? Apakah kau sedang
mulai bertapa? Tapa kungkum? Ayo wudarlah tapamu
sebentar. Kita berkenalan. Orang yang biasa tapa kungkum
adalah orang yang sakti, tak akan betah sedemikian lama
merendam diri dalam air dikala udara begini dingin. Ayo
bangunlah”
Agung Sedayu masih menggigil. Memang udara
sedemikian dinginnya. Tetapi Sedayu tak merasakan udara
yang dingin itu. Sehingga terdengar orang itu berkata lagi
“Hem, benar-benar kau orang sakti. Kau dapat menutup
segenap panca indramu sehingga kau tak terpengaruh oleh
kedatanganku. Kalau demikian aku terpasaksa
membangunkan kau”
Tiba-tiba orang itupun meloncat turun. Dengan serta merta
ia mencoba untuk mengangkat tubuh Agung Sedayu. Tetapi
tubuh itu tak terangkat. Bahkan orang itu kemudian berkata
“Belum pernah aku menjumpai orang seberat ini. Aku telah
menjelajahi hampir setiap sudut kerajaan Demak dan
kemudian Pajang, Jipang dan segala pecahan Demak”. Hem”
orang itu menggeleng-gelengkan kepala. Tetapi ia berkata
pula “Bangunlah hai pertapa mumpung kau baru memulainya.
Kalau tidak, jangan kau sebut aku curang kalau aku
membunuhmu sebelum kau wudar dari tapamu”
Agung Sedayu belum pernah melihat orang seorang
pertapa. Karena itu ia tidak tahu bagaimana seseorang mesu
diri dengan bertapa. Maka ketika orang itu menyebutnya
sedang bertapa, ia tidak mengerti meskipun terasa juga
sebutan itu terlalu berlebih-lebihan. Namun ketika orang itu
mengancamnya akan membunuhnya, maka dengan susah
payah, ia mencoba untuk menguasai tubuhnya. Dengan susah
payah ia mengangkat kepalanya, kemudian duduk bersandar
kedua belah tangannya.
Melihat Agung Sedayu bangkit, orang itu mundur
selangkah. Dan sekali lagi ia tertawa nyaring “Ha” katanya
“ternyata masih belum tega akan hidup matimu. Ayo berdirilah,
kita bertempur”

Agung Sedayu tanpa sesadarnya memandangi orang yang
berdiri dihadapannya itu. Dan tiba-tiba saja merayaplah suatu
perasaan yang aneh didalam dadanya. Meskipun orang yang
baru saja datang itu selalu menantangnya, namun nadanya
sangat berbeda dengan kata-kata yang bernah diucapkan oleh
si Pande besi Sendang Gabus atau oleh Alap-alap Jalatunda.
“Berdirilah” tiba-tiba orang itu mengulangi kata-katanya.
Sedayu masih belum berdiri. Ia masih duduk dan sebagian
tubuhnya masih terendam air. Namun tak disangka-sangkanya
orang itu datang menghampirinya dan menolongnya berdiri.
Katanya “Ayo, tegaklah. Kau hampir beku terendam air”
Ketika Agung Sedayu kemudian berdiri, orang itu
memandangnya dengan seksama. Lalu katanya “Kau gagah
benar. Badanmu kekar sedang urat-uratmu kencang. Tubuh
idaman bagi setiap lelaki. Nah, sudahkah kau bersedia untuk
bertempur?”
Dengan serta merta, tanpa dikehendakinya sendiri Agung
Sedayu menggeleng lemah.
“Tidak?” teriak orang bertopeng itu “Kau tidak mau
berkelahi?”
Sekali lagi Agung Sedayu menggeleng dengan sendirinya.
“Hem” desis orang bertopeng itu “Kau belum mengenal
aku. Panggillah aku Kiai Gringsing. Sebutan itu bukan
namaku, tetapi aku senang dipanggil demikian”
Perasaan yang aneh, yang merayap-rayap didalam dada
Agung Sedayu menjadi semakin menebal. Orang itu
mempunyai sikap yang sangat berbeda. Tiba-tiba
ketakutannyapun berkurang. Kalau orang itu ingin berbuat
jahat terhadapnya, maka dengan mudah hal itu dapat
dilakukan. Namun tanda-tanda yang demikian masih belum
dilihatnya. Nada suaranyapun tidak kasar dan tidak
mengandung permusuhan. Sedikit demi sedikit Aung Sedayu
mencoba menguasai otaknya kembali, meskipun ia masih
belum dapat melepaskan perasaan takutnya.
“Aku sangka kau termasuk orang sakti yang tidak menyukai
permusuhan. Baik. Akupun tidak akakn memaksa. Dahulu

akupun pernah mengenal orang serupa kau ini” berkata orang
bertopeng itu.
Tiba-tiba, ya tiba-tiba saja terloncat dari mulut Sedayu
sebuah pertanyaan. Lirih dan gemetar. Tetapi orang
bertopeng itu mendengarnya “Siapa?” katanya.
Orang yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu
mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya “Namanya Ki
Sadewa”
“He” Agung Sedayu terkejut “Kau sebut nama itu?”
“Ya, kenapa? Kau kenal dia? Atau orang itu gurumu? Kalau
demikian benar dugaanku. Kau orang sakti yang tak ingin
bermusuhan dengan siapun juga” sahut kiai Gringsing.
“Orang itu ayahku” berkata Agung Sedayu dengan penuh
kebanggaan.
“He” orang itu terkejut “Kau anak Ki Sadewa? Benarkah
demikian?”
“Ya” jawab Agung Sedayu pendek.
“Pantas, pantas” gumamnya “Kau memiliki kekekaran tubuh
seperti ayahmu, ketahanan tubuh seperti ayahmu pula, dan
sifat-sifat yang sama pula”. Tetapi tiba-tiba orang bertopeng itu
bertanya menyentak “Bohong. Kau akan menakut-nakuti aku.
Aku takut seribu turunan dengan orang yang bernama
Sadewa itu. Dan kau sekarang anaknya?”
“Tidak” jawab Agung sedayu “orang itu benar-benar
ayahku”
“Kalau demikian akan aku buktikan” desis Kiai Gringsing.
Darah Agung Sedayu berdesir. Bagaimanakah caranya
membuktikan? Haruskah ia berkelahi lebih dahulu. Agung
Sedayu kemudian menyesal bahwa ia telah menyebut nama
ayahnya.
Kiai Gringsing itu kemudian berkata pula “Kau masih tetap
pada pendirianmu, bahwa kau tak mau berkelahi?”
Agung Sedayu ragu-ragu sejenak, namun kemudian ia
mengangguk.
“Bukti yang pertama, seperti Ki Sadewa” berkata orang
bertopeng itu. “Tetapi” ia meneruskan “kau dapat berpurapura.
Sedang sebenarnya nafsumu berkelahi melonjak-lonjak.
Sekarang aku ingin membuktikan dengan cara lain. Ki Sadewa

adalah seorang ahli bidik. Memanah, paser, bandil dan
sebagainya. Adakah kau mewarisi kepandaian itu?”
Tiba-tiba wajah Agung Sedayu menjadi cerah. Permainan
yang sama sekali tidak memerlukan keberanian. Karena iru
Agung Sedayu sering melakukannya. Bahkan ia benar-benar
mewarisi keahlian ayahnya itu. “Baiklah” jawabnya.
“Nah” berkata Kiai Gringsing “aku akan melambungkan
batu ke udara. Kenailah dengan lemparan pula”.
“Bagus” teriak Agung Sedayu gembira. Permainan itu
memang sering dilakukan dengan ayahnya dahulu. Bahkan
kakaknya, Untara tak menyamainya.
Kiai Gringsing itu kemudian memungut sebuah batu, dan
dilemparkannya tak begitu tinggi “Aku sudah mulai” teriaknya.
Sedayupun segera memungut batu pula. Ketika batu yang
dilemparkan oleh Kiai Gringsing itu telah mencapai puncaknya
dan meluncur turun, Sedayu mulai melemparkan batunya.
Sesaat kemudian terdengarlah suara kedua batu itu beradu.
“Dahsyat” teriak Kiai Gringsing “Didalam cahaya bulan yang
hanya samar-samar kau telah berhasil mengenainya, Kau
benar-benar anak Ki Sadewa. Karena itu aku tak akan berani
menanatangmu”
“Kau percaya?” bertanya Agung Sedayu dengan bangga.
“Ya, aku percaya” jawab orang itu.
Agung Sedayu tersenyum. Dan tiba-tiba hatinya menjadi
agak tenteram. Ia merasa bahwa didalam dirinya tersembunyi
pula kemampuan yang tak dimiliki oleh orang lain.
Tetapi selagi Agung Sedayu berbangga atas
kemampuannya itu, lamat-lamat didengarnya derap seekor
kuda. Hatinya yang mulai berkembang itu tiba-tiba kuncup
kembali “Suara kuda” desisnya.
“Ya” jawab Kiai Gringsing “dari arah tikungan randu alas”
Dada Agung Sedayu berdentang. Apakah Alap-alap
Jalatunda yang sedang mencarinya? Keringat dingin mulai
mengaliri seluruh tubuhnya. Dan kembali anak muda itu
menjadi gemetar.
Tetapi agaknya Kiai Gringsing sama sekali tidak tertarik
pada suara derap kaki-kaki kuda itu, maka katanya “Jangan

hiraukan suara derap itu, siapapun yang akan lewat biarlah ia
lewat”
Namun Agung Sedayu tidak dapat berbuat demikian.
Dalam pada itu terdengar kembali suara Kiai Gringsing “Anak
muda, kecakapanmu benar-benar melampaui kecakapan
anak-anak muda biasa. Sejak kapan kau berlatih membidik?”
Agung Sedyu mendengar juga pertanyaan itu. Tetapi
meskipun derap kaki-kaki kuda masih cukup jauh serasa
seperti derap dijantungnya. Namun ia menjawab “Sejak kecil”
Dan terlintaslah untuk sesaat kenangan masa kanak-kanak
itu. Kakaknya lebih suka berburu kehutan daripada berlatih
membidik dirumah. Sedangkan Agung Sedayu yang tak berani
kut serta, menghabiskan waktunya dengan berlatih memanah,
paser, bandil dan sebagainya. Tetapi kecakapannya itu tidak
dipergunakannya, selain dalam perlombaan memanah untuk
anak-anak.
Tetapi kenangan itu kemudian terusir oleh gemeretak kakikaki
kuda yang semakin dekat. Dan karena itu maka tubuhnya
semakin gemetar pula.
“Anak muda” berkata Kiai Gringsing “agaknya kau tertarik
sekali pada orang berkuda itu. Adakah itu sahabatmu? Kalau
demikian biarlah aku pergi dahulu. Lain kali kita beremu”
“Jangan, jangan pergi Kiai” tanpa diduga-duga Agung
Sedayu berteriak. Dan tiba-tiba saja ia meloncat mendekati
orang bertopeng itu.
“Kenapa?” Kiai Gringsing bertanya.
“Orang yang berkuda itu mungkin Alap-alap Jalatunda”
jawab Agung Sedayu.
“Alap-alap Jalatunda? Darimana kau tahu?” bertanya orang
bertopeng itu pula.
“Ia sedang mengejar kami. Aku dan kakakku” jawab
Sedayu.
“Aku pernah mendengar namanya. Tetapi apakah
keberatanmu?” desak Kiai Gringsing “Kalau Alap-alap
Jalatunda itu berani mengejar putra Ki Sadewa, apakah ia
sudah gila?”
“Ya, ia mengejar aku dan kakakku yang terluka” jawab
Agung sedayu.

“Kau dan kakakmu? Siapakah namamu he anak muda dan
siapa nama kakakmu?” sahut kiai Gringsing “Apakah Aka-alap
Jalatunda itu bernyawa tujuh rangkap?”
“Namaku Sedayu, Agung Sedayu dan kakakku bernama
Untara “jawab Sedayu yang segera disusulnya dengan
terbata-bata ”Kiai, tolonglah aku” minta anak muda itu.
Kiai Gringsing memandangi Agung Sedayu dengan
seksama. Kemudian orang bertopeng itu menarik nafas
dalam-dalam. Tetapi sesaat kemudian ia tertawa. Katanya
“Kau benar-benar tidak mau melibatkan diri dalam perkelahian
melawan siapa saja. Tetapi jangan kau umpankan orang lain.
Kalau kau tak mau berkelahi, jangan berkelahi. Akupun tidak”
“Tidak kiai. Aku minta kiai menolong aku” desak Agung
Sedayu ketakutan. Meskipun mula-mula ia agak malu juga,
namun kemudian terpaksa ia berkata “Aku tidak pernah
berkelahi. Aku takut”
Orang bertopeng itu menggeleng-gelengkan kepalanya.
Katanya “Orang-orang sakti sering berbuat aneh-aneh. Ki
Sadewa juga selalu menghindari perkelahian. Namun ia
mempunyai cara yang baik. Caramu itu adalah keterlaluan.
Carilah cara lain. Jangan pura-pura takut. Tak akan ada orang
percaya, keturunan Ki Sadewa menjadi ketakutan karena
Alap-alap Jalatunda. Sedang Ki Sadewa itupun tak pernah
membiarkan kejahatan berlangsung terus. Kalau ia bertemu
Alap-alap Jalatunda misalnya, orang itu pasti akan ditaklukkan
dan diusahakan untuk meluruskan jalannya”
Agung Sedayu sudah tidak mendengar kata-kata itu.
Karena derap kuda itu semakin dekat, maka Sedayupun
menjadi bingung. Ketika ia menatap bulak yang panjang
dalam keremangan cahaya bulan telah dilihatnya, seekor kuda
berpacu kearahnya.
“Itulah dia kiai” berkata Sedayu “Tolonglah aku”
“Bagaimana aku bisa menolongmu, kau mempunyai
kemampuan lebih baik dari aku” jawab Kiai Gringsing “Atau
kau ingin mengenali aku dengan melihat caraku berkelahi?”
“Tidak, tidak” jawab Sedayu mendesak “aku takut”
“Angger Sedayu” berkata orang bertopeng itu. Dan tiba-tiba
suaranya menjadi bersungguh-sungguh “Seandainya kau

bertempur melawan Alap-alap Jalatunda itu, dan karena tak
kau sengaja lawanmu terbunuh, kau tak usah menyesal.
Sebab bukan kau sebab dari perkelahian itu. Apabila kau tak
membunuhnya, atau memaksanya pergi, kau sendiri pasti
akan dibunuhnya”
Tetapi agung Sedayu malahan menjadi bertambah ngeri.
Maka jawabnya “Aku tidak berani Kiai, aku takut”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya kembali.
Ditariknya keningnya sehingga topengnya bergerak-gerak.
“Baiklah” katanya “agaknya kau bercuriga kepadaku dan ingin
mengenal aku lewat unsur-unsur gerakku, tetapi apakah kau
mampu melawan Alap-alap itu?” Dan tiba-tiba saja orang yang
bertopeng dan berselimut kain gringsing itu melonca, ringan
sekali, keatas tanggul parit. Masih terdengar ia berkata
“Jangan berendam lagi didalam air Sedayu, kau akan
membeku” Namun kemudian orang itu bergumam lirih, yang
hanya dapat didengarnya sendiri “Tak berhasil”
Sementara itu kuda yang berlari kencang-kencang itupun
menjadi semakin dekat. Diatas punggung kuda itu tampak
seseorang yang hampir melekatkan tubuhnya pada tubuh
kudanya. Dari kejauhan penunggang kuda itupun telah melihat
seekor kuda berhenti ditengah jalan. Karena itu, timbullah
pertanyaan didalam hatinya. “Siapakah gerangan orang
berkuda itu?”
Orang yang datang itu benar-benar Alap-alap Jalatunda.
Anak itu mengumpat tak habis-habisnya ketika ia berhasil
menyusul kuda Agung Sedayu, namun tanpa penunggangnya.
“Setan” dengusnya setelah ia mengetahui kuda itu tak
berpenumpang “Dimana kau sembunyi kelinci licik” Dan
karena itu maka segera ia memutar kudanya kembali. Menurut
perhitungan Alap-alap Jalatunda, Sedayu pasti masih
bersembunyi disekitar jalan yang dilampauinya. Tetapi ketika
ia melihat seekor kuda berdiri dijalan itu, maka Alap-alap
Jalatunda itu menjadi berdebar-debar. “Persetan, siapa saja
orang itu. Kalau ia berusaha menyembunyikan buruanku,
maka orang itulah yang akan aku penggal kepalanya dan aku
lemparkan disekitar Sangkal Putung”

Kuda Alap-alap Jalatunda itupun semakin lama menjadi
semakin dekat, dan Agung Sedayupun menjadi semakin
gemetar. Tetapi Kiai Gringsing berdiri saja dengan tenangnya
menanti kedatangan Alap-alap muda yang garang itu.
“Aku baru kenal namanya” berkata Kiai Gringsing “Kalau
aku terbunuh oleh Alap-alap Jalatunda, kaulah yang bersalah”
Agung Sedayu tidak menjawab, memang ia tidak tahu
bagaimana harus menjawab. Kalau orang bertopeng itu kalah,
maka sudah pasti dirinyapun akan mengalami bencana.
Karena itu desisnya “Jangan Kiai, jangan kalah”
Kiai Gringsing tertawa berderai. Benar-benar ia tertawa
karena geli. “Tak seorangpun yang mau kalah dalam setiap
perkelahian. Tetapi tak seorangpun yang pasti bahwa ia tidak
akan dikalahkan, betapapun lemah lawannya. Bukankah nasib
seseorang tak dapat ditentukan oleh orang itu sendiri,
meskipun sudah menjadi kewajiban seseorang untuk
berusaha”
Agung Sedayu tak sempat menjawab karena Alap-alap
Jalatunda telah sedemikian dekatnya. Anak muda diatas
punggung kuda itu segera menarik kekang kudanya, dan kuda
itu berhenti beberapa langkah saja dihadapan kuda Kiai
Gringsing. Didalam cahaya bulan dilihatnya seorang
bertopeng berdiri tegak diatas tanggul parit. Dan tiba-tiba
dilihatnya didalam parit seorang lain berdiri gemetar “Ha”
teriaknya kegirangan “Kaukah itu?”
Agung Sedayu terbungkam. Namun dadanya melonjaklonjak.
Darahnya serasa mengalir semakin cepat.
Alap-alap Jalatunda tertegun. Dipandanginya orang
bertopeng itu dari ujung kakinya sampai keujung ikat
kepalanya “Apakah kau penari topeng?”
Tetapi orang bertopeng itu menjawab “Tepat. Aku adalah
tokoh Panji dalam setiap ceritera”
“Huh” Alap-alap itu mencibirkan bibirnya “Jangan mainmain,
kau berhadapan dengan Alap-alap Jalatunda”
“Ya, aku sudah tahu” jawab Kiai Gringsing
Alap-alap Jalatunda mengerutkan keningnya “Dari mana
kau tahu?”

“Dari anak muda
itu” sahut Kiai
Gringsing sambil
menunjuk Agung
Sedayu.
“Apamukah itu?”
bertanya Alap-alap
Jalatunda pula.
“Bukan apa-apa.
Aku baru saja
bertempur melawan
anak itu, dengan
perjanjian, siapa yang
kalah harus bertempur
melawan Alap-alap
Jalatunda. Ternyata
aku kalah” jawab Kiai
Gringsing “Karena itu
aku harus bertempur
melawan Alap-alap
Jalatunda”
Alap-alap Jalatunda membelalakkan matanya. Ditatapnya
Kiai Gringsing dengan tajam penuh pertanyaan. Terdengarlah
kemudian anak muda itu menggeram “Hem, kanapa kau pakai
topeng? Sebutkan dirimu, supaya aku dapat mengukur
kesaktianmu”
“Namaku Kiai Gringsing” jawab orang bertopeng itu.
“Aku belum mengenalmu, kenapa kau menghina aku?”
bertanya Alap-alap Jalatunda.
“Aku berkata sebenarnya” jawab Kiai Gringsing.
“Kenapa yang kalah yang harus menghadapi Alap-alap
Jalatunda? Adakah kalian yakin, bahwa kalian adalah orangorang
sakti yang tak terkalahkan?” desak Alap-alap yang
sedang marah itu.
“Tidak” sahut Kiai Gringsing “Aku sama sekali tak berniat
untuk bertempur melawanmu, sebab aku baru pernah
mendengar namamu. Tetapi ketika aku lewat, anak muda itu
mendekam didalam parit. Dengan serta merta ia

menghentikan aku. Tetapi ia menjadi kecewa setelah ternyata
aku bukan yang ditunggunya. Sebab aku bukan Alap-alap
Jalatunda. Anak muda itu marah kepadaku, dianggapnya aku
mengganggu pekerjaannya. Kami bertengkar, dan diambilnya
keputusan, kalau aku kalah aku harus menyerahkan Alap-alap
Jalatunda kepadanya. Hidup atau mati. Tetapi …..”
“Cukup!” bentak Alalp-alap Jalatunda “jangan membual”
Suaranya keras mengguruh, sehingga Agung Sedayu hampir
terjatuh karena terkejut. Namun dalam ketakutannya, timbul
pula perasaan yang aneh, ketika ia mendengar ceritera Kiai
Gringsing tentang dirinya.
Kemudian terdengar Alap-alap Jalatunda itu meneruskan
“Kau memakai topeng itu bukan karena kebetulan. Apakah
maksudmu. Mungkin kau salah seorang yang pernah aku
kenal dan mencoba menyembunyikan dirimu. Tetapi itu tak
akan berarti. Hidup atau mati aku akan dapat merenggut
topeng itu dari wajahmu, dan akan jelas bagiku siapakah kau
ini dan apa maksudmu sebenarnya”
****
Kiai Gringsing menggeleng “Tidak” jawabnya “Tak
seorangpun dapat melepas topeng ini, sebab topengku telah
melekat pada kulit wajahku”
“Hem” Alap-alap itu menggeram penuh kemarahan.
“Bagus. Kalau demikian akan aku kelupas kulit mukamu itu”.
Meskipun demikian timbul pula pertanyaan didalam dadanya.
Telah dua orang yang menyebut anak itu sebagai orang sakti
yang tak perlu melayaninya sendiri. Dari mulut Untarapun ia
pernah mendengar hal itu. Tau, adakah orang bertopeng ini
Untatra yang sedang menjebaknya? Alap-alap itu menggeleng
“Tak mungkin, Untara terluka”
Terdengar kemudian jawaban Kiai Gringsing “Jangan.
Jangan kau kelupas kulit mukaku. Wajahku pasti akan
menakuti anak-anak kelak”
“Jangan banyak bicara” potong Alap-alap Jalatunda yang
menjadi kian marah “bersiaplah. Kau atau anak muda itu
bagiku sama saka. Satu demi satu kalian akan aku bunuh.
Atau kalian berdua sekaligus. Mari” Alap-alap itupun segera

bersiap. Agaknya ia mau epat-cepat selesai sehingga tiba-tiba
saja ditangannya tergenggam pedangnya jang putih berkilatkilat.
“O” berkata Kiai Gringsing “baiklah. Karena aku yang harus
bertempur maka biarlah aku melayanimu dahulu. Tunggu
sebentar, aku mengambil senjataku” Kiai Gringsing tidak
menunggu jawaban Alap-alap Jalatunda. Dengan enaknya ia
berjalan mendekati kudanya. Katanya kemudian “Apakah kau
akan bertempur diatas punggung kuda?”
Alap-alap Jalatunda menggeram. Jawabnya “Aku dapat
berkelahi dimana saja. Pilihlah yang kau sukai”
“Aku akan bertempur diatas tanah” sahut Kiai Gringsing.
Alap-alap Jalatunda tidak berkata-kata lagi. Segera ia
meloncat turun dari kudanya.
Agung Sedayu melihat peristiwa-peristiwa itu seperti
didalam mimpi. Ya, hampir semalam penuh ia diganggu oleh
mimpi yang dahsyat. Sehingga rasa-rasanya, apa yang terjadi
itupun sebagian dari mimpinya itu. Tetapi apabila ia sadar
bahwa ujung pedang Alap-alap Jalatunda itu bukan sekadar
menakut-nakutinya didalam mimpi, maka kembali bulubulunya
meremang, dan tubuhnya yang kuyup itu dibasahi
pula oleh keringat dinginnya.
Apa yang diambil oleh Kiai Gringsing benar-benar
mengejutkan Alap-alap Jalatunda. Senjata orang tua itu tidak
lebih daripada sebatang cambuk kecil, cambuk kuda. Karena
itu Alap-alap Jalatunda merasa terhina memaki-maki “Setan
topengan. Kau sangka leluconmu itu baik. Kalau kau terbunuh
pada sabetan pedangku yang pertama jangan menyesal. Dan
jangan mengharap orang lain dapat menuntut atas setiap
pembunuhan yang aku lakukan. Didaerah pertempuran tak
pernah ada hukum yang dapat ditegakkan setegak-tegaknya”.
“Kau benar” sahut Kiai Gringsing “Hukum didaerah perang
seperti Pajang dan Jipang sekarang adalah hukum perang.
Tetapi karena yang berperang itu adalah manusia-manusia,
seharusnya mereka tidak kehilangan kemanusiaannya”
“Persetan” bentak Alap-alap Jalatunda yang sudah tidak
sbar lagi. Dengan satu loncatan yang panjang ia menyerang
Kiai Gringsing dengan pedang terjulur. Sedang ujung

pedangnya tepat mengarah kedada orang bertopeng itu.
“Mampus kau” teriak Alap-alap Jalatunda.
Tetapi sekali lagi Alap-alap Jalatunda terkejut. Kiai
Gringsing itu hampir-hampir tak tampak bergerak, namun
ujung pedang Alap-alap Jalatunda tidak menyentuhnya.
“Gila” geram Alap-alap Jalatunda. Anak muda yang garang
itu menjadi semakin marah. Diputarnya pedangnya dan seperti
angin prahara ia menyerang lawannya.
Ternyata Kiai Gringsing itu benar-benar lincah. Alap-alap
Jalatunda itupun lincah dan tangkas. Namun Kiai Gringsing
dapat mengimbanginya, sehingga serangan Alap-alap yang
garang itu selalu dapat dielakkan.
Demikianlah kemudian mereka berdua terlibat dalam
perkelahian yang sengit. Mereka berdua bergerak dengan
cepatnya melingkar-lingkar. Pedang Alap-alap Jalatunda itu
segera mengurung lawannya, sehingga seakan-akan Kiai
Gringsing tidak diberikan kesempatan untuk bergerak. Namun
adalah sangat mengherankan. Alap-alap Jalatunda tak dapat
mengerti, setiap sentuhan dengan senjata Kiai Gringsing yang
aneh itu, terasa tangannya bergetar. Mula-mula ia menyangka
bahwa cambuk kuda itu akan segera putus apabila tersentuh
tajam pedangnya. Tetapi ternyata dugaan itu meleset.
Cambuk itu benar-benar merupakan senjata yang
membingungkan bagi Alap-alap yang masih muda itu.
Meskipun demikian, Alap-alap Jalatunda tidak menjadi cemas.
Bahkan ia menjadi semakin marah. Karena itu ia bertempur
semakin garang.
Demikianlah perkelahian itu berlangsung semakin cepat
karena kemarahan Alap-alap Jalatunda. Diatas tanah yang
becek itu kaki-kaki mereka meloncat-loncat dan air yang
kemerah-merahanpun memercik seperti hendak
menyingkirkan diri dari injakan kaki mereka yang sedang
bertempur.
Orang bertopeng itu tiba-tiba menengadahkan wajahnya.
Dilihatnya dari lubang topengnya, bulan tua memanjat sampai
kepuncak langit. Karena itu tiba-tiba iapun menjadi gelisah.
“Hampir fajar” bisiknya dalam hati. Sesaat kemudian
menyambar anak muda yang masih berdiri kaku didalam parit

dengan sudut pandangannya. “Perkelahian ini harus segera
selesai supaya Agung Sedayu tidak terlambat” kembali Kiai
Gringsing itu berkata didalam hatinya. Karenak itu, maka tibatiba
gerakannyapun segera berubah. Kiai Gringsing intu kini
tidak saja banyak meloncat-loncat seperti katak untuk
menghindar dan hanya menyerang, tetapi ia telah mengambil
keputusan untuk segera menyelesaikan pertempuran itu.
Bersamaan dengan itu terdengarlah ia berteriak nyaring
kepada Agung Sedayu “Sedayu, selagi kau sempat,
bersiaplah untuk meneruskan perjalanan. Hari hampir pagi”
Sedayu mendengar teriakan itu. Tetapi ia masih terpaku
ditempatnya. Ia tidak dapat menguasai dirinya karena ia
terpukau melihat perkelahian yang mengerikan itu.
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara itu ia masih harus melayani Alap-alap Jalatunda.
Sedang Alap-alap yang garang itupun terkejut melihat
perubahan tata perkelahian lawannya. Kalau ia semula masih
menyangka bahwa orang bertopeng itu dapat bertahan karena
senjata anehnya, maka tiba-tiba ia merasa bahwa yang
dihadapinya itu benar-benar ornang yang setidak-tidaknya
melampaui keperkasaannya. Karena itu maka timbullah
berbagai pertanyaan didalam dirinya. Kiai Gringsing adalah
nama yang belum pernah didengarnya, bahkan orang
bertopeng yang berkeliaran didaerah inipun belum juga
pernah ada yang menyebutnya. Kembali ia berpikir, adakah
orang ini Untara yang sedang menjebaknya, namun menilik
tata perkelahiannya, orang ini jauh berbeda dengan cara
Untara mempertahankan dirinya. Untara bertempur dengan
sungguh-sungguh dan selalu mempergunakan kesempatankesempatan
untuk menekan lawannya sesuai dengan sikap
keprajuritannya. Tetapi orang ini ternyata berkelahi seenakenaknya.
Bahkan sama sekali tidak sungguh-sungguh. Baru
pada saat-saat terkhir ia merasa, orang bertopeng semakin
cepat dan yang kemudian terasa benar oleh Alap-alap
Jalatunda bahwa ia benar-benar tidak akan dapat
melawannya. Namun kalau teringat olehnya pesan Plasa
Ireng, hatinyapun menjadi berdebar-debar. Apakah kata orang
yang ganas itu, kalau diketahuinya bahwa ia tak mampu

menangkap kawan Untara itu. Tetapi anak muda itu tak dapat
mengingkari kenyataan. Beberapa kali terasa cambuk orang
bertopeng itu menyengat tubuhnya. Panas dan pedih. Bahkan
beberapa bagian kulitnya menjadi terluka karenanya.
Karena itu Alap-alap Jalatunda menjadi bingung.
Menghadapi orang bertopeng itu terasa, betapa dirinya tidak
lebih dari alap-alap yang tak bersayap. Alangkah kecil dirinya.
Pada saat ia bertempur berempat dengan Untara masih juga
ia mengharap untuk dapat mengalahkan lawannya itu. Tetapi
kini ia seorang diri berhadapan dengan seorang sakti yang
aneh, Seorang yang bertempur dengan cambuk kuda.
“Persetan dengan kakang Plasa Ireng” gumam Alap-alap
Jalatunda “Biarlah pada suatu saat ia bertemu dengan orang
bertopeng dan berselimut kain gringsing ini”
Alap-alap Jalatundapun akhirnya merasa pasti, bahwa tak
ada gunanya lagi untuk bertempur lebih lama. Sebab dengan
demikian ia hanya akan menambah luka-luka dikulitnya.
Tetapi meskipun demikian dendamnya kepada Agung Sedayu
belum juga hilang. Apalagi ketika ia dapat mengambil
kesimpulan dari peristiwa itu. Orang bertopeng itu agaknya
telah melindungi Agung Sedayu.
Alap-alap yang garang itu kemudian tidak mempunyai
pilihan lain kecuali melarikan diri. Karena itu dengan berteriak
nyaring ia meloncat dengan garangnya, menyerang Kiai
Gringsing dengan pedangnya. Tetapi tiba-tiba ia menarik
serangannya dan dengan satu loncatan panjang ia berlari
kearah kudanya. Ternyata anak itu benar-benar cakap
bermain-main dengan kuda. Dengan tangkasnya ia
melontarkan diri dan jatuh langsung diatas punggung kuda itu.
Kudanyapun seakan-akan mengetahui apa yang terjadi
dengan penunggangnya. Karena itu segera pula kuda itu
meloncat dan berlari kencang-kencang seperti anak panah.
Kiai Gringsing memandang Alap-alap Jalatunda yang
melarikan diri itu. Tetapi ia sama sekali tak berusaha untuk
mengejarnya. Sebab pekerjaan yang lain masih
menunggunya. Agung Sedayu.
Perlahan-lahan ia melangkah kembali ketepi parit. Dan dari
tanggul ia berkata “Bukankah aku menang?”

Ketika Agung Sedayu melihat Alap-alap Jalatunda itu
melarikan diri, maka dadanya yang bergelora seakan-akan
disiram oleh tetesan-tetesan embun malam yang sejuk dingin.
Maka anak muda itupun menarik nafas sedalam-dalamnya.
Maut yang menghampirinya kini telah terusir pergi.
“Nah Agung Sedayu” berkata Kiai Gringsing “sekarang
sebutlah namaku, setelah kau melihat tata
perkelahianku”Agung Sedayu menggeleng. Jawabnya jujur
“Aku tak tahu Kiai”
Kiai Gringsing tersenyum. Namun Agung Sedayu tidak
melihat wajah orang itu. Senyum yang aneh. Sedang matanya
memandang anak muda itu dengan penuh kecewa.
Gumamnya didalam hati “Sayang” Tetapi orang itupun
kemudian segera berkata “Sedayu, bukankah kau akan pergi
ke Sangkal Putung?”
“Ya” jawab anak muda itu “Dari mana Kiai mengetahuinya?”
“Aku hanya mengira-irakan saja. Sebab pasti laskar Widura
perlu mendapat bantuanmu. Kalau tidak, bahaya yang besar
akan mengancam. Dengan kehadiranmu, aku kira bahaya itu
akan dapat dielakkan” berkata orang bertopeng itu.
“Kenapa kehadiranku akan dapat mengelakkan bencana
itu?” bertanya Agung Sedayu.
“Ah” desah orang bertopeng itu. Kemudian katanya
“Bukankah dengan demikian Widura akan mengetahui bahaya
yang akan mengancamnya? Dan dengan kehadiranmu, maka
bahaya itu akan dapat dikurangi. Siapakah diantara mereka
yang mampu melawan putera Ki Sadewa?”
Agung Sedayu menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu
berdesir didadanya. Tetapi Kiai Gringsing itu berkata terus
“Nah, pergilah. Mumpung masih ada waktu”
Agung Sedayu sadar akan dirinya. Diingatnya kata-kata
kakaknya. Alangkah marahnya Untara kelak, apabila ia tidak
sampai ke Sangkal Putung tepat pada waktunya. Karena itu
maka iapun menjawab “Baiklah Kiai, kita pergi ke Sangkal
Putung sekarang”
“Kenapa kita?” bertanya Kiai Gringsing “Kaulah yang akan
pergi. Aku tidak”

“Tidak” sahut Agung Sedayu cepat-cepat. “Kiaipun akan
pergi kesana”
“Aku tidak berkepentingan dengan mereka” sanggah Kiai
Gringsing.
Agung Sedayu berdiam. Tanpa sesadarnya anak muda itu
memandangi pohon randu alas dikejauhan. Dan tiba-tiba bulubulunya
tegak diseluruh wajah kulitnya. Tetapi ia malu untuk
mengatakannya. Orang bertopeng itu pasti tidak akan
percaya, dan pasti akan menyebutnya, putera Ki Sadewa.
“Hem” Agung Sedayu mengeluh.
Meskipun demikian ia berkata “Aku akan terlambat”
“Mungkin” sahut Kiai Gringsing. “Nah, pakailah kudaku
supaya kau sampai sebelum fajar menyingsing. Orang-orang
yang lapar itu akan berusaha merebut perbekalan di Sangkal
Putung tepat pada saat cahaya matahari yang pertama jatuh
diatas pedukuhan itu”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Orang bertopeng
itu tahu seluruhnya. Tepat seperti apa yang dikatakan Untara
sebelum mereka berangkat. Tetapi selagi ia akan bertanya,
orang bertopeng itu berkata “Naiklah. Dan pakai kudaku”
Kiai Gringsing tidak menunggu Sedayu menjawab. Dan
tiba-tiba saja orang bertopeng itu meloncat dan berlari ke
utara.
“Kiai, kiai…” panggil Agung Sedayu. Tetapi orang itu
segera menghilang disiku jalan. Terdengarlah orang
bertopeng itu bergumam, lirih dan hanya didengarnya sendiri
“Kalau aku tidak memaksamu pergi dengan cara ini Sedayu,
agaknya kau lebih senang berendam didalam parit”
Sebenarnyalah. Dengan demikian Agung Sedayu tidak
berani tinggal ditempat itu lebih lama lagi. Karena itu segera ia
memanjat tebing parit itu. Dilihatnya kuda Kiai Gringsing masih
berdiri ditempatnya. Semula anak muda itu berbimbang hati.
Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada pergi ke Sangkal
Putung. Bahkan akhirnya iapun merasa berterima kasih
kepada orang yang tak dikenalnya itu. Terima kasih karena
nyawanya telah diselamatkan, dan terima kasih karena ia
dapat mempergunakan kuda itu untuk mencapai Sangkal
Putung. Meskipun Agung Sedayu tak juga dapat mengerti,

atas segala macam sikap dan anggapan orang aneh itu
terhadapnya.
Dan kini, sebuah kewajiban menunggunya. Sangkal
Putung.
Perlahan-lahan Agung Sedayu mendekati kuda Kiai
Gringsing. Ia belum pernah mengenal kuda itu. Dicobanya
untuk membelai surinya. Kuda itu menggerak-gerakkan
kepalanya. Ternyata kuda itu cukup jinak.
“Nah” bisik Agung Sedayu, “Kawani aku ke Sangkal
Putung”.
Agung Sedayu segera naik kepunggung kuda itu. Dan
dengan hati yang berdebar-debar kuda itu dipacunya ke
Sangkal Putung. Dihadapannya terbentang sebuah jalan
ditengah sawah yang panjang. Dan diujung jalan itu
menunggunya tikungan randu alas. Namun Sedayu mencoba
untuk melenyapkan perasaan takutnya. Dipaksanya juga
kudanya melaju terus.
Tikungan randu alas itu kini tinggal beberapa puluh tombak
saja dihadapannya. Agung Sedayu segera memejamkan
matanya. Dilekatkannya tubuhnya pada tubuh kudanya, dan
dilecutnya kuda itu sehingga berlari kencang seperti kuda itu
takut pula kepada genderuwo bermata satu.
Agung Sedayu merasa, kudanya membelok dengan tajam
dan sesaat kemudian kuda itu berlari menurun. Tikungan
randu alas telah lewat. Agung Sedayu membuka matanya.
“Hem” anak muda itu menarik nafas panjang. Diamatinya
seluruh tubuhnya, dan dirabanya kedua matanya. Masih utuh.
Genderuwo itu sama sekali tidak mengganggunya seperti kata
orang. Genderuwo bermata satu itu selalu iri kepada mereka
yang bermata lengkap. Tetapi Agung Sedayu tak berani
menoleh betapapun keinginan mendesaknya. “Ah mungkin
genderuwo itu takut karena aku putera Ki Sadewa” pikirnya.
Tetapi tiba-tiba disadarinya, bahwa Alap-alap Jalatunda itupun
tak diganggunya.
Jalan dihadapan Agung Sedayu masih menurun. Kini
dihadapannya dilihatnya paedukuhan yang kecil. Kali asat.
Pedukuhan yang sepi itu tak banyak menarik perhatiannya.

Dan ketika sekali lagi Agung Sedayu membelok kekanan
sampailah ia kejalan lurus menuju Sangkal Putung.
Agung Sedayu menjadi agak tenang. Jarak itu menjadi
semakin dekat juga. Karena itu anak muda itu sempat
berangan-angan. Diingatnya semua kata-kata orang
bertopeng yang menyebut dirinya Kiai Gringsing itu. “Alangkah
senangnya kalau apa yang dikatakan orang itu benar-benar
ada padaku” pikir Agung Sedayu. “Kalau aku seorang sakti
yang tak terkalahkan. Dan bahkan Kiai Gringsingpun tak dapat
mengalahkan pula. Dengan bekal kesaktian itu aku akan
mengembara. Akan aku datangi sarang-sarang gerombolan
liar yang sering mengganggu ketentraman. Aku bunuh mereka
satu demi satu.” “Ah, tidak” bantahnya sendiri. “Setiap orang
akan ngeri menghadapi kematian. Kalau aku bunuh mereka,
anak istrinya akan menderita. Mereka akan aku ampuni,
apabila mereka kelak menjadi orang yang baik”. Namun
disudut hatinya yang lain berkata “Tetapi mereka telah berbuat
jauh lebih kejam daripada membunuh”. Dijawabnya sendiri
“Biarlah mereka berbuat demikian. Kalau aku berbuat
demikian pula, apakah bedanya? Alap-alap Jalatunda
misalnya. Aku harus memaafkannya apabila ia benar-benar
telah menemukan jalan yang benar. Bukankah ayah dahulu
pernah berceritera, tentang seorang saudagar kaya yang jatuh
miskin. Karena itulah maka ia tidak dapat membayar
hutangnya kepada raja. Namun raja itu bijaksana. Saudagar
itu dibebaskan dari pembayaran hutang. Tetapi, saudagar itu
sama sekali tidak mau membebaskan hutang seorang miskin
kepadanya. Sedang hutang itu sama sekali tak berarti
dibandingkan dengan hutangnya kepada raja. Ketika raja
mendengar kedengkian saudagar itu, maka raja menjadi
murka. Dipanggilnya saudagar itu. Dan raja mencabut
kemurahan hatinya. Saudagar itu dipaksa untuk bekerja
kepada raja sebagai ganti hutang yang tak dapat dibayarnya”.
Agung Sedayu puas dengan angan-angannya. Ia puas
dengan sikap yang disimpulkannya. Katanya didalam hati
“Memang Tuhan tak akan memaafkan kesalahan kita, kalau
kita tak juga memaafkan kesalahan orang lain kepada kita”

Tetapi kemudian Agung Sedayu menjadi kecewa ketika ia
menyadari keadaannya. Tak pernah ia dapat memaafkan
orang lain yang telah ditundukkannya sebab tak akan ada
orang yang pernah ditundukkan, apalagi disadarkannya dari
kesesatan.
“Ya, seandainya” kembali ia bergumam.
Tiba-tiba Agung Sedayu tersentak, dan tiba-tiba saja
kakinya terasa gemetar ketika dedengarnya sebuah terikan
melengking. Tetapi ia menarik nafas panjang, ketika
diketahuinya suara itu ternyata hanyalah suara burung engkak
yang pulang kekandangnya, setelah semalam-malaman
mencari mangsanya.
“Hampir pagi” desis Agung Sedayu kemudian. Karena itu
dipacunya kudanya semakin cepat. Dimukanya tampak
sebuah pedukuhan seakan-akan sebuah pulau yang
mengapung didalam lautan yang hijau. Itulah Sangkal Putung.
Beberapa cahaya lampu yang menembus celah-celah dinding
telah dilihatnya, dan disudut jalan tampak sebuah gardu
perondan.
Agung Sedayu langsung berpacu kegardu itu. Ia tahu benar
bahwa digardu itu berjaga-jaga beberapa orang pamannya,
Widura. Karena itu iapun tidak takut lagi bertemu dengan
Alap-alap Jalatunda.
Ketika mereka mendengar suara kuda, maka orang-orang
digardu itupun segera turun. Dari jauh mereka sudah melihat
seekor kuda berpacu dengan kencangnya. Karena itu, orangorang
yang sedang berjaga-jaga itupun segera bersiap. Pasti
ada sesuatu yang penting.
Demikianlah maka mereka segera menghentikan kuda
Agung Sedayu. Seorang yang bertubuh sedang berhitung
mancung maju kedepan dan bertanya “Siapa kau?”
“Agung Sedayu” jawab Agung Sedayu lantang “Aku akan
bertemu paman Widura”
“Apakah keperluanmu?” bertanya orang itu pula.
“Penting sekali. Hanya paman Widuralah yang boleh
mengetahuinya” jawab Sedayu.

Beberapa orang saling berpandangan. Kemudian orang
yang berhidung mancung itu berkata “Apakah kau tidak dapat
menunggu sampai besok?”
“Demi kepentingan paman Widura, keselamatanmu
sekalian” sahut Sedayu dengan bangganya.
“Antarkan anak muda ini” berkata orang itu kemudian.
Agung Sedayu masih berada dipunggung kuda, ketika dua
orang mendekatinya “Marilah” berkata salah seorang
daripadanya.
“Berjalanlah dimuka” sahut Agung Sedayu.
Sesaat orang itu saling berpandangan. Kemudian mereka
berdua menoleh kearah orang yang berhidung mancung, yang
agaknya pemimpin mereka. Orang yang berhidung mancung
itupun kemudian berkata “Anak muda, kami para penjaga tidak
mengenal siapakah kau. Tetapi adalah menjadi kebiasaan,
bahwa anak muda seharusnya turun dari kuda sejak anakmas
sampai digardu ini”
“Oh” sahut Agung Sedayu “Maafkan aku. Aku tergesa-gesa
sehingga aku melupakan kebiasaan itu” dan dengan tergesagesa
pula Agung Sedayu meloncat dari kudanya.
“Nah” berkata pemimpin itu “Kami silahkan mengikuti
orang-orangku yang akan mengantarkan anakmas dan biarlah
kuda itu disini”. “Baik” jawab Sedayu “Terima kasih”.
“Marilah” ajak salah seorang diantaranya. Dan orang itupun
segera berjalan. Tetapi yang seorang lagi masih berdiri tegak.
“Silahkan” katanya.
Agung Sedayu menjadi agak bimbang. Namun akhirnya
tahulah ia, bahwa ia harus berjalan dibelakang orang pertama,
kemudian orang kedua itu berjalan dibelakangnya.
“Anak buah paman Widura sangat berhati-hati” katanya
didalam hati. Namun meskipun demikian, sekali-sekali ia
menoleh juga kebelakang, seakan-akan orang yang berjalan
dibelakangnya itu akan menerkamnya.
Waktu yang diperlukan tidak terlalu lama. Setelah mereka
menyusur jalan desa, diantara pagar-pagar batu setinggi
dada, maka sampailah mereka disebuah halaman yang luas.
Pagar halaman itupun agak lebih tinggi dari pagar-pagar

disekelilingnya. Didepan halaman itu tampak sebuah regol
yang tertutup rapat.
Orang pertama, yang berjalan dimuka Agung Sedayu
itupun segera mengetuk pintu regol itu.
Untuk sesaat tidak terdengar jawaban. Bahkan yang
terdengar ketokan pula didalam. Empat kali berturut-turut.
Agung Sedayu sama sekali tidak tahu maksud dari ketokan
itu. Ia menjadi heran ketika orang yang dimukanya itu sekali
lagi mengetuk pintu itu. Dua kali tiga ganda. Dan tak lama
kemudian pintu itupun terbuka.
“Siapa?” terdengar sebuah pertanyaan.
“Peronda digardu utara” jawab orang itu. “Kami membawa
seorang tamu. Dan tamu itu ingin bertemu dengan Ki Widura”.
“Sekarang?” bertanya orang didalam halaman.
“Ya. Inilah orangnya. Bertanyalah sendiri” jawab orang itu.
Kemudian kepada Sedayu ia berkata “Marilah anak muda”
Sedayu maju selangkah. Tetapi hatinya mulai berdebardebar.
Meskipun demikian ia berkata dengan ketenangan
yang dibuat-buat “Ya. Aku akan bertemu dengan paman
Widura”
“Adakah sesuatu hal yang penting sekali?” bertanya orang
itu.
“Ya” jawab Agung Sedayu “Penting sekali. Paman Widura
harus segera mendengarnya sebelum fajar”.
Penjaga gardu itu tanpa disengajanya menengadahkan
wajahnya. Ditimur laut dilihatnya bintang panjer esuk
memancar dengan terangnya. Meskipun demikian orang itu
tidak mau kehilangan kewaspadaan-nya. Maka orang itupun
bertanya “Siapakah kau?”
“Agung Sedayu” jawab Sedayu.
Orang itu mengerutkan keningnya. Nama itu belum pernah
didengarnya. Sambil menggeleng-gelengkan kepalanya orang
itu berdesis “Nama itu asing bagi kami disini”
Agung Sedayu menjadi gelisah. Karena itu katanya “Paman
Widura telah mengenal aku. Bertanyalah kepadaya”
“Baru saja Ki Widura beristirahat setelah nganglang hampir
diseluruh kademangan Sangkal Putung, Biarlah ia beristirahat.
Besok kau akan menemuinya” berkata orang itu tegas.

Agung Sedayu menjadi bingung. Kalau berita itu tak
didengar oleh Widura, maka kakaknya akan menyalahkannya.
Selagi Agung Sedayu terdiam, dilihatnya seseorang
berjalan keregol halaman itu. Dan terdengarlah orang itu
berkata “Apa yang terjadi?”
“Oh” orang yang berada dihalaman itu menoleh, dan
kemudian membungkukkan kepalanya “Selamat malam bapak
Demang. Inilah seorang anak muda ingin bertemu Ki Widura
sekarang juga. Aku ingin menundanya sampai besok”
Bapak Demang Sangkal Putung itu menganggukanggukkan
kepalanya. Ditatapnya Agung Sedayu dengan
seksama. Dan kemudian terdengar orang itu bertanya “Kabar
apakah yang kau bawa?”
Agung Sedayu menjadi ragu-ragu. Benarkah seandainya
berita itu dikatakannya tidak langsung kepada Widura?
Apakah kakaknya kelak tidak akan marah kepadanya? Tibatiba
ketika Agung Sedayu teringat kepada kakaknya, maka
dengan serta merta ia berkata untuk membuktikan
kebenarannya dan mudah-mudahan dengan demikian,
dirinyapun akan dikenal oleh orang-orang itu, katanya “Aku
membawa berita dari kakang Untara”
“Untara” Demang Sangkal Putung itu mengulang, dan
hampir setiap mulut yang mendengar nama itupun mengulang
pula meskipun hanya didalam hati.
“Adakah angger ini utusan angger Untara?” bertanya
Demang itu.
“Ya” sahut Sedayu cepat-cepat dengan penuh harapan.
“Aku adiknya”
“Oh” desis Ki Demang. Dan tiba-tiba iapun segera
membungkukkan kepalanya. Katanya “Maafkan kami. Kami
belum mengenal anakmas. Namun nama kakak anakmas
adalah jaminan bagi kami, bahwa kabar yang anakmas bawa
pasti kabar yang penting”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya dengan
bangganya. Demikian berpengaruhnya nama kakaknya itu,
sehingga pengaruh nama itu melimpah pula kepadanya.
“Marilah ngger” ajak Demang Sangkal Putung. “Biarlah adi
Widura dibangunkan apabila kabar itu memang penting”

Agung Sedayupun kemudian berjalan mengikuti Ki Demang
Sangkal Putung itu. Mereka berjalan melintas halaman yang
luas menuju kependapa. Meskipun demikian Sedayu merasa
bahwa dua orang berjalan dibelakangnya.
“Rumah ini adalah rumahku” berkata Demang itu lirih “Dan
kademangan ini adalah kademangan yang subur. Karena itu
Pajang menganggap penting untuk menempatkan adi Widura
disini meskipun daerah ini jauh dari garis pertempuran.
Apalagi setelah pasukan Jipang cerai berai”
Agung Sedayu mengangguk-angguk. Namun ia tidak
menjawab. “Sayang” demang itu meneruskan “Persoalan
antara Jipang dan Pajang harus diselesaikan dengan
pertumpahan darah. Sebenarnya adipati Jipang itupun tidak
sejahat yang kita sangka. Namun sayang. Orang-orang
disekitarnya adalah orang-orang yang tamak dan haus akan
kekuasaan. Mereka membakar hati Arya Jipang yang memang
agak mudah menyala, dengan hasutan-hasutan. Akhirnya
Arya Jipang harus menebus ketergesa-gesaannya dengan
jiwanya. Dan orang-orangnya menjadi putus asa dan liar”.
Demang itu berhenti sejenak, kemudian meneruskan
“Sekarang kita lihat, dendam menyala dimana-mana.
Dapatkah angger mengatakan, siapakah yang bersalah kalau
seandainya dua orang bersaudara terpaksa bertempur dan
saling membunuh karena mereka berada dipihak yang
berlainan?”
Agung Sedayu berdiam diri. Tak tahu ia bagaimana harus
menanggapi kata-kata demang Sangkal Putung itu. Tetapi
didalam hatinyapun timbul pertanyaan “Kenapa kita mesti
bertengkar?” Apalagi bagi Agung Sedayu, pertengkaran
adalah perbuatan yang mengerikan.

Share this article :

Posting Komentar

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. EBOOK JADUL . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger