Widget Recent Comments by Anyail Bedeh Beih
News Update :
Home » » Api Di Bukit Menoreh (4)

Api Di Bukit Menoreh (4)

Penulis : Unknown on Selasa, 28 Januari 2014 | 20.20

 

Koala

Buku 04
Apalagi apabila mereka berhadapan. Namun agaknya
Widura sama sekali tidak bersikap demikian. Karena itu, maka
sekali lagi Ki Tambak Wedi itu berkata “Widura, orang-orang
seperti kau ini benar-benar merupakan mutiara-mutiara yang
tersimpan dalam perbendaharaan keprajuritan Pajang. Aku
ingin agar mutiara-mutiara demikian itu tidak akan hilang
tertimbun oleh lumpur. Karena itu Widura, aku minta kau
membantu Sidanti dalam usahanya mendapatkan tempat yang
baik dalam hidupnya yang penuh dengan cita-cita itu. Aku
sendiri pasti akan merupakan kekuatan yang mengalasinya”
Sekali lagi Widura menjadi muak. Bahkan ia menjadi muak
melihat wajah yang panjang bermata seperti mata burung
hantu dan berhidung terlalu runcing itu. Meskipun demikian,
tak ada suatupun yang dapat dilakukannya. Dan ia masih
mendengar Ki Tambak Wedi meneruskan “Apabila kelak
Sidanti akan sampai ditempat itu, maka kaupun akan ikut serta
mukti pula bersamanya”
Widura menggeleng tegas. Jawabnya “Biarlah aku
ditempatku. Apapun yang akan aku alami”
Dada Ki Tambak Wedi itupun sudah mulai dirayapi oleh
kemarahan yang semakin lama semakin menyala. Agaknya
Widura sudah tidak mungkin dapat dibujuknya. Karena itu
katanya “Widura, apakah kau benar-benar menunggu aku
marah?”
Widura yang berdiri seperti pucang kanginan itu menjawab
“Sudah aku katakan Kiai. Namun aku tetap pemimpin laskar
Pajang di Sangkal Putung. Bukan orang lain”
“Widura” sahut Ki Tambak Wedi yang mulai tidak dapat
mengendalikan kemarahannya. “Kau tetap pemimpin laskar di
Sangkal Putung. Tetapi kau harus menurut perintah-perintah
Sidanti yang akan diberikan erus menerus kepadamu.
Perintah-perintahmu hanyalah saluran dari perintahperintahnya.
Tetapi dimata par prajurit itu, kau tetap seorang
pemimpin yang berwibawa. Bersedia?”

Sekali lagi Widura menggeleng tegas “Tidak” jawabnya.
Ki Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya.
Katanya “Aku sudah menduga bahwa kau akan tetap pada
pendirianmu. Nah, bagaimanakah kalau aku membunuhmu
sekarang?”
Widura menyadari keadaannya. Ia tidak lebih dari seorang
yang kecil dihadapan Ki Tambak Wedi. Tetapi ia tidak mau
mengorbankan kewibawaan, saluran kewajiban prajurit.
Sedang orang seperti Ki Tambak Wedi itu pasti akan dapat
melakukan apa saja yang dikatakannya. Meskipun demikian
Widura menjawab “Kiai pasti akan mampu melakukannya.
Terserahlah kepada Kiai. Tetapi Kiai harus menyadari
keadaan Sidanti . Anak itu keluar bersama aku. Apakah kata
mereka kalau anak itu kembali seorang diri, dan besok
mayatku diketemukan disini?”
Mendengar jawaban itu Ki Tambak Wedi tiba-tiba tertawa
terbahak-bahak. Katanya diantara derai tawanya “He Widura,
ternyata kau tidak sejantan yang aku sangka. Ternyata kau
mulai ketakutan dan mencari jalan untuk menolong dirimu
sendiri”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi
itu, telinga Widura seperti terjilat api. Sehingga ia lupa, dengan
siapa ia berhadapan. hampir berteriak ia membentak “Cukup!”
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar bentakan itu,
sehingga dengan serta-merta derai tertawanya itu terputus.
Dengan tajamnya ia memandang wajah Widura yang masih
berkata terus “Apakah kau sangka bahwa setiap mahluk akan
menyerahkan hidupnya demikian saja tanpa usaha untuk
menyelamatkan diri. Bukankah hak setiap hidup untuk
mempertahankan hidupnya?”
“Tetapi caramu adalah cara yang licik” sahut Ki Tambak
Wedi.
“Tidak” bantah Widura. “Tetapi aku hanya ingin
mengatakan, kalau kau bunuh aku, maka pekerjaanmu itu
tidak akan bermanfaat. Setiap orang dapat segera mengambil
kesimpulan apa yang sudah terjadi”

“Seandainya mereka mengetahui sekalipun, apa yang akan
mereka lakukan terhadap Sidanti? Apakah mereka berani
melakukan tindakan apapun terhadap anak itu?”
“Tentu”
“Aku akan dapat membunuh mereka semua”
“Mereka adalah prajurit-prajurit. Kalau mereka tak dapat
mengatasi seseorang, maka atasannyalah yang akan
melakukan. Bagaimana anggapan Kiai tentang seorang
perwira tamtama yang bernama Pemanahan? Juru Mertani
atau adipati Pajang sendiri?”
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Jawabnya
“Persetan dengan mereka. Tetapi aku tidak sebodoh yang kau
sangka. Aku sudah bersedia alat untuk membunuhmu. Semua
orang mengenal bahwa senjata Sidanti adalah senjata tajam.
Sekarang aku akan membunuhmu dengan senjata pemukul”
Dada Widura menjadi berdebar-debar karenanya. Apalagi
ketika tiba-tiba ia melihat, Ki Tambak Wedi itu menarik sebuah
tongkat besi dari pinggangnya dibawah kain panjangnya. Besi
itu tidak terlalu panjang. Hanya dua jengkal, sebesar ibu jari
kaki. Diamat-amatinya senjata sambil bergumam seolah-olah
ditujukan kepada diri sendiri “Hem, bukankah orang yang
bersenjata pemukul itu seorang senapati Jipang yang
bernama Tohpati? Dan bukankah mulut Sidanti juga dapat
berkata demikian kepada kawan-kawannya? Lihatlah wajah
Sidanti itu sendiri, dan hampir diseluruh tubuhnya menjadi
merah biru. Itu akan bagus sekali untuk melengkapi ceritanya.
Kau berdua berjumpa dengan Tohpati dan beberapa
orangnya. Kalian bertempur mati-matian, dan kau terbunuh
dalam perkelahian itu”
Getar didalam dada Widura menjadi semakin cepat. Kini ia
benar-benar berhadapan dengan maut. Dan ia tidak akan
dapat menemukan jalan untuk menyelamatkan diri. Meskipun
demikian sama sekali tak terlintas didalam otaknya untuk
memenuhi permintaan Sidanti, menebus nyawanya dengan
menjual kewibawaan Pajang.
Demikianlah maka sesaat mereka berada dalam keadaan
yang tegang. Widura, Sidanti dan Ki Tambak Wedi seperti
tonggak-tonggak yang kaku. Yang mula-mula menyobek

kesepian adalah Ki Tambak Wedi. katanya “Bagaimana
Widura. Apakah kau masih ingin bertahan pada pendirianmu?
Memang keadaanmu masih cukup baik. Kalau kau mati, maka
kau akan dihormati sebagai pahlawan. Namun bukankah lebih
baik apabila kita dapat melihat dan merasakan dalam hidup
kita ini kehormatan itu daripada sesudah kita mati?”
Widura tidak menjawab sepatah katapun. Ia sedang
mempersiapkan dirinya menghadapi maut.
“Bagaimana Widura?” bentak Ki Tambak Wedi yang sudah
mulai kehilangan kesabaran. “Kalau kau mati, aku akan
berusaha Sidanti lah yang akan mengganti kedudukanmu. Aku
akan pancing Tohpati, aku akan bunuh pula dia atas nama
Sidanti”
Widura menggeram mendengar rencana gila-gilaan itu.
Namun kali inipun ia ti menjawab. baginya, sudah tidak ada
gunanya lagi untuk berbicara apapun. Maka yang dapat
dilakukan adalah menunggu apa saja yang akan terjadi.
Ki Tambak Wedi ternyata benar-benar telah kehilangan
kesabaran. Dengan sepotong besi itu ia berjalan mendekati
Widura sambil berkata “Aku tidak biasa mempergunakan
senjata semacam ini. Tetapi untuk kepentingan Sidanti, aku
akan memecah batok kepalamu, sehingga orang benar-benar
menyangka kau mati karena pukulan tongkat baja putih milik
Tohpati itu”
Sekali lagi Widura menggeram. Tanpa disengaja ia
mengangkat pedangnya. Melihat gerak pedang itu Ki Tambak
Wedi tertawa terbahak-bahak. Katanya “Gila. Apakah kau
akan melawan aku? Dengan satu sentuhan dari anak kecil,
kau pasti sudah akan roboh. Jangan gila. Kau hanya tinggal
mempersiapkan kepalamu saja. Manakah yang sebaiknya aku
pukul supaya kau segera mati. Dengan demikian aku sudah
bermurah hati kepadamu”
Mulut Widura benar-benar telah terkunci. Sesaat ia ingat
kepada kemenakannya, Sedayu. Namun ia tidak
menyalahkannya. Saat yang lain dikenangnya kemenakannya
yang satu lagi, Untara. Katanya dalam hati “mudah-mudahan
anak itu masih hidup, dan mudah-mudahan suatu ketika

dijumpainya adiknya itu dan diselamatkannya dari kerakusan
Sidanti yang gila ini”
Widura kini melihat Ki Tambak Wedi itu semakin lama
semakin dekat. Suara tertawanya masih saja terdengar
berkepanjangan.
Tetapi tiba-tiba suara tertawa itupun terputus. Mereka
semua terkejut bukan buatan. Apalagi Widura dan Sidanti .
Dalam sepi malam itu terdengar tiba-tiba sebuah ledakan
dahsyat. Sehingga getarannya telah menggerakkan daundaun
pepohonan dan menggugurkan daun-daun kuning yang
tidak mampu berpegangan dahan-dahannya lagi. Bahkan
ledakan itu telah menggetarkan dada mereka yang
mendengarnya. Lebih-lebih Widura dan Sidanti .
Ki Tambak Wedi itu kini tegak seperti patung. Namun
tampaklah ia memusatkan perhatiannya memandang segenap
arah. Matanya yang tajam setajam mata burung hantu itupun
menjadi liar.
Dalam ketegangan itupun sekali lagi terdengar suara
ledakan itu. Lebih keras dan getarannya semakin dalam
menusuk dada. Widura dan Sidanti terpaksa memejamkan
mata mereka dan memusatkan perlawanan mereka dengan
kekuatan batin melawan getaran yang aneh itu.
Mata Ki Tambak Wedi itupun menjadi semakin liar. Bahkan
tiba-tiba ia berteriak “Dahsyat. Kekuatan orang itu pasti sama
dengan kekuatan raksasa. Tetapi jangan seperti seorang
pengecut. Mari, datanglah kemari. Aku bersedia
menyambutmu”
Namun tak ada jawaban. Yang terdengar sekali lagi suara
ledakan itu. Lebih keras pula dari yang terdahulu.
Ki Tambak Wedi itupun kemudian menjadi marah bukan
kepalang. Seperti orang gila ia berteriak-teriak “Ayo,
kemarilah. Jangan bersembunyi. Inilah Tambak Wedi”
Tetapi kemudian tegal itu menjadi sepi. Suara ledakan
itupun tak terdengar lagi. Mengerutkan keningnya Ki Tambak
Wedi itu masih tegak seperti patung. Ia masih mencoba
mengetahui dari manakah arah suara ledakan-ledakan itu.
Namun suara itu tak terdengar lagi.

Dalam pada itu, tumbuhlah suatu persoalan didalam
dirinya. Dalam diri Ki Tambak Wedi yang perkasa itu. Ia tidak
akan takut berhadapan dengan seitap orang bagaimanapun
saktinya. Ki Tambak Wedi itu merasa, bahwa dirinya pasti
akan mampu menghadapi siapa saja dalam pertempuran
seorang lawan seorang. Biarpun orang itu Adiwijaya, yang
terkenal memiliki aji Lembu sekilan, Rog-rog Asem, Sapu
Angin sejak masa kanak-kanaknya, sejak ia masih bernama
Mas Karebet. Setidak-tidaknya ia pasti akan dapat
menyelamatkan dirinya dari lawannya. Namun orang yang
meledakkan lecutan-lecutan itupun bukan orang kebanyakan,
sehingga apabila ia mengejarnya, maka ada kemungkinan
orang itu berhasil melarikan diri.
Yang kemudian mengganggunya adalah, apabila Widura itu
dibunuhnya, maka ternyata akan hadir sedikit-dikitnya seorang
saksi. Orang yan menyuarakan lecutan-lecutan dahsyat itu.
Dengan demikian maka cerita Sidanti lambat atau cepat, pasti
akan diketahui kebohongannya. Karena itu, tiba-tiba Ki
Tambak Wedi itupun mengumpat tak habis-habisnya. Katanya
“Setan itu ternyata berhasil menolong memperpanjang
nyawamu Widura. Ia akan merupakan saksi yang
mengganggu jalan Sidanti . meskipun demikian, ingatlah,
Sidanti tak akan pernah melepaskan tuntutannya. Abiarlah kali
ini lau tetap hidup. Aku beri waktu kau sepasar. Kalau dalam
sepasar kau tidak merubah pendirianmu, dalam setiap
kesempatan aku akan dengan mudah membunuhmu. Mungkin
dengan cara-cara yang sangat mengerikan”
Widura masih berdiam diri. Apalagi kini, dadanya masih
dipengaruhi oleh getaran-getaran leacutan yang dahsyat itu.
Karena itu ia sama sekali tidak menjawab kata-kata Ki
Tambak Wedi.
“Pulanglah berdua. Jangan membuat persoalan supaya aku
mempunyai pertimbangan- pertimbangan lain”
Widura masih tetap tegak seperti tiang-tiang yang beku. Ia
mendengar kata-kata Ki Tambak Wedi itu, namun seakanakan
ia tidak mengerti maknanya. Setelah ia kehilangan
harapan untuk dapat menyelesaikan tugasnya, membersihkan
sisa-sisa laskar Jipang, karena keinginan Sidanti yang

melonjak-lonjak, maka tiba-tiba dadanya digetarkan oleh suara
lecutan yang hampir menggugurkan isi dadanya, kini ia
mendengar Ki Tambak Wedi itu mengurungkan niatnya.
Untuk sesaat Sidanti pun menjadi seolah-olah kehilangan
kesadarannya. Namun seperti orang yang tersentak bangun
dari tidurnya ia mendengar gurunya itu berkata, bahwa Widura
akan dibebaskannya. Karena itu, maka timbullah berbagai
pertanyaan didalam dirinya. Keadaan itu sudah terlanjur
sedemikian buruknya. Apabila Widura itu masih tetap hidup,
apakah keadaannya tidak menjadi semakin sulit.
Maka dengan terbata-bata terdengarlah Sidanti itu bertanya
“Guru, apakah guru akan memaafkan kakang Widura?”
“Tidak” sahut gurunya. “Aku hanya memberinya waktu
sepasar”
“Kenapa guru masih memberinya waktu?”
“ada bermacam-macam pertimbangan. Aku masih
berusaha untuk mencari jalan yang baik bagimu. Kecuali
apabila dalam sepasar Widura masih tetap keras kepala.
Selain yang sudah akua katakan, setan yang
memperdengarkan suara lecutan itupun dapat mengganggu
jalanmu Sidanti “
“Kenapa guru tidak menangkapnya saja, dan
membunuhnya pula?”
“Kau dengar suara lecutannya?” bertanya gurunya. “Kau
merasakan getaran didadamu? Nah, itu pertanda bahwa
orang itupun bukan orang kebanyakan. Mungkin ia dapat
melepaskan diri dari tanganku meskipun ia tidak berani
langsung melawan aku dalam satu perkelahian”
Sidanti mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun masih
tampak diwajahnya, bahwa ia menyesal akan keadaan itu.
Seandainya Widura itu terbunuh dan orang mempercayainya,
bahwa yang membunuh Widura itu Tohpati, menilik dari
bekasnya, maka tak seorangpun yang berani menyatakan
dirinya, mengganti kedudukan Widura. Semua orang di
Sangkal Putung menyadari, bahwa tak seorangpun yang
dapat melampaui Sidanti. kecuali kalau Pajang menunjuk
orang lain yang dikirim langsung dari Pajang. Namun siapapun
orang itu, nasibnya tidak akan lebih baik dari Widura.

Kemudian terdengarlah kembali suara Ki Tambak Wedi,
kali ini kepada Widura. “Nah Widura. Aku masih akan
membiarkan kau hidup sepasar lagi. Kembalilah kalian
berdua. Sekali lagi aku memperingatkan kau Widura. Jangan
membuat persoalan atas Sidanti , supaya aku tidak datang
kepadamu bersama-sama dengan Tohpati, untuk memengal
lehermu dan seluruh laskarmu”
Kini Widura telah menyadari keadaannya seluruhnya. Ia
mendengar semua kata-kata Ki Tambak Wedi. ternyata orang
itu sama sekali tidak mempunyai pendirian berpihak antara
Pajang dan Jipang. Ia dapat berada dimana saja yang dapat
memberinya keuntunga. Dengan demikian maka Ki Tambak
Wedi maupun Sidanti adalah benar-benar orang yang sangat
berbahaya.
Yang terdengar kemudian adalah suara Ki Tambak Wedi
pula “Nah Sidanti. Jangan cemas, aku akan terus menerus
mengawasi keadaan. Kau dengar pula itu, Widura?”
Sebelum Widura berkata sepatah katapun, dan sebelum
Sidanti menjawab terdengarlah Ki Tambak Wedi itu
menggeram. Kemudian dengan serta-merta dilemparkan
potongan besi yang masih digenggamnya kearah kaki Widura.
Kemudian dengan satu loncatan yang cepat, Ki Tambak Wedi
itu menghilang dibalik pepohonan. Ia masih akan mencoba
mencari, siapakah yang telah memperdengarkan suara
lecutan yang dahsyat, yang telah mengganggu pekerjaannya.
Namun karena suara itu sudah tidak terdengar lagi, serta Ki
Tambak Wedi menyadari, bahwa belum pasti ia kan dapat
menangkapnya, akhirnya Ki Tambak Wedi itupun melepaskan
maksudnya.
Sidanti dan Widura masih tegak ditempat masing-masing.
Ketika tanpa sesadarnya Widura memandang potongan besi
yang tergeletak beberapa jengkal dimuka kakinya ia terkejut
bukan buatan. Besi itu kini melengkung sehingga kedua ujungujungnya
hampir bertemu. Adalah kekuatan yang luar biasa
yang dapat melakukannya. Sepotong besi sebesar ibu jari
kaki, yang panjangnya tidak lebih dari dua jengkal itu dapat
dilengkungkannya sedemikian, sehingga hanpir menjadi
sebuah lingkaran.

Widura menarik nafas dalam-dalam. Ki Tambak Wedi
benar-benar luar biasa. Namanya yang menakutkan itu, tidak
saja karena kesombongannya, namun ia benar-benar memiliki
kekuatan yang tidak ada taranya.
Sidanti yang melihat wajah Widura dalam keremangan
malam, serta sikapnya yang gelisah, dan kemudian dengan
serta-merta memungut besi yang hampir menjadi lingkaran itu,
tertawa pendek. Desisnya “Apa kau heran kakang, bahwa Ki
Tambak Wedi dapat melakukannya? Melengkungkan besi
sebesar itu dengan tangannya?”
“Tidak” jawab Widura. “Orang yang sakti seperti Ki Tambak
Wedi itu pasti akan dapat berbuat lebih banyak dari permainan
ini, meskipun permainan ini telah menggoncangkan dadaku”
Sekali lagi Sidanti tertawa. Dengan bibir yang ditarik kesisi
ia berkata “Sejak saat ini kau jangan terlalu sombong dan
berkeras kepala supaya umurmu tidak hanya terbatas pada
lima hari ini saja”
Widura menggeleng. Sahutnya “Aku tidak senang orang
lain mencampuri persoalan dalam tata kelaskaran Pajang.
Sudah aku katakan, hidup matiku akan aku pertaruhkan untuk
kewibawaan Pajang”
Sidanti mengangkat alisnya. Namun kemudian ia tertawa
pula. Katanya “Marilah kita pulang. Setelah kakang Widura
beristirahatn mungkin kakang mempunyai pertimbangan lain”
“Pulanglah dahulu” sahu Widura “Aku masih mempunyai
pekerjaan”
Sidanti menjadi heran. Apakah yang akan dilakukan oleh
Widura itu. Tetapi Sidanti yang sombong itu tak mau merajuk.
Karena itu ia menjawab “Baiklah aku pulang dahulu”
Sidanti kemudian tidak menungu jawaban Widura. Segera
ia melangkah meninggalkan tempat itu, kembali ke
kademangan Sangkal Putung. Kini ia merasa dapat berbuat
sekehendaknya. Sedang Widura pasti tak akan berani
menghalanginya lagi.
“Widura itu hanya malu-malu saja mengakui kekuasaanku
sekarang” katanya dalam hati. “Namun aku yakin bahwa ia
tidak akan berani mengganggu aku lagi”

Sidanti itu tersenyum sendiri. Akan datang gilirannya
Sedayu ditundukkannya. Kalau ia tak mampu melakukan
sendiri, maka cara yang sama seperti yang dilakukan atas
Widura itu akan ditempuhnya “Anak itu akan jauh lebih mudah
diselesaikan”. Katanya pula “Kalau ia terbunuh, tak akan ada
yang mempersoalkannya selain Widura. Dan aku yakin
Widura pun kini akan berdiam diri”
Sidanti itu kemudian berjalan dengan wajah yang terang,
seakan-akan Sangkal Putung itu benar-benar telah
dikuasainya. Seluruhnya. Dan terbayanglah diwajahnya,
seorang gadis yang manis dan lincah, yang pernah
mengaguminya pula, Sekar Mirah. Dengan modal pimpinan
atas Sangkal Putung dan kemudian apabila ia berhasil
membinasakan Tohpati atas namanya, maka pasti ia akan
cepat menanjak. Seterusnya, ia harus pandai memanfaatkan
setiap kesempatan.
Widura yang masih tegak ditempatnya, memandang Sidanti
itu sampai hilang dalam gelapnya malam. Ia tersadar ketika
kemudian didengarnya ayam hutan berkokok dikejauhan.
Ternyata malam telah jauh melampaui pusatnya. Dan
sebentar lagi akan terdengar kokok ayam jantan yang terakhir
kalinya menjelang fajar.
Perlahan-lahan Widura itupun menyarungkan pedangnya.
Pikirannya masih dipenuhi oleh berbagai persoalan yang
menekan. Ternyata tugasnya menjadi sangat berat dan
berbahaya. Tidak saja Tohpati dan sisa-sisa laskar Jipang
yang lain yang memusingkan kepalanya, namun Sidanti,
bagian dari tubuh sendiri, itupun benar-benar hampir
mencabut nyawanya. Berturut-turut beterbanganlah anganangannya
atas pekerjaannya yang berat itu. Tohpati, Sidanti,
Ki Tambak Wedi, Agung Sedayu, dan tak dapat diabaikan
pula, usaha untuk menemukan Untara.
Widura menarik nafas dalam-dalam. Kemudian terdengar ia
bergumam “Aku tidak dapat menghindarkan diri dari
kewajiban-kewajiban itu. Meskipun tubuhku akan menjadi
lumat karenanya.”
Perlahan-lahan Widura itupun melangkahkan kakinya. Tibatiba
saja ia merasa muak untuk berjalan bersama-sama

dengan Sidanti . Karena itu dibiarkannya anak muda itu
berjalan dahulu. Dan kini iapun berjalan meninggalkan tegal
yang sepi, sesepi taman pekuburan. Ketika sekali ia menoleh,
dilihatnya pohon jambu mete itu seperti hantu raksasa yang
mengembangkan tangan-tangannya yang banyak sekali
jumlahnya untuk menyergapnya. Namun Widura bukan
seorang penakut. Karena itu ia sama sekali tidak menjadi
ngeri melihatnya. Dan ia masih tetap berjalan perlahan-lahan
sambil menghirup udara malam yang segar.
Meskipun tubuhnya menjadi bertambah segar, namun
hatinya tidak dapat menjadi sesegar tubuhnya. Berbagai-bagai
persoalan, satu demi satu membelit dihatinya. Dan ia tidak
mempunyai seorang kawanpun yang dapat diajaknya untuk
membicarakan kelusitan-kesulitannya. Ki Demang Sangkal
Putung pun tidak. Sebab dengan demikian demang Sangkal
Putung itu akan mempunyai pandangan-pandangan yang
berbeda arah penelaahannya. Hudaya, Citra Gati dan orang
lainpun pasti akan menuruti perasaannya saja, tanpa
mempertimbangkan dengan pikiran, serta tanpa memandang
kepentingan yang lebih besar dan jauh. Karena itu pikiran
Widura itupun menjadi suram. Namun betapapun juga,
dicobanya untuk mengatasi kesulitan itu dengan sebaikbaiknya.
Ketika Widura telah keluar dari daerah pategalan itu, tibatiba
saja ia membelok kekiri. Ia terkejut sendiri atas
langkahnya “Hem” gumamnya “Akan kemanakah aku ini?”
Tetapi ia meneruskan langkahnya. Tiba-tiba saja timbul
keinginannya untuk pergi ke gunung Gowok. Ia tidak
menyadari sepenuhnya, apakah kepergiannya itu akan
bermanfaat baginya. Namun, karena pikiran yang suram itu,
inginlah ia berbuat sesuatu. Kiai Gringsing yang hampir setiap
malam ditemuinya di gunung Gowok, kemudian ternyata
mendapat tempat tersendiri didalam hatinya. Orang yang
berbuat dan berbicara seenaknya, seakan-akan hidup ini
hanyalah sebuah permainan yang menyenangkan saja.
“Apakah aku dapat berbicara dengan orang itu?”
gumamnya. Tetapi kemudian iapun sadar, bahwa ia pasti akan
menjadi kecewa karenanya. Orang bertopeng itu pasti akan

mentertawakannya, ,dan menyuruhnya supaya membicarakan
dengan orang yang disebutnya gurunya, Sedayu. Karena itu
pulalah Widura itu sering mengumpat didalam hati. Namun kali
ini ia benar-benar ingin menemuinya.
Tetapi Widura itu menjadi ragu-ragu. Apakah Kiai Gringsing
masih berada disana? Hampir setiap malam ia datang
bersama Sedayu, tetapi sebelum tengah malam. Dan kali ini
tengah malam itu telah jauh lampau. Meskipun demikian
Widura itu berjalan terus.
Diperjalanan itu, kadang-kadang pikirannya diganggu juga
oleh suara lecutan yang dahsyat yang telah
menyelamatkannya. Bahkan kemudian timbul juga berbagai
pertanyaan didalam dirinya, siapakah orang yang telah
berbuat itu? Apakah ada orang aneh lagi selain Kiai
Gringsing? Apakah mungkin Kiai Gringsing pula yang
melakukannya?
Widura menjadi ragu-ragu. Ia mengagumi kesaktian Kiai
Gringsing, namun apakah orang itu mampu menggetarkan
dadanya dengan suara lecutan itu, dan memaksa Ki Tambak
Wedi merubah rencananya?
Gunung Gowok itu kini sudah tidak jauh lagi berada
dihadapannya. Dalam keremangan malam, telah dilihatnya
pohon kelapa sawit tegak diatas puntuk kecil itu. Namun
sebelum ia meloncati parit dan berjalan diatas pematang, tibatiba
Widura itu terkejut bukan kepalang, sehingga ia terlonjak
karenanya. Dekat dibelakangnya, didengarnya sebuah letusan
yang dahsyat, yang hampir saja menggugurkan isi dadanya.
Secepat-cepatnya Widura berusaha untuk memutar
tubuhnya. Dan dengan gerak naluriah tangannya meraba hulu
pedangnya. Namun tenaganya yang memang belum pulih itu,
seakan-akan tidak mampu untuk melakukan sesuatu. Apalagi
getaran didalam dadanya masih terasa memukul-mukul tak
henti-hentinya.
Namun Widura tak melihat seorangpun. Dengan sekuatkuat
tenaganya ia memusatkan kekuatan batinnya melawan
getaran-getaran yang masih saja melanda jantungnya.
Sehingga lambat laun ia berhasil pula menenangkan dirinya.

Tetapi ia masih belum melihat seorangpun disekitarnya.
Karena itu Widura menjadi gelisah. Tangan kanannya masih
melekat dihulu oedangnya. Dan bahkan setelah getarangetaran
didialam dadanya mereda, Widura itupun telah siap
untuk menghadapi setiap kemungkinan yang bakal terjadi,
meskipun ia sadar, bahwa tenaganya masih belum separo
pulih kembali.
Tetapi sekali lagi Widura terkejut. Bukan oleh suara lecutan
yang dahsyat. Tetapi kali ini terdengarlah suara tertawa. Suara
yang bernada tinggi dan nyaring.
Dengan serta-merta Widura itupun berpaling. Hampir ia
mengumpat ketika dilihatnya seseorang duduk diatas
pematang diantara batang-batang padi muda. Dan Widura
itupun segera mengenalnya. Orang itulah yang dicarinya, Kiai
Gringsing.
“Ah” desis Widura. “Kiai benar-benar mengejutkan aku”
“Oh” sahut Kiai Gringsing “Maafkan aku. Aku kira kau
senang mendengar lecutan-lecutan itu. Coba Widura apakah
kau bisa berbuat seperti aku?”
Sebelum Widura menjawab, Kiai Gringsing itu sudah berdiri
dan diberikannya kepada Widura sebuah cambuk lembu yang
sederhana. Bertangkai bambu cendani dan ujungnyapun
dibuatnya dari anyaman bambu siladan pula.
Dada Widura bergetar karena itu. Ternyata orang yang
membunyikan lecutan-lecutan itu adalah Kiai Gringsing
dengan cambuk bambu yang sangat sederhana pula. Karena
itu, maka betapa kagumnya pemimpin laskar Pajang itu.
Bahkan dengan serta-merta terloncatlah pertanyaannya “Jadi
adakah Kiai tadi yang membunyikan cambuk itu berturut-turut
tiga kali?”
Kiai Gringsing itu tertawa. Jawabnya “Aku sedang bermainmain”
“Tetapi perbuatan Kiai itu ternyata telah menolong jiwaku”
sahut Widura.
“He” Kiai Gringsing terkejut. Katanya “Bagaimana itu terjadi.
Apa hubungannya bunyi lecutan itu dengan jiwamu?”
Widura telah mengenal Kiai Gringsing beberapa lama.
Karena itu maka iapun telah dapat mengerti seba sedikit

tentang sifat orang bertopeng itu. Maka jawabnya “Suara
lecutan itu telah menakut-nakuti orang yang akan
membunuhku”
“Kau akan dibunuh orang?” bertanya Kiai Gringsing itu.
Widura kini benar-benar mengumpat didalam hati. Ia tahu
benar bahwa Kiai Gringsing telah berbuat dengan sadar untuk
menolongnya. Namun terpaksa ia menjawab pula “Ya Kiai”
“Apakah persoalannya, sehingga seseorang berbuat
demikian jahatnya?” orang bertopeng itu bertanya
Widura menjadi ragu-ragu sejenak. Ingin ia mengutarakan
semua persoalan-persoalan yang menyumbat dadanya,
namun setelah ia bertemu dengan orang aneh itu, ia menjadi
ragu-ragu. Karena itu ia ingin menjajaginya, apakah pintu
terbuka baginya untuk menyatakan kesulitan-kesulitannya.
“Kiai” katanya “Aku ternyata mempunyai banyak persoalanpersoalan
disini. Persoalan didalam lingkungan sendiri dan
persoalan yang aku hadapi atas sisa-sisa laskar Jipang”
***
Widura benar-benar menjadi kecewa ketika tiba-tiba Kiai
Gringsing itu tertawa. Katanya “Kau benar bodoh Widura.
Bukankah di Sangkal Putung ada gurumu. Nah katakan
kepadanya kesulitan-kesulitanmu itu. Jangan kau katakan
kepadaku”
“Tetapi bukankah Kiai bertanya?” potong Widura.
“Marilah kita tidak mempersoalkan lagi tentang hal-hal yang
mengerikan. Aku takut mendengar perkara-perkara
pembunuhan. Sekarang coba, apakah kau dapat
membunyikan cambuk itu”
Sekali lagi Widura menarik nafas panjang. Panjang sekali.
Ditatapnya wajah yang bersembunyi dibalik topeng itu. Namun
yang tampak baginya tidak lebih dari wajah mayat dari kayu
yang menyelubungi wajah Kiai Gringsing itu.
Widura mengangkat alisnya ketika iapun mendengar orang
bertopeng itu menarik nafas dalam-dalam. Namun hanya
sesaat. Yang kemudian terdengar adalah kata-kata orang
bertopeng itu pula “Nah, cobalah”

Widura tidak dapat berbuat lain daripada mencoba
membunyikan cambuk itu. Dengan satu gerakan menyentak
sendal pancing ia mencobanya. Dan terdengarlah sebuah
lecutan yang keras, namun
hanya sekeras para
penggembala membunyikan
pecut-pecut mereka.
“Ternyata kau tidak
sepandai aku” berkata Kiai
Gringsing “Berikan cambuk itu”
mintanya.
Dengan hati yang kosong
Widura menyerahkan cambuk
bambu itu. Dan tiba-tiba sekali
lagi menggeletar suara
cambuk yang dahsyat. Dan
sekali lagi getaran yang
dahsyat pula menghantam
dada Widura. Untunglah ia
segera berhasil memusatkan kekuatan batinnya, sehingga
dadanya tidak meledak karenanya. Dengan penuh ketekunan
Widura kemudian mencoba menenangkan hatinya. Mencoba
meredakan getaran-getaran yang menghentak-hentak
jantungnya.
Ketika ia hampir berhasil terdengarlah suara Kiai Gringsing
tertawa. Katanya “Jangan marah Widura. Aku hanya bermainmain.
Agaknya kau terkejut karenanya”.
Widura yang menjadi jengkel itu tiba-tiba teringat pada besi
yang dibawanya. Besi yang hampir menjadi sebuah lingkaran.
Karena itu tiba-tiba ia berkata “Kiai, aku juga mempunyai
permainan. Apakah Kiai pernah bermain-main dengan
lingkaran ini?”
Suara tertawa Kiai Gringsing itupun terputus.
Diperhatikannya potongan besi ditangan Widura itu dengan
seksama.
Dilihatnya sepotong besi yang melengkung, sehingga
kedua ujung dan pangkalnya hampir bertemu.
“Permainan apakah ini?” bertanya Kiai Gringsing.

Widura kemudian memberikan potongan besi itu kepada
Kiai Gringsing sambil berkata “Permainan yang dibawa oleh Ki
Tambak Wedi”
Kiai Gringsing menerima sepotong besi itu sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia bertanya
“Permainan aneh. Bagaimanakah Ki Tambak Wedi itu
bermain? Dilemparkan atau diguling-gulingkan?”
Sekali lagi Widura mengumpat didalam hati. Namun Widura
pun menyadari, bahwa ada sesuatu yang tersembunyi dibalik
sikap Kiai Gringsing yang dibuat-buat itu. Meskipun demikian,
ia menjawab “Tidakkah Kiai pernah bermain-main dengan
benda-benda yang demikian? Aku sangka orang-orang tua
suka bermain-main dengan potongan-potongan besi demikian
seperti Ki Tambak Wedi. aku sendiri tidak tahu, apakah yang
menyenangkan Ki Tambak Wedi namun ia membuat
lingkaran-lingkaran semacam itu”
Kiai Gringsing itupun menggeleng. Jawabnya “Aku tidak
pernah bermain-main dengan benda-benda semacam itu.
Inilah”
Sekali lagi Widura menjadi kecewa. Ia ingin mengatakan
kepada Kiai Gringsing bahwa kekuatan Ki Tambak Wedi itu
telah berhasil melengkungkan besi itu. Namun sebelum ia
berkata apaun, dilihatnya Kiai Gringsing melemparkan besi itu
kearahnya sambil berkata “Terimalah”
Dengan gerak naluriah Widura melangkah kesamping.
Potongan besi itu tepat mengarah kemata kakinya. Karena itu
ia harus menghindarinya. Namun ketika kemudian ditatapnya
potongan besi yang kini tergeletak disampingnya, kembali
dadanya bergoncang dahsyat sekali. Ia menjadi lebih terkejut
lagi dari pada saat ia melihat besi melengkung itu dilemparkan
dibawah kakinya, oleh Ki Tambak Wedi. dengan dada yang
bergolak, tanpa sesadarnya Widura memungut potongan besi
itu. Dan dengan tangan gemetar ia memeganginya. Namun
potongan besi itu kini telah lurus kembali. “Alangkah
dahsyatnya!” katanya didalam hati. “Meluruskan potongan besi
ini dengan tangan jauh lebih sulit daripada
melengkungkannya. Tetapi orang bertopeng itu telah
melakukannya”

Sebelum getaran didalam dadanya itu mereda,
terdengarlah Kiai Gringsing itu berkata “Nah Widura, kalau kau
bertemu sekali lagi dengan Ki Tambak Wedi, tanyakanlah
kepadanya. Apakah yang menarik hatinya untuk bermain-main
dengan besi-besi semacam itu. Apakah besi-besi semacam itu
pulalah yang dipakainya sebagai gelang ditangan atau
kakinya? Aku sendiri tidak senang bergelang dan berbinggel
dikaki. Apakah bergelang akar atau besi sekalipun”
Kini Widura telah berhasil menenangkan dirinya dari
ketakjubannya. Meskipun demikian, kekagumannya kepada
orang bertopeng itu menjadi bertambah-tambah. Katanya
“Kiai, ternyata Kiai lebih pandai bermain dengan potonganpotongan
besi daripada Ki Tambak Wedi”
“He?” orang bertopeng itu terkejut “Apakah aku bermainmain
dengan besi itu?”
“Kiai telah berhasil meluruskannya “sahut Widura. “Aku
menjadi takjub ketika aku melihat Ki Tambak Wedi dengan
tangannya berhasil melengkungkan potongan besi itu. Aku
kagum akan kekuatan yang tersimpan didalam tangannya.
Tetapi kini, ternyata Kiai dapat pula berbuat demikian. bahkan
lebih mentakjubkan lagi. Bukankah meluruskan besi itu lebih
sulit dari melengkungkannya?”
Terdengarlah kemudian Kiai Gringsing itu tertawa terkekehkekeh.
Diantara derai tawanya itu terdengar ia berkata “Kau
memuji aku Widura. Aku menjadi senang sekali karenanya.
Apakah kau sudah kawin?”
Pertanyaan itu benar-benar tak diduganya. Karena itu
Widura menjadi bingung, sehingga Kiai Gringsing itu
mendesaknya “He Widura, apakah kau sudah kawin?”
“Sudah Kiai” jawab Widura.
“Sudah punya anak?”
“Sudah Kiai, seorang”
“Sayang” berkata orang bertopeng itu masih dalam derai
tertawanya “Kalau belum, kau akan aku ambil untuk menantu
meskipun aku tidak punya anak perempuan”
Kembali Widura menarik nafas dalam-dalam sambil
mengumpat didalam hati. Namun ia berdiam diri. Dibiarkannya
Kiai Gringsing berkata sekehendak hatinya. Namun ia masih

dicengkam oleh kekaguman pada orang itu. Orang yang
dengan suara lecutan yang dahsyat telah memperpanjang
umurnya, dan dengan kedua tangannya, tanpa dilihatnya telah
berhasil meluruskan besi yang melengkung itu. “Kalau
demikian” katanya dalam hati, “Apakah dugaan Ki Tambak
Wedi tidak keliru? Ki Tambak Wedi menanggap bahwa tidak
ada orang sakti selain dirinya didaerah ini. Bagaimanakah
dengan orang bertopeng ini? Orang yang namanya sama
sekali tak dikenal selain olehku dan Agung Sedayu”
Tetapi Widura kemudian terkejut ketika dikejauhan
terdengar suara ayam jantan berkokok bersahut-sahutan.
Ketika ia memandang ketimur, membayanglah warna-warna
semburat merah diatas garis cakrawala.
“Hampir fajar” desisnya.
Kiai Gringsing itupun menengadahkan wajahnya. kemudian
katanya “Ya, hampir fajar. Aku harus segera kembali sebelum
terang tanah. Orang akan menyangka aku sebagai penari
topeng yang kesiangan”
“Kenapa Kiai pakai topeng?” tiba-tiba saja terluncur
pertanyaan itu dari mulut Widura.
Kiai Gringsing tiba-tiba terpaku pula ditempatnya.
Diawasinya wajah Widura dengan tajamnya. Namun tanpa
menjawab pertanyaan itu, Kiai Gringsing melangkah
meninggalkan Widura seorang diri.
Widura mengawasi langkah Kiai Gringsing dengan hati
yang berdebar-debar. Tiba-tiba saja keinginannya untuk
mengetahui siapakah sebenarnya orang bertopeng itu
melonjak-lonjak didalam dadanya. Sehingga tiba-tiba ia
meloncat sambil berteriak “Kiai, berhentilah”
Kiai Gringsing itupun berhenti. Ketika ia berpaling,
dilihatnya Widura meloncati parit dan berlari kearahnya “Aku
ingin tahu, siapakah Kiai sebenarnya”
“Jangan” jawab Kiai Gringsing. “Kelak akan sampai
saatnya, kau tahu siapakah aku, sekarang belum”
“Tidak” jawab Widura. “Aku ingin tahu sekarang”
“Jangan” berkata Kiai Gringsing seperti orang yang
ketakutan. Ketika ia melihat Widura menjadi semakin dekat,
tiba-tiba Kiai Gringsing itupun berlari pula, sambil berkata

“Jangan Widura. Kenapa kau masih saja akan menangkap
aku?”
Namun Widura tidak memperdulikannya. Bahkan ia
semakin mempercepat larinya. Ia benar-benar berusaha untuk
dapat menangkap Kiai Gringsing.
Demikianlah maka mereka berdua berlari berkejar-kejaran.
Kiai Gringsing itu berlari-lari disepanjang pematang, melingkari
gunung Gowok dan berputar-putar. Meskipun demikian,
Widura belum berhasil menangkapnya. Bahkan jarak mereka
semakin lama menjadi semakin jauh.
Akhirnya, Widura itupun tertegun sendiri. Kiai Gringsing itu
seakan-akan lenyap begitu saja, seperti asap dihembus angin.
Widura yang terengah-engah itu berdiri tegak seperti patung
diatas pematang yang basah. Ketika kemudian disapukannya
pandangan matanya berkeliling, dilihatnya dikejauhan, Kiai
Gringsing melambaikan cambuknya. Hanya lamat-lamat
terdengar suaranya “Besok kita bermain-main lagi digunung
kecil itu Widura”
Widura menarik nafas. Tiba-tiba saja ia menjadi geli sendiri
atas kelakuannya. Bahkan ia menjadi malu pula. Gumamnya
“Gila. Apakah aku telah kejangkitan penyakit Kiai Gringsing itu
pula? Untunglah tak seorangpun yang melihatnya”
Widura yang kemudian menyadari keadaannya itu, kini
melangkah diatas pematang menuju jalan kembali
kekademangan Sangkal Putung. Kadang-kadang ia tersenyum
sendiri. Dan berkali-kali iam merasa, bahwa hampir-hampir
saja ia kejangkitan penyakit Kiai Gringsing yang aneh itu.
Widura itupun kemudian mempercepat langkahnya. Ia tidak
mau kesiangan sampai dikademangan.
Warna-warna merah diujung timur semakin lama menjadi
semakin tegas. Ketika Widura menjadi semakin dekat dengan
induk desa Sangkal Putung, semakin riuhlah suara kokok
ayam jantan yang seakan-akan menyambutnya. Namun
Sangkal Putung tampaknya masih lelap dibalik kabut malam
yang seakan-akan awan yang keabu-abuan menyelimuti
raksasa yang kedinginan.
Widura itupun mempercepat langkahnya. Ia masih harus
sembahyang subuh, sebelum melakukan pekerjaannya yang

lain. Karena itu, ia harus sampai dikademangan sebelum hari
menjadi terang.
Ketika Widura itu hampir sampai diregol halaman
kademangan, ia menjadi terkejut. Dalam keremangan embun
menjelang fajar, dilihatnya beberapa orang bergerombol
dimuka regol itu, lebih banyak dari yang seharusnya.
Dan Widura menjadi berdebar-debar pula, ketika tiba-tiba ia
mendengar salah seorang yang melihatnya berteriak “Itulah Ki
Widura telah datang”
Widura itupun berjalan semakin cepat pula. Dimuka regol
itu dilihatnya Hudaya, Citra Gati, Sonya, Sendawa dan
beberapa orang lainnya. Hampir semua dari mereka itu,
memegang senjata mereka masing-masing.
“Apa yang terjadi?” bertanya Widura serta-merta.
Citra Gati ituppun kemudian melangkah maju. Sambil
menarik nafas dalam-dalam ia menjawab “Ternyata kami
hanya berprasangka”
“Tentang apa” bertanya Widura pula.
Citra Gati berpaling kearah Hudaya. Seakan-akan ia minta
pertimbangan sahabatnya itu. Namun Hudaya segera
memalingkan wajah kearah lain.
Tampaklah mulut Citra Gati berkumat kamit mengumpati
Hudaya. Namun yang kemudian dikatakannya adalah “Kami
berprasangka atas Sidanti “
“Kenapa dengan Sidanti?” bertanya Widura pula
Sekali lagi Citra Gati berpaling kearah Hudaya, namun
Hudaya masih memandang ke bintang-bintang yang masih
bergemerlapan dilangit. Karena itu ia menjawab sendiri “Kami
mengetahui bahwa kakang pergi bersama Sidanti, namun
kemudian Sidanti itu kembali seorang diri. Ketika ada diantara
kami yang menanyakan kepadanya, ia menjawab namun
sangat meragukan kami”
Widura itupun menarik nafas dalam-dalam. Dadanya benarbenar
berguncang mendengar kata-kata Citra Gati. Ia menjadi
berbangga bahwa anak buahnya itu demikian setia
kepadanya. Namun ia melihat bahaya yang besar pula yang
ada diantara mereka. Bahaya yang setiap saat dapat meledak.
Ternyata kawan-kawan Sidanti sudah demikian muaknya

kepada anak muda yang sombong itu, sehingga setiap
kesempatan, benturan-benturan diantara mereka agaknya
sulit untuk dihindarkan. Namun betapapun juga Widura harus
memperhitungkan kekuatan dibelakang Sidanti. Ki Tambak
Wedi. Kalau sampau terjadi sesuatu atas muridnya itu, maka
tidak mustahil Ki Tambak Wedi akan melakukan pembalasan
dendam yang mengerikan. Bahkan tidak mustahil bahwa Ki
Tambak Wedi dapat meminjam tangan Tohpati untuk
melakukannya. Kalau Ki Tambak Wedi kehilangan Sidanti,
maka Tohpati dapat diambilnya menjadi gantinya. Dan
keadaannya akan menjadi semakin kalut. Karena itu, selagi ia
belum menemukan cara penyelesaian yang sebaik-baiknya,
maka ia harus menghindarkan setiap bentrokan yang mungkin
terjadi.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang kawan-kawannya
itu masih berdiri diseputar Widura. Sehingga dengan demikian
Widura itu terpaksa membubarkannya “Nah, kembalilah kalian
ketempat kalian masing-masing. Kalian jangan terlalu
berprasangka kepada seseorang. Untunglah belum terjadi
sesuatu atas kalian. Ternyata aku sekarang aku kembali utuh”.
Namun didalam hatinya Widura itu berkata “Hampir saja aku
tidak kembali. Kalau terjadi demikian, maka apakah kira-kira
yang dapat timbul dikademangan ini? Apakah anak-anak ini
percaya bahwa aku terbunuh oleh Tohpati?
Tetapi Widura itu tidak berkata apa-apa lagi. Ia langsung
berjalan menyibak orang-orang yang berdiri dimuka regol itu
masuk kepringgitan.
Demikian ia membuka pintu pringgitan, ia melihat Agung
Sedayu masih duduk terpekur. Anak muda itu terkejut ketika
mendengar pintu bergerit, dan ketika berpaling, dan dilihatnya
pamannya kembali, tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Dan
tiba-tiba saja Agung Sedayu itu menarik nafas dalam-dalam.
Widura itupun segera pergi kepembaringannya,
melepaskan ikat pinggangnya dan meletakkan pedangnya.
“Apakah kau sudah bersembahyang?” terdengar ia
bertanya.
“Sudah paman” jawab Agung Sedayu.

Widura mengangguk-anggukkan kepalanya. Tanpa berkata
sepatahpun ia melangkah keluar kembali, pergi ke perigi.
Ketika sekali lagi ia menengadahkan wajahnya kelangit,
terdengar ia bergumam “Hampir fajar”
Baru setelah Widura itu selesai bersembahyang, maka
iapun segera duduk pula bersama-sama Sedayu. Widura itu
menggigit bibirnya ketika dilihatnya Sekar Mirah membawa
minuman hangat untuk mereka. Bukanlah kebiasaannya
uantuk menyuguhkan makan dan minum itu dahulu. Tetapi
sejak Agung Sedayu berada di kademangan itu, pekerjaan
yang biasanya dilakukan oleh pembantu-pembantunya, kini
telah diambil alih olehnya.
“Marilah paman” katanya “Mumpung masih hangat”
“Terima kasih Mirah” sahut Widura.
“Apakah kakang Sedayu tidak ingin berjalan-jalan?”
terdengar gadis itu bertanya pula kepada Agung Sedayu.
Agung Sedayu menggeleng lemah. Jawabnya singkat
“Tidak, Mirah”
“Ah, hari cerah. Apakah kakang dapat mengantarkan aku
kewarung sebentar?” ajak gadis itu.
Sekali lagi Sedayu menggeleng.meskipun sebenarnya ingin
juga ia pergi, namun ia tidak berani melakukannya. Karena itu
jawabnya “Tidak Mirah. Aku sedang sibuk disini”
Sekar Mirah menjadi kecewa. Ditatapnya wadah Widura
seakan-akan ia minta ijin untuk Sedayu. Namun Widura itu
menundukkan wajahnya, merenungi air jahe panas
dihadapannya. Meskipun demikian Sekar Mirah itu masih
mencoba memaksanya, katanya “Aku harus berbelanja untuk
kalian, namun aku takut seandainya aku bertemu dengan
Sidanti dijalan”
Widura kini mengangkat wajahnya. Dilihatnya Agung
Sedayu menjadi bingung untuk menjawab pertanyaan Sekar
Mirah itu. Maka Widura itupun berkata “Mirah, jangan takut
kepada Sidanti. Anak itu bukanlah anak yang jahat. Namun
kadang-kadang ia menjadi kecewa karena sikap Sedayu. Nah,
pergilah tanpa Sedayu. Aku menjadi jaminan, bahwa tak akan
terjadi sesuatu. Apabila kau pergi bersama Sedayu, maka

anak muda itu akan bertambah kecewa, dan ia akan dapat
berbuat aneh-aneh di Sangkal Putung ini.”
Wajah Sekar Mirah itu menjadi merah. Betapa ia menjadi
sangat kecewa mendengar kata-katanya Widura itu. Ternyata
menurut penilaiannya, Widura berpihak kepada Sidanti.
“Aneh” katanya dalam hati. “Bukankah Sedayu itu
kemenakannya sendiri?” Meskipun demikian ia tidak berkata
apapun lagi. Ketika sekali ia memandang wajah Sedayu,
dilihatnya wajah itu menunduk dalam-dalam. “Anak muda itu
menjadi kecewa pula” pikir gadis itu.
Perlahan-lahan Sekar Mirah pergi meninggalkan pringgitan.
Sekali-sekali ia berpaling. Namun baik Widura maupun Agung
Sedayu tidak lagi memandanginya. Meskipun demikian, Sekar
Mirah itu masih dapat menghibur dirinya “Sedayu tidak marah
kepadaku” katanya dalam hati. “Ia hanya takut kepada
pamannya”
Pagi itu, Sekar Mirah pergi kewarung seorang diri.
Sebenarnya iapun sama sekali tidak takut seandainya Sidanti
berbuat sesuatu atasnya. Apalagi hari telah berangsur terang,
dan disepanjang jalan telah menjadi riuh oleh orang-orang
yang pergi datang kewarung diujung desa.
Widura dan Agung Sedayu yang duduk dipringgitan itu
terkejut ketika mereka mendengar gerit pintu terbuka. Mereka
menggeser duduk mereka, ketika dari pintu itu muncul Ki
Demang Sangkal Putung. Wajahnya yang sudah mulai
ditumbuhi oleh garis-garis umur itu tampak tersenyum. sambil
duduk disamping Widura terdengar ia berkata “Hampir
semalam suntuk adi berkeliling malam ini”
Widura tersenyum sambil mengangguk-anggukkan
kepalanya “Ya kakang”
“Bukankah tidak ada sesuatu yang mencurigakan?”
bertanya ki Demang itu pula.
Widura menggeleng “Tidak kakang”
Ki Demang Sangkal Putung itupun kini menganggukanggukkan
kepalanya. Kemudian katanya “Anak-anak sudah
siap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan yang dapat
menarik hati mereka dan menghilangkan kejemuan. Apakah
anak-anak adi Widura berminat pula?”

“Ya” sahut Widura “Aku senang dengan rencana itu”
“Kita dapat segera menyelenggarakannya” berkata Ki
Demang itu pula.
Widura itupun tiba-tiba termenung. Apakah perlombaanperlombaan
itu akan dapat menggembirakan anak buahnya
dalam keadaan seperti kini. Ia pasti bahwa perlombaan
apapun Sidantilah yang akan memenangkannya. Namun
akhirnya ia menjawab “Baiklah kakang, meskipun kami
semuanya sudah tahu, siapakah yang akan menjadi
pemenangnya. Namun akan menyenangkan pula bagi mereka
yang akan menjadi pemenang kedua, ketiga dan seterusnya”
Mendengar keputusan Widura itu, Ki Demang
mengangguk-anggukkan kepalanya. Peristiwa itu pasti akan
menyenangkan anak-anak muda Sangkal Putung.
Perlombaan-perlombaan yang demikian akan menghilangkan
kejemuan, dan mereka merasa bahwa dengan perlombaanperlombaan
itu, mereka mendapatkan beberapa kebanggaan.
“Kapan perlombaan itu akan kita adakan?” bertanya ki
Demang.
Widura mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terngiang
ditelinganya kata-katanya Ki Tambak Wedi bahwa waktu yang
diberikan kepadanya hanyalah sepasar. Karena itu, maka
apapun yang akan dilakukan harus mempertimbangkan
kemungkinan-kemungkinannya dengan ancaman itu. Widura
percaya bahwa orang semacam Ki Tambak Wedi itu pasti
akan mampu melakukan apa saja yang dikatakannya.
Karena itu maka katanya “Adakah anak-anak Sangkal
Putung telah bersiap untuk melakukan perlombaan ini?”
“Sudah lama mereka mempersiapkan diri“ jawab Ki
Demang. “Mereka telah berlatih menggunakan panah, tombak
dan bermacam-macam alat untuk berlomba. Sodoran diatas
kuda dan bermacam-macam lagi”
“Bagus” sahut Widura. namun kemudian terlintas didalam
angan-angannya setiap sikap dan prasangka pada anak
buahnya. Apakah perlombaan-perlombaan yang demikian
tidak akan menimbulkan persoalan baru? Pedang, tombak dan
semacam itu akan sangat berbahaya bagi anak buahnya yang
sedang dibakar oleh ketidak puasan atas sikap satu dengan

yang lain. Karena itu, maka kemudian jawabnya ”Kakang. Kita
memilih segi-segi yang paling tidak berbahaya dalam
perlombaan ini. Terutama bagi anak buahku sendiri. Mereka
adalah prajurit-prajurit yang telah mengalami pertempuran,
sebenarnya pertempuran, beberapa puluh kali. Karena itu
perlombaan-perlombaan dengan pedang dan tombak tidak
akan menyenangkan mereka. Sekali pedang dan tombak
mereka terayun, maka tujuan mereka adalah melepaskan
nyawa lawan-lawan mereka. Sehingga dengan demikian
pedang-pedang rotan dan tombak yang berujung bola hanya
akan menimbulkan kekecewaan saja. Meskipun demikian,
biarlah mereka diberi kesempatan untuk bermain-main. Yang
paling baik adalah lomba mempergunakan panah. Sedang
bagi anak-anak Sangkal Putung biarlah mereka mendapat
kesempatan untuk mempergunakan segala macam senjata”
Ki Demang Sangkal Putung itupun menganggukanggukkan
kepalanya. Meskipun ia tidak langsung menangani
anak-anak Widura, namun terasa pula olehnya, sikap-sikap
yang amat menyulitkan bagi Widura untuk mengatasinya.
Karena itu maka jawabnya “Baiklah adi. Aku sependapat. Jadi
kapan kita adakan perlombaan ini?”
Sekali lagi Widura merenung. Harus sebelum waktu yang
sepasar itu tiba. Maka jawabnya “Secepatnya kakang”
“Besok?” bertanya Ki Demang.
“Apakah hal itu mungkin?” sahut Widura.
“Mungkin sekali bagi anak-anak Sangkal Putung” jawab Ki
Demang. “Tetapi bagaimana dengan anak buah adi?”
“Anak buahku bersiap setiap saat” sahut Widura,
“Jangankan perlombaan, bertempurpun siap”
Ki Demang tersenyum mendengar jawaban Widura.
katanya “Tentu. Hampir aku lupa, bahwa mereka adalah
prajurit-prajurit”
Widura pun kemudian tersenyum pula.
Ketika kemudian Ki Demang itu keluar dari pringgitan,
Swandaru telah berdiri tegak bertolak pinggang di pendapa.
Terdengar ia tertawa riuh sambil berkata “He paman Hudaya,
kenapa paman tidur disitu?”

Hudaya yang terkantuk-kantuk bersandar pohon sawo
terkejut mendengar sapa Swandaru. Kemudian sambil
menggeleng-gelengkan kepala seakan-akan hendak mengusir
kantuknya ia menjawab “Hem, semalam aku hampir tidak tidur
sekejappun”
“Kenapa? Apa paman sedang bertugas?”
Hudaya menggeleng “Tidak. Tetapi aku bermimpi buruk”
Swandaru tertawa pula “Mimpi apa?”
“Aku mimpi kau digigit anjing” jawab Hudaya.
Sekali lagi Swandaru tertawa terkekeh-kekeh. Tubuhnya
yang bulat itu terguncang-guncang. Beberapa orang yang
mendengar suara tertawanya berpaling kearahnya. Ketika
mereka melihat Swandaru, maka mereka tidak
memperdulikannya lagi. Anak itu selalu saja tertawa, seakanakan
ia tidak mempunyai pekerjaan lain, selain tertawa. Tetapi
sekali lagi orang-orang itu berpaling ketika suara Swandaru itu
tiba-tiba saja terputus. Dan orang-orang itulah yang kemudian
tertawa didalam hatinya. Menggelikan sekali. Swandaru itu
tiba-tiba saja menjadi tegang ketika melihat Sidanti lewat
dimukanya. Namun Sidanti itu berpalingpun tidak.
“Apa kerjamu disini Swandaru?” terdengar Ki Demang
bertanya.
Swandaru mengerutkan keningnya. Dengan lantang ia
menjawab seakan-akan sengaja supaya Sidanti
mendengarnya “Apapun yang aku lakukan, bukankah aku
berada dirumahku sendiri?”
“Hus” bentak ayahnya. “Jangan ngelindur. Pergi ke kawankawanmu.
Katakan, perlombaan diadakan besok ditanah
lapang dimuka bajar desa”
“He” Swandaru menjadi sangat gembira “Besok ayah?”
“Ya”
Swandaru itupun segera berlari menghambur. Langsung ia
berlari kebanjar desa dimana kawan-kawannya sering
berkumpul.
Tetapi selain Swandaru, anak buah Widurapun mendengar
kata-kata ki Demang itu. Mereka sudah mendengar pula
sebelumnya bahwa akan diadakan perlombaan bagi mereka.

Meskipun mereka senang juga menyelenggarakannya, namun
mereka tidak segembira anak-anak muda Sangkal Putung itu.
Sidantipun mendengar kabar itu. Disudut pendapa,
ditempatnya, ia tersenyum. Katanya dalam hati “Hem, siapa
yang akan mencoba melawan Sidanti? Dengan rotanpun aku
akan mampu membunuh, setidak-tidaknya melumpuhkan
orang-orang macam Hudaya, Citra Gati dan tikus-tikus bodoh
itu. Apalagi dengan tombak berujung bola. Atau barangkali
anak muda yang bernama Agung Sedayu itu?”
Hari itu Sangkal Putung benar-benar menjadi sibuk.
Seakan-akan di Sangkal Putung akan diselenggarakan suatu
peralatan yang maha besar. Anak-anak muda berjalan hilir
mudik simpang siur dengan tergesa-gesa.
Hudaya, Citra Gati dan beberapa orang lagi terpaksa ikut
sibuk dengan anak-anak muda itu. Mereka terpaksa memberi
mereka beberapa petunjuk tentang penyelenggaraan
perlombaan besok dimuka banjar kademangan.
***
Diberinya anak-anak muda itu petunjuk-petunjuk
bagaimana mereka harus membuat lingkaran-lingkaran
dengan kapur ditengah-tengah lapangan kecil itu. Bagaimana
mereka membuat garis batas bagi sodoran yang akan
diselenggarakan pula.
Semuanya dibuat dengan tergesa-gesa. Namun justru
karena itu anak-anak muda Sangkal Putung menjadi sangat
gembira. Sehari-harian mereka bekerja tampa mengenal lelah.
Apalagi mereka yang besok akan ikut bertanding. Tetapi justru
karena itu pula beberapa anak buah Widura yang ditugaskan
membantu penyelenggaraan itu mengumpat tak habishabisnya.
Mereka lebih senang bertempur daripada
merentang-rentang tali dipanas yang terik, membuat pagar
dan garis-garis batas, membuat orang-orangan untuk lomba
memanah. Dan masih terlalu banyak yang harus mereka
kerjakan.
Namun betapa sibuknya mereka, Sidanti sama sekali tidak
mau turun dari pendapa. Apalagi membantu mereka. Bahkan

hampir sehari-harian ia berbaring. Kadang-kadang ia
tersenyum- senyum sendiri sambil bergumam “Alangkah
bodohnya orang-orang itu. Mereka bekerja keras
mempersiapkan arena. Besok akulah yang akan mendapat
tepuk sorak dari penonton”
Meskipun demikian, Sidanti menjadi agak kecewa pula.
Setelah ia mendengar bahwa bagi mereka hanya diadakan
satu macam perlombaan saja. Memanah. Yang lain tidak.
“Biarlah” katanya dalam hati. “Akupun jemu pada
permainan anak-anak itu. Tetapi memanah adalah permainan
yang mengasyikkan”
Demikianlah hari itu telah dilampaui oleh anak-anak
Sangkal Putung dengan penuh kesibukan. Bahkan sampai
pada malam harinyapun mereka hampir tidak dapat tidur.
Mereka sibuk dengan berbagai persoalan didalam anganangannya.
Sedangkan mereka yang besok akan turun
kearena, masih mencoba untk menambah ketrampilannya.
Meskipun demikian, Widura tidak kehilangan kewaspadaan.
Dibiarkannya anak-anak Sangkal Putung sibuk dengan
persoalannya. Namun Widura tetap menempatkan orangorangnya
disegenap penjuru. Ia tidak mau dengan tiba-tiba
ditelan begitu saja oleh laskar Tohpati. Karena itu, setiap saat
ia tetap pada kesiapsiagaan yang sebenarnya. Bukan sekedar
bersiap untuk mengadakan perlombaan-perlombaan
semacam itu. Karena itu, maka malam itupun Widura telah
bersiap untk berkeliling kademangan. Kali ini ia tidak berjalan
bersama Sidanti, tetapi kembali ia pergi dengan Agung
Sedayu.
Agung Sedayu tidak pernah mengetahui apa yang telah
terjadi dengan pamannya. Dan ia tidak tahu pula, mengapa
semalam pamannya membawa Sidanti serta, dan kini ia harus
ikut pula kembali seperti malam-malam sebelumnya.
Seperti biasanya, setelah mereka berkeliling disemua
gardu-gardu perondan, maka mereka berdua pergi ketempat
mereka berlatih, gunung Gowok. Disepanjang perjalanan itu,
hampir tak ada yang mereka percakapkan. Widura tidak
memberitahukan apa saya yang pernah terjadi, dan Sedayu

tidak mau menyatakan pertanyaan-pertanyaan yang bergelut
didalam dadanya.
Namun kemudian, ketika mereka hampir sampai kepuntuk
kecil itu, terdengar Widura berkata “Sedayu, apakah kau tidak
ingin ikut serta berlomba?”
Agung Sedayu tidak segera menjawab. terjadilah suatu
kesibukan didalam dadanya. Ia merasa, bahwa iapun mampu
untuk melepaskan panah hampir dalam keadaan yang tak
mungkin dilakukan oleh orang lain. Namun, sekali lagi Sedayu
terpaksa menggigit bibirnya. Ia belum berhasil melampaui
dinding yan memagari jiwanya. Alangkah kerdilnya. Ia takut,
kalau ia tidak dapat melakukan dengan pantas, sehingga
orang-orang di Sangkal Putung akan kecewa terhadapnya. Ia
takut bahwa orang-orang itu akhirnya mengetahui tentang
dirinya. Bahwa ia tidak lebih dari seorang pengecut. Karena
kebimbangan dan kecemasan yang bercampur baur didalam
dadanya, Sedayu masih tetap berdiam diri.
“Sedayu” akhirnya terdengar pamannya berkata “Aku telah
mencegah dilakukannya perlombaan-perlombaan segala
macam jenis. Aku mencoba untuk menghindarkan setiap
persoalan yang akan mempertajam ketegangan dan
prasangka diantara anak buahku. Selain itu, aku telah
menghindarkan kemungkinan, bahwa orang-orang Sangkal
Putung dan anak buahku mengharap suatu pertandingan yang
dahsyat antara Sidanti dan adik Untara yang mereka banggabanggakan.”
Widura terdiam sesaat. Ketika ia berpaling,
dilihatnya Agung Sedayu berjalan sambil menekurkan
kepalanya. Kata-kata pamannya itu benar-benar telah
menampar jantungnya. Kalau benar-benar terjadi,
bagaimanakah sikap yang akan diambilnya. Apakah ia akan
melawan Sidanti? Alangkah mengerikan. Sidanti adalah
seorang anak muda yang perkasa, yang telah mampu
melawan Tohpati meskipun tidak sempurna. Karena itu,
meskipun dengan rotan sebesar ibu jari kaku, atau dengan
tongkat berujung bola rotan, Sidanti itu akan dapat
membunuhnya. Dan ia akan mati terkapar ditengah arena,
diiringi dengan teriakan dan umpatan-umpatan penuh
kekecewaan atas dirinya.

Tiba-tiba bulu kuduk Sedayu berdiri. Dan tiba-tiba pula ia
menjawab “aku tidak ikut dalam perlombaan apapun paman”
Widuralah yang kini terdiam. Kalau Agung Sedayu itu sama
sekali tidak turut, maka akan timbullah berbagai pertanyaan
diantara anak buahnya. Karena itu ia berkata “Sedayu,
bukankah kau masih pandai melepaskan panah?”
Mendengar pertanyaan pamannya itu sekali lagi Agung
Sedayu terdiam. Sehingga terdengar Widura mendesaknya
“Sedayu, bukankah kau masih pandai memanah? Mungkin
kau dapat ikut dalam perlombaan itu sehingga kau akan dapat
memenangkannya”
Berbagai persoalan kini saling mendesak didalam dada
Agung Sedayu. Apakah sebenarnya yang ditakutinya dalam
perlombaan memanah? Kalah atau menang, maka ia tak akan
menderita sakit karenanya. Namun tiba-tiba Agung Sedayu itu
menjadi ngeri membayangkan akibat dari perlombaan itu.
Kalau ia kalah, maka orang akan sangat kecewa kepadanya,
namun apabila ia memenangkan perlombaan itu dan
mengalahkan Sidanti, maka jangan-jangan anak muda yang
perkasa itu mendendamnya.
Karena itu akhirnya Agung Sedayu menjawab “Aku tidak
ikut paman”
“He” Widura menjadi semakin tidak mengerti. “Perlombaan
memanahpun kau tidak berani?”
“Aku sedang berpikir tentang akibatnya. Kalau aku menang
atas Sidanti, maka jangan-jangan Sidanti menjadi semakin
bersakit hati” jawab Sedayu.
“Hem” terdengar Widura menggeram. Hampir ia tidak dapat
menahan kejengkelannya. Seandainya ia tidak mengingat
bahwa anak itu adalah anak kakaknya perempuan, maka
Sedayu pasti sudah dipukulnya dan dipaksanya untuk berbuat
sesuatu. Atau malahan sudah dipaksanya untuk bertempur
melawan Sidanti. Atau anak itu telah lama diusirnya dari
Sangkal Putung. Tetapi apa boleh buat. Namun anak itu
benar-benar telah memusingkan kepalanya, meskipun kali ini
alasannya bisa juga dimengerti.
Akhirnya mereka sampai juga digunung Gowok. Dengan
penuh kejengkelan Widura membawa Agung Sedayu dalam

satu latihan. Karena itu maka apa yang dilakukan Widura,
hampir merupakan pertempuran yang sebenarnya.
Tetapi alangkah bodohnya Sedayu. Ia tidak dapat mengerti
hati pamannya, sehingga ia tidak menyangka bahwa
pamannya kali ini ingin mencobanya, supaya sekali-sekali ia
mengalami suatu keadaan seperti yang harus dialami oleh
setiap laki-laki. Sedayu hanya menganggap bahwa pamannya
telah menuntunnya dalam suatu tingkatan yang lebih maju dari
yang biasa dilakukannya. Maka karena ia takut bahwa
pamannya akan marah kepadanya, seandainya ilmunya tidak
maju-maju juga, maka Agung Sedayu itupun kemudian
mencoba melayani pamannya dengan sepenuh tenaga pula.
Demikianlah maka Widura melepaskan kejengkelan hatinya
pada latihan itu. Serangannya datang bertubi-tubi. Ia ingin
melihat apa yang dilakukan Agung Sedayu, apabila tubuhnya
benar-benar terkena oleh serangannya.
Tetapi sekali lagi Widura itu mengumpat tak habis-habisnya
didalam hatinya. Demikian ia memperketat serangannya,
maka pertahanan Agung Sedayupun mejadi semakin rapat.
Bahkan untuk menyenangkan hati pamannya, sekali-sekali
Sedayu berhasil menyerangnya pula dengan seranganserangan
yang kadang-kadang membingungkannya. Dalam
keadaan yang demikian itu, maka Agung Sedayupun telah
memeras hampir segenap kemampuannya. Kemampuan yang
pernah dipelajarinya dari kakaknya, dari ayahnya dan dari
pamannya itu. Sebenarnyalah Agung Sedayu bukanlah
seorang anak yang kerdil dalam ilmunya, seperti kekerdilan
jiwanya. Semakin keras serangan-serangan yang dilancarkan
oleh pamannya itu, semakin heranlah dada Widura dibuatnya.
Betapa serasinya Agung Sedayu memadukan unsur-unsur
gerak yang diwarisi dari Ki Sadewa lewat kakaknya, lewat
ayahnya itu sendiri atau lewat dirinya dengan unsur-unsur
gerak yang pernah dilihatnya dan dihayatinya dalam latihanlatihan
melawan Kiai Gringsing di gunung Gowok itu.
“Aneh” berkata Widura didalam hatinya. “Kalau hati anak ini
sebesar hati kakaknya, bukankah ilmunya tidak terpaut
banyak dari ilmu yang aku miliki?”

Namun Widura itu tidak berkata apapun. Dipercepatnya
setiap geraknya dan bahkan kini Widura telah sampai kepada
puncak ilmunya. Namun Sedayu itu masih melawannya
dengan gigih. Bahkan kadang-kadang anak muda itu mampu
melakukan hal-hal yang tak pernah dimengertinya
sebelumnya.
Selain dari geraknya yang cepat dan cekatan, ternyata
tenaga Agung Sedayupun cukup kuat pula. Apabila sekalisekali
terjadi benturan diantaranya, maka terasa juga tubuh
pamannya itu bergetar. Bahkan apabila serangan-serangan
Widura itu berhasil mengenainya, maka Sedayu itupun hanya
berdesis, namun kemudian seakan-akan anak muda itu tak
merasakan sesuatu.
Dan ia mampu untuk bergerak kembali dengan lincahnya,
selincah burung seriti menangkap mangsanya diudara.
Namun betapa Agung Sedayu berjuang mempertahankan
dirinya, tetapi Widura memiliki pengalaman yang jauh lebih
besar daripadanya. Sehingga lambat laun, terasa juga
tekanan-tekanan Widura menjadi semakin mendesak. Tangan
Widura itu semakin lama menjadi semakin sering menyentuh
tubuhnya. Meskipun tidak ditempat-tempat yang berbahaya,
namun sentuhan-sentuhan itu terasa sakit-sakit juga.
Widura melihat keadaan itu. Justru Karena itu ia
memperkuat serangannya. Ia ingin tahu, batas tertinggi dari
ilmu kemenakannya.
Tiba-tiba latihan yang keras itupun terganggu. Dari atas
puntuk kecil itu, Widura dan Agung Sedayu mendengar suara
tertawa dengan nada yang tinggi. Segera mereka mengenal
suara itu, suara Kiai Gringsing. Bahkan kemudian Kiai
Gringsing itu tidak saja tertawa, tetapi ia kini bertepuk tangan
sambil memuji “Bagus Sedayu, ternyata muridmu itu menjadi
bertambah terampil juga akhirnya”
Gerak Widura itupun kemudian terganggu. Karena itu maka
kemudian ia melontar mundur sambil berkata “Sudahlah
Sedayu, kita hentikan dahulu latihan ini”
Mendengar kata-kata pamannya itu, Agung Sedayu
menjadi bergembira. Sebenarnya telah agak lama ia menahan
diri supaya ia tidak mengecewakan pamannya itu.

Dengan demikian latihan yang berlangsung dengan
serunya itu terhenti. Dengan menganggukkan kepalanya
Widura berkata kepada Kiai Gringsing “Selamat malam Kiai”
“Kenapa latihan ini berhenti?” kata Kiai Gringsing tanpa
menghiraukan sapa Widura.
Widura menarik nafas. Jawabnya “Latihan ini telah
berlangsung lama. Kami telah sama-sama lelah”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya.
Gumamnya “Syukurlah kalau kau selalu tekun dengan latihanlatihan
itu Widura. Mudah-mudahan pada suatu saat kau
dapat menandingi Topati”
“Mudah-mudahan Kiai” sahut Widura. Tetapi Widura itu
kemudian terkejut bukan buatan ketika Kiai Gringsing itu
berkata “Ternyata Tohpati itu benar-benar seperti hantu. Baru
saja aku melihat ia berjalan mendekat tikungan disebelah”
“He” bertanya Widura tersentak “Adakah Kiai melihatnya
ditikungan itu?”
Kiai Gringsing mengangguk “Ya” jawabnya. “Ia berjalan
bersama dua orang pengawalnya”
“Jadi apakah mereka melihat kita berlatih disini?” bertanya
Widura pula.
“Aku kita tidak” sahut Kiai Gringsing “Kalau demikian
barangkali kalian telah menjadi mayat dibawah gunung Gowok
ini”
“Hem” Widura menarik nafas dalam-dalam. “Setan itu
benar-benar berbahaya’
Dalam pada itu Widura menjadi gelisah karenanya.
Kedatangan Tohpati benar-benar berbahaya. Ia akan dapat
mendatangi setiap gardu dan membunuh segenap isinya.
Namun apabila demikian, maka pasti telah didengarnya tanda
bahaya. Tetapi agaknya Tohpati itu hanya sekedar lewat, dan
ingin mengetahui keadaan Sangkal Putung. Tiba-tiba ia
menjadi berdebar-debar karenanya. Mungkin Tohpati telah
mendengar tentang perlombaan yang akan diadakan besok
“Gila” Widura mengumpat didalam hatinya. “Aku telah
melakukan hal-hal yang aku sangka baik sekali. Aku hanya
memberi waktu persiapan penyelenggaraan satu hari saja,
supaya kabar ini tidak tersiar jauh. Namun agaknya hantu itu

telah mendengarnya pula”. Kembali berbagai persoalan telah
menyesakkan dada Widura. persoalan antara laskarnya
dengan laskar Tohpati, persoalan antara orang-orangnya
sendiri, persoalan Sidanti dan gurunya Ki Tambak Wedi,
hubungan yang menyedihkan antara Sidanti dan Sedayu. Dan
segala macam persoalan itu setiap kali memukul-mukul
otaknya sehingga kepalanya itu akan pecah karenanya. Dan
kini Tohpati itu telah siap untuk menerkamnya.
Dalam kegelisahannya itu Widura hampir tak dapat
menahan diri ketika ia mendengar Sedayu berkata dengan
gemetar “Paman, marilah kita kembali kekademangan”
“Kenapa?” bentak Widura.
Ketika ia berpaling, ia melihat betapa sikap Agung Sedayu
menjadi sangat gelisah. Tetapi Widura itu tahu benar, bahwa
anak itu sama sekali tidak gelisah memikirkan Sangkal Putung
seperti dirinya, namun anak itu menjadi gelisah karena
ketakutan. Widura itu menjadi marah ketika ia mendengar
Agung Sedayu berkata dengan jujur “Paman, apakah yang
akan terjadi dengan kita kalau Macan Kepatihan itu nanti
mengetahui kehadiran kita disini?”
“Persetan dengan Macan Kepatihan” sahut Widura. Namun
kata-kata Widura itu terputus oleh kata-kata Kiai Gringsing
“Widura, jangan terlalu sombong. Gurumu itu tahu benar
tingkatan ilmumu. Kau belum waktunya melawan Tohpati
seorang lawan seorang, kalau kau tidak mau membunuh diri.
Nasehatnya itu harus kau turut. Sikap berhati-hati itulah yang
akan membawamu kejalan keselamatan”
“Aku bukan pengecut” teriak Widura. “Aku akan berkeliling
kademangan sekali lagi. Aku akan memeringatkan setiap
gardu peronda, bahwa bahaya berada diujung hidung mereka”
Dada Sedayu itu menjadi semakin bergetar. Pamannya
akan mengadakan pengamatan sekali lagi atas gardu-gardu
peronda. Bukankah dengan demikian kemungkinannya untuk
bertemu dengan Tohpati itu semakin besar. Disudut-sudut
desa, di prapatan-prapatan ditengah sawah, atau ditikungantikungan
yang sepi. Namun ia melihat bahwa pamannya
menjadi marah kepadanya. Karena itu betapa Agung Sedayu
mengeluh didalam hatinya.

Yang kemudian terdengar adalah kata-kata Kiai Gringsing
sambil tertawa “He kau benar-benar berani Widura, seperti
kau berani menentang maut melawan Ki Tambak Wedi”
Tiba-tiba pandangan mata Widura itupun terbanting diatas
rerumputan liar dibawah kakinya. Teringatlah ia kepada
pertolongan yang pernah diberikan oleh Kiai Gringsing malam
kemarin. Kini orang yang menolongnya itu memeringatkannya,
supaya ia tidak melawan Tohpati itu seorang lawan seorang.
Karena itu ia menyesal atas kekasarannya. Maka katanya ke
sambil menganggukkan kepalanya “Maafkan aku Kiai”
“He” sahut Kiai Gringsing. “Kenapa kepadaku. Seharusnya
kau minta maaf kepada gurumu itu”
Sekali lagi Widura mengumpat didalam hatinya. Namun
katanya “Ya ya. Aku akan minta maaf kepadanya”
“Bagus” berkata Kiai Gringsing. “Kau harus selalu menuruti
nasehat gurumu. Dirumah, gurumu pasti akan memberimu
beberapa petunjuk, mungkin tentang persiapan Tohpati itu.
Mungkin tentang hal yang lain. Namun adalah perlu kau
dengar seandainya gurumu itu memerintahkan kepadamu
untuk mempersiapkan diri. Seluruh pasukan. Bukan seorang
Widura yang sombong. Serangan itu tidak terlalu lama akan
terjadi. Tetapi Tohpati itu tak akan berbuat apa-apa malam ini.
Nah, selamat malam. Aku tidak sempat bermain-main malam
ini. Besok aku akan nonton perlombaan yang kau adakan”
Dada Widura berdesir mendengar kata-kata Kiai Gringsing.
Namun ia tidak mendapat kesempatan lagi untuk menanyakan
sesuatu. Karena Kiai Gringsing itu kemudian melangkah pergi
dengan langkah seenaknya meninggalkan Widura dan Agung
Sedayu yang terpaku ditempatnya.
Tetapi, tergoreslah didalam jantungnya, peristiwa-peristiwa
yang pasti akan menggoncangkan lagi kehidupan Sangkal
Putung. Besok atau lusa Tohpati akan menyerangnya kembali.
Apa yang dikatakan oleh Kiai Gringsing itu tidak lebih dan
tidak kurang dari suatu peringatan kepadanya dan
pemberitahuan tentang persiapan-persiapan yang dilakukan
oleh Tohpati. Namun ia tidak perlu mencemaskan hari besok.
Kata-kata orang bertopeng itu, bahwa besok ia akan
menonton perlombaan yang akan diadakannya, telah agak

memberinya ketenangan, meskipun ia tidak dapat
menggantungkan nasibnya kepada orang itu. Mudah-mudahn
ia masih berhasil menghimpun kekuatan Sangkal Putung,
yang setidak-tidaknya masih seperti pada saat perlawanannya
dahulu ketika Tohpati menyerangnya. Mudah-mudahn tenaga
Sidanti masih dapat dipergunakannya sebaik-baiknya. Tetapi
bagaimana dengan besok lusa, tiga hari, empat hari dan lebihlebih
lima hari lagi? Bagaimanakah nasib Sangkal Putung
apabila Tohpati menyerang tepat pada saat Ki Tambak Wedi
memuntutnya? Widura menggeleng-gelengkan kepalanya
ketika terlintas didalam benaknya, harapan bahwa Kiai
Gringsing akan menolongnya kembali apabila Ki Tambak
Wedi akan membunuhnya. “Tidak” katanya dalam hati. “Aku
tidak akan memperhitungkan setiap pertolongan yang belum
pasti akan datang. Aku harus memperhitungkan kekuatan
sendiri” katanya pula. Bahkan kemudian timbullah didalam
benaknya suatu pikiran untuk mengirimkan utusan ke Pajang.
Keadaan Sangkal Putung benar-benar gawat. Biarlah salah
seorang perwira yang terpercaya akan datang untuk melawan
Tohpati lebih-lebih Ki Tambak Wedi. “Hem” gumamnya
“Apabila besok aku belum menemukan cara lain, biarlah
seseorang mengharap kedatangan Ki Gede Pemanahan
sendiri menyelesaikan persoalan Ki Tambak Wedi, atau bekas
perwira nara manggala Demak, guru loring pasar.”
Widura menarik nafas dalam-dalam. Itulah keputusannya
untuk sementara. Ketika ia memandang wajah Sedayu,
timbullah kembali kejengkelannya terhadap anak itu. Apabila
anak itu memiliki keberanian, mereka berdua pasti akan dapat
membunuh Tohpati meskipun dengan perjuangan yang berat.
Sebab ilmu Tohpati itu sendiri tidak terpaut banyak diatas
ilmunya. Namun Sedayu itu hanya pandai mengeluh, gemetar
dan ia pasti akan mati ketakutan sebelum tangannya mampu
menarik pedang dari sarungnya.
Karena itu Widura tidak berkata sepatahpun kepada
kemenakannya itu. Langsung ia memutar tubuhnya dan
melangkah kembali kekademangan.
Sedayupun kemudian cepat-cepat mengikutinya. Namun
kini terasa olehnya bahwa pamannya itu benar-benar marah

kepadanya. Karena itu maka Sedayupun benar-benar menjadi
bersedih hati. Ia tidak berani berkata apapun kepada
pamannya selain berjalan saja dibelakangnya.
Disepanjang jalan itu Widura sempat juga memikirkan
kemenakannya itu. Bagaimana caranya, sehingga ia dapat
menguasai berbagai unsur gerak dan dapat menyusunnya
dalam satu gabungan yang serasi. Anak itu tidak pernah
berbuat sesuatu selain duduk terpekur dan bermain-main
dengan rontal dan pensil. Tak pernah dilihatnya Agung
Sedayu berlatih didalam pringgitan yang tak begitu luas itu.
Dan tak pernah dilihatnya Agung Sedayu meninggalkan
pringgitan selain apabila ia pergi mandi dan sesuci diri. Namun
ia tidak mau menanyakannya. Ia hanya ingin mencari
pemecahan dengan caranya sendiri atas teka teki itu.
Demikian mereka sampai dikademangan, Widura langsung
melepaskan pakaiannya dan merebahkan dirinya
dipembaringannya. Tak sepatah katapun yang diucapkan
kepada Agung Sedayu sehingga Agung Sedayu itupun
menjadi semakin bersedih. Sekali-sekali ia sempat juga untuk
menilai diri. Dan kadang-kadang timbul juga pikiran
dikepalanya untuk besok mengikuti pertandingan memanah.
“Paman marah karena aku tak ikut serta” katanya dalam hati.
“atau karena hal-hal yang lain, atau karena keseluruhannya”.
Namun ia kembali menjadi ngeri membayangkan akibat dari
perlombaan itu. “Ah” katanya dalam hati pula “Biarlah paman
marah kepadaku. Ia tidak akan berbuat apa-apa selain
berdiam diri. Tetapi akan berbedalah sikap Sidanti itu”
Sedayupun kemudian mencoba melupakan semua itu.
Karena kelelahan akhirnya iapun tertidur pula dengan
nyenyaknya.
Sebenarnya Widura belum juga tertidur. Ia berdiam diri, dan
memang ia munggu kemenakannya tertidur. Ia ingin tahu apa
saja yang ditulis oleh Sedayu dalam rontal-rontalnya. Apakah
ada hubungannya dengan kemajuan ilmunya yang pesat itu.
Perlahan-lahan Widura itu bangun, dan perlahan-lahan pula ia
membuka beberapa pakaian Sedayu yang diberikannya
olehnya. Didalam lipatan-lipatan pakaian itu ditemuinya

beberapa helai rontal yang pernah diminta oleh anak itu
daripadanya.
Demikian Widura membuka halaman pertama dari rontal
itu, demikian dadanya bergetar “Inilah sebabnya” gumamnya
seorang diri. Kini ia tahu benar, mengapa Agung Sedayu
dapat maju dengan cepatnya. Otak anak itu ternyata cerdas
pula dalam penelaahan ilmu tata bela diri. Didalam tubuhnya
ternyata tersimpan pula darah ayahnya yang menyalakan
keteguhan dan ketrampilan jasmaniah. Namun, sayang betapa
sayangnya. Hati anak itu belum terbuka. Dinding yang
mencengkam dirinya dalam bilik ketakutan belum dapat
dipecahkannya.
Jadi apa yang dilakukan oleh Sedayu selama ini, sama
sekali tidak menulis cerita-cerita atau tembang dan kidung.
Tetapi ia telah melukiskan beberapa unsur gerak.
Mencobanya menggabungkan unsur yang satu dengan yang
lain, dan mencoba melukiskan pula cara-cara untuk
mempertahankan diri dan mengelak dari serangan-serangan
yang keras.
Didalam rontal-rotal itu Widura melihat beberapa gambar
dengan garis-garis arah dari setiap gerakan. Digambarnya
beberapa macam unsur gerak, kemudian digambarnya
dibelakang gambar-gambar itu, sebuah gambar yang lain
dengan garis-garis arah untuk menggabungkan gambargambar
yang terdahulu.
“Hem” Widura menarik nafas dalam-dalam “Ternyata anak
ini melatih diri dengan angan-angannya selain latihan-latihan
yang kami adakan di gunung Gowok. Itulah sebabnya aku
sering melihat unsur-unsur gerak yang tak aku ketahui
darimana dipelajarinya”
Dan Widura itu tak jemu-jemunya melihat gambar-gambar
yang dibuat oleh Agung Sedayu. Suatu cara memperdalam
ilmu yang jarang ditemuinya. Namun ternyata Agung Sedayu
pandai juga menggambar. Gambar-gambar yang dibuatnya
ternyata sedemikian jelas. Sikap, gerak dan tujuan-tujuan dari
setiap gerakan sekaligus cara-cara untuk menghindarkannya.
Tetapi suatu hal yang tak dapat dilakukan oleh Agung
Sedayu. Yaitu melatih untuk percaya pada kekuatan dan

ilmunya. Betapapun Agung Sedayu mengalami kemajuan
yang pesat, namun ilmu itu seakan-akan pohon yang subur
namun tak berbuah.
Tiba-tiba timbullah pikiran didalam benak Widura. katanya
dalam hati “Ah, biarlah pada suatu kali, anak ini mengalami
pertentangan yang tak dapat dihindari dengan Sidanti. Aku
ingin melihat apa yang akan dilakukan. Tetapi apabila sekali
Agung Sedayu sempat mengayunkan tangan atau kakinya,
maka untuk melawan Sidanti itupun Agung Sedayu akan
dapat bertahan beberapa lama sampai saatnya aku
memisahkannya. Namun dengan demikian, setidak-tidaknya
perkelahian itu akan berkesan bahwa keduanya memiliki ilmu
yang seimbang. Ternyata gerak dan cara bertahan anak ini
mengagumkan juga. Apabila demikian, seterusnya Agung
Sedayu akan menjadi seorang yang jantan dan berani”
Kemudian dengan hati-hati pula rontal-rontal itu
dimasukkannya kembali ketempatnya. Dan dengan hati-hati
pula Widura itu berdiri dan berjalan kepembaringannya, dan
sesaat kemudian pemimpin laskar Pajang yang sedang
kebingungan itu tertidur pula.
Malam yang tinggal sepotong itu berjalan dengan
tenangnya. Tohpati yang benar-benar telah menyusup
kedalam dinding perondan laskar Pajang, sebenarnyalah tidak
berbuat sesuatu selain keinginannya untuk mengetahui
keadaan. Namun Macan Kepatihan itupun mengumpat di
dalam hatinya seperti Widura mengumpatinya. Katanya
kepada kedua pengawalnya “Paman Widura benar-benar
seperti setan. Dalam keadaan apapun peronda-perondanya
tak pernah berlengah hati. Apakah mereka tidak terpengaruh
oleh perlombaan yang akan diadakan besok? Sayang, aku
baru mendengar rencana perlombaan itu senja tadi, sehingga
aku tak sempat menyiapkan anak buahku. Seandainya aku
mendapat waktu dua tiga hari saja, maka pada saat-saat
perlombaan itu aku akan dapat menggulungnya lumat-lumat.
Kedua pengawalnya tak dapat menjawab lain daripada
menganggukkan kepala mereka. Sebab dengan mata kepala
mereka sendiri melihat dari kejauhan kesiagaan laskar Pajang
yang sedang bertugas di gardu-gardu peronda. Mereka

melihat beberapa orang dari mereka berjalan hilir mudik
dimuka gardu sambil memegang tombak atau pedang-pedang
mereka yang sudah telanjang.
“Tetapi” berkata Tohpati kemudian kepada pengawalnya
“mudah-mudahan setelah perlombaan itu berakhir, laskar
Sangkal Putung masih tenggelam dalam suasana itu,
sehingga meskipun sedikit mereka melupakan tugas-tugas
mereka sehari-hari. Mudah-mudahan mereka tidak mencium
gerakanku kali ini seperti beberapa waktu yang lalu sehingga
aku menjumpai kegagalan yang menyedihkan.
“Persiapan kita akan sangat mudah sekali diketahui orang,
sehingga petugas-petugas sandi Pajang segera menciumnya”
berkata salah seorang pengawalnya.
“Kita akan meninggalkan cara-cara yang pernah kita
lakukan “ jawab Tohpati “aku akan membawa kalian dan
orang-orang kita masuk ke dalam hutan. Semua kekuatan
yang terpencar harus kita tarik. Semuanya akan berkumpul di
dalam hutan yang akan aku tentukan. Dari sana kita akan
bergerak. Mudah-mudahan tak seorangpun yang
mengetahuinya, kecuali diantara kita ada pengkhianat atau
justru orang-orang dari petugas-petugas sandi Pajang yang
berhasil masuk kedalam lingkungan kita.”
“Kemungkinan itu kecil sekali” sahut pengawalnya.
“Kau benar” berkata Tohpati pula. “Alu mengenal anak
buahku satu per satu dengan baiknya. Nah, kalau demikian,
aku akan berbuat seperti paman Widura. Secepat-cepatnya
sebelum laskarnya terpencar kesegenap penjuru”
“Kapan kita adakan sergapan itu?” bertanya pengawalnya.
“Secepatnya” sahut Tohpati.
Kemudian mereka tidak bercakap-cakap lagi. Dengan hatihati
mereka berjalan didaerah perondan laskar Pajang.
Bahkan kadang-kadang mereka berhasil menyusup halamanhalaman
yang gelap dan mendekati tempat-tempat yang
penting serta gardu-gardu perondan. Dengan otak yang
cemerlang, Tohpati dapat mengingat-ingat daerah-daerah
yang sepi, yang dapat dilaluinya untuk langsung mencapai
jantung Sangkal Putung, meskipun masih diragukan apabila
Tohpati berjalan bersama dengan orang-orangnya dalam

jumlah yang besar. Namun Tohpati itu selalu mengulang-ulang
rencananya. Dan ini adalah kesalahan yang terbesar yang
dibuatnya.
***
Sejak ia menginjakkan kakinya didaerah Sangkal Putung,
rencana itu telah diucapkannya. Dan ia sama sekali tidak tahu,
bahwa seseorang yang sakti, dengan diam-diam
mengikutinya. Dan orang itu telah berhasil mendengar
sebagian dari rencananya. Orang itu adalah Kiai Gringsing.
Karena itulah maka Kiai Gringsing segera pergi kemudian
gunung Gowok. Ia takut apabila Widura dan Sedayu berada
disana, dan kemudian Tohpati itupun berjalan kesana pula.
Untunglah mereka tidak saling berpapasan. Apabila demikian
maka pertempuran tak dapat dihindarkan. Sedangkan Kiai
Gringsing tahu benar bahwa Widura pasti harus bekerja
sendiri melawan tiga orang yang jauh berada diatas
kemampuannya.
Dan semuanya itu telah berlalu. Widura telah tertidur
nyenyak dikademangan Sangkal Putung, dan Tohpatipun
telah meningggalkan daerah yang akan dijadikan buruannya.
Menjelang fajar, Sangkal Putung telah menjadi riuh. Anakanak
telah bangun. Kebih-lebih lagi, mereka yang akan ikut
serta dalam perlombaan-perlombaan. Mereka mengenakan
pakaian mereka yang sebaik-baiknya. Menghias senjatasenjata
mereka, dengan warna-warna yang beraneka. Bagi
mereka yang akan mengikuti sodoran, tidak saja pakaian
mereka sendiri yang mereka hias dengan berbagai keoncerkeloncer
kain beraneka warna, namun kuda-kuda merekapun
mereka hias sebaik-baiknya. Ujung-ujung tombak mereka
yang terbuat dari bola-bola kayu itupun mereka hiasi dengan
pita-pita berwarna. Ada pula diantara mereka yang membuat
kalung-kalung dari rangkaian-rangkaian bunga. Melati, menur
dan sebagainya. Mereka kalungkan rangkaian bunga itu
dilehernya, dileher kuda-kuda mereka dan pada senjatasenjata
mereka.

Demikianlah hari itu Sangkal Putung ditandai dengan
kesipbukan yang luar biasa. Hampir segenap penduduk
Sangkal Putung tumplak blak, mengunjungi lapangan dimuka
banjar desa. Mereka ingin menyaksikan anak-anak mereka,
adik-adik mereka atau suami-suami mereka yang ikut serta
dalam perlombaan-perlombaan itu. Ternyata hari itu
merupakan hari yang sangat menggembirakan. Namun
apabila ada diantara mereka yang mendengar bahwa
semalam Macan Kepatihan telah mengunjungi kademangan
itu, mungkin suasananya akan jauh berbeda.
Tetapi ternyata Widura mengetahuinya. Karena itu, justru ia
telah memperkuat setiap sudut kademangan. Dilengkapinya
gardu-gardu peronda itu dengan
kuda-kuda yang kuat dan
diperintahkannya untuk mengadakan
perondaan keliling dengan kuda-kuda
itu. “Jangan seorang atau dua orang”
pesannya kepada anak buahnya.
“Pergilah berempat. Pergunakan
kuda yang sebaik-baiknya dan
bawalah tanda-tanda bahaya yang
dapat kau bunyikan setiap saat dan
disetiap tempat”
Perintah itu agak mengherankan
bagi anak buahnya. Namun mereka
hanya menyangka bahwa karena
didaerah Sangkal Putung sedang
ada keramaian, maka penjagaanpun
harus diperkuatnya.
Demikianlah maka lapangan
dimuka banjar desa itupun menjadi penuh dengan manusia.
Beberapa anak-anak muda telah menaiki kuda masing-masing
dan berjalan melingkar-lingkar ditengah-tengah lapangan.
Beberapa orang diantaranya telah mencoba memacu kudanya
dari satu sudut ke sudut yang lain dengan tombak-tombak
mereka ditangan. Dan sekali-sekali telah terdengar pula sorak
sorai penonton, apabila mereka melihat seorang anak muda
yang tampan bermain dengan manisnya diatas punggung

kudanya. Tepuk tangan penonton itupun seakan-akan
meledak ketika mereka melihat Swandaru masuk kelapangan
dengan tombak ditangan, bumbung panah dilambung kudanya
dan sebuah busur yang besar menyilang dipunggungnya.
Demikian ia memasuki lapangan, disendalnya kendali kuda
putihnya, dan kuda itupun segera nyirig. Berjalan miring
dengan manisnya. Memang Swandaru itu benar-benar dapat
menguasai kudanya. Sekali lagi ia menarik kekang kudanya
sambil menyentuh perut kuda itu, dan kuda itupun segera
nyongklang, berlari keliling lapangan.
Laskar Widura yang akan mengikuti perlombaan itu telah
hadir pula. Namun bagi mereka perlombaan yang boleh diikuti
hanyalah perlombaan memanah. Meskipun demikian, untuk
melepaskan kejemuan mereka, banyak juga diantara mereka
yang mengikutinya.
Widurapun kemudian hadir pula dilapangan itu bersamasama
dengan Ki Demang Sangkal Putung. Dibelakang mereka
berjalan Sedayu dengan kepala tunduk. Ketika para penonton
melihat kehadiran mereka, kembali tepuk tangan dan sorak
mbata rubuh bergetar dilapangan itu. Namun perlahan-lahan
mereka dirayapi oleh berbagai pertanyaan didalam hati
mereka. Mereka tidak melihat Widura dan Agung Sedayu
membawa busur dan anak panah, sehingga kemudian mereka
menjadi kecewa. Terdengar salah seorang penonton berbisik
“Apakah pahlawan itu tidak akan turut serta dalam perlombaan
ini?”
Kawannya itu sebenarnya menjadi kecewa juga. Namun
untuk menghibur hatinya sendiri ia menjawab “Tak
sepantasnya ia ikut dalam perlombaan yang sekecil ini.
Mungkin ia akan ikut serta apabila perlombaan semacam ini
diadakan dialun-alun Pajang”
Kawannya yang bertanya itupun mengangguk-anggukkan
kepalanya. Jawaban yang memang masuk diakalnya.
Sesaat kemudian, Widura dan Ki Demang Sangkal Putung
beserta Agung Sedayu telah duduk ditempat yang telah
disediakan. Pada saat matahari mulai memanjat langit, maka
Widura segera membuka perlombaan itu. Dengan sebuah
kapak diputusnya tali yang mengikat pemukul bende disudut

lapangan. Kemudian seseorang yang telah ditentukan
memungut pemukul bende itu, dan dengan bunyi yang
berdengung-dengung bende itu bergema. Sekali, dua kali dan
kemudian tiga kali.
Dengan diiringi oleh tepuk tangan yang seakan-akan
memecahkan selaput telinga, maka perlombaan segera
dimulai. Beberapa orang anak buah Widura berjalan ketengah
lapangan, memimpin perlombaan-perlombaan bagi anak-anak
muda Sangkal Putung. Perlombaan yang pertama adalah
perlombaan ketangkasan bermain pedang. Namun bukan
sebenarnya pedang yang dipergunakan. Tetapi mereka
mempergunakan rotan dan perisai anyaman bambu.
Permainan ini benar-benar mengasyikkan dan
menegangkan. Beberapa anak-anak muda yang gagah telah
turut serta mengambil bagian. Berganti-ganti. Satu dua telah
terpaksa keluar dari lapangan dengan kepala tunduk.
Punggung dan dada mereka dilukisi oleh jalur-jalur merah biru.
Namun bagi mereka yang menang, jalur-jalur itu sama sekali
tidak terasa pedihnya.
Sejalan dengan terik matahari yang semakin menyengatnyengat
tubuh mereka, maka permainan itupun menjadi
semakin sengit. Bahkan kemudian mencapai puncaknya
ketika diarena itu tinggal dua orang yang berhadapan untuk
menentukan, siapakah diantara anak-anak muda Sangkal
Putung yang akan menjadi pemenang pertama dalam
perlombaan itu. Mereka adalah Swandaru Geni dan seorang
anak muda yang gagah, bertubuh tinggi besar, bernama
Wisuda.
Sejenak kedua anak muda itu, Swandaru dan Wisuda
saling berhadapan, maka tepuk tangan dan sorak sorai
membahana diudara Sangkal Putung.
Tiga orang anak buah Widura, Hudaya, Citra Gati dan
Sonya telah memimpin pertarungan yang sengit itu. Dengan
seksama mereka memperhatikan setiap gerak, setiap sabetan
rotan dan setiap sentuhan rotan itu ditubuh mereka. Pukulanpukulan
yang mendapat hitungan adalah pukulan-pukulan
yang mengenai tubuh dibagian atas perut tetapi dibagian
bawah leher.

Demikian pertarungan itu berjalan dengan serunya. Wisuda
bertubuh tinggi dan besar, sedang Swandaru lebih pendek
dan bulat. Meskipun demikian ternyata tenaga Swandaru jauh
lebih kuat dari tenaga lawannya. Apabila rotan-rotan mereka
berbenturan, tampaklah bahwa tenaga Swandaru selalu
berhasil mendorong tenaga lawannya.
Ketika bende berbunyi, maka pertarungan itupun
berhentilah. Suasana menjadi tegang ketika para penonton
menunggu Citra Gati mengumumkan pemenangnya. Dan
demikian Citra Gati maju selangkah, maka lapangan yang
penuh dengan manusia itu seakan-akan sama sekali tak
berpenghuni. Setelah mencocokkan hitungan masing-masing
maka berkatalah Citra Gati “Ternyata yang akan menjadi
pahlawan dalam permainan ini adalah anak muda yang bulat
pendek, bernama Swandaru”
Langit seakan-akan runtuh diatas mereka karena sorak
para penonton. Namun Swandaru tidak puas dengan sebutan
itu. Katanya membetulkan namanya “Sebutlah selengkapnya
paman, Swandaru Geni”
Citra Gati tersenyum. ketika ia mengulang nama itu, tak
seorangpun yang mendengarnya, karena suara riuh dari pada
penonton itu sendiri.
Sidanti yang melihat sambutan yang sedemikian hangatnya
atas pahlawan anak-anak muda Sangkal Putung itu
mencibirkan bibirnya. Katanya dalam hati “Swandaru itu pasti
akan menjadi bertambah sombong. Aku ingin sekali lagi
mengajarnya untuk merasakan bahwa apa yang dicapainya itu
belum semenir dibanding dengan ilmuku. Sayang tak ada
kesepatan bagi anak buah laskar Pajang untuk
melakukannya”
Perlombaan yang berikut adalah sodoran. Dengan duduk
dipunggung kuda mereka mempertunjukkan ketrampilam
mereka bermain tombak yang ujungnya dibuat dari bola-bola
kayu. Permainan ini tak kalah menariknya. Diantara sorak
kekaguman ada pula yang terpaksa menerima ejekan-ejekan
para penonton, karena sebelum mereka sempat
mempertunjukkan keahlian mereka, ternyata mereka telah
jatuh terpelanting dair kuda-kuda mereka.

Dalam perlombaan ini sekali lagi Swandaru merajai
lapangan dimuka banjar desa itu. Kuda putihnya seakan-akan
tahu benar apa yang harus dilakukan untuk membantu
tuannya. Dan karena itulah maka sekali lagi para penonton
menyorakinya sebagai pahlawan yang lengkap dari anak-anak
muda Sangkal Putung.
Ki Demang yang duduk disamping Widura itupun
mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia berbangga atas hasil
yang dicapai anaknya. Usahanya melatih dan menempa
anaknya tidaklah sia-sia. Mudah-mudahan untuk seterusnya
anaknya mendapat bimbingan dan latihan yang lebih baik
daripada apa yang pernah dicapainya.
Widurapun tampak tersenyum-senyum diantara sorak para
penonton. Namun sekali-sekali ia mengedarkan
pandangannya kesegenap sudut. Diantara perhatiannya atas
permainan-permainan itu, diam-diam ia berusaha untuk
melihat, apakah Kiai Gringsing berada diantara para penonton
yang sekian banyaknya. Tetapi Widura itu kemudian menjadi
kecewa. Adalah mustahil untuk menemukan seorang diantara
sekian banyak orang, apalagi orang itu belum dikenalnya.
Sudah tentu Kiai Gringsing tidak akan mengenakan
topengnya, dan sudah tentu pula ia tidak akan memakai kain
gringsingnya. Seandainya dapat dijumpainya seseorang
memakai kain gringsing, bukanlah jaminan bahwa orang itu
adalah Kiai Gringsing, sebab kain gringsing memang banyak
digemari orang.
Permainan yang terakhir adalah permainan yang paling
menggemparkan. Panahan. Dan panahan ini diikuti pula oleh
anak buah Widura. bahkan seorang anak muda yang sudah
lama dikagumi di Sangkal Putung turut pula mengambil
bagian. Sidanti. Namun para penonton itu menjadi kecewa
ketika mereka benar-benar melihat, bahwa Agung Sedayu
tidak ikut serta dalam perlombaan. Apa yang mereka nantikan,
dan juga sebenarnya dinantikan oleh anak buah Widura
sendiri, adalah pertandingan yang akan berlangsung seru
antara Sidanti dan Agung Sedayu. Namun mereka benarbenar
menjadi kecewa. Bahkan ada diantara mereka yang
mulai dirayapi oleh berbagai pertanyaan tentang Agung

Sedayu. Apakah sebenarnya anak muda itu mampu berbuat
sesuatu?
Swandaru dan Sekar Mirahpun menjadi kecewa pula
karenanya. Dengan wajah bersunguut-sungut Swandaru
menyelinap diantara mereka dan menggamit Agung Sedayu
pada lengannya. Katanya berbisik “Apakah tuan tidak ikut
serta?”
Dada Agung Sedayu berdesir. Namun kemudian dengan
lemahnya ia menggeleng. Katanya “Tidak Swandaru”
Widura mendengar pertanyaan itu. Namun sengaja
berpalingpun tidak. Sebenarnya Widura sendiri menjadi
sangat kecewa bahwa Agung Sedayu tidak mau ikut serta
dalam pertandingan ini.
Sesaat kemudian berjajarlah mereka yang akan mengambil
bagian dalam perlombaan ini. Tidak terkecuali, anak buah
Widura. diantaranya Sidanti yang dengan tersenyum-senyum
memasuki lapangan. Betapa kecewa anak muda itu,
melampaui semuanya setelah ia mengetahui pula bahwa
Agung Sedayu tidak ada diantara para pengikut perlombaan.
Dihadapan mereka tergantung lesan yang harus mereka
kenai. Sasaran itu dibuat dari sabut kelapa yang dibalut
dengan kain. Dan dibagi menjadi empat bagian. Kepala,
sekecil telur angsa, leher, yang agak cukup panjang, badan
lebih besar dan panjang dari leher dan yang terakhir bandul
sebesar jeruk bali.
Sasaran yang berupa orang-orangan kecil itulah yang akan
menentukan siapakah diantara para pengikut yang paling
pandai membidikkan panahnya.
Ketika bende berbunyi, maka perlombaan itupun
dimulailah. Setiap pengikut memiliki lima buah anak panah.
Dan oleh kelima buah anak panah itu maka akan diambil nilai
tertinggi diantara mereka. Apabila anak panah mereka
mengenai kepala, maka berarti mereka akan mendapat lima
buah nilai. Leher tiga nilai dan badan dua nilai. Sedangkan
apabila pana mereka mengenai bandul, maka apabila mereka
telah mendapat nilai, maka nilai itu akan gugur tiga nilai.
Sesaat kemudian meluncurlah anak panah yang pertama
diikuti oleh sorak para penonton. Namun sayang, panah itu

sama sekali tidak mengenai sasarannya. Disusul dengan anak
panah yang kedua, ketiga. Namun ketiga anak panah itu
menyentuh sasaranpun tidak. Penonton bersorak-sorak
kembali ketiga anak panah yang keempat kemudian tepat
mengeni leher sasaran. Tiga nilai.
Maka penontonpun berteriak-teriak pula “Tiga, tiga”
Penonton mejadi tegang ketika meluncur anak panah yang
kelima. Dan meledaklah sorak para penonton. Bukan karena
mereka menjadi kagum anak panah itu, mereka tertawa geli,
karena anak panah itu mengenai bandul.
“Habis, habis” teriak mereka. Dan tiga nilai yang didapatnya
dari panah keempat itupun menjadi habis karena dengan
mengenai bandul itu, maka berarti tiga nilai digugurkan.
Orang yang pertama itu sambil menundukkan kepalanya
terpaksa berjalan keluar lapangan. Namun iapun menjadi geli
juga. karena itu, sempat juga ia tersenyum-senyum sendiri.
Maka kemudian majulah orang kedua, ketiga, keempat.
Namun tak seorangpun yang dapat menggemparkan
penonton karena bidikan-bidikannya yang tepat. Sekali dua
kali ada juga diantara mereka yang mengenai sasaran.
Namun diantara lima anak panah itu, maka paling banyak dua
diantaranya yang dapat mengenai sasarannya.
Ketika kemudian sampai pada giliran Swandaru maju
dengan anak panahnya, maka penontonpun menjadi gempar
pula. Swandaru telah dapat merampas hati penonton dengan
dua kemenangan berturut-turut didalam arena pertandingan
itu. karena itu, maka diantara penonton itupun mengharap
pula, agar kali ini, Swandaru akan dapat setidak-tidaknya tidak
mengecewakan mereka.
Sebenarnyalah, maka anak panah yang pertama yang
dilepaskan oleh Swandaru benar-benar telah menggemparkan
penonton. Meskipun tidak mengenai kepala, namun sekali
bidik Swandaru telah mengguncangkan sasaran dengan
mengenai bagian badannya. Kegemparan penonton menjadi
semakin riuh, ketika panah Swandaru yang kedua dapat
mengenai leher. Ketika Swandaru menarik tali busurnya yang
ketiga kalinya, maka terdengarlah suara riuh disekitar arena
“Naik sedikit Swandaru, naik sedikit”

Dan meledaklah sorak para penonton seakan-akan
memecahkan selaput telinga ketika anak panah Swandaru itu
benar-benar mengenai kepala sasaran.
Swandaru itupun kemudian berhenti sesaat. Setelah
menarik nafas dalam-dalam, maka sekali lagi lapangan itu
diguncangkan oleh tepuk sorak yang gemuruh. Sekali lagi
anak panah Swandaru mengenai kepala. Namun para
penonton itu menjadi kecewa ketika anak panah Swandaru
yang kelima yang terbang dari busurnya dengan kecepatan
penuh, hanya menyentuh saja kepala sasaran, namun tidak
hinggap padanya, sehingga dengan demikian, anak panah itu
dianggap tidak mengenai sasarannya.
Swandaru itu memandangi anak panah yang kelima
dengan penuh penyesalan. Katanya sambil bertolak pinggang
“He, kenapa kau tidak mau berpaling sejari saja. Kalau kau
berpaling sedikit saja, maka anak panah itu akan hinggap
dikepalamu”
Namun kemudian telah terdengar bende untuk pengikut
berikutnya. Kini mulailah anak buah Widura dengan
perlombaan itu. Namun ada pula diantaranya yang tidak lebih
tepat dari anak-anak muda Sangkal Putung. Sendawa
misalnya. Betapa pandai ia mengayun-ayunkan kelewangnya,
namun ternyata ia bukan pembidik yang tepat, ia dapat
mengenai perut lawannya dimedan-medan pertempuran.
Namun perut orang jauh lebih besar dari seluruh tubuh orangorangan
yang harus dikenainya sebagai sasaran.
Tetapi ternyata Hudaya ada pemanah yang baik. Sejak ia
melepaskan anak panahnya yang pertama, maka ia telah
menggemparkan lapangan itu. Anak panahnya yang pertama
ternyata langsung mengenai kepala sasaran. Demikianlah
anak panahnya yang kedua. Ketika ia merik busurnya untuk
yang ketiga kalinya dengan berdebar-debar penonton
menanti. Dan sekali lagi meledaklah sorak yang gemuruh.
Panah ketiga itupun mengenai kepala sasaran pula.
Demikianlah para penonton menjadi semakin tegang. Sekali
lagi para penonton berteriak-teriak sekuat-kuatnya ketika anak
panah yang keempatnya hinggap dikepala. Dengan demikian
ketegangan diarena itu menjadi semakin memuncak. Keempat

anak panah yang telah memenuhi kepala orang-orangan
itupun dicabutlah untuk memberi tempat seandainya anak
panah yang kelima inipun akan mengenainya pula. Dan
lapangan itu seakan-akan menjadi benar-benar runtuh ketika
penonton menyaksikan anak panah kelima yang lepas dari
busur Hudaya. Anak panah itupun tepat pula mengenai kepala
orang-orangan itu. Sehingga dengan demikian pemanah
itupun telah menunjukkan kesempurnaan bidikannya.
Bukanlah karena kebetulan ia dapat mengenai kepala
sasaran. Namun sebenarnyalah memang Hudaya adalah
pembidik yang baik.
Ketika kemudian terdengar bende berbunyi, masuklah Citra
Gati ketengah-tengah lingkaran. Dengan tersenyum-senyum
ia memberi ucapan selamat kepada Hudaya, katanya
“Hudaya, ternyata kau tidak memberi aku tempat. Apa yang
dapat kau kerjakan? Tak ada yang dapat berbuat lebih baik
daripadamu”
Hudaya itupun tersenyum pula. Namun ia tidak menjawab.
ketika ia bergeser dari tempatnya, ia terkejut ketika ia melihat
mata Sidanti menyala-nyala.
Ternyata Sidanti tidak rela melihat kecakapan Hudaya
membidikkan anak panahya. Sambutan rakyat Sangkal
Putung atas kemenangannya itupun tak menyenangkannya.
Tetapi ternyata Hudaya itu tak menghiraukannya. Ia langsung
berjalan kembali ketempatnya. Berdiri dalam jajaran para
peserta untuk melihat bagaimana hasil bidikan kawankawannya
yang lain.
Dan ternyata Citra Gati itupun tidak mengecewakan.
Dengan tersenyum ia menarik busurnya untuk yang pertama
kalinya. Ketika anak panahnya terlepas, maka dengan
tegangnya ia mengikutinya dengan pandangan matanya. Ia
tersenyum pula ketika didengarnya sorak penonton. Anak
panah itupun hinggap dikepala. Demikianlah anak panahnya
yang kedua, ketiga dan keempat. Lapangan itu benar-benar
menjadi gempar. Ketika ia memasang anak panahnya yang
kelima, Citra Gati berpaling kepada Hudaya. Dilihatnya
Hudaya tertawa dan berkata “Ayo panahmu tinggal satu.

Nilaimu tak akan melampaui nilaiku. Tak mungkin kau dapat
membidik kepala orang-orangan itu hingga enam kali”
“Berilah aku anak panah satu lagi” sahut Citra Gati.
Hudaya tidak menjawab. Hanya telunjuknyalah yang
menunjuk ke orang-orangan diujung lapangan.
Citra Gati menarik nafas dalam-dalam. Panah-panahnya
yang lain telah dicabut pula. Dan kini ia membidikkan anak
panahnya yang kelima.
Sekali lagi lapangan itu menjadi gempar. Tidak saja sorak
yang membahana, namun beberapa orang yang todal dapat
mengendalikan perasaannya telah melemparkan bermacammacam
benda keudara. Tutup kepala, tongkat-tongkat dan
bahkan kain yang dipakainya. Anak panah Citra Gati yang
kelimapun tepat mengenai sasara. Kepala.
Hudayapun kemudian berlari-lari mendapatkan sahabatnya
itu. Sambil memberi salam ia berkata “Terlalu. Kau tak mau
kalah satu nilaipun daripadaku”
Citra Gati tidak menjawab. perlahan-lahan ia bergeser dari
lingkaran pembidik.
Kini sampailah giliran yang terakhir. Demikian anak muda
itu berjalan ketengah-tengah lingkaran, maka para
penontonpun telah menyorakinya. Dengan tersenyum anak
muda itu melambaikan tangannya. Namun senyum itu tidak
begitu cerah seperti senyumnya semalam, pada saat ia
mengenangkan kemenangan yang bakal dicapainya. Anak
muda itu adalah Sidanti.
Ia sama sekali tidak mencemaskan dirinya. Ia yakin bahwa
kelima anak panahnya akan tepat mengenai sasaran. Namun
betapapun demikian, maka Hudaya dan Citra Gati itupun
dapat berbuat seperti apa yang akan dilakukan. Sehingga hal
itu pasti akan mengurangi kebesaran namanya. Meskipun
demikian, ia tidak dapat berbuat apa-apa. Hudaya dan Citra
Gati telah melakukannya.
Dan apa yang diyakini itu benar-benar terjadilah. Sidanti
tidak memerlukan waktu terlalu lama seperti Hudaya dan Citra
Gati. Itulah kemenangannya yang dapat ditunjukkan kepada
orang-orang Sangkal Putung. Ia hanya memerlukan saat yang
pendek. Memasang, menarik sanbil mengangkat busur,

kemudian seakan-akan tanpa membidik, maka anak panah
itupun meluncur menuju sasaran. Dan adalah mentakjubkan
sekali. Anak panah itu seolah-olah mempunyai mata, sehingga
dengan langsung hinggap dikepala orang-orangan.
Orang-orang Sangkal Putung itu benar-benar tak dapat
menahan diri lagi. Mereka berloncat-loncatan dan seperti
orang yang kehilangan akal kesadaran menari-nari sambil
berteriak-teriak keras-keras.
Dengan sebuah senyuman yang kecil Sidanti mengambil
anak panahnya yang kedua. Anak panah inipun
menggemparkan para penonton pula. Sekali Sidanti
mengerling kearah Sekar Mirah yang duduk tidak jauh dari Ki
Demang Sangkal Putung. Dilihatnya wajah gadis itu menjadi
tegang. Namun tiba-tiba ketika ia melihat anak panah Sidanti
hinggap disasarannya, dengan serta-merta iapun bertepuk
tangan sekeras-kerasnya.
Namun ketika ia memandang wajah Agung Sedayu, Sidanti
menjadi agak kecewa. Anak muda itu memandang anak
panahnya dengan pandangan yang kosong. Ia bertepuk
tnagan karena orang-orang lain bertepuk tangan. Tetapi tak
ada kesan kekaguman memancar diwajahnya.
“Persetan dengan anak itu” gerutunya didalam hati.
“Namun adalah suatu kenyataan ia tidak berani turun kearena”
Sidanti puas dengan kata-kata diangan-angannya. Kembali
ia memandang sasarannya, dan kembali anak panahnya
mematuk kepala. Demikianlah maka kegemparan meledak
sejadi-jadinya dilapangan itu ketika panah Sidanti yang kelima
hinggap tepat dikepala orang-orangan itu pula.
Ketika sorak sorai orang-orang Sangkal Putung itu telah
mereda, maka Widura tampak berdiri dan melangkah maju
kearena. Betapapun isi dadanya, namun ia memberikan
ucapan selamat pula kepada Hudaya, Citra Gati dan Sidanti.
Kemudian dengan nyaring ia berkata “Kita masih harus
memilih satu diantara ketiga-tiganya. Kini lepaskanlah sasaran
itu. Gantungkan dengan tali yang agak panjang. Terbalik.
Kepalanya dibawah. Dan apabila tanda berbunyi, ayunkan
orang-orangan itu. Nah, ketiga-tiganya mendapat kesempatan
yang sama. Membidikkan anak panahnya pada waktu yang

bersamaan. Masing-masing dengan tiga buah anak panah,
dalam hitungan sampai angka kelima belas”
Hudaya dan Citra Gati tertawa masam. Terdengar Hudaya
berbisik “Sekarang aku harus mengaku kalah. Kalau ada satu
saja anak panahku yang hinggap, ambillah nilainya”
“Kita tidak sedang membagi makan. Ambillah angkamu
untukmu. Atau barangkali dapat kau simpan untuk perlombaan
yang akan datang” sahut Citra Gati.
Keduanya kemudian terdiam. Mereka melihat beberapa
orang sedang menggantungkan sasaran dengan tali yang
cukup panjang. Kemudian mereka menerima tiga anak panah
masing-masing. Dan ketika bende berbunyi, mereka harus
sudah siap berdiri pada satu baris lurus menghadap orangorangan
yang telah siap untuk diayunkan.
Sesaat kemudian sasaran itupun telah dilepaskan.
Terayun-ayun seperti buaian tertiup angin yang kencang.
Hudaya, Citra Gati dan Sidanti berdiri dengan tegangnya.
Sedang Sidanti tampak tersenyum-senyum kecil. Kali ini ia
yakin, bahwa ia akan memenangkan pertandingan ini.
Penonton benar-benar menjadi tegang ketika terdengar
Widura mulai dengan hitungannya “Satu, dua, tiga, ………..”
Panah yang pertama lepas adalah anak panah Sidanti.
Anak panah itu benar-benar seperti mempunyai mata.
Meskipun sasarannya masih juga terayun-ayun, namun anak
panah Sidanti tepat mengenai kepala. Dan lapangan itupun
menjadi semakin gemuruh pula.
“Uh” geram Hudaya, ketika ia melihat ayunan orangorangan
itu dan menjadi goyah karena anak panah Sidanti.
“Makin sulit” gerutunya. Citra Gati tidak menyahut. Ia
membidik dengan cermatnya, dan anak panahnya yang
pertama terbang seperti dikejar setan. Dan sorak dilapangan
itupun membahana pula. Kali ini Citra Gatipun tepat mengenai
kepala sasaran.
Belum lagi sorak itu berhenti, maka seolah-olah disusul
pula dengan ledakan tepuk tangan yang tak kalah kerasnya.
Panah Hudayapun menyusul kedua anak panah yang
mendahuluinya. Kepala.
Citra Gati menyeringai. “Setan kau Hudaya” gumamnya.

Namun Hudaya hanya tersenyum saja. Tetapi segera
senyumnya lenyap ketika terdengar para penonton berteriakteriak
seperti orang mabuk. Panah kedua Sidanti tepat
mengenai sasarannya pula.
Kini sasaran itu terayun berputaran tidak menentu. karena
itu, para pemanah itu menjadi semakin sulit. Hudaya masih
membidkkan anak panahnya. Namun anak panah Citra Gati
lah yang terbang lebih dulu. Yang terdengar adalah pekik
penyesalan. Anak panah Citra Gati itu hanya menyentuh
kepala sasaran, namun karena kepala sasaran itu goyah, dan
padanya telah melekat beberapa anak panah, maka anak
panah Citra Gati itu meloncat dan jatuh beberapa langkah dari
orang-orangan itu.
“Gila” teriak Citra Gati diluar sadarnya. Dan ia mengumpat
kembali ketika ia mendengar sorak gemuruh para penonton
seperti akan meruntuhkan gunung Merapi. Anak panah Sidanti
yang ketiga telah hinggap
dikepala orang-orangan itu
pula.Hudaya menggeram. Ia
belum melepaskan anak
panahnya yang kedua. Dengan
memgigit bibirnya, anak panah
itu berlari kencang sekali.
Namun sekali lagi penonton
menyesal karenanya.
***
Anak panah itu mengenai
anak panah yang lain pula, yang
telah lebih dahulu hinggap pada
sasaran itu. Anak panah itupun
tak dapat hinggap pula dan jatuh terpelanting beberapa
langkah jauhnya.
Pada saat itu Citra Gati telah mengangkat busurnya.
Namun sasaran itu bergerak-gerak tak keruan. Kini tak ada
lagi harapan baginya untuk mengenai kepala, sebab kepala
sasaran itu seolah-olah telah penuh dengan anak panah yang

bergoyang-goyang pula. hana pembidik-pembidik yang luar
biasa sajalah yang akan dapat mengenainya. Karena itu Citra
Gati membidikkan anak panahnya keleher sasaran. Namun
tiba-tiba betapa ia menjadi kecewa. Hudayapun kecewa bukan
buatan. Belum lagi mereka sempat melepaskan anak panah
mereka yang ketiga terdengar Widura mengucapkan hitungan
yang terakhir “Lima belas……” dan terdengarlah bende
berbunyi dengan nyaringnya.
Hitungan yang terakhir itupun disambut dengan pekik sorak
dari para penonton. Mereka berteriak-teriak menyebut nama
Sidanti. Dan Sidanti itupun kemudian melangkah maju
ketengah-tengah lapangan sambil melambaikan tangannya.
Anak muda itu menjadi semakin bergembira ketika ia
melihat Sekar Mirah seperti anak-anak yang melonjak-lonjak
sambil mengacungkan ibu jari kepadanya.
“Nah, lihatlah” kata Sidanti dalam hatinya “Apa yang dapat
dilakukan oleh Sedayu itu. Ternyata tidak lebih dari seorang
perempuan cengeng yang hanya dapat bersembunyi
dipunggung pamannya”
Hudaya masih berdiri ditempatnya, dan Citra Gatipun masih
berada disampingnya pula. terdengar kemudian Hudaya
berkata “Aku benar-benar tidak membutuhkan nilai itu.
Ambillah. Kau akan menjadi pemenang kedua”
Citra Gati tersenyum. ia tidak menjawab kata-kata Hudaya.
Namun katanya “Lihatlah betapa sombongnya anak muda itu”
“Biarkanlah ia berbuat demikian” sahut Hudaya. “Coba kau
mau apa? bukankah kau dapat dikalahkan dengan jujur?”
”Aku tidak mau apa-apa” jawab Citra Gati “Aku benar-benar
kalah. Tetapi bagaimana dengan Agung Sedayu?”
Hudaya menarik nafas dalam-dalam. Katanya “aku menjadi
agak kecewa. Mungkin ia mempunyai perhitungannya sendiri.
Kalau ia menang maka tak ada kekaguman apapun padanya.
Adalah lumrah ia dapat memenangkan pertandingan sekecil
ini. Tetapi kalau ia dikalahkan Sidanti, maka namanya akan
menjadi surut”
Citra Gati mengangguk-anggukkan kepalanya. Ketika ia
memandang berkeliling, ternyata sebagian dari para penonton
telah meninggalkan lapangan itu. Tak ada hadiah yang akan

diberikan, namun Ki Demang Sangkal Putung akan
menyiapkan pesta dengan memotong beberapa ekor lembu
bagi kemenangan anaknya dan kemenangan Sidanti.
Citra Gati itu mengerutkan keningnya ketika ia melihat
Sidanti dan Sekar Mirah sedang bercakap-cakap dengan
asiknya. Ketika sekali ia memandang Agung Sedayu,
dilihatnya anak muda itu menundukkan wajahnya.
Sesaat kemudian Widura dengan resmi menutup
pertandingan itu. Disebutnya para pemenangnya yang
disambut dengan sorak yang gemuruh. Swandaru bagi anakanak
muda Sangkal Putung ternyata merupakan pemenang
dalam segala lapangan. Sedangkan bagi anak buah Widura
sendiri, Sidantilah yang menjuarainya.
Namun dalam pada itu, kekecewaan dihatinya terhadap
Agung Sedayu kini benar-benar telah sampai kepuncaknya. Ia
melihat kekecewaan pada beberapa orang lain. Dan ki
Demang itupun telah bertanya kepadanya, kenapa Agung
Sedayu tidak bersedia turut serta meramaikannya. karena itu,
demikian ia selesai dengan kata penutupnya, ia sama sekali
tidak berkata apapun kepada Sedayu. Langsung ia pergi
meninggalkan lapangan itu dengan kepala tunduk.
Beberapa anak buahnya segera mengikutinya dibelakang.
Ki Demangpun berjalan pula disampingnya. Katanya
“Dimanakah angger Sedayu?”
“Masih dibelakang kakang “ sahut Widura kosong.
Ki Demang itupun berpaling. Dilihatnya Sidanti berjalan
bersama Sekar Mirah dan dilihatnya Sedayu masih berada
ditempatnya bersama Swandaru.
Tetapi Ki Demang itu tidak bertanya lagi. Betapapun juga
dirasakannya sesuatu berdesir didadanya. Sebagai seorang
ayah, Ki Demang prihatin atas pilihan anak gadisnya. Karena
sikap Sekar Mirah itu, maka pada suatu saat dapat terjadi halhal
yang tak diinginkan. Sebagai seorang yang telah cukup
usianya, ia tahu benar apa yang tersembunyi didalam hati
Agung Sedayu dan Sidanti. Tetapi ia belum dapat berbuat
sesuatu. Dan memang sedang dipikirkannya, bagaimana ia
dapat mengendalikan gadis itu.

Agung Sedayu melihat arus manusia itu dengan berdebardebar
pula. lapangan itu seakan-akan sebuah telaga yang
mengalir kesegenap penjuru, semakin lama menjadi semakin
kering, sehingga akhirnya tinggallah beberapa orang saja
yang masih hilir mudik dilapangan itu.
“apakah tuan akan kembali?” bertanya Swandaru kepada
Sedayu.
Sedayu mengangguk “Ya’jawabnya singkat. Tetapi ia masih
duduk ditempatnya.
“Marilah” ajak Swandaru.
Agung Sedayu memandang berkeliling untuk sesaat.
Kemudian iapun berdiri. Katanya “Sebentar Swandaru, apakah
kau tergesa-gesa?”
“Tidak” jawab Swandaru. “Tetapi apakah ada sesuatu yang
penting dilapangan ini?”
Sekali lagi Swandaru memandang berkeliling. Orang-orang
yang bertugas membersihkan lapangan itupun telah hampir
selesai dengan pekerjaannya. Dan sesaat kemudian lapangan
itupun benar-benar telah sepi.
Tiba-tiba terdengarlah Swandaru itu bertanya “Tuan,
kenapa tuan tidak ikut dalam perlombaan ini?”
Sedayu menggeleng lemah “Tidak Swandaru”
“Aku muak melihat kesombongan Sidanti. Dan aku muak
pula melihat Sidanti,” berkata Swandaru pula. “Biarlah nanti
dirumah aku hajar perempuan itu”
“Jangan Swandaru” cegah Sedayu. “Tak ada gunanya.
Biarlah ia berbuat apa saja yang disukainya”
Swandaru terdiam. Namun ia menjadi heran. Sedayu masih
belum beranjak dari tempatnya “Apakah yang tuan tunggu?” ia
bertanya.
Sekali lagi Sedayu memandang berkeliling. Lapangan oi
telah benar-benar menjadi sepi. Hanya satu dua orang saja
yang masih sibuk melipat tikar dan beberapa perlengkapan.
“Swandaru” berkata Agung Sedayu lirih. Namun kemudian
kata-katanya terputus, dan ia menjadi ragu-ragu.
Swandaru memperhatikan wajah Agung Sedayu dengan
seksama. Setelah beberapa lama Agung Sedayu berdiam diri,

maka bertanyalah Swandaru “Apakah yang akan tuan
katakan?”
Sekali lagi pandangan mata Agung Sedayu beredar.
Kemudian katanya “apakah aku dapat meminjam panahmu
itu?”
“Apakah yang akan tuan lakukan?” bertanya Swandaru.
“Aku ingin berlatih memanah, supaya lain kali aku dapat
ikut serta dalamplb-perlombaan seperti ini”
“Sekarang?”
“Ya”
“Apakah tuan belum pandai memanah?”
Agung Sedayu menggeleng. “Belum Swandaru”
Swandaru menarik nafas. Ia benar-benar kecewa
mendengar pengakuan itu. karena itu ia bertanya “Apakah
tuan berkata sebenarnya?”
“Apakah kau sangka aku pandai memanah?” bertanya
Agung Sedayu.
“Tuan adalah anak muda yang kami kagun=mi. ataukah
mengkin tuan hanya pandai bertempur dalam jarak yang
pendek? Dengan pedang dan tombak?”
“Entahlah Swandaru. Cobalah lihat, bagaimanakah
penilaianmu atas diriku”
Swandaru tidak menjawab. dengan tergesa-gesa ia
melepaskan busur yang menyilang dipunggungnya/ dan
diambilnya anak panahnya dari bumbung dilambung kuda
putihnya. “Inilah tuan” katanya. “Namun berlatih memanah
bukanlah dapat dilakukan sehari dua hari”
“Itulah sebabnya kau mulai dari sekarang”
Swandaru tidak menjawab. ia menjadi tegang ketika ia
melihat Sedayu memegang busur dan anak panahnya.
“Swandaru” berkata Sedayu “Aku akan mencoba mengenai
sasaran yang masih bergantung itu. Tolong, ayunkanlah
seperti pada saat perlombaan tadi”
Swandaru menjadi heran. Kalau Agung Sedayu masih ingin
belajar, mengapa sasaran itu harus diayunkannya? Tetapi ia
tidak menjawab. Ia berjalan saja kearah sasaran yang masih
tergantung terbalik itu. Ditariknya orang-orangan itu dan

kemudian dilepaskannya seperti pada saat perlombaan kedua
antara Hudaya, Citra Gati dan Sidanti.
Tetapi Swandaru menjadi bertambah heran ketika ia
melihat Agung Sedayu menggelengkan kepalanya. Dengan
tangan Agung Sedayu memberi isyarat, supaya Swandaru
mempercepat ayunan orang-orangan itu.
“Aneh”” pikir Swandaru “Apakah yang akan dilakukannya?”
Kini Swandaru itupun tidak bertanya. Ditariknya orangorangan
itu semakin jauh, dan kemudian sasaran itu tidak saja
dilepaskan namun didorongnya sehingga ayunannya menjadi
bertambah cepat.
Tetapi kemudian Swandaru itu melihat Agung Sedayu
melambaikan tangannya memanggil. Berlari-lari kecil
Swandaru pergi mendekati Agung Sedayu, katanya setelah ia
berdiri disamping anak muda itu “Nah, sekarang apakah yang
akan tuan lakukan?”
“Swandaru” berkata Agung Sedayu “Apakah yang harus
aku kenai?”
“Terserahlah kepada tuan” jawab Swandaru. “namun dalam
perlombaan-perlombaan, kepalanyalah yang diangap
mempunyai nilai tertinggi”
Sedayu tidak menjawab lagi. Perlahan-lahan ia
mengangkat busurnya, sedang Swandaru memandanginya
dengan wajah yang tegang.
“Aku akan mengenainya dari atas berturut-turut” berkata
Agung Sedayu. “Mulai dari bandul, kemudian badan, leher dan
yang terakhir kepala”
Swandaru tidak menjawab. Meskipun untuk mengenai
kepala sasaran itu cukup sulit, namun mengenai semua
bagian berturut-turut menurut rencana itupun bukan pekerjaan
yang mudah. Apalagi ia belum pernah melihat, apakah
Sedayu itu benar-benar dpat membidikkan panahnya.
Tetapi kemudian Swandaru itupun terpaku melihat anak
panah Sedayu. Anak panah yang pertama itu laju dengan
cepatnya, dan seperti apa yang dikatakan oleh Agung Sedayu,
anak panah itu mengenai bandulnya tepat ditengah-tengah.

“Tuan” berkata Swandaru dengan serta-merta. “Ternyata
tuan tidak sedang belajar memanah. Tuan dapatmengenai
sasaran yang tuan bidik dengan tepat”
“Aku akan mencoba mengenai badannya” sahut Sedayu.
Namun ia meneruskan kata-katanya “Tetapi kau harus
berjanji”
“Apakah yang harus aku janjikan?”
“Jangan berkata kepada siapapun tentang apa yang akan
kau lihat”
Swandaru mengerutkan keningnya. Ia benar-benar tidak
mengerti sikap Agung Sedayu. Apakah ia sedang
merahasiakan sesuatu? Seandainya ia mempunyai cara yang
khusus, supaya cara itu tidak dapat ditiru oleh orang lain,
apakah salahnya kalau ia mengatakan hasilnya saja?
Meskipun demikian, namun Swandaru itu mengguk kosong
sambil menjawab “Baiklah tuan”
“Kau berjanji?”
“Ya”
“Bagus” sahut Sedayu. Dalam pada itu ia telah mengangkat
busurnya kembali. Dan panahnya yang kedua itupun benarbenar
mengenai bagian badan dari orang-orangan yang masih
saja terayun-ayun itu.
“Luar biasa” desis Swandaru. “Tuan benar-benar
mengherankan. Tuan membidik bandul, anak panah tuan
hinggap dibandul. Tuan membidik badan dan anak panah tuan
hinggap dibadan. Sekarang tuan akan mengenai lehernya,
bukan begitu?”
“Aku akan coba” jawab Sedayu. Namun demikian ia selesai
mengucapkan kata-katanya, demikian anak panahnya terbang
menuju sasarannya, leher.
“Bukan main tuan” berkata Swandaru. “Sekarang bukankah
tuan akan mengenai kepala orang-orangan itu?”
Sedayu mengangguk.
“Seharusnya, tuan mengenainya tiga kali. Dengan demikian
aku akan yakin, bahwa tuan lebih pandai dari anak muda yang
sombong itu”
“Jangan membanding-bandingkan Swandaru” sahut
Sedayu. “Aku tidak sedang berlomba. Perlombaan itu sudah

selesai dan Sidantilah yang mendapatkan kedudukan tertinggi.
Sedang kini aku hanya bermain-main saja. Tak ada hubungan
apapun dengan perlombaan yang baru saja selesai.”
Sekali lagi Swandaru mengerutkan keningnya. Tetapi ia
tidak berkata apapun. Diamatinya anak panah dibusur Sedayu
dengan seksama. Sambil membungkuk-bungkuk ia
memerhatikan setiap gerak jari Agung Sedayu. Dan sesaat
kemudian lepaslah anak panah yang keempat itu.
Sekali lagi Swandaru berteriak “Bukan main, bukan main.
Tuan telah mengenainya pula”
Sedayu tertawa kecil. Ia senang pula melihat seseorang
mengaguminya. Apabila demikian, sebenarnya timbul pula
keinginannya agar semua prang mengetahuinya pula, bahwa
sebenarnya iapun dapat berbuat saperti apa yang dilakukan
oleh orang lain. Namun kembali ia menjadi cemas, apabila
dibayangkannya akibat dari kelebihannya itu. Ia cemas kalau
ada orang yang mendendamnya. Dan kini yang hadir di
lapangan itu tinggal seorang saja. Swandaru. Dan Swandaru
telah berjanji kepadanya, untuk tidak mengatakan apapun dan
kepada siapapun tentang apa yang dilihatnya. Karena itu,
sebagai imbangan dari ketakutannya, maka meledaklah
keinginannya untuk menunjukkan setiap kemampuan yang
ada pada dirinya, meskipun hanya terhadap seorang saja dan
kepada dirinya sendiri.
Maka katanya “Swandaru, berapakah anak panahmu
seluruhnya?”
“Sepuluh tuan” jawab Swandaru.
“Marilah, berilah aku dua lagi, supaya aku dapat mengenai
kepala sasaran itu tiga kali”
Swandaru yang menjadi gembira melihat permainan Agung
Sedayu itupun berlari-lari kekudanya. Diambilnya seluruh anak
panahnya dan diserahkannya kepada Agung Sedayu “Inilah
tuan”
Agung Sedayu menerima anak panah itu. Kemudian
dengan cepatnya ia melepaskan dua anak panah berturuturut.
Dan keduanya itupun hinggap dikepala sasaran pula.
Swandaru itupun bertepuk tangan sambil berteriak-teriak
“Mengagumkan, mengagumkan”. Namun kemudian ia terdiam

ketika Agung Sedayu berdesis “Jangan ribut Swandaru, aku
tidak mau bermain-main lagi”
“Ternyata tuan melampaui setiap orang yang ikut dalam
perlombaan itu. Kenapa tuan sendiri tidak ikut serta?”
Sekali lagi Agung Sedayu membantah, katanya “Tidak, tak
ada hubungannya dengan perlombaan yang baru saja
berakhir”
“Ya” sahut Swandaru. “Memang tak ada hubungannya.
Tetapi tuan benar-benar telah mengagumkan aku. Seandainya
tuan melakukannya selagi masih banyak orang dilapangan ini,
maka lapangan ini pasti akan meledak karena sorak mereka
yang gemuruh”
“Sudahlah. Lupakan perlombaan itu” potong Agung
Sedayu. “Apakah kita masih akan bermain-main?”
“Tentu” jawab Swandaru. “Apakah tuan masih mempunyai
permainan yang lebih baik lagi?”
“Swandaru” berkata Agung Sedayu kemudian. “Apakah
yang lebih kecil dari kepala sasaran itu?”
Swandaru mengerutkan keningnya.jnya “Tak ada tuan”
Agung Sedayu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Ditatapnya sasaran yang bergerak-gerak terayun kian kemari
meskipun sudah semakin lambat. Dan kemudian terdengar ia
bertanya “Swandaru, bahan apakah yang dibuat untuk tali
pengikat orang-orangan itu?”
Swandaru menjadi heran. Ia tidak tahu maksud pertanyaan
Agung Sedayu. Meskipun demikian ia menjawab juga “Serat
tuan, serat nanas yangdipilin menjadi tali yang kuat”
“Apakah bukan jangat?”
“Oh, bukan tuan. Jangat kulit terlalu kaku”
“Marilah kita buktikan”
Sekali lagi Swandaru menjadi keheran-heranan. Apakah
hubungannya antara panah-panah dan serat nanas itu?
karena itu maka ia bertanya “Bagaimanakah tuan akan
membuktikan? Dan apakah gunanya?”
Agung Sedayu tidak menjawab. namun dipasangnya
sebatang anak panah dibusurnya. Perlahan-lahan busur
itupun diangkatnya. Kini ia membidikkan anak panah itu.

Swandaru yang masih belum tahu maksud Agung Sedayu
memperhatikannya dengan berbagai pertanyaan memenuhi
dadanya. Kali ini Agung Sedayu menarik tali busur
sepenuhnya, sehingga busur itu seakan-akan hampir menjadi
patah. Dengan hati yang berdebar-debar Swandaru
memandangi busurnya. Namun tiba-tiba Agung Sedayu
melepaskan anak panah itu, dan anak panah itu terbang
secepat angin.
Betapa Swandaru menjadi terkejut menyaksikan hasil
bidikan Agung Sedayu. Sehingga untuk beberapa saat ia
tegak seperti patung. Dengan mulut ternganga ia menyaksikan
anak panah yang lepas dari busutnya dengan laju yang tinggi
itu telah memutus tali penggantung orang-orangan yang
terayun-ayun. Demikian cepatnya dan demikian kerasnya.
Barulah ia tahu maksud pertanyaan Agung Sedayu, tentang
bahan pembuat tali itu.
Swandarupun pernah juga melihat tali penggantung
sasaran itu terputus karena anak panah. Namun justru karena
sama sekali tak disengaja. Justru karena anak panah yang
condong dari arah bidikan. Tetapi kini Agung Sedayu telah
dengan sengaja membidik tali itu. Tali yang jauh lebih kecil
dari sasaran itu sendiri. Dan Agung Sedayu ternyata tepat
mengenainya.
Karena itu, ketika ia menyadari tentang apa yang dilihatnya
maka dengan serta-merta ia meloncat maju. Dengan
gairahnya ia mengguncang-guncang bahu Agung Sedayu
sambil berkata terbata-bata “Tuan. Ternyata dugaanku benar.
Tuan ternyata benar-benar melampaui setiap orang yang
pernah aku lihat. Bukankah dengan mengenai tali itu terbukti
tuan tak mungkin dikalahkan oleh siapapun juga. Tali itu jauh
lebih kecil dari kepala sasaran itu. Dan tali itu sedang
bergerak-gerak. Ternyata tuan dapat mengenainya. Tidak saja
tepat, namun tuan sudah berhasil memutuskannya. Bukankah
dengan demikian berarti bahwa tuan mengenainya tepat
ditengah-tengah?”
Agung Sedayu yang terguncang-guncang itupun
melepaskan dirinya. Sambil tertawa ia berkata “Jangan
Swandaru. Nanti tubuhku rontok karena guncanganmu.

Ternyata tenagamu luar biasa pula, sehingga tulang-tulangku
hampir remuk karenanya”
Swandaru menarik nafas. Dengan penuh kekaguman sekali
lagi ia memandangi ujung tali yang terputus oleh anak panah
Agung Sedayu. Sambil menggeleng-gelengkan kepala ia
bergumam ”Apakah tuan dapat menaruh biji-biji mata diujungujung
anak panah itu?”
Agung Sedayu tidak menjawab. namun ia tertawa. Kini
iapun menjadi bergembira pula seperti Swandaru. Bahkan ia
menjadi semakin berbangga. Timbullah keinginannya untuk
menunjukkan berbagai macam permainan, yang dapat
menunjukkan kelebihan-kelebihan yang dimilikinya dari orang
lain sebagai pencurahan hatinya yang selalu terkekang oleh
kekerdilan jiwanya.
“Swandaru” berkata Agung Sedayu kemudian “Didalam
pertempuran orang tidak saja terikat kepada sasaran tertentu.
Mungkin ia harus membidik lawan yang sedang berlari
kencang bahkan diatas punggung kuda. Mungkin ia harus
membidik tubuh lawannya yang hanya nampak sebagian kecil
karena bersembunyi dibalik pepohonan. Nah, maukah kau
membantu aku bermain-main dengan anak panah?”
“Tentu tuan” jawab Swandaru.
“Tetapi kau harus tatag. Jangan cemas, apabila kau melihat
anak panah yang mendatang”
“Apakah yang harus aku lakukan?”
“Bawalah orang-orangan itu sambil berpacu dipunggung
kuda. Aku akan mencoba mengenainya”
“Ah, bukankah itu berbahaya?”
Agung Sedayu berpikir sejenak. Kemudian jawabnya
“Baiklah. Aku mempunyai cara lain. Lepaskanlah kepala
sasaran itu. Lemparkan keudara. Biarlah aku mengenainya
dengan anak panah”
“Bagus. Permainan yang mengasyikan” sahut Swandaru
yang kemudian berlari-lari mengambil sasaran yang telah
terjatuh ditanah. Dilepasnya bagian kepalanya dan dengan
isyarat ia menunjukkan kepala orang-orangan itu kepada
Agung Sedayu.

Agung Sedayu kemudian bersiap. Dengan isyarat pula ia
memberi tanda kepada Swandaru untuk melemparkan
sasaran itu keudara.
Kedua anak muda itu benar-benar menjadi bergembira,
seperti sepasang anak-anak yang sedang bermain-main.
Dalam kegembiraan itu maka Agung Sedayu telah melupakan
segalanya. Melupakan kecemasannya dan melupakan
kemungkinan-kemungkinan yang dapat menyeretnya kedalam
persoalan-persoalan yang tidak dikehendakinya.
Swandaru yang berdiri beberapa puluh langkah dari Agung
Sedayu itupun kemudian melemparkan sasarannya kearah
Agung Sedayu. Ternyata betapa besarnya tenaga Swandaru.
Meskipun sasatan itu hempir tak memiliki berat, namun
Swandaru berhasil melemparkan melambung melampaui
tempat Agung Sedayu berada.
Tetapi sasaran itu tidak sempat melampauinya. Ketika
benda itu hampir sampai diatas kepalanya, maka meluncurlah
anak panah Agung Sedayu dengan kecepatan tinggi.
Apa yang dilihat oleh Swandaru benar-benar
mentakjubkannya. Kini ia bertepuk sejadi-jadinya. Ia melihat
anak panah itu menyambar sasarannya dan bahkan sasaran
itupun ikut serta melambung keatas dibawa oleh arus anak
panah Agung Sedayu, hampir tegak lurus keudara.
Tetapi tepuk tangan Swandaru itupun kemudian terhenti. Ia
melihat Agung Sedayu melangkah beberapa langkah maju.
Dengan tegangnya ia menunggu, apalagi yang akan dilakukan
oleh Agung Sedayu itu, yang kini berdiri tepat dibawah
sasarannya yang hampir mencapai puncak ketinggian. Dan
ternyatalah sesaat kemudian sasaran itupun seolah-olah
terhenti diudara, dan sesaat pula sasaran itu menukik turun
dengan cepatnya.
Namun kembali Swandaru terkejut. Ia melihat Agung
Sedayu menarik busurnya dan sebuah anak panah terbang
secepat tatit menyambar sasaran yang sedang meluncur turun
itu. Sesaat kemudian kedua benda itupun seolah-olah beradu.
Anak panah Agung Sedayu yang kesembilan telah berhasil
mematuk sasarannya pula, sehingga benda itupun kemudian
berputar seperti baling-baling diudara. Dua batang anak panah

yang saling bertentangan itu seolah-olah sengaja dipasang
sebagai jari-jari dari sebuah baling-baling. Swandaru kini tak
dapat menguasai diri lagi. Dengan cepatnya ia berlari
mendekati Agung Sedayu sambil berteriak-teriak “Gila,
bagaimana tuan dapat melakukan itu?”
Agung Sedayu tidak menjawab. Tetapi ia melingkar
beberapa langkah surut. Sasaran yang dikenainya melambung
pula keatas, namun tidak setinggi semula. Karena itu, kini
Agung Sedayu siap melakukan permainannya yang terakhir.
Panahnya tinggal sebatang, dan panah itu akan
dihabiskannya. Dengan cepatnya ia memasang anak panah
itu dan sebelum sasarannya jatuh menyentuh tanah, maka
Agung Sedayu masih sempat menyambarnya dengan anak
panahnya yang kesepuluh.
Sasaran itu terlempar beberapa langkah, dan kemudian
terjatuh ditanah. Namun seakan-akan sasaran itu terseret oleh
kekuatan anak panah Sedayu beberapa langkah lagi.
Apa yang dilihat oleh Swandaru itu hampir-hampir tak
masuk diakalnya. Tiga anak panah hinggap pada satu sasaran
yang sedang melambung diudara.
Seperti orang yang benar-benar kehilangan kesadaran
Swandaru berteriak-teriak kegirangan. Bahkan kemudian anak
itu telah kehilangan keseimbangan berpikir. Dengan sertamerta
ia berteriak “Tuan. Setiap orang Sangkal Putung harus
tahu apa yang telah tuan lakukan. ternyata Sidanti tidak
sepantasnya untuk menamakan dirinya pemanah terbaik dari
Sangkal Putung. Sebab tuan dapat memanah jauh lebih baik
daripadanya”
Agung Sedayu terkejut mendengar kata-kata Swandaru itu.
Dengan cemasnya ia berkata “Jangan Swandaru, bukankah
kau telah berjanji?”
“Tuan terlalu merendahkan diri” sahut Swandaru. “Tetapi
sekali lagi anak yang sombong itu harus menyadari
keadaannya, ia bukan manusia yang tak ada bendingnya.
Bahkan Sidanti itu pasti tak akan dapat melakukan seperti apa
yang tuan lakukan itu”
“Jangan Swandaru” cegah Agung Sedayu.

Namun Swandaru solah-olah sudha tidak mendengar lagi
kata-kata Agung Sedayu itu. Dengan cepatnya ia berlari
kearah kuda putihnya. Dan sebelum Agung Sedayu sempat
berbuat sesuatu, Swandaru telah meloncat kepunggung
kudanya itu dan seperti sedang berpacu dengan hantu kuda
itu lari kencang-kencang.
Agung Sedayu menjadi bingung. Untunglah bahwa dalam
endongnya sudah tidak terselip lagi sebatang anak panahpun.
Seandainya, ya seandainya demikian, maka sudah pasti kuda
Swandaru itu tak akan dapat pulang kekandang.
Tetapi yang terjadi, Agung Sedayu itu berdiri dengan kaki
gemetar melihat kuda Swandaru itu terbang meninggalkan
lapangan. Sekilas berterbangan pulalah didalam benaknya,
apakah kira-kira yang akan dilakukan oleh Swandaru itu.
Terbayanglah kemudian, Sidanti akan datang dengan wajah
yang merah membara karena kemarahannya.
Didalam hati Agung Sedayu itu, timbullah suatu
penyesalan. Betapa dengan sombongnya ia telah
menunjukkan beberapa permainan yang akan dapat
membawa kesulitan kepadanya. Apalagi kini pamannya
sedang marah pula kepadanya.Namun ia sudah tidak dapat
berbuat sesuatu. Swandaru itu kini telah hilang dibalik
rimbunnya dedaunan.
***
Yang tinggal adalah sebuah kepulan debu yang putih,
semakin lama semakin tipis dan akhirnya lenyap ditiup angin
yang sepoi-sepoi. karena itu, maka keringat yang dingin
segera mengalir membasahi segenap tubuh Agung Sedayu.
Swandaru itupun memacu kudanya menyusul Sidanti yang
sedang berjalan perlahan-lahan kembali kekademangan.
Dengan asyiknya ia bercakap-cakap dengan beberapa orang
yang sedang mengaguminya. Bahkan Sekar Mirah yang
kemudian berjalan disamping ayahnya itupun berkali-kali
berpaling dan sekali-sekali dipujinya anak muda itu dihadapan
ayahnya.

Ki Demang Sangkal Putung hanya kadang-kadang saja
menanggapi pujian-pujian itu. Namun didalam hatinya, orang
tua itu benar-benar mengeluh. Gadisnya harus benar-benar
dikuasainya. karena itu, maka Ki Demang Sangkal Putung itu,
bahkan bertekad untuk bersikap lebih keras lagi terhadap
Sekar Mirah. Ia menyesal bahwa anak gadisnya satu-satunya
itu terlalu dimanjakannya. Baik oleh dirinya sendiri maupun
oleh ibunya, sehingga Sekar Mirah itu mempunyai sifat yang
sukar dikendalikan. Ia berbuat seenaknya seperti yang
dikehendakinya. Perasaannya terlalu tampil kedepan, jauh
kedepan dari pikiran wajarnya.
Widura berjalan saja tanpa menghiraukan apapun. Hanya
kadang-kadang saja ia memandang orang-orang yang lalu
lalang disekitarnya. Ditatapnya wajah-wajah yang dengan
gembira pulang dari lapangan menyaksikan perlombaanperlombaan
yang sangat menarik hati. Perlombaanperlombaan
yang jarang terjadi di kademangan yang subur itu.
Tetapi langkah Widura itupun kemudian terhenti, ketika ia
melihat dua orang berkuda menuju kearahnya. Dua orang
yang dikenal baik oleh Widura, sebagai laskarnya yang patuh.
Bahkan kedatangan dua orang berkuda itupun sangat menarik
perhatian orang-orang yang sedang berjalan pulang dari
lapangan itu. Sehingga ada diantaranya yang ikut berhenti
pula, menanti kalau-kalau ada sesuatu yang penting bagi
Sangkal Putung. Tetapi kedua orang itu ternyata sama sekali
tidak menunjukkan tanda-tanda yang mencemaskan, dengan
tersenyum-senyum ia kemudian turun dari kudanya dan
kemudian mengangguk hormat kepada Widura.
Widurapun mengangguk pula. dilihatnya juga kedua orang
itu hanya tersenyum-senyum, namun bagi Widura, senyum
mereka adalah senyum yang tak begitu wajar. Meskipun
demikian Widura tahu benar maksud kedua orang itu. Mereka
tidak mau merampas kegembiraan orang-orang Sangkal
Putung dengan sikap-sikap yang tegang dan tergesa-gesa.
Widurapun kemudian tidak bertanya langsung apa
keperluan mereka. Tetapi ia yakin pasti ada sesuatu. Kedua
orang itu adalah or yang sedang bertugas berjaga-jaga
diujung kademangan.

“Perlombaan sudah selesai” berkata Widura kepada
mereka. “Marilah kita ke kademangan”
Kedua orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya,
dan dengan menuntun kuda mereka, mereka berjalan
disamping Widura ke kademangan.
Sidantipun melihat kedua orang itu pula, demikian juga
Hudaya dan Citra Gati. Bahkan Sonya yang berjalan jauh-jauh
dibelakang bersama Sendawa mempercepat langkah mereka.
Tetapi mereka menjadi kecewa ketika ternyata kedua orang itu
tak berkata apa-apa.
Orang-orang Sangkal Putung yang berhenti karena
kedatangan orang-orang berkuda itupun kemudian
meneruskan langkah mereka. Ternyata dalam tanggapan
mereka, kedua orang berkuda itupun agaknya hanya ingin
menyaksikan perlombaan dilapangan, namun mereka sudah
terlambat.
Namun Widura yang segera ingin tahu apa yang sudah
terjadi itu, ternyata tidak sabar menunggu sampai mereka tiba
dikademangan. karena itu maka perlahan-lahan hampir
berbisik ia berkata “Ada sesuatu?”
Salah seorang dari kedua orang berkuda itu mengangkat
wajahnya. sesaat ia memandang orang-orang berjalan
disekitarnya namun kemudian dengan berbisik pula ia berkata
“Tak begitu penting, meskipun harus mendapat perhatian”
“Apakah itu?”
“Diantara beberapa orang yang lewat dimuka gardu
penjagaan kami, kami melihat seorang yang menarik
perhatian kami”
Widura mengerutkan keningnya. Kemudian katanya
“Siapa?”
“Seorang yang barangkali hadir juga menyaksikan
perlombaan dilapangan. Meskipun pakaiannya kumal dan
kotor, namun tongkatnya telah meyakinkan kami”
“Tongkat baja putih?”
Orang itu mengangguk.
“Berkelapa kuning berbentuk tengkorak?”
Sekali lagi orang itu mengangguk.

Widura itupun menggeram “Macan yang gila itu sempat
menyaksikan perlombaan itu pula”
“Aku sangka demikian. Namun kami tidak berani
menangkapnya. Sebab kami tahu pasti kekuatan yang
tersimpan pada dirinya”
“Kalian telah berbuat benar” sahut Widura. “Juga kalian tak
dapat menghitung, berapa orang yang dibawanya”
Prajurit berkuda itu mengangguk. Katanya “Kami berenam
didalam gardu kami. Seandainya kami harus bertempur,
belum pasti kami berenam sempat melaporkan kehadirannya.
Yang dapat kami lakukan hanyalah memukul tanda bahaya.
Dan orang-orang itupun segera akan lenyap. Sedang
sebagian besar dari kami, pasti sudah mati”
“Benar” sahut Widura pula, kemudian katanya “Apakah
mereka sudah meninggalkan Sangkal Putung?”
“Kami menyangka demikian” jawab orang itu.
“Aku juga menyangka demikian” berkata Widura. “Orang itu
hanya ingin tahu, apakah yang terjadi disini, dan sekaligus ia
dapat mengetahui pula, gambaran kekuatan laskar kita disini.
Untunglah bahwa perlombaan pedang dan sodoran hanya aku
peruntukkan anak-anak muda Sangkal Putung, sehingga
Tohpati itu tidak dapat mengukur kekuatan prajurit Pajang di
Sangkal Putung”
Orang itupun mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan
kemudian mereka itupun saling berdiam diri. Namun apa yang
didengar oleh Widura dari penjaga-penjaganya itu, semakin
meyakinkannya, bahwa apa yang dikatakan Kiai Gringsing
semalam benar-benar akan dilakukan oleh Tohpati. Sekali lagi
menyergap Sangkal Putung.
Namun tiba-tiba mereka dikejutkan oleh derap kaki kuda
yang berdentang-dentang dijalan berbatu-batu dibelakang
mereka. Semakin lama menjadi semakin keras, sehingga
setiap orang yang mendengarnya menjadi cemas karenanya.
Bahkan kedua prajurit berkuda itupun menjadi cemas pula.
karena itu, maka semua mata, berpuluh-puluh pasang,
seakan-akan melekat ditikungan jalan dibelakang mereka.
Sesaat kemudian muncullah kuda itu, seekor kuda putih
dengan penunggangnya yang gemuk bulat. Swandaru.

“Oh” hampir semua mulut berdesah, ketika mereka melihat
anak muda itu. Sedang Swandaru itupun menjadi terkejut pula
ketika dilihatnya beberapa orang berhenti dijalan seakan-akan
sedang menunggunya. Sehingga tanpa sesadarnya ia
bertanya sambil menarik kekang kudanya. “Apakah yang
kalian tunggu?”
Kuda Swandaru itu berhenti beberapa langkah dari Sidanti.
Namun Sidanti itu kemudian sama sekali tak
memperhatikannya. Dengan langkah yang tetap Sidanti
meneruskan perjalanannya kembali kekademangan.
Ki Demang Sangkal Putung, yang masih agak jauh dari
padanya menjawab pertanyaan anaknya “Kau mengejutkan
kami, Swandaru”
“Ah” sahut Swandaru. “Betapa ayah mudah menjadi
terkejut, sedang kakang Sidantipun sama sekali tidak terkejut
mendengar derap kudaku”
Langkah Sidantipun terhenti. Dengan wajah yang asam ia
berpaling kearah Swandaru. Namun hanya sebentar, dan
kembali ia tidak memperhatikan anak muda itu lagi, seakanakan
kehadirannya sama sekali tak berarti baginya.
Swandaru melihat kemasaman wajah itu. karena itu maka
hatinyapun menjadi semakin panas. Tiba-tiba timbullah
keinginannya untuk memanaskan hati Sidanti pula. maka
katanya lantang “Kakang Sidanti, berhentilah sebentar”
Sekali lagi Sidanti berpaling, kali ini ia memandang
Swandaru dengan tajam, katanya “Jangan ribut Swandaru”
“Aku tidak sedang ribut “Jawabnya. “Tetapi aku ingin
memberitahukan kepadamu, bahwa sebenarnya bukan kaulah
pemanah terbaik di Sangkal Putung”
Kali ini Sidanti benar-benar berhenti. Ia tidak saja berpaling,
namun dengan sigapnya ia memutar tubuhnya. Ditatapnya
wajah Swandaru dengan tajamnya. Dan bertanyalah anak
muda itu dengan suara yang bergetar “Apa katamu
Swandaru?”
Ki Demang Sangkal Putung dan Widurapun tertarik pula
pada kata-kata Swandaru itu. Namun mereka menjadi cemas,
dan berkatalah Ki Demang Sangkal Putung “Swandaru, hatihatilah
dengan kata-katamu”

Swandaru tidak menghiraukan kata-kata ayahnya. Dengan
masih tetap diatas punggung kudanya ia berkata “Aku berkata
sebenarnya, bahwa kakang Sidanti bukan pemanah terbaik
diantara kita”
Sidanti itupun menjadi heran mendengar kata-kata
Swandaru yang tiba-tiba itu. karena itu beberapa langkah ia
maju mendekati Swandaru. katanya “Ulangi Swandaru. dan
apa alasannya?”
“Baik” jawab Swandaru. “Aku ulangi. Kau bukan pemanah
terbaik di Sangkal Putung. Alasanku, dilapangan masih ada
seorang pemanah yang pasti melampaui kecakapanmu”
Dada Sidanti menjadi bergelora. Betapa hatinya menjadi
panas. Seandainya pada saat itu tidak ada Widura, Ki
Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati, Sekar Mirah
maka mulut Swandaru itu pasti sudah ditamparnya untuk
ketiga kalinya.
Tetapi kini ia masih mencoba menahan dirinya. Sedang
beberapa orang lainpun melangkah mendekati mereka.
Widura, Ki Demang Sangkal Putung, Hudaya, Citra Gati,
Sekar Mirah dan beberapa orang lainnya.
Sekali lagi Ki Demang Sangkal Putung mencoba mencegah
anaknya yang kurang dapat menempatkan diri itu, katanya
“Swandaru, sudahlah, jangan membual. Apapun yang terjadi
dilapangan menurut katamu, namun perlombaan sudah
selesai. Dan angger Sidantilah yang kami anggap sebagai
pemenangnya”
Swandaru tertawa. Jawabnya “Ternyata anggapan itu salah
ayah”
“Tidak bisa” sahut ayahnya. “Kami semuanya menjadi
saksi”
Swandaru masih tertawa. Dipandangnya kemudian wajahwajah
yang tegang disekitarnya. Dilihatnya beberapa orang
memandangnya dengan penuh pertanyaan pada sinar
matanya. kKarena itu, maka Swandaru itupun berkata pula
“Baiklah. Katakanlah dalam perlombaan itu kakang Sidanti
ternyata menjadi pemenang. Namun aku katakan bahwa ia
bukanlah pemanah terbaik di Sangkal Putung”

Widura masih tetap berdiam diri. Dengan cepatnya ia
memaklumi maksud Swandaru. ketika tak dilihatnya Agung
Sedayu diantara mereka, maka pasti Agung Sedayulah yang
dimaksud oleh Swandaru itu.dan dengan cepat pula Widura
dapat mengira-irakan apakah yang telah dilakukan oleh Agung
Sedayu. Agaknya ia telah melakukan beberapa permainan
bersama Swandaru. Namun Widura menjadi heran, bahwa
Swandaru telah menyusul Sidanti dna mengatakan apa yang
dilihatnya. Apakah maksud Swandaru itu telah disetujui Agung
Sedayu?
Sidanti telah hampir tak dapat menahan dirinya lagi.
Dengan lantang ia berteriak “Jangan banyak bicara Swandaru.
katakan siapa orangnya!”
Swandaru meredupkan matanya. Dipandangnya Sidanti
baik-baik. Apakah yang akan terjadi kalau ia menyebutkan
nama orang yang telah mengagumkannya itu? Dan dengan
las-lasan disebutnya nama itu, katanya “Kau ingin tahu
namanya? Namanya Agung Sedayu”
Sidanti mendengar nama itu, seperti suara guruh yang
meledak diatas kepalanya. Sesaat wajahnya menjadi tegang,
namun sesaat kemudian tubuhnya menjadi gemetar. Tiba-tiba
semua orangpun menjadi tegang pula ketika mereka melihat
Sidanti itu, tanpa sepatah katapun, melangkah dengan
tergesa-gesa menyibak semua orang yang berdiri
disekitarnya. Dengan dada yang bergelora ia berjalan kembali
kepalangan sambil menjinjing busurnya. Namun demikian
masih juga ia bergumam “Bagus. Kita buktikan, siapakah
diantara kita yang akan menjadi pemanah terbaik di Sangkal
Putung”
Beberapa orang yang kemudian tersadar akan keadaan itu,
segera berjalan pula kembali kelapangan. Mereka ingin
menyaksikan apakah gerangan yang akan terjadi.
Widura memandang si dengan hati yang berdebar-debar
pula. sesaat ia menjadi ragu-ragu. Namun sesaat kemudian
disadarinya, bahwa ia harus hadir pula dilapangan.
Seandainya terjadi sesuatu dengan Sidanti dan Agung
Sedayu, maka iapun harus dengan cepat dapat mengatasinya.
Meskipun demikian, Widura itu tak dapat melupakan

kehadiran Tohpati di Sangkal Putung. karena itu sebelum ia
pergi menyusul Sidanti, dipesannya dua orang berkuda itu
untuk segera kembali kegardunya, katanya “Kembalilah
kegardumu. Beritahukan kemudian gardu-gardu yang lain.
Dan selalu siapkanlah tanda bahaya. Jangan terlambat”
Kedua orang itu mengangguk, jawabnya “Baik. Akan
segera kami lakukan”
Demikian kedua orang berkuda itu pergi, maka berkatalah
Widura kepada ki Demang yang masih saja berdiri
kebingungan “Marilah kita saksikan, apakah yang terjadi”
“Baik, baik” jawab Ki Demang. Dan kepada Swandaru ia
berkata “Swandaru, kau selalu saja bikin perkara. Bukankah
dengan demikian kau telah memanaskan hati Sidanti? Apalagi
kalau ternyata kata-katamu benar. Lalu bagaimanakah dengan
hasil perlombaan itu?”
“Kalau mereka ingin bertanding, apa salahnya ayah” jawab
Swandaru. “Bukankah dengan demikian kita akan mendapat
penilaian yang jujur atas semua orang di Sangkal Putung?”
“Kalau ada yang ketinggalan dalam perlombaan, itu adalah
karena keinginannya sendiri” jawab Ki Demang. Namun ia
tidak dapat berkata apapun seterusnya, ketika diingatnya
bahwa Agung Sedayu adalah kemenakan Widura.
Tetapi Widuralah yang meneruskan “Apa yang terjadi
kemudian tidak akan mempengaruhi hasil perlombaan. Adalah
salah Agung Sedayu sendiri kenapa ia tidak ikut serta dalam
perlombaan itu. Betapapun pandainya ia membidikkan anak
panah, namun apabila itu dilakukan setelah perlombaan, maka
tak ada sebuah nilaipun yang dapat diberikan padanya”
Swandaru kini jadi terdiam. Ia sama sekali tak berani
menjawab kata-kata Widura. Namun orang lainlah yang
kemudian berkata “Biarlah kakang. Biarlah anak muda yang
sombong itu dapat menilai dirinya. Seandainya seseorang
dapat melampauinya, meskipun kelebihan itu tak dapat
mempengaruhi hasil perlombaan, namun kita semua akan
mengetahuinya, bahwa ada orang lain yang sebenarnya lebih
berhak atas kemenangan itu daripada Sidanti”

Widura berpaling kearah suara itu. Dilihatnya
dibelakangnya Hudaya mengangguk-anggukkan kepalanya,
sambil berkata “Kau benar kakang Citra Gati”
Widura menarik nafas dalam-dalam. Meskipun demikian ia
menjawab “Aku harus ada diantara mereka. Pertandingan
yang kemudian inipun tak boleh lebih dari pertandingan
memanah”
Hudaya tersenyum masam. Sahutnya “Apa salahnya?
Bukankah semuanya ini terjadi diluar arena yang seharusnya?
Kalau kali ini kakang masih mencegahnya, maka itu hanya
aka nberarti menunda-nunda penyelesaian”
Didalam hatinya Widurapun membenarkan kata-katanya
Hudaya itu. Namun segera terlintas didalam kepalanya,
bayangan-bayangan yang mencemaskannya. Tohpati. Kalau
orang-orangnya sibuk dengan bentrokan-bentrokan antara
sesama, apakah jadinya kalau Tohpati itu tiba-tiba saja
menerkam Sangkal Putung,? Kalau terjadi sesuatu, maka hal
itu pasti akan didengar oleh Macan Kepatihan itu. Sebab siapa
tahu bahwa seorang dua orang dari laskar Jipang masih ada
diantara mereka dan menyaksikan perselisihan itu.
Hal inilah yang tak terpikirkan oleh Hudaya, Citra Gati dan
orang-orang lain. Mereka hanya menuruti perasaan mereka
saja. Kebenciannya kepada kesombongan Sidanti agaknya
telah benar-benar memuncak. Dan mereka mengharap Agung
Sedayu akan memberi beberapa peringatan kepada Sidanti.
Namun ada hal lain lagi yang tak mereka ketahui. Agung
Sedayu tidak lebih dari seorang penakut.
karena itu, kali inipun Widura menjadi pening karenanya.
Meskipun demikian, maka Widura berkata tegas “Tak akan
ada perkelahian diantara kita”
Hudaya dan Citra Gati tidak berkata-kata lagi. Namun
wajahnya membayangkan kekecewaan hatinya. Sesaat
mereka saling berpandangan. Hudaya itu, kemudian
tersenyum hambar ketika ia melihat Citra Gati mengangkat
bahunya.
Ketika mereka melihat Widura melangkah kembali
kelapangan, mereka itupun mengikutinya pula. sedang Ki
Demang Sangkal Putung dengan wajah yang masam berkata

kepada anaknya “Swandaru, segera kau akan melihat akibat
pokalmu itu”
Swandaru menundukkan wajahnya. kini baru disadarinya,
mengapa Agung Sedayu mencegahnya untuk tidak
menyampaikan cerita tentang dirinya itu kepada siapapun
juga. Barulah kini ia dapat menilai perbuatannya itu. Namun
semuanya sudah terjadi. Dan sebenarnya hatinyapun terbersit
harapan seperti yang diucapkan oleh Hudaya dan Citra Gati
itu. Namun ia tidak membantah ayahnya lagi. Bahkan iapun
kemudian turun dari kudanya dan dituntunnya kuda itu
berjalan dibelakang ayahnya. Sedang Sekar Mirah ternyata
berjalan jauh mendahului. Dengan tergesa-gesa ia berjalan
dibelakang Sidanti diantara beberapa orang lain yang ingin
juga menyaksikan pertandingan yang kedua, yang pasti tidak
kalah menggemparkan dari pertandingan yang baru saja
selesai.
Bahkan beberapa orang sudah mulai menilai-nilai kedua
anak muda yang mereka anggap sebagai pahlawan-pahlawan
yang mengagumkan. Mereka berdua adalah anak muda yang
namanya menjadi buah bibir orang-orang Sangkal Putung.
Sidanti ternyata terkenal sebagai seorang yang gagah berani
yang dengan kesaktiannya mampu bertahan melawan Macan
Kepatihan. Sedang Agung Sedayu bagi mereka merupakan
seorang pahlawan penyelamat padukuhan Sangkal Putung.
Keduanya kini akan berhadapan dalam satu pertandingan
memanah. Alangkah mengasyikkan.
Sidanti sendiri yang berjalan paling depan dari iring-iringan
yang semakin lama menjadi semakin panjang itu, dadanya
benar-benar bergelora karena hatinya yang panas. Sejak
semula ia berharap agar ia dapat bertanding dalam
kesempatan apapun dengan Agung Sedayu. Namun ia
menjadi kecewa ketika Agung Sedayu tidak ikut serta dalam
perlombaan itu. Namun tiba-tiba dibelakangnya, Agung
Sedayu telah membuatnya menjadi bersakit hati. Kini biarlah
dibuktikan siapa diantara mereka berdua yang berhak
menamakan dirinya pemanah terbaik di Sangkal Putung.
Kabar itu, kabar tentang Agung Sedayu, segera menjalar
seperti api yang membakar kademangan Sangkal Putung.

Setiap mulut dan setiap telinga telah dirayapi oleh berita itu.
Beberapa orang berlari-lari pulang, untuk memanggil kakakkakak
mereka, adik-adik mereka dan keluarga-keluarga
mereka yang telah terlanjur sampai dirumah, untuk
menyaksikan pertandingan yang pasti akan menggembirakan
hati mereka, melampaui pertandingan yang baru saja selesai.
Beberapa saat kemudian Sidanti itupun menjadi semakin
dekat dengan lapangan dimuka banjar desa, sejalan dengan
hatinya yang menjadi semakin bergelora oleh kemarahan.
Maka iapun semakin mempercepat langkahnya, seakan-akan
ia ingin meloncat dengan satu loncatan yang akan dapat
mencapai sisa jarak yang sudah tidak terlalu jauh itu.
Dilapangan, Agung Sedayu berdiri dengan dada yang
berdebar-debar. Berbagai perasaan berkecamuk didalam
dadanya. Cemas, kecewa, meyesal bercampur baur.
Sehingga lututnyapun menjadi gemetar. Ternyata Swandaru
tidak menepati janjinya, sehingga akibatnya benar-benar tak
seperti yang diharapkan. karena itu, dalam kebingungan
Agung Sedayu itu berjalan hilir mudik tak menentu. Sekalisekali
ingin ia pergi meninggalkan lapangan. Tetapi kemudian
ia menjadi ragu-ragu. Sehingga akhirnya dadanya itupun
serasa berdnentangan, ketika ia mendengar suara orangorang
yang ribut semakin lama menjadi semakin dekat. Dan
ternyatalah kemudian apa yang ditakutkannya. Dari balik
rimbunnya daun-daun, dari balik dinding-dinding batu,
muncullah orang-orang itu. Berbondong-bondong dan
kemudian pecah berlarian mengelilingi lapangan.
Darah Agung Sedayu itupun hampir berhenti mengalir
ketika dilihatnya, diujung iring-iringan itu berjalan seorang
yang sanga menakutkan baginya. Sidanti.
Dan Sidanti itu langsung berjalan kearah Agung Sedayu.
Dengan langkah yang tetap namun tergesa-gesa, seakanakan
ia takut terlambat, meskipun hanya sekejap.
Tetapi hati Agung Sedayu itupun kemudian menjadi agak
tenteram ketika kemudian dilihatnya, pamannya datang pula
kelapangan. Ki Demang Sangkal Putung dan beberapa orang
lagi. Dengan demikian ia hanya dapat berdoa mudahmudahan
tidak terjadi sesuatu atas dirinya.

Sidanti itupun kemudian berhenti hanya beberapa langkah
saja dimuka Agung Sedayu. Dengan wajah tegang
dipandanginya wajah Agung Sedayu.
Agung Sedayu masih saja berdiri ditempatnya. Betapapun
dadanya berguncang, namun dicobanya juga menguasau
dirinya. Bahkan kemudian dilihatnya juga Sekar Mirah yang
memandangnya dengan penuh teka-teki. Akhirnya pamannya
dan Ki Demang Sangkal Putungpun berdiri dilingkaran itu
pula. hanya Swandarulah yang berdiri agak jauh, namun
wajahnya masih sasa tampak memancarkan kebanggaannya
atas Agung Sedayu. Sekali-sekali disambarnya wajah Sidanti
dengan tatapan matanya. Ditariknya bibirnya kesamping dan
kemudian ia tersenyum.
Betapa menyesal Agung Sedayu melihat anak muda itu.
Namun kini semuanya telah terlanjur. Dan dirinyalah kini yang
menjadi pusat perhatian segenap penduduk Sangkal Putung
yang semakin lama menjadi semakin banyak.
Seperti guruh menggelegar dilangit, Agung Sedayu itu
mendengar Sidanti berkata parau “Adi Agung Sedayu. Aku
telah mendengar apa yang baru saja kau lakukan”
Agung Sedayu menggigit bibirnya. Dengan sudut matanya
memandang wajah Swandaru. namun ia pengumpat didalam
hati ketika dilihatnya Swandaru itu tersenyum sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun kemudian Agung
Sedayu itu menjawab “Aku tidak berbuat apa-apa kakang
Sidanti”
Sidanti mengerutkan keningnya. Kemudian anak muda itu
tersenyum masam “Jangan menghina aku. Kenapa kau tidak
turut saja berlomba?”
“Aku tidak berhasrat” sahut Agung Sedayu.
“Tetapi kenapa kau membuat kericuhan setelah
pertandingan selesai?”
“Apakah yang aku lakukan?”
Mata Sidanti menjadi semakin menyala. Dan hati Agung
Sedayu menjadi semakin kecut karenanya. Namun dicobanya
juga untuk tetap menatap wajah Sidanti dengan wajah
tengadah. Tetapi lutunyalah yang terasa bergetaran. Meskipun
demikian Agung Sedayu tidak dapat menghindarkan diri dari

pertanggungan jawabnya atas semua perbuatannya. Katakatanya
dan anggapan orang-orang Sangkal Putung bahwa ia
adalah seorang pahlawan. Dan anggapan-anggapan itu belum
pernah dibantahnya. Apalagi ketika dilihatnya disampingnya
Sekar Mirah berdiri dengan wajah yang cerah. Kepada gadis
itupun telah banyak diceritakannya tentang perjalanannya ke
Sangkal Putung bersama kakaknya dahulu. Dan
diceritakannya betapa ia berdua bertempur melawan Alapalap
Jalatunda dan pande besi dari Sendang Gabus. Betapa
dengan dahsyatnya ia berdua berhasil membunuh tiga orang
diantaranya dan cerita-cerita lain yang dibuatnya untuk
menutupi kekerdilan jiwanya.
Kini ia dihadapkan pada satu pembuktian. Ia tidak dapat
berbuat apapun, selain berbuat sesuatu untuk menyelamatkan
namanya. Tetapi, betapa ia memaksa dirinya, namun lututnya
yang gemetar dan hatinya yang berdebar-debar itu sangat
menyulitkannya.
Dan kemudian terdengar Sidanti berkata pula dengan suara
yang lantang “Kau telah menyuruh Swandaru berteriak-teriak
sepanjang jalan, bahwa pemenang dalam perlombaan itu
bukan pemanah terbaik di Sangkal Putung”
Agung Sedayu mengerutkan keningnya. Sekali lagi
dipandanginya wajah Swandaru. dan Agung Sedayu itupun
menjadi semakin menyesali sikap Swandaru itu. Dengan
tertawa Swandaru mengangguk-anggukkan kepalanya.
Namun Agung Sedayu itu kemudian menggelengkan
kepalanya. Jawabnya “Aku tidak menyuruhnya. Dan aku tidak
berbuat apa-apa”
Semua orang yang mendengar jawaban Agung Sedayu itu
menjadi heran. Tanpa berjanji, maka semua orang berpaling
kearah anak muda yang gemuk itu, seolah-olah mereka
bertanya kepadanya, apakah yang dikatakannya itu benarbenar
bukan sebuah dongengan.
Swandarupun merasakan pertanyaan-pertanyaan yang
memancar dari wajah-wajah itu. Sesaat ia menjadi bingung.
Kenapa Agung Sedayu idak saja mengakuinya dan kalau
perlu membuktikan dihadapan orang-orang itu? Kenapa masih
saja ia merendahkan dirinya sedemikian? Namun tiba-tiba

Swandaru itupun mundur beberapa langkah, keluar dari
lingkaran orang yang berjejal-jejal. Dengan nanar ia
memandang berkeliling lapangan. Akhirnya ia berlari-lari untuk
memungut sesuatu yang tergolek dilapangan itu.
“Inilah” teriaknya “Aku akan dapat memberikan bukti
kepada kalian. Lihatlah sasaran ini. Panah-panahku masih
tertancap disini. Sasaran ini aku lemparkan keudara, dan anak
muda itu telah mengenainya tiga kali diudara. Ya tiga kali
diudara”
Semua mata memandangi bekas kepala orang-orangan itu.
Mereka melihatnya tiga anak panah masih melekat pada
benda itu. Dan mereka mendengar pula kata-kata Swandaru
itu. Tiga anak panah mengenai satu sasaran yang terbang
diudara. Mereka tidak tahu, bagaimana cara Agung Sedayu
mengenainya. Namun dengan serta-merta mereka bertepuk
tangan gemuruh.
Tepuk tangan yang gemuruh itu benar-benar telah
menyalakan bara didada Sidanti. Selangkah ia maju, dan
terdengarlah ia berkata lantang “Bohong, adakah kalian
melihat, bagaimana caranya ia mengenainya?”
Suara yang gemuruh itupun berangsur diam. Dan akhirnya
sama sekali ketika mereka melihat Widura melangkah maju
memasuki lingkaran. Dengan tenangnya ia memandang
Sidanti dan Agung Sedayu berganti-ganti. Kemudian
dipandangnya semua wajah yang berdiri mengitari mereka itu.
Betapapun juga, Widura itupun berusaha untuk mengasai
keadaan. Sebagai seorang pemimpin maka ia harus berbuat
sesuatu. karena itu maka katanya “Tak ada pengaruh apapun
atas perlombaan yang sudah berjalan. Kita sudah menetapkan
pemenangnya. Namun permainan-permainan yang lain masih
akan dapat dilakukan. Tetapi bukan untuk merubah dan
mempengaruhi perlombaan itu.”
***

Share this article :

Posting Komentar

 
Company Info | Contact Us | Privacy policy | Term of use | Widget | Advertise with Us | Site map
Copyright © 2011. EBOOK JADUL . All Rights Reserved.
Design Template by panjz-online | Support by creating website | Powered by Blogger