Widget Recent Comments by Anyail Bedeh Beih
News Update :
Home » » Api Di Bukit Menoreh (2)

Api Di Bukit Menoreh (2)

Penulis : Unknown on Selasa, 28 Januari 2014 | 20.10

 

Koala


Buku 02
Tetapi Agung Sedayu tetap membisu. Dan Demang itupun
kemudian tidak berkata-kata lagi, setelah mereka naik
kependapa.

Demikian mereka naik kependapa, dada Agung Sedayupun
berdesir tajam. Dilihatnya dipendapa itu, terbaring beberapa
orang laki-laki yang sedang nyenyak tidur. Dibawah cahaya
lampu minyak, tampaklah wajah-wajah mereka yang keras
tajam. Sedang beberapa orang diantaranya tumbuh janggut,
jambang dan kumis yang lebat diwajah-wajah mereka. Mereka
terbaring berjajar-jajar diatas tikar selapis. Namun tampaklah
betapa nyenyak mereka itu. Sedang disudut pendapa Agung
Sedayu melihat beberapa tangkai tombak dan didindingdinding
tersangkut pedang perisai dan keris. Pemandangan
yang bagi Agung Sedayu benar-benar tidak sedap. Laki-laki
berwajah keras dan senjata-senjata.
Dan tiba-tiba saja teringat pula olehnya, bahwa
dipinggangnyapun terselip sebilah keris. Ia tidak tahu, apakah
keris itu akan berguna baginya, atau malahan berbahaya
baginya. Tetapi kakaknya memintanya untuk membawa keris
itu.
Dengan tidak berkata-kata lagi mereka menyeberangi
pendapa, menuju kepringgitan.Dipringgitan itu dilihatnya
sebuah warana yang memisahkan sebuah ruangan kecil.
Diruangan kecil itulah Widura sedang tidur pula.
“Disitulah adi Widura sedang beristirahat” berkata demang
itu. Dan tiba-tiba saja dada Sedayu menjadi berdebar-debar.
Apakah kata paman Widura itu, kalau dilihatnya ia datang
disaat-saat yang begini.
Demang itupun berbisik pula “Duduklah ngger. Biarlah aku
sendiri yang membangunkannya”
Namun Widura adalah seorang prajurit terlatih. Karena itu
meskipun ia tertidur nyenyak, namun telinganya dapat bekerja
dengan baiknya. Sehingga demang Sangkal Putung itu
sebenarnya tidak perlu membangunkannya. Sejenak mereka
berdua masuk, dan pintu pringgitan itu bergerit meskipun
perlahan-lahan, Widura telah terbangun karenanya. Namun ia
tidak segera bangkit. Ia ingin tahu, siapakah yang datang
kepringgitan itu. Tetapi ketika didengarnya suara Ki Demang,
maka hampir-hampir saja ia tidur kembali kalau tidak segera
disadarinya, bahwa kecuali pak Demang ada orang lain.
Bukan dari anak buahnya.

Ketika Ki Demang itu berjalan perlahan-lahan dan hati-hati
supaya tidak megejutkan orang yang dibangunkannya, dan
menjengukkan kepalanya dari sisi warana, Demang itu
tersenyum asam “Hem” desisnya, “Ternyata aku tidak perlu
membangunkan adi”
Widura sudah duduk disisi ranjangnya ketika Demang
Sangkal Putung itu menjenguknya “apakah ada seorang tamu
yang ingin menemui aku?” bertanya Widura.
“Ya adi” jawab Demang Sangkal Putung “Demikian
pentingnya sehingga tak sabar lagi menunggu esok”
“Siapa?” bertanya Widura.
“Angger Agung Sedayu” jawab Demang.
“Agung Sedayu?” Widura terkejut, dan segera ia bangun
dari pembaringannya, sebuah bale-bale bambu. Dengan
tergesa-gesa ia melangkah keluar. Ketika dilihatnya Agung
Sedayu duduk terkantuk-kantuk hampir ia tidak percaya.
Desisnya “Kau Sedayu”.
Sedayu mengangguk. Jawabnya “Ya paman” .
“Sendiri?” pertanyaan itulah yang bertama-tama
dilontarkannya.
“Ya paman” jawab Sedayu pula.
Namun terpancarlah keheranan diwajah Widura. Seakanakan
ia tidak percaya bahwa Agung Sedayu datang seorang
diri. Ditebarkannya pandangannya berkeliling. Tak ada orang
lain.
Widurapun segera duduk dihadapan anak itu dengan
penuh pertanyaan didalam dadanya. Dan Sedayupun tidak
menunggu pamannya itu bertanya kepadanya. Katanya
“Paman, aku disuruh kakang Untara untuk menemui paman
sebelum fajar”
“Untara?” bertanya Widura dengan kening yang terangkat.
Sebab pasti ada sesuatu hal yang memaksa, sehingga Agung
Sedayulah yang datang kepadanya. Apalagi Widura telah
mengenal anak itu baik-baik, sebaik ia mengenal anaknya
sendiri. “Dimana kakakmu?”
“Nantilah aku ceriterakan paman” jawab Agung Sedayu,
seakan-akan ia adalah seorang yang cakap dalam

menanggapi setiap persoalan. “Ada yang lebih penting dari
kakang Untara”
“Oh” sahut pamannya “Apakah itu?”
Maka Agung Sedayu menyampaikan berita yang pernah
didengarnya dari mulut kakaknya dan orang aneh yang
menamakan dirinya Kiai Gringsing, meskipun ia sama sekali
belum menceriterakan apa-apa tentang orang bertopeng itu.
Widura mendengarkan berita itu dengan penuh minat.
Diperhatikannya kata demi kata yang keluar dari mulut
Sedayu. Dan tiba-tiba ia bertanya “Kenapa Untara sendiri tidak
datang kemari? Apakah anak itu sudah harus kembali ke
Pajang?”
“Belum paman” sahut Sedayu “Kakang Untara masih akan
tinggal dirumah. Tugasnya disekitar Jati Anom belum selesai”
Dan dengan serba singkat diceriterakannya bagaimana
mereka berdua dicegat oleh pande besi Sendang Gabus,
Alap-alap Jalatunda dan dua orang kawannya, sehingga
Untara terluka karenanya.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
sempat juga ia bertanya “Kau dan kakakmu bertempur
berpasangan?”
Agung Sedayu menggerutu didalam hatinya. Pamannya
masih saja suka menggodanya. Tanpa disengaja ia menoleh,
memandangi wajah Demang Sangkal Putung yang tegang itu.
Ia tidak akan dapat berbohong kepada pamannya, namun ia
malu mengakuinya dihadapan orang lain. Pamannya melihat
kesulitan itu, maka segera ia bertanya “Adakah Untara akan
segera menyusul?”
“Aku tidak tahu paman” jawab Sedayu “Luka itu agaknya
parah juga”
“Baiklah” berkata Widura itu kemudian “Kami sangat
berterima kasih kepadamu dan kepada Untara. Waktu kita
tinggal sedikit. Lain kali kau dapat berceritera tentang
perjalananmu itu lebih panjang lagi. Kami pasti akan sangat
senang mendengarkannya. Tetapi sekarang aku menghadapi
pekerjaan yang berat” Lalu kepada demang Sangkal Putung
itu Widura berkata “Kakang Demang. Persoalannya pasti akan
menyangkut kademangan ini pula. Lumbung padi dan palawija

serta segala kekayaan kita harus kita selamatkan. Persediaan
makanan itu sangat berarti bagi kita dan bagi sisa-sisa laskar
Penangsang itu. Karena itu, apakah kakang Demang bersedia
menyerahkan Jagabaya dan anak buahnya kepada kami
untuk bersama-sama mempertahankan lumbung itu?”
“Tentu adi” jawab Demang itu “Sebab apabila lumbung itu
lenyap, kamipun akan kelaparan, Isteri-isteri kami dan anakanak
kami. Dan dengan demikian kamipun tidak akan dapat
membantu perbekalan untuk Pajang”
“Terima kasih kakang” sahut Widura “Siapkan mereka.
Jangan dipergunakan tanda-tanda. Kita harus bersiap dengan
diam-diam supaya laskar Penangsang itu tidak mengetahui
persiapan kita. Tempatkan mereka dihalaman banjar desa.
Aku akan menyiapkan orang-orangku. Segera kita akan
bersama-sama mengambil keputusan, apa yang akan kita
jalankan”
Sangkal Putung yang diam itu, kemudian seakan-akan
terbangun dari tidurnya. Hilir mudiklah laki-laki bersenjata
dijalan-jalan desa. Tak ada sebuah tengarapun yang
terdengar. Dari jauh desa itu masih nampak dipeluk mimpi.
Namun sebenarnya desa Sangkal Putung itu telah dicengkam
oleh kegelisahan.
Sesaat kemudian beberapa orang laki-laki yang tegaptegap,
para pemimpin kelompok telah berkumpul dipringgitan
itu. Seorang laki-laki berkumis panjang, seorang yang lain,
rambutnya yang panjang dibiarkan terurai dibawah ikat
kepalanya. Namun beberapa orang yang lain tampak tenangtenang
dan berpakaian rapi.
Melihat beberapa orang yang keras dan kasar itu, Agung
Sedayu menjadi kecewa. Disangkanya laskar Pajang adalah
orang-orang yang halus, tampan dan bersih seperti kakaknya.
Tidak disangkanya bahwa didalam laskar Pajang itupun ada
diantaranya orang-orang yang mirip bentuknya seperti pande
besi Sendang Gabus.
Widura dengan tenang mengulangi keterangan-keterangan
dan berita yang disampaikan Sedayu kepada mereka. Satu
demi satu dan telah pula ditambahnya dengan kemungkinankemungkinan
yang dapat terjadi atas Sangkal Putung itu.

Sesaat kemudian pringgitan itu menjadi sepi. Masingmasing
sedang mencoba merenungkan dan membayangkan
apa yang akan terjadi. Dan tiba-tiba kesepian itu dipecahkan
oleh suara seorang yang sudah setengah umur duduk disudut
ruang itu. Katanya “adakah Ki Lurah sependapat dengan aku,
bahwa laskar Penangsang itu adalah laskar yang beberapa
hari yang lampau berkeliaran di Karang Anom?”
“Ya” Widura mengangguk “Aku sependapat”
“Kalau demikian” orang itu meneruskan “Laskar itu dipimpin
langsung oleh Macan Kepatihan Jipang”.
Semua orang serentak menoleh kepada orang itu, dan
kemudian memandang wajah Widura seperti minta
penjelasan.
Widurapun kemudian menjawab ”Aku kira demikian. Laskar
itu dipimpin oleh Tohpati, yang juga disebut Macan Kepatihan,
kemanakan Patih Mantahun”
Terdengar beberapa orang menggeram, dan berkata salah
seorang “Laskar di Karang Anom telah bergerak ketimur.
Tidak kebarat”
“Sekarang ternyata, gerakan itu adalah sebuah cara dari
mereka untuk mengelabuhi kita. Dan kitapun agaknya hampirhampir
saja ditelan oleh Macan yang cerdik itu. Untunglah
Untara ada di Jati Anom. Dan untunglah bahwa Sedayu
sempat menyampaikan berita itu kepada kita”
Semua matapun kemudian memandang Sedayu dengan
penuh ucapan terima kasih. Mereka mendapat kesempatan
membela diri sebelum mereka diterkam oleh Macan Kepatihan
yang cerdik itu.
“Kalau angger Untara sekarang ada disini” desis orang
setengar umur disudut itu.
“Kenapa?” bertanya yang lain.
“Macan itu tidak akan berbahaya” jawab orang sengah
umur itu. Beberapa orang mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun salah seorang dari mereka, seorang yang berwajah
tampan dan bergelang akar dipergelangan kirinya tampak
tersenyum. Senyum yang aneh. Agung Sedayu melihat
senyum itu, dan tiba-tiba hatinya menjadi tidak tenang.

Yang berkata kemudian adalah Widura “Kita tidak akan
menunggu mereka. Kita sambut mereka diprapatan Pandean.
Kita pagari desa ini dengan benteng pendem. Karena agaknya
laskar mereka lebih besar, maka mereka kita sergap sebelum
mereka menyadari kehadiran kita”.
Orang-orang itupun mengangguk-angguk. Dan tiba-tiba
berkatalah orang setengah umur itu “Meskipun angger Untara
tidak disini, bukankah telah dikirim adiknya untuk menjinakkan
Macan Kepatihan itu?”
Dada Agung Sedayu seperti akan meledak mendengar
kata-kata orang setengah umur itu. Bukankah dengan
demikian berarti ia harus berhadapan dengan Macan
Kepatihan itu? Meskipun Agung Sedayu belum pernah melihat
orang yang bernama Tohpati dan bergelar Macan Kepatihan,
namun mendengar namanya saja, Agung Sedayu sudah
hampir pingsan. Apalagi kalau ia harus melawannya.
Lututnya tiba-tiba menjadi gemetar, ketika beberapa orang
mengangguk-angguk dan bergumam “Tak ada bedanya.
Untara atau adiknya”. Dengan tidak disadarinya, Sedayu
memandangi wajah pamannya, seperti seekor anak ayam
yang minta perlindungan pada induknya.
Widura melihat tatapan mata Sedayu yang penuh
kecemasan itu. Karena itu ia tersenyum, dan dengan
tenangnya ia berkata “Sedayu, kami akan berterima kasih
sekali apabila kau memenuhi permintaan itu. Tetapi aku kira,
kau telah cukup berjasa kepada kami dengan kehadiranmu ini”
Kemudian kepada orang-orangnya Widura berkata “Agung
Sedayu baru saja menempuh perjalanan yang berat. Berdua
dengan Untara, anak ini terpaksa bertempur melawan pande
besi Sendang Gabus dan Alap-alap Jalatunda sekaligus
beserta dua orang kawannya. Karena itu, biarlah ia
beristirahat”
Orang setengah umur itu menjadi kecewa. Demikian pula
agaknya beberapa orang lain. Terdengar seorang diantara
mereka berkata “Lalu siapakah yang akan berhadapan
dengan Macan yang garang itu?”

Kata-kata itu adalah suatu pengakuan atas kesaktian
Macan Kepatihan, sehingga mereka menjadi cemas
karenanya.
Yang menjawab pertanyaan itu adalah Widura “Karena aku
yang bertanggung jawab atas kalian dan daerah ini, maka aku
mencoba melawan Tohpati yang sakti itu”
“Tetapi kalau kakang Widura terikat dalam pertempuran
melawan Macan Kepatihan, siapakah yang akan memimpin
kami?” bertanya yang lain.
Widura terdiam. Tugasnya sedemikian berat, sehingga
tidak segera dapat menjawab pertanyaan itu.
Tiba-tiba anak muda yang berwajah tampan dan bergelang
akar ditangannya itu berkata “Apakah aku diperkenankan
melawan Macan Kepatihan itu?”
Semua orang memandang kepadanya dengan penuh
pertanyaan. Anak itu masih muda. Tidak saja muda umurnya,
namun anak itupun belum lama menggabungkan dirinya pada
laskar Pajang yang dipimpin oleh Widura itu. Namun memang
dibeberapa pertempuran tampaklah ia melampaui ketrampilan
kawan-kawannya sehingga dalam waktu yang singkat anak itu
telah diangkat menjadi salah seorang pemimpin kelompok
anak-anak muda dalam laskar Widura itu.
Widurapun tidak segera menjawab. Ia memang melihat
kelebihan anak muda itu. Dan dikenalnya anak muda yang
bernama Sidanti itu sebagai salah seorang murid dari Ki
Tambak Wedi dari lereng gunung Merapi.
Karena Widura ridak segera menjawab, Sidanti itu
mendesaknya, katanya “Kakang Widura, berilah aku ijin. Aku
akan mencoba apakah nama yang menakutkan itu sebanding
dengan kesaktiannya”
Widura menatap mata anak muda itu. Dilihatnya tekad yang
menyala. Widura yang telah berpengalaman itu melihat
keberanian yang teguh terpancar pada wajah Sidanti. Maka
meskipun dengan agak ragu-ragu ia berkata “Aku akan selalu
memberikan kesempatan kepada kalian. Tetapi ketahuilah
bahwa Tohpati itu benar-benar orang yang luar biasa. Ia dapat
bertempur seperti hantu yang tak tersentuh tangan. Namun ia
dapat menerkam, benar-benar segarang harimau belang”

“Ya” jawab Sidanti “Aku pernah mendengar ceritera itu.
Tubuh Tohpati dapat berubah menjadi asap dan bernyawa
rangkap. Tetapi selama asap itu masih kasat mata, akan aku
coba untuk menangkapnya”
Widura mengangguk-angguk. Iapun pernah mendengar,
bahwa Ki Tambak Wedi memiliki kesaktian yang luar biasa
pula. Bahkan demikian saktinya, sehingga orang menyebutnya
dapat menangkap angin. Apakah Sidanti juga mampu
menangkap asap?
Kemudian berkata Widura itu “Terserahlah kepadamu
Sidanti. Aku akan memberimu kesempatan” Meskipun
demikian Widura tidak sampai hati melepaskannya sendiri,
maka katanya kepada dua orang lain “Hudaya dan Citra Gati.
Tugasmu adalah mengawasi keadaan Sidanti. Berilah
kesempatan kepadanya untuk melawan Macan Kepatihan itu,
namun apabila keadaan tak menguntungkan baginya, jangan
biarkan Macan itu mengganas. Berusahalah bertempur tidak
terlalu jauh daripadanya”
Hudaya, laki-laki yang hampir diseluruh wajahnya
ditumbuhi rambut, tertawa lirih. Matanya yang bulat tajam,
memandang Sidanti seperti tak mau melepaskannya. Katanya
“Baiklah. Tetapi anak muda, jangan bermain-main dengan
harimau itu”
“Baiklah kakang” jawab Sidanti.
Citra Gati, orang setengah umur yang mengharap
kehadiran Untara itupun tersenyum, katanya “Baiklah. Aku
sudah lama tidak melihat perkelahian yang berarti. Mudahmudahan
angger Sidanti dapat menyelesaikan pekerjaannya”
Sidanti tersenyum. Namun wajah yang tampan itu rasarasanya
begitu menakutkan bagi Agung Sedayu. Mungkin
terpengaruh oleh keberanian anak muda itu, atau mungkin
karena Agung Sedayu sendiri tak memiliki keberanian untuk
melakukanna. Bahkan menyebut nama Tohpati itupun ia tak
berani.
Ia terkejut ketika Sidanti itu tiba-tiba saja berkata
kepadanya “Adi Sedayu, biarlah aku mencoba melakukan
pekerjaan yang seharusnya dipercayakan kepadamu. MudahTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
mudahan aku dapat melaksanakannya dengan baik.
Bukankah begitu?”
Agung Sedayu menjadi bingung, namun akhirnya ia
menganggukkan kepalanya tanpa sepatah katapun yang
dapat diucapkan.
Sidanti menarik keningnya. Ia kini tidak tersenyum. Sikap
Agung Sedayu dianggapnya terlalu sombong. Katanya
kemudian “Jangan tersinggung adi. Bukankah kau terlalu lelah
setelah bertempur melawan pande besi Sendang Gabus dan
Alap-alap yang cengeng itu. Nah, sekarang biarlah aku
melawan Macan Kepatihan yang garang, yang sekaligus akan
dapat menelan lebih dari sepuluh Alap-alap macam Pratanda
itu”
Kembali dada Sedayu berdesir. Sama sekali ia tidak
merasa tersinggung dan sama sekali ia tidak bermaksud apaapa.
Dengan demikian Agung Sedayu menjadi semakin
berdebar-debar. Sehingga anak muda itu semakin tidak tahu
apa yang harus dilakukan.
Widura melihat keadaan itu. Maka katanya “Jangan
berprasangka Sidanti. Sedayu adalah seorang anak pendiam.
Memang tabiatnya berbuat demikian. Ia tidak tersinggung dan
sama sekali tidak bermaksud menyombongkan diri”.
Tetapi Sidanti masih belum puas. Jawabnya “Adakah
Sidanti tidak cukup berharga untuk mendapat jawaban dengan
kata-kata, tidak hanya sekedar menganggukkan kepala.
Jangan dinilai Sidanti sama harganya dengan Alap-alap
Jalatunda”
Semua yang mendengar kata-kata itu menarik keningnya.
Seorang yang berkumis lebat menyahut “Sudahlah Sidanti,
tidak baik kita ribut-ribut hanya karena salah paham”
“Aku tidak mulai” jawab Sidanti.
Sedayu menjadi semakin gemetar. Sama sekali tak
diduganya bahwa anak yang tampan dan tersenyum-senyum
itu adalah seorang yang mudah sekali, ya, mudah sekali
tersinggung perasaannya. Untunglah bahwa ruangan itu tidak
terlalu terang, sehingga tak seorangpun yang sempat melihat
wajah Sedayu yang pucat.

Orang-orang yang hadir diruangan itu, yang sejak semula
telah merasa berhutang budi kepada Agung Sedayu, menilai
sikapnya sebagai sikap yang dewasa. Agung Sedayu sama
sekali tidak melayani kemarahan Sidanti. Karena itu beberapa
orang menjadi semakin kagum karenanya. Orang yang
berkumis lebat dan bertubuh raksasa meneruskan katakatanya
“Kau salah paham Sidanti. Sudahlah hangan
mengada-ada”
Sedayu mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang
diucapkan oleh orang yang bertubuh kasar kaku. Namun
ucapannya menunjukkan kematangan dan kehalusan budinya.
Tetapi orang yang setengah umur dan bernama Citra Gati
bersikap lain. Desisnya meskipun hanya perlahan-lahan
“Sidanti. Kau masih belum mengalahkan Macan Kepatihan itu.
Jangan terlalu pagi mimpi menjadi pahlawan”
Sidanti mengerling kepada Citra Gati. Kemudian hampir
kepada semua yang hadir. Agaknya mereka berpihak kepada
Agung Sedayu. Karena itu tiba-tiba Sidanti tersenyum.
Senyum yang aneh. Karena dibalik senyum itu tersimpan bibitbibit
ketidak-senangannya kepada Agung Sedayu.
Widura yang tidak mau membiarkan keadaan itu berlarutlarut
segera berkata “Adakah kita akan menyergap laskar
Kepatihan ataukah kita ingin ribut-ribut soal yang sama sekali
tak berarti? Cepat tinggalkan tempat ini. Bersiaplah dengan
anak buah kalian masing-masing. Kita segera berangkat. Kita
harus mencapai simpang empat Pandean lebih dahulu”.
Widura tidak menunggu lebih lama lagi. Ia mendapat kesan
kurang menyenangkan dari pertemuan ini. Karena itu ia
sengaja mendahului, berdiri dan melangkah keluar sambil
berkata “Beristirahatlah dipembaringanku Sedayu”
Orang-orang lainpun segera mengikutinya. Satu-satu
mereka melangkah keluar ruangan. Yang terakhir adalah
demang Sangkal Putung. Diperlukannya menghampiri Agung
Sedayu sambil berbisik “Terima kasih ngger, kami penduduk
Sangkal Putung tak akan pernah melupakan jasa angger kali
ini. Mudah-mudahan kami dapat membebaskan diri dari
cengkraman Macan Kepatihan itu. Kami tidak akan
mengganggu ketentraman istrirahatmu anakmas. Namun

apabila terpaksa, aku akan mengirimkan seorang yang akan
memberitahukan kepadamu, apakah ada diantara kita yang
mampu melawan Macan Kepatihan itu. Kalau tak seorangpun
yang mampu melawannya, jangan angger biarkan kami. Kami
masih mohon perlindunganmu”.
Agung Sedayu tidak tahu, apakah yang akan dikatakan.
Tetapi ia tidak akan berdiam diri, atau menjawabnya dengan
anggukan kepala saja. Ia takut kalau-kalau Demang Sangkal
Putung itupun akan salah mengerti dan menyangkanya anak
muda yang benar-benar sombong. Karena itu, tanpa
setahunya sendiri, ia menjawab terbata-bata “Ya, ya, Bapak
Demang”
Agaknya jawaban itu telah cukup membesarkan hati
Demang Sangkal Putung itu. Dengan tersenyum ia
mengangguk dalam-dalam. Katanya “Terima kasih anakmas”
Maka pergilah demang itu dengan hati yang lapang.
Dilampauinya halaman rumahnya dan ditemuinya Jagabaya
Sangkal Putung. Diberinya orang itu beberapa keterangan dan
besiaplah kemudian anak-anak muda Sangkal Putung.
Mereka siap dengan keteguhan hati, menyelamatkan desa
mereka, lumbung-lumbung mereka dan mempertahankan
dearah mereka dari sergapan laskar Macan Kepatihan. Sebab
apabila mereka tidak berhasil, maka untuk masa yang panjang
Sangkal Putung akan mengalami paceklik. Yang berdiri
dipaling depan adalah anak muda yang bulat kokoh meskipun
tidak begitu tinggi. Dengan mata yang berseri-seri ia
menimang-nimang senjatanya. Sabuah pedang bertangkai
gading. Anak itu adalah anak Demang Sangkal Putung.
Swandaru. Namun agaknya anak muda itu tidak puas dengan
namanya, maka ditambahnya sendiri menjadi Swandaru Geni.
“Ayah” ia bertanya kepada ayahnya “adakah Macan
Kepatihan itu sangat menakutkan?”
“Ia adalah seorang yang sangat sakti nDaru” jawab
ayahnya.
Swandaru tertawa. Memang anak itu selalu tertawa,
sedang didadanya selalu tersimpan keinginan dan cita-cita
yang tanpa batas. Katanya “Apakah ukuran kesaktian

seseorang? Apakah Macan Kepatihan itu kebal? Biarlah aku
nanti mencoba melawannya”
Demang Sangkal Putung menggelengkan kepalanya.
Jawabnya “Dalam laskar adi Widura, seseorang telah
menempati dirinya sebagai lawannya”.
“Siapa?” bertanya anak muda itu.
“Angger Sidanti” jawab ayahnya.
Swandaru mengerutkan keningnya. Ia tidak begitu suka
kepada Sidanti. Tetapi ia tidak berani melawan anak itu.
Sebab ia pernah ditampar pipinya. Ketika ia akan membalas,
tiba-tiba saja tangannya telah terpilin kebelakang. Sidanti
dapat bergerak secepat tatit.
Tetapi Swandaru tidak puas dengan nasibnya itu. Ia sama
sekali tidak senang atas perlakuan Sidanti kepadanya.
“Sidanti lebih tua beberapa tahun dari aku” pikirnya “Nanti
pada umurku setua Sidanti sekarang, aku harus sudah
melampauinya” Dan Swandaru ternyata tidak tinggal diam.
Dengan tekun ia selalu berusaha menambah ilmunya. Tetapi
anak muda itu tidak pernah mengetahuinya bahwa Sidantipun
dengan pesatnya maju. Dengan teratur anak muda itu selalu
mendapat bimbingan dari gurunya, Ki Tambak Wedi,
meskipun tidak setiap hari. Dimana ada Sidanti berada
bersama laskar Widura, maka gurunya selalu datang
kepadanya. Sepekan atau sepuluh hari sekali.
Sedang menurut pikiran Swandaru yang sederhana itu,
apabila ia berlatih terus, maka ilmunyapun akan masak
dengan sendirinya. Sedang bekal dari ilmunya itu diterimanya
dari ayahnya, dari beberapa orang sedesanya yang semuanya
itu tidak ada yang melampaui, bahkan menyamaipun tidak,
dengan Sidanti sendiri. Meskipun demikian, Swandaru telah
membawa bekal dalam tubuhnya yang gemuk itu. Anak muda
itu tenaganya bukan main. Dan ia bangga pada kekuatannya
itu. Setiap pagi ia berusaha menambah kekuatannya dengan
mengangkat apa saja yang dijumpainya. Batu-batu besar,
kayu-kayuan dan bahkan seekor anak kerbau.
Dan kini anak Demang Sangkal Putung itu bersama
beberapa kawan-kawannya telah siap untuk bersama-sama

dengan laskar Widura menghadapi laskar Macan Kepatihan
yang berusaha merebut perbekalan mereka.
Pada saat ayam jantan berkokok untuk yang terakhir
kalinya, laskar Widura bersama-sama anak-anak muda
Sangkal Putung itupun mulai bergerak. Dengan cepat mereka
berjalan ke Pandean. Seperti rencana semula, maka laskar
itupun segera menyembunyikan diri dibelakang puntuk-puntuk,
parit dan pepohonan. Dengan hati yang tegang mereka
menunggu.
Sidanti duduk bersandar sebatang pohon aren. Tangannya
yang bergelang akar itu membelai senjatanya, sebatang
tombak pendek, dengan ujung tajam dikedua sisinya.
Manggala. Dan dinamainya senjatanya itu Kiai Muncar.
Senjata pemberian gurunya, yang selama ini dibanggabanggakan.
Pada tangkai senjatanya itu terukir gambar dua
ekor ular yang saling membelit. Sedang pada kedua buah
kepalanya yang bertolak belakang, terjulurlah lidah ular itu.
Dan lidah ular itulah kedua mata nenggala yang bernama Kiai
Muncar itu.
***
Anak muda itupun
menunggu dengan hati
yang tegang. Yang berada
didalam kepalanya adalah
Macan Kepatihan yang
namanya ditakuti hampir
diseluruh Jipang dan
Pajang. Sekali-sekali
dipandanginya senjatanya,
seakan-akan ia bertanya
kepadanya “Apakah kau
akan mampu melawan
senjata Tohpati yang
mengerikan itu?”
Dari gurunya Sidanti
pernah mendengar,

bahwa Tohpati yang bergelar Macan Kepatihan itu bersenjata
sebuah tongkat baja putih. Diujung tongkat itu terdapat sebuah
logam yang dinamainya besi kuning, berbentuk tengkorak.
Karena itu maka Ki Tambak Wedi yang agaknya telah
mempersiapkan muridnya untuk melawan Tohpati itu, dan
membekalinya dengan senjata yang tak kalah dahsyatnya.
Pada suatu kali Ki Tambak Wedi itu pernah berkata kepada
muridnya “Sidanti, di Jipang, sepeninggal arya Penangsang
dan Patih Mantahun, maka orang yang ditakuti adalah
Tohpati. Karena itu, bila kau dapat menangkapnya hidup atau
mati, maka namamupun akan segera ditempatkan tepat
dibawah nama Sutawijaya. Sedang Sutawijaya itu bukanlah
seorang yang perlu ditakuti pula. Apalagi putera adipati Pajang
itu sendiri. Kelak apabila kau telah mendapat kesempatan
yang baik dalam tataran keprajuritan di Pajang, maka
bukanlah pekerjaan yang sulit bagimu untuk menyingkirkan
Sutawijaya. Biarlah Pemanahan, Penjawi dan Juru Mertani
kelak menjadi urusanku”
Sidanti tersenyum. Terbayang didalam angan-angannya
sebuah jalan lurus keistana Pajang meskipun jauh.
Tiba-tiba Sidanti terkejut ketika ia mendengar gemerisik
dibelakangnya. Ketika menoleh dilihatnya Swandaru berjalan
terbungkuk-bungkuk kepadanya.
“Apa kerjamu?” bertanya Sidanti berbisik.
Swandaru duduk disampingnya, dan dijawabnya lirih
“Mencarimu. Kau akan melawan Macan Kepatihan?”
Sidanti mengangguk
“Sendiri?”
Kembali Sidanti mengangguk.
“Aku ikut” minta Swandaru
“Jangan gila” desisi Sidanti.
“Kenapa?”
“Kita tidak sedang bermain kucing-kucingan, tetapi kita
akan menentukan hidup mati bagi Sangkal Putung”
“Aku tahu, karena itu Tohpati harus mati. Kita keroyok
berdua”
“Jangan mengigau. Kembali kekelompokmu”

“Aku disini” bantah Swandaru.
Sidanti menjadi tidak senang. Karena itu ia membentak
perlahan-lahan “Kembali. Atau aku tampar mulutmu”
Swandaru mengerutkan keningnya. Ia tidak mau ditampar
untuk kedua kalinya. Karena itu iapun diam.
Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka mendengar suara
burung kulik. Itulah pertanda bahwa laskar Macan Kepatihan
telah dilihat oleh pengawas.
“Kembali kekelompokmu” Sidanti mengulangi, dan
Swandarupun segera merangkak ke kelompoknya.
Widura telah berdiri dibalik sebatang pohon yang berdiri
didekat perapatan. Dari kelokan jalan diujung bulak yang
pendek ia melihat serombongan orang berjalan ke Sangkal
Putung.
Namun mereka tidak melewati jalan disimpang empat itu.
Mereka segera meloncati parit, dan menyusur pematang,
memotong langsung menuju Sangkal Putung.
“Mereka menyusuri pematang” bisik Ki Demang.
Widura tidak segera menjawab. Tetapi tampaklah ia
sedang berpikir. Tiba-tiba ia mendengar suara burung kulik
untuk kedua kalinya. Karena itu katanya “Bukan induk
pasukan. Itulah cara Macan Kepatihan memancing lawannya
kearah yang keliru”
Demang Sangkal Putung mengerutkan keningnya.
Gumamnya “Macan yang cerdik”
“Macan itu memang berotak terang” sahut Widura.
“Rombongan itu akan menyerang dari arah utara. Mereka
menyangka bahwa kita masih belum tahu akan
kedatangannya. Apabila kemudian laskarku dan anak-anak
muda Sangkal Putung menyongsongnya keutara, maka induk
pasukannya akan datang, dan melanda Sangkal Putung dari
jurusan ini”
Ki Demang mengangguk-angguk. Tetapi timbullah
persoalan didalam dadanya, karena itu ia bertanya “Kita
menunggu induk pasukan?”
“Ya “ jawab Widura.”Bagaimanakah dengan orang-orang
yang memintas diatas pematang itu?”

Widura berpikir sejenak “Sedang aku pikirkan” katanya.
Dan sesaat kemudian ia memanggil selah seorang anak
buahnya “Sonya” katanya. Ketika yang dipanggil telah berdiri
disampingnya “Adakah kau masih jagoan lari?”
Sonya memandang Widura dengan penuh pertanyaan.
Tetapi ia menunggu sampai Widura memberinya penjelasan.
“Pancinglah orang-orang itu”
“Apa yang harus aku lakukan?” bertanya orang itu.
Widura mengerutkan alisnya. Kemudian katanya “Mudahmudahan
berhasil”. Widura itu berhenti sesaat. Kemudian
dilanjutkannya “Muncullah dari dalam parit. Berteriaklah
memanggil mereka seakan-akan mereka adalah orang
Sangkal Putung. Apabila mereka telah berhenti, beritahukan
kepada mereka, bahwa kau melihat laskar datang untuk
menyerang Sangkal Putung. Aku harap mereka menjadi raguragu.
Nah sesudah itu kau akan mengatakan kepada mereka
hal yang sebenarnya. Laskar penyerang itu telah membagi
kekuatannya. Yang memintas itu adalah laskar pancingan,
dan yang lain akan menyusul. Seterusnya kau harus berlari ke
Sangkal Putung. Bunyikan tanda bahaya”.
Sonya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia tahu bahwa
tugasnya tidak seberat harus bertempur melawan mereka
“Apa selanjutnya?” ia bertanya.
“Serahkan kepada kami” jawab Widura.
Sonya mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan Widura
masih memberinya beberapa petunjuk dan penjelasan. Ia
hanya harus berlari ke Sangkal Putung. Selebihnya tidak.
Meskipun demikian, apabila rencana itu meleset, maka ada
juga bahayanya.
“Sekarang?” bertanya orang itu.
“Ya, cepat, sebelum mereka terlampau jauh ketengah
persawahan” sahut Widura.
Sonya itupun kemudian merangkak, dan melompat
kedalam parit. Setelah ia menyusur parit itu beberapa puluh
tombak, maka diangkatnya kepalanya sambil berteriak nyaring
“Hei, siapa itu. Adakah kalian orang-orang Sangkal Putung?”
Didalam kesepian ujung malam suara itu melengking
seperti membentur gunung Merapi. Orang-orang yang berjalan

dipematang itupun mendengar suaranya. Serentak mereka
berhenti dan memandang kearah suara itu. Pada saat itulah
Sonya meloncat dari dalam parit sambil mengulangi
pertanyaannya.
Rombongan yang tak begitu besar itupun berhenti. Mereka
tegak berjajar dipematang seperti wayang sedang disimping.
Sesaat mereka saling berpandangan. Apalagi kemudian ketika
mereka mendengar suara Sonya berteriak “Hei dengar, desa
kalian akan mendapat serangan. Lihat sebentar lagi laskar itu
akan datang”
Orang-orang dalam rombongan itupun saling bertanyatanya.
Siapakah orang yang berteriak-teriak itu. Adakah ia
orang Sangkal Putung? Tetapi bagaimanapun juga, ternyata
bahwa orang itu telah melihat induk pasukannya.
Dalam keadaan yang tiba-tiba itu, pemimpin rombongan
tidak segera dapat mengambil keputusan. Sesaat mereka
masih tegak diatas pematang itu. Bahkan terdengar salah
seorang diantara mereka bergumam sesama “Siapakah dia?”
Kawannya menggeleng, jawabnya “Entahlah, tetapi ia
melihat induk pasukan”
“Berbahaya” sahut yang lain.
“Ya” akhirnya pemimpin pasukan itupun berkata “Tangkap
orang gila itu”
Dua orang dari rombongan itu kemudian melangkah
kembali. Mereka segera mendekati Sonya. Sedang yang lain
masih diam mematung.
Widura melihat pertunjukan itu dengan hati yang tegang.
Setidak-tidaknya, waktu mereka terulur. Apabila induk
pasukan itu muncul dan terlibat dalam pertempuran dengan
laskarnya, maka rombongan itu pasti akan kembali. Namun
apabila tidak, maka ia harus mengambil kebijaksanaan lain.
Sebagian laskarnya harus dikirim kembali, dan melawan
rombongan kecil pecahan laskar Macan Kepatihan itu.
Ketika Sonya melihat dua orang datang kepadanya, maka
katanya didalam hati “Tepat juga dugaan Ki Widura. Aku harus
berlomba lari” Tetapi Sonya tidak menunggu orang itu menjadi
terlalu dekat. Tiba-tiba ia berteriak “Hei, ternyata kalian bukan
orang Sangkal Putung. Kalau begitu kalian adalah laskar

Jipang yang akan mencoba memancing pertempuran
disebelah utara Sangkal Putung. Sedang laskar yang datang
kemudian adalah induk pasukan.”
“Siapa kau?” tiba-tiba terdengar salah seorang dari
rombongan orang-orang itu bertanya.
Sonya tidak menjawab. Tetapi dipenuhinya perintah Widura
yang terakhir. Segera ia meloncat dan berlari kembali ke
Sangkal Putung. Dua orang yang akan menangkapnya itupun
mengejarnya. Namun ketika Sonya berlari lewat perapatan
dan kedua orang itu mengejarnya terus, tiba-tiba saja
keduanya terbanting jatuh dan tidak bangun kembali.
Pemimpin rombongan itu menjadi heran. Dari jarak yang
agak jauh, mereka hanya melihat bayangan orang-orangnya
itu berlari dan kemudian tiba-tiba saja lenyap seperti ditelan
perapatan.
Kawan-kawan merekapun melihat kedua orang itu hilang.
Karena itu mereka menjadi heran.
Sedang Sonya yang sedang berlari itu berlari terus. Sekali
ia menoleh, dan pengejar-pengejarnya tidak dilihatnya lagi.
Meskipun demikian, karena ia tidak mendapat perintah lain,
maka iapun berlari terus ke Sangkal Putung.
Pada saat itu, cahaya yang merah telah membayang di
timur. Bersamaan dengan munculnya sebuah rombongan lain
dari balik tikungan. Demikian orang-orang itu tampak dimata
Widura, demikian ia meraba hulu pedangnya. “Hem”
geramnya “Itulah induk pasukan mereka”
Demang Sangkal Putung itupun mengangguk-angguk.
Dilihatnya serombongan orang berjalan tak teratur, seperti
habis menonton tayub. Namun disadarinya, bahwa mereka
adalah prajurit-prajurit Jipang yang tak kalah nilainya dari
prajurit-prajurit Pajang. Hanya karena kekalahan-kekalahan
yang berturut-turut dialami adipatinya, sehingga gugur, maka
tekad mereka sudah tidak sebulat sebelumnya.
Pemimpin rombongan itu, seorang anak muda yang
bertubuh tinggi berdada bidang dan kekar terkejut ketika
dilihatnya pecahan laskarnya masih tegak dipematang. Dan

dengan serta merta ia berteriak “Hei, kenapa kalian masih
disana?”
Pemimpin rombongan itupun menjadi bimbang. Sebelum ia
menjawab terdengarlah tanda bahaya bergema
dikademangan Sangkal Putung. Kentong titir.
“Gila” umpat anak muda itu. “Cepat, capai Sangkal Putung
lebih dahulu sebelum kami”
“Mereka telah melihat kita. Kami dan kalian. Seseorang dari
mereka mengetahui dengan pasti, bahwa induk pasukan akan
menyusul” jawab pemimpin rombongan itu dari tengah sawah.
Anak muda yang jangkung itu berpikir sejenak “Dari mana
kau tahu?”
“Baru saja ia berlari ke Sangkal Putung sambil berteriakteriak
tentang laskar pecahan ini dan induk pasukan” Sahut
yang di pematang.
“Gila. Kenapa tidak kalian tangkap?”
“Kami sudah berusaha. Tetapi gagal”
Rombongan itu tiba-tiba berhenti. Pemimpinnya, anak
muda yang tidak lain adalah kemenakan patih Jipang
Mantahun, yang bernama Tohpati dan bergelar Macan
Kepatihan itu mengerutkan keningnya.
“Berhenti ditempat kalian!” teriak Tohpati. Kemudian
dengan seksama ia melihat jalan yang terbentang
dihadapannya. Jalan itu sepi, namun kesepian itu terasa
tegang. Macan Kepatihan adalah seorang yang cerdas dan
cermat disetiap garis peperangan. Karena itu tiba-tiba ia
berkata nyaring kepada yang masih tegak dipematang “Jalan
terus, kamipun akan mengikuti jalanmu itu”
“Bukan main” desis Widura sambil menggeleng-gelengkan
kepala. “Anak itu cerdik seperti demit”
Demang Sangkal Putung itupun menggeleng-geleng pula.
Katanya “Apakah yang akan kita lakukan?”
Widura sadar bahwa ia harus bertindak cepat. Karena itu ia
berkata “Kita harus cepat mulai, sebelum jarak diantara laskar
kita dan laskar Tohpati itu menjadi semakin jauh. Sebagian
rencana kita sudah gagal, namun sebagian besar belum. Kita
pasti akan dapat mencapai hasil seperti apabila mereka
berjalan tepat dimuka hidung kita”

Widura segera mencabut pedangnya. Kemudian
dilemparkannya sebuah kerikil kepada seseorang
disampingnya sebagai perintah. Kemudain terdengarlah bunyi
burung tuhu berturut-turut tiga kali.
Semua anak buahnya menjadi tegang. Mereka sudah harus
bersiap untuk menyergap. Namun jarak kedua pasukan itu,
masih belum terlalu dekat. Tetapi mereka sadar, bahwa laskar
Macan Kepatihan itu tidak akan lewat disimpang empat.
Kepada Ki Demang, Widura berkata “Bapak Demang,
bawalah anak-anak Sangkal Putung langsung memotong
laskar mereka yang terpisah. Mereka pasti akan kembali dan
berusaha membantu induk pasukannya. Pecahan itu pasti
bukan orang-orang pilihan. Mereka hanya dipakai sekedar
untuk mengelabuhi lawan-lawannya”.
Ki Demang mengangguk-angguk. Sementara itu Widura
melemparkan kerikil untuk kedua kalinya. Dan kembali
terdengar bunyi burung tuhu berturut-turut tiga kali.
Sindanti tersenyum. Iapun telah tegak dibelakang pohon
aren itu. Ketika ia mendengar aba-aba untuk kedua kalinya,
anak muda itu tidak menunggu lebih lama lagi. Perintah untuk
menyerang itu disambutnya dengan sebuah loncatan dan
dengan cepat ia menghambur lari langsung kearah Macan
Kepatihan.
Tohpati terkejut mendengar bunyi burung tuhu. Otaknya
yang terang segera mengenal, bahwa yang didengarnya itu
sama sekali bukan bunyi burung yang sebenarnya. Karena itu
iapun segera berteriak nyaring “Siapkan senjata kalian!”
Tetapi anak buahnya tidak menyangka bahwa mereka akan
segera menerima sergapan. Mereka masih mengira bahwa
kedatangannya baru diketahui oleh seorang pengawas saja.
Namun tiba-tiba saja dihadapan mereka, muncul laskar
Widura berloncatan dari balik-balik pohon dan parit-parit.
Karena itu sebagian mereka menjadi gugup. Tetapi karena
mereka adalah prajurit-prajurit yang berpengalaman, segera
mereka dapat menguasai diri mereka, dan dengan tangkasnya
mereka mencabut senjata-senjata mereka.
Macan Kepatihan itu menjadi sangat marah. Ternyata
kehadirannya kali ini telah diketahui benar oleh lawannya.

Karena itu maka segera ia berteriak nyaring, katanya “Bagus,
kalian ternyata menyambut kedatangan kami. Ayo, majulah!”
Kedua laskar itupun menjadi semakin dekat. Tetapi laskar
Widura lebih mapan dari lawannya. Mereka sudah lama
bersiap untuk bertempur, sedang laskar Tohpati itu harus
mempersiapkan diri dengan tergesa-gesa. Tetapi Tohpati tidak
menjadi bingung, bahkan terdengar ia memberi aba-aba
kepada pecahan laskarnya “Jangan kembali, langsung
kejantung Sangkal Putung. Bakar setiap rumah yang ada
disana dan bunuh semua orang!”
Widura sadar bahwa itu adalah suatu cara untuk memecah
perhatian lawannya. Karena itu iapun berteriak pula
“Swandaru, cagah mereka. Kekuatan itu sama sekali tidak
berarti, yang lain tetap pada rencana!”
Swandarupun segera meloncat dari persembunyiannya.
Dengan tangkasnya ia memutar pedang bertangkai gading
ditangannya. Terdengarlah anak itu berkata “Ayah, apa yang
harus aku lakukan sekarang?”
“Kau dengar perintah pamanmu Widura?” sahut ayahnya.
“Adakah Macan Kepatihan itu disana?” bertanya anak itu
pula.
“Tak ada waktu untuk meributkannya” potong ayahnya,
“Pergilah segera”
Swandaru yang gemuk itupun kemudian berlari, seperti
roda yang menggelinding ditanah-tanah yang becek. Sambil
mengangkat pedangnya tinggi-tinggi ia berteriak-teriak seperti
sedang menghalau burung pipit yang mencuri padi disawah.
Kawan-kawannya yang melihat Swandaru itupun segera
berlari menyusulnya. Seperti Swandaru, mereka berteriakteriak
pula memekakkan telinga.
Meskipun demikian, namun anak-anak muda Sangkal
Putung itu bukan anak-anak yang hanya pandai berteriakteriak
saja. Sejak keadaan antara Pajang dan Jipang kian
memburuk, mereka telah menentukan sikap. Dibawah asuhanasuhan
pemimpin-pemimpin kademangan, mereka melatih diri
dengan tekun. Apalagi ketika kemudian datang Widura
berserta laskarnya. Anak-anak itupun menjadi semakin
bernafsu melatih diri. Karena itu, maka merekapun

mempunyai cukup kemampuan untuk menggerak-gerakkan
senjata-senjata mereka.
Namun demikian, Widura tidak melepaskan anak-anak itu,
dibawah pimpinan Swandaru, Jagabaya dan kemudian
demang Sangkal Putung itu sendiri, melakukan perlawanan
terhadap laskar Jipang yang terlatih itu, meskipun hanya
sebagian kecil dan bukan orang-orang pilihan. Karena itu,
maka beberapa orangnyapun diperintahkannya untuk
membantu mereka, serta untuk menjaga agar tekad anakanak
itu tidak goyah karena kekalahan-kekalahan kecil.
Tohpati, yang mendengar aba-aba Widura itupun
menggertakkan giginya. Percayalah ia kini, bahwa Widura
tidak akan mudah ditipunya. Rencananya yang sudah disusun
masak-masak itu, ternyata dapat diruntuhkan oleh Widura.
Bahkan usahanya yang terakhir, mempengaruhi tekad
perlawanan musuhnya itupun dapat dipatahkan pula oleh
pengaruh kata-kata Widura itu. Karena itu, maka kesempatan
yang pendek itupun dipergunakannya baik-baik. Semula ia
akan menarik suatu garis datar langsung menghadapi laskar
lawannya. Tetapi laskar Widura itupun laskar yang cukup
masak. Kelambatan Tohpati yang hanya sesaat, karena
kebingungan beberapa orang pimpinan kelompoknya, telah
merubah keseimbangan antara mereka. Beberapa orang anak
buah Widura telah berhasil melampaui garis yang akan dibuat
oleh Macan kepatihan itu, untuk kemudian merangsang dari
lambung.
Tetapi Tohpati tidak pula kalah cekatan. Segera ia menarik
sebagian laskarnya kesatu sisi, dan dibuatnya sebuah garis
pertahanan yang lengkung. Wulan Punanggal.
Widura masih menyaksikan aba-aba Tohpati dan
kelincahan laskarnya. “Luar biasa” desisnya “Apakah kira-kira
yang dapat dilakukan oleh gurunya, Mantahun dimasa
hidupnya?”
Kemudian Widura itupun melihat, betapa lincahnya Sidanti
menyusup diantara kesibukan laskar kedua belah pihak yang
sudah mulai terlibat dalam pertempuran.
Anak muda itu langsung menghampiri Tohpati yang masih
tegak memandang berkeliling. Dengan cermat ia mengawasi

keadaan medan, dipelajarinya kedudukan laskarnya dan
kedudukan laskar lawannya. Dilihatnya pula pecahan
laskarnya ditengah-tengah sawah yang juga sudah melakukan
perlawanan terhadap anak-anak muda Sangkal Putung yang
melanda mereka itu seperti banjir. Dengan semangat yang
menyala-nyala anak-anak muda itu bertempur. Ternyata,
meskipun Swandaru harus berhadapan dengan prajurit-prajurit
Jipang, namun kekuatannya benar-benar berpengaruh atas
pertempuran itu. Ayunan pedangnya benar-benar mengerikan.
Setiap usaha untuk menangkisnya, maka akibatnya adalah
pedang lawannya itu terpental jatuh.
Tohpati terkejut ketika ia melihat seseorang melompat
kehadapannya sambil tersenyum. Kemudian terdengar orang
itu berkata “Selamat pagi Tohpati. Bukankah kau yang
bernama Tohpati dan bergelar Macan Kepatihan?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Jawabnya “Apa maumu?”
“Aneh” sahut orang itu, yang tidak lain adalah Sidanti. “Kita
berada didalam pertempuran”
“Bagus” seru Tohpati. “Mana paman widura?”
“Aku akan mewakilinya” jawab Sidanti.
Tohpati masih tetap acuh tak acuh. Ia mencoba mencari
Widura diantara laskar lawannya. Sebelum pecah perselisihan
Jipang dan Pajang, Widura telah dikenalnya. Dan kini ia ingin
mencoba, apakah Widura masih segarang seperti pada masamasa
lampaunya.
“Siapa yang kau cari?” tiba-tiba terdengar suara Sidanti.
“Pergilah!” bentak Tohpati. “Orang yang pertama-tama
akan aku bunuh adalah paman widura. Aku tidak ada waktu
berkelahi dengan kelinci-kelinci macam kau”. Semantara itu
tangan kiri Tohpati itu melambai kecil. Dan meloncatlah
seorang anak buahnya kesisinya. “Selesaikan anak ini”
katanya.
Orang itu tak menunggu perintah untuk kedua kalinya.
Hiruk pikuk pertempuran disekitar mereka tak banyak memberi
mereka waktu. Karena itu, maka anak buah Tohpati itupun
segera menyerang Sidanti dengan sebuah tusukan pedang.
Tetapi tiba-tiba mata Tohpati itupun terbeliak. Yang dilihatnya,
dengan suatu gerakan yang hampir tak tampak oleh mata,

Sidanti telah memiringkan tubuhnya, dan dengan satu gerakan
yang tak terduga-duga tangan kirinya telah berhasil menyobek
perut lawannya dengan senjatanya. Terdengar orang itu
berteriak nyaring, dan kemudian tubuhnya terbanting ditanah.
“Hadiah yang tak menyenangkan” desis Sidanti.
Wajah Macan Kepatihan itupun menjadi merah. Ditatapnya
muka Sidanti. Tampaklah anak muda itu tersenyum.
Sementara itu langitpun telah menjadi semakin cerah.
Cahaya matahari pagi tampak seakan-akan berloncatloncatan
diujung-ujung senjata. Dan karena itulah maka
kemudian Tohpati melihat senjata yang tajam pada ujung
pangkalnya ditangan Sidanti itu. Tohpati itupun terkejut.
Terdengarlah ia menggeram parau “Tambak Wedi”
Sidanti masih tersenyum. Jawabnya “Kau kenal nama itu?”
“Ya” sahut Macan Kepatihan. “Aku kenal Ki Tambak Wedi,
aku kira kau adalah salah seorang muridnya”
Sidanti mengangguk, “Kau benar” katanya.
“Bagus!” seru Tohpati, “Tambak Wedi telah mengkhianati
pamanku. Orang itu adalah sahabat paman Mantahun. Namun
ketika terjadi bentrokan antara Jipang dan Pajang ia
mengingkari persahabatannya. Bahkan kini muridnya
ditempatkannya dipihak Pajang”
“Jangan merajuk” jawab Sidanti. “Guruku melihat, bahwa
tak ada gunanya memihak Jipang, sebab Jipang pasti akan
hancur”
“Pamankupun berkata demikian” potong Tohpati cepatcepat.
“Orang semacam Tambak Wedi pasti tidak akan
mempunyai kesetiaan pada suatu sikap. Kau pernah melihat
batang ilalang? Nah, itulah dia. Bila angin bertiup keutara,
maka tunduklah ia kearah angin itu, bila angin kemudian
berputar keselatan, batang ilalang itupun berputar pula”
“Cukup” teriak Sidanti. Betapa tersinggung mendengar
kata-kata Tohpati. Karena itu iapun segera bersiap dengan
nenggala yang dinamainya Kiai Muncar.
“Senjata itu ada ditanganmu sekarang” berkata Tohpati
pula, “Nah, aku ingin melihat, apakah kau dapat
mempergunakannya”.

Sidanti tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan cepatnya
ia menyerang dengan senjata yang dahsyat itu.
Tetapi yang diserang kini adalah Macan Kepatihan.
Meskipun demikian Tohpati itupun terkejut pula melihat
kecepatan gerak lawannya. Tetapi Tohpati adalah seorang
prajurit yang berpengalaman dalam pertempuran bersama dan
dalam perkelahian perseorangan. Karena itu serangan Sidanti
itu sama sekali tidak mencemaskannya.
Sesaat kemudian kedua orang itu telah terlibat dalam suatu
pertempuran yang sengit. Sidanti benar-benar dapat
memanfaatkan kedua tajam senjatanya diujung dan
pangkalnya itu. Nanggala itu berputar seperti baling-baling,
kemudian mematuk-matuk seperti seekor ular naga yang
sedang marah. Sekali-sekali dengan satu ujung, namun tibatiba
dengan sebuah putaran yang cepat, ujung yang lainnya
menusuk pula dengan dahsyatnya. Benar-benar seperti
sepasang ular naga yang garang.
Tetapi senjata Tohpati tidak kalah mengerikan. Tongkat
baja yang gemerlapan dibawah cahaya matahari pagi,
seakan-akan dari tongkat itu berloncatan butiran-butiran
mutiara dan menghambur disekitar tempat perkelahian itu.
Dan diujung cahaya yang putih mengkilap itu tampaklah
leretan-leretan kuning seperti seekor lebah raksasa yang
berterbangan. Apabila lebah kuning itu berhasil hinggap
ditubuh lawannya, maka akibatnya adalah maut. Itulah kepala
tongkat Tohpati, yang dibuatnya dari besi kuning berbentuk
tengkorak kecil.
Tohpati dan Sidanti adalah dua anak muda yang sebaya.
Kedua-duanya mempunyai bekal yang cukup dan mempunyai
nafsu yang sama-sama berkobar didalam dada masingmasing.
Disekitar merekapun pertempuran menjadi semakin seru.
Widura dengan penuh kesungguhan memimpin anak buahnya
hampir disemua tempat. Orang itu dapat menyusup disegala
titik pertempuran. Karena itulah maka anak buahnya menjadi
berbesar hati, sebab setiap kali dilihatnya pemimpin mereka
yang perkasa itu ada disampingnya.

Ditengah sawah, laskar pecahan yang memisahkan diri dari
induk pasukannya itupun bertempur dengan sengitnya. Anakanak
muda Sangkal Putung benar-benar mengamuk sejadijadinya.
Mereka merasa bahwa hari depan mereka, bahkan
hari depan kampung halamannya sedang terancam. Apabila
mereka kali ini gagal mempertahankannya, maka untuk
seterusnya mereka akan kehilangan masa depan mereka.
Sebab akibat dari kehancuran kampung halamannya kali ini,
akan panjang sekali. Kesedihan, kemelaratan, paceklik yang
panjang karena lumbung-lumbung mereka akan habis
dirampas dan banyak penderitaan-penderitaan yang lain. Ibuibu
mereka, istri-istri mereka dan adik-adik mereka akan
menjadi korban pula karenanya. Meskipun demikian, lawanlawan
mereka adalah prajurit-prajurit yang terlatih. Itulah
sebabnya maka kadang-kadang mereka menjumpai
perlawanan-perlawanan yang tak mereka duga-duga.
Untunglah bahwa diantara mereka terdapat orang-orang yang
berpengalaman pula. Jagabaya Sangkal Putung, yang
meskipun sudah agak lanjut umurnya, namun ia adalah bekas
prajurit Demak yang baik. Demang mereka yang penuh
dengan tanggung jawab ada pula diantara mereka. Meskipun
batapa berat hati Demang itu melihat darah yang harus
tertumpah. Namun akhirnya disadarinya, bahwa pada suatu
saat pedang ditangannya harus diayunkan, apabila kebenaran
dan haknya telah terancam. Apalagi ada pula diantara
mereka, beberapa orang anak buah Widura yang dapat
memimpin mereka dalam keadaan-keadaan sulit.
Tohpati yang terikat dalam pertempuran dengan Sidanti
menggeram marah. Kesempatannya untuk memperhatikan
keadaan medan sangat terbatas. Sesaat-sesaat ia melihat
juga Widura berloncatan kian kemari hampir diseluruh daerah
pertempuran, namun ia tidak dapat mengimbanginya. Karena
itu, maka kemarahannya semakin memuncak. Sehingga
kemudian dengan tenaga sepenuhnya ia bertempur untuk
segera menghancurkan lawannya. Sidantipun kemudian
memeras tenaganya dalam perlawanannya atas Macan
Kepatihan itu. Namun kemudian terasa, betapa garangnya
harimau yang namanya ditakuti oleh hampir setiap orang

Jipang dan Pajang. Betapa Sidanti mendapat tempaan tak
henti-hentinya oleh gurunya, namun kini ternyata, bahwa
kesaktiannya belum dapat melampaui, bahkan menyamaipun
tidak, atas Macan yang garang itu. Sedikit demi sedikit Sidanti
merasa, bahwa lebah kuning itu semakin lama semakin dekat
dengan kulitnya. Bahkan sekali-sekali telah terasa sentuhan
angin yang tajam, yang dilontarkan oleh gerak besi kuning
yang berbentuk tengkorak itu.
“Setan” Sidanti menggeram. Ia mengumpat tak habishabisnya
didalam hati. Ternyata Macan Kepatihan itu benarbenar
melampaui dugaannya. Orang itu benar-benar dapat
bergerak demikian cepatnya, sehingga orang menyebutnya -
Tohpati dapat berubah menjadi asap -.
Meskipun demikian, betapapun garangnya Macan
Kepatihan itu, namun tidaklah terlalu mudah untuk
mengalahkan Sidanti. Anak muda murid Ki Tambak Wedi itu
adalah anak yang tidak lekas berputus asa. Dikerahkannya
segenap kemampuan yang ada padanya untuk tetap melawan
Macan Kepatihan itu betapapun berbahayanya.
Tetapi ia tidak akan dapat memungkiri kenyataan. Bahaya
maut semakin lama semakin mendekat. Tongkat baja putih
berkepala kuning itu kian lama kian cepat seperti nyamuk
yang berputar-putar ditelinganya. Karena itu, maka kemudian
Sidanti terpaksa beberapa kali melangkah surut, semakin
lama semakin dalam dibelakang garis semula.
Widura melihat kesulitan Sidanti. Tetapi ia tidak
mencemaskannya. Sebab disamping anak muda itu bertempur
Hudaya dan Citra Gati. Orang-orang tua yang dapat dipercaya
untuk setidak-tidaknya meringankan tekanan Macan
Kepatihan atas murid Ki Tambak Wedi itu. Ia sendiri masih
tetap berputar-putar disepanjang garis pertempuran. Karena
itulah maka kemudian tampak, bahwa laskar Widura berada
dalam keadaan yang lebih baik dari lawannya.Hudayapun
kemudian melihat kesulitan Sidanti. Adalah menjadi
kewajibannya untuk ikut serta memikul kesulitan itu. Karena itu
segera ia meloncat, melepaskan lawan-lawannya dan
menyerahkannya kepada beberapa orang lain.

***
Dengan garangnya orang yang hampir diseluruh wajahnya
ditumbuhi rambut itu menerjunkan diri dalam lingkaran
pertempuran antara Sidanti dan Tohpati. Dengan sebuah
tombak pendek ia menyerang sambil berteriak “Sidah aku
katakan Sidanti, Macan ini tidak dapat diajak bermain-main”
Melihat lawan yang baru itu Tohpati menggeram.
Kemarahannya telah membakar segenap syarafnya. Dengan
geramnya ia memjawab “Ayo majulah, kenapa Widura tidak
kau bawa serta”
Hudaya tertawa. Laki-laki itu sendiri tidak tahu kenapa ia
tertawa. Namun didalam hatinya tumbuhlah kebimbangan atas
usahanya membantu Sidanti. Dengan penuh kesadaraan ia
berusaha mengusir setiap anggapan yang pernah
didengarnya tentang Macan Kepatihan itu, namun ketika
sekali tombaknya tersentuh tongkat baja putih itu, Hudaya
berkata didalam hatinya “Pantaslah orang ini disebut Macan
Kepatihan. Sentuhan senjatanya terasa seperti membekukan
segenap urat darah” Walaupun demikian, Hudaya adalah
seorang prajurit. Karena itu, bagaimanapun juga keadaanya,
namun ia harus berjuang.
Melihat Hudaya telah melibatkan diri dalam perkelahian
itu,Citra Gati tersenyum.
“Hem, desisnya alangkah
sombongnya murid Ki
Tambak Wedi. Namun
akhirnya orang-orang tua
juga harus ikut
menghadang bahaya.
Kalau, ya kalau, Untara ada
diantara kita.” Tetapi Citra
Gatipun tidak sampai hati
membiarkan mereka
berdua mengalami
bencana. Karena itu ia
segera menyelinap diantara
anak-anak buah di dalam

kelompoknya. Katanya “Kita yakin atas kemenangan kita,
majulah.”
Kemudian Citra Gati itupun berdiri didalam lingkaran
pertempuran itu. Dengan tangkasnya ia berloncatan di selasela
senjata lawannya. Dengan sebuah pedang ia mencoba
untuk melawan Tohpati bersama-sama dengan Hudaya dan
Sidanti.
Tetapi anak buah Macan Kepatihan itupun tidak
membiarkan pemimpin mereka mengalami cedera karena
beberapa orang telah bertempur bersama-sama melawannya.
Karena itu dengan serta merta dua orang lainpun segera
melibatkan dirinya pula. Sehingga dengan demikian,
keseimbangan perkelahian antara Sidanti dan Tohpati masih
juga belum berubah. Sebab Hudaya dan Citra Gati mau tidak
mau harus berusaha memusnahkan setiap serangan dari
kedua orang Jipang itu. Karena itulah maka kesempatan untuk
membantu tidak sedemikian banyak seperti yang duharapkan.
Demikian agaknya orang-orang Jipang itupun telah bersiap
pula apabila pemimpinnya mengalami peristiwa semacam itu.
Keadaan Sidantipun semakin lama semakin menjadi sulit.
Hudaya dan Citra Gati bahkan kemudian tak dapat
diharapkannya lagi. Setiap orang Pajang yang mencoba
melepaskan Hudaya dan Citra Gati dari lawan-lawan mereka
selalu mendapat lawan-lawan yang baru.
Tetapi sementara itu, laskar Pajang telah berhasil
mendesak laskar lawannya dari ujung-keujung pertempuran.
Bahkan laskar Jipang yang bertempur melawan anak-anak
muda Sangkal Putung itupun akhirnya terpaksa beberapa kali
menarik diri surut. Swandaru sendiri yang menyadari
tenaganya yang perkasa, menghantam setiap lawan yang
berdiri disekitarnya. Apalagi anak muda itu tidak hanya
melandaskan diri pada kekuatannya, namun ia tahu juga,
bahwa ia harus mempergunakan otaknya.
Ketika Widura melihat Sidanti semakin terdesak, serta
setelah dilihatnya, betapa Hudaya dan Citra Gati sama sekali
tidak berhasil membantunya dengan leluasa, Widurapun
menjadi cemas. Karena itu segera ia meloncat,menyusup
diantara pertempuran itu mendekati Sidanti yang telah hampir

kehabisan tenaga. Macan Kepatihan yang marah itu, telah
mengerahkan segenap kemampuannya untuk segera
membinasakan lawannya. Lawan yang bukan saja ditemuinya
digaris pertempuran ini, namun dendam gurunya kepada guru
anak itupun telah memaksanya untuk bertempur sekuat
tenaga.
Tetapi Widura datang tepat pada waktunya. Pada saat
Sidanti terdorong beberapa langkah surut, serta tongkat baja
itu telah terayun dengan derasnya, sehingga Sidanti tak
mungkin lagi menghindar, selain menangkis dengan
Nenggalanya, pada saat itulah Widura telah berada
disampingnya. Desisnya sambil menyilangkan pedangnya
dihadapan dadanya “Aku terpaksa agak lambat
menyambutmu Angger.”
“He” teriak Tohpati dengan marahnya. Meskipun demikian
ayunan tongkatnya tidak juga ditariknya. Dilihatnya
kemungkinan bahwa Nenggala yang dasyat itu kali ini tak
akan mampu melawan tenaganya, karena kedudukan Sidanti
yang sulit. Namun tiba-tiba dilihatnya bahwa pedang yang
bersilang dimuka dada Widura itu terayun dengan cepatnya
memukul tongkatnya dari samping, sehingga tongkat itu
berubah arah.
Sidanti terhindar dari maut yang menerkamnya.
Namun meskipun demikian, tongkat baja putih itu masih
menyentuh pundaknya. Dengan demikian, maka Sidanti
terdorong beberapa langkah surut. Terdengarlah anak muda
itu berdesis menahan pedih yang menyengat pundaknya itu.
Terasa sentuhan itu seperti bara api yang dilekatkan pada
kulitnya, ketika tangan kirinya meraba pundak itu, terasa
darahnya meleleh dari luka.
“Setan” desisnya dengan geram. Kemarahannya
membakar seluruh urat nadinya. Namun tangan kanannya
kemudian terasa seakan-akan terlepas dari persendiannya,
sehingga tangan itu dengan lemahnya tergantung disisinya
tanpa dapat digerakkannya.
Sidanti menggeram. Terdengar giginya gemeretak
menahan marah. Tetapi kini tanaganya telah susut lebih dari
separo. Setelah ia memeras tenaganya habis-habisan, kini

pundaknya terluka pula. Karena itu, maka Sidanti merasa,
bahwa ia tak akan mampu menumpahkan kemarahannya
kepada Macan Kepatihan itu. Mau tidak mau Sidanti harus
menerima kenyataan yang berluka. Macan Kepatihan itu tidak
dapat dikalahkannya, bahkan pundaknya telah dilukainya.
Maka ketika ia melihat Widura telah siap untuk melawan
Tohpati itu, Sidanti menjadi agak tenang. Sebab dengan
demikian maut telah berkisar dari dirinya.
Meskipun demikian, Sidanti masih mencari sasaran untuk
menumpahkan kemarahannya. Dengan senjatanya ditangan
kiri anak muda itu kemudian melawan siapa saja yang berani
datang mendekatinya. Walaupun telah terluka, namun Sidanti
itu masih tetap berbahaya bagi lawan-lawannya.
Tohpati, yang kehilangan korbannya, menggeram penuh
kemarahan. Katanya “Paman Widura, kau telah
menggagalkan usahaku membunuh murid penghianat itu.
Karena itu, kau memberi kesempatan, atau kau sendiri yang
terbunuh”
“Angger Macan Kepatihan” sahut Widura “adalah sudah
sewajarnya bahwa sekali kita berhasil mengorbankan lawan
kita, namun kali yang lain kita kehilangan kemungkinan itu.
Kini kau kehilangan Sidanti, namun kau menemukan aku
disini. Nah, jangan cari yang tidak ada”
“Bagus” teriak Tohpati “Memang sejak semula aku ingin
bertemu dengan paman Widura. Dan kini paman telah datang
menyambut aku”
Widura tidak menjawab. Tetapi ia sadar bahwa ia harus
berjuang sekuat kemampuan yang ada padanya. Sebab
Tohpati adalah seorang anak muda yang sakti. Meskipun
demikian, Widura kini sedang mengemban kewajibannya
sebagai seorang prajurit. Karena itu ia harus melawan,
betapapun sakti musuhnya itu.
Dalam pertempuran itu, Widura kini dapat menghadapi
lawannya dengan tenang, setelah ia yakin, bahwa laskarnya
berada dalam keadaan yang lebih baik dari laskar Tohpati.
Sedikit demi sedikit laskar Widura itu dapat mendesak
lawannya. Sehingga keadaan itu, mau tak mau pasti
mempengaruhi jiwa Tohpati sendiri.

Widura dan Tohpati itu segera terlibat dalam pertempuran
yang seru. Tampaklah tenaga Tohpati yang kuat seperti
raksasa itu melampaui tenaga Widura, namun Widura adalah
prajurit yang berpengalaman.
Telah berpuluh bahkan beratus kali dihadapinya lawanlawan
yang tangguh, namun untuk kesekian kalinya ia masih
tetap hidup. Karena itu maka walaupun Tohpati adalah
seorang yang sakti, namun Widurapun memiliki beberapa
kesaktian pula, sehingga dengan demikian pertempuran itu
menjadi semakin seru. Tongkat baja putih Tohpati berputar
melingkar-lingkar dan bayangan warna putih seakan-akan
menyelubungi dirinya, bergulung-gulung seperti ombak yang
dahsyat siap untuk menelan korbannya. Namun pedang
Widurapun memiliki kekhususannya sendiri. Pedang Widura
bukanlah pedang yang dapat dibanggakan ketajamannya.
Tetapi pedang itu dapat dipakainya untuk menghantam patah
besi gligen. Namun setiap sentuhan pada ujung pedang itu,
maka pastilah kulit lawannya akan berlubang. Meskipun
pedang itu tidak tajam dipunggungnya, tetapi ujungnya runcing
melampaui ujung jarum.Disudut-sudut pertempuran yang lain,
semakin lama semakin nyata bahwa laskar Pajang semakin
berada dlam keadaan yang lebih baik. Berkali-kali mereka
berhasil mendesak lawannya dan berkali-kali pula laskar
Tohpati terpaksa menarik diri surut. Bahkan laskar Tohpati
yang bertempur ditengah-tengah sawah itupun kemudian
semakin bergeser mendekati induk pasukannya. Mereka
kemudian menjadi ngeri melihat anak-anak muda Sangkal
Putung bertempur seperti orang-orang kerasukan setan.
Sedang diantara mereka terdapat pula orang-orang yang
memiliki pengetahuan tempur setidak-tidaknya menyamai
laskar Jipang itu. Gabungan antara tekad yang menyala-nyala
dan otak yang berpengalaman, menjadikan rombongan anakanak
muda Sangkal Putung itu benar-benar mengerikan.
Namun keadaan Widura tidak sebaik keadaan pasukannya.
Seperti juga Sidanti, akhirnya Widura terpaksa mengakui
bahwa Macan Kepatihan itu benar-benar perkasa diatas
segala orang yang pernah dilawannya. Tetapi Widura tak
dapat mengingkari kewajibannya. Ia adalah orang yang

terakhir yang harus menahan arus kemarahan Tohpati,
apapun yang akan terjadi pada dirinya. Karena itu, sadar akan
tugasnya, maka Widurapun segera mengerahkan segala
kesaktiannya. Menurut perhitungannya, maka apabila ia
berhasil memperpanjang waktu perlawanannya, maka
laskarnya pasti sudah benar-benar dapat menguasai laskar
Jipang, sehingga dengan demikian maka keadaan itu akan
segera mempengaruhi Macan Kepatihan.
Ternyata perhitungan Widura yang berpengalaman itupun
terjadi. Setiap kali Tohpati dipengaruhi oleh pekik kesakitan
dan kadang-kadang sebuah teriakan maut dari anak buahnya.
Sedikit demi sedikit, satu demi satu anak buahnyapun
rontoklah. Betapa sakit hati Macan yang ganas itu, ketika
disadarinya, bahwa keadaan laskarnya benar-benar tidak
menyenangkan. Tetapi karena itulah maka kemarahannya
menjadi semakin memuncak. Widura itu harus segera
dibinasakan. Kemudian ia harus membunuh Sidanti pula.
Apabila kedua-duanya telah terbunuh, maka ia akan dapat
membantu laskarnya memusnahkan orang-orang Pajang yang
dibencinya itu. Lebih daripada itu, maka anak-anak muda
Sangkal Putung bukanlah lawan yang perlu diperhitungkan.
Karena itulah maka Tohpati itupun segera mengamuk
sejadi-jadinya.
Tetapi betapapun juga, Tohpati tak dapat membutakan
matanya serta menulikan telinganya atas peristiwa-peristiwa
yang menyedihkan yang terjadi diantara laskarnya. Ia tahu
benar, bahwa Widura kini hanya tinggal bertahan
memperpanjang waktu. Dan iapun telah berusaha melawan
waktu itu, sehingga pekerjaannya harus segera selesai. Tetapi
setiap kali ia mendengar, dan setiap kali ia melihat seorang
dari anak buahnya terbanting ditanah dengan darah
menyembur dari lukanya, maka hatinya berdesir pula. Sebagai
seorang pemimpin yang baik, maka Tohpati tidak akan
mengorbankan terlalu banyak anak buahnya untuk hasil yang
belum pasti. Dalam waktu yang pendek Macan yang cerdik itu
membuat perhitungan untung rugi dari pertempuran itu.
Apabila ia berhasil membunuh Widura dan Sidanti, maka
apakah jumlah laskarnya masih cukup banyak untuk melawan

arus laskar Widura yang tangguh itu. Apakah orang-orang
yang cekatan seperti Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang
lain lagi tidak segera mengambil alih pimpinan dan
melawannya dalam sebuah kelompok yang besar bersamasama.
Akhirnya Tohpati tidak dapat mempertahankan tujuan
penyerangannya kali ini. Ia harus melihat kenyataan itu.
Karena itu, tiba-tiba Tohpati mengambil suatu keputusan untuk
menarik diri. Namun setidak-tidaknya ia harus dapat
mencegah Widura dan anak buahnya mengambil keuntungan
dari keadaan terakhir itu. Maka sekali lagi dengan segenap
kemampuan yang ada, Tohpati melibat Widura dalam
lingkaran bayangan putih. Bayangan putih itu benar-benar
seperti asap yang mengerikan. Asap yang mengandung
didalamnya nafas maut.
Widurapun berusaha melawan dengan kemampuan
terakhirnya. Tetapi semakin terasa asap putih itu semakin
membingungkannya. Ujung tongkat baja putih yang berwarna
kuning itu semakin lama terasa semakin dekat dari tubuhnya.
Tetapi Widura adalah orang yang tabah. Karena itu ia masih
tetap tenang apapun yang terjadi.
Pada saat-saat terkhir, maka Tohpati itupun terkejut ketika
dilihatnya seseorang mendekatinya. Sebuah pedang terayun
dengan derasnya, memotong sinar putih yang bergulunggulung
disekitarnya. Betapa heran hati macan Kepatihan
itu.Tetapi ia tidak memperhatikannya terlalu banyak. Ayunan
tongkatnya itu diperkuat untuk menghantam pedang yang
mencoba melawannya. Maka terjadilah sebuah benturan yang
sengit. Pedang itu terpental beberapa langkah dari titik
benturan, dan terlepas dari genggaman. Namun Macan
kepatihan itupun terkejut bukan kepalang. Terasa bahwa
tangan yang menggerakkan pedang itu mempunyai kekuatan
yang luar biasa. Ketika ia menatap penyerangnya, maka
Tohpati melihat seorang anak muda yang gemuk. Dengan
gugupnya anak itu mencoba mengambil pedangnya yang
bertangkai gading. Namun tangan itu terasa terlalu nyeri.
Dengan demikian, maka ia hanya dapat melihat dengan penuh

kecemasan ketika Macan Kepatihan itu sekali lagi memutar
tongkatnya dan menyerangnya.
Ketika Widura melihat anak muda itu hatinya berdesir.
Dengan serta merta ia berteriak “Swandaru, jangan gila.
Pergilah”.
Tetapi Swandaru yang sedang mengagumi kekuatan
tangan Tohpati itu tidak beranjak dari tempatnya. Untunglah
bahwa Widura dapat bertindak cepat. Dengan garangnya ia
meloncat maju, dan menyerang Tohpati dengan ujung
pedangnya. Tohpati terpasa melawan pedang yang terjulur
langsung kedadanya. Sehingga ia menarik serangannya atas
Swandaru. Sesaat kemudian kembali Tohpati merusaha
sekuat-kuat tenaganya untuk membinasakan Widura.
Swandaru kini melihat pertempuran itu dengan mulut
ternganga. Ternyata bahwa kekuatan saja, betapapun
besarnya, tidak akan bermanfaat apabila tidak disertai
rangkapan ilmu yang lain, ilmu gerak, ilmu ketangkasan dan
ilmu menggerakkan senjata. Lebih dari itu adalah ilmu
pemusatan pikiran dan kekuatan pada titik-titik tertentu. Tetapi
ia tidak tahu , bahwa disamping ilmu-ilmu itu, maka Tohpati
maupun Widura telah mempergunakan ilmu yang dapat
mengungkat kekuatan-kekuatan yang tersembunyi didalam
tubuh mereka masing-masing. Karena itu, meskipun
Swandaru mempunyai kekuatan yang luar biasa, namun pada
saat ia membenturkan pedangnya untuk melawan tongkat
putih Tohpati yang sedang berputar itu, maka tenaganya itu
seakan-akan tidak berarti. Lalu bagaimanakah kira-kira
kekuatan Tohpati, seandainya orang itu dengan sengaja
memukulkan tongkatnya dengan kekuatan sepenuhnya?
Tetapi bagaimanapun juga, perbuatan Swandaru itu telah
memperpanjang waktu perlawanan Widura. Dengan demikian
korban dikedua belah pihakpun semakin bertambah-tambah.
Apalagi dipihak laskar Tohpati. Karena itu maka Tohpatipun
segera mengambil keputusan untuk menyelamatkan orangorangnya.
Ia sama sekali tidak melihat keuntungan apapun
apabila ia memperpanjang perlawanannya. Rencana yang
disusunnya benar-benar telah hancur berantakan. Maka yang
kemudian dilakukan oleh Macan Kepatihan itu adalah

meloncat surut, melepaskan diri dari ikatan pertempuran
dengan Widura. Dengan nyaringnya ia berteriak “Tinggalkan
pertempuran. Segera!”
Laskar Jipang itupun adalah laskar yang terlatih.
Merekapun tahu benar, bagaimana mereka harus
meninggalkan pertempuran. Beberapa orang pemimpin
kelompok segera tampil kedepan melindungi anak buah
mereka yang berloncatan mundur. Tohpati itupun kemudian
meloncat kian kemari, seperti burung elang yang berterbangan
menyambar-nyambar. Dengan tangkasnya ia memotong
laskar pajang yang berusaha mengejar anak buahnya yang
melarikan diri. Dari antara laskar Jipang itu kemudian
tampillah orang-orang yang bersenjata jarak jauh. Bandil,
paser dan panah. Ternyata mereka telah benar-benar bersiap
menghadapi setiap kemungkinan, sampai pada kemungkinan
mengundurkan diri. Usaha Widura untuk mengikat kambali
Tohpati dalam suatu titik perkelahian tidak berhasil. Setiap kali
Macan Kepatihan itu selalu menghindar dan dengan
tongkatnya ia terus-menerus berusaha menyelamatkan anak
buahnya sejauh mungkin.
Laskar Widura sudah pasti tidak akan membiarkan lawanlawan
mereka menyelamatkan diri. Dengan gairah mereka
mendesak terus. Namun laskar Tohpati itupun tidak berlari
bercerai-berai. Mereka mundur dengan teratur. Perlawanan
mereka sama sekali tidak berkurang. Sehingga dengan
demikian, pertempuran itu berlangsung terus, sambil bergeser
dari satu garis ke garis berikutnya.
Sekali lagi Widura menggeleng-gelengkan kepala. Tohpati
adalah suatu contoh dari seorang pemimpin yang baik.
“Kenapa anak muda itu masih belum menyadari keadaan”
gumamnya. “Apabila demikian, Pajang akan segera
berkembang dan sentausa”
Laskar Tohpati itupun kemudian mencapai sebuah desa
dibelakang garis perlawanan mereka. Demikian mereka
melampaui pagar yang pertama, demikian mereka pecah
berpencaran diantara pohon-pohon yang tumbuh disana-sini.
Diantara pohon-pohon liar dihalaman yang kurang terpelihara
dan diantara rumpun-rumpun bambu yang lebat. Sehingga

laskar Widura itupun segera menemui kesulitan untuk
mengejar mereka terus. Mereka harus berhati-hati, dan
mencurigai setiap pohon-pohon besar yang berada disekitar
mereka. Pohon itu akan dapat menjadi tempat-tempat
persembunyian dan apabila mereka kurang wapada, maka
maut akan menerkam mereka. Dengan demikian, maka kedua
bagian laskar itu bertempur dari satu pohon ke pohon lain, dari
satu rumpun ke rumpun yang lain. Namun keadaan laskar
Tohpati menjadi bertambah baik. Mereka menyerang dan
kemudian menghilang. Sedang laskar Widura yang
mengejarnya, kadang-kadang terpaksa melingkar menghindari
kemungkinan-kemungkinan serangan tiba-tiba dari balik-balik
gerumbul.
Widura segera melihat keadaan itu. Karena itu, maka
alangkah berbahayanya apabila pengejaran itu dilakukan
terus. Mungkin mereka akan dapat mencapai tepi desa yang
lain, dan memaksa kedua laskar itu bertempur kembali
ditempat yang terbuka, namun korban akan menjadi sangat
besar. Karena itu segera Widura berteriak memerintah
“Hentikan pengejaran”. Dan perintahnya itu kemudian
beruntun diulangi oleh setiap pimpinan kelompok laskarnya.
Demikianlah maka laskar Widura itu berhenti. Segera
mereka menarik diri dan berkumpul kembali diluar desa itu.
Ketika mereka menengadahkan kepala mereka, mereka
melihat bahwa matahari telah berada diatas kepala mereka.
Widurapun kemudian mendengarkan laporan dari setiap
pemimpin kelompoknya. Seiapakah yang cedera diantara
mereka, yang terluka dan yang terpaksa gugur dalam
mengemban tugas mereka.
Hari itu adalah hari berkabung bagi Sangkal Putung. Tugas
laskar Widura kemudian, beserta orang-orang Sangkal Putung
adalah memelihara mereka yang terluka. Kawan maupun
lawan. Sebab bagi perawatan perikemanusiaan, tak ada batas
diantara kawan dan lawan. Apalagi diantara mereka, laskar
Widura dan laskar Tohpati, beberapa orang dari mereka
adalah kawan-kawan yang pernah berjuang bersama-sama
untuk menegakkan Demak di jaman-jaman sebelumnya.

Namun kini, mereka terpaksa bertemu dalam sebuah
permainan senjata yang berbahaya.
Ketika iring-iringan laskar itu memasuki Sangkal Putung,
tampaklah desa itu menjadi sepi. Ternyata perempuan dan
kanak-kanak telah berkumpul di Kademangan. Sedang
beberapa laki-laki yang meskipun sudah melampaui umur
mudanya, tampak berjaga-jaga dihalaman dengan senjata apa
saja ditangan mereka.
Ketika mereka mengetahui bahwa iringan laskar Widura
dan anak-anak muda mereka datang, segera mereka
membuka regol yang mereka kancing dengan palang kayu.
Beberapa orang laki-laki dengan tergesa-gesa pergi
menyongsong mereka dan membantu mereka menolong
kawan-kawan yang terluka.
“Adakah Sangkal Putung baik-baik?” bertanya Widura
kepada salah seorang dari mereka.
“Baik tuan” jawab yang ditanya, “Tak ada laskar mereka
yang merembes kemari”
“Bagus” sahut Widura. “Siapakah yang berada
dikademangan?”
“Setiap laki-laki yang tak ikut maju menyongsong lawan”
jawab orang itu dengan bangga. “Sebagian dikademangan
dan sebagian di lumbung desa”
“Bagus” berkata Widura sambil mengangguk-angguk
“Setiap laki-laki di Sangkal Putung akan menjadi pahlawan”.
Orang itu tersenyum-senyum. Lalu ia bertanya pula
“Bagaimanakah dengan laskar Macan Kepatihan?”
“Mereka telah meninggalkan kita” jawab Widura. “Setidaktidaknya
untuk sementara bahaya tak akan datang kembali”
“Mampuslah mereka” geram orang itu.
Widura tersenyum, namun ia tidak menjawab.
Ketika laskarnya memasuki halaman kademangan, maka
gemparlah halaman itu. Beberapa orang perempuan berlarilari
menyambut anak-anak mereka yang datang dengan
kebanggaan didada mereka. Namun ada juga yang terpaksa
memeras air mata, karena anak-anak mereka jatuh menjadi
banten kampung halaman.

“Alangkah biadabnya orang-orang Jipang” keluh mereka.
Dan Widura yang mendengarnya, hanya dapat mengelus
dada. Beberapa orang tetangga mereka berkerumun untuk
menghibur mereka. Tetapi mereka sama sekali tidak
membayangkan, bahwa isteri-isteri dan ibu-ibu orang Jipang
yang terbunuh itupun akan mengutuk dengan muaknya sambil
menangis “Alangkah kejamnya orang-orang Pajang”. Memang
sebenarnyalah peperangan tak dapat dipisahkan dari
kekejaman, tangis dan penyesalan.
Maka, dipendapa kademangan itu, diatas helai-helai tikar
pandan, berbaring berderet-deret orang yang terluka. Sedang
orang-orang lain sibuk dengan kawan-kawan mereka yang
gugur.
Sedayu, yang berada dikademangan itu pula, ketika
didengarnya pamannya kembali dari peperangan, segera
menyambutnya. Dengan wajah pucat dan gemetar, ia
mengikuti pamannya masuk kepringgitan. Terbata-bata ia
bertanya “Bagaimanakah dengan laskar Jipang itu paman?”
Widura tersenyum. “Duduklah Sedayu” katanya
mempersilakan.
Sedayu kemudian duduk dengan gelisahnya. Sementara itu
Widura berjalan kesudut ruangan, meraih gendi dari gelodog
bambu, dan minumlah ia sepuas-puasnya.
Ditangga pendapa kademangan, Hudaya duduk sambil
membelai senjatanya. Sekali-sekali tangannya mengusap
pelipisnya yang terluka. Meskipun demikian ia masih sempat
tertawa dan berkata kepada Citra Gati yang duduk
disampingnya “Untunglah, bukan kumisku yang terkelupas”
“Lain kali kepalamu” sahut Citra Gati sambil memijat-mijat
tangannya yang terkilir, ketika ia berguling-guling menghindari
serangan tongkat putih Macan Kepatihan. Tiba-tiba teringatlah
olehnya betapa tengkorak kuning diujung tongkat Tohpati itu
menyambar keningnya. “Ngeri”, gumamnya.
“Apa yang ngeri?” bertanya Hudaya dengan heran.
“Tengkorak itu” jawab Citra Gati.
Kembali Hudaya tertawa. “Ketika seseorang dari orangorang
Jipang itu menyerang aku, aku menjadi gembira.

Bukankah aku telah dibebaskan dari bahaya tongkat baja
putih itu?”
“Ah, gila kau” desah Citra Gati. Dan kemudian
keduanyapun terdiam. Kedua-duanya dicengkam oleh
kengerian, apabila diingatnya senjata Tohpati yang bergulunggulung
seperti prahara.
Sidanti tidak tampak duduk diantara mereka. Anak muda itu
segera pergi ke dapur. Ditemuinya disana seorang gadis yang
mula-mula sedang sibuk menyiapkan makan untuk mereka.
Tetapi ketika dilihatnya Sidanti datang kepadanya sambil
tersenyum-senyum maka dengan tergesa-gesa diletakkannya
pekerjaannya, dan berlari-lari menyongsong anak muda itu.
“Kau terluka?” gadis itu bertanya dengan cemas.
Sidanti mengangguk. “Tidak seberapa” jawabnya. Memang
luka itu tidak begitu parah, meskipun tangan kanannya masih
belum dapat digerakkan dengan leluasa.
Sementara itu dari dalam gandok terdengar Swandaru
berteriak memanggil “Mirah, Sekar Mirah”
Sidanti tersenyum mendengar suara itu. Katanya “Kakakmu
memanggil”
Sekar Mirah menyerutkan keningnya “Biarlah. Kakang
terlalu manja”
Dan dari gandok itu terdengar kembali suara Swandaru
“Mirah, he Mirah. Dimana kain parangku?”
“Cari sendiri” sahut adiknya berteriak tidak kalah kerasnya.
“Ayo carikan” bentak kakaknya. “Kalau tidak, aku tak mau
mengisi jambangan kalau kau mandi”.
Sekar Mirah tidak menjawab, namun terdengar suara
Sindanti “Jangan terlalu manja Swandaru”.
Mendengar suara Sidanti, Swandaru terdiam. Namun ia
menggerutu “Setan, Sidanti itu. Awas, kalau Mirah masih
berkawan dengan anak muda itu. Suatu ketika aku hajar
kedua-duanya” Tetapi ia tidak berani memanggil adiknya lagi.
Ia tahu, bahwa adiknya lebih senang tinggal bersama Sindanti
daripada datang kepadanya. Karena itu dengan marah diadukaduknya
setumpuk kain digelodog pakaiannya. Dan akhirnya
ditemukan juga kain parangnya.

Ketika ia berlari-lari keluar gandok lewat dapur, sampai
dimuka pintu langkahnya terhenti. Dilihatnya Sekar Mirah
sedang membersihkan luka Sidanti dengan asyiknya, dibawah
rimbun daun kemuning. “Gila” geramnya perlahan-lahan.
Namun ia tidak berani mengganggu. Segera ia kembali masuk
kedapur dan berlari kependapa sambil menyambar sepotong
paha ayam.
Dipringgitan, Widura kini sudah duduk dimuka Agung
Sedayu. Dengan cermat diceritakan apa yang terjadi digaris
pertempuran. Akhirnya Widura itu berkata “Sebenarnya kami
harus berterima kasih kepadamu dan Untara, sebab dengan
demikian kami telah kalian bebaskan dari kehancuran mutlak”
Keduanya kemudian berdiam diri. Namun dihati Sedayu
masih belum tenang benar. Karena itu ia bertanya “Tetapi,
dengan demikian, tidakkah ada kemungkinan Macan yang
ditakuti itu datang kembali?”
“Mungkin” sahut pamannya. Sebenarnya iapun kecewa
terhadap hasil yang dicapainya. Namun kemampuan
laskarnya sangat terbatas, dan hasil itulah yang sebesarbesanya
dapat dicapai.
“Lalu, bagaimanakah kalau mereka datang kembali dengan
tiba-tiba?” desak Sedayu.
“Bukankah disini ada Sedayu” sahut Widura sambil
tertawa.“Ah” Sedayu
mengeluh.
***
Widura iba juga
melihat Sedayu
menunduk. Karena itu ia
segera bertanya
“Adakah kau sempat
beristirahat?”
Sedayu menggeleng
“Tidak” jawabnya. Ia
tidak perlu malu-malu
kepada pamannya,

sebab pamannya telah mengenalnya dengan baik. “Aku
menjadi gelisah” Sedayu meneruskan “Ketika aku mendengar
tanda bahaya, maka aku tak dapat duduk dengan tenang,
apalagi berbaring”
Widurapun kemudian terdiam ketika mereka mendengar
langkah masuk. Dan sesaat kemudian duduklah diatara
mereka Ki Demang Sangkal Putung. Wajahnya menjadi merah
dan debu yang melekat diwajah itu belum sempat diusapnya.
Bajunya masih baju yang dipakainya bertempur. Basah oleh
keringat. Tanpa disangka-sangka orang itu, tetua kademangan
Sangkal Putung, mengulurkan tangannya dengan hidmat
kepada Agung Sedayu sambil berkata dalam, “Angger, kau
telah membebaskan daerah kami, kampung halaman dan
lumbung-lumbung kami. Apakah yang dapat kami lakukan
untuk membalas jasa anakmas ini”.
Sedayu menjadi bingung. Namun diulurkannya juga
tangannya untuk menyambut tangan Demang Sangkal
Putung. Terasa tangan Demang itu gemetar, dan tangannya
sendiripun gemetar pula. Tetapi ta tidak dapat menjawab
sepatah katapun. Bahkan ia menjadi semakin bingung ketika
Demang itu berkata “Ternyata anggerpun tidak sampai hati
membiarkan laki-laki yang berada dikademangan ini menjadi
gelisah. Ternyata angger tidak mau beristirahat betapapun
lelahnya. Bahkan angger telah hilir mudik dipendapa dan
dihalaman, sehingga dengan demikian setiap orang yang
berada dikademangan ini, baik perempuan dan anak-anak
yang mengungsikan diri, maupun mereka yang berjaga-jaga
menjadi tenang karenanya, sebab ada diantara mereka yang
sudah mendengar, siapakah angger ini”.
Sedayu tidak tahu, bagaimana ia harus menanggapi katakata
Demang Sangkal Putung itu, sehingga dengan demikian,
hampir seluruh tubuhnya menjadi basah oleh keringat dingin,
melampaui keringat yang membasahi baju Ki Demang
Sangkal Putung.
Widura melihat Agung Sedayu dengan menahan senyum.
Dilihatnya, betapa keadaan Agung Sedayu yang gelisah.
Tetapi Demang Sangkal Putung itu mempunyai tanggapannya
sendiri, katanya didalam hati “Angger Agung Sedayu benarTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
benar orang yang rendah hati. Meskipun jasanya bagi kami
tak ternilai harganya, namun apabila hal itu kami sebut-sebut
dihadapannya, agaknya tak berkenan dihatinya”
Tetapi Widura itupun kemudian menjadi cemas. Apabila
orang-orangnya dan orang-orang Sangkal Putung terlanjur
mempunyai anggapan yang keliru terhadap Agung Sedayu,
maka akibatnya akan dapat menyulitkan Agung Sedayu
sendiri. Meskipun demikian, Widura tidak dapat mencegah
mereka. Ia sama sekali tidak mengatahui, cara yang sebaikbaiknya
untuk menempatkan Agung Sedayu pada tempat
yang sewajarnya. Bahkan Widurapun kemudian menjadi
gelisah ketika teringat olehnya, bagaimana sikap Sidanti
kepada anak itu.
Sebentar kemudian, sampailah saatnya laskar yang lelah
itu menerima makan mereka. Tidak saja mereka yang
berempur disimpang empat Pandean, tetapi semuanya yang
berada dikademangan itu mendapat bagiannya.
Widurapun kemudian melihat-lihat keadaan laskarnya,
melihat mereka yang dengan lahapnya menelan segumpal
demi segumpal nasi kedalam mulutnya, namun ia melihat juga
beberapa orang yang terpaksa disuapi karena lukanya yang
parah.
“Makanlah” bisik Widura kepada mereka yang terluka,
“Makanlah banyak-banyak supaya lukamu lekas sembuh”
Orang-orang yang terluka itu menjadi agak terhibur juga
hatinya. Namun betapa mereka mencoba makan sebanyakbanyaknya,
namun leher mereka serasa kering dan tersumbat.
Meskipun menurut perhitungan Widura, laskar Tohpati itu
tidak akan segera datang kembali, namun ia tidak mau
kehilangan kewaspadaan. Ditempatkannya beberapa orang
pengawas dluar kademangan Sangkal Putung, dan
dinasehatkannya kepada setiap anak buahnya, supaya tidak
melepaskan senjata mereka, meskipun mereka sedang
beristirahat dan tidur dimalam hari.
Demikianlah, malam hari itu, Agung Sedayu mendapat
kehormatan untuk tidur dipringgitan bersama Widura,
meskipun bagi Sedayu tidak disediakan sebuah amben.
Namun Sedayu dapat tidur dengan tenteram diatas tikar

pandan didekat pamannya. Malam itu Sedayu benar-benar
dapat melepaskan segenap ketegangan urat syarafnya serta
benar-benar dapat beristirahat dengan puas. Meskipun
kadang-kadang terbangun juga oleh mimpi yang mengejutkan.
Tetapi ia kemudian tertidur kembali setelah ia melihat
pamannya masih saja duduk disampingnya, sambil
menggosok-gosok wrangka kerisnya dengan kelopak bunga
keluwih.
Memang malam itu Widura tidak segera dapat tidur. Adaada
saja yang selalu mengganggu pikirannya. Laskar Tohpati,
Agung Sedayu dan Untara.
Tiba-tiba Widura itupun bergumam “Ah, alangkah baiknya
kalau Untara itu segera berada ditempat ini. Disini ia dapat
membantu kami apabila Tohpati itu datang kembali, dan
sekaligus Sedayu tak menggangguku lagi”
Widura itupun kemudian mengangguk-angguk. Ia sudah
berketetapan hati, besok Sedayu akan dibawanya menjemput
kakaknya yang luka. Mungkin di Sangkal Putung ia akan
mendapat perawatan yang lebih baik. Dan ditempat ini,
keamanannyapun akan lebih baik pula. Karena dalam
keadaan terluka, adalah sangat berbahaya apabila dengan
tiba-tiba beberapa orang lawannya datang mencarinya.
Widura mengangguk-angguk seorang diri seperti api clupak
yang menempel pada tiang pringgitan itu ditiup angin malam.
Tetapi ketika ditatapnya wajah Agung Sedayu, ia menarik
nafas. Alangkah jauh bedanya. Agung Sedayu dan Untara.
Kedua-duanya adalah anak Ki Sadewa, dan kedua-duanya
pula lahir dari ibu yang sama, kakak perempuannya, istri Ki
Sadewa itu. “Aneh” gumamnya. Dan tanpa dikehendakinya
sendiri Widura itupun hanyut kedalam masa lampaunya.
Selagi ia masih tinggal bersama-sama kakak perempuannya
itu. Untara adalah anak yang sulung. Ia lahir dan besar
didalam alam yang bebas dan penuh gairah. Ia bermain-main
bersama kawan-kawannya, berlomba dan kadang-kadang
berkelahi diantara sesama kawan-kawannya. Binten, sodoran
dan sebagainya. Disamping itu, anak itu dengan tekun
mempelajari ilmu tata bela diri dari ayahnya. Bahkan kadangkadang
dibawanya Untara berjalan jauh. Melihat daerahTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
daerah yang belum pernah dikunjunginya. Kerumah sahabatsahabatnya.
Tidak saja didaerah Demak, namun ia pernah
juga berkunjung ke daerah-daerah yang jauh. Banten,
Cirebon, Gresik dan Banyuwangi. Dari ujung sampai keujung
yang lain dari pulau ini. Sudah banyak yang dilihatnya, dan
sudah banyak pula yang didengarnya. Sudah tentu
diperjalanan banyak pula pengalaman-pengalaman yang
ditemuinya. Berkelahi dengan penyamun-penyamun, dengan
penjahat-penjahat dan bahkan berkelahi hanya karena salah
paham. Ayahnya adalah seorang sakti yang sukar dicari
bandingnya. Malahan kadang-kadang ayahnya memaksanya
untuk melawan orang-orang yang berbuat jahat kepada
mereka, sedang ayahnya sendiri hanya menontonnya seperti
menonton adu ayam. Dan kadang-kadang ayahnya itupun
terpaksa memberikan pertolongan kepada orang-orang yang
sangat memerlukannya. Karena itu, sejak kecil Untara telah
banyak bermain-main dengan senjata. Sehingga akhirnya,
setelah puas dengan pengembaraan, perkelahian dan
pengalaman atas ilmu kesaktiannya, maka Ki Sadewa
kemudian seakan-akan menarik diri dari pergaulan. Ia lebih
senang merendam dirinya dirumah, bermain-main dengan
anaknya yang bungsu dan bekerja dikebunnya. Mananam
sayur-sayuran dan bunga-bungaan.
Sedang Sedayu mengalami masa yang jauh berbeda
dengan kakaknya. Ia lahir setelah ibunya mengalami pukulan
yang berat bagi seorang ibu. Dua anaknya laki-laki yang lain,
berturut-turut telah meninggal dunia. Betapa sedih dan
cemasnya apabila hal itu akan berulang kembali. Apalagi
didesak pula oleh keinginannya mempunyai seorang anak
perempuan. Namun yang lahir terakhir itupun laki-laki pula.
Agung Sedayu.
Pada saat itu pula, Ki Sadewa telah menempuh cara hidup
yang lain. Ia sama sekali menghindari setiap pertentangan
yang timbul. Didalam pengembaraannya, kemudian
ditemukannya suatu kesimpulan, bahwa tak akan dapat
ditemuinya ketentraman hidup diantara gemerlapnya pedang
dan pekik kesakitan. Diusahakannya pula mengembalikan
hidupnya kedalam hakekatnya. Manusia lahir karena pancaran

kasih Tuhan, bahkan Tuhan telah memberikan beberapa
bagian dari sifat-sifatnya kepada manusia pula. Namun
manusia akhirnya jatuh kedalam dosa. Dan karena itulah
maka manusia dijauhkan daripadaNya. Namun karena Tuhan
adalah Maha Pengasih, Maha Pengampun dan Maha
Penyayang, maka apabila manusia bertobat, akan
diampunkan dosa-dosa itu. Bertobat lahir batin, hasrat dan
perbuatan.
Maka yang dilakukan Ki Sadewa itu kemudian adalah
membekali anak-anaknya dengan cinta itu. Kalau terpaksa
mereka bertempur, maka haruslah dilandasi atas dari itu.
Dasar kebaktian kepada sumber hidupnya dan pengabdian
kepada sesama serta pengabdian kepada diri sendiri.
Tetapi Sedayu tidak pernah mengalami masa penempaan
seperti kakaknya. Ibunya tidak pernah melepaskannya dari
sisinya. Apabila sekali-sekali Untara mengajak adiknya
bermain, dan ditemuinya sedikit lecet dilututnya, maka Untara
harus menerima akibatnya. Sedayu itu dipelihara oleh ibunya
dengan kasih yang berlebih-lebihan. Betapa ia takut
kehilangan anak untuk ketiga kalinya, dan betapa ia ingin
mencium seorang anak perempuan. Hanya kadang-kadang
saja ibunya melepas Agung Sedayu bermain-main dengan
ayahnya. Namun itupun mainan yang tidak berbahaya.
Memanah, bandil, paser dan berburu. Tetapi tidak lebih dari
berburu burung. Kalau Untara dapat berbangga karena ia
berhasil menangkap hidup atau mati seekor kijang, maka
Sedayu akan berbangga apabila ia telah dapat memanah
seekor burung yang paling lincah. Sikatan. Tetapi daerah
perburuan Sedayu tidak lebih dari batas pagar halamannya.
Memang Agung Sedayu memiliki kecakapan-kecakapan yang
khusus pula. Ia tidak saja dapat membunuh burung dengan
panah, bahkan dengan lemparan-lemparan batu ia berhasil
menangkap beberapa ekor burung. Dan ayahnya yang
memiliki pengamatan yang tajam atas kekhususan anakanaknya
itupun telah mencoba mengembangkannya.
Meskipun Untara, yang memandang hidup ini sebagai
kancah perjuangan dalam kebaktian dan pengabdian, kadangkadang
dengan diam-diam mengajak adiknya untuk

mempelajari ilmu-ilmu yang pernah ditekuninya. Dan Sedayu
bukan anak yang berotak tumpul. Sedikit demi sedikit
dikuasainya pula beberapa persoalan tata bela diri. Namun
sangat terbatas. Meskipun demikian berkembang pula. Tetapi
daerah hidupnya tak terlalu luas. Sehingga karena itulah Aung
Sedayu memandang daerah sekitarnya sebagai daerah yang
sangat berbahaya, dan memandang segala segi kehidupan
dengan penuh kecemasan dan ketakutan. Sehingga anak itu
benar-benar tidak mempunyai kepercayaan kepada dirinya
sendiri.
Angan-angan Widura tentang masa lampau itupun terhenti
ketika dilihatnya Agung Sedayu menggeliat. Ketika anak itu
membuka matanya, dan dilihantnya Widura masih duduk
disampingnya, maka terdengar ia bertanya “Mengapa paman
belum tidur?”
Widura menggeleng “Belum Sedayu”
“Apakah masih ada bahaya yang mungkin datang malam
ini?”
Sekali lagi Widura menggeleng “Tidak, tidak ada”
jawabnya. “Aku tidak biasa tidur sebelum lewat tengah malam”
Sedayu tidak bertanya lagi, sebab matanya seakan-akan
telah melekat. Karena itu ia segera tertidur kembali.
Ketika Widura mendengar ayam jantan berkokok
dipertengahan malam, segera ia bangkit. Perlahan-lahan ia
melangkah keluar dan dilihatnya sekali lagi anak buahnya
yang sedang beristirahat. Ditengoknya pula para penjaga
diregol depan.
“Bukankah kalian tidak kantuk?” Widura bertanya kepada
salah seorang dari mereka.
“Tidak” jawab orang itu.
“Bagus” sahut Widura, kemudian kepada yang lain ia
berkata “Tugasmu tinggal sesaat lagi. Rombongan tengah
malam kedua telah siap”.
“Kami sudah siap menunggu” jawab mereka.
Widura tersenyum, lalu ditinggalkannya orang-orang diregol
halaman itu. Dipendapa dilihatnya beberapa orang masih
sibuk melayani kawan-kawan mereka yang terluka. Bahkan
ada diantaranya yang menggeram menahan sakit. Widura

datang pula kepada mereka. Meraba dahi mereka dan berkata
“Tenangkan hatimu. Kau akan lekas sembuh”
Kemudian ia berjalan diantara anak buahnya yang tertidur
dengan nyenyaknya karena lelah. Disudut dilihatnya Sidanti
dengan gelisah berbaring. Agaknya lukanya terasa pedih.
Tetapi Widura tidak menyapanya. Ia takut kalau suaranya
akan mengejutkan orang-orang yang sedang tidur.
Ketika ia melangkah masuk kepringgitan, dalam
keremangan malam ia melihat Ki Demang Sangkal Putung
berjalan melintasi halaman. Agaknya orang itupun belum tidur
juga. Baru saat kemudian Widura meletakkan tubuhnya untuk
beristirahat dipembaringannya.
Malam itu serasa berjalan dengan cepatnya. Lelah, kantuk
dan penat telah menenggelamkan laskar Widura itu kedalam
pelukan tidur yang nyenyak. Dan malam itu tak diganggu oleh
bermacam-macam ketegangan dan keributan. Sangkal Putung
telah tidur dengan nyenyaknya.
Keesokan harinya, Widura telah bersiap membawa Agung
Sedayu untuk menjemput kakaknya. Makin cepat semakin
baik. Sebab bahaya bagi Untara akan dapat datang setiap
saat.
Demikianlah Widura pagi itu segera mempersiapkan diri.
Dibawanya beberapa orang anak buahnya serta dengan
mereka. Sebab diperjalanan selalu terbuka kemungkinan
mereka akan bertemu dengan orang-orang Jipang. Mungkin
Alap-alap Jalatunda dan kawan-kawannya, mungkin orangorang
lain dari lungkungan laskar Tohpati.
Setelah memberikan beberapa pesan kepada anak
buahnya serta meletakkan pimpinan ditangan Citra Gati, maka
Widura bersama Agung Sedayu beserta orang-orang yang
lainpun segera meninggalkan Sangkal Putung. Diberinya Citra
Gati ancar-ancar kemana ia akan pergi, sehingga apabila
keadaan sedemikian memaksa maka Citra Gati harus segera
mengirim orang untuk menjemputnya.
Kali ini Widura dan rombongannya berjalan kearah barat.
Lewat Kali Asat. Lewat daerah itu, maka kemungkinan yang
pahit dapat dikurangi menjadi sekecil-kecilnya.

Disepanjang perjalanan mereka hampir tidak bercakapcakap
sama sekali. Kuda mereka melaju seperti sedang
berlomba. Debu yang putih mengepul bergumpal-gumpal.
Agung Sedayu melihat jalan-jalan dibawah kaki kudanya
dengan jantung yang berdebar-debar. Becek dan berbatubatu.
Apakah jadinya seandainya pada saat ia memacu
kudanya malam lusa, terjadi sesuatu yang tak diharapkan.
Seandainya kudanya tergelincir dan terbanting jatuh?
Untunglah bahwa ia sampai ke Sangkal Putung dengan
selamat, meskipun pada saat itu, ia seakan-akan berpacu
sambil memejamkan matanya.
Beberapa saat kemudian mereka telah sampai
dipadukuhan kecil yang tidak begitu ramai. Apalagi dalam
keadaan yang penuh dengan kericuhan itu. Meskipun
matahari telah tinggi, namun padukuhan itu masih sepi. Satu
dua orang perempuan tampak berjalan menyeberangi lorong
yang membelah desa mereka. Namun kemudian sepi kembali.
Apalagi ketika mereka mendengar derap kuda memecah
kesepian pagi. Maka pintu-pintu yang telah terbuka setebal
tubuh itupun menjadi terkatub kembali. Orang-orang yang
tinggal dipinggir-pinggir jalan, berusaha mengintip, siapakah
yang sedang lewat itu. Namun tak seorangpun dari mereka
yang mengenalnya.
Widura melihat desa-desa yang terpencil itu dengan sedih.
Laskarnya tidak cukup banyak untuk disebarkan dipadukuhanpadukuhan
yang terpencar-pencar. Sedang rakyat didesadesa
itupun tak akan dapat memberikan perlawanan apapun
seandainya orang-orang dalam satu gerombolan yang kecil
sekalipun datang kepada mereka, dan memaksa mereka
memberikan segala barang miliknya.
Daerah itu dilalui dengan kesan yang khusus dihati Widura.
Sebaliknya Agung Sedayu segera melihat tikungan dihadapan
mereka. Tikungan randu alas. Tetapi kini ia tidak setakut pada
malam lusa. Kali ini Sedayu berani mengamati pohon itu
dengan jelas, meskipun terasa tengkuknya meremang
Kuda mereka masih berpacu terus. Lewat tikungan randu
alas, sampailah mereka dibulak yang panjang. Dan teringatlah
ia bahwa kuda yang dipakainya itu adalah milik seseorang

yang menamakan diri Kiai Gringsing. Karena itu dengan serta
merta Agung Sedayu berkata “Diujung bulak inilah aku
bertemu dengan Kiai Gringsing”
“Kiai Gringsing” Widura mengulang.
“Ya” sahut Sedayu. Setelah ia menoleh, dan dilihatnya
kawan-kawannya agak jauh dibelakang, maka
diceriterakannya serba sedikit tentang orang bertopeng,
berkerudung kain gringsing dan menyebut dirinya Kiai
Gringsing pula.
“Aku belum pernah mendengar nama itu” gumam Widura.
“Apalagi bertemu dengan orangnya”
“Orang itu bertempur melawan Alap-alap Jalatunda seperti
sedang bermain-main. Senjatanya adalah sebuah cambuk
kuda”
Widura mengangkat alisnya. Seseorang yang bersenjata
cambuk kudapun belum pernah didengarnya. “Orang aneh”
desisnya. “Sudah pasti nama itu bukan nama sebenarnya, dan
senjata itu hanyalah semacam syarat saja. Orang yang
demikian pasti akan dapat melawan musuhnya tanpa senjata
apapun”
Sedayu tidak menjawab. Dan kembali mereka terdiam. Kini
mereka telah melampaui tikungan diujung bulak, sedang kuda
mereka masih berpacu terus.
Ketika Agung Sedayu melihat desa dihadapannya, hatinya
berdebar-debar. Kalau desa itu telah mereka lewati, maka
segera mereka akan sampai kepersawahan. Dari mulut lorong
desa itu, sudah akan akan dapat mereka lihat dukuh
Pakuwaon. Sebuah padukuhan kecil yang tak banyak disebutsebut
orang. Dukuh itu akan tak berarti sama sekali
seandainya didalamnya tidak tinggal seorang tua bernama Ki
Tanu Metir.
Dengan demikian, maka hasrat Agung Sedayu untuk
sampai ke padukuhan itu menjadi semakin menyala-nyala. Ia
ingin segera melihat kakaknya, dan ia ingin segera
membanggakan diri, tugasnya yang berat telah dapat
dilaksanakannya. Dan paman Widura akan dapat menjadi
saksi.

Karena itu kudanya dipacu semakin cepat, sehingga Agung
Sedayu beberapa langkah mendahului Widura.
Akhirnya desa dihadapan mereka itupun telah dilampaui.
Dan dengan dada yang berdebar-debar mereka memasuki
dukuh Pakuwon yang sepi.
Agung Sedayu segera menuju kerumah yang pernah
dilihatnya. Lewat lorong yang sempit, kemudian sampailah
mereka disebuah halaman yang sejuk. Halaman rumah Ki
Tanu Metir. Namun alangkah terkejutnya Agung Sedayu,
ketika kesan yang mula-mula didapatnya pada halaman itu
adalah, halaman itu kotor dan tak terurus. “Apakah halaman
rumah ini memang sedemikian kotornya”. Daun-daun kuning
yang bertebaran dan bahkan tanaman yang patah terinjakinjak.
Apalagi ketika dilihatnya rumah Ki Tanu Metir. Pintunya
menganga lebar-lebar, namun sepi.
Maka Agung Sedayupun menjadi cemas. Segera ia
meloncat turun dan dengan lantang memanggil “Ki Tanu. Ki
Tanu Metir” Namun panggilan itu tak ada jawaban. Sekali, dua
kali tetapi rumah itu tetap sepi. Ketika ia hampir saja meloncat
masuk, terdengar Widura mencegahnya “Sedayu, jangan
masuk”
“Kenapa?” bertanya Agung Sedayu.
“Kau belum tahu pasti, apa dan siapakah yang ada
didalamnya”
“Oh” dan tiba-tiba Agung Sedayupun meloncat dan berlari
menjauh.
Hatinya menjadi berdebar-debar, namun ia menjawab
“Rumah ini adalah rumah Ki Tanu Metir, paman. Dan kakang
Untara ada didalamnya”
Namun Widura tidak menjawab. Ditebarkannya
pandangannya berkeliling. Mencurigakan.
“Kau lihat telapak-telapak kaki kuda?” bertanya Widura.
“Ya” sahut Sedayu. “Malam lusa aku datang berkuda
bersama-sama kakang Untara”
Widura mengangguk-angguk. Tetapi katanya kemudian
“Juga kebelakang rumah?”
Agung Sedayu menggeleng. Dan diikutinya pandangan
mata Widura. Dilihatnya telapak-telapak kaki kuda dari

belakang rumah Ki Tanu. “Oh” desisnya. “Pasti ada orang lain
yang datang kerumah ini sesudah aku”
Widura kemudian berpaling kepada kawan-kawannya.
Katanya “Lihatlah kebelakang”
Dua orang dari merekapun segera turun dari kuda mereka,
dan berjalan berhati-hati kebelakang rumah. Tak ada sesuatu
yang mereka lihat. Dibelakang rumah itu, terdapat sebuah
kandang kuda. Tetapi kandang kuda itu telah kosong. Dan apa
yang dilihatnya itupun dilaporkannya kepada Widura.
Widura mengangguk-angguk “Telapak kaki-kaki kuda itu
adalah kaki-kaki kuda Ki Tanu Metir sendiri” gumamnya.
“Tetapi kenapa tanaman-tanaman ini menjadi rusak”.
Kemudian kepada Agung Sedayu Widura bertanya “Apakah
kudamu menginjak-injak tanaman pada saat kau datang?”
“Aku sangka tidak paman. Meskipun saat itu malam, namun
aku tak merasakan bahwa kaki-kaki
kuda itu menginjak-injak tanaman” jawab Sedayu.
Widura mengangguk-angguk. Iapun tak melihat bekasbekas
kaki kuda diantara tanaman yang rusak itu. Karena itu
Widurapun menjadi sibuk berpikir. Perlahan-lahan ia turun dari
kudanya dan dengan hati-hati berjalan mendekati pintu rumah
Ki Tanu Metir. “Kita lihat rumah itu” katanya. Kepada kawankawannya
Widura berkata “Awasi keadaan”.
Dengan penuh kewaspadaan Widura menuju kepintu yang
terbuka itu. Dengan telitinya ia memandang kedalam. Sepi,
dan telinganyapun tidak mendengar sesuatu. “Ki Tanu” ia
memanggil perlahan-lahan namun tak ada jawaban. Sehingga
tiba-tiba Widura itu meloncat masuk dengan cepatnya, dan
kemudian dengan seksama menebarkan pandangannya
berkeliling. Tetapi tak dilihatnya apapun didalam rumah itu.
“Hem” geramnya “kosong”.
Sedayu yang selalu mengikutinyapun segera meloncat
masuk pula. Yang pertama-tama dilihatnya adalah bantalbantal
yang berserakan diamben tengah. “Itulah” katanya.
“Apa” Widura terkejut.
“Bantal” jawabnya.
“Ah” Widura menarik nafas. “Kenapa bantal?”

“Disitulah kemarin lusa kakang Untara berbaring. Tetapi
bantal itu kini telah bercerai-berai” jawab Sedayu dengan
cemas.
Widura mengangguk-angguk. Hatinya menjadi semakin
gelisah. Apakah yang telah terjadi dengan Untara? Karena itu
Widurapun segera memeriksa rumah itu dengan hati-hati.
Sentong kanan dan sentong tengah. Tatapi juga tak
ditemuinya sesuatu didalam sentong-sentong itu. Disentong
kiri Widura melihat setumpuk padi berhamburan tak keruan.
Ketika ia menengok kedalam sebuah bakul yang besar, yang
biasanya untuk menyimpan padi, hatinya berdesir. Ia melihat
noda-noda merah didalamnya. Darah yang kering. Dengan
cepat Widura memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan
yang terjadi. Agaknya Untara telah disembunyikan didalam
bakul itu dan ditimbuni dengan padi. Tetapi padi itu telah
berhambur-hamburan dan bakul itu telah kosong. Karena itu ia
menjadi semakin cemas. Namun Widura sama sekali tak
mengatakannya kepada Sedayu, takut anak muda itu menjadi
bingung dan mengganggu pekerjaannya.
Ketika Widura sudah pasti bahwa didalam rumah itu tak
ditemuinya sesuatu, maka iapun segera melangkah keluar dan
diikuti oleh Agung Sedayu. Sekali lagi Widura melihat halaman
rumah Ki Tanu Metir. Namun tak ada sesuatu yang dapat
memberitahukan kepadanya, apakah yang kira-kira sudah
terjadi.
Ketika Widura sedang sibuk berteka teki, maka dilihatnya
seseorang berjalan dilorong desa itu. Tetapi orang itupun
segera memutar diri, ketika ia melihat beberapa orang
dihalaman rumah Ki Tanu Metir. Tetapi Widura tak
membiarkan orang itu pergi. Ia ingin mengajukan beberapa
pertanyaan kepadanya. Mungkin orang itu tetangga dekat Ki
Tanu Metir, sehingga ia dapat memberinya beberapa
pertanyaan. Karena itu dengan bertepuk tangan Widura
mencoba memanggilnya. Tetapi orang itu sama sekali tidak
mau kembali, bahkan menolehpun tidak.
“Bawa orang itu kemari” perintah Widura kepada orangorangna.

Ketika orang yang berjalan menjauh itu mengetahui dua
orang menyusulnya, maka iapun segera berlari. Tetapi kedua
orang Widura itu berlari lebih cepat, sehingga orang itupun
segera dapat disusulnya. “Kenapa kau berlari ki sanak?”
bertanya salah seorang daripadanya.
Orang itu menggigil ketakutan. Wajahnya menjadi pucat
dan bibirnya gemetar. Dengan penuh ketakutan ia menjawab
“Aku….. aku tidak berlari tuan”
“Jangan takut” berkata orang-orang Widura itu. “Kami tidak
akan berbuat sesuatu. Kami hanya ingin bertanya sedikit
kepadamu. Ikutlah”
Orang itu tidak dapat menyangkal dan menolak. Dengan
lutut gemetar ia berjalan diapit oleh kedua orang Widura.
Sedemikian takutnya, sehingga sekali-sekali ia berjalan
merunduk-runduk. Didalam benaknya telah terbayang, betapa
punggungnya menjadi patah dan giginya akan rampal habis,
seperti gigi Kriya yang kecil. Orang itu pernah mendengar,
bahwa Kriyapun pernah mendapat pertanyaan dari orang yang
tak dikenalnya. Akibatnya orang itu tak dapat bangun dari
pembaringannya.
Karena itu, maka demikian orang itu sampai dihadapan
Widura dan melihat pedang Widura yang besar tergantung
dipinggangnya, segera ia menjatuhkan diri, berlutut sambil
merengek “Ampun tuan, aku tidak akan mengganggu
pekerjaan tuan”
Widura memandang wajah orang itu dengan heran. Bahkan
kemudian ia bertanya “Kenapa ki sanak menjadi ketakutan?”
“Aku tidak akan berbuat sesuatu, tuan” ulang orang itu,
seakan-akan ia tidak mendengar pertanyaan Widura.
Widura memandang orang itu dengan seksama. Seorang
setengah umur, namun rambutnya telah memutih. “Aneh”
katanya dalam hati. Dan tiba-tiba saja, Widura memandang
daerah disekitarnya. Sepi. Menang jalan-jalan desa yang kecil
ini tidak akan terlalu ramai dilewati orang. Namun sejak ia
memasuki desa ini, baru seorang itulah yang dilihatnya.
Dengan demikian Widura segera menghubungkan, halaman
yang kotor, tanaman yang patah-patah, kaki-kaki kuda dan
kesepian yang mencekam padukuhan ini. Sedang orang yang

pertama-tama ditemuinya, bersikap aneh terhadapnya. Karena
itu maka dengan perlahan-lahan dan hati-hati Widura bertanya
“Ki Sanak. Kenapa kau menjadi ketakutan. Kami tidak akan
berbuat apa-apa. Yang kami inginkan hanyalah beberapa
keterangan tentang rumah ini”
“Oh, ampun tuan. Ampun. Aku tidak tahu apa-apa tentang
rumah ini dan desa ini” mintanya dengan iba.
Widura menjadi semakin heran “Apakah yang sebenarnya
telah terjadi?” katanya.
Namun orang setengah umur itu menjadi semakin
ketakutan. Kriya, kemarin lusa juga mendapat pertanyaanpertanyaan
tentang Ki Tanu Metr, tentang tamu-tamunya.
Kemudian oleh orang-orang yang bersenjata pedang seperti
orang yang berdiri dihapannya itu, giginya telah dirontokkan
dan bahkan punggungnya
serasa akan patah. Karena
itu orang setengah umur itu
tak henti-hentinya
merengek-rengek minta
ampun dan belas
kasihan.Widura akhirnya
menjadi jengkel. Dengan
lantangnya ia membentak
“Diam!. Jawab
pertanyaanku!”
***
Orang itupun terdiam.
Tetapi tubuhnya menggigil.
Kini ia tidak berlutut lagi.
Kakinya seakan-akan
menjadi terlalu lemah untuk
menahan berat badannya.
Karena itu ia terduduk
ditanah dengan hati yang dicengkam kekawatiran.
“Siapa namamu?” bertanya Widura.
“Wangsa, tuan. Wangsa Sepi” jawab orang itu dengan
gemetar.

Nama yang aneh. Widura sempat bertanya “Kenapa Sepi?”
Orang itu menjadi heran. Ia sendiri tidak pernah berpikir
kenapa namanya Wangsa Sepi. Karena itu, pertanyaan
Widura itu sangat membingungkannya. Maka jawabnya
sekenanya “Aku tidak senang ramai-ramai tuan. Aku senang
pada sepi”
Widura mengangguk-angguk. Kemudian ia bertanya pula
“Dimana rumahmu?”
“Disebelah tuan. Berantara kebon suwung itu” jawabnya.
“Dekat” guman Widura. Karena itu ia bertanya kembali “Ki
Sanak, jawablah pertanyaanku dengan baik, supaya aku
bersikap baik juga kepadamu”.
“Ya tuan” jawab orang yang ketakutan itu.
Widurapun bertanya pula. Hati-hati dan perlahan-lahan
supaya orang itu tidak menjadi semakin takut kepadanya.
Katanya “Kau kenal penghuni rumah ini?”
“Kenal tuan” jawab orang itu.
“Namanya?” bertanya Widura.
“Ki Tanu Metir”
“Bagus” sahut Widura. “Nah, katakanlah ki sanak,
dimanakah orang itu sekarang? Kesawah barangkali? Atau
kesungai?”
Orang itu menggeleng, jawabnya “Aku tidak tahu tuan”
Widura mengangkat alisnya. Kemudian diulangnya
pertanyaannya perlahan-lahan “Ki Sanak, kau akan menjawab
pertanyaan-pertanyaanku bukan? Nah, apakah kau
mengetahui atau mendengar, kemana Ki Tanu Metir pergi?”
Sekali lagi orang itu menggeleng, dan sekali terdengar ia
menjawab “Aku tidak tahu tuan”
Widura menjadi gelisah. Tetapi ia masih bersabar. Dengan
kedua tangannya orang itu ditariknya berdiri. Katanya
“Berdirilah ki sanak. Berdirilah. Biarlah kita dapat bercakapcakap
dengan baik”.
Dengan susah payah orang itupun berusaha berdiri dan
tegak diatas kedua kakinya. Namun lututnya masih juga
gemetar. Apalagi ketika ia sadar, bahwa disekitarnya berdiri
beberapa orang laki-laki yang berwajah keras dengan pedang
dipinggang masing-masing. Meskipun demikian orang itu

masih mendengar Widura berkata dengan sareh “Ki sanak.
Aku melihat ketidakwajaran didesa ini. Aku juga melihat
beberapa tanda-tanda yang tak menyenangkan. Karena itu
aku datang untuk mencoba mengetahui apa yang telah terjadi
untuk seterusnya mengambil tindakan pencegahan buat saatsaat
mendatang”.
Orang itu menjadi heran mendengarnya, kemudian ia
memberanikan diri untuk bertanya “Siapakah tuan-tuan ini?”
“Kami adalah laskar Pajang” jawab Widura.
“Oh” desis orang itu. “Apakah kalian bukan kawan-kawan
Alap-alap yang muda itu?”
Widura menarik nafas. Orang itu telah menyebut nama
Alalp-alap Jalatunda. Sedayupun terkejut pula mendengar
nama itu disebutkan. Karena itu ia memotong “Apakah Alapalap
Jalatunda datang kemari?”
Orang itu menjadi ragu-ragu sejenak. Ditatapnya Widura
dan Sedayu dan orang-orang lain berganti-ganti.
“Jawablah” minta Widura.
Orang itu mengangguk “Ya” katanya. “Kriya telah
melihatnya bersama-sama dengan beberapa orang.
Diantaranya bernama Plasa”
“Plasa Ireng” sahut Widura terkejut.
“Ya. Agaknya demikian. Aku hanya mendengar dari Kriya
ketika aku menengoknya tadi pagi” jawab orang itu.
Widura menarik nafas. Kemudian ia bergumam perlahanlahan
yang hanya dapat didengarnya sendiri “Setan Ireng itu
sampai juga disini”. Maka katanya seterusnya “Apakah yang
sudah mereka lakukan disini?”
Wangsa Sepi menjadi ragu-ragu sejenak. Namun setelah ia
mengetahui bahwa orang-orang itu sama sekali bukan kawankawan
Alap-alap Jalatunda, hatinya menjadi agak tenang.
Maka jawabnya kemudian “Tuan. Alap-alap Jalatunda datang
bersama-sama beberapa orang kawannya. Mereka mencari
dua orang berkuda yang datang kerumah Ki Tanu Metir”.
Widura menjadi berdebar-debar dan dada Sedayu
berguncang. Sehingga cepat-cepat ia bertanya “Adakah
mereka diketemukan?”

“Kami tidak tahu pasti tuan. Menurut Kriya, orang-orang itu
telah memaksa Ki Tanu Metir untuk menunjukkan dimana
salah seorang dari kedua orang itu, yang ternyata terluka,
disembunyikan” jawabnya.
Widura mengerutkan alisnya. Sesaat ia berpikir, kemudian
katanya “Dimanakah rumah Kriya itu?”
“Disudut jalan itu tuan” jawab Wangsa Sepi.
“Antarkan kami kesana. Apakah Kriya sudah dapat diajak
berbicara?”
“Sudah tuan” sahut Wangsa Sepi.
Maka pergilah mereka, diantar oleh Wangsa Sepi kerumah
Kriya. Rumah kecil beratap ilalang disiku jalan. Ketika mereka
memasuki halaman rumah itu, yang dipagari dengan pagar
bata setinggi dada, mereka melihat seorang perempuan
berlari-lari masuk kedalamnya.
“Siapakah orang itu?” bertanya Widura.
“Istrinya tuan” jawab Wangsa Sepi. “Perempuan itu pasti
ketakutan. Ia pasti menyangka bahwa orang-orang yang
memukul suaminya kemarin datang kembali.”
Widura mengangguk-angguk. Kemudian disuruhnya
Wangsa Sepi mendahului, supaya mereka tidak menjadi
semakin ketakutan. “Masukkah Ki Sanak” berkata Widura
“Katakan kepadanya, bahwa aku bukan orang-orang yang
pernah datang kemari”.
Wangsa Sepi mengangguk. Kemudian iapun berjalan
dahulu, masuk kerumah Kriya yang bungkik. Orang itu masih
berbaring diamben. Sedang istrinya yang ketakutan berlutut
disampingnya sambil menangis. Perempuan itu terkejut
sampai berjingkat, ketika tiba-tiba melihat seseorang begitu
saja sudah berdiri disampingnya.
“Aku Nyai” berkata Wangsa Sepi.
“Oh” istri Kriya itu menarik nafas, kemudian ia bertanya
“Kakang, siapakah orang-orang yang memasuki halaman ini.
Adakah mereka orang-orang yang memukuli kakang Kriya
kemarin?”
Wangsa Sepi memandangnya dengan iba. Seperti seorang
pelindung yang baik ia berkata “Jangan takut Nyai”, kemudian
kepada Kriya kecil yang terbaring diamben ia berkata “Jangan

takut adi. Orang itu bukan kawan-kawan Alap-alap Jalatunda.
Mereka ingin bertemu dengan adi, justru untuk mencari Alapalap
Jalatunda”
Mata Kriya yang kecil itupun terbelalak, “Benarkah
demikian?”
“Ya” jawab Wangsa Sepi. “Karena itu jangan takut”.
Namun mata Kriya masih memancarkan keragu-raguan
hatinya. Ia sudah sedemikian ngerinya mengingat peristiwa
dua malam yang lewat. Beberapa orang telah memukulnya
berganti-ganti, mengancam dan menyengat-nyengat dengan
ujung-ujung senjata. Tetapi apabila benar orang-orang yang
datang ini justru mencari Alap-alap Jalatunda, maka ia dapat
titip kepada orang-orang itu. Kalau ketemu, ia akan minta
mereka supaya punggung merekapun dipatahkan seperti
punggungnya.
Maka katanya kemudian “Silakan mereka masuk”.
Widura dan Sedayupun kemudian masuk kegubug kecil itu.
Mereka melihat penderitaan yang dialami oleh Kriya.
Beberapa luka-luka kecil dihampir seluruh tubuhnya.
Wajahnya yang biru pengab dan sakit yang amat sangat
dipunggungnya, sehingga orang itu tidak dapat bangkit dari
pembaringannya.
“Jangan bangun” berkata Widura, “Supaya sakitmu tidak
bertambah parah”.
Kata-kata yang pertama itu telah menyejukkan hati Kriya. Ia
kini pasti, orang itu bukan kawan-kawan Alap-alap Jalatuda.
Dengan menyeringai menahan sakit ia berkata “Silakan tuantuan.
Aku tidak dapat menyambut tuan-tuan dengan baik”.
“Jangan diributkan” sahut Widura. “Aku hanya ingin
beberapa keterangan. Dapatkah kau menceritakan, apa yang
telah kau ketahui tentang Ki Tanu Metir dan Alap-alap
Jalatunda?”
Kriya yang kecil itu menggerak-gerakkan kepalanya.
Kemudian ia bercerita tentang orang-orang yang datang
mencari dua orang berkuda. Tentang Plasa Ireng dan
kemudian tentang Alap-alap Jalatunda yang pergi menyusul
yang seorang lagi. Akhirnya ia berkata “Mereka telah mencoba
memaksa Ki Tanu Metir untuk menunjukkan orang-orang

berkuda itu. Namun Ki Tanu Metir tidak bersedia. Akhirnya
orang-orang itupun menjadi marah. Tetapi aku tidak tahu, apa
yang terjadi seterusnya, karena tiba-tiba dadaku terasa sesak,
dan aku menjadi pingsan”.
Widura mendengarkan semuanya itu dengan dada yang
berdebar-debar. Sedang Agung Sedayu menjadi sangat
cemas. Dengan nafas yang terengah-engah ia bertanya “Jadi
kemanakah Ki Tanu Metir kemudian?”
“Tak seorangpun yang tahu” jawab Kriya. “Namun kami
menduga, bahwa Ki Tanu Metir dan orang yang disangka
disembunyikan itu telah dibawa oleh mereka, gerombolan
Plasa Ireng”
Sedayu menjadi semakin cemas. Ditatapnya wajah
pamannya yang tegang. Widura mencoba untuk
menghubungkan keterangan-keterangan itu dengan apa yang
dilihatnya. “Hem” ia menarik nafas. Mungkin sangkaan itu
benar. Untara diketemukan didalam bakul dengan
meninggalkan bekas-bekas darah itu. Tetapi kemanakah
mereka dibawa?
Ruangan itu untuk sejenak menjadi sepi. Namun dada
merekalah yang menjadi riuh. Apalagi dada Agung Sedayu.
Dengan penuh kecemasan ia menunggu, apakah yang akan
dilakukan oleh pamannya.
“Ki Sanak “ bertanya Widura kemudian “Apakah kau pernah
mendengar, dimanakah orang-orang Alap-alap Jalatunda itu
tinggal?”
Kriya menggeleng lemah. Jawabnya “Namanya itu
menunjukkan tempat. Namun aku tidak pasti”
Widura irupun kemudian terdiam. Tampaklah ia merenung,
memandang jauh melewati lubang pintu. Diluar, sinar matahari
dengan cerahnya bermain-main diatas daun-daun dihalaman.
Widura telah mengetahui dengan pasti bahwa Alap-alap
Jalatunda itu tidak berada di Jalatunda atau sekitarnya, sebab
daerah itu telah lama dibersihkan dari gerombolangerombolan
kecil yang kehilangan pegangan itu. Tetapi
Widura sadar, bahwa orang-orang seperti Kriya kecil dan
Wangsa Sepi itu tak akan banyak memberinya petunjuk.

Ketika Widura itu berpaling, maka dilihatnya wajah Sedayu
yang pucat dan tegang.
“Bagaimana dengan kakang Untara paman?” terdengar ia
bertanya dengan gemetar.
Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba
memeras otaknya. Tanaman-tanaman yang rusak dihalaman
Ki Tanu Metir, bukan sekedar terinjak-injak kaki, bahkan kakikaki
kuda sekalipun. Bekas-bekas itu adalah bekas
perkelahian. Sayang Kriya saat itu menjadi pingsan, sehingga
ia tidak dapat mengatakan siapakah yang bertempur malam
itu. Ki Tanu Metir barangkali? Widura mengangguk-anggukkan
kepalanya. Apakah gerombolan Plasa Ireng telah berbuat
sedemikian kasarnya terhadap orang tua itu untuk memeras
keterangannya sehingga halaman itu menjadi rusak? Plasa
Ireng tak akan memerlukan hampir separo halaman untuk
keperluan itu. Namun Widura juga tidak dapat mengambil
kesimpulan bahwa Untara telah mampu mempertahankan
dirinya dan bertempur melawan Plasa Ireng. Kalau terpaksa
terjadi perkelahian diantara mereka, sedang Untara dalam
keadaan parah, maka harapan untuk dapat bertemu kembali
dengan Untara adalah sangat kecil. Demikian juga agaknya,
apabila Plasa Ireng itu berhasil menemukan Untara didalam
persembunyiannya. Karena itu maka Widurapun menjadi
gelisah dan cemas.
Widura tidak segera membuat kesimpulan yang
mendebarkan jantungnya, meskipun itulah kemungkinan yang
terbesar terjadi atas Untara. “Mudah-mudahan Untara tidak
mati muda” Widura berkata didalam hatinya. “Namun kalau
terpaksa terjadi demikian, maka anak itu telah gugur dalam
pelukan kewajibannya bersama dengan seorang dukun tua.
Bahkan Kriya yang tak mengerti ujung pangkal dari
perselisihan antara Pajang dan Jipang itupun harus menderita
karenanya”
Sedayu yang menunggu jawaban pamannya itu masih saja
berdiam diri. Mengangguk-angguk dan menggelenggelengkan
kepalanya tanpa berkata sepatah katapun. Karena
itu ia mendesak “Bagaimanakah dengan kakang Untara itu
paman?”

“Aku belum dapat mengambil kesimpulan apa-apa Sedayu”
jawab pamannya.
Sedayu menjadi semakin cemas. Tetapi ia tidak bertanya
lagi.
Sejenak kemudian Widura itupun berkata “Ki Sanak, aku
tidak perlu terlalu lama disini. Barangkali aku kelak mendengar
keterangan tentang Ki Tanu Metir. Baiklah kini aku mencoba
mencari bekas-bekasnya disekitar padukuhan ini”.
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar karenanya. Kalau
pamannya akan mencari kakaknya, apakah itu tudak akan
terlalu berbahaya.
Karena dengan tergesa-gesa ia berkata, “Apakah daerah
sekitar pedukuhan ini tidak berbahaya paman?”
Widura berpikir sejenak. Kemudian jawabnya, “Berbahaya
atau tidak, tetapi adalah menjadi kewajibanku untuk mencari
keterangan tentang Untara”.
“Tetapi, bagaimanakah kalau tiba-tiba paman disergap oleh
Alap-alap jalatunda?”, bertanya Sedayu.
“Sedayu. Alap-alap jalatunda itu tidak seberbahaya Macan
Kepatihan. Mudah-mudahan aku dapat mengatasinya apabila
kita bertemu” jawab Widura membesarkan hati anak itu.
“Tetapi ia tidak sendiri. Mungkin dengan yang paman sebut
Plasa Ireng atau yang lain-lain” desak Sedayu.
“Bukankah aku tidak sendiri?”
“Paman hanya membawa beberapa orang. Mungkin Alapalap
Jalatunda itu berenam, sepuluh atau bahkan satu
pasukan”
“Diantara kita ada kau, Sedayu”
“Ah” Sedayu mengeluh.
Widurapun mengeluh didalam hati. Anak itu sama sekali
tidak membantunya, bahkan ia dapat merupakan tanggungan
yang terlalu berat. Karena itu pula, maka Untara yang perkasa
terpaksa terluka dipundaknya. “Untara pasti sedang
melindungi anak ini” pikir Widura. “Kalau tidak, apakah empat
orang yang dipimpin oleh Pande Besi Sendang Gabus itu
melukainya?”
Tetapi Widura tidak akan dapat melepaskan Agung
Sedayu. Ia adalah kemenakannya. Dan betapapun anak ini

pernah berjasa bagi Sangkal Putung yang dibebankan
kepadanya.
Meskipun demikian Widura mempertimbangkan pula
pendapatnya. Tanpa disengajanya, sekali lagi ia melihat akibat
kekasaran Plasa Ireng dan Alap-alap Jalatunda. Kriya yang
lemah itu kini masih berbaring dipembaringannya. Namun tibatiba
pula ia menjadi heran. Luka itu terlalu berat. Namun
penderitaan orang itu agaknya telah jauh berkurang. Karena
itu tiba-tiba ia bertanya “Ki Sanak, apakah luka-lukamu tak
pernah diobati?”
“Pernah tuan” jawab Kriya sambil menyeringai.
“Bukankah biasanya Ki Tanu Metirlah yang memberi obat
kepada orang-orang sakit? Dan sekarang orang itu telah tidak
ada dirumahnya” bertanya Widura.
“Ya” jawab Kriya. “Tetapi semalam datang pula orang yang
mencari Ki Tanu Metir. Orang yang sudah sangat tua. Katanya
ia adalah sahabat Ki Tanu Metir. Seorang dukun pula. Dan
diberinya aku obat”
Oh” Widura mengangguk-angguk. “Siapakah namanya?”
Kriya menggeleng. Jawabnya “Ketika aku bertanya
namanya, orang itu menjadi bingung. Akhirnya ia menjawab
sambil menunjukkan kain yang dipakainya. Kiai Gringsing”
Widura terkejut mendengar jawaban itu. Apalagi Agung
Sedayu. Dengan serta merta ia bertanya “Adakah Kiai
Gringsing itu bertopeng?”
Sekali lagi Kriya menggeleng “Tidak” jawabnya. “Namun
wajahnya aneh juga. Berkeriput dan dipakainya pilus
didahinya. Aku takut kalau bertemu dengan orang itu dimalam
hari seorang diri”.
Widura mengerutkan keningnya. Keterangan itu sangat
menarik perhatiannya. Karena itu maka ia bertanya pula
“Apakah yang dilakukan oleh orang itu kemudian?”
“Tidak apa-apa” jawab Kriya “Setelah diketahuinya bahwa
rumah sahabatnya kosong, dan diberinya aku obat, maka
iapun segera pergi. Katanya, ia takut kalau-kalau orang yang
mencari Ki Tanu Metir lusa kembali dan menangkapnya pula”
“Tanu Metir ditangkap dalam hubungannya dengan orang
yang disembunyikan” sahut Widura.

“Mungkin” jawab Kriya. “Tetapi orang tua itu berkata bahwa
laskar kedua pihak yang sedang memerlukan dukun-dukun
untuk mengobati kawan-kawan mereka yang terluka. Mungkin
Ki Tanu Metir telah mereka bawa untuk keperluan itu”
Widura menarik keningnya. Keterangan itu masuk akan
juga. Tetapi cerita tentang Kiai Gringsing itu mungkin ada juga
gunanya, maka Widura itupun berkata “Apakah kau melihat
tanda-tanda yang aneh pada orang yang menyebut dirinya
Kiai Gringsing?”
“Tidak” sahut Kriya. “Selain bahwa orang itu telah terlalu
tua. Agak bongkok”
“Adakah kau tanyakan rumahnya?”
“Ya. Tetapi tak diberitahukannya. Katanya, apabila Ki Tanu
Metir sudah pulang, maka ia sudah tahu, siapakah dirinya”
Widura menarik nafas. Tak ada yang dapat diketahui
tentang Kiai Gringsing. Namun ia mendapat suatu kesimpulan,
bahwa Kiai Gringsing benar-benar orang yang tak mau
dikenal. Agung Sedayu pernah bertemu dengan orang yang
menamakan dirinya Kiai Gringsing. Belum terlalu tua dan
bertopeng atau lebih tepat hanya sebuah tutup muka dengan
tiga buah lubang, diarah mata dan hidungnya. Bahkan dengan
seenaknya, bersenjata cambuk kuda orang itu dapat
mengalahkan Alap-alap Jalatunda. Sedang orang yang
menamakan Kiai Gringsing pula, datang kepada Kriya. Orang
itu telah terlalu tua, bongkok. Tetapi satu hal yang dapat ditarik
persamaan dari keduanya, wajah keduanya bukanlah wajah
aslinya. Yang datang kepada Kriya itupun berwajah aneh dan
menakutkan, bahkan memakai pilis didahinya. Bukankah itu
juga suatu usaha untuk menyembunyikan diri?
Tetapi Widura tidak mau tenggelam dalam persoalan orang
yang tak dikenalnya. Baginya, Untara lebih penting dari orang
yang menamakan diri Kiai Gringsing itu. Karena itu maka
sekali lagi ia minta diri “Terima kasih atas semua
keteranganmu, ki sanak” berkata Widura kepada Kriya,
kemudian kepada Wangsa Sepi “Ki sanak, ingat-ingatlah apa
yang terjadi kemudian. Mungkin aku akan datang kembali
beberapa hari yang akan datang. Mungkin ada hal-hal yang
dapat memberi penjelasan atas hilangnya Ki Tanu Metir”

“Baiklah tuan” jawab Wangsa Sepi sambil mengangguk.
Widura, Agung Sedayu dan kawan-kawannya yang
menunggu diluar segera meninggalkan rumah Kriya Bungkik.
Mereka kembali kehalaman rumah Ki Tanu Metir. Dengan
hati-hati Widura meneliti bekas-bekas kaki kuda dihalaman itu.
Kemudian katanya “Kita coba mengikuti bekas-bekas kaki
kuda Ki Tanu Metir. Mungkin kuda itu dipakai oleh orangorang
yang mengambilnya”
Kembali Agung Sedayu menjadi gelisah. Katanya berbisik
“Bagaimanakah kalau kita akan sampai kesarang Alap-alap
Jalatunda itu?”
“Suatu kebetulan” sahut Widura. “Segera kita akan tahu,
bagaimanakah nasib Untara dan Ki Tanu Metir”
“Tetapi bagaimanakah dengan nasib kita sendiri?”
Widura menarik nafas, katanya “Lalu apakah yang
sebaiknya kita lakukan? Apakah kita biarkan saja Untara
hilang?”
“Tidak” jawab Sedayu. “Kita harus mencari kakang Untara.
Tetapi apakah kita tidak kembali ke Sangkal Putung dahulu,
dan paman membawa laskar lebih banyak lagi?”
“Kita akan banyak kehilangan waktu Sedayu” jawab
pamannya. “Sedang laskarkupun sangat terbatas. Kalau
sebagian dari mereka meninggalkan tempatnya,
bagaimanakah jadinya Sangkal Putung itu, apabila Tohpati
datang kembali siang ini?”
Seayupun terdiam. Namun hatinya tidak tentram. Di
Sangkal Putung ia takut apabila Tohpati datang kembali.
Mengikuti pamannya ia cemas apabila mereka bertemu
dengan Alap-alap Jalatunda. Namun ia tidak dapat
menentukan pilihan. Karena itu ia harus ikut saja kemana
pamannya pergi.
Widura kemudian seakan-akan tidak memperhatikan Agung
Sedayu lagi. Dengan penuh minat ia melihat telapak-telapak
kaki kuda dihalaman itu. Kemudian dipanggilnya kawankawannya
mendekat, dan terdengar ia berkata “Kita ikuti
telapak kaki-kaki kuda ini”
Kawan-kawannyapun memperhatikan telapak itu dengan
seksama. Mereka harus berusaha membedakan dengan

telapak kaki yang lain. Apabila mungkin, maka mereka akan
dapat mengikuti kemana kuda itu pergi. “Mudah-mudahan kita
menemukan tempatnya” gumam Widura. Sedang Agung
Sedayu menjadi berdebar-debar mendengarnya.
Sejenak kemudian, merekapun telah siap diatas punggung
kuda masing-masing. Perlahan-lahan mereka berjalan
menyusur jalan desa yang sempit sambil memperhatikan jalan
dibawah kaki-kaki kuda mereka, supaya mereka tidak
kehilangan jejak.
“Tiga ekor kuda” geram Widura.
“Ya” sahut kawannya. Selain itu mereka masih melihat
telapak-telapak kaki yang lain. Namun telapak-telapak kaki itu
mengarah kearah yang berlawanan. Diantaranya telapaktelapak
kaki kuda mereka sendiri pada saat mereka memasuki
desa itu.
“Dua diantaranya adalah telapak kaki kuda Sedayu dan
Alap-alap Jalatunda yang menyusulnya ke Sangkal Putung”
gumam Widura. “Apabila ada salah satu daripadanya
memisahkan diri dari jalan ini, maka kuda itulah yang telah
dipergunakan Plasa Ireng atau salah seorang daripadanya.
Dan kita akan mengikuti arahnya”
Kawan-kawannya itupun mengangguk-anggukkan kepala
mereka. Meskipun didalam hati mereka terbersit pula rasa
kawatir. Apabila mereka benar-benar sampai disarang Alapalap
itu, maka pekerjaannya tidak akan kalah beratnya dengan
menyongsong kehadiran laskar Tohpati di Sangkal Putung.
Mungkin mereka akan menghadapi lawan yang berlipat.
Namun hati mereka menjadi tenteram ketika mereka melihat
kedua orang yang berkuda didepan mereka. Widura dan adik
Untara. “Mereka berdua tak akan terkalahkan” gumam mereka
didalam hati.
Karena itu mereka menjadi tenteram. Meskipun demikian
sekali-sekali mereka meraba hulu-hulu pedang mereka,
seakan-akan mereka sedang bersepakat dengan senjatasenjata
mereka, bahwa mereka akan menempuh suatu
perjuangan yang berat.
Disepanjang jalan hampir mereka tidak bercakap-cakap.
Mereka sedang sibuk memperhatikan bekas-bekas kaki kuda

dibawah mereka. Hanya Agung Sedayulah yang kadangkadang
menarik nafas panjang untuk mencoba menenangkan
hatinya yang bergejolak. Sebenarnya ingin juga ia segera
mengetahui nasib kakaknya, namun ia cemas apabila
dibayangkannya orang-orang yang kasar dan keras
menghadang ditengah-tengah jalan dengan senjata-senjata
dilambung. Meskipun demikian ia tidak berkata sepatah
katapun. Ketika ia menoleh, dilihatnya orang-orang yang
berkuda dibelakangnya, sama sekali tidak menunjukkan
kecemasan mereka. Bahkan ketika mereka melihat Agung
Sedayu menoleh kepada mereka, hampir bersamaan mereka
tersenyum dan menganggukkan kepala mereka. Agung
Sedayupun mengangguk. Tetapi ia tidak tahu, kenapa orangorang
itu mengangguk kepadanya, dan ia juga tidak tahu,
kenapa ia mengangguk pula.
Semakin jauh mereka dari pedukuhan Pakuwon, hati
Widura menjadi semakin heran. Telapak kaki kuda itu tidak
terpisah. Ketiganya menuju Sangkal Putung. “Aneh” desis
Widura. “Apakah salah seorang dari anak buah Plasa Ireng itu
pergi juga ke Sangkal Putung selain Alap-alap Jalatunda?”
Namun Widura tidak dapat menjawab pertanyaan itu.
Demikianlah mereka tetap mengikuti jejak-jejak itu. Tetapi
mereka tak menemukan titik perpisahan dari jejak-jejak itu.
Bahkan akhirnya mereka sampai juga di Bulak Dawa. Dan
jejak-jejak itu masih mengikuti jalan terus ke Sangkal Putung.
Widura juga sedang mempertimbangkan setiap
kemungkinan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. “Apakah
kita tidak keliru?” gumamnya.
“Apa yang keliru paman?” bertanya Agung Sedayu.
Sekali lagi Widura memandangi jejak-jejak kaki kuda yang
sudah tidak begitu jelas lagi. “Apakah ada jejak-jejak lain yang
sudah terhapus?” gumamnya.
Agung Sedayu tidak menjawab. Dan ketika kawan-kawan
mereka itu telah dekat benar dengan Widura, Widurapun
bertanya kepada mereka “Adakah kalian melihat salah satu
diantaranya memisahkan diri?”
Orang-orang itu menggeleng. “Tidak” jawab salah seorang
dari mereka. “Kami telah mencoba mengawasi dengan

seksama setiap simpangan. Entahlah kalau jejak-jejak itu telah
tidak dapat dilihat lagi”
Widura mengangguk-angguk. Namun jalan yang sepi itu,
agaknya belum banyak dilalui orang. Apalagi kuda atau
gerobag. Maka katanya “Kita ikuti jejak itu untuk seterusnya.
Kalau kita tidak menemukan sesuatu, kita kembali ke Sangkal
Putung. Lain kali aku akan mencarinya”.
Ketiga orang itupun mengangguk, dan Sedayupun menjadi
agak berlega hati. Namun meskipun demikian, ia selalu cemas
akan nasib kakaknya. Satu-satunya saudaranya, yang selama
ini, bahkan sejak kecil selalu menjaganya dan melindunginya
dengan baik.
Pada saat-saat dirinya mengalami kesulitan yang paling
kecil sekalipun maka kakaknya selalu datang menolongnya.
Bahkan kakaknya itu telah banyak sekali mengorbankan
kepentingannya sendiri untuknya.
Kini kakaknya itu mengalami bencana. Apakah yang dapat
dilakukannya? Jiwa Agung Sedayu itupun menjadi bergolak.
Ingin juga ia datang berkuda menerobos masuk kedalam
sarang orang-orang yang mungkin menculik kakaknya dengan
pedang terhunus ditangan. Ingin ia menolong dan
menyelamatkannya. Tetapi kemudian Agung Sedayu hanya
dapat menggigit bibirnya. Tak ada keberanian untuk
melakukannya. Dan disadarinya bahwa apa yang dapat
dilakukan hanyalah berangan-angan.
Mereka masih saja berkuda mengikuti jalan ke Sangkal
Putung. Meskipun tidak sendiri, namun bulu-bulu Agung
Sedayu meremang juga ketika mereka lewat dibawah randu
alas yang besar ditikungan. Setiap kali ia melihat pohon randu
alas itu setiap kali ia teringat cerita tentang genderuwo
bermata satu.
Tetapi Widura sama sekali tidak mempedulikan cerita itu. Ia
masih sibuk mencoba mengurai keanehan yang dihadapinya.
Telapak-telapak itu benar-benar menuju ke Sangkal Putung.
Tetapi sampai sekian jauh belum juga menemukan jawaban.
Apalagi ketika mereka kemudian sampai pada daerah yang
berbatu-batu. Telapak-telapak kaki kuda itu seakan-akan
lenyap dijilat hantu. Karena itu, Widura menjadi semakin

cemas. Tetapi tak ada hal-hal yang dapat memberinya
petunjuk.
***
Maka dengan kecemasan yang mencengkam dadanya,
akhirnya Widura terpaksa membawa rombongannya kembali
ke Sangkal Putung. Meskipun demikian Widura itu
menggeram “Suatu ketika aku harus menemukan jawaban
atas hilangnya Untara dan Ki Tanu Metir”
Agung Sedayu hanya dapat menundukkan wajahnya.
Tetapi matanya menjadi panas, dan dijantungnya seperti akan
pecah. Tetapi tidak lebih daripada itu. Agung Sedayu tidak
dapat berbuat apapun selain meratap dengan sedihnya.
Ketika mereka sampai dihalaman kademangan, beberapa
orang datang menyongsong mereka. Citra Gati, Hudaya,
Sidanti, Swandaru dan beberapa orang lain. Sebelum Widura
masuk kepringgitan, berbagai-bagai pertanyaan harus
dijawabnya. Dan orang-orang itupun menjadi kecewa pula.
Mereka mengharap Untara ada diantara mereka, namun
ternyata orang itu telah lenyap.
Hanya Sidantilah yang sama sekali tidak menaruh minat
akan hilangnya Untara. “Biarlah anak itu hilang. Dan biarlah
orang-orang di Sangkal Putung menyadari, bahwa bukan
Untaralah orang yang paling sakti diantara kita. Tohpati itu
tidak terpaut banyak denganku. Apabila guru datang kemari,
aku akan mendapat petunjuk bagaimana harus
mengalahkannya” katanya didalam hati.
Tetapi ketika terlihat pula olehnya Sedayu, Sidanti
mengangkat alisnya. Dan hatinya berkata pula “Apakah anak
ini benar-benar dapat, setidak-tidaknya mendekati kesaktian
Untara?” Sindanti menarik bibirnya kesisi. Kemudian ia
berjalan disamping pendapa dan sama sekali tak
mengacuhkan lagi, apakah yang terjadi di dukuh Pakuwon.
Disamping pendapa Sidanti berhenti. Dilihatnya Sekar
Mirah berjalan kearahnya. “Siapa yang datang?” gadis itu
bertanya.
“Kakang Widura” jawab Sidanti.

“Dengan anak muda yang bernama Agung Sedayu, adik
Untara?” bertanya Sekar Mirah pula.
Sidanti menarik alisnya. Katanya “Ya, tetapi apakah kau
mempunyai kepentingan dengan anak itu?”
“Tidak. Tetapi aku ingin melihatnya. Menurut ayah, anak
itulah yang telah menyelamatkan Sangkal Putung”.
“Omong kosong” sahut Sidanti. “Apa yang telah
dilakukannya? Ia hanya datang atas nama kakaknya,
mengabarkan bahwa laskar Tohpati akan datang. Selebihnya
tidak. Akulah yang terluka oleh senjata Tohpati itu. Aku tidak
yakin, kalau Agung Sedayu dapat menyelamatkan hidupnya
seandainya ia harus menghadapi Macan Kepatihan itu”
Sekar Mirah tidak menjawab. Tetapi matanya dengan nanar
menyapu pendapa rumahnya. Namun yang dicarinya telah
tidak tampak lagi. Widura dan Agung Sedayu telah masuk ke
pringgitan. Dipringgitan, demang Sangkal Putung telah duduk
menunggunya.
“Marilah adi” Ki Demang mempersilakan.
Kemudian merekapun duduk melingkar diatas tikar pandan
yang putih. Widura sekali lagi megulangi, apa yang dilihatnya
di dukuh Pakuwon. Sambil menggelengkan kepalanya ia
berkata “Aku tidak berhasil menemukannya”
Demang Sangkal Putung itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. “Sayang” desisnya.
Ruangan itu sejenak menjadi sepi. Masing-masing
tenggelam didalam angan-angannya. Kadang-kadang Sedayu
masih mendengar, pamannya menggeram menahan perasaan
kecewa yang merayapi dadanya. Kecewa atas hilangnya
Untara dan Ki Tanu Metir, dan kecewa akan kemenakannya
yang seorang lagi. Agung Sedayu. Banyak persoalan yang
akan dihadapinya. Tohpati yang pasti tak akan melepaskan
Sangkal Putung, Untara dan Ki Tanu Metir yang harus
diketemukan hidup atau mati, dan Agung Sedayu dilingkungan
anak buahnya. Widura yang telah banyak menghayati
berbagai pengalaman, melihat, betapa Sidanti dengan tidak
disangka-sangka menempatkan sebuah persoalan dengan
kemenakannya itu. Tanggapannya yang kurang
menyenangkan dan harga dirinya yang berlebih-lebihan.

Sedang apa yang dilakukan oleh Agung Sedayu tidak lebih
daripada meratap dan berangan-angan. Ia sama sekali tidak
berusaha untuk melindungi dirinya sendiri.
Sekar Mirah, ketika tidak berhasil melihat orang yang
dicarinya, kemudian berlari kebelakanng. Ketika ia masuk
kedapur dilihatnya seorang pembantunya siap mengantarkan
mangkuk-mangkuk minuman ke pringgitan. Maka dengan
serta merta gadis itu merebutnya sambil berkata “Biarlah aku
yang mengantarkan.”
Pembantunya tidak dapat menolaknya. Sehingga kemudian
Sekar Mirah sendirilah yang mengantarkan minuman itu. Dan
dengan demikian gadis itu berhasil melihat anak muda yang
bernama Agung Sedayu dengan jelas.
Agung Sedayu yang selalu menundukkan wajahnya, tak
menyadarinya, bahwa seseorang telah mengawasinya dengan
cermat. Sekar Mirah yang kemudian meninggalkan pringgitan,
masih selalu menatap wajah anak muda itu dari balik pintu.
“Nama yang baik” desis Sekat Mirah. Dan tiba-tiba gadis itu
terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya.
“Ah” desisnya “Kau mengejutkan aku Kakang Sidanti.”
“Apakah yang kau intip?” bertanya Sidanti.
“Ayah” jawab Sekar Mirah tergagap
“Kenapa dengan Ki Demang?” desak anak muda itu.
“Tak apa-apa. Aku hanya ingin tahu, kenapa ia mengeluh”
sahut Sekar Mirah, yang kemudian ganti bertanya “Apa
kerjamu disini?”
“Tak apa-apa. Aku hanya ingin tahu, kenapa kau mengintip”
jawab Sidanti sambil tersenyum.
“Ah” desis Sekar Mirah “Keluarlah. Kau mengganggu aku
disini.”
Sidanti menggeleng. Jawabnya “Marilah kita keluar
bersama-sama.”
Sekar Mirah tidak menjawab, tetapi ia melangkah pergi ke
halaman belakang. Sedang Sidanti mengikutinya dibelakang.
“Apakah kau sudah melihat anak itu?” bertanya Sidanti
kemudian.
“Ya” jawab Sekar Mirah “Baru sekarang aku melihatnya
dengan jelas. Anak itu datang lewat tengah malam. Dan

kemarin hampir sehari penuh aku membantu didapur. Baru
kemarin sore aku mendengar nama itu. Nama yang bagus.”
Sekar Mirah berhenti sejenak ketika ia melihat dahi Sidanti
mengkerut, kemudian ia meneruskan “Seperti namamu.”
Sidanti tersenyum. Namun senyumnya terasa hambar.
Meskipun demikian ia berdiam diri, sehingga Sekar Mirah
berkata terus “Tadi pagi aku melihatnya. Ketika hampir setiap
orang menyebut namanya karena keberanian dan
ketangkasannya, baru aku ingin melihat wajahnya. Dan
wajahnyapun baik sebaik namanya.”
Sekali lagi sidanti mengerutkan keningnya. Sahutnya “Huh,
wajah itu tak akan langgeng. Lihat, hampir setiap wajah lakilaki
disini pasti ditandai goresan-goresan luka. Hudaya
dikening dan pipinya. Citra Gati dibelakang telinga kiri dan
hidungnya. Sonya dipelipis kanan dan dahinya. Patra
dibahunya. Belum lagi yang tertutup oleh pakaian-pakaian
mereka. Bahkan Sendawa telah kehilangan sebelah matanya”.
Hampir segenap bulu Sekar Mirah berdiri “Ngeri” katanya.
“Dan apakah pasti bahwa setiap waah akan terluka. Wajahmu
juga?”
“Itulah sebabnya aku berusaha untuk dapat melindungi
tubuhnya dengan kesaktian. Meskipun demikian pundakku
telah terluka. Untunglah tidak seberapa. Lalu, apalah kau
sangka bahwa Sedayu itu mampu melindungi wajahnya yang
tampan itu? Lihat, kalau sekali lagi Tohpati datang, pasti anak
itu akan melawannya. Aku berani bertaruh, bahwa ia akan
menjadi cacat”
Sekar Mirah mendengar kata-kata Sidanti dengan hati yang
cemas. Benarlah seperti apa yang dilihatnya, hampir setiap
laki-laki dipendapa rumahnya menderita cacat ditubuhnya,
meskipun hanya goresan-goresan dikulitnya. Dan tanpa
sesadarnya ia bertanya “Apakah kalau orang yang menyebut
dirinya Tohpati itu datang kembali, Agung Sedayu harus
melawannya?”
“Itu adalah kehendaknya sendiri. Ia ingin menunjukkan
kepada kita disini, bahwa kita disini adalah orang-orang yang
tidak berarti baginya. Ternyata, kemarin ketika aku minta

untuk menghadapi Macan Kepatihan itu, maka Sedayu
menjadi sakit hati”.
Kini Sekar Mirah tidak bertanya-tanya lagi. Bahkan ia
berkata “Kembalilah kepada kawan-kawanmu. Aku akan
membantu orang-orang yang bekerja didapur”.
“Sekehendakmulah” sahut Sidanti. “Dan sekehendakkulah,
apabila aku ingin tinggal disini”
“Ini rumahku” bantah Sekar Mirah sambil bertolak
pinggang. Sidanti tertawa. Katanya “Baiklah. Aku harap bahwa
aku akan tinggal dirumah ini pula”
“Huh” jawan Sekar Mirah sambil mencibirkan bibirnya.
“Apakah hakmu”
“Tidak ada” sahut Sidanti.
Sekar Mirah tidak berkata-kata lagi. Cepat-cepat ia pergi
meninggalkan Sidanti dan menuju kedapur. Sidanti
mengawasi gadis itu sampai hilang dibalik pintu. Tetapi tibatiba
saja anak muda itu menarik keningnya. Sambil
mengangguk-angguk ia bergumam “Sedayu harus
disingkirkan dari rumah ini. Lebih cepat lebih baik. Tetapi aku
tak punya alasan untuk melakukannya. Mudah-mudahan
Tohpati segera datang kembali. Aku ingin melihat, apakah aku
berada dibawahnya atau setidak-tidaknya menyamainya”.
Sidanti menarik nafas, dan terdengar bergumam terus
“Sayang ia kemenakan kakang Widura. Tetapi kakang Widura
itu sendiri tidak lebih daripada aku”.
Sidanti itupun kemudian berlahan-lahan melangkah pergi.
Ia berjalan melingkari gandok wetan, kemudian sampailah ia
disisi pendapa. Dilihatnya beberapa orang kawannya sedang
berbaring dengan nyamannya dibawah pohon sawo. Tetapi ia
tidak pergi kesana. Anak muda itu langsung naik kependapa,
berjalan kesudut dan diraihnya senjatanya yang terbungkus
kain putih dan tersangkut didinding. Kemudian sambil duduk
disudut pendapa itu, Sidanti menggosok tangkai senjatanya
dengan angkup keluwih. Hati-hati seperti seorang pemuda
membelai rambut kekasihnya.
Demikianlah maka sejak hari itu Agung Sedayu mencoba
bergaul dengan anak buah Widura. Beberapa orang bersikap
sedemikian homat kepadanya, sehingga Agung Sedayu

menjadi sangat canggung karenanya. Hanya Sidanti sajalah
yang bersikap acuh tak acuh kepada anak muda itu. Sekalisekali
ia bertanya juga, namun kemudian lebih baik ia
membelai neggalanya, Kiai Muncar, daripada bergaul dengan
Agung Sedayu. Apalagi sikap canggung Agung Sedayu benarbenar
tak menyenangkannya. Sikap itu dirasakan oleh Sidanti
sebagai sikap yang sombong.
Sore itu ketika Agung Sedayu pergi keperigi dibalakang
rumah, dijumpainya Sekar Mirah sedang menjinjing kelenting.
Gadis itu terkejut dan berdebar-debar. Dengan hormatnya ia
menyapa “Selamat sore tuan”.
Agung Sedayu mengangguk pula sambil menjawab singkat
“Selamat sore”. Tetapi kemudian ia berjalan terus.
Sekar Mirah mengawasinya pada punggungnya. Sekali ia
menarik nafas, sambil bergumam “Benar juga kata orang,
anak muda itu sangat pendiam”.
Meskipun demikian Sekar Mirah yang baru saja melihat
Sedayu itu, mempunyai kesan yang aneh. Gadis itu,
sebelumnya senang bergaul dengan Sidanti, karena tidak ada
orang lain yang lebih sesuai dengan dirinya dalam
pergaulannya selain anak itu. Namun tak pernah ia merasakan
sesuatu yang mendebarkan jantungnya. Setiap hari ia
bertemu, bercakap bahkan bergurau dengan Sidanti. Bahkan
pernah juga Sekar Mirah bertanya-tanya kepada dirinya,
apakah Sidanti itu benar-benar menarik hatinya. Namun ia tak
pernah menemukan jawaban.
“Kenapa aku ributkan anak muda itu” katanya didalam hati.
“Biarlah ia berbuat sesuka hatinya. Pendiam, pemurung atau
apa saja”. Dan Sekar Mirah kemudian mencoba melupakan
kesan itu sedapat-dapatnya.
Pada malam itu, setelah kademangan Sangkal Putung
menjadi sepi, maka Widura yang belum juga tertidur,
membangunkan Agung Sedayu perlahan-lahan. Ada sesuatu
yang akan disampaikan kepada kemenakannya. Sesuatu yang
tak boleh diketahui oleh orang lain. Sikap anak buahnya
kepada Agung Sedayu, sejak permulaan telah keliru. Dengan
demikian kedudukan Agung Sedayu benar-benar dalam
kesulitan. Mereka menganggap Agung Sedayu, adik Untara

itu, setidak-tidaknya akan dapat menentramkan hati mereka,
apabila Tohpati datang kembali. Karena itu, apabila benar
demikian, apakah jadinya Agung Sedayu itu? Sebelum ia
bertemu dengan Macan Kepatihan ia pasti sudah mati
ketakutan.
Ketika Agung Sedayu membuka matanya, maka dilihatnya
pamannya duduk disampingnya. Sambil menggosok matanya,
Agung Sedayu bangkit duduk dimuka pamannya.
“Sedayu” bisik Widura, “Marilah ikut aku”.
“Kemana paman?” bertanya Sedayu terkejut.
“Marilah. Setiap malam aku berkeliling kademangan,
melihat gardu-gardu peronda”.
“Apakah paman ingin aku ikut berkeliling?” Sedayu
menjelaskan.
Widura mengangguk, “Ya, kita berdua”.
“Berdua?” Sedayu semakin terkejut.
“Jangan takut Sedayu. Kita berada dalam lingkaran kita
sendiri. Penjagaan di kademangan ini sedemikian ketatnya,
sehingga seorang asingpun tak akan dapat memasuki”.
“Kalau demikian, apa gunanya paman berkeliling?”
“Melihat, apakah tugas-tugas itu dilakukan dengan baik.
Kalau tidak, jangankan seorang, bahkan seluruh laskar
Tohpati akan dapat masuk tanpa kita ketahui”.
Agung Sedayu menjadi berdebar-debar. Apakah sebabnya
pamannya membawanya serta. Pekerjaan itu sama sekali
tidak menarik hatinya. Dalam malam yanag sedemikian
gelapnya, berjalan menyusuri jalan-jalan desa, jalan-jalan
yang sempit dan sunyi. Apalagi setiap saat mereka akan dapat
berjumpa dengan bahaya. Tetapi Agung Sedayu tidak dapat
menolak ajakan itu. Dengan hati yang berat, ia menggeliat,
kemudian berdiri dan membenahi pakaiannya.
“Bawalah kerismu, Sedayu” kata pamannya.
Agung Sedayu terkejut. Teringatlah ia kepada kakaknya.
Pada saat mereka meninggalkan Jati Anom, kakaknya itu
berkata juga kepadanya, seperti pamannya itu.
Dan tiba-tiba saja Sedayu bertanya “Kenapa aku harus
bersenjata? Apakah kita akan bertempur?”

Pamannya tersenyum, namun hatinya mengeluh melihat
kecemasan diwajah kemenakannya. Jawabnya “Kita adalah
laki-laki. Didaerah yang gawat seperti Sangkal Putung setiap
laki-laki harus bersenjata”.
Agung Sedayu tidak menjawab, hanya debar jantungnya
menjadi semakin cepat. Dengan ragu-ragu diraihnya kerisnya
dari pembaringan pamannya dan kemudian diselipkannya
diikat pinggangnya. Meskipun demikian, Agung Sedayu tidak
tahu pasti, apakah ia akan dapat menggunakannya.
Mereka berduapun segera melangkah keluar. Dipendapa
mereka melihat beberapa orang berbaring tidur dengan
nyenyaknya. Sidanti, yang tidur disudut, sudah tidak gelisah
lagi. Agaknya lukanya telah berangsur baik. Widura melihat
anak muda itu sambil mengerutkan keningnya. Tenaga Sidanti
benar-benar diperlukannya. Namun sifat-sifatnya agak kurang
menyenangkan. Tinggi hati, bahkan agak sombong dan
kurang patuh pada perintah-perintahnya. Mungkin anak itu
merasa, bahwa di Sangkal Putung itu tak seorangpun yang
dapat menyamai kesakitannya. Bahkan Widura sendiri
agaknya tidak melebihinya.
Mereka berdua kemudian melintas dihalaman. Ketika
mereka sampai diregol, beberapa orang penjaga
menganggukkan kepalanya sambil bertanya “Apakah kakang
Widura akan pergi berkeliling?”
“Ya” sahut Widura
“Siapakah diantara kami yang akan kakang bawa?”
bertanya mereka pula.
Widura menggeleng, sahutnya “Tidak ada. Kami akan pergi
berdua”
Agung Sedayu menjadi heran. Kenapa pamannya tidak
membawa serta beberapa orang teman? Apakah itu tidak
terlalu berbahaya? Tetapi ia tidak bertanya. Betapapun
Sedayu masih juga merasa malu seandainya orang-orang lain
mengetahui betapa kecil jiwanya.
Ketika Widura dan Agung Sedayu telah hilang tenggelam
dalam malam yang gelap, terdengar salah seorang penjaga
regol itu bergumam “Kakang Widura telah membawa

kemenakannya. Itu berarti, bahwa ia telah pergi bersama lima
enam orang dari antara kita. Bahkan lebih”
Kawan-kawannya mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Dan salah seorang dari mereka berkata “Anak muda itu
sangat pendiam”
“Demikianlah agaknya” sahut yang lain. “Orang yang yakin
akan dirinya, biasanya tidak banyak ribut dan banyak bicara”
Orang diregol itupun kemudian berdiam diri, namun mereka
tidak kehilangan kewaspadaan.
Widura dan Agung Sedayu berjalan menyusuri jalan-jalan
desa yang disaput oleh hitamnya malam. Ketika Agung
Sedayu menengadahkan wajahnya, dilihatnya awan yang
gelap mentakbiri langit. Sesaat-sesaat tampak lidah api
seakan-akan menjilat ujung-ujung pepohonan dikejauhan.
Widura dan Agung Sedayu singgah dari satu gardu
kegardu yang lain. Mereka melihat betapa anak buah Widura
dan anak-anak muda Sangkal Putung bersiaga, sebab mereka
menyadari, bangkit atau tenggelam, kademangan Sangkal
Putung itu berada ditangan mereka.
Tetapi Agung Sedayu tidak dapat menenangkan dirinya.
Setiap kali ia selalu cemas, apakah tidak mungkin seorang,
dua orang atau lebih, mengendap diparit-parit atau dibelakang
gerumbul-gerumbul, dan dengan tiba-tiba menyergap mereka.
Namun ia tidak berani bertanya kepada pamannya.
Sampai diujung desa, Widura masih berjalan terus. Mereka
kini lewat dijalan diantara bentangan sawah yang luas.
Meskipun jarak jangkau pandangan mata mereka tidak dapat
menembus malam yang kelam, namun mereka melihat juga
batang-batang padi yang rimbun.
Hati Agung Sedayu semakin lama menjadi semakin cemas,
sejalan dengan jarak mereka yang semakin jauh dari induk
desa Sangkal Putung. Karena itu akhirnya ia tidak dapat
menahan kekhawatirannya, sehingga ia terpaksa bertanya
“Kemanakah kita ini paman?”
“Jangan takut Sedayu. Desa didepan, masih dirondai oleh
kawan sendiri “ jawab pamannya.

Agung Sedayu terdiam, namun detak jantungnya menjadi
semakin deras. Desir angin yang menggerakkan batangbatang
padi terdengar seperti suara hantu yang merintih-rintih.
Agung Sedayu terkejut ketika pamannya berkata “Kita
belok kekanan Sedayu, lewat pematang”
Sebelum Agung Sedayu menjawab, Widura telah meloncati
parit. Karena itu tak ada yang dapat dilakukan oleh anak muda
itu selain mengikutinya dibelakang.
Sesaat kemudian mereka berdua sampai pada suatu
bentangan tanah lapang yang sempit. Sebuah puntuk kecil
yang ditimbuhi oleh batang-batang ilalang dan sebuah pohon
kelapa sawit. Bulu-bulu tengkuk Agung Sedayu mulai
meremang. Daerah ini tampak sepi. Terlalu sepi dan
menakutkan.
“Sedayu” berkata Widura perlahan-lahan. “Puntuk inilah
yang dinamai orang Gunung Gowok”
Seluruh wajah kulit Agung Sedayu terasa seakan-akan
berkeriput. Nama itu mengingatkannya kepada sebuah
ceritera tentang Kiai Gowok.
Kiai Gowok menurut pendengarannya adalah semacam
hantu yang berparas tampan. Meskipun ia tidak suka
mengganggu orang namun kadang-kadang memerlukan
sekali-sekali menemui gadis-gadis cantik. Karena itu tiba-tiba
ia melangkah mendekati pamannya.
Pamannya melihat, batapa Agung Sedayu menjadi takut
mendengar nama puntuk itu, maka katanya “Jangan hiraukan
ceritera tetek bengek tentang puntuk itu”
Agung Sedayu tidak menjawab. Sedang pamannya berkata
terus “Sedayu, bersiaplah. Kita mengadakan latihan untukmu”
Agung Sedayu menjadi heran. Latihan apakah yang
dimaksud oleh pamannya. Apakah ia harus melatih diri, untuk
tidak takut dengan cerita-cerita tentang hantu. Dan
didengarnya pamannya meneruskan “Sedayu, kau harus
menyadari keadaanmu. Hampir setiap orang di Sangkal
Putung menganggapmu sebagai seorang pahlawan. Mereka
menyangka bahwa kau memiliki kesaktian dan ilmu tata bela
diri setidak-tidaknya mendekati kakakmu Untara. Aku tidak
tahu, apakah yang akan terjadi seandainya pada suatu kali

kau terpaksa terlibat dalam suatu perkelahian dengan
siapapun. Apalagi kalau Tohpati itu datang kembali. Sedang
orang-orang di Sangkal Putung menyangka kau pasti akan
mampu melawannya. Karena itu, belajarlah berbuat, berpikir
dan bersikap seperti seorang laki-laki”.
Terasa denyut nadi Agung Sedayu menjadi semakin cepat.
Kata-kata pamannya itu benar-benar mendebarkan
jantungnya. Tetapi ia tidak tahu, apakah yang harus
dikatakannya. Ketika ia tidak segera menjawab, pamannya
berkata terus “Apa yang akan aku lakukan, adalah mencoba
menambah kepercayaanmu kepada dirimu. Marilah kita
berlatih. Untuk seterusnya setiap malam kita berlatih disini.
Supaya apabila suatu ketika, kau harus berbuat seperti lakilaki
sewajarnya, ada bekalmu meskipun sedikit. Seterusnya,
kalah atau menang, tidak menjadi soal. Kalau kita mati dalam
pertempuran nama kita akan tetap dikenang. Tatapi kalau kita
lain daripadanya, maka nama kita akan senilai dengan daundaun
kering yang diterbangkan angin”
Debar didada Agung Sedayu menjadi semakin keras.
Kembali ia mengeluh. Ia merasa, bahwa kedatangannya di
Sangkal Putung, benar-benar seakan-akan terjerumus
kedaerah yang sama sekali tak menyenangkan. “Kalau
kakang Untara malam itu tidak menjerumuskan aku keneraka
ini” gumamnya didalam hati “Kenapa kakang Untara
meributkan laskar paman Widura disini? Apakah kalau aku
tidak datang kemari, Sangkal Putung ini benar-benar akan
dihancurkan oleh Macan Kepatihan?”
Tetapi Agung Sedayu tidak sempat berangan-angan lebih
panjang lagi. Dilihatnya pamannya menyingsingkan lengan
bajunya, menarik ujung kainnya dan disisipkannya
kebelakang. “Bersiaplah Sedayu. Aku tahu bahwa kakakmu
pernah memberimu dasar-dasar latihan. Sekarang kita lihat,
sampai dimana kau pernah memilikinya”
Dengan segannya, Agung Sedayu pun mempersiapkan diri.
Sebenarnya ia pernah menerima beberapa pengetahuan tata
bela diri dari kakaknya. Dan kini, mau tak mau ia harus
mempergunakannya. Pamannya agaknya akan
mempergunakan cara yang langsung dalam latihan ini. Dan

ternyata dugaan itu benar. Pamannya tidak menuntunnya,
mempelajari unsur demi unsur, namun Widura itu langsung
melihat Agung Sedayu dalam latihan bertempur.
“Awas Sedayu” berkata pamannya. Dalam pada itu Widura
pun telah meloncat sambil menyerang dada.
Agung Sedayu terkejut. Cepat ia mengendapkan diri.
Tangan Widura itupun melayang beberapa jengkal diatas
kepalanya.
“Paman!”teriak Sedayu” Jangan terlalu keras”
Langkah Widura terhenti. Dengan heran ia bertanya “Apa
yang terlalu keras?”
“Paman menyerang bersungguh-sungguh” sahut Agung
Sedayu
Pamannya menarik nafas, jawabnya “Tidak. Tetapi aku
harus berbuat seakan-akan sungguh-sungguh. Sebab dalam
perkelahian kau tak adan dapat dengan rendah hati mohon
agar lawan-lawanmu tidak bersungguh-sungguh”
Sekali lagi debar dijantung Sedayu menjadi bertambah
cepat. Tetapi ia tidak dapat berbuat lain daripada menuruti
perinta pamannya itu. Karena itu kembali ia bersiap.
Melakukan latihan adalah jauh lebih baik dari bertempur yang
sebenarnya. Ketika pamannya menyerang sekali lagi, Agung
Sedayu pun mengelak pula, dengan satu loncatan ia
membebaskan dirinya. Tetapi Widura tidak berhenti. Dengan
cepat ia berputar, dan serangannya beruntun menyambar
Agung Sedayu.
Gerakan itu tidak begitu sulit untuk dielakkan. Kakaknya
pernah juga berbuat seperti pamannya itu. Satu kali Agung
Sedayu melangkah kesamping, kemudian dengan menarik
satu kakinya terbebas dari serangan tangan pamannya yang
mengarah pundaknya. Ketika kemudian Widura memutar
kakinya mendatar setinggi lambung, Sedayupun
mencondongkan tubuhnya kebelakang sehingga kaki
pamannya itu lewat beberapa jengkal dari tubuhnya.
Tetapi Widura tidak berhenti menyerang. Bahkan seranganserangannya
menjadi semakin cepat. Namun Agung Sedayu
masih juga mampu mengelak. Selangkah demi selangkah ia
melangkah surut untuk menghindarkan serangan-serangan

pamannya. Sehingga akhirnya terdengar pamannya berkata
“Apakah kau hanya belajar menghindar saja? Coba
bagaimana kakakmu mengajarmu menyerang”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Gerak pamannya
tidak jauh berbeda dari kakaknya . Keduanya bersumber dari
ilmu ayahnya. Karena itu Sedayu tidak begitu sulit melayani
pamannya. Kini pamannya minta, agar sekali-sekali ia
menyerangnya juga. Dan permintaan itupun dipenuhinya.
Karena itu latihan itu menjadi semakin cepat. Agung Sedayu
benar-benar mengherankan pamannya. Ternyata gerakangerakan
yang dilakukan bukanlah gerakan-gerakan yang
sederhana seperti anak-anak muda yang sedang menerima
dasar-dasar ilmu bela diri. Tetapi Agung Sedayu telah
memilikinya agak lengkap, meskipun karena kurang
penggunaannya, maka sekali-sekali tampak juga anak muda
itu kurang dapat memanfaatkan beberap unsur yang bagus
sekali.
“Hem” desah pamannya didalam hati. “Anak ini bukan anak
yang bodoh. Sayang, lingkungannya pada masa kanak-kanak
telah membentuknya menjadi seorang pengecut”. Tetapi
angan-angan itu patah, ketika Widura mendengar suara
tertawa disamping mereka. Suara yang bernada tinggi
melengking, meskipun tidak terlalu keras.
Agung Sedayu terkejut bukan kepalang. Yang mulai
melintas dikepalanya adalah Macan Kepatihan. Karena itu,
ketika ia melihat pamannya memutar tubuhnya dengan
kesiagaan penuh, segera ia meloncat berlindung
dibelakangnya.
Ketika mereka berdua memandang kearah suara itu,
mereka melihat samar-samar seseorang bersandar pohon
kelapa sawit diatas puntuk kecil yang mempunyai nama besar,
Gunung Gowok.
Widura masih tegak seperti patung. Dipandanginya orang
yang bersandar pohon kelapa sawit itu dengan wajah yang
tegang. Meskipun demikian Widura melangkah beberapa
langkah maju sambil bertanya “Siapakah kau?”

Agung Sedayu yang juga dengan berdebar-debar ikut pula
maju beberapa langkah berbisik dengan suara gemetar
“Apakah itu Macan Kepatihan?”
Widura tidak mendengar pertanyaan itu. Karena itu ia tidak
menjawab. Namun sekejappun ia tidak meninggalkan
kewaspadaan.
Orang yang bersandar itu masih juga bersandar. Widura
yang melangkah mendekatinya itu sama sekali tak
diperhatikannya. Suara tertawanya yang bernada tinggi itu
bahkan terdengar kembali.
“Siapakah kau” Widura mengulangi pertanyaannya.
Suara tertawa itupun kemudian menjadi semakin lirih. Dan
terdengarlah orang itu berkata “Latihan yang bagus”
Widura menjadi semakin bercuriga. Dengan hati-hati ia
melangkah maju pula. Tangannya telah melekat dihulu
pedangnya. Katanya “Jangan menggangu kami. Katakanlah
siapakah kau supaya aku dapat mengambil sikap”
Orang itupun kemudian berdiri tegak. Beberapa langkah ia
maju mendekati Widura. Sehingga akhirnya mereka dapat
saling melihat wajah masing-masing.
Ketika Widura melihat wajah orang itu, mula-mula ia
terkejut. Wajah itu tampak seputih mayat. Namun kemudian
Widura menyadarinya, orang itu telah menutup wajah aslinya
dengan sebuah topeng yang berwarna kekuning-kuningan.

Share this article :

Posting Komentar

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. EBOOK JADUL . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger