Senin, 23 Juni 2014
Buku 09
Sampai digubug Alap-alap Jalatunda Tohpati berhenti.
Wajahnya tampak berkerut-kerut. Diangkatnya telinganya
sambil bergumam lirih “Siapa itu paman?”
Sumangkar menarik pundaknya tinggi-tinggi. Katanya
“Itulah Raden, gambaran kehidupan kita”
Tohpati menggeram. Didengarnya sekali lagi suara tertawa
perempuan seperti seekor kucing tercekik. Kemudian
terdengar suara Alap-alap Jalatunda yang muda itu “Jangan
merajuk anak muda. Tinggalkan istrimu disini. Ia tidak akan
berkurang cantiknya”
Yang terdengar kemudian ringkik perempua. Katanya
“Kembalilah dulu kang, aku ingin tinggal disini dahulu”
Tohpati itu kemudian melihat anak muda yang tinggi kurus
dan berkumis jarang. Anak muda yang pernah diajaknya
bercakap-cakap. Anak muda yang istrinya jauh lebih tua dan
bernama Nyai Pinan. Laki-laki muda itu berjalan tersuruksuruk
dengan wajah yang suram. Sekali ia berpaling, dan
terdengar istrinya berkata “Kang, aku akan segera kembali
membawa sepotong daging rusa untuk kakang. Bukankah
kakang senang makan daging rusa?”
Laki-laki itu mengangguk. Dan kembali ia berjalan
meninggalkan gubug itu diiringi oleh suara tertawa istrinya dan
Alap-alap Jalatunda. Diantara suara tertawa itu terdengar Nyai
Pinan berkata “Suamiku adalah laki-laki yang baik hati”
Laki-laki muda yang bertubuh kurus itu berhenti sesaat
mendengar pujian istrinya. Namun kemudian ia berjalan
kembali.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sebuah tangan
yang kuat menyambar bahunya. Ketika ia berpaling, maka
tubuhnya terputar dengan kuatnya.
Laki-laki itu sesaat seakan-akan kehilangan kesadarannya.
Namun ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bertambah
terkejut lagi. Dilihatnya sepasang mata Tohpati seolah-olah
memancarkan sinar api yang merah membara.
Laki-laki muda itu tidak mengerti apa yang harus
dilakukannya, sehingga dengan gemetar ia menyeringai ketika
tubuhnya diguncang-guncang oleh tangan Tohpati yang
serasa akan meremukkan tulangnya.
“Kembali masuk kedalam gubug itu” teriak Tohpati dengan
suara parau dan gemetar, sehingga suaranya seolah-olah
telah berubah menjadi suara hantu yang sedang marah
“Masuk kembali kegubug itu. Seret perempuan itu keluar.
Perempuan yang pernah kau larikan dari suaminya”
Laki-laki muda yang tinggi kurus dan berkumis jarang itu
menjadi semakin bingung. Ia kini benar-benar kehilangan akal
dengan demikian maka ia masih saja berdiri dengan mulut
ternganga.
“Ayo masuk kembali kedalam gubug itu” teriak Macan
Kepatihan dengan marahnya.
Laki-laki itu benar-benar menjadi kebingungan, sehingga
tanpa sesadarnya terloncat jawabannya “Tetapi tuan, ia masih
ingin tinggal disana”
“Ambil perempuan gila itu. Seret keluar kalau tidak mau
dilemparkan dari perkemahan ini”
Otak laki-laki kurus itu kini seolah-olah menjadi seperti
baling-baling yang dipermainkan angin. Kalau angin itu
bertambah kencang sedikit saja, maka ia akan semakin
kencang berputar, dan tidak mampu untuk mencoba berhenti
dengan sendirinya.
Dalam kebingungan itu tiba-tiba terdengar suara Alap-alap
Jalatunda dengan garangnya “He, siapa diluar?”
Laki-laki kurus itu tidak dapat menjawab. mulutnya benarbenar
serasa terbungkam, sehingga sekali lagi terdengar
suara Alap-alap Jalatunda “Siapakah laki-laki gila yang
mengumpat-ngumpat itu?”
Demikian marahnya Macan Kepatihan mendengar katakata
itu sehingga bibirnya menjadi gemetar, dan bahkan tak
sepatah katapun yang dapat melontar dari bibirnya.
Dalam pada itu terdengar suara perempuan dari dalam bilik
itu “Ah, jangan marah kang. Tunggulah diluar. Sebentar lagi
antarkan aku kembali kegubug suamiku”
Bukan main marahnya Macan Kepatihan itu. Dan
kemarahannya itu benar-benar menimbulkan keheranan pada
Sumangkar yang tua. Apa yang terjadi itu bukanlah barang
baru didalam perkemahan ini. Tetapi agaknya Tohpati tidak
pernah menaruh perhatian atasnya. Namun tiba-tiba ada
suatu perubahan pada sikapnya. Perubahan yang tak dapat
diketahui ujung dan pangkalnya. Namun yang dilihatnya kini
Macan Kepatihan itu tidak dapat lagi mengendalikan
kemarahannya. Karena itu, maka tiba-tiba Tohpati itu
mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Sekali ia meloncat
mendekati gubug itu, dan dengan sekuat tenaganya tiang
sudut gubug itu berderak patah, dan runtuhlah sudut gubug
Alap-alap Jalatunda.
Mendengar suara berderak-derak itu, alangkah terkejutnya
Alap-alap Jalatunda dan Nyai Pinan. Dengan tangkasnya anak
muda itu meloncat kepintu dan dengan sebuah loncatan yang
panjang ia telah berdiri tegak diluar pintu.
Tetapi alangkah terkejutnya Alap-alap yang garang itu.
Demikian ia berdiri tegak, maka dengan serta-merta sebuah
tangan terjulur kearahnya dan dengan kuatnya menggenggam
leher bajunya. Alangkah kuatnya tangan itu. Alap-alap
Jalatunda itu serasa kehilangan segenap kekuatannya ketika
tangan itu menariknya.
Sebelum Alap-alap Jalatunda sadar akan keadaannya,
maka sebuah tamparan yang keras mengenai pipinya. Kini ia
terhuyung-huyung. Tangan yang kuat itu telah tidak
menggenggam bajunya lagi, sehingga Alap-alap itu terbanting
jatuh. Namun sebenarnya tubuh Alap-alap Jalatunda itu
sedemikian kokohnya. Demikian ia terguling, maka segera ia
meloncat berdiri diatas kedua kakinya yang kokoh.
Kini barulah ia melihat siapakah laki-laki yang telah
menamparnya itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi kekar
berkumis tebal melintang. Macan Kepatihan.
Ketika disadarinya siapa yang berdiri dihadapannya itu,
maka berdesirlah hatinya. Tiba-tiba ia tidak lagi bersikap
garang. Sekali ia membungkukkan badannya dan berkata
“Maafkan aku Raden. Aku tidak tahu, bahwa Raden berada
disini”
Terdengar gigi Macan Kepatihan gemeretak menahan
kemarahannya yang memuncak. Dengan tajamnya ia
memandangi wajah Alap-alap Jalatunda yang tunduk.
Seandainya pada saat itu Alap-alap Jalatunda berkata
sepatah kata saja, maka wajahnya pasti akan menjadi
bengkak, karena Tohpati telah menggenggam tinjunya siap
untuk memukul mulut Alap-alap Jalatunda itu. Namun
untunglah bahwa Sumangkar sempat menenangkannya,
katanya “Sudahlah ngger, biarlah ini menjadi pelajaran bagi
setiap orang diperkemahan ini. Anak muda itu telah menyesal”
Tohpati tidak menjawab. Diedarkannya pandangan
matanya berkeliling. Ternyata disekitar tempat itu telah berdiri
berkerumun beberapa orang. Diujung berdiri seseorang
dengan mulut yang bergerak-gerak, Sanakeling. Meskipun ia
tegak dengan wajah tegang, namun mulutnya masih saja
mengunyah daging menjangan yang belum sempat
ditelannya.
Tohpati itu kemudian melangkah selangkah maju. Dengan
tongkatnya ia menunjuk kedalam kekelaman malam,
kekelaman hutan disekitarnya “Perempuan yang jahat. Pergi
dari sini. Kaulah yang membawa sial dalam laskar kami”
“Raden” cegah Sumangkar hati-hati “Biarkan perempuan ini
disini. Tempatkanlah perempuan itu pada suaminya. Jangan
meninggalkan tempat ini. Kalau ia pergi maka suaminyalah
yang akan menjadi gantinya”
Betapa marahnya Macan Kepatihan, namun naluri
kepemimpinannya segera merayapi otaknya. Karena itu, maka
katanya “Paman benar. Perempuan itu tidak boleh
meninggalkan tempat ini”. Kemudian katanya kepada laki-laki
kurus berkumis jarang “Kau menjaga istrimu digubug ini.
Biarlah Alap-alap gila itu mencari tempat lain. Kalau istrimu
sampai meninggalkan tempat ini, maka lehermu menjadi
taruhannya”
Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya dalamdalam
sambil gemetar. Ia tidak tahu kenapa istrinya tidak
boleh meninggalkan tempat itu. Apakah besok istrinya akan
dihukum, apakah ada persoalan-persoalan lain yang akan
dilakukan oleh Macan Kepatihan itu? Tetapi ia hanya mampu
menjawab “Ya, ya tuan”
Namun Sumangkar yang berpengalaman itu dapat
membayangkan apa saja yang akan terjadi seandainya
perempuan itu benar-benar meninggalkan perkemahan itu.
Perkemahan yang dengan hati-hati dipersiapkan khusus untuk
tujuan yang penting. Perkemahan yang dibangun dengan
tergesa-gesa untuk mempersiapkan laskar-laskar Jipang yang
terpencar disegala penjuru. Kalau perempuan itu lepas
dengan luka dihatinya, maka perkemahan itu pasti segera
akan hancur. Sebab tidak mustahil, tempat itupun akan segera
diketahui oleh Untara dan Widura. Untunglah bahwa Tohpati
segera menyadari pula keadaan itu, sehingga orang-orang
Untara belum dapat mengetahui dengan pasti letak
perkemahan itu. Hubungan-hubungan yang dibuat dengan
orang-orang dalam masih terlalu sulit dan kesempatan untuk
itu masih belum dapat diperoleh. Yang baru diketahui oleh
orang-orang Untara adalah persiapan-persiapan dan
kesibukan dari beberapa orang yang terpencar-pencar.
Pemusatan kekuatan disekitar daerah yang sudah dikenal.
Namun secara pasti, tempat itu belum dapat diketahui. Apalagi
tempat ini belum lama dibangun, setelah beberapa puluh kali
berpindah-pindah.
Nyai Pinan kemudian menjadi ketakutan bukan alang
kepalang. Merangkak-rangkak ia menangis minta ampun.
Bahkan ketika ia hampir sampai dihadapan Tohpati, maka
segera ia menjatuhkan dirinya menelungkup. Namun Tohpati
tidak menghiraukannya. Sekali lagi matanya beredar diantara
orang-orangnya yang berdiri berkerumun sambil menahan
gelora hati masing-masing. Dengan lantang ia berkata “Aku
tidak mau melihat perbuatan terkutuk berulang diperkemahan
ini”
Dan sebelum gema suaranya lenyap dalam kekelaman
malam, maka segera Tohpati itu melangkah pergi. Beberapa
orang menyibak kesamping memberinya jalan. Tanpa
menoleh Tohpati berjalan masuk kedalam malam yang gelap.
Dibelakangnya Sumangkar berjalan cepat-cepat. Diujung
perkemahan itu Sumangkar masih sempat meraih sebuah
golok pembelah kayu. Kalau mereka pergi ke Sangkal Putung,
maka perjalanan itu bukanlah perjalanan tamasya dimalam
purnama. Sehingga karena itu, maka golok itu akan sangat
bermanfaat baginya apabila ditemuinya bahaya diperjalanan.
Sepeninggal Tohpati, Sanakeling melangkah maju.
Mulutnya yang masih mengunyah daging menjangan itu
berkata “Apakah yang kau lakukan Alap-alap kecil?”
Alap-alap Jalatunda menundukkan wajahnya. Terasa darah
yang seakan-akan menggelegak, namun ia tidak berani
berbuat apa-apa. Meskipun demikian terasa juga bahwa telah
terjadi suatu perubahan sikap pada Tohpati yang garang itu.
Meskipun Pratanda yang juga bergelar Alap-alap Jalatunda
itu belum menjawab, namun dengan melihat Nyai Pinan yang
masih merangkak-rangkak, segera Sanakeling dapat
menduga apa yang telah terjadi. karena itu, maka gumamnya
didalam mulutnya “Hem, karena itu aku tidak mau berurusan
dengan perempuan. Perempuan dimana-mana dapat
menimbulkan persoalan. Dunia ini dapat menjadi sedemikian
indah dan menggairahkan, karena perempuan. Namun dunia
ini dapat berubah menjadi neraka juga karena perempuan.
Nah alap-alap kecil, jangan menyesal. Yang sudah biarlah
terjadi, tetapi ingatlah untuk seterusnya, bahwa Macan
Kepatihan yang garang itu membenci perempuan”
Alap-alap Jalatunda mengangkat wajahnya. Dilihatnya
Sanakeling masih menggerak-gerakkan mulutnya. Tetapi
Alap-alap Jalatunda tidak berkata apa-apa. dengan langkah
yang gontai ia berjalan meninggalkan tempat itu.
“Mau kemana?” bertanya Sanakeling.
“Tidak kemana-mana” sahut Alap-alap Jalatunda.
“Kau tidak boleh menempati gubug yang hampir roboh itu.
Tidurlah ditempatku bersama orang-orangku”
Alap-alap Jalatunda menggeleng, katanya “Aku akan tidur
bersama orang-orangku sendiri”
Sanakeling dengan susah payah menelan segumpal daging
yang tidak dapat dikunyahnya. Sesaat terasa
kerongkongannya tersumbat. Namun setelah gumpalan
daging itu melalui lehernya ia berkata “Terserahlah, tetapi aku
akan berbicara kepadamu. Datanglah kegubukku”
“Tentang apa?” bertanya Alap-alap Jalatunda.
“Tidak tentang perempuan” sahut Sanakeling.
“Ah” desah Alap-alap Jalatunda “Tentang apa?”
Sanakeling memandang Alap-alap Jalatunda dengan
tajamnya. Ia tidak senang mendengar Alap-alap itu berkata
tajam kepadanya. Meskipun demikian ia menjawab “Tentan
kedudukan kita dan Sangkal Putung. Pergilah”
“Apa yang akan kita bicarakan?”
“Pergilah kegubugku” desak Sanakeling.
“Kita bicara disini saja”
Sanakeling mengerutkan keningnya. Katanya “He, apakah
kau sudah menjadi gila?”
Alap-alap Jalatunda tidak memperdulikannya. Selangkah ia
berjalan kesamping sambil bergumam “Aku akan pergi”
“Pergilah ketempatku. Aku perlu berbicara tentang berbagai
persoalan”
Alap-alap Jalatunda yang sedang dibakar oleh gejolak
hatinya itu menjawab dengan jengkelnya “Berbicaralah disini”
Sanakeling menjadi marah pula karenanya. Selangkah ia
maju sambil menggeram perlahan-lahan “Alap-alap kecil.
Jangan menjadi gila. Kau dihukum karena kesalahanmu.
Jangan membuat persoalan baru. Pergi kegubug itu, atau kau
aku tampar mulutmu dimuka anak buahmu. Aku masih merasa
berbaik hati kepadamu bahwa aku memperingatkanmu
perlahan-lahan”
Langkah Alap-alap Jalatunda itu terhenti. Alangkah sakit
hatinya mendengar geram itu. Tetapi ketika dilihatnya mata
Sanakeling yang seolah-olah menyala itupun, hatinya menjadi
kecut. Disadarinya kini kekecilannya diantara para pemimpin
Jipang. Sanakeling adalah orang yang garang segarang Plasa
Ireng yang telah mati dibunuh oleh Sidanti dengan luka arang
kranjang ditubuhnya.
Sekali lagi Alap-alap Jalatunda terpaksa menahan gelora
didadanya. Ditelannya kepahitan itu meskipun hatinya tidak
ikhlas. Karena itu, maka ia menjawab pendek “Ya, aku akan
pergi kesana”
Sanakeling menarik nafas panjang. Namun matanya masih
saja menyalakan kemarahannya. Dengan langkah yang berat
ia berjalan meninggalkan gubug itu sambil memperingatkan
perempuan yang masih saja menangis sambil duduk ditanah
“Ingat semua kata-kata Macan Kepatihan supaya nyawamu
tidak dicabut dengan tongkatnya yang mengerikan itu. Sekali
kepalamu tersentuh kepala tongkatnya, maka otakmu pasti
akan berhamburan. Nah, masuklah kegubug itu dan jangan
meninggalkan tempat ini”
“Baik tuan. Aku tidak berani melanggar perintah itu” tangis
Nyai Pinan.
Sanakeling itupun kemudian kembali kegubugnya. Ia dapat
mengerti juga kenapa Nyai Pinan tidak boleh meninggalkan
tempat itu. Sebab perbuatan itu akan sangat berbahaya bagi
rahasia gerombolannya.
Alap-alap Jalatundapun tidak dapat berbuat lain daripada
datang memenuhi permintaan Sanakeling. Ia sudah dapat
membayangkan apa saja yang akan dikatakan oleh
Sanakeling itu. Persiapan untuk menyerbu kembali Sangkal
Putung.
Dalam pada itu, Tohpati berjalan dengan tergesa-gesa
meninggalkan perkemahannya, seakan-akan ia ingin segera
pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Tempat yang
dibangunnya sebagai landasannya untuk meloncat kedaerah
perbekalan yang subur, Sangkal Putung. Namun perkemahan
itu telah menumbuhkan kebencian padanya. Tempat yang
terkutuk. Tempat yang dipenuhi oleh berbagai ciri kehidupan
liar yang benar-benar menjemukan. Ia tidak mengerti apa
yang terjadi didalam dirinya, bahwa baru sekarang ia merasa
muak melihat perbuatan-perbuatan itu. Bukankah sebelumnya
telah diketahui, setidak-tidaknya pernah didengarnya bahwa
hal-hal semacam itu pernah dan bahkan sering terjadi?
Kenapa pada saat itu ia tidak berbuat apa-apa? Kenapa pada
saat itu dibiarkannya kemaksiatan semacam itu tumbuh
seenaknya?
Macan Kepatihan itu menggeram. Ketika ia berpaling
dilihatna Sumangkar berjalan beberapa langkah
dibelakangnya sambil menjinjing sebilah golok.
“Apakah yang paman bawa itu?”
“Golok” sahut Sumangkar.
“Untuk apa?”
“Tongkat” jawabnya pendek.
Tohpati mengerutkan keningnya dan memperlambat
langkahnya, sehingga Sumangkarpun berjalan lebih lambat
pula.
Sekali-sekali Macan Kepatihan itu berpaling dan akhirnya ia
berkata “Golok itu terlampau pendek untuk dijadikan tongkat”
Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu. Cepat ia
mencari kawaban yang lain, katanya “Tidak ngger. Bukan
tongkat sebagai penyangga tubuh. Maksudku, golok ini dapat
dipakai untuk menerabas dahan-dahan yang mengganggu
jalan”
Tohpati itu tersenyum. Katanya dengan nada datar “Paman
ternyata memerlukan juga senjata”
Sumangkar tidak menjawab. Ternyata Macan Kepatihan itu
dapat menebak maksudnya. Namun bukankah ia akan pergi
kedaerah lawan? Maka adalah kewajibannya untuk berhatihati.
Meskipun demikian Sumangkar itu tidak menjawab. Ia
masih saja berjalan dibelakang Tohpati sampai mereka
muncul dari balik rimbunnya dedaunan yang agak lebat.
Demikianlah mereka melangkahkan kaki mereka keluar
hutan. Tohpati menarik nafas lega, seolah-olah ia telah keluar
dari suatu daerah yang dibencinya. Suatu daerah yang sama
sekali tidak menyenangkan. Seakan-akan ia baru keluar dari
suatu tempat yang padat pepat sehingga menyesakkan
nafasnya.
Ketika Tohpati menengadahkan wajahnya, dilangit
dilihatnya bulan yang terbelah. Sehelai-sehelai awan yang
putih hanyut dibawa arus angin yang lembut.
Sekali lagi Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Bulan itu
tampaknya sangat asing baginya. Sudah beberapa tahun ia
melupakan keindahan bulan, langit yang sumeblak, bintangbintang
dan bahkan melupakan apa saja yang dapat
memberinya kesegaran seperti malam ini. Angin yang lembut
dan daun-daun yang bergerak-gerak dibelai oleh angin yang
lembut itu.
“Hem” desahnya.
Sumangkar melangkah lebih cepat lagi, sehingga ia
berjalan disamping Macan Kepatihan itu. Ketika ia mendengar
Tohpati itu berdesah, ia berpaling. Tetapi ia tidak bertanya
apa-apa.
Tohpati masih mengagumi kesegaran angin malam dan
kembutan sinar bulan setengah. Cahaya yang redup
kekuning-kuningan dan daun-daun yang hijau gelap seperti
langit digaris cakrawala. Dari dalam kekelaman malam,
menjulang lamat-lamat gunung Merapi menyentuh langit.
“Paman” tiba-tiba terdengar Tohpati itu berkata “Umurku
sudah cukup banyak paman. Sudah sepertiga abad. Tetapi
aku merasa tiba-tiba menjadi orang asing disini. Asing dari
alam disekitarku ini”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pertanyaan itu telah mengatakan kepadanya, bahwa terjadi
sesuatu pergolakan didalam dada murid saudara
seperguruannya itu. Namun Sumangkar menjawab “Mungkin
angger merasa asing. Tetapi alam yang Raden anggap asing
ini, adalah alam yang sehari-hari telah memeluk angger dalam
rangkumannya. Alam ini mengenal angger dengan baik.
Sebab angger adalah bagian daripadanya. Angger telah lahir
dari sumber yang sama”
Tohpati berdesir mendengar kata-kata Sumangkar itu. Tibatiba
disadarinya bahwa alam adalah saudara kandungnya.
Pepohonan, hutan, gunung, ngarai, bahkan bintang dan bulan,
matahari dan seluruh isi angkasa. Semuanya telah tercipata
oleh sabda yang Maha Pencipta. Semesta alam dan isinya.
Juga manusia yang amat kecilnya dibandingkan dengan
seluruh kebesaran alam ini.
Tetapi selama ini Tohpati tidak pernah mengingat
sumbernya lagi. Yang diingatnya sehari-hari adalah nafsu
yang menyala-nyala didalam dadanya untuk memusnahkan
lawan. Membunuh dan menghancurkan. Membuat malapetaka
dan meruntuhkan air mata.
Sekali lagi Tohpati menengadahkan wajahnya. Bulan itu
masih memancar dilangit, dan bintang-bintang masih
bergayutan pada dataran yang biru.
“Paman” gumam Macan Kepatihan itu perlahan-lahan
“Besok kita akan mulai dengan persiapan yang terakhir.
Mudah-mudahan kita akan dapat merebut daerah perbekalan
itu kali ini”
Sumangkar berpaling. Kata-kata itu sama sekali tidak
bernafsu seperti arti katanya. Tohpati itu seakan-akan berkata
asal saja mengucapkan kata-kata. Karena itu Sumangkar tidak
segera menjawab. Dibiarkannya Tohpati berkata pula “Besok
kita akan mulai lagi dengan suatu gerakan. Aku mengharap
lusa kita telah berada di Sangkal Putung”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya
pendek “Ya ngger”
Tohpati sama sekali tidak tertarik kepada jawaban
Sumangkar. Bahkan seolah-olah tidak didengarnya. Ia masih
saja berkata seterusnya “Besok aku akan mulai dengan
pembunuhan-pembunuhan dan kematian-kematian baru.
Besok aku mengadakan benturan benturan antara manusia
dengan manusia. Antara sesama yang mengalir dari sumber
yang satu”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tahu benar
apa yang terkandung didalam hati Macan Kepatihan itu.
Sehingga karena itu diberanikan dirinya berkata “Besok itu
belum terjadi. Kita masih dalam keadaan kita sekarang. Apa
yang terjadi besok bukanlah suatu kepastian dari sekarang.
Kita mendapat wewenang untuk menentukan hari besok. Hari
kita sendiri”
“Ya” sahut Tohpati “Paman benar. Tetapi apa yang kita
lakukan besok pasti berdasarkan pertimbangan tentang hari
sekarang dan hari kemarin. Apakah dan siapakah kita
sekarang dan kemarin. Dengan dasar itulah kita berbuat untuk
besok”
“Ya. Kita sendiri adalah kelanjutan dari masa lampau.
Tetapi tidak seharusnya apa yang kita lakukan besok harus
senafas dengan apa yang kita lakukan kemarin” sahut
Sumangkar “Dengan demikian maka tidak akan ada
perubahan-perubahan didalam diri manusia. Tetapi
perubahan-perubahan itu selalu terjadi. Seorang yang hidup
karena pekerjaan yang nista suatu ketika akan dapat menjadi
seorang yang alim dan berbudi. Seorang yang baik hati, suatu
saat dapat berbuat diluar batas kemanusiaan”
“Seorang pahlawan dimedan-medan perang, suatu ketika
memilih jalan hidupnya didapur-dapur dan disudut-sudut
perapian” potong Tohpati.
“Ya, itupun suatu perkembangan yang terjadi didalam diri
manusia” sahut Sumangkar.
Tohpati mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri.
Ditatapnya padang rumput yang sempit dihadapannya,
kemudian diseberang padang rumput itu terdapat sawahsawah
yang tidak pernah ditanami selama kerusuhan terjadi
didaerah ini. Para petani yang memilikinya menjadi ketakutan
untuk menggarapnya, sebab setiap saat laskat Jipang yang
liar sering memerang mereka.
Ketika mereka melangkah semakin jauh kedalam padang
itu, kembali Tohpati berkata tanpa berpaling “Oaman, apakah
paman puas dengan keadaan paman sekarang?”
“Puas tentang apa, ngger?”
“Tentang keadaan paman. Paman yang pernah dikagumi
digaris perang, kini tidak lebih dari seorang juru masak
didapur”
“Aku puas ngger. Aku puas bahwa aku untuk sekian
lamanya berhasil meletakkan senjataku dan menggantinya
dengan pisau dapur dan golok pembelah kayu ini”
Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu
menggeram didalam rongga dadanya, tetapi ia ragu-ragu
untuk mengutarakannya.
Namun yang terloncat dari bibirnya adalah “Paman adalah
seorang yang berhati goyah. Paman telah meletakkan suatu
tekad perjuangan. Namun paman berhenti ditengah jalan”
“Raden” sahut Sumangkar perlahan-lahan “Aku memang
pernah meletakkan suatu tekad. Tetapi aku bukan orang yang
buta pada keadaan. Orang yang dengan membabi buta pula
berbuat hanya karena sudah terlanjur. Sebenarna ngger, terus
terang, sejak Arya Penangsang dan pamanda Patih Mantahun
melakukan rangkaian-rangkaian pembunuhan, sejak itu hatiku
telah goyah. Tetapi aku pada saat itu tidak yakin, hatiku dapat
goyah. Aku tidak percaya pada setiap persoalan yang timbul
didalam diriku. Dan aku telah berusaha untuk membutakan
mataku dan berbuat seperti yang sudah mulai aku lakukan.
Tetapi akhirnya aku menyadari keadaanku. Aku tidak dapat
membohongi perasaanku terus memerus. Aku jemu pada
peperangan”
“Jangan berkata begitu” potong Tohpati. Langkahnyapun
terhenti dan dengan pandangan yang tajam ditatapnya mata
Sumangkar. Namun kini Sumangkar tidak lagi menundukkan
wajahnya. Bahkan langsung dipandangnya biji mata Tohpati
yang seakan-akan menyala itu. Pandangan mata seorang
yang sudah lanjut usia.
Tohpatilah yang kemudian berpaling. Meskipun demikian ia
bergumam “Paman jangan mencoba melemahkan hatiku.
Apakah paman ingin memaksa aku untuk berbuat seperti
paman itu. Meletakkan senjata ini dan merunduk-runduk
kepada orang Pajang untuk menjadi juru masak atau pekatik”
“Tidak” sahut Sumangkar “Angger tidak dan akupun tidak”
“Lalu?”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Timbullah
kebimbangan didalam hatinya. Sudah pasti ia tidak dapat
mengatakan kepada Tohpati meskipun ia tahu bahwa hati
Macan Kepatihan yang garang itu sedang goncang.
Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar
Tohpati berkata “Paman, aku bukan pengecut. Aku bukan
orang yang takut melihat beberapa kekalahan kecil. Dan aku
tak akan dapat digoyahkan oleh keadaan yang bagaimanapun
juga. Lusa apabila Sanakeling telah berhasil mengumpulkan
segenap orang-orang kita, maka aku benar-benar akan
menghancur-lumatkan Sangkal Putung. Kali ini yang terakhir.
Kalau aku tidak berhasil menguasai Sangkal Putung, maka
lebih baik Sangkal Putung itu aku binasakan. Rumahrumahnya,
sawah-sawahnya dan segala kekayaan yang ada
didalamnya. Buat apa aku menyayangkan kehancurannya,
kalau aku tidak dapat memanfaatkannya”
Sumangkar memandangi wajah Tohpati dalam keremangan
cahaya bulan. Dilihatnya Macan Kepatihan itu kemudian
menggigit bibirnya dan terdengar ia menggeram.
“Hem” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, meskipun
ia tidak segera mengucapkan kata-kata.
“Kenapa paman berdesah?” bertanya Tohpati
“Tidak” sahut Sumangkar “Aku tidak berdesah. Aku sedang
menyesal”
***
“Apa yang paman sesali?”
“Angger sudah mulai berkelahi dengan pertimbanganpertimbangan
sendiri. Angger melihat kewajaran didalam diri
angger, tetapi angger tidak mau”
“Bohong” teriak Tohpati tiba-tiba. Wajahnya benar-benar
menjadi merah. Tanpa disangka-sangka ia melangkah maju
mendekati Sumangkar sambil menundingnya “Jangan
berkhianat terhadap pimpinanmu paman. Paman sedang
berusaha melemahkan hatiku”
“Kekuatan hati seseorang tidak harus ditampakkan pada
kekerasan pendirian yang membabi buta. Mungkin angger
mampu menghancurkan Sangkal Putung. Tetapi itu perbuatan
putus asa. Angger benar-benar kehilangan akal. Dengan
demikian maka beribu-ribu jiwa akan kehilangan tempat
tinggal dan mata pencaharian apabila sawah-sawahnya
dihancurkan. Mereka akan kelaparan dam mereka akan mati
sia-sia”
“Itu adalah akibat dari kekerasan kepala mereka. Kenapa
mereka tidak menyadari bahwa mereka harus menyerah?”
“Siapakah yang keras kepala? Siapakah yang tidak
menyadari keadaannya?”
“Setan” potong Tohpati “Paman benar-benar telah
berkhianat. Karena itu maka tidak sewajarnya paman ada
didalam barisanku”
“Apakah aku harus pergi ke Pajang?”
“Tidak, tidak dapam barisanku dan tidak boleh pergi ke
Pajang. Sebab dengan demikian maka pengkhianatan paman
akan menjadi sempurna”
“Jadi, apa yang harus aku kerjakan?”
Sejenak Tohpati terbungkam. Yang terdengar hanyalah
dengus nafasnya yang terengah-engah. Tetapi tiba-tiba ia
berteriak “Mati, kau harus mati”
“He?” Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu,
sehingga untuk sesaat mulutnya seakan-akan terkunci. Tetapi
sesaat kemudian orang tua itu telah berhasil menguasai
dirinya kembali sepenuhnya.
Bahkan Sumangkar itu kemudian tersenyum. Ditatapnya
mata Tohpati seolah-olah orang tua itu ingin memandang
tembus kedalam pusat jantungnya. Dengan tenangnya
Sumangkar itu kemudian menjawab “Angger, apakah angger
bermaksud membunuh aku?”
Pertanyaan itu menghantam dada Tohpati sehingga serasa
akan meruntuhkan segenap tulang-tulang iganya. Sesaat
Tohpati terdiam, namun kemudian dikerahkannya segenap
tenaga dan kekuatannya untuk menjawab, hanya sepatah
kata, “Ya”
Kembali Sumangkar tersenyum. Senyum yang
menggoncangkan hati Macan yang garang itu. Dimata
Tohpati, Sumangkar yang berdiri dihadapannya itu bukan lagi
seorang juru masak yang malas, namun Sumangkar itu kini
berdiri dengan wajah tengadah. Sumangkar tu kini benarTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
benar bersikap sebagai seorang senapati digaris peperangan.
Sumangkar yang pernah dikenalnya dahulu.
Karena itu dada Tohpati menjadi berdentang cepat.
Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk tegak dengan
wajah yang tegang, menghadapi orang tua itu.
Mendengar jawaban Tohpati yang pendek itu, Sumangkar
kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan
ia berkata “Raden, aku adalah seorang abdi yang sejak
Pamanda Kepatihan masih hidup aku adalah abdi kepatihan.
Kalau aku kebetulan menjadi saudara seperguruan Gusti Patih
itu bukanlah soal dalam hubungan antara hamba dan
gustinya. Kini angger adalah pimpinan laskar Jipang
sepeninggal Arya Penangsang. Dalam hal inipun siapa
Sumangkar dan siapa Tohpati bukan juga menjadi soal”
“Diam” potong Tohpati dengan suara bergetar “Kubunuh
kau”
Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Sumangkar meletakkan
golok pembelah kayu ditangannya dan selangkah ia maju
mendekatinya “Marilah ngger. Seperti juga Pamanda
Kepatihan, Sumangkar dapat pula dibunuh dan mati untuk
tidak bangkit kembali. Hanya dongeng-dongeng ngayawara
saja yang mengatakan bahwa murid-murid perguruan Kedung
Jati memiliki nyawa rangkap sepuluh”
Macan Kepatihan itu kemudian menundukkan wajahnya
dalam-dalam. Bahkan kemudian kelangkah ia berjalan
kesamping, dan dengan lemahnya menjatuhkan dirinya duduk
datas rerumputan liar.
Sumangkarpun kemudian duduk pula disampingnya. kini ia
sudah yakin apa yang terjadi didalam diri Tohpati itu. Kini ia
yakin bahwa Tohpati telah menemukan nilai-nilai yang lain dari
apa yang dimilikinya selama ini.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Sumangkar sengaja
membiarkan Tohpati meyakinkan dirinya sendiri, sebelum ia
membantunya.
Malam menjadi semakin lama semakin dingin. Angin yang
basah mengusap tubuh-tubuh mereka yang seakan-akan
membeku. Bagaimana didalam dada mereka telah bergolak
dengan riuhnya, berbagai-bagai pertimbangan dan anganangan.
“Paman” berkata Tohpati kemudian “Sejak aku memanggil
paman Sumangkar, sebenarnya aku sudah dilanda oleh
perasaan yang tidak menentu. Itulah sebabnya aku menunda
penyerangan ke Sangkal Putung sampai beberapa kali. Tetapi
aku tidak dapat berbuat demikian terus-menerus. Aku tidak
dapat membiarkan anak buahku mejadi jemu dan semakin liar.
Tetapi tiba-tiba aku kehilangan keberanian untuk menyerang
Sangkal Putung”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi
terharu mendengar pengakuan itu. Pengakuan seorang
pemimpin yang teguh hati serta soerang yang memiliki
keberanian dan kemampuan yang cukup. Namun orang itu
dihadapkan pada suatu kenyataan yang berlawanan dengan
tekad serta kemauannya.
Dalam keremangan malam dibawah cahaya bulan
sepotong, Sumangkar melihat kegelisahan wajah Tohpati.
Tampaklah betapa ia menyesali keadaan dan menyesali
kenyataan. Tetapi kenyataan itu telah dihadapkan dimuka
wajahnya.
Tohpati benar-benar bukan seekor binatang liar yang tidak
mempunyai jantung. Betapa ia keras dan buas didalam
medan-medan peperangan, namun ia memiliki perasaan yang
utuh. Karena itulah, maka ia dapat mengerti beberapa
keberatan yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Yang
dikatakan oleh orang tua diatas batu-batu ditengah sungai
beberapa hari yang lalu, dan apa yang dikatakan Sumangkar
sejak lama kepadanya. Meskipun ia telah berusaha menindas
perasaan yang berkecamuk didalam dadanya, meskipun ia
tidak ingin terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, namun
sebenarnya hatinya selalu tersentuh-sentuh. Setiap kali ia
pulang dari peperangan, setiap kali ia kembali dari nganglang,
dan setiap kali ia melihat kekerasan, apalagi atas penduduk
yang tidak banyak mengetahui seluk beluk pertentangan
antara Pajang dan Jipang, hatinya selalu terganggu. Puncak
dari gangguan dihatinya adalah orang tua ditengah-tengah kali
itu, dan selanjutnya kata-kata Sumangkar itu sendiri. Sehingga
seandainya benar Untara dan Widura mengatakan, bahwa
pertentangan ini menjadi amat menjemukan, adalah benar.
Kalau seseorang mengatakan bahwa pertentangan ini hanya
akan menyengsarakan rakyat, adalah beralasan. Dan sejak ia
melakukan pembunuhan yang pertama atas Sunan Prawata,
apalagi ketika Sumangkar mendengar Ratu Kalinyamat
bertapa tanpa mengenakan pakaian apapun selain rambutnya
sendiri sebagai suatu penolakan, sebagai suatu jerit seorang
wanita atas kekerasan dan kebiadaban yang terjadi pada
suaminya. Namun Sumangkarpun mencoba mengingkari
perasaan sendiri pada waktu itu.
Demikianlah meskipun Tohpati itu duduk diam seperti
patung, namun hatinya bergolak dahsyat. Sedahsyat pusaran
dimuara sungai yang sedang banjir bandang.
Tiba-tiba Tohpati itu mengeluh “Aku kini sampai pada suatu
titik yang terkatung-katung ditengah-tengah gumulan ombak
yang tidak menentu. Aku tidak dapat terus, tetapi aku tidak
dapat kembali”
Sumangkar merasakan kesulitan itu. Sumangkar dapat
mengerti sepenuhnya, bahwa Tohpati benar-benar tidak dapat
maju tetapi juga tidak dapat kembali. Meskipun demikian ia
mencoba menjajagi hati anak muda yang perkasa itu “Angger
tidak usah terus dan tidak usah kembali. Angger dapat
mencoba berhenti. Tetapi angger harus membiarkan orang
lain kembali”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang
benar, ia dapat menghilang dan tidak muncul kembali. Ia
dapat menganjurkan orang lain untuk menghentikan
perlawanan. Tetapi kenyataannya tidak dapat
membenarkannya. Ia tidak mau lari dari kenyataan yang
bagaimanapun pahitnya. Karena itu, Tohpati itu menggeleng
lemah “Tidak paman, tidak”
Sumangkarpun tahu, bahwa Tohpati tidak akan dapat
menyetujuinya. Tetapi ia tidak mempunyai pendapat lain yang
dapat dikemukakan saat itu, sehingga sejenak ia terdiam.
Kembali mereka diamuk oleh kegelisahan dihati masingmasing.
Kembali mereka dicengkam oleh kesepian dipadang
rumput yang tidak terlalu luas itu. Suara cengkerik terdengar
mengorek-ngorek dinding telinga. Sekali-sekali terdengar
pekik binatang-binatang hutan mengejutkan.
Dalam keheningan malam itu tiba-tiba Sumangkar
menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu berdesir dihatinya,
sehingga duduknya bergeser beberapa jari. Matanya yang
tajam, menembus keremangan malam menusuk kekejauhan.
Sumangkar menarik nafas. Ia berpaling ketika terdengar
Tohpati menggeram perlahan-lahan. Tetapi Sumangkar itu
mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia mendengar
Tohpati bergumam perlahan-lahan “Dua orang berjalan
diujung padang ini”
“Ya, aku melihatnya”
“Siapa paman, apakah orang itu orang-orang kita?”
“Entahlah ngger. Apakah angger memberikan perintah
kepada seseorang atau kedua orang itu untuk suatu
pekerjaan?”
“Aku tidak. Entahlah kalau Sanakeling. Atau Alap-alap
Jalatunda atau yang lain. Mungkin juga para pengawas yang
telah dikirim lebih dahulu”
Meskipun demikian, firasat Sumangkar yang tua itu
memberitahukan kepadana, bahwa orang itu akan dapat
membawa bahaya. Dengan demikian maka Sumangkar
beringsut sejengkal demi sejengkal untuk meraih golok
pembelah kayu yang diletakkannya.
“Apakah paman memerlukan benda itu?”
“Aku tidak tahu ngger, mudah-mudahan tidak”
“Mudah-mudahan. Tetapi orang itu datang dari jurusan
yang lain dari setiap jurusan yang akan dilalui para pengawas
ke Sangkal Putung. Juga sama sekali bukan jurusan orangorang
Pajang yang berada di Sangkal Putung”
“Mungkin mereka memilih jalan yang melingkar demi
keamanan mereka”
“Mungkin”
Sumangkar memandang kedua bayangan itu dengan
seksama. Semakin lama menjadi semakin dekat. Namun
agaknya mereka belum melihat Sumangkar berdua dengan
Tohpati yang sedang duduk.
“Bagaimana kalau mereka orang-orang Pajang paman?”
“Apakah angger akan membiarkannya?”
“Tidak, aku tidak dapat membiarkan mereka mengetahui
kedudukan kami. Aku tidak dapat membiarkan orang-orangku
dihancurkan oleh orang-orang Pajang dalam peperangan”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah
tentu Tohpati tidak akan berbuat demikian. Tidak akan
membiarkan orang-orangnya hancur disergap oleh lawannya,
betapapun juga.
Maka kalau benar kedua orang itu orang Pajang, maka
kedua orang itu pasti mendapat tugas untuk menyelidiki
pertahanan laskar Jipang.
Sumangkar dan Tohpati kemudian saling berdiam diri.
Bahkan nafas merekapun seakan-akan mereka tahankan,
agar kehadiran mereka tidak segera diketahui oleh kedua
orang itu.
“Kalau orang-orang itu orang Pajang” bisik Tohpati
perlahan-lahan sekali “alangkah beraninya”
Sumangkar mengangguk, tetapi ia tidak menjawab.
“Tetapi aku pasti, mereka bukan orang-orang kita”
sambung Tohpati hampir tak terdengar.
Sekali lagi Sumangkar mengangguk.
Dada mereka tiba-tiba berdesir ketika melihat kedua orang
itu berhenti sesaat. Namun kemudian mereka melangkah
kembali. Tetapi mereka kini tidak menuruti arah mereka
semula. Menyilang garis pandangan Tohpati. Jantung Tohpati
hampir-hampir berhenti berdenyut, ketika dilihatnya kedua
orang itu berjalan kearahnya.
“Mereka kemari” bisik Tohpati.
Sumangkar menerik afas panjang-panjang “Tak ada
gunanya untuk menyembunyikan diri dan mengintai mereka.
Mereka telah melihat kehadiran kita.”
“Belum tentu. Mungkin suatu kebetulan.”
Sumangkar menggeleng. “Aku yakin.”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Apabila
demikian maka kedua orang itu pasti dua orang yang terlalu
percaya kepada diri mereka sendiri, sehingga mereka sengaja
mendatanginya.
Terkaan Sumangkar itu sesaat kemudian ternyata terbukti.
Kedua orang itu berhenti berjalan, dan salah seorang daripada
mereka berkata “Siapa yang duduk disitu?”
Tohpati menjadi bimbang sesaat. Ditatapnya wajah
Sumangkar untuk mendapatkan pertimbangan. Ketika
Sumangkar menganggukan kepalanya, maka Macan
Kepatihan itupun segera menjawab “Aku disini, siapa kalian?”
“Aku siapa?” desak salah seorang yang berdiri itu.
“Kau siapa?” Jawab Tohpati.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Kedua orang itu masih
tegak seperti patung. Dalam keremangan cahaya
bulan,mereka tempaknya seperti bayangan hitam yang
menakutkan.
Tohpati menjadi semakin berdebar-debar ketika kedua
orang itu melangkah kembali. Dan bahkan mendekatinya.
“Berhenti” teriak Tohpati “Kalau tidak, aku akan menyerang
kalian dengan senjata jarak jauh.”
“Apa kau membawa panah?” terdengar suara diantara
mereka.
“Tulup” sahut Tohpati “Aku tulup biji tulupku dengan getah
pohon luwing dan bisa serangga. Kalian akan mati terkena
sentuh saja”.
“Jangan terlalu kejam” sahut suara itu pula.
“Karena itu jawab, siapa kalian?”
Tohpati terkejut ketika kemudian didengarnya suara tertawa
berderai. Diantara suara tertawa itu terdengarlah kata-kata
“Menyerang dengan tulup bukanlah pekerjaan yang mudah.
Bagaimanakah kalau aku berlari melingkar-lingkar.”
Sesaat Tohpati tidak menjawab. sebenarnya ia tidak
membawa tulup. Kalau orang itu berlari melingkar-lingkar,
maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jangankan berlari
melingkar-lingkar sedangkan apabila mereka berjalan
perlahan-lahan dalam garis yang lurus sekalipun ia tidak akan
dapat menyerang dari jarak yang jauh. Sebenarnya
Tohpatipun tidak perlu menyerangnya dari jarak yang jauh.
Namun ia hanya ingin menggertaknya dan segera mengetahui
siapakah mereka itu. Tetapi ternyata orang itu orang yang
berani dan tidak gentar mendengar ancamannya.
Namun tiba-tiba terasa Sumangkar merebut tongkat
bajanya. Demikian tiba-tiba sehingga Tohpati tidak sempat
menahannya. Sebelum Tohpati itu menyadari, Sumangkar
telah melatakkan ujung tongkat itu dimuka mulutnya sambil
berjongkok. Dengan suara parau Sumangkar berteriak “Nah
cobalah. Berlarilah melingkar-lingkat. Salah seorang dari
kalian berdua akan mati. Aku tidak akan memperdulikan yang
seorang lagi.”
Kedua orang yang berdiri beberapa puluh langkah dari
mereka itupun terdiam. Baru sejenak kemudian terdengar
salah seorang berkata “Bagus. Kalian benar-benar dapat
mempergunakan tulup. Kalian tidak akan dapat dibingungkan
oleh bayangan kami berdua yang berlari melingkar-lingkar.
Tetapi kami benar-benar tidak akan berbuat jahat terhadap
kalian, siapapun kalian berdua itu.”
“Kalau demikian, sebut namamu” sahut Sumangkar.
Orang itu diam sesaat , dan kemudian terdengar ia
menyebutkan sebuah nama “Supita, namaku Supita dan
kawanku ini bernama Sukra.”
Sumangkar menarik nafas panjang-panjang. Bahkan
hampir ia tertawa mendengar orang-orang itu menyebutkan
namanya. Sekali ia berpaling memandang wajah Tohpati.
Agaknya Tohpatipun sependapat dengan pikirannya, sehingga
karena itu terdengar Tohpati menjawab lantang “Namaku
Patra dan kawanku bernama Dadi. Nah apakah kau puas
mendengar nama-nama kami?”
Orang itu terdengar tertawa. Suaranya berderai melingkarlingkar
membentur dinding hutan dan menggema kembali
berulang-ulang. Katanya “Adakah gunanya kita menyebutkan
nama masing-masing?”
Sumangkar menyahut “Nama-nama yang kami sebut,
mungkin jauh lebih baik dari nama kalian sebenarnya. Nah
apakah maksudmu datang kemari.”
“Apakah kita dapat berbicara perlahan-lahan” berkata orang
itu.
Sumangkar tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah
Tohpati seakan-akan menyerahkan segenap persoalan
kepadanya. Namun Tohpati tidak dapat berbuat lain daripada
menerima orang itu. Seandainya orang itu lari sekalipun pasti
akan dikejarnya. Dan kini orang itu bersedia datang
kepadanya.
Karena itu, maka Tohpati menjawab tegas “Datanglah,
supaya aku tidak mengajarmu.”
Sekali lagi terdengar salah seorang daripadanya tertawa.
Sejenak kemudian kedua bayangan itu bergerak maju
perlahan-lahan penuh kewaspadaan.
Tohpati dan Sumangkarpun segera berdiri. Diserahkannya
tongkat Tohpati kembali. Tongkat ciri kebesaran, keperkasaan
dan kewibawaan Macan Kepatihan, sehingga kawan maupun
lawan mengenal tongkat itu seperti mengenal pemiliknya
sendiri.
Semakin dekat kedua bayangan itu, hati mereka masingmasing
baik yang menunggu maupun yan mendatangi, saling
berdebaran. Semakin dekat, maka wujud masing-masing
menjadi semakin jelas dibawah cahaya keremangan bulan
sepotong yang menggantung diantara bintang-bintang dilangit.
Ketika bayangan itu sudah cukup dekat, maka terdengarlah
Tohpati menggeram keras. Selangkah ia maju dan tiba-tiba
tubuhnya menjadi gemetar. Bayangan itupun kemudian
berhenti beberapa langkah daripadanya.
Yang terdengar adalah suara Macan Kepatihan itu parau
“Kau. Kau guru dan murid lereng merapi. He, apa kerjamu
disini Tambak Wedi?”
Terdengar orang itu, yang tak lain adalah Ki Tambak Wedi
dann Sidanti, menarik nafas perlahan-lahan. Dengan
menganggukkan kepalanya Ki Tambak Wedi menjawab
“Selamat malam angger Macan Kepatihan. Apakah angger
pernah melihat muridku?”
“Hampir kupecahkan dadanya dengan tongkatku ini kalau
paman Widura tidak menyelamatkannya. Nah, sekarang kalian
datang untuk memberi kesempatan kepadaku menyelesaikan
pekerjaan itu?”
“Jangan marah. Dengarlah dulu maksud kedatangan kami”
berkata Ki Tambak Wedi. Sesaat ia berpaling kepada
Sumangkar yang berdiri dibelakang Tohpati. Tampaknya
alisnya berkerut, dan dengan ragu-ragu ia berkata “Adi
Sumangkar?”
Sumangkar tertawa pendek. Kini ia maju selangkah.
Goloknya terselip pada ikat pinggangnya. Sambil mengangguk
ia menjawab “Ya, Kakang Tambak Wedi. Agaknya kakang
masih ingat kepadaku.”
“Ah. Aku tidak akan dapat melupakan kalian. Sepasang
murid perguruan Kedung Jati.”
“Huh” potong Tohpati “Kau juga tidak lupa kepada guruku?”
“Tentu tidak angger. Aku adalah kawan seiring dengan
almarhum patih Mantahun.”
“Omong kosong. Kau tinggalkan paman dalam kesulitan.
Bahkan kemudian aku temui muridmu di Sangkal Putung
dalam laskar paman Widura.”
Tambak Wedi terbahak-bahak. Sahutnya “Angger keliru.
Angger keliru. Muridku berada di Sangkal Putung dengan
tugasnya sendiri. apakah angger tidak mendengar bahwa
Untara terluka?”
“Untara?”
Tambak Wedi mengangguk penuh kebanggaan.”Ya,
angger Untara terluka. Hampir-hampir mambawa nyawanya.”
Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia
bertanya “Apakah hubungan luka Untara itu dengan paman
Tambak Wedi?”
“Ada sangkut paut yang erat dengan perjuanganmu, ngger”
jawab Tambak Wedi “Karena itulah maka aku sengaja
menemuimu. Maksudku aku akan datang keperkemahanmu.”
“Apakah paman Tambak Wedi tahu letak perkemahan
kami?”
“Aku tidak tahu tepat. Tetapi aku kira-kira saja letak
perkemahan itu.”
Macan Kepatihan menggeram. “Kau sedang memata-matai
perkemahan kami untuk kepentingan Untara?”
“Tidak ngger, tidak.” potong Tambak Wedi cepat-cepat.
“Aku datang untuk keperluan yang cukup penting.”
“Apa itu?”
“Apakah angger dapat menerima kami diperkemahan
angger?”
Tohpati menggeleng. Dengan tegas ia berkata “Tidak.
Disini paman dapat mengatakan keperluan itu.”
Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
menjadi kecewa tetapi ia tahu keberatan Macan Kepatihan.
Karena itu ia berkata “Angger. Luka Untara adalah bukti,
bahwa sebenarnya aku tidak pernah meninggalkan pamanmu
patih Mantahun.”
“Apakah hubungannya?”
“Sidantilah yang melakukannya atas petunjukku.”
Tohpati mengerutkan keningnya. Desisnya “Tetapi Untara
masih hidup. Ia masih berkeliaran, bahkan sampai ke Benda
dan sekitarnya.”
“Sidanti salah hitung. Disangkanya serangannya berhasil,
karena itu tidak diulanginya.”
“Omong kosong. Mungkin benar Sidanti melukai Untara,
sebagai suatu cara untuk berpura-pura mengusir atau
mengejar Sidanti. Sidanti akan lari kepadaku. Namun dalam
pada itu, segala rahasiaku akan jatuh ketangan Untara.”
“Tidak angger. Tidak. Sebenarnya Untara dan Sidanti telah
bermusuhan. Aku memang memberikan beberapa petunjuk.
Bukankah aku sahabat pamanda kepatihan?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Dan dibiarkannya Tambak
Wedi berkata “Namun sayang. Tugas Sidanti itu tidak dapat
selesai dengan baik.”
“Apa sebabnya Sidanti melukai Untara?”
“Untara adalah pemimpin laskar Pajang dilereng merapi ini.
Sedangkan lereng merapi ini adalah Ki Tambak Wedi. Apalagi
Untara adalah lawan sahabat Tambak Wedi, patih Mantahun.”
Tohpati menarik alisnya. Sesaat ia terdiam. Dicobanya
untuk menimbang kata-kata Ki Tambak Wedi. Namun
kemudian terdengar Sumangkar berkata “Muridmu yang
bernama Sidanti itu, berusaha membunuh Untara karena
daerah kekuasaanmu dikuasai pula olehnya, begitu?”
“Ya. Sebagian begitu.”
“Kalau demikian, maka kalian telah terlibat dalam persoalan
kalian sendiri.” sahut Sumangkar.
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya mendengar katakata
Sumangkar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum
sambil berkata “Hem, Adi Sumangkar, jangan menarik garis
dari kepentingan yang saling mendorong itu. Aku
mendendamnya karena ia berada didalam daerah
kekuasaanku, tetapi aku tidak akan berbuat demikian terhadap
angger Macan Kepatihan, meskipun angger itu berada
dilereng merapi pula.”
Namun kata-kata itu segera disahut oleh Tohpati “Jangan
mengelabuhi aku paman. Seorang pimpinan Jipang telah
dibunuh mati oleh Sidanti.”
Hati Sidanti menjadi berdebar-debar karenanya. Tetapi ia
sama sekali tidak ikut campur dalam percakapan itu, seolaholah
sama sekali tidak mempunyai kepentingan, atau benarbenar
seperti anak-anak yang sedang dibicarakan nasibnya
oleh ayah bundanya.
Yang menjawab kemudian adalah Ki Tambak Wedi “Ya,
angger. Hal itu terpaksa dilakukan. Maksudnya untuk
menghilangkan jejak dibunuhnya Untara, sehingga Sidanti
tidak pernah meninggalkan Sangkal Putung dan dapat berbuat
serupa terhadap pemimpin-pemimpin yang lain”
“Hem” geram Tohpati “Jadi Sidanti membunuh Plasa Ireng
hanya sekedar untuk mendapat kepercayaan. Jadi Plasa Ireng
itu nilainya tidak lebih dari alat untuk mendapat kepercayaan.
Seandainya demikian, kenapa Sidanti kemudian melukainya
arang kranjang meskipun Plasa Ireng telah terbunuh? Itu
benar-benar suatu kekejaman. Kekejaman yang tidak pernah
dilakukan oleh orang-orang yang beradab. Orang-orangku
yang kalian sebut liar itupun jarang-jarang yang berbuat
demikian.”Sekali lagi Ki Tambak Wedi menarik nafas. Ia
terdorong dalam kesulitan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan
itu. Meskipun demikian ia tidak segera kehilangan
akal, maka katanya “Angger, memang sulit untuk menjawab
pertanyaan angger. Memang sukar untuk menjelaskan sikap
kami. Tetapi biarlah aku coba urut-urutannya. Sidanti
menggabungkan diri dalam kelaskaran Pajang dan berhasil
memilih Sangkal Putung sebagai daerah garis perangnya,
kenapa tidak ditempat lain? Karena aku yakin bahwa suatu
ketika Untara akan hadir ditempat itu. Kemudian Sidanti akan
membunuh pimpinan-pimpinan Pajang itu satu demi satu
tanpa kecurigaan. Baru kemudian setelah selasai
pekerjaannya, ia akan memberitahukan kepada angger.
Sebab apabila sebelum itu angger telah menyadari kedudukan
Sidanti , serta orang lain mendengarnya, maka jiwa Sidanti
sendiri akan terancam. Karena itulah, maka Sidanti selalu
berusaha menjadi orang yang tampaknya paling gigih di
Sangkal Putung sebagai usaha untuk menyelubungi dirinya.
Tetapi usahanya itu tidak dapat sempurna. Suatu ketika usaha
itu diketahui setelah Untara hampir mati. Sayang ia dapat
sadar kembali dan mengatakan siapa yang telah berusaha
untuk membunuhnya. Nah sekarang tidak ada lagi cara lain
untuk berjuang selain melalui garis perang yang langsung
berhadapan. Karena itu Sidanti aku bawa kemari. Mungkin
dapat angger pergunakan untuk ganti yang telah terbunuh itu.”
***
Tohpati mendengarkan kata-kata Tambak Wedi itu dengan
wajah yang tegang. Sepercik harapan timbuk didalam hatinya.
Mungkin Sidanti tidak benar-benar seperti apa yang dikatakan
oleh Ki Tambak Wedi itu, namun dengan hadirnya Sidanti
diperkemahannya, pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal
Putung. Mungkin ia masih harus mencoba kesetiaannya sekali
dua kali dengan pangawasan yang ketat. Namun apabila
kemudian ternyata kata-kata Tambak Wedi itu benar, maka ia
akan mendapat kekuatan baru disamping berkurangnya
kekuatan di Sangkal Putung.
Tetapi tidak demikian yang terlintas diotak Sumangkar. Ia
tidak dapat menerima Sidanti apapun alasannya. Ia tidak mau
melihat Sidanti mengkhianati Tohpati. Menusuk dari belakang
atau perbuatan apapun yang akan mencelakakannya. Tetapi
seandainya Sidanti benar-benar ingin bekerja sama dengan
Tohpatipun sama sekali tidak dikehendakinya. Dengan
demikian maka peperangan ini akan semakin riuh. Dengan
kekuatan baru mungkin Tohpati akan melupakan persoalanperasoaan
yang sudah timbul didalam kepalanya. Hal itu akan
menghanyutkan kejemuannya terhadap perang, seandainya ia
mendapat kemenangan baru saat-saat terakhir nanti. Dengan
demikian penderitaan akan berjalan semakin lama. Usaha
yang sia-sia dan putus asa inipun akan berjalan semakin lama
pula. Korban yang berjatuhan akan menjadi semakin banyak.
Korban-korban dari mereka yang sama sekali tidak tahu sudut
tepinya peristiwa antara Pajang dan Jipang.
Karena itu, ketika diketahuinya Tohpati menjadi ragu-ragu
maka Sumangkar itupun menjadi cemas. Sehingga ketika
Tohpati tidak segera menjawab, berkatalah Sumangkar sambil
tertawa lirih “Sebuah dongeng yang bagus Kakang Tambek
Wedi.”
Tambak Wedi terkajut mendengar tanggapan Sumangkar
itu. Karena itu, maka segera wajahnya menjadi tegang.
Suaranyapun menjadi tegang pula. Katanya “Adi Sumangkar.
Apakah adi tidak percaya pada muridku, murid Ki Tambak
Wedi.”
“Kakang, bagaimana aku akan percaya. Ingatkah kakang
apa yang telah kakang lakukan pada saat-saat ki Patih
Mantahun terjepit antara dua pasukan Pajang yang kuat, yang
dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi,
segera sepeninggal Arya Penangsang. Alangkah ngerinya.
Patih itu berjuang mati-matian tanpa mengenal takut meskipun
usianya telah lanjut. Nah, apa kerjamu waktu itu Ki Tambak
Wedi? Seandainya kau tidak meninggalkannya waktu itu,
setidak-tidaknya Patih Mantahun akan dapat meloloskan
dirinya.”
Wajah Tambak Wedi menjadi merah semerah bara.
Untunglah malam yang remang-remang telah melindunginya,
sehingga perubahan wajah itu tidak segera diketahui oleh
Tohpati. Namun demikian terasa dadanya bergetar dan
suaranyapun gemetar pula. “Adi. Adi terlalu berparasangka.
Aku sudah menasehatkan untuk meninggalkan pertempuran
kepada kakang Mantahun waktu itu. Tetapi ia menolak.”
Mendengar jawaban Tambak Wedi Sumangkar tertawa.
Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata “Kata-katamu
aneh kakang. Pada saat perang antara Jiang dan Pajang
pecah, setelah Arya Penangsang gagal membunuh Karebet
karena ia memiliki Aji Lembu Sekilan, maka kau hampirhampir
tak pernah tampak lagi dikepatihan Jipang. Apalagi
setelah laskar Jipang terdesak dan Arya Penangsang
terbunuh. Sehingga tidak mungkin kau berada disekitar
kakang Mantahun pada saat menjelang ajalnya. Ketahuilah,
bahwa kakang Mantahun meninggal dalam pangkuanku,
setelah menyingkir dari peperangan. Namun laskar Pajang
berhasil merebut jenazahnya.”
Tubuh Tambak Wedi menjadi gemetar menahan marah.
Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin.
Ia masih mengharap Macan Kepatihan menerima muridnya.
Karena itu, maka katanya “Angger Macan Kepatihan,
terserahlah dalam penilaian angger. Tetapi kalau angger mau
bekerja bersama Sidanti, maka aku janjikan bahwa tenagaku
akan aku serahkan pula. Angger pasti percaya, bahwa Untara,
Widura, Agung Sedayu dan siapa lagi, biarlah mereka maju
bersama-sama, maka mereka akan terbunuh olehku, asal
laskar Jipang membebaskan aku dari laskar Pajang yang pasti
akan membantu pemimpin-pemimpinnya”
Dentang jantung Tohpati seakan-akan menjadi semakin
cepat. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya memandang
Sumangkar, namun Sumangkar tidak sedang memandangnya.
Bahkan Sumangkar itu agaknya benar-benar menyerahkan
persoalan itu kepadanya. Namun percakapan Ki Tambak Wedi
dan Sumangkar telah memberinya banyak bahan.
Dikenangnya apa yang pernah dilakukan oleh Ki Tambak
Wedi itu atas gurunya, Patih Mantahun. Dikenangnya pula
saat Sidanti datang menyongsongnya, benar-benar bukan
sedang bermain-main. Dikenangnya bentuk mayat Plasa Ireng
yang sobek dipunggungnya arang kranjang. Ya, dikenangnya
semuanya. Sehingga kemudian Tohpati itu menjawab “Paman
Tambak Wedi, aku tidak dapat percaya, bahwa Sidanti akan
melakukan kerjasama yang jujur. Pada saat Adipati Jipang
sedang berusaha merebut kekuasaan dengan kekuatan yang
agaknya cukup, paman berada dipihak kami. Tetapi demikian
Jipang terdesak oleh kekuatan Pajang yang tak terduga-duga,
murid paman itu berada dipihak Pajang. Apakah sekarang ada
persoalan baru yang telah menyebabkan Sidanti berbalik
pendirian lagi?”
“Sudah aku katakan sebabnya ngger, bukan benar-benar
berpihak pada Untara”
Tohpati menggeram, kemudian katanya sambil
menggeleng “Aku semakin yakin, bahwa kejujurannya tidak
dapat dipercaya. Mungkin ia berselisih dengan Untara atau
dengan Widura. Jangan disangka bahwa aku akan terjebak”
Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram keras. Tubuhnya
menjadi semakin gemetar oleh kemarahannya yang semakin
memuncak. Namun lebih dari Ki Tambak Wedi yang sudah tua
itu, Sidanti tidak dapat melawan kemarahannya. Karena itu
dengan lantang ia mendahului gurunya “Guru. Kenapa kita
harus mengemis belas kasihannya?”
Mendengar kata-kata Sidanti itu, maka telinga Macan
Kepatihan serasa tersentuh api. Sekali ia menggeretakkan
giginya, kemudian setapak ia melangkah maju sambil
menunjuk wajah Sidanti “Kau ternyata lebih jantan dari
gurumu. Nah, sekarang bersikaplah jantan untuk seterusnya”
“Baik” sahut Sidanti dengan beraninya. Diangkatnya
dadanya sambil berkata “Aku juga memiliki harga diri, Tohpati
yang perkasa. Jangan disangka, bahwa hidup matiku ada
ditanganmu”
Ki Tambak Wedipun kemudian telah benar-benar
kehilangan setiap kesempatan untuk menggabungkan Sidanti
pada kekuatan Tohpati untuk membalas dendam kepada
Untara beserta laskarnya. Alangkah kecewanya ketika semua
rencananya dapat ditebak oleh Sumangkar, dan karena itu,
maka didalam hatinya, Ki Tambak Wedi itu mengumpat tiada
habisnya. Diumpatinya Sumangkar, dan bahkan Ki Tambak
Wedi itu berjanji, bahwa Sumangkar itu harus dilenyapkannya.
Kini muridnya telah kehilangan kesabaran dan merasa
tersinggung harga dirinya. Maka keadaan akan dapat
berkembang kearah yang tidak dikehendakinya. Namun ia
tidak perlu pengkhawatirkan Sidanti. Selama ini anak muda itu
telah ditempanya terus menerus. Mudah-mudahan telah
dicapainya suatu tingkatan yang dapat menyamai Macan
Kepatihan itu. Bukankah pada saat mereka bertempur di
Sangkal Putung, kekuatan mereka tidak terpaut terlalu
banyak. Ki Tambak Wedi itupun bahkan dengan bernafsu
mendorong muridnya untuk masuk kedalam pertengkaran
yang lebih dalam, sehingga ia akan mendapat kesempatan
untuk membinasakan Sumangkar yang telah merusak
segenap rencananya.
Macan Kepatihan itupun menjadi marah bukan buatan.
Tangannyapun kemudian menjadi gemetar dan dengan sertamerta
ia berkata “Siapkan senjatamu. Tohpati akan
mengayunkan tongatnya pada gerakan yang pertama”
Sidanti tidak menjawab. selangkah ia meloncat kesamping,
ditatapnya Tohpati dengan tajamnya, dan tiba-tiba kedua
tangannya telah menggenggam dua belah pedang pendek.
Dalam pada itu Ki Tambak Wedi berkata “angger Tohpati,
aku tidak mengharapkan perkelahian ini. Tetapi aku tidak
dapat menyalahkan muridku. Sebagai murid lereng Merapi, ia
tidak akan bersedia menelan hinaan”
“Persetan” sahut Tohpati “Dengan membunuhmu maka aku
akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung”
Sidanti sama sekali tidak berkata apapun. Kedua
pedangnya bersilangan dimuka dadanya.
Namun Tohpati masih juga menggeram “Manakah
senjatamu yang mengerikan itu?”
Sidanti masih tetap diam. Hanya didalam hatinya ia berkata
“Peduli apa kau dengan senjata yang tertinggal di Sangkal
Putung itu. Tetapi ternyata aku cukup kuat dengan senjata
yang sepasang ini sekuat senjata yang aneh itu”
Kediaman Tohpati benar-benar telah membangkitkan
luapan kemarahan Tohpati tiada taranya. Karena itu segera ia
meloncat dan menyerang Sidanti dengan tongkat baja
putihnya.
Tohpati Sidanti telah benar-benar bersiap. Ketika tongkat
baja Tohpati terayun kekepalanya, Sidanti sama sekali tidak
berkisar dari tempatnya. Sidanti itu telah pernah bertempur
dengan Tohpati sehingga kekuatan Tohpati telah
diketahuinya.
Sidanti yakin bahwa selama ini Tohpati pasti tidak akan
sempat memperdalam ilmunya, selain yang telah dimilikinya.
Karena itu sengaja ia tidak mengelak, tetapi dibenturnya
serangan itu dengan kedua pedang pendeknya. Dengan
pedang itu Sidanti ingin menunjukkan, bahwa kini
kekuatannya tidak lagi seperti beberapa waktu yang lalu,
setelah dengan tekun ia melatih diri sejak ia meninggalkan
Sangkal Putung. Lukanya yang tidak terlalu parah segera
dapat disembuhkan oleh Ki Tambak Wedi. Dalam pada itu
Sidanti yang menyimpan dendam dihatinya, segera berusaha
untuk menambah ilmunya. Dendam kepada Untara dan orangorang
Sangkal Putung itu harus ditumpahkan.
Kini tiba-tiba Sidanti menemukan lawan yang tidak
disangka-sangka. Namun lawan inipun sedahsyat orang yang
didendamnya. Karena itu maka disadarinya, bahwa ia harus
berjuang sekuat-kuat tenaganya.
Ketika tongkat baja putih Tohpati membentur kedua pedang
pendek Sidanti, terdengarlah gemerincing senjata-senjata itu.
Suaranya membelah sepi malam, membentur ujung rimba.
Demikian dahsyatnya sehingga bunga-bunga api memercik
keudara.
Tohpati terkejut mengalami benturan senjata itu. Apalagi
ketika dilihatnya Sidanti tetap ditempatnya, dan kedua
senjatanya masih ditangannya. Bahkan kemudian terdengar
anak muda murid Ki Tambak Wedi itu menggeram.
Alangkah marahnya Macan Kepatihan. Terasa bahwa
kekuatan Sidanti telah meningkat. Anak muda itu kini dapat
mengimbangi kekuatannya yang disalurkan pada ayunan
tongkat putihnya. Namun apa yang terjadi adalah suatu
peringatan baginya, bahwa lawannya kini bukanlah Sidanti
beberapa saat yang lampau.
Meskipun demikian, sebenarnya tangan Sidanti yang
melawan tongkat baja putih Macan Kepatihan, merasakan
arus kekuatan yang hampir melontarkan pedang-pedangnya.
Namun dengan menggeretakkan giginya, ia berhasil menahan
senjata-senjata itu, meskipun tangannya terasa nyeri. Dengan
demikian, maka Sidanti merasa, bahwa kekuatan Macan
Kepatihan masih belum dapat dikembarinya, namun ia masih
dapat membanggakan kelincahannya dan ketajaman ujung
pedangnya. Dengan sentuhan-sentuhan kecil, ia akan dapat
merobek kulit Macan Kepatihan itu. Namun apabila ia
tersentuh kepala tongkat Tohpati yang kekuning-kuningan dan
berbentuk tengkorak itu, maka tulang-tulangnyapun akan
dipecahkan.
Demikianlah maka mereka segera terlibat dalam sebuah
perkelahian yang sengit. Sidanti yang lincah meloncat-loncat
disekitar lawannya, seakan-akan bayangan hantu yang
sedang menari-narikan sebuah tarian maut. Namun lawannya
adalah seekor harimau yang garang. Betapa Macan Kepatihan
itu dengan tangguhnya melawan sambaran-sambaran pedang
Sidanti. Dilindunginya dirinya dengan tongkat putihnya, dan
sekali-sekali tongkatnya terjulur mematuk tubuh lawannya.
Namun Sidanti benar-benar seperti bayangan yang tidak
dapat disentuhnya.
Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat.
Macan Kepatihan yang garang itupun menjadi semakin
garang, sedang Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah.
Kedua senjatanya dengan cepatnya menyambar seakan-akan
dari segala penjuru. Dengan kelincahannya, sekali-sekali
ujung pedangnya berhasil menyentuh tubuh Tohpati meskipun
hanya seujung rambut. Namun ujung rambut yang runcing itu
telah berhasil menggores kulit dan bahkan telah berhasil
meneteskan darah. Tetapi darah yang menetes dari luka itu
bahkan telah membakar kemarahan Tohpati. Wajahnya yang
membara seakan-akan menyala dalam kegelapan. Sehingga
tandangnyapun menjadi semakin dahsyat.
Ki Tambak Wedi untuk sesaat berdiri mematung melihat
muridnya bertempur. Mula-mula ia masih juga ragu-ragu,
apakah Sidanti dapat mengimbangi Tohpati. Namun kemudian
Ia tersenyum. Ia telah menemukan timbang-berat keduanya.
Meskipun Sidanti belum dapat menyamai Tohpati
sepenuhnya, namun masih dapat diharapkan, Tohpati berbuat
kesalahan-kesalahan kecil yang dapat membantu Sidanti
Seandainya tidak sekalipun, maka ia tidak perlu terlalu cemas,
bahwa muridnya akan dikalahkan oleh lawannya.
Ki Tambak Wedi itu kemudian mengangguk-angguk sambil
bergumam “Itulah murid Ki Tambak Wedi. He, adi Sumangkar,
apakah aku tidak berbangga karenanya?”
Sumangkar yang memperhatikan perkelahian itu berpaling.
Jawabnya “Ya, kakang dapat berbangga karenanya. Umurnya
masih cukup muda, sehingga perkembangannya dihari depan
akan menjadi semakin menggemparkan lereng Merapi”
Ki Tambak Wedi tertawa pendek. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya terus ia berkata “Siapakah yang akan
menang diantara mereka?”
“Aku tidak tahu” jawab Sumangkar pula. “Mereka memiliki
kelebihan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, muridmu masih
harus belajar sebulan dua bulan lagi dengan tekun, supaya ia
dapat mensejajarkan diri dengan angger Macan Kepatihan
sepenuhnya. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti
muridmu kehilangan kesempatan untuk memenangkan
perkelahian ini”
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Perkelahian
diantara keduanya masih berjalan dengan serunya. Bahkan
semakin seru. Seperti angin pusaran mereka berputar-putar.
Tetapi semakin seru perkelahian itu semakin nampak, bahwa
sebenarnya Tohpati adalah seorang yang pilih tanding.
“Kau lihat perkembangan perkelahian itu?” bertanya
Sumangkar.
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya kembali sambil
menjawab “Apakah kau sedang bergembira karena kau
melihat kelemahan muridku?”
“Ya” sahut Sumangkar pendek.
Tiba-tiba Ki Tambak Wedi tertawa. Tertawa
berkepanjangan dan sangat menyakitkan telinga. Diantara
suara tertawanya terdengar ia berkata “Meskipun tampak
kekurangan pada muridku, namun ia akan mempunyai cukup
waktu untuk menanti aku membunuhmu, adi”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi,
Sumangkar berpaling. Dilihatnya Ki Tambak Wedi masih
tertawa dan memandang muridnya yang sedang bertempur
itu. Namun Sumangkar sama sekali tidak terkejut.
“Kau mendengar kata-kataku adi?” tiba-tiba Ki Tambak
Wedi berteriak “Bahwa aku akan membunuhmu?”
Sumangkar mengangguk perlahan “Ya, aku mendengar”
sahutnya.
Namun ancaman Ki Tambak Wedi itu telah mempengaruhi
Macan Kepatihan yang sedang bertempur dengan Sidanti,
sehingga sambil mengayunkan tongkatnya dengan
dahsyatnya ia menggeram “Ki Tambak Wedi, biarlah aku
menyelesaikan persoalan ini dengan Sidanti. Paman
Sumangkar tidak akan ikut campur dalam hal ini”
“Benar ngger, pamanmu Sumangkar tidak ikut campur
dalam persoalan ini, tetapi ia pasti menghalangi aku
seandainya aku ingin membunuh angger pula bersama-sama
dengan muridku. Karena itu maafkan aku ngger. Aku terpaksa
membunuhnya. Sesudah itu untuk membunuh angger Macan
Kepatihan yang perkasa akan mejadi semudah seperti
membunuh seekor kelinci. Biarlah aku mendapat bintang jasa
didada, atau lebih baik Sidanti yang akan menyebut dirinya
telah membunuh Macan Kepatihan. Kepala angger akan kami
bawa sebagai bukti pekerjaan yang telah dilakukan oleh
Sidanti. Besok Sidanti akan menerima anugerah pangkat
Senapati dari Wiratamtama Pajang. Kalau mereka yang
membunuh adipati Jipang mendapat Mentaok dan Pati, maka
kami akan memilih daerah disebelah barat Mentaok, atau
daerah Wanakerta disebelah Pajang. Dari daerah-daerah itu
kami akan dapat menguasainya, atau apabila kami mendapat
Wanakerta, kami akan langsung menembus jantung Pajang”
“Diam” teriak Tohpati keras sekali. Suaranya mengguntur
menyobek kepekatan malam yang sunyi. Namun suara itu
ditimpa oleh gelak tertawa Ki Tambak Wedi “Bukankah itu
suatu rencana yang bagus? Aku lebih berpijak pada
kenyataan daripada angger Tohpati. Siapakah yang akan
dapat mengalahkan Pemanahan, Penjawi dan Adipati Jipang
itu didalam laskar angger? Ki Tambak Wedi akan dapat
menepuk dada melawan mereka. Karena itu jangan menyesal”
“Persetan dengan ocehanmu Tambak Wedi. Tetapi kau
benar-benar setan yang licik. Ayo, majulah bersama Sidanti,
Macan Kepatihan bukan seorang pengecut”
Suara Ki Tambak Wedi semakin berkepanjangan. Katanya
“Nah, kenapa angger menolak uluran tangan kami? Kalau
kami bekerja bersama, bukankah kami dapat membagi tanah
Demak ini? Angger mendapat Jipang, dan kami mendapat
Pajang dan Demak beserta daerah pesisir lainnya”
“Kau jangan banyak bicara pemimpi tua. Jipang bukanlah
tempat orang-orang yang hanya dapat mengantuk dan mimpi
seperti kau. Jipang mempunyai cukup kekuatan untuk
melawanmu. Apalagi Tohpati sendiri mampu membunuh kau
berdua sekarang ini”
“Jangan sombong ngger, jangan membual. Semakin
banyak kau membual, semakin tampak bahwa kau menjadi
berputus asa menjelang saat kematianmu yang nista”
Mendengar hinaan itu Macan Kepatihan menjadi marah
bukan buatan. Namun karena itu, maka tandangnya menjadi
terganggu. Dalam pada itu Sidanti mempergunakan saat itu
sebaik-baiknya, menyerang dengan segenap kemampuan dan
kelincahannya.
Macan Kepatihan menggeram keras sekali untuk
melepaskan kemarahan yang seolah-olah akan meledakkan
dadanya. Apalagi suara tertawa Ki Tambak Wedi masih saja
mengganggunya.
Namun Disela suara tertawa Ki Tambak Wedi itu kemudian
terdengar Sumangkar berkata “Angger Tohpati, kenapa
angger menjadi gelisah sehingga murid Tambak Wedi itu
mendapat kesempatan untuk memperpanjang nafasnya?
Dalam pengamatan kami Raden, maka Sidanti benar-benar
sudah hampir mati terjepit oleh kekuatan tongkat angger.
Namun karena angger terganggu oleh suara Ki Tambak Wedi,
maka Sidanti itu mampu bernafas kembali”
Sekali lagi Tohpati menggeram. Kata-kata Sumangkar telah
memperingatkannya, bahwa ia telah berbuat kesalahan.
Namun dalam pada itu kembali suara Ki Tambak Wedi “Suatu
peringatan yang baik. Peringatan yang terakhir dari adi
Sumangkar. Setelah ini maka adi akan mati aku cekik, dan
angger Tohpati akan mati pula untuk kemudian aku penggal
lehernya”
Kembali kegelisahan merambat dihati Tohpati. Namun
kemudian Sumangkar berkata lantang kepada Tohpati
“Jangan hiraukan aku ngger. Bukankah aku seorang juru
masak yang baik? Karena itu aku selalu membawa golok
pembelah kayu ini. Namun sebagai murid Kedung Jati,
sebagai saudara seperguruan Patih Mantahun, maka golok ini
akan dapat aku pergunakan untuk membelah dada Ki Tambak
Wedi yang sombong. Bukankah Sumangkar murid kedua dari
perguruan Kedung Jati yang tidak kalah besarnya dari
perguruan lereng Merapi?”
“Setan” desis Ki Tambak Wedi. Kini Ki Tambak Wedi itu
tidak tertawa lagi. Diamat-amatinya wajah Sumangkar didalam
keremangan cahaya bulan. Wajah itu masih tenang setenang
awan yang berlayar lembut dikebiruan langit “Kau merasa
dirimu setingkat dengan Ki Tambak Wedi?”
Sumangkar tidak menghiraukan pertanyaan itu, namun
kepada Tohpati ia berkata “Cekiklah Sidanti itu Raden.
Sementara itu biarlah aku akan menyumbat mulut pemimpi tua
itu dengan golokku”
Ternyata kata-kata Sumangkar itu memberi juga
ketenangan pada Macan Kepatihan. Disadarinya kemudian,
bahwa Sumangkar adalah saudara seperguruan gurunya
sendiri, sehingga karena itu Macan Kepatihan itu tersenyum
sendiri atas kegelisahan yang mencengkam dadanya. Kenapa
ia mencemaskan nasib Sumangkar juru masak yang malas
itu? Ia bukan seorang juru masak kebanyakan. Ia adalah
seorang murid dari perguruan Kedung Jati seperti juga
gurunya sendiri. Patih Mantahun yang sakti.
Dalam pada itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata
“Cecurut yang malang. Kau benar-benar jemu untuk hidup.
Bukankah Ki Tambak Wedi telah terkenal mampu menangkap
angin?”
Sumangkar tersenyum, jawabnya “Perguruan Kedung Jati
terkenal karena murid-muridnya mampu menyimpan nyawa
rangkapan didalam tubuhnya”
Ki Tambak Wedi menggeram penuh kemarahan. Apalagi
ketika dilihatnya bahwa Macan Kepatihan telah menemukan
keseimbangannya kembali. Sehingga karena itu maka katanya
“Kau juga pandai membual adi Sumangkar. Kalau murid
Kedung Jati dapat menyimpan nyawa rangkap didalam
tubuhnya, maka Patih Mantahun itu tidak akan mati terbunuh
meskipun harus bertempur melawan Ki Gede Pemanahan dan
Ki Penjawi atau Ki Juru Mertani ditambah Hadiwijaya dan
Ngabehi Loring Pasar”
Sumangkarlah yang kini tertawa menyakitkan hati. Dengan
renyah ia menjawab “Kau salah kakang. Mantahun waktu itu
hanya membawa nyawa rangkap tiga. Tetapi ia benar-benar
harus melawan lima orang sekaligus, Ki Gede Pemanahan, Ki
Penjawi, Karebet, Juru Mertani dan Sutawijaya dengan Kiai
Pered ditangannya. Nah, karena itulah maka ketiga nyawanya
terpaksa dilepaskan”
“Setan belang” umpat Ki Tambak Wedi “Jangan banyak
bicara. Sekarang kau harus dienyahkan”
Sumangkar memutar tubuhnya menghadap Ki Tambak
Wedi yang memandanginya seolah-olah biji matanya akan
meloncat dari kepalanya. Namun Sumangkar masih tetap
dalam ketenangan. Ia tahu, bahwa Ki Tambak Wedi adalah
seorang yang sakti pilih tanding. Tetapi ia tidak bernafsu untuk
mengalahkannya. Ia hanya harus bertahan, sampai Macan
Kepatihan menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, maka ia akan
dapat menghindar bersama-sama dengan Macan Kepatihan.
Dan ia mengharap bahwa ia akan mampu melakukannya,
bertahan melampaui ketahanan Sidanti melawan Macan
Kepatihan.
Karena itu ketika Ki Tambak Wedi memakinya sekali lagi,
berkatalah Sumangkar “Kakang, aku sudah siap. Kali ini
akupun membawa nyawa tiga rangkap. Ayo mulailah. Kalau
kau berhasil membunuh aku satu kali, maka kedua nyawaku
yang lain akan mampu mencekik lehermu itu”
Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Sekali ia menggeram dan
dengan dahsyatnya ia meloncat menerkam Sumangkar.
Namun Sumangkar sudah siap. Meskipun ia belum merasa
perlu untuk mempergunakan senjata, namun goloknya tidak
dapat diletakkannya dan tidak dapat terus disangkutkannya
pada ikat pinggangnya karena tidak berwrangka. Karena itu
maka sambil menghindar ia berkata “Kakang, sebenarnya aku
sama sekali tidak menganggap perlu mempergunakan senjata
ini. Namun terpaksa aku harus memeganginya terus supaya
senjata ini tidak hilang apabila aku letakkan. Sebab aku
sekarang adalah seorang juru masak. Aku perlu golok ini
untuk membelah kayu bakar”
Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika terasa goloknya
menyentuh benda keras ditangan Ki Tambak Wedi. Barulah
kini ia sadar. Didalam kedua tangan hantu lereng Merapi itu
tergenggam sepasang gelang-gelang besi. Dengan gelanggelang
itu Ki Tambak Wedi menyambar golok Sumangkar.
Namun untunglah Sumangkar cepat menyadarinya, sehingga
goloknya tidak terloncat dari tangannya. Dengan demikian,
maka Sumangkar tidak dapat lagi berkelahi sambil membual.
Ia harus benar-benar bertempur dengan segenap
kewaspadaan dan kemampuan yang ada padanya.
Maka dalam keremangan cahaya bulan, tampaklah dua
lingkaran perkelahian yang semakin lama menjadi semakin
sengit. Ki Tambak Wedi yang menjadi amat marah itupun
bertempur dengan darah yang seolah-olah menyala
membakar seluruh tubuhnya. Sumangkar itu adalah sumber
kegagalannya malam ini. Kegagalan atas rencananya. Dan
kegagalan itu membuatnya sangat marah. Karena itu, maka Ki
Tambak Wedipun segera berusaha untuk menyingkirkan
Sumangkar supaya muridnya dapat membunuh Tohpati
meskipun ia harus membantunya. Pikirannya yang tiba-tiba
saja timbul untuk membunuh Tohpati dan membawa bukti
kematian itu ke Pajang, sangat mempengaruhinya. Dengan
demikian ia ingin Sidanti akan mendapat kepercayaan
melampaui kepercayaannya yang telah didapat Untara, sebab
apabila ia berhasil, maka telah membawa bukti kesetiannya,
sedang Untara dan Widura yang telah berjuang berbulanbulan
di Sangkal Putung sama sekali tidak mampu
menangkap Macan Kepatihan hidup atau mati.
Tetapi Sumangkar ternyata bukan seorang yang bermalasmalasan
saja. Ketika lawannya menjadi semakin dahsyat,
maka gerakannyapun menjadi semakin tangguh. Ternyata
murid kedua dari perguruan Kedung Jati itu tidak
mengecewakan. Ketika terasa olehnya bahwa kedua tangan
Ki Tambak Wedi seakan-akan terbalut oleh selapis baja, maka
Sumangkar tidak lagi segan-segan mempergunakan goloknya.
Meskipun golok itu golok pembelah kayu yang tidak setajam
pedang Sidanti, namun ditangan Sumangkar senjata itu
merupakan senjata yang cukup berbahaya.
Bulan dilangit beredar dengan lambannya. Sepotongsepotong
awan mengalir keutara dihembus angin lembah
yang lembut. Betapa dinginnya malam namun keempat orang
yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu telah basah
oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang-lubang
dipermukaan kulit mereka. Dan ketika tubuh-tubuh mereka
telah menjadi basah, maka gerak merekapun menjadi semakin
cepat dan semakin lincah.
Sidanti kini benar-benar telah menemukan nilai-nilai baru
didalam tata geraknya. Unsur-unsur yang dapat memberinya
kekuatan dan kelincahan. Kakinya melontar-lontar dengan
cepatnya membawa tubuhnya yang seakan-akan tidak
memiliki berat. Seperti seonggok kapuk yang diputar angin
pusaran, sekali melenting tinggi, kemudian menukik
menyambar dengan sepasang pedang pendeknya.
Tohpati kini terpaksa melawannya dengan sepenuh
kemampuannya. Bahkan kadang-kadang ia menjadi bingung
melihat gerak Sidanti. Tetapi Macan Kepatihan adalah
seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas,
sehingga sesaat kemudian ia telah berhasil menemukan
keseimbangannya kembali. Meskipun terasa juga, kadangkadang
ujung pedang Sidanti berhasil menggores kulitnya dan
meneteskan darahnya, namun kini ia tidak menjadi cemas.
Apabila sekali ia mencoba melihat perkelahian antara Ki
Tambak Wedi dan Sumangkar, maka terasa olehnya, bahwa
keduanyapun mempunyai ilmu yang dapat disejajarkan,
sehingga karenanya maka ia tidak perlu memecah
perhatiannya, mencemaskan nasib Sumangkar.Demikianlah,
mereka berempat telah memeras tenaga masing-masing. Ki
Tambak Wedi terpaksa mengakui, bahwa murid kedua
perguruan Kedung Jati benar-benar mampu melawannya.
Meskipun senjata yang dipergunakan bukanlah senjata ciri
perguruan Kedung Jati, namun senjata seadanya itu benarbenar
dapat membantu Sumangkar memperpanjang umurnya.
***
Golok yang kehitam-hitaman ditangannya itu, berputaran,
sekali mematuk, sekali menebas menyambar seperti hendak
menebang roboh tubuh Ki Tambak Wedi itu. Namun hampir
disetiap kesempatan Ki Tambak Wedi dengan beraninya
memukul golok lawannya dengan tangannya yang terlindung
oleh sepasang gelang baja. Dalam benturan-benturan yang
terjadi itu, maka menyalalah bunga api memercik keudara.
Setiap kali terjadi benturan, senjata Sumangkar, golok
pembelah kayunya mengalami luka dibagian tajamnya,
sehingga kemudian mata golok yang memang bukan senjata
buatan khusus itu, menjadi semacam mata gergaji. Namun
dengan demikian, maka setiap goresan akan mampu
menyobek kulit dengan bekas yang tersayat-sayat.
Ki Tambak Wedipun kemudian terpaksa berjuang dengan
sengitnya untuk segera mengalahkan Sumangkar. Namun
Sumangkar tidak mau menerima keadaan dengan kedua
tangan ngapurancang, Tetapi sepasang tangannya berjuang
sekuat-kuat tenaganya, tenaga murid kedua perguruan
Kedung Jati. Goloknya kadang-kadang menyambar dalam
genggaman tangan kanannya, namun kemudian mematuk
dalam kelincahan tangan kirinya.
“Demit, tetekan” Ki Tambak Wedi tak habis-habisnya
mengumpat. Tetapi lawannya sama sekali tidak takut
mendengar umpatan itu, bahkan dengan serunya Sumangkar
melawannya tanpa mengenal lelah.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding.
Keduanya adalah orang-orang tua yang telah hampir merasa
dirinya harus beristirahat dan menyerahkan segala persoalan
kepada mereka yang masih muda. Namun pada saat-saat
terkhir, mereka masih harus melindungi anak-anak muda yang
mereka anggap akan dapat meneruskan umur mereka. Ki
Tambak Wedi, seorang guru yang terlalu bangga akan
muridnya dan terlalu jangkaunya, sedang Sumangkar melihat
Tohpati adalah penerus perguruannya, lewat kakak
seperguruan. Karena itu maka seandainya anak muda itu
lenyap, lenyap pulalah ajaran-ajaran perguruan Kedung Jati
yang pernah terkenal karena orang menyangka bahwa muridmurid
perguruan Kedung Jati tidak dapat mati, karena memiliki
nyawa rangkap. Sedang perguruan lereng Merapi yang
terkenal seakan-akan setiap muridnya mampu menangkap
angin.
Dipihak lain, Sidanti bertempur dengan sepenuh tekad
melawan Macan Kepatihan. Kali ini ia akan menebus
kekalahannya pada saat ia berhadapan dengan Macan
Kepatihan itu. Seperti juga gurunya, ia benar-benar ingin
membunuh Tohpati. Membawa kepalanya ke Pajang dan
mengharap hadiah daripadanya, seperti hadiah yang akan
diterima oleh mereka yang berhasil membunuh Arya
Penangsang, tanah mentaok dan Pati. Kalau ia membunuh
Macan Kepatihan, maka setidak-tidaknya ia akan menerima
hadiah separo dari mereka yang membunuh Arya
Penangsang.
Dengan harapan itu, serta pangkat yang akan melampaui
pangkat Untara, maka Sidanti berjuang sekuat-kuat
tenaganya.
Namun ternyata Macan Kepatihan tidak menyerahkan
lehernya begitu saja. Bahkan semakin lama Tohpati seakanakan
menjadi semakin segar. Tongkatnya menjadi semakin
cepat bergerak menyambar-nyambar seperti burung garuda
yang bertempur diudara.
Mula-mula Sidanti berbangga dengan kemenangankemenangan
kecilnya. Ketika sekali dua kali ujung pedangnya
mampu meneteskan darah dari tubuh Tohpati. Namun
kemudian terasa, bahwa kulitnya pasti menjadi merah biru
pula. Setiap sentuhan ujung tongkat Macan Kepatihan yang
berbentuk tengkorak itu, seakan-akan benar-benar
memecahkan tulangnya. Meskipun ia selalu dapat
menghindarkan dirinya dari benturan langsung, atau dengan
sepasang senjatanya menghentikan ayunan tongkat
lawannya, namun terasa tongkat itu menyengat-nyengat
tubuhnya semakin lama semakin sering. Sehingga dengan
demikian, maka Sidanti kemudian tidak lagi dapat
membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada padanya.
Betapa ia menjadi semakin lincah disaat-saat terkhir, namun
lawannyapun ternyata cukup tangguh untuk mengimbanginya.
Karena itulah maka perkelahian itu semakin lama menjadi
semakin seru. Ketika bulan menjadi semakin merendah
kegaris cakrawala diujung barat, maka mereka yang
bertempur itu semakin ngetok kekuatan. Mereka tidak mau
masing-masing menjadi korban dari perkelahian itu, dan
mereka masing-masing berusaha untuk mengalahkan
lawannya sebelum pasangannya dapat dikalahkan.
Tetapi kemudian, perkelahian itu menjadi terganggu
karenanya. Dikejauhan mereka melihat tiga bayangan yang
bergerak-gerak dalam keremangan cahaya bulan. Tiga
bayangan manusia yang datang mendekat daerah perkelahian
itu.
Baik Ki Tambak Wedi maupun Sumangkar bertanya-tanya
didalam hati mereka, siapakah mereka, orang-orang yang
mendatangi itu. Tohpati dan Sidantipun kemudian melihat
mereka pula. Karena itu, maka mereka menjadi berdebardebar.
Tetapi mereka tidak dapat menghentikan perkelahian
itu. Perkelahian itu adalah perkelahian antara hidup dan mati.
Namun kalau yang datang itu kawan dari salah satu pihak,
maka keseimbangan perkelahian itu akan terganggu.
Sesaat Tohpati menggeram keras sekali. Tiba-tiba ia
memperketat tekanannya. Ia melihat satu tenaga cadangan
yang akan mampu mempercepat penyelesaiannya. Kalau ia
mengerahkan tenaganya dan berhasil, maka perkelahian itu
akan menjadi semakin cepat selesai. Tetapi kalau tidak, maka
akibatnya ia akan menjadi lebih dahulu kelelahan dan mungkin
ia akan menjadi korban. Namun ia tidak dapat berbuat lain.
Ketiga bayangan yang menjadi semakin dekat itu benar-benar
mengganggunya.
Akibatnya terasa pula oleh Sidanti. Serangan Macan
Kepatihan menjadi bertambah dahsyat. Sedahsyat angin
prahara yang melanda tebing pegunungan, menggetarkan
pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sekali Sidanti
terpaksa meloncat surut, namun Tohpati mengejarnya terus.
Serangan Sidanti itu serasa benar-benar menyusup dari
segenap arah, mematuk seluruh bagian tubuhnya. Dengan
demikian maka Sidantipun terseret kedalam pencurahan
segenap tenaga, segenap kekuatan dan segenap
kemampuannya. Namun, meskipun demikian, maka amat
sulitlah baginya untuk segera dapat membebaskan diri dari
belitan serangan Tohpati yang seperti lesus itu.
Pada saat-saat terakhir, Ki Tambak Wedi sebenarnya telah
menemukan segi-segi lawannya. Betapapun saktinya
Sumangkar, namun pada orang tua itu masih terdapat
beberapa kelemahan. Apalagi ketika pada saat-saat terakhir ia
lebih senang tinggal didapur saja, maka nafsunya untuk
bertempur tidak sehangat Ki Tambak Wedi lagi. Meskipun
Sumangkar mampu mengimmbangi hampir setiap usaha Ki
Tambak Wedi untuk menembus pertahanannya, namun
lambat laun, terasa bahwa Ki Tambak Wedi masih selapis
berada diatas Sumangkar.
Tetapi pada sat yang demikian, pada saat Ki Tambak Wedi
memperkuat tekanannya untuk segera mengakhiri perkelahian
itu, supaya ia sempat memenggal leher Tohpati, maka pada
saat yang demikian itu pula, Sidanti terpaksa beberapa kali
beringsut surut.
“Gila” desis Ki Tambak Wedi itu “Macan Kepatihan benarbenar
berkelahi seperti seekor harimau jantan yang garang”
Dengan menggeram keras sekali ia mencoba mengakhiri
perkelahiannya dengan Sumangkar, ketika dengan tangan
kirinya ia memukul golok Sumangkar kesamping, dan dengan
tangannya yang lain, Ki Tambak Wedi berusaha memecahkan
kepala lawannya itu. Namun usahanya masih belum berhasil,
Sumangkar masih mampu menggenggam golok itu
ditangannya, dan masih mampu melontar kesamping sambil
merendahkan dirinya, sehingga tangan Ki Tambak Wedi yang
berlapis baja itu terbang beberapa jari dari kepalanya. Sesaat
kemudian ketika Ki Tambak Wedi berusaha menerkamnya,
maka Sumangkar sudah mampu mempersiapkan dirinya, dan
menjulurkan goloknya dimuka dadanya. Bahkan kemudian
ketika Ki Tambak Wedi mengurungkan serangannya,
Sumangkarlah yang meloncat maju dengan sebuah ayunan
pendek.
Namun kembali Ki Tambak Wedi mengumpat didalam
hatinya. Kini ia benar-benar melihat muridnya dalam kesulitan.
Karena itu maka mau tidak mau ia harus membagi
perhatiannya. Namun karena orang tua itu memiliki
pengalaman yang bertimbun-timbun didalam perbendaharaan
ilmunya, maka segera ia menemukan jalan untuk
menyelamatkan muridnya tanpa mengorbankan
kehormatannya. Dengan lantang kemudian ia berkata “Ayo,
meskipun Macan Kepatihan bukan muridmu Sumangkar,
namun ia adalah murid saudara seperguruanmu, sehingga
ilmumu berdua bersumber dari perguruan yang sama. Kalau
ternyata kau tidak mampu melawan aku seorang diri, marilah,
aku beri kesempatan kalian bertempur berpasangan. Muridku
pasti akan senang juga melayanimu dengan cara itu”
“Kau licik” sahut Sumangkar “Agaknya kau telah melihat
bahwa muridmu telah hampir sampai pada titik ajalnya”
“Persetan, aku sobek mulutmu itu”
“Silakanlah kakang” jawab Sumangkar.
Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Namun ia tidak
merubah rencana. Langsung ia melepaskan Sumangkar dan
berlari kearah Sidanti yang semakin terdesak. Dengan
demikian maka Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada
berlari pula mengejar Ki Tambak Wedi itu.
Sesaat kemudian maka mereka terlibat dalam pertempuran
berpasangan. Mula-mula Sumangkar dan Tohpati agak
canggung juga menyesuaikan diri masing-masing, namun
karena mereka bersumber pada ilmu yang sama, maka
segera mereka menemukan titik-titik yang dapat membuka
kemungkinan-kemungkinan seterusnya.
Dalam pada itu, ketika mereka telah luluh dalam satu
lingkaran perkelahian, maka bayangan yang datang
mendekati mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan
perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka
maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi,
namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi
perkelahian yang semakin seru.
“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang
dari mereka.
“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan”
jawab yang lain.
“Siapakah mereka?”
Tak seorangpun yang dapat menjawab. Namun salah
seorang dari mereka berkata “Marilah kita mendekat”
Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satusatu
diantara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh
kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhentu pada jarak
yang tidak terlalu dekat.
“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.
“Ya” sahut yang lain.
Dan yang lain lagi berkata “Aku sangak, mereka adalah
guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu
dipadang rumput ini”
Namun sesaat kemudian mereka bertiga mengerutkan
kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat
semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi.
Perlahan-lahan disela deru angin malam terdengar salah
seorang berdesis “Macan Kepatihan”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tongkat
baja putihnya, yang berkilat-kilat dikeremangan cahaya bulan
yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka,
siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur
itu.
Namun kemudian timbullah kebimbangan dihati mereka
bertiga. Salah seorang berkata “Macan Kepatihan bertempur
berpasangan. Siapakah yang seorang itu? Bukankah guru
Macan Kepatihan itu Patih Mantahun? Dan Patih Mantahun itu
telah mati terbunuh?”
Salah seorang bergumam lirih “Perguruan Kedung Jati
terkenal, bahwa murid-muridnya mampu menyimpan nyawa
rangkap didalam tubuhnya”
“Aku juga mendengar itu” sahut yang lain.
Tetapi yang seorang lagi tertawa perlahan-lahan.
Gumamnya “Sebuah dongeng untuk menidurkan anak-anak
disenja hari”
Kedua orang yang lain saling berpandangan sesaat,
seolah-olah mereka tidak mengerti, kenapa yang seorang itu
sama sekali tidak menaruh perhatian atas berita tentang
nyawa yang rangkap itu.
“Apakah kalian percaya bahwa ada seorang yang mampu
menyimpan nyawa rangkap didalam dirinya? Aji Pancasonea
barangkali? Nah, kalau kalian percaya, atau setidak-tidaknya
bimbang akan hal itu, mulailah sejak ini menganggap bahwa
itu hanya sebuah dongengan semata-mata. Dan hal itupun
terbukti pula, bahwa Patih Mantahun tidak lagi bangkit dari
kuburnya”
Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata
mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang
bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya
bulam, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayanganbayangan
hitam yang berputaran dan berbenturan, disela-sela
cahaya keputih-putihan yang memantul dari tongkat putih
Macan Kepatihan dan sekali-sekali gemerlapnya pedang
Sidanti. Golok Sumangkar yang kehitam-hitaman bahkan
disana sini tampak berkarat, sama sekali tidak mampu
memantulkan cahaya bulan yang semakin rendah.
“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah
seorang bertanya.
“Marilah Kiai” jawab yang lain.
Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kainnya yang bercorak gringsing menutupi
sebagian tubuhnya sedang kedua orang yang lain, berjalan
dibelakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah
dua orang anak muda yang sebaya. Yang seorang bertubuh
sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Dilambung
mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun
dilambung orang yang berjalan dipaling depan dan bahkan
kedua anak-anak muda itu, melingkar sebuah cambuk yang
bertangkai pendek dan berujung janget.
Ternyata orang yang pertama, yang berkain gringsing itu,
telah menuntun mereka untuk mempergunakan senjata, ciri
perguruannya, disamping senjata yang disukainya. Cambuk
yang bertangkai tidak lebih dari sejengkal dan ujungnya
berjuntai agak panjang, terbuat dari tambang kulit yang sangat
kuat beranyam rangkap tiga ganda. Lemas namun kuatnya
bukan main.
Tiba-tiba orang yang berkain gringsing itu berkata
“Kemarilah ngger”
Kedua anak muda yang berjalan dibelakangnya segera
berdiri disampingnya sebelah menyebelah.
“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”
Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam
pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis “Sidanti”
“Ya, Sidanti” berkata orang yang berkain gringsing “Yang
seorang pasti Ki Tambak Wedi”
Dua orang anak muda, Agung Sedayu dan Swandaru,
mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan
mereka berdesis “Kiai, lalu siapakah yang seorang lagi,
pasangan Macan Kepatihan itu?”
Kiai Gringsing, yang oleh murid-muridnya lebih dikenal
dengan nama Ki Tanu Metir menjawab “Aku belum tahu,
siapakah orang itu. Aku masih belum dapat mengenalnya.
Seandainya ia adalah seorang yang telah pernah terkenal
didaerah ini, atau daerah Pajang, mungkin aku dapat
menyebut namanya”
Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Kini mereka menjadi semakin berani. Apabila salah satu pihak
dari mereka adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sedang
dipihak lain dalam keadaan yang seimbang melayaninya,
maka bersama guru mereka, mereka tidak akan menjadi
cemas lagi siapapun yang sedang bertempur itu. Karena itu
maka Agung Sedayu kemudian berkata “Marilah kita dekati
Kiai. Aku ingin melihat dengan pasti siapakah yang tengah
bertempur itu”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia menjawab “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Siapa
tahu bahwa mereka akan memilih lawan. Dan pilihan itu jatuh
kepada kita”
Swandaru tersenyum. Selangkah ia maju. Tetapi ia segera
berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari
tempatnya.
“Kenapa?” desisnya. “Apakah ada perubahan dari
keseimbangan mereka?”
Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali
dengan sengitnya.
Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang
baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara
mereka.
Namun waktu yang sesaat itu telah menggoncangkan hati
Kiai Gringsing. Pada saat yang demikian itu, ia mengenal,
siapakah seorang lagi, yang selama ini menjadi teka-teki
diantara murid-muridnya. Namun untuk meyakinkannya, ia
dengan serta-merta melangkah maju lagi beberapa langkah,
sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu
dekat.
Yang sedang bertempur itupun kemudian terkejut melihat
kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan
demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang
yang datang mendekat. Yang pertama-tama berteriak diantara
mereka adalah justru Ki Tambak Wedi “He, orang yang
menamakan diri Kiai Gringsing , apakah kerjamu disini?”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Matanya sedang menekuni
gerak seorang lagi diantara mereka yang selama ini tak
pernah disangkanya akan bertemu kembali. Tiba-tiba
terdengar ia bergumam “Sumangkar, murid kedua dari
perguruan Kedung Jati”
“He, siapakah kau?” sahut Sumangkar yang mendengar
namanya disebut-sebut.
“Bertanyalah kepada Ki Tambak Wedi” sahut Kiai Gringsing
“Aku mendengar ia menyebutmu Kiai Gringsing. Siapakah
sebenarnya kau ini?”
“Itulah aku sebenarnya”
Sumangkar masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba
terdengar Tohpati berteriak “He, bukankah kalian orang-orang
yang aku temukan ditengah kali itu? Yang gemuk itu, yang
satunya dan apakah kau orang tua itu pula?”
“Ya, akulah itu” jawab Kiai Gringsing.
Ternyata dada Tohpati berdesir mendengar pengakuan itu,
meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah
digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata “Aku sudah
menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian orang-orang aneh
dari Sangkal Putung, maka pada saat itu kalian pasti telah aku
bunuh”
“Apa salah kami?” teriak Kiai Gringsing “Dan karena itu
pula agaknya waktu itu kami tidak mengaku orang-orang
aneh”
“Gila!” teriak Tohpati “Jangan mengigau, nanti akan datang
giliran kalian untuk aku bunuh setelah musuh-musuhku ini
mati”
Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Tambak Wedi.
Sementara itu mereka basih bertempur dengan serunya. Dan
diantara derai tertawa itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata
“Jangan sombong Macan Kepatihan yang gagah perkasa.
Mungkin kalian berdua mampu membunuh kami, tetapi orangorang
itu?”
Macan Kepatihan benar-benar terkejut mendengar katakata
Ki Tambak Wedi yang biasanya terlalu menyombongkan
diri. Tetapi ia tidak segera bertanya lagi. Tekanan Ki Tambak
Wedi bahkan menjadi semakin mendesak.
Dalam kesibukan perkelahian itu yang terdengar kemudian
adalah geram Sidanti penuh kemarahan “Agung Sedayu,
musuh bebuyutan, apakah kau sudah jemu hidup sehingga
kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku
sedang berpesta? Kedatanganmu akan merupakan hadiah
terbesar bagiku sesudah kepala Tohpati malam ini”
Ketika Agung Sedayu hampir membuka mulutnya untuk
menjawab maka terasa lengannya digamit oleh gurunya.
Dengan serta-merta ia mengurungkan niatnya sambil
berpaling kepada gurunya, untuk mendapat penjelasan.
Namun Kiai Gringsing itu hanya mengangkat dagunya kearah
perkelahian itu. Dalam kebimbangan Agung Sedayu menuruti
arah itu. Barulah kemudian ia tahu maksud gurunya, bahwa
kata-kata Sidanti itu pasti akan menyinggung perasaan
Tohpati pula. Dan Kiai Gringsing mengharap biarlah Macan
Kepatihan itulah yang menjawab.
Sebenarnyalah kemudian Macan Kepatihan menggeram
“Gila kau Sidanti, kau sangka bahwa Macan Kepatihan sama
murahnya dengan kepalamu?”
“Jangan marah ngger” sahut Ki Tambak Wedi “Sidanti
hanya berkata sebenarnya”
Betapa marahnya Macan Kepatihan mendengar
penghinaan itu. Namun kemudian terdengar Sumangkar
berkata tenang “He orang yang menamakan dirinya Kiai
Gringsing, kau lihat, bahwa ditempat ini terjadi dua macam
perkelahian? Yang pertama perkelahian jasmaniah. Kami
masing-masing telah bertempur dengan sekuat-kuat tenaga
kami, namun belum ada diantara kami yang dapat dikalahkan
oleh pihak yang lain, Sedang perkelahian yang kedua adalah
perkelahian mulut. Kami masing-masing mencoba saling
menyombongkan diri kami. Kami masing-masing berkata
bahwa kami akan membunuh lawan-lawan kami. Kalau itu
mampu lakukan, maka sudah pasti kami lakukan. Tetapi
ternyata seperti yang kau lihat. Kami masih bertempur matimatian
sehingga kami harus tertawa mendengar suara kami
sendiri. Karena itu Kiai, kalau Kiai masih ingin menonton,
menontonlah dengan tenang. Waktu masih panjang. Kalau
ada diantara kami yang akan memusuhi Kiai, maka itu masih
harus melalui waktu yang cukup banyak untuk mengalahkan
lawan-lawan kami”
Ki Tambak Wedi dan Sidanti menggeram mendengar katakata
itu, bahkan Tohpati sendiri menggertakkan giginya.
Namun dengan demikian mereka tidak lagi berteriak-teriak
dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga
mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun
demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran Kiai
Gringsing dengan murid-muridnya. Mereka mempunyai
persoalan sendiri-sendiri terhadap mereka. Tohpati menyadari
bahwa diantara orang-orang itu terdapat orang-orang Sangkal
Putung. Namun justru karena itu ia mulai menimbangnimbang.
Kalau tidak ada persoalan diantara mereka dengan
Sidanti, maka mereka pasti akan membantu Sidanti. Karena
itu maka kehadiran mereka benar-benar mempengaruhi
perasaannya. Dalam pada itu, Ki Tambak Wedipun menjadi
gelisah. Disadarinya bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai
Gringsing itu tidak dapat dikalahkan. Ternyata Kiai Gringsing
telah mengambil lawan Sidanti menjadi muridnya. Dengan
demikian maka apabila terpaksa mereka harus berhadapan
saat itu, maka tidak akan dapat memberinya kesempatan apaapa.
Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing. Kiai
Gringsing senang mendengar kejujuran sikap Sumangkar,
sehingga menyahut “Kau benar-benar murid kedua perguruan
Kedung Jati yang perkasa. Aku terpaksa tertawa mendengar
pengakuanmu. Dan aku akan mencoba memenuhinya. Duduk
disini sambil melihat kalian berkelahi”
“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi, namun suaranya segera
tenggelam dalam kata-kata Sumangkar “Silakan Kiai, silakan.
Kiai akan dapat menilai, sampai sejauh mana ekmungkinan
yang ada dikedua belah pihak. Dan kira-kira Kiai akan lebih
senang melawan pihak yang mana? Bukankah dengan
demikian Kiai dapat berbuat sesuatu?”
Kembali Kiai Gringsing tertawa, jawabnya “Tidak, aku tidak
berpihak. Aku tidak akan berpihak pada yang lemah untuk
nanti mendapatkan lawan yang lemah itu”
Sumangkar tertawa pendek. Sekali ia harus meloncat
kesamping untuk menghindari sambaran tangan Ki Tambak
Wedi. Namun ia harus segera menggeliat pula, ketika
dilihatnya pedang Sidanti menjulur mematuk lambungnya.
Namun ketika Ki Tambak Wedi akan menyerangnya kembali,
segera Sumangkar meloncat dan memutar golok ditangannya.
Ia tidak perlu memperhatikan Sidanti lagi, karena dengan
serta-merta, tongkat Macan Kepatihan menyambar lengan
anak muda itu, sehingga ia terpaksa meloncat surut.
Namun dalam pada itu, timbullah banyak pertimbangan
dikepala Tohpati. Seandainya perkelahian itu dibiarkannya
berjalan dalam keseimbangan, maka semalam suntuk mereka
pasti tidak akan menemukan penyelesaian. Bahkan mungkin
pada saat-saat mereka hampir mati kekelahan, pada saat
itulah Kiai Gringsing baru tampil ke gelanggang.
Karena itu, maka segera timbul banyak pertimbangan
dikepala Macan Kepatihan. Ia sendiri tidak yakin, apakah yang
dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing. Apakah ia akan berpihak
ataukah ia akan melawan segala pihak. Namun keadaannya
pasti akan menjadi paling baik. Seperti tantangan Sumangkar,
Kiai Gringsing dapat berpihak yang dianggapnya paling lemah
untuk membinasakan yang kuat, supaya apabila kemudian
terpaksa bagi Kiai Gringsing untuk bertempur, maka
musuhnya adalah pihak yang lemah. Namun agaknya
permusuhan telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Ki Tambak
Wedi seperti halnya murid-muridnya dikedua belah pihak.
Apakah permusuhan itulah yang menyebabkan Sidanti
meninggalkan Sangkal Putung? Sekali-sekali terlintas juga
didalam benaknya untuk melawan saja Kiai Gringsing
bersama muridnya itu bersama-sama dengan Sidanti dan
gurunya dalam satu gabungan kekuatan, maka pasti Kiai
Gringsing dapat dikalahkan. Namun kemudian Tohpati itu
menjadi ragu-ragu pula. Meskipun hatinya cenderung berbuat
demikian. Sebab apabila yang tinggal adalah mereka
berempat, maka kekuatan mereka pasti akan tetap seimbang.
Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba Tohpati mendengar
tawaran Ki Tambak Wedi yang agaknya mempunyai pikiran
yang sama, sehingga tawaran itu benar-benar mengejutkan
Macan Kepatihan “He, angger Tohpati yang perwira. Orang
baru itu adalah musuhku bebuyutan. Sedangkan apa yang kita
lakukan adalah suatu permainan yang tidak berarti apa-apa.
karena itu, apakah tidak sebaiknya kita hentikan permainan
ini, dan kita binasakan saja lawan kita yang berbahaya itu
bersama-sama. Kemudian baiklah permainan ini kita lanjutkan
kembali?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Semula ia tidak yakin
akan tawaran Ki Tambak Wedi, namun kemudian tampaklah
serangan-serangan Ki Tambak Wedi mengendor, sehingga
Tohpati menjadi ragu-ragu dan bertanya “Apakah
pertimbanganmu?”
Ki Tambak Wedi tertawa, jawabnya “Sebenarnyalah kita
sudah dapat mengetahui keadaan kita masing-masing. Juga
Kiai Gringsing itu pasti tahu, kenapa kita akan menyatukan
kekuatan kita. Bukankah dengan demikian kita akan dapat
meneruskan permainan ini tanpa terganggu dan tanpa
menunggu kemungkinan yang paling buruk? Membiarkan Kiai
Gringsing menunggu kita masing-masing mati kelelahan?”
Sekali lagi Tohpati dilanda oleh keragu-raguan. Sementara
itu, Swandaru dan Agung Sedayu yang mendengar tawaran Ki
Tambak Wedi itu segera meraba hulu pedang masing-masing.
Tanpa berpikir akibat yang akan terjadi maka tiba-tiba
Swandaru tertawa sambil berkata “Kiai, kita akan mendapat
latihan yang baik”Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.
Ditatapnya wajah Swandaru dan Agung Sedayu bergantiganti.
Tiba-tiba ia menjadi cemas. Mungkin Agung Sedayu
dapat mempertahankan dirinya melawan Sidanti atau Tohpati
sekalipun dalam taraf kekuatannya kini setelah ia maju
dengan pesatnya.
***
Namun Swandaru masih belum dapat disejajarkan dengan
salah seorang dari mereka. Apalagi kalau kekuatan mereka
digabung, maka Sumangkar dan Ki Tambak Wedi akan
menjadi lawan yang amat berat meskipun kekuatan mereka
telah menunjukkan tanda-tanda menurun karena perjuangan
yang berat diantara mereka.
Tetapi Swandaru yang sedang berkembang itu tidak dapat
menimbang berat ringan orang-orang yang dihadapinya. Ia
masih dalam tingkatan ingin mencoba segala kemampuan
yangada dididalam dirinya. Apalagi kini dihadapannya berdiri
Sidanti dan Tohpati. Ia ingin menakar diri. Apakah
kekuatannya sudah seimbang dengan Tohpati atau Sidanti?
Dalam kesibukan berpikir itu, Kiai Gringsing mendengar
Sumangkar menjawab tawaran Ki Tambak Wedi sebelum
Tohpati mengambil keputusan “Ki Tambak Wedi, dihadapan
kami berdiri Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kini datang Kiai
Gringsing dengan kedua muridnya, anak-anak Sangkal
Putung. Adakah itu suatu kebetulan? Apakah Ki Tambak Wedi
sudah menyediakan perangkap untuk menjebak kami
berdua?”
Ingatan Tohpati benar-benar seperti tersengat lebah
mendengar kata-kata itu. Alangkah mengejutkan meskipun
seharusnya kemungkinan itu telah dipertimbangkannya. Ya,
seandainya mereka telah merencanakan itu, alangkah
bodohnya. Kalau ia menerima tawaran Ki Tambak Wedi,
kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti mengkhianatinya
dalam perkelahian itu, maka membunuh Tohpati akan sama
mudahnya dengan memijat bji ranti. Karena itu tiba-tiba
Tohpati menggeram dengan marahnya. Katanya “Hem.
Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat licik. Kalian
berpura-pura saling bertentangan antara kedua pihak guru
dan murid sekali. Tetapi ternyata kalian telah menjebak kami.
Tetapi jangan kalian sangka Tohpati akan menyerah. Tohpati
hanya menyerah apabila Tohpati telah menjadi mayat”
Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Sumangkar
benar-benar gila. Beberapa kali ia merusak usahanya. Kini
orang itu telah menempatkannya pada kesulitan pula. Karena
itu ia berteriak “Sumangkar, kau adalah biang keladi dari
kehancuran Macan Kepatihan. Kini kau menolak tawaranku.
Baiklah marilah kita teruskan perkelahian ini. Siapa yang
menang, biarlah ia menjadi korban berikutnya dari
kebodohanmu. Dan kita berempat akan mati dilapangan
rumput ini. Apa katamu?”
“Lebih baik demikian Ki Tambak Wedi” sehut Sumangkar
“Lebih baik kita mati berempat disini daripada hanya kami saja
berdua. Setuju”
Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Rupanya
kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Kiai
Gringsing telah benar-benar tertutup baginya, sehingga tidak
ada pilihan lain daripada meneruskan perkelahian itu matimatian.
Tetapi sejak saat itu Tohpati selalu dihantui oleh
kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Ki
Tambak Wedi dan Kiai Gringsing bersama-sama. Karena itu
maka otaknya bekerja dengan sibuknya, disamping tenaganya
yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus
menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Kiai
Gringsing dan kedua anak muda Sangkal Putung itu mulai
menyerangnya pula dengan cara apapun.
Karena itulah maka Tohpati harus menemukan suatu cara
untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena
ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati
meringkuk dalam perangkap lawannya.
Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Tohpati
memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan
sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah
sepi malam.
Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang
rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking
berkali-kali.
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar suara itu. Bahkan
semua orang yang mendengarnya, termasuk Sumangkar.
Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka,
terdengar kembali suitan Tohpati untuk kedua kalinya dan
sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.
“Gila!” teriak Sidanti “Apakah yang kau lakukan pengecut?”
“Mari, mari Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, majulah
bersama-sama. Cobalah tangkap Tohpati dan Sumangkar
malam ini”
“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Sidanti
“Itu adalah hakku”
“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang lakilaki”
“Aku adalah pemimpin pasukan Jipang. Aku tdiak mau
masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus
membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami
berdua kedalam perangkap? Sedang aku, Macan Kepatihan
sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil
pasukannya?”
“Gila” desis Ki Tambak Wedi.
Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali
terdengar Tohpati bersuit. Kali ini berkepanjangan.
“Apa arinya?” gumam Ki Tambak Wedi.
Macan Kepatihan tertawa, katanya “Orang-orangku harus
menangkap kalian hidup-hidup”
“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Ki Tambak
Wedi.
Tohpati tidak menjawab, namun tongkatnya berputar
semakin cepat menyambar lawan-lawannya.
Dalam pada itu timbullah pikiran baru didalam benak Ki
Tambak Wedi. Kalau pasukan Tohpati segera datang dan
membantu, maka keseimbangan akan segera berubah.
Betapapun lemahna orang seorang dalam pasukan Tohpati,
namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua
orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan
Sidanti. Karena itu, maka tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu
menggeram “Bagus Tohpati, karena kau tidak menepati
kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali
ini memenggal lehermu, memenggal leher adik gurumu. Tetapi
ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”
“Pengecut” terdengar suara Tohpati “Kau akan lari?”
“Bukan aku yang licik”
“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini
dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha
untuk lari dapat digagalkan”
“Persetan, laskarmu akan aku tumpas kalau berani
menghalangi aku”
Macan Kepatihan itu tertawa berkepanjangan. Katanya
“Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur
bintang pagi yang baru terbit itu”
Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia
berkata kepada muridnya “Musuh kita kali ini licik seperti
demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri,
menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan
padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”
“Tunggulah sebentar” cegah Sumangkar “Aku belum
selesai”
“Persetan” sahut Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa
Sumangkar ingin memperlambatnya, sehingga laskar Jipang
cukup waktu untuk mengepung mereka.
Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu
berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera
mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka
terjebak dalam kepungan laskar Macan Kepatihan.
Kegelisahan itu sebenarnya tidak saja melanda Ki Tambak
Wedi dan Sidanti. Kiai Gringsingpun ternyata terpaksa berpikir
menghadapi keadaan itu. Seandainya laskar Jipang yang
sarangnya mungkin tidak jauh dari tempat ini benar-benar
datang, maka mereka benar-benar berada dalam kesulitan.
Sebab Kiai Gringsing seperti juga Ki Tambak Wedi menyadari,
bahwa didalam laskar Tohpati itu ada orang-orang seperti
Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang
tidak jauh tingkatnya dari mereka itu. Disamping Sumangkar
dan Tohpati, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang
yang sangat berbahaya.
Sekali dua kali Kiai Gringsing menimbang-nimbang.
Diamat-amatinya muridnya. Ia menjadi cemas apabila ia
menatap Swandaru yang gemuk itu. Anak itu kurang
perhitungan. Ia merasa tenaganya terlampau kuat, sehingga ia
tidak pernah mempertimbangkan kekuatan lawan-lawannya.
Karena itu maka ketika dilihatnya Ki Tambak Wedi
melarikan dirinya, tiba-tiba Kiai Gringsing berteriak “angger
Macan Kepatihan dan Sumangkar yang perkasa. Aku kali ini
lebih berkepentingan dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti.
Karena itu biarlah aku mengejar mereka. Mudah-mudahan lain
kali aku dan murid-muridku dapat menjumpai kalian berdia
dalam kesempatan seperti ini”
“Kau juga mau lari?” teriak Macan Kepatihan.
Kiai Gringsing tertawa, tetapi ia sudah meloncat sambil
berkata kepada murid-muridnya “Jangan lepaskan Sidanti”
Swandaru dan Agung Sedayu tidak sempat bertanya lebih
banyak. Segera mpun berloncatan mengikuti Ki Tanu Metir
mengejar Ki Tambak Wedi dan Sidanti.
Tohpati dan Sumangkar melihat mereka berlari-larian
meninggalkan lapangan rumput sambil tertawa “Hem”
geramnya “Aku sudah hampir kehabisan akal”
Sumangkar tidak segera menyahut. Ia masih memandang
kedalam malam yang semakin gelap, karena bulan yang
terbelah telah lenyap dibalik pepohonan.
Baru setelah mereka lenyap dari pandangan mata
Sumangkar, maka berkatalah orang tua itu kepada Tohpati
“Semula aku tidak tahu, apakah maksud angger sebenarnya”
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya
“Kita tidak akan dapat melawan mereka semuanya apabila
mereka benar-benar ingin menjebak kita”
“Ya, dan angger telah membuat permainan yang baik
sekali. Ternyata mereka semuanya pergi meninggalkan kita.
Mereka menyangka bahwa angger benar-benar memanggil
anak buah angger”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata bersungguh-sungguh “Tetapi ada
sesuatu yang tidak wajar paman. Aku sangka, Ki Tambak
Wedi dan Kiai Gringsing benar-benar tidak akan bekerja
bersama-sama, meskipun kita harus berhati-hati terhadap
dugaan itu”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
jawabnya “Aku juga menyangka demikian. Bahkan aku
menyangka diantara mereka benar-benar ada persoalan yang
telah membawa mereka dalam suatu keadaan permusuhan”
“Nah, bukankah kalau demikian kita akan dapat
mempergunakan salah satu pihak untuk keuntungan kita?
Sidanti misalnya?”
“Belum pasti ngger. Belum pasti kalau Sidanti dan Ki
Tambak Wedi akan dapat memberi keuntungan kepada
angger. Kalau sekali ia telah meninggalkan kesetiannya
kepada kesatuannya dan berpihak kepada lawannya, maka
orang yang demikian adalah orang yang benar-benar tidak
dapat dipercaya. Mungkin ia akan memperalat kita untuk
kepentingannya, kemudian menhancurkan kita sendiri.
Gurunya, Ki Tambak Wedi, bukankah contoh yang sangat baik
bagi sifat Sidanti itu?”
“Aku akan dapat mempergunakannya dimana perlu paman,
jangan sebaliknya”
Sumangkar mengerutkan keningnya. Kembali dadanya
dirayapi oleh kecemasan. Mungkin Tohpati akan dapat
mempergunakan Sidanti tanpa mencelakakan dirinya.
Mungkin kemudian Sidanti akan dapat dibinasakan oleh
Tohpati apabila ada tanda-tanda ia akan mengkhianatinya.
Namun dengan demikian, maka keadaan akan menjadi
semakin parah. Peperangan akan menjadi semakin berlarutlarut.
Karena itu, maka diberanikan dirinya berkata “Raden,
apakah Raden dapat bekerja sama dengan anak muda itu?
Setiap kali angger malahan akan kehilangan kesempatan
untuk berbuat sesuatu. Angger setiap kali hanya akan
mengawasinya saja. Pekerjaan itu pasti akan menjemukan
sekali. Dan bukankah dengan demikian angger akan
memperluas kesulitan rakyat Jipang dan Pajang sendiri?”
Tohpati menundukkan wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergetar
cepat sekali. Teringatlah ia kini, akan apa yang
mengganggunya akhir-akhir ini. Kesadaran diri atas segala
yang telah berlaku dan akan dilakukan benar-benar
mengganggunya siang dan malam. Perang, kebencian,
kekerasan dan permusuhan merajalela.
Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang
pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Dilangit bintangbintang
masih bercanda dengan awan yang mengalir
dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti berlari
kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka
benar-benar menyangka bahwa Tohpati sedang memanggil
anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan
dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar
mengecewakan.
Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah
bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat
langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap
kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang didalamnya.
Kiai Gringsing yang berlari sambil menunggu muridmuridnya
ternyata kehilangan jejak. Karena itu, maka segera
mereka berhenti diantara gerumbul-gerumbul perdu. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Gringsing bergumam
“Hilang, mereka hilang disini”
“Marilah kita cari Kiai” ajak Swandaru.
Swandaru benar-benar tidak melihat bahaya yang dapat
menyergapnya apabila mereka mencari. Ki Tambak Wedi
akan dapat menerkam muridnya satu persatu. Bagi Kiai
Gringsing sendiri, maka bahaya itu tidak akan sampai
membinasakannya. Namun bagaimana dengan Swandaru dan
Agung Sedayu? Ki Tambak Wedi dan Sidanti dapat berada
disetiap kegelapan dibalik gerumbul-gerumbul itu. Dengan
ujung-ujung pedangnya Sidanti dapat mendahuluinya. Apalagi
Ki Tambak Wedi.
Karena itu, maka Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya
sambil bergumam “Sangat berbahaya Swandaru, terutama
bagimu dan bagi Agung Sedayu”
“Kalau demikian, lalu apa yang harus kita lakukan Kiai?”
Kiai Gringsing berdiam diri untuk sejenak. Ia tahu pasti
bahwa Swandaru menjadi kecewa. Jauh lebih kecewa dari
Agung Sedayu, sebab ia kehilangan kesempatan untuk
mencoba ilmunya. Sehingga Ki Tanu Metir dengan sangat
hati-hati mencoba melunakkan hatinya “Kita kehilangan lawan
Swandaru”
“Tetapi kita tidak mencarinya”
“Disetiap ujung daun-daun perdu itu mungkin sekali kau
temukan ujung pedang Sidanti atau ujung-ujung jari Ki
Tambak Wedi”
“Tetapi dengan demikian mereka tidak berlaku jantan”
“Mungkin demikian, namun apakah yang dapat kita katakan
dengan kejantanan itu apabila lambung kita telah tembus oleh
pedangnya. Dan bukankah sangat sulit untuk mencari dua
orang saja diantara gerumbul-gerumbul liar itu?. Mungkin
mereka tidak menunggu kita dengan ujung pedang, tetapi
mereka kini telah hilang menyusur gerumbul-gerulbul itu
masuk kedalam hutan. Nah, apakah dengan demikian kita
tidak hanya akan membuang waktu?”
“Apakah kita akan kembali ketempat Tohpati?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya
“Setiap kemungkinan untuk dapat bertemu semua pihak telah
hilang. Seandainya Tohpati benar-benar memanggil anak
buahnya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya.
Seandainya Macan Kepatihan hanya menakut-nakuti Ki
Tambak Wedi dan muridnya, maka kini ia pasti sudah pergi”
“Ternyata bukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti saja yang
menjadi ketakutan Kiai, kita juga menjadi ketakutan dan lari
terbirit-birit”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia tahu benar
perasaan muridnya yang seorang itu. Swandaru menjadi
sangat kecewa, bahwa ia tidak berhasil mendapat tempat
untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini
dipelajarinya.
Maka berkatalah dukun tua itu “Swandaru, kita harus
mempertimbangkan segala ekmungkinan yang dapat terjadi
atas perbuatan kita. Kita bukan orang-orang yang memiliki
kekhususan yang berlebih-lebihan. Bukan orang yang tak
pernah melihat kelemahan diri. Apabila demikian ngger, maka
kita telah mulai dengan langkah yang sangat berbahaya”
“Tetapi kita bukan pengecut-pengecut Kiai. Bukankah kita
anak-anak jantan yang pantang menghindari kesulitan?”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian jawabnya “Ya, apabila kesulitan itu berada dijalan
kita, maka kita tidak boleh menghindar. Kita harus mencoba
mengatasinya. Tetapi bukan kita mencari kesulitan apabila
kesulitan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kita”
“Kiai, baik Sidanti maupun Tohpati adalah orang-orang
yang sangat berbahaya bagi Sangkal Putung. Kenapa mereka
kita lepaskan setelah mereka berada diujung hidung kita?
Apakah dengan demikian kita tidak hanya malas mengatasi
kesulitan yang bakal datang?”
Ki Tanu Metir tersenyum. Muridnya yang seorang ini
memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila
mendapat menyaluran yang tepat, maka Swandaru akan
dapat menjadi seorang prajurit yang nggegirisi. Tetapi ternyata
bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan
setiap kemungkinan dari tindakannya.
“Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Sebaiknya mulai saat ini
belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan erlalu
menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan
demikian kita akan mudah terjerumus kedalam tindak yang
kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kita
lakukan bertiga dan apa yang dilakukan oleh Tohpati berdua
ditambah dengan laskarnya yang bakal datang. Kita tidak tahu
berapa orang, tiga, enam, sepuluh atau lebih. Diantaranya
akan datang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orangorang
lain yang cukup berbahaya bagi kita. Nah, kita harus
memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi kalau kita bertempur melawan mereka”
“Jadi kita tidak berani menghadapi mereka itu?”
“Ada bedanya Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Ada
perbedaan antara seorang pengecut dan seorang yang
memperhitungkan kekuatan diri. Seseorang dapat saja
meninggalkan perkelahian dan pertempuran dalam keadaan
tertentu. Kalau kita meninggalkan Tohpati yang memanggil
laskarnya, maka kita sama sekali bukan pengecut. Tohpatilah
yang mulai. Sebab ia memanggil orang banyak untuk
menghadapi kita bertiga. Dan kita tidak mau membunuh diri
kita. Seorang pemberani bukanlah seorang yang membabi
buta dan membunuh diri sendiri”
Swandaru terdiam sesaat. Ia dapat mengerti keterangan
gurunya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
berguman “Ya, aku mengerti Kiai”
“Bagus, ingatlah untuk seterusnya” sahut Kiai Gringsing.
Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan
gurunya, namun dihati kecilnya tumbuhlah perasaan yang
aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas
yang harus diselelsaikan.
Ketika malam yang hening merambat makin jauh, maka
bergumamlah ktim “Kita kembali ke kademangan. Ada sesuatu
yang harus kita sampaikan kepada angger Widura dan angger
Untara. Perjalanan kita kali ini menangkap suatu peristiwa
yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Sidanti dan Tohpati
berdiri berhadapan langsung sebagai lawan”
“Apakah yang penting dari peristiwa ini Kiai?” bertanya
Agung Sedayu.
“Mereka tidak bekerja bersama” sahut Kiai Gringsing.
“Mungkin hal ini baik bagi Sangkal Putung. Tetapi mungkin
buruk pula. Sidanti dapat membentuk suatu gerombolan baru
yang akan mempersulit keadaan. Ki Tambak Wedi mempunyai
pengaruh yang kuat dilereng Merapi ini”
Kedua murid Ki Tanu Metir itu terdiam. Berbagai persoalan
hilir mudik didalam kepala mereka. Swandaru masih merasa
aneh tentang dirinya, sedang Agung Sedayu dapat berpikir
lebih tenang dan memandang lebih jauh. Sifat-sifatnya dimasa
anak-anaknya ternyata ikut membantu mengekangnya
menghindari bentrokan-bentrokan yang sama sekali tidak
perlu. Untunglah bahwa setelah ia berhasil memecahkan
dinding yang mengungkungnya dalam dunia ketakutan, ia
tidak kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa ia berada
didekat kakaknya yang dapat memberinya petunjuk-petunjuk,
untunglah bahwa gurunya adalah seorang dukun yang banyak
sekali berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, bukan
sebaliknya membuat orang menjadi sakit.
Sejenak kemudian maka merekapun meninggalkan padang
rumput itu, dan kembali ke kademangan Sangkal Putung.
Pada saat itu Tohpati dan Sumangkar telah pula
melangkah pergi. Mereka tidak meneruskan perjalanan
mereka ke Sangkal Putung. Tetapi mereka bermaksud
kembali kesarang mereka. Tohpati berjalan dengan wajah
tertunduk, sedang disampingnya Sumangkar berjalan sambil
mengamat-amati goloknya. Perlahan-lahan ia bergumam
“Besok aku akan mengalami kesulitan”
“Apa?” Tohpati terkejut mendengar keluhan itu.
Sambil menunjukkan goloknya Sumangkar berkata “Mata
golokku menjadi pecah-pecah. Aku tidak dapat lagi
mempergunakannya untuk membelah kayu”
“Oh” Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kalau bukan
Sumangkar yang berkata demikian, maka orang itu pasti
sudah ditamparnya. Namun tiba-tiba untuk melepaskan
kejengkelannya Tohpati itu berkata lantang “Besok aku akan
pergi ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya”
Sumangkarlah kini yang terkejut “Besok? Apakah angger
sudah cukup siap?”
Tohpati tidak segera menjawab. Ia melangkah semakin
lama menjadi semakin cepat dan semakin panjang, sehingga
Sumangkar terpaksa berkali-kali mempercepat langkahnya
pula.
Ketika Tohpati tidak segera menjawab pertanyaannya
maka sekali lagi Sumangkar bertanya “Angger, apakah angger
besok dapat menyiapkan laskar Jipang untuk menyerang
Sangkal Putung?”
“Aku telah siap sejak pecah perang Jipang dan Pajang”
geram Tohpati tanpa berpaling.
Sumangkar mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terasa
sesuatu pada dinding Tohpati itu. Meskipun demikian
Sumangkar mencemaskan nasib Macan Kepatihan itu pula
sehingga ia berkata “Mungkin angger Tohpati sendiri telah
siap sejak lama. Tetapi apakah laskar angger, dan pimpinanpimpinan
yang lain telah siap pula?”
“Aku tidak peduli apakah mereka sudah siap atau belum.
Besok aku akan menyerbu Sangkal Putung. Untuk yang
terakhir kalinya”
“Kenapa yang terakhir kalinya ngger?”
“Aku sudah jemu pada peperangan ini. Aku sudah jemu
melihat pepati. Aku sudah jemu melihat darah dan
penderitaan”
Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Ia
sendiri adalah orang yang jemu menghadapi persoalan yang
seakan-akan tidak berpangkal dan tidak berujung. Tetapi ia
melihat pada dada Tohpati itu membayang keputus-asaan dan
kekecewaan yang meluap-luap. Disamping Widura dan
Untara, kini ia mengenal lawan yang baru, yang cukup
berbahaya pula laginya. Bukan Sidanti, tetapi Ki Tambak
Wedi. Ia tidak akan dapat menggantungkan nasibnya terus
menerus kepada Sumangkar, paman gurunya itu. Bahkan
kemudian diketahuinya pula bahwa di Sangkal Putung ada
orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang memiliki
ilmu sejajar dengan Ki Tambak Wedi, sehingga orang itu
berani menonton perkelahian yang sedang berlangsung
diantara mereka. Diantara ilmu yang bersumber dari Kedung
Jati melawan ilmu yang bersumber dari lereng Merapi.
Persoalan-persoalan yang tumbuh didalam
perkemahannya, persoalan-persoalan yang tumbuh
disekitarnya telah mendorong Tohpati dalam keadaan yang
sulit. Tetapi semuanyaitu tidak akan menggoncangkan
tekadnya, seandainya tidak ada persoalan-persoalan yang
tumbuh didalam dadanya sendiri. Beberapa hari ia telah
diganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang
membingungkannya. Pertimbangan-pertimbangan yang tidak
pernah dikenalnya sebelumnya. Tak pernah sehelai
bulunyapun yang meremang, apabila ia melihat darah, mayat,
mendengar pekik rintih dan tangis. Dadanya sama sekali tidak
tergetar melihat pedang yang berlumur darah dan bahkan
tubuh yang terpisah-pisah. Namun tiba-tiba kini ia merasa
ngeri hanya mengenangkan itu semua.Mengenangkan
kembali dan tidak sedang menghayatinya.
“Setan” geramnya.
Sumangkar berjalan terloncat-loncat disampingnya. Ketika
ia mendengar Tohpati menggeram, maka sekali lagi ia
bertanya “Kenapa angger menjadi jemu?”
Sekali lagi Tohpati menggeram, katanya “Kenapa paman
bertanya? Paman adalah salah satu sebab dari kejemuan itu.
Paman telah membujuk aku. Paman telah memperlemah
tekadku. Dan paman pasti akan menyetujui pendapatku.
Peperangan ini harus segera berakhir. Pajang atau Jipang
yang akan hancur”
Dada Sumangkar benar-benar bergetar mendengar
jawaban itu. Sehingga cepat-cepat ia menjawab “Angger telah
memilih jalan yang sama sekali tidak tepat”
Langkah Tohpati terhenti mendengar perkataan Sumangkar
itu. Dengan tajamnya ia memandang wajah orang tua itu
dengan sinar kemarahan yang menyala-nyala “Apakah yang
kau katakan paman?”
“Angger mencoba menempuh jalan yang salah”
“Kenapa?”
“Angger telah meninggalkan segenap perhitungan seorang
senapati”
“Apa gunanya perhitungan-perhitungan itu lagi? Bukankah
paman juga menghendaki supaya kami cepat hancur dan
peperangan berhenti?”
“Tidak”
“Paman” geram Tohpati “Paman sudah tua. Dan perkataan
paman sama sekali tidak dapat didengar dengan pasti. Apa
yang paman kehendaki sebetulnya? Jangan mencla-mencle”
“Tidak, aku tetap pada pendirianku. Aku menghendaki
peperangan segera berakhir. Tetapi aku tidak menghendaki
laskar Jipang membunuh dirinya”
“Apa pedulimu paman. Hidupku adalah wewenangku. Kalau
besok aku menyerbu Sangkal Putung sebagai sulung
menjelang api, dan kemudian aku akan binasa karenanya,
namun peperangan akan berhenti, bukankah paman akan
tertawa pula karenana. Paman akan tertawa melihat mayat
Tohpati dipenggal kepalanya dan diseret sepanjang jalan raya
Pajang untuk dipertontonkan kepada rakyat. Dan paman akan
tertawa melihat Untara mendapat hadiah serupa dengan yang
diterima oleh Pemanahan dan Penjawi?”
“Angger salah terka. Aku tidak ingin melihat angger
membunuh diri bersama seluruh laskar”
“Apa pedulimu? Apa pedulimu. He? Nyawa ini adalah
nyawaku. Hidup ini adalah hidupku sendiri”
“Aku tidak keberatan kalau Raden membunuh diri dengan
cara itu. Tetapi jangan membinasakan laskar angger itu.
Jangan membawa mereka terjun kedalam lembah kengerian
itu”
“Diam, diam kau tua bangka” teriak Tohpati dengan
marahnya sehingga tongkatnya terayun-ayun menunjuk
keakrah kepala Sumangkar. Tetapi kini Sumangkar tidak
meletakkan goloknya, tidak menyerahkan kepalanya sambil
ngapurancang. Tetapi orang tua itu tiba-tiba meloncat surut
sambil mempersiapkan dirinya. Benar-benar bukan
Sumangkar juru masak yang malas, tetapi Sumangkar yang
telah berhasil mengimbangi kekuatan hantu lereng Merapi.
Mata Tohpati terbelalak karenanya, seakan-akan ingin
meloncat dari pelupuknya. Betapa dadanya menjadi bergelora
seolah-olah akan meledak melihat sikap Sumangkar itu.
Melihat Sumangkar menyilangkan goloknya dimuka dadanya
dan siap menghadapi setiap kemungkinan.
Sejenak kemudian tubuhnya menjadi gemetar karena
marahnya. Tongkatnya yang putih berkilauan itupun bergetar
dalam genggaman tangannya. Sambil menunjuk si dengan
tongkatnya itu Macan Kepatihan menbentak “He, Sumangkar,
apakah kau akan berani melawan Macan Kepatihan?”
***
“Hem” Sumangkar berdesah “Angger Macan Kepatihan,
meskipun angger bernyawa rangkap berkadang dewa-dewa
dilangit, namun kau tidak akan mampu melawan Sumangkar”
“Persetan dengan kesombonganmu itu tetapi kau telah
berbuat kesalahan terhadap pemimpinmu disini”
“Apa salahku?Aku mencoba mengatakan apa yang baik
bagiku. Bagi pendirianku. Apakah itu salah? Kalau kau tidak
mau mendengarkan nasehatku, jangan kau dengar.
Berbuatlah sesuka hatimu. Kau bukan anakku, bukan cucuku.
Kau bagiku tidak lebih dari murid saudara seperguruanku.
Apakah kau akan mati pancang, ataukah mati digilas guntur
dari lagit, aku tidak akan kehilangan. Tetapi sebagai orang tua
aku ingin melihat, kalau kau mati, matilah dengan hormat.
Kalau kau jemu melihat penderitaan, jangan kau jerumuskan
anak buahmu dalam penderitaan. Kalau kau jemu melihat
pepati, jangan kau bawa anak buahmu kedalam lembah
kematian. Kau dapat berbuat banyak, namun orang akan
menilai apa yang telah kau lakukan. Apalagi kalau kau sudah
memutuskan untuk pergi ke Sangkal Putung yang terakhir
kalinya. Maka nilaimu sebagai seorang pemimpin akan
terletak pada saat-saat yang demikian itu”
Tohpati menjadi seolah-olah terbungkam. Ia tidak mampu
menjawab kata-kata Sumangkar itu. Dan bahkan
kepalanyapun terkulai tunduk menghunjam ketanah dimuka
kakinya. Tongkatnyapun kemudian tertunduk dengan
lemahnya.
Terdengar Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya “Maafkan aku paman”
Sesaat mereka terhentak kedalam kesenyapan. Angin
malam yang lembut mengusap mahkota dedaunan. Suaranya
yang gemerisik seolah-olah suara tembang yang sangat
rawan dikejauhan.
Dalam keheningan malam itu terdengar suara Tohpati berat
“Maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan akal”
“Jangan menyesal ngger” sahut Sumangkar sambil
mendekati Tohpati yang masih berdiri ditempatnya. “Aku
hanya ingin memberimu peringatan. Rupa-rupanya dengan
cara yang wajar, kau tidak dapat mendengar kata-kataku.
Mungkin dinding hatimu yang kisruh itu hampir-hampir telah
tertutup rapat oleh kebingungan dan kekecewaan, sehingga
aku harus menjebolnya dengan sedikit permainan yang agak
kasar”
“Tidak paman” sahut Tohpati “Aku berterima kasih kepada
paman. Paman telah menarik aku kembali pada tempat yang
sewajarnya bagiku. Aku akan dapat tegak kembali sebagai
seorang kesatria dari Kepatihan Jipang. Aku bukan sebangsa
cecurut yang kerdil menghadapi kesulitan. Terima kasih
paman. Akan aku pikirkan nasehat paman. Aku akan kembali
ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya, tetapi tidak
besok. Aku akan berbicara dengan Sanakeling”
Sementara itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Desisnya “Bagus. Angger adalah seorang pemimpin. Angger
tidak boleh kehilangan kebeningan pikiran. Kepadamu
tergantung beratus-ratus nyawa anak buahmu. Sedang pada
beratus-ratus nyawa itu tergantung beribu-ribu jiwa
keluarnganya”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahanlahan
ia berkata “Marilah kita kembali keperkemahan”
Sumangkar mengangguk kecil “Marilah” katanya.
Sepanjang jalan kembali itu mereka sama sekali tidak
mengucapkan sepatah katapun. Mereka terbenam dalam
kesibukan pikiran masing-masing.
Begitu sampai kebaraknya, segera Tohpati berteriak
kepada seseorang yang berada disamping barak itu untuk
berjaga-jaga “He, panggil Sanakeling kemari”
Orang itu mengangguk hormat sambil menjawab “Baik
Raden”
Sepeninggal orang itu maka berkatalah Sumangkar “Aku
akan kembali kebarakku Raden. Silakan Raden
membicarakan persoalan ini dengan para pemimpin laskar
Jipang”
“Tidak paman” sahut Tohpati “Paman tetap disini”
Sumangkar menggeleng lemah “Aku hanya akan
mengganggu saja ngger. Mungkin aku akan menambah
persoalan yang akan angger bicarakan. Mungkin aku tidak
dapat menahan mulutku, apabila aku mendengar persoalanTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
persoalan yang aku tidak sependapat. Karena itu, aku tidak
akan mencampuri persoalan-persoalan para pemimpin. Aku
hanya akan tunduk pada setiap perintah. Mudah-mudahan
angger tetap pada kejernihan hati”
“Nasehat paman sangat kami perlukan”
“Tetapi aku adalah orang tua ngger. Aku sudah tidak dapat
menyesuaikan diri lagi dengan anak-anak muda seperti
angger Sanakeling, angger Alap-alap Jalatunda dan beberapa
orang yang lain. Tetapi aku akan menjalankan setiap perintah”
Sumangkar benar-benar tidak mau lagi tinggal dibarak
Tohpati. Karena itu maka Macan Kepatihan terpaksa
membiarkannya pergi meninggalkannya dan berjalan tersuruksuruk
diantara beberapa barak kembali menuju kebaraknya
sendiri. Sebuah barak doyong beratap daun-daun ilalang,
bertiang bambu muda dan berdinding anyaman bambu pula.
Didalam barak itu ditemuinya beberapa orang tidur
mendengkur diatas tumpukan ilalang kering. Ketika salah
seorang membuka matanya terdengar suaranya parau “Dari
mana kau, paman Sumangkar?”
“Berjalan-jalan” sahut Sumangkar
“Tidurlah, hari telah jauh malam, bahkan hampir menjelang
pagi. Besok Kau terlambat bangun. Kenapa golok itu kau
bawa kemari?”
“golokku rusak”
“Kenapa?”
“Tulang-tulang harimau yang keras telah memecahkan
dibagian tajamnya”
Orang yang terbangun itu menguap sekali, lalu sahutnya
“Apakah kau mendapat seekor harimau?”
“Hanya tulang-tulangnya” sahut Sumangkar.
“Huh” orang itu mencibirkan bibirnya. “Jangan membual,
sekarang tidurlah”
“Aku belum mengantuk”
Orang itu, yang mengenal Sumangkar tidak lebih dari
seorang juru masak yang malas mengumpat. Katanya
“Pemalas tua. Besok kau pasti akan terlambat bangun. Kalau
kau tidak dapat menyiapkan makan kami, maka kepalamu
akan aku gunduli”
“Bukankah tidak aku sendiri juru masak diperkemahan ini?”
Bantah Sumangkar.
“Tetapi kaulah yang paling malas diantara mereka. Dan
kemalasanmu akan dapat menjalar kesegenap orang.”
“Bukankah itu bukan salahku.”
“Diam. Sekarang kau tidur. Kalau tidak aku sumbat
mulutmu dengan ilalang.”
Sumangkar tidak menjawab. Segera ia merebahkan dirinya
diatas tumpukan ilalang itu pula.
“Nah. Begitulah.” Gumam orang yang membentakbentaknya.
Sumangkar hanya tersenyum “Biarlah ia mendapat
kepuasan” katanya dalam hati “kasian orang itu. Jarang-jarang
ia menemukan kepuasan seperti ini. Apa salahnya aku
menyenangkan hatinya?”
Lamat-lamat masih terdengar orang itu berkata “Kalau kau
tidak mau menuruti perintahku, maka kau benar-benar akan
menyesal seumur hidupmu.”
Sumangkar masih saja berdiam diri. Dan orang itupun
masih saja bergumam untuk melepaskan kepuasannya. Ia
mengumpat Sumangkar sepuas-puasnya. Akhirnya orang
itupun terdiam. Ketika Sumangkar mengangkat kepalanya,
dilihatnya orang itu tidur mendekur menikmati mimpi yang
indah.
“Kasihan” desis Sumangkar “Anak itu tidak pernah
mendapat kesempatan untuk membentak-bentak orang lain
kecuali aku dan para juru masak. Para pemimpin lebih banyak
membentak-bentaknya daripada memberinya hati.”
Tetapi sejenak kemudian Sumangkar itupun benar-benar
merasa sangat penat. Matanya mulai diganggu oleh kantuk
yang amat sangat, sehingga sejenak kemudian orang tua
itupun tertidur pula diatas batang-batang ilalang kering.
Dalam pada itu, penjaga yang mendapat perintah dari
Tohpati untuk memanggil Sanakeling telah melakukan
pekerjaannya. Betapa Sanakeling mengumpat tidak habishabisnya.
Matanya yang seolah-olah melekat itu benar-benar
mengganggunya.
“Kenapa tidak menunggu sampai esok” keluhnya. Tetapi ia
tidak dapat membantah panggilan itu. Sanakeling tahu, bahwa
agaknya Macan Kepatihan sedang diganggu oleh perasaan
yang tidak menyenangkannya. Sehingga Alap-alap Jalatunda
mengalami perlakuan yang sedemikian buruknya. Karena itu,
maka betapapun juga, Sanakeling berjalan pula kebarak
Tohpati.
Sedangkan Tohpati hampir tidak sabar menunggu
kedatangan Sanakeling. Mondar-mandir ia berjalan didalam
ruang yang sempit itu. Ketika itu ia mendengar langkah
seorang diluar pintu, maka segera ia menyapa “Kau
Sanakeling”
“Ya Raden”
“Duduklah”
Sanakeling melangkah memasuki ruangan yang diterangi
oleh pelita yang samar. Meskipun demikian, betapa
terkejutnya Sanakeling melihat tubuh Tohpati. Dibeberapa
tempat dilihatnya goresan-goresan dan darah yang telah
kering.
“Kenapa luka itu?” bertanya Sanakeling dengan sertamerta.
Macan Kepatihan menggeram. Dipandanginya goresangoresan
itu. Tetapi sama sekali luka-luka itu tak terasa lagi.
“Kakang bertempur?” bertanya Sanakeling.
“Ya” sahut Tohpati pendek.
“Dengan orang-orang Sangkal Putung?”
Tohpati menggeleng, “Tidak” sahutnya “Dengan Sidanti”
“Sidanti?” ulang Sanakeling. “Jadi benar dengan orang
Sangkal Putung”
“Tidak” Macan Kepatihan mencoba menjelaskan “Sidanti
sudah tidak lagi di Sangkal Putung. Agaknya ada
pertentangan diantara mereka”
“Oh” Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi kenapa kakang bertempur melawan Sidanti itu?
Apakah dengan demikian kakang tidak dapat mengambil
keuntungan dari pertentangan itu?”
“Sidanti telah berkhianat atas kesatuan dan kesetiaannya.
Dimanapun ia berada maka ia akan berbuat hal yang serupa.
Anak itu memang ingin menggabungkan kekuatannya dengan
kita. Namun aku menolaknya”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
tersirat pula kekecewaan hatinya. Segera ia mengetahui apa
yang agaknya terjadi. Tohpati dan Sidanti pasti telah
bertempur. Tetapi luka-luka itu benar-benar
mengherankannya, sehingga ia bertanya “Apakah Sidanti
seorang diri?”
“Tidak, bersama gurunya”
“Oh” Sanakeling mengangguk-angguk kembali. Ia kini
dapat membayangkan semakin jelas perkelahian yang terjadi
antara Tohpati dan Sumangkar melawan Sidanti dan Ki
Tambak Wedi.
Namun ia masih juga diliputi oleh perasaan kecewa. Kalau
saja Sidanti dapat berada dipihaknya, maka orang itu akan
dapat menambah banyak kekuatan pada kesatuan Jipang.
Sudah pasti bahwa Ki Tambak Wedi akan membantunya pula.
Mungkin pengaruh yang dimilikinya atas orang-orang dilereng
Merapi akan menambah jumlah kekuatan mereka. Tetapi ia
tidak berani menanyakannya kepada Tohpati. Besok atau
kapan saja apabila ada kesempatan ia ingin menemui Sidanti
dan membawanya dalam lingkungan mereka. Namun diantara
kekecewaan yang merayapi hatinya, Sanakeling menjadi
heran pula. Agaknya Sumangkar yang tua itu masih saja
memiliki ketangguhan yang dapat dibanggakan, meskipun
selama ini ia lebih senang berada dimuka perapian menanak
nasi.
Sanakeling itupun kemudian duduk disebuah bale-bale
bambu. Ia masih memandangi tubuh Tohpati yang tergores
oleh ujung pedang di beberapa tempat.
“Sidanti menjadi semakin maju” desisnya “Agaknya
gurunya selalu mengolahnya”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau
demikian maka Sidanti akan lebih baik baginya.
Namun seolah-olah Tohpati mengetahui apa yang tersirat
didalam kepala Sanakeling itu. Maka katanya “Tetapi
betapapun baiknya anak itu, namun ia tidak dapat kita jadikan
kawan. Suatu ketika ia pasti akan menerkam kita sendiri”
Sanakeling tidak menjawab. Ia mengangguk lemah.
“Nah, lupakanlah Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu” berkata
Tohpati tiba-tiba. “Kewajiban kita adalah menyerang Sangkal
Putung. Bagaimanamun juga kepergian Sidanti pasti akan
mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Aku tidak tahu, apakah
laskar Sangkal Putung terpecah atau tidak. Syukurlah kalau
ada sebagian dari mereka pergi mengikuti Sidanti, tetapi
ukuran kita laskar Sangkal Putung masih utuh”
“Ya” sahut Sanakeling. Ia menjadi gembira mendengar
pendapat Macan Kepatihan itu. Laskarnya sudah terlalu lama
menunggu sehingga ia takut apabila akan timbul kejemuan
dikalangan mereka. Kejemuan itu sudah pasti akan sangat
membahayakan. Mereka akan dapat berbuat aneh-aneh untuk
mengisi kekosongan waktu mereka. Dan kadang-kadang akan
sangat merugikan. Kadang-kadang mereka berpencaran
kedesa-desa dan dengan demikian maka kadang-kadang ada
diantara mereka yang dapat ditangkap oleh laskar Pajang.
“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Macan Kepatihan itu
kemudian.
“Sangat menarik. Aku sudah lama mengharap keputusan
itu. Agaknya kakang selalu ragu-ragu. Sekarang apabila
kakang telah menemukan keputusan, maka keputusan itu
harus segera dilaksanakan. Tidak ditunda-tunda lagi. Aku juga
sudah membuat perintah untuk bersiap. Tetapi karena aku
ragu-ragu bahwa kakang akan menundanya lagi, maka
perintahku belum perintah terakhir, belum perintah kepastian”
“Sekarang aku sudah pasti. Kita harus secepatna pergi ke
Sangkal Putung, bagaimana kalau besok?”
“He?” mata Sanakeling terbelak. Namun kemudian ia
tersenyum “Tidak mungkin. Besok aku baru mengambil
keputusan tentang perintah yang akan aku berikan. Besok
perintah itu pula baru akan dijalankan. Besok malam secepatcepatnya
laskar itu baru siap. Sedang kalau ada beberapa
kelambatan maka laskar itu baru akan siap lusa. Sehingga
sehari sesudah itu kita baru akan dapat mulai dengan setiap
rencana penyerangan yang baik. Bukankah kakang telah
beberapa kali mengalami kegagalan? Apakah kakang Raden
Tohpati, harus gagal lagi nanti?”
“Tidak. Kali ini harus kali yang terakhir”
Sanakeling tertawa. Sahutnya “Bagus. Karena itu persiapan
kita harus benar-benar masak. Bukankah kita harus
mendapatkan Sangkal Putung sebagai tempat perbekalan?
Kalau kita menduduki Sangkal Putung, maka kita harus dapat
memanfaatkannya. Lumbung kademangan itu harus dapat
segera kita singkirkan. Kita duduki tempat itu sejauh dapat kita
pertahankan. Meskipun kakang akan melepaskan beberapa
kepentingan didaerah selatan ini kelak, namun apa yang ada
didaerah yang subur dan kaya itu harus benar-benar
bermanfaat bagi kita. Korban telah banyak jatuh untuk
merebut daerah itu”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terbayanglahh apa saja yang pernah dilakukan untuk merebut
daerah ini. Bahkan akhirnya dirinya sendirlilah yang memimpin
pasukan Jipang untuk menguasai daerah yang kaya. Kaya
akan hasil bumi, sehingga lumbung-lumbung Sangkal Putung
penuh dengan padi. Dan kaya akan berbagai macam bendabenda
berharga. Penduduk Sangkal Putung terkenal sebagai
penduduk yang senang sekali menyimpan barang-barang
berharga. Perhiasan, ternak dan benda-benda lainnya.
Tetapi meskipun ia sendiri yang memimpin laskar Jipang
didaerah Sangkal Putung, namun ia belum berhasil untuk
merebutnya. Belum berhasil untuk menguasai kekayaan yang
tersimpan didalamnya. Dan Pajangpun agaknya tidak mau
melepaskan daerah itu, sehingga ditempatkannya Untara
untuk mencoba melindunginya.
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Sejak Arya Jipang dan
kemudian Patih Mantahun terbunuh dipeperangan, maka
korban masih saja berjatuhan. Satu demi satu dan bahkan
sepuluh dua puluh sekaligus. Peperangan masih saja terjadi
dimana-mana. Gerombolan kecil-kecil dari sisa-sisa laskar
Jipang masih bergerak terus, meskipun demikian mereka tidak
lebih dari gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun.
Tetapi karena mereka masih merasa terikat oleh seorang
pemimpin yang mereka segani, maka mereka masih belum
melepaskan diri dari kelaskaran mereka. Kesetiaan mereka
kepada pemimpin mereka masih mengikat mereka untuk
merasa wajib melakukan perang untuk seterusnya. Dan
karena itulah maka dimana-mana masih timbul pepati.
Sedang pemimpin itu adalah dirinya sendiri, Tohpati
Tohpati menggigit bibirnya. Ia berterima kasih kepada
kesetiaan itu. Ia merasa betapa dirinya mendapat kehormatan
untuk mengikat sekian banyak manusia dalam satu ikatan.
Tetapi ia merasa bahwa dirinyalah sumber dari setiap akibat
dari kesetiaan itu. Akibat yang kadang-kadang tidak
dikehendakinya.
Ruangan itu untuk sejenak dikuasai oleh kesepian. Masingmasing
terbenam dalam angan-angan sendiri. Angan-angan
yang bertolak dari gejolak perasaan yang berbeda-beda.
Sanakeling masih dikuasai oleh nafsu untuk memiliki segenap
kekayaan yang ada di Sangkal Putung. Kekayaan yang
mungkin masih akan dapat membantu gerakan-gerakan yang
mereka lakukan. Dan kekayaan yang mungkin dapat
dimilikinya. Bahkan mungkin untuk dirinya sendiri. Mungkin
akan ditemuinya perhiasan-perhiasan yang sangat berharga.
Gelang, kalung atau pendok emas tretes berlian. Atau apa
saja yang dapat dimilikinya sendiri.
Sesaat mereka masih tetap membisu. Sanakeling masih
saja berangan-angan tentang kekayaan yang akan dapat
dirampasnya dari Sangkal Putung, sedang Tohpati berjejak
pada pendapat yang berbeda. Pendapat seorang pemimpin
yang melihat kenyataan-kenyataan dari laskar yang
dipimpinnya, perkembangan keadaan dan perhitunganperhitungan
atas masa-masa yang akan datang.
Malam yang hening itu kemudian dipecahkan oleh suara
Sanakeling penuh nafsu “Kakang, baiklah aku kembali
kebarakku. Aku berjanji bahwa orang-orangku dan orangorang
baru yang telah aku panggil dari daerah utara akan
merupakan kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal
Putung kini ternyata telah berkurang kekuatan, sedang
kekuatan kita bertambah. Menurut perhitunganku maka
kekuatan yang telah ada disini ditambah dengan kekuatankeuatan
baru, akan dapat melanda Sangkal Putung dan
menghancurkannya. Laskar dari utara itu kelak akan kembali
dengan perbekalan untuk mereka, sedang laskar didaerah
inipun akan dapat memperkuat diri dengan semua yang akan
kita dapatkan dari Sangkal Putung”
Tohpati mengerutkan keningnya. Ia tidak menanggapi
angan-angan Sanakeling itu, tetapi ia berkata “Kembalilah.
Aku tidak dapat menunggu lebih lama dari waktu yang kau
katakan”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
timbullah keheranannya atas sikap Tohpati itu. Beberapa kali
ia menunda penyerangan sehingga laskarnya tercerai berai
kembali, namun tiba-tiba kini Macan Kepatihan itu menjadi
sangat tergesa-gesa.
“Mungkin Raden Tohpati melihat kelemahan Sangkal
Putung kini” pikirnya.
Sanakeling itu kemudian berdiri. Dilihatnya halaman barak
itu. Gelapnya masih menghitam.
“Aku akan kembali” katanya.
“Kembalilah. Ingat-ingat perintahku”
“Baik” sahut Sanakeling sambil melangkah meninggalkan
ruangan itu. Disepanjang jarak yang ditempuhnya, bahkan
sampai ketempatnya dan ketika ia telah membaringkan
dirinya, dirasakannya beberapa keanehan pada pemimpinnya
itu. Ia melihat wajahnya yang murung, dan kadang-kadang
perbuatan-perbuatan yang tidak pernah dilakukannya
sebelumnya. Dalam keseluruhannya, tampaklah Tohpati
menjadi sangat gelisah. Tetapi Sanakeling tidak
mempedulikannya. Mungkin Tohpati sedang diganggu oleh
beberapa persoalan yang bersifat pribadi. Mungkin ia kesal
pada kegagalan-kegagalan yang dialaminya, atau mungkin
Tohpati sedang membuat rencana-rencana baru yang belum
dimengertinya.
Pada hari berikutnya, maka tampaklah kesibukan
diperkemahan itu. Beberapa orang berjalan hilir mudik dari
satu barak kebarak yang lain, sedang beberapa orang lagi
pergi meninggalkan perkemahan itu diatas punggungpunggung
kuda. Mereka harus pergi berpencaran mencari
tempat-tempat yang tersebar dari kawan-kawan mereka.
Gerombolan-gerombolan yang seolah-olah liar dan melakukan
berbagai perbuatan yang kadang-kadang benar-benar kasar
dan menakutkan. Perampokan, perampasan dan sebagainya.
Kadang-kadang hanya sekedar untuk memberikan kesan
bahwa keadaan sedemikian buruknya, tetapi kadang-kadang
mereka benar-benar melakukannya untuk memperpanjang
hidup mereka.
Dalam pada itu Sangkal Putungpun telah disibukkan pula
oleh persoalan yang dibawa Kiai Gringsing beserta muridmuridnya.
Untara dan Widura yang mendengarkan cerita Ki
Tanu Metir menjadi berlega hati, bahwa kekuatan Sidanti pada
saat yang pendek masih belum mungkin bergabung dengan
kekuatan Tohpati. Meskipun demikian disaat-saat yang akan
datang, mereka merasa, bahwa pekerjaan mereka akan
menjadi semakin berat. Apakah Sidanti dan Tohpati
menemukan titik-titik persamaan dan kemudian dapat bekerja
sama, apakah Sidanti dengan Ki Tambak Wedi akan
menyusun kekuatan baru untuk menggagalkan semua
rencananya. Kalau demikian, maka Sidanti pasti hanya akan
sekedar membalas dendam, dan mungkin setelah usaha
Untara dan Widura gagal di Sangkal Putung, Sidanti akan
menjual jasa melenyapkan Tohpati.
“Tetapi kedudukan Tohpati cukup kuat ngger” berkata Ki
Tanu Metir kemudian.
Untara, Widura dan bahkan Ki Demang Sangkal Putung
yang ikut pula mendengarkan segenap cerita itu mengerutkan
kening-kening mereka. Terdengarlah kemudian Untara
bertanya “Bukankah kita sudah mengetahui kekuatan
mereka?”
“Ternyata ada yang belum angger ketahui”
“Apakah itu?” bertanya Widura.
Ki Tanu Metir memandang mereka satu demi satu.
Kemudian katanya “Murid kedua dari Kedung Jati ternyata ada
diantara mereka”
“Siapa?” desak Untara
“Angger pasti sudah pernah dengar namanya, Sumangkar”
“Sumangkar” Untara dan Widura hampir bersamaan
mengulang nama itu.
“Ya” berkata Untara seterusnya “Aku pernah mendengar
nama itu, dan pernah pula melihat dan bertemu dengan orang
itu di kepatihan Jipang. Bukankah paman Sumangkar itu adik
seperguruan paman Mantahun?”
“Ya” sahut Kiai Gringsing.
Untara menarik nafas dalam-dalam. Yang terdengar
kemudian adalah suara Widura “Nama itu cukup mengejutkan
hampir seperti nama patih Matahun sendiri. Tetapi kenapa
selama ini orang itu tidak pernah hadir didalam setiap
pertempuran? Bukankah dengan tenaganya maka Sangkal
Putung pasti sudah dapat dipatahkan sejak serangan yang
pertama?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Apakah Sumangkar belum lama
berada diantara mereka, apakah ada sebab-sebab lain”
Namun ternyata berita itu benar-benar telah menyebabkan
Untara dan Widura berpikir keras. Kalau pada saat-saat
mendatang orang itu hadir pula dalam pertempuran, maka
keadaan Sangkal Putung pasti akan sangat berbahaya. Tetapi
tiba-tiba Untara tersenyum, katanya “Sumangkar benar-benar
berbahaya bagi kita disini seandainya ia ikut bertempur
bersama Tohpati, kecuali Kiai Gringsing bersedia menolong
kami”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar katakata
Untara itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil
menjawab “Hem, apakah aku harus melibatkan diriku
langsung dalam pertengkaran antara Pajang dan Jipang?”
“Adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berbuat
demikian Kiai” sahut Untara “Seperti Sumangkar merasa wajib
pula untuk melindungi Tohpati”
“Ya, angger benar. Angger tahu pasti pendirian Sumangkar
dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang. Sumangkar
adalah orang kedua setelah Mantahun dalam perguruannya,
sedang orang kedua setelah Mantahun dalam tata kelaskaran
Jipang adalah Tohpati itu sendiri. Sehingga mau tidak mau,
maka Sumangkar adalah orang yang langsung
berkepentingan atas Tohpati itu. Baik Tohpati sebagai
pemimpinnya maupun Tohpati sebagai murid saudara
seperguruannya”
Mendengar jawaban itu, Untara mengerutkan keningnya.
Widura yang duduk disamping Untara menganggukanggukkan
kepalanya sambil memijit-mijit betisnya.
“Ya” desah Untara “Kiai benar. Seharusnya aku tidak
melibatkan Kiai dalam pertentangan yang belum pasti Kiai
setujui. Sebenarnyalah bahwa aku belum tahu pasti pendirian
Kiai dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang”
Kiai Gringsing itupun tertawa. Sahutnya “Jangan
menangkap kata-kataku itu terlalu tajam ngger. Meskipun aku
termasuk orang yang menjadi bersedih hati melihat
pertentangan yang berlarut-larut antara orang-orang Pajang
dan orang-orang Jipang, namun aku melihat kenyataankenyataan
yang kini berlangsung. Akupun tidak akan dapat
melihat kelaliman dan kekerasan berlangsung terus-menerus.
Aku tidak menutup mata, bahwa laskar Jipang yang putus asa
itu menjadi liar dan berbuat banyak hal yang terkutuk. Karena
itu akupun tidak akan mengingkari tugasku untuk membantu
mencegah perbuatan-perbuatan itu”
Tiba-tiba wajah Untara dan Widura menjadi cerah.
Meskipun Kiai Gringsing tidak menjanjikan sesuatu dengan
jelas, namun apa yang dikatakannya adalah jaminan, bahwa
apabila Sumangkar turut campur pula dalam pertempuran
yang akan datang, dalam setiap pertempuran yang pasti akan
berlangsung lagi, maka Kiai Gringsing akan dapat menjadi
lawannya yang cukup berbahaya bagi murid kedua setelah
Mantahun dari perguruan Kedung Jati itu.
****
Sampai digubug Alap-alap Jalatunda Tohpati berhenti.
Wajahnya tampak berkerut-kerut. Diangkatnya telinganya
sambil bergumam lirih “Siapa itu paman?”
Sumangkar menarik pundaknya tinggi-tinggi. Katanya
“Itulah Raden, gambaran kehidupan kita”
Tohpati menggeram. Didengarnya sekali lagi suara tertawa
perempuan seperti seekor kucing tercekik. Kemudian
terdengar suara Alap-alap Jalatunda yang muda itu “Jangan
merajuk anak muda. Tinggalkan istrimu disini. Ia tidak akan
berkurang cantiknya”
Yang terdengar kemudian ringkik perempua. Katanya
“Kembalilah dulu kang, aku ingin tinggal disini dahulu”
Tohpati itu kemudian melihat anak muda yang tinggi kurus
dan berkumis jarang. Anak muda yang pernah diajaknya
bercakap-cakap. Anak muda yang istrinya jauh lebih tua dan
bernama Nyai Pinan. Laki-laki muda itu berjalan tersuruksuruk
dengan wajah yang suram. Sekali ia berpaling, dan
terdengar istrinya berkata “Kang, aku akan segera kembali
membawa sepotong daging rusa untuk kakang. Bukankah
kakang senang makan daging rusa?”
Laki-laki itu mengangguk. Dan kembali ia berjalan
meninggalkan gubug itu diiringi oleh suara tertawa istrinya dan
Alap-alap Jalatunda. Diantara suara tertawa itu terdengar Nyai
Pinan berkata “Suamiku adalah laki-laki yang baik hati”
Laki-laki muda yang bertubuh kurus itu berhenti sesaat
mendengar pujian istrinya. Namun kemudian ia berjalan
kembali.
Tetapi alangkah terkejutnya ketika tiba-tiba sebuah tangan
yang kuat menyambar bahunya. Ketika ia berpaling, maka
tubuhnya terputar dengan kuatnya.
Laki-laki itu sesaat seakan-akan kehilangan kesadarannya.
Namun ketika ia menengadahkan wajahnya, ia bertambah
terkejut lagi. Dilihatnya sepasang mata Tohpati seolah-olah
memancarkan sinar api yang merah membara.
Laki-laki muda itu tidak mengerti apa yang harus
dilakukannya, sehingga dengan gemetar ia menyeringai ketika
tubuhnya diguncang-guncang oleh tangan Tohpati yang
serasa akan meremukkan tulangnya.
“Kembali masuk kedalam gubug itu” teriak Tohpati dengan
suara parau dan gemetar, sehingga suaranya seolah-olah
telah berubah menjadi suara hantu yang sedang marah
“Masuk kembali kegubug itu. Seret perempuan itu keluar.
Perempuan yang pernah kau larikan dari suaminya”
Laki-laki muda yang tinggi kurus dan berkumis jarang itu
menjadi semakin bingung. Ia kini benar-benar kehilangan akal
dengan demikian maka ia masih saja berdiri dengan mulut
ternganga.
“Ayo masuk kembali kedalam gubug itu” teriak Macan
Kepatihan dengan marahnya.
Laki-laki itu benar-benar menjadi kebingungan, sehingga
tanpa sesadarnya terloncat jawabannya “Tetapi tuan, ia masih
ingin tinggal disana”
“Ambil perempuan gila itu. Seret keluar kalau tidak mau
dilemparkan dari perkemahan ini”
Otak laki-laki kurus itu kini seolah-olah menjadi seperti
baling-baling yang dipermainkan angin. Kalau angin itu
bertambah kencang sedikit saja, maka ia akan semakin
kencang berputar, dan tidak mampu untuk mencoba berhenti
dengan sendirinya.
Dalam kebingungan itu tiba-tiba terdengar suara Alap-alap
Jalatunda dengan garangnya “He, siapa diluar?”
Laki-laki kurus itu tidak dapat menjawab. mulutnya benarbenar
serasa terbungkam, sehingga sekali lagi terdengar
suara Alap-alap Jalatunda “Siapakah laki-laki gila yang
mengumpat-ngumpat itu?”
Demikian marahnya Macan Kepatihan mendengar katakata
itu sehingga bibirnya menjadi gemetar, dan bahkan tak
sepatah katapun yang dapat melontar dari bibirnya.
Dalam pada itu terdengar suara perempuan dari dalam bilik
itu “Ah, jangan marah kang. Tunggulah diluar. Sebentar lagi
antarkan aku kembali kegubug suamiku”
Bukan main marahnya Macan Kepatihan itu. Dan
kemarahannya itu benar-benar menimbulkan keheranan pada
Sumangkar yang tua. Apa yang terjadi itu bukanlah barang
baru didalam perkemahan ini. Tetapi agaknya Tohpati tidak
pernah menaruh perhatian atasnya. Namun tiba-tiba ada
suatu perubahan pada sikapnya. Perubahan yang tak dapat
diketahui ujung dan pangkalnya. Namun yang dilihatnya kini
Macan Kepatihan itu tidak dapat lagi mengendalikan
kemarahannya. Karena itu, maka tiba-tiba Tohpati itu
mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Sekali ia meloncat
mendekati gubug itu, dan dengan sekuat tenaganya tiang
sudut gubug itu berderak patah, dan runtuhlah sudut gubug
Alap-alap Jalatunda.
Mendengar suara berderak-derak itu, alangkah terkejutnya
Alap-alap Jalatunda dan Nyai Pinan. Dengan tangkasnya anak
muda itu meloncat kepintu dan dengan sebuah loncatan yang
panjang ia telah berdiri tegak diluar pintu.
Tetapi alangkah terkejutnya Alap-alap yang garang itu.
Demikian ia berdiri tegak, maka dengan serta-merta sebuah
tangan terjulur kearahnya dan dengan kuatnya menggenggam
leher bajunya. Alangkah kuatnya tangan itu. Alap-alap
Jalatunda itu serasa kehilangan segenap kekuatannya ketika
tangan itu menariknya.
Sebelum Alap-alap Jalatunda sadar akan keadaannya,
maka sebuah tamparan yang keras mengenai pipinya. Kini ia
terhuyung-huyung. Tangan yang kuat itu telah tidak
menggenggam bajunya lagi, sehingga Alap-alap itu terbanting
jatuh. Namun sebenarnya tubuh Alap-alap Jalatunda itu
sedemikian kokohnya. Demikian ia terguling, maka segera ia
meloncat berdiri diatas kedua kakinya yang kokoh.
Kini barulah ia melihat siapakah laki-laki yang telah
menamparnya itu. Seorang laki-laki yang bertubuh tinggi kekar
berkumis tebal melintang. Macan Kepatihan.
Ketika disadarinya siapa yang berdiri dihadapannya itu,
maka berdesirlah hatinya. Tiba-tiba ia tidak lagi bersikap
garang. Sekali ia membungkukkan badannya dan berkata
“Maafkan aku Raden. Aku tidak tahu, bahwa Raden berada
disini”
Terdengar gigi Macan Kepatihan gemeretak menahan
kemarahannya yang memuncak. Dengan tajamnya ia
memandangi wajah Alap-alap Jalatunda yang tunduk.
Seandainya pada saat itu Alap-alap Jalatunda berkata
sepatah kata saja, maka wajahnya pasti akan menjadi
bengkak, karena Tohpati telah menggenggam tinjunya siap
untuk memukul mulut Alap-alap Jalatunda itu. Namun
untunglah bahwa Sumangkar sempat menenangkannya,
katanya “Sudahlah ngger, biarlah ini menjadi pelajaran bagi
setiap orang diperkemahan ini. Anak muda itu telah menyesal”
Tohpati tidak menjawab. Diedarkannya pandangan
matanya berkeliling. Ternyata disekitar tempat itu telah berdiri
berkerumun beberapa orang. Diujung berdiri seseorang
dengan mulut yang bergerak-gerak, Sanakeling. Meskipun ia
tegak dengan wajah tegang, namun mulutnya masih saja
mengunyah daging menjangan yang belum sempat
ditelannya.
Tohpati itu kemudian melangkah selangkah maju. Dengan
tongkatnya ia menunjuk kedalam kekelaman malam,
kekelaman hutan disekitarnya “Perempuan yang jahat. Pergi
dari sini. Kaulah yang membawa sial dalam laskar kami”
“Raden” cegah Sumangkar hati-hati “Biarkan perempuan ini
disini. Tempatkanlah perempuan itu pada suaminya. Jangan
meninggalkan tempat ini. Kalau ia pergi maka suaminyalah
yang akan menjadi gantinya”
Betapa marahnya Macan Kepatihan, namun naluri
kepemimpinannya segera merayapi otaknya. Karena itu, maka
katanya “Paman benar. Perempuan itu tidak boleh
meninggalkan tempat ini”. Kemudian katanya kepada laki-laki
kurus berkumis jarang “Kau menjaga istrimu digubug ini.
Biarlah Alap-alap gila itu mencari tempat lain. Kalau istrimu
sampai meninggalkan tempat ini, maka lehermu menjadi
taruhannya”
Laki-laki itu mengangguk-anggukkan kepalanya dalamdalam
sambil gemetar. Ia tidak tahu kenapa istrinya tidak
boleh meninggalkan tempat itu. Apakah besok istrinya akan
dihukum, apakah ada persoalan-persoalan lain yang akan
dilakukan oleh Macan Kepatihan itu? Tetapi ia hanya mampu
menjawab “Ya, ya tuan”
Namun Sumangkar yang berpengalaman itu dapat
membayangkan apa saja yang akan terjadi seandainya
perempuan itu benar-benar meninggalkan perkemahan itu.
Perkemahan yang dengan hati-hati dipersiapkan khusus untuk
tujuan yang penting. Perkemahan yang dibangun dengan
tergesa-gesa untuk mempersiapkan laskar-laskar Jipang yang
terpencar disegala penjuru. Kalau perempuan itu lepas
dengan luka dihatinya, maka perkemahan itu pasti segera
akan hancur. Sebab tidak mustahil, tempat itupun akan segera
diketahui oleh Untara dan Widura. Untunglah bahwa Tohpati
segera menyadari pula keadaan itu, sehingga orang-orang
Untara belum dapat mengetahui dengan pasti letak
perkemahan itu. Hubungan-hubungan yang dibuat dengan
orang-orang dalam masih terlalu sulit dan kesempatan untuk
itu masih belum dapat diperoleh. Yang baru diketahui oleh
orang-orang Untara adalah persiapan-persiapan dan
kesibukan dari beberapa orang yang terpencar-pencar.
Pemusatan kekuatan disekitar daerah yang sudah dikenal.
Namun secara pasti, tempat itu belum dapat diketahui. Apalagi
tempat ini belum lama dibangun, setelah beberapa puluh kali
berpindah-pindah.
Nyai Pinan kemudian menjadi ketakutan bukan alang
kepalang. Merangkak-rangkak ia menangis minta ampun.
Bahkan ketika ia hampir sampai dihadapan Tohpati, maka
segera ia menjatuhkan dirinya menelungkup. Namun Tohpati
tidak menghiraukannya. Sekali lagi matanya beredar diantara
orang-orangnya yang berdiri berkerumun sambil menahan
gelora hati masing-masing. Dengan lantang ia berkata “Aku
tidak mau melihat perbuatan terkutuk berulang diperkemahan
ini”
Dan sebelum gema suaranya lenyap dalam kekelaman
malam, maka segera Tohpati itu melangkah pergi. Beberapa
orang menyibak kesamping memberinya jalan. Tanpa
menoleh Tohpati berjalan masuk kedalam malam yang gelap.
Dibelakangnya Sumangkar berjalan cepat-cepat. Diujung
perkemahan itu Sumangkar masih sempat meraih sebuah
golok pembelah kayu. Kalau mereka pergi ke Sangkal Putung,
maka perjalanan itu bukanlah perjalanan tamasya dimalam
purnama. Sehingga karena itu, maka golok itu akan sangat
bermanfaat baginya apabila ditemuinya bahaya diperjalanan.
Sepeninggal Tohpati, Sanakeling melangkah maju.
Mulutnya yang masih mengunyah daging menjangan itu
berkata “Apakah yang kau lakukan Alap-alap kecil?”
Alap-alap Jalatunda menundukkan wajahnya. Terasa darah
yang seakan-akan menggelegak, namun ia tidak berani
berbuat apa-apa. Meskipun demikian terasa juga bahwa telah
terjadi suatu perubahan sikap pada Tohpati yang garang itu.
Meskipun Pratanda yang juga bergelar Alap-alap Jalatunda
itu belum menjawab, namun dengan melihat Nyai Pinan yang
masih merangkak-rangkak, segera Sanakeling dapat
menduga apa yang telah terjadi. karena itu, maka gumamnya
didalam mulutnya “Hem, karena itu aku tidak mau berurusan
dengan perempuan. Perempuan dimana-mana dapat
menimbulkan persoalan. Dunia ini dapat menjadi sedemikian
indah dan menggairahkan, karena perempuan. Namun dunia
ini dapat berubah menjadi neraka juga karena perempuan.
Nah alap-alap kecil, jangan menyesal. Yang sudah biarlah
terjadi, tetapi ingatlah untuk seterusnya, bahwa Macan
Kepatihan yang garang itu membenci perempuan”
Alap-alap Jalatunda mengangkat wajahnya. Dilihatnya
Sanakeling masih menggerak-gerakkan mulutnya. Tetapi
Alap-alap Jalatunda tidak berkata apa-apa. dengan langkah
yang gontai ia berjalan meninggalkan tempat itu.
“Mau kemana?” bertanya Sanakeling.
“Tidak kemana-mana” sahut Alap-alap Jalatunda.
“Kau tidak boleh menempati gubug yang hampir roboh itu.
Tidurlah ditempatku bersama orang-orangku”
Alap-alap Jalatunda menggeleng, katanya “Aku akan tidur
bersama orang-orangku sendiri”
Sanakeling dengan susah payah menelan segumpal daging
yang tidak dapat dikunyahnya. Sesaat terasa
kerongkongannya tersumbat. Namun setelah gumpalan
daging itu melalui lehernya ia berkata “Terserahlah, tetapi aku
akan berbicara kepadamu. Datanglah kegubukku”
“Tentang apa?” bertanya Alap-alap Jalatunda.
“Tidak tentang perempuan” sahut Sanakeling.
“Ah” desah Alap-alap Jalatunda “Tentang apa?”
Sanakeling memandang Alap-alap Jalatunda dengan
tajamnya. Ia tidak senang mendengar Alap-alap itu berkata
tajam kepadanya. Meskipun demikian ia menjawab “Tentan
kedudukan kita dan Sangkal Putung. Pergilah”
“Apa yang akan kita bicarakan?”
“Pergilah kegubugku” desak Sanakeling.
“Kita bicara disini saja”
Sanakeling mengerutkan keningnya. Katanya “He, apakah
kau sudah menjadi gila?”
Alap-alap Jalatunda tidak memperdulikannya. Selangkah ia
berjalan kesamping sambil bergumam “Aku akan pergi”
“Pergilah ketempatku. Aku perlu berbicara tentang berbagai
persoalan”
Alap-alap Jalatunda yang sedang dibakar oleh gejolak
hatinya itu menjawab dengan jengkelnya “Berbicaralah disini”
Sanakeling menjadi marah pula karenanya. Selangkah ia
maju sambil menggeram perlahan-lahan “Alap-alap kecil.
Jangan menjadi gila. Kau dihukum karena kesalahanmu.
Jangan membuat persoalan baru. Pergi kegubug itu, atau kau
aku tampar mulutmu dimuka anak buahmu. Aku masih merasa
berbaik hati kepadamu bahwa aku memperingatkanmu
perlahan-lahan”
Langkah Alap-alap Jalatunda itu terhenti. Alangkah sakit
hatinya mendengar geram itu. Tetapi ketika dilihatnya mata
Sanakeling yang seolah-olah menyala itupun, hatinya menjadi
kecut. Disadarinya kini kekecilannya diantara para pemimpin
Jipang. Sanakeling adalah orang yang garang segarang Plasa
Ireng yang telah mati dibunuh oleh Sidanti dengan luka arang
kranjang ditubuhnya.
Sekali lagi Alap-alap Jalatunda terpaksa menahan gelora
didadanya. Ditelannya kepahitan itu meskipun hatinya tidak
ikhlas. Karena itu, maka ia menjawab pendek “Ya, aku akan
pergi kesana”
Sanakeling menarik nafas panjang. Namun matanya masih
saja menyalakan kemarahannya. Dengan langkah yang berat
ia berjalan meninggalkan gubug itu sambil memperingatkan
perempuan yang masih saja menangis sambil duduk ditanah
“Ingat semua kata-kata Macan Kepatihan supaya nyawamu
tidak dicabut dengan tongkatnya yang mengerikan itu. Sekali
kepalamu tersentuh kepala tongkatnya, maka otakmu pasti
akan berhamburan. Nah, masuklah kegubug itu dan jangan
meninggalkan tempat ini”
“Baik tuan. Aku tidak berani melanggar perintah itu” tangis
Nyai Pinan.
Sanakeling itupun kemudian kembali kegubugnya. Ia dapat
mengerti juga kenapa Nyai Pinan tidak boleh meninggalkan
tempat itu. Sebab perbuatan itu akan sangat berbahaya bagi
rahasia gerombolannya.
Alap-alap Jalatundapun tidak dapat berbuat lain daripada
datang memenuhi permintaan Sanakeling. Ia sudah dapat
membayangkan apa saja yang akan dikatakan oleh
Sanakeling itu. Persiapan untuk menyerbu kembali Sangkal
Putung.
Dalam pada itu, Tohpati berjalan dengan tergesa-gesa
meninggalkan perkemahannya, seakan-akan ia ingin segera
pergi sejauh-jauhnya dari tempat itu. Tempat yang
dibangunnya sebagai landasannya untuk meloncat kedaerah
perbekalan yang subur, Sangkal Putung. Namun perkemahan
itu telah menumbuhkan kebencian padanya. Tempat yang
terkutuk. Tempat yang dipenuhi oleh berbagai ciri kehidupan
liar yang benar-benar menjemukan. Ia tidak mengerti apa
yang terjadi didalam dirinya, bahwa baru sekarang ia merasa
muak melihat perbuatan-perbuatan itu. Bukankah sebelumnya
telah diketahui, setidak-tidaknya pernah didengarnya bahwa
hal-hal semacam itu pernah dan bahkan sering terjadi?
Kenapa pada saat itu ia tidak berbuat apa-apa? Kenapa pada
saat itu dibiarkannya kemaksiatan semacam itu tumbuh
seenaknya?
Macan Kepatihan itu menggeram. Ketika ia berpaling
dilihatna Sumangkar berjalan beberapa langkah
dibelakangnya sambil menjinjing sebilah golok.
“Apakah yang paman bawa itu?”
“Golok” sahut Sumangkar.
“Untuk apa?”
“Tongkat” jawabnya pendek.
Tohpati mengerutkan keningnya dan memperlambat
langkahnya, sehingga Sumangkarpun berjalan lebih lambat
pula.
Sekali-sekali Macan Kepatihan itu berpaling dan akhirnya ia
berkata “Golok itu terlampau pendek untuk dijadikan tongkat”
Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu. Cepat ia
mencari kawaban yang lain, katanya “Tidak ngger. Bukan
tongkat sebagai penyangga tubuh. Maksudku, golok ini dapat
dipakai untuk menerabas dahan-dahan yang mengganggu
jalan”
Tohpati itu tersenyum. Katanya dengan nada datar “Paman
ternyata memerlukan juga senjata”
Sumangkar tidak menjawab. Ternyata Macan Kepatihan itu
dapat menebak maksudnya. Namun bukankah ia akan pergi
kedaerah lawan? Maka adalah kewajibannya untuk berhatihati.
Meskipun demikian Sumangkar itu tidak menjawab. Ia
masih saja berjalan dibelakang Tohpati sampai mereka
muncul dari balik rimbunnya dedaunan yang agak lebat.
Demikianlah mereka melangkahkan kaki mereka keluar
hutan. Tohpati menarik nafas lega, seolah-olah ia telah keluar
dari suatu daerah yang dibencinya. Suatu daerah yang sama
sekali tidak menyenangkan. Seakan-akan ia baru keluar dari
suatu tempat yang padat pepat sehingga menyesakkan
nafasnya.
Ketika Tohpati menengadahkan wajahnya, dilangit
dilihatnya bulan yang terbelah. Sehelai-sehelai awan yang
putih hanyut dibawa arus angin yang lembut.
Sekali lagi Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Bulan itu
tampaknya sangat asing baginya. Sudah beberapa tahun ia
melupakan keindahan bulan, langit yang sumeblak, bintangbintang
dan bahkan melupakan apa saja yang dapat
memberinya kesegaran seperti malam ini. Angin yang lembut
dan daun-daun yang bergerak-gerak dibelai oleh angin yang
lembut itu.
“Hem” desahnya.
Sumangkar melangkah lebih cepat lagi, sehingga ia
berjalan disamping Macan Kepatihan itu. Ketika ia mendengar
Tohpati itu berdesah, ia berpaling. Tetapi ia tidak bertanya
apa-apa.
Tohpati masih mengagumi kesegaran angin malam dan
kembutan sinar bulan setengah. Cahaya yang redup
kekuning-kuningan dan daun-daun yang hijau gelap seperti
langit digaris cakrawala. Dari dalam kekelaman malam,
menjulang lamat-lamat gunung Merapi menyentuh langit.
“Paman” tiba-tiba terdengar Tohpati itu berkata “Umurku
sudah cukup banyak paman. Sudah sepertiga abad. Tetapi
aku merasa tiba-tiba menjadi orang asing disini. Asing dari
alam disekitarku ini”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya.
Pertanyaan itu telah mengatakan kepadanya, bahwa terjadi
sesuatu pergolakan didalam dada murid saudara
seperguruannya itu. Namun Sumangkar menjawab “Mungkin
angger merasa asing. Tetapi alam yang Raden anggap asing
ini, adalah alam yang sehari-hari telah memeluk angger dalam
rangkumannya. Alam ini mengenal angger dengan baik.
Sebab angger adalah bagian daripadanya. Angger telah lahir
dari sumber yang sama”
Tohpati berdesir mendengar kata-kata Sumangkar itu. Tibatiba
disadarinya bahwa alam adalah saudara kandungnya.
Pepohonan, hutan, gunung, ngarai, bahkan bintang dan bulan,
matahari dan seluruh isi angkasa. Semuanya telah tercipata
oleh sabda yang Maha Pencipta. Semesta alam dan isinya.
Juga manusia yang amat kecilnya dibandingkan dengan
seluruh kebesaran alam ini.
Tetapi selama ini Tohpati tidak pernah mengingat
sumbernya lagi. Yang diingatnya sehari-hari adalah nafsu
yang menyala-nyala didalam dadanya untuk memusnahkan
lawan. Membunuh dan menghancurkan. Membuat malapetaka
dan meruntuhkan air mata.
Sekali lagi Tohpati menengadahkan wajahnya. Bulan itu
masih memancar dilangit, dan bintang-bintang masih
bergayutan pada dataran yang biru.
“Paman” gumam Macan Kepatihan itu perlahan-lahan
“Besok kita akan mulai dengan persiapan yang terakhir.
Mudah-mudahan kita akan dapat merebut daerah perbekalan
itu kali ini”
Sumangkar berpaling. Kata-kata itu sama sekali tidak
bernafsu seperti arti katanya. Tohpati itu seakan-akan berkata
asal saja mengucapkan kata-kata. Karena itu Sumangkar tidak
segera menjawab. Dibiarkannya Tohpati berkata pula “Besok
kita akan mulai lagi dengan suatu gerakan. Aku mengharap
lusa kita telah berada di Sangkal Putung”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Jawabnya
pendek “Ya ngger”
Tohpati sama sekali tidak tertarik kepada jawaban
Sumangkar. Bahkan seolah-olah tidak didengarnya. Ia masih
saja berkata seterusnya “Besok aku akan mulai dengan
pembunuhan-pembunuhan dan kematian-kematian baru.
Besok aku mengadakan benturan benturan antara manusia
dengan manusia. Antara sesama yang mengalir dari sumber
yang satu”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Kini ia tahu benar
apa yang terkandung didalam hati Macan Kepatihan itu.
Sehingga karena itu diberanikan dirinya berkata “Besok itu
belum terjadi. Kita masih dalam keadaan kita sekarang. Apa
yang terjadi besok bukanlah suatu kepastian dari sekarang.
Kita mendapat wewenang untuk menentukan hari besok. Hari
kita sendiri”
“Ya” sahut Tohpati “Paman benar. Tetapi apa yang kita
lakukan besok pasti berdasarkan pertimbangan tentang hari
sekarang dan hari kemarin. Apakah dan siapakah kita
sekarang dan kemarin. Dengan dasar itulah kita berbuat untuk
besok”
“Ya. Kita sendiri adalah kelanjutan dari masa lampau.
Tetapi tidak seharusnya apa yang kita lakukan besok harus
senafas dengan apa yang kita lakukan kemarin” sahut
Sumangkar “Dengan demikian maka tidak akan ada
perubahan-perubahan didalam diri manusia. Tetapi
perubahan-perubahan itu selalu terjadi. Seorang yang hidup
karena pekerjaan yang nista suatu ketika akan dapat menjadi
seorang yang alim dan berbudi. Seorang yang baik hati, suatu
saat dapat berbuat diluar batas kemanusiaan”
“Seorang pahlawan dimedan-medan perang, suatu ketika
memilih jalan hidupnya didapur-dapur dan disudut-sudut
perapian” potong Tohpati.
“Ya, itupun suatu perkembangan yang terjadi didalam diri
manusia” sahut Sumangkar.
Tohpati mengerutkan keningnya. Sejenak ia berdiam diri.
Ditatapnya padang rumput yang sempit dihadapannya,
kemudian diseberang padang rumput itu terdapat sawahsawah
yang tidak pernah ditanami selama kerusuhan terjadi
didaerah ini. Para petani yang memilikinya menjadi ketakutan
untuk menggarapnya, sebab setiap saat laskat Jipang yang
liar sering memerang mereka.
Ketika mereka melangkah semakin jauh kedalam padang
itu, kembali Tohpati berkata tanpa berpaling “Oaman, apakah
paman puas dengan keadaan paman sekarang?”
“Puas tentang apa, ngger?”
“Tentang keadaan paman. Paman yang pernah dikagumi
digaris perang, kini tidak lebih dari seorang juru masak
didapur”
“Aku puas ngger. Aku puas bahwa aku untuk sekian
lamanya berhasil meletakkan senjataku dan menggantinya
dengan pisau dapur dan golok pembelah kayu ini”
Macan Kepatihan mengerutkan keningnya. Terasa sesuatu
menggeram didalam rongga dadanya, tetapi ia ragu-ragu
untuk mengutarakannya.
Namun yang terloncat dari bibirnya adalah “Paman adalah
seorang yang berhati goyah. Paman telah meletakkan suatu
tekad perjuangan. Namun paman berhenti ditengah jalan”
“Raden” sahut Sumangkar perlahan-lahan “Aku memang
pernah meletakkan suatu tekad. Tetapi aku bukan orang yang
buta pada keadaan. Orang yang dengan membabi buta pula
berbuat hanya karena sudah terlanjur. Sebenarna ngger, terus
terang, sejak Arya Penangsang dan pamanda Patih Mantahun
melakukan rangkaian-rangkaian pembunuhan, sejak itu hatiku
telah goyah. Tetapi aku pada saat itu tidak yakin, hatiku dapat
goyah. Aku tidak percaya pada setiap persoalan yang timbul
didalam diriku. Dan aku telah berusaha untuk membutakan
mataku dan berbuat seperti yang sudah mulai aku lakukan.
Tetapi akhirnya aku menyadari keadaanku. Aku tidak dapat
membohongi perasaanku terus memerus. Aku jemu pada
peperangan”
“Jangan berkata begitu” potong Tohpati. Langkahnyapun
terhenti dan dengan pandangan yang tajam ditatapnya mata
Sumangkar. Namun kini Sumangkar tidak lagi menundukkan
wajahnya. Bahkan langsung dipandangnya biji mata Tohpati
yang seakan-akan menyala itu. Pandangan mata seorang
yang sudah lanjut usia.
Tohpatilah yang kemudian berpaling. Meskipun demikian ia
bergumam “Paman jangan mencoba melemahkan hatiku.
Apakah paman ingin memaksa aku untuk berbuat seperti
paman itu. Meletakkan senjata ini dan merunduk-runduk
kepada orang Pajang untuk menjadi juru masak atau pekatik”
“Tidak” sahut Sumangkar “Angger tidak dan akupun tidak”
“Lalu?”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Timbullah
kebimbangan didalam hatinya. Sudah pasti ia tidak dapat
mengatakan kepada Tohpati meskipun ia tahu bahwa hati
Macan Kepatihan yang garang itu sedang goncang.
Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika tiba-tiba ia mendengar
Tohpati berkata “Paman, aku bukan pengecut. Aku bukan
orang yang takut melihat beberapa kekalahan kecil. Dan aku
tak akan dapat digoyahkan oleh keadaan yang bagaimanapun
juga. Lusa apabila Sanakeling telah berhasil mengumpulkan
segenap orang-orang kita, maka aku benar-benar akan
menghancur-lumatkan Sangkal Putung. Kali ini yang terakhir.
Kalau aku tidak berhasil menguasai Sangkal Putung, maka
lebih baik Sangkal Putung itu aku binasakan. Rumahrumahnya,
sawah-sawahnya dan segala kekayaan yang ada
didalamnya. Buat apa aku menyayangkan kehancurannya,
kalau aku tidak dapat memanfaatkannya”
Sumangkar memandangi wajah Tohpati dalam keremangan
cahaya bulan. Dilihatnya Macan Kepatihan itu kemudian
menggigit bibirnya dan terdengar ia menggeram.
“Hem” Sumangkar menarik nafas dalam-dalam, meskipun
ia tidak segera mengucapkan kata-kata.
“Kenapa paman berdesah?” bertanya Tohpati
“Tidak” sahut Sumangkar “Aku tidak berdesah. Aku sedang
menyesal”
***
“Apa yang paman sesali?”
“Angger sudah mulai berkelahi dengan pertimbanganpertimbangan
sendiri. Angger melihat kewajaran didalam diri
angger, tetapi angger tidak mau”
“Bohong” teriak Tohpati tiba-tiba. Wajahnya benar-benar
menjadi merah. Tanpa disangka-sangka ia melangkah maju
mendekati Sumangkar sambil menundingnya “Jangan
berkhianat terhadap pimpinanmu paman. Paman sedang
berusaha melemahkan hatiku”
“Kekuatan hati seseorang tidak harus ditampakkan pada
kekerasan pendirian yang membabi buta. Mungkin angger
mampu menghancurkan Sangkal Putung. Tetapi itu perbuatan
putus asa. Angger benar-benar kehilangan akal. Dengan
demikian maka beribu-ribu jiwa akan kehilangan tempat
tinggal dan mata pencaharian apabila sawah-sawahnya
dihancurkan. Mereka akan kelaparan dam mereka akan mati
sia-sia”
“Itu adalah akibat dari kekerasan kepala mereka. Kenapa
mereka tidak menyadari bahwa mereka harus menyerah?”
“Siapakah yang keras kepala? Siapakah yang tidak
menyadari keadaannya?”
“Setan” potong Tohpati “Paman benar-benar telah
berkhianat. Karena itu maka tidak sewajarnya paman ada
didalam barisanku”
“Apakah aku harus pergi ke Pajang?”
“Tidak, tidak dapam barisanku dan tidak boleh pergi ke
Pajang. Sebab dengan demikian maka pengkhianatan paman
akan menjadi sempurna”
“Jadi, apa yang harus aku kerjakan?”
Sejenak Tohpati terbungkam. Yang terdengar hanyalah
dengus nafasnya yang terengah-engah. Tetapi tiba-tiba ia
berteriak “Mati, kau harus mati”
“He?” Sumangkar terkejut mendengar kata-kata itu,
sehingga untuk sesaat mulutnya seakan-akan terkunci. Tetapi
sesaat kemudian orang tua itu telah berhasil menguasai
dirinya kembali sepenuhnya.
Bahkan Sumangkar itu kemudian tersenyum. Ditatapnya
mata Tohpati seolah-olah orang tua itu ingin memandang
tembus kedalam pusat jantungnya. Dengan tenangnya
Sumangkar itu kemudian menjawab “Angger, apakah angger
bermaksud membunuh aku?”
Pertanyaan itu menghantam dada Tohpati sehingga serasa
akan meruntuhkan segenap tulang-tulang iganya. Sesaat
Tohpati terdiam, namun kemudian dikerahkannya segenap
tenaga dan kekuatannya untuk menjawab, hanya sepatah
kata, “Ya”
Kembali Sumangkar tersenyum. Senyum yang
menggoncangkan hati Macan yang garang itu. Dimata
Tohpati, Sumangkar yang berdiri dihadapannya itu bukan lagi
seorang juru masak yang malas, namun Sumangkar itu kini
berdiri dengan wajah tengadah. Sumangkar tu kini benarTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
benar bersikap sebagai seorang senapati digaris peperangan.
Sumangkar yang pernah dikenalnya dahulu.
Karena itu dada Tohpati menjadi berdentang cepat.
Meskipun demikian, ia masih berusaha untuk tegak dengan
wajah yang tegang, menghadapi orang tua itu.
Mendengar jawaban Tohpati yang pendek itu, Sumangkar
kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahan-lahan
ia berkata “Raden, aku adalah seorang abdi yang sejak
Pamanda Kepatihan masih hidup aku adalah abdi kepatihan.
Kalau aku kebetulan menjadi saudara seperguruan Gusti Patih
itu bukanlah soal dalam hubungan antara hamba dan
gustinya. Kini angger adalah pimpinan laskar Jipang
sepeninggal Arya Penangsang. Dalam hal inipun siapa
Sumangkar dan siapa Tohpati bukan juga menjadi soal”
“Diam” potong Tohpati dengan suara bergetar “Kubunuh
kau”
Tetapi ia terkejut ketika ia melihat Sumangkar meletakkan
golok pembelah kayu ditangannya dan selangkah ia maju
mendekatinya “Marilah ngger. Seperti juga Pamanda
Kepatihan, Sumangkar dapat pula dibunuh dan mati untuk
tidak bangkit kembali. Hanya dongeng-dongeng ngayawara
saja yang mengatakan bahwa murid-murid perguruan Kedung
Jati memiliki nyawa rangkap sepuluh”
Macan Kepatihan itu kemudian menundukkan wajahnya
dalam-dalam. Bahkan kemudian kelangkah ia berjalan
kesamping, dan dengan lemahnya menjatuhkan dirinya duduk
datas rerumputan liar.
Sumangkarpun kemudian duduk pula disampingnya. kini ia
sudah yakin apa yang terjadi didalam diri Tohpati itu. Kini ia
yakin bahwa Tohpati telah menemukan nilai-nilai yang lain dari
apa yang dimilikinya selama ini.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Sumangkar sengaja
membiarkan Tohpati meyakinkan dirinya sendiri, sebelum ia
membantunya.
Malam menjadi semakin lama semakin dingin. Angin yang
basah mengusap tubuh-tubuh mereka yang seakan-akan
membeku. Bagaimana didalam dada mereka telah bergolak
dengan riuhnya, berbagai-bagai pertimbangan dan anganangan.
“Paman” berkata Tohpati kemudian “Sejak aku memanggil
paman Sumangkar, sebenarnya aku sudah dilanda oleh
perasaan yang tidak menentu. Itulah sebabnya aku menunda
penyerangan ke Sangkal Putung sampai beberapa kali. Tetapi
aku tidak dapat berbuat demikian terus-menerus. Aku tidak
dapat membiarkan anak buahku mejadi jemu dan semakin liar.
Tetapi tiba-tiba aku kehilangan keberanian untuk menyerang
Sangkal Putung”
Sumangkar menarik nafas dalam-dalam. Iapun menjadi
terharu mendengar pengakuan itu. Pengakuan seorang
pemimpin yang teguh hati serta soerang yang memiliki
keberanian dan kemampuan yang cukup. Namun orang itu
dihadapkan pada suatu kenyataan yang berlawanan dengan
tekad serta kemauannya.
Dalam keremangan malam dibawah cahaya bulan
sepotong, Sumangkar melihat kegelisahan wajah Tohpati.
Tampaklah betapa ia menyesali keadaan dan menyesali
kenyataan. Tetapi kenyataan itu telah dihadapkan dimuka
wajahnya.
Tohpati benar-benar bukan seekor binatang liar yang tidak
mempunyai jantung. Betapa ia keras dan buas didalam
medan-medan peperangan, namun ia memiliki perasaan yang
utuh. Karena itulah, maka ia dapat mengerti beberapa
keberatan yang dikatakan oleh orang lain kepadanya. Yang
dikatakan oleh orang tua diatas batu-batu ditengah sungai
beberapa hari yang lalu, dan apa yang dikatakan Sumangkar
sejak lama kepadanya. Meskipun ia telah berusaha menindas
perasaan yang berkecamuk didalam dadanya, meskipun ia
tidak ingin terpengaruh oleh perasaan-perasaan itu, namun
sebenarnya hatinya selalu tersentuh-sentuh. Setiap kali ia
pulang dari peperangan, setiap kali ia kembali dari nganglang,
dan setiap kali ia melihat kekerasan, apalagi atas penduduk
yang tidak banyak mengetahui seluk beluk pertentangan
antara Pajang dan Jipang, hatinya selalu terganggu. Puncak
dari gangguan dihatinya adalah orang tua ditengah-tengah kali
itu, dan selanjutnya kata-kata Sumangkar itu sendiri. Sehingga
seandainya benar Untara dan Widura mengatakan, bahwa
pertentangan ini menjadi amat menjemukan, adalah benar.
Kalau seseorang mengatakan bahwa pertentangan ini hanya
akan menyengsarakan rakyat, adalah beralasan. Dan sejak ia
melakukan pembunuhan yang pertama atas Sunan Prawata,
apalagi ketika Sumangkar mendengar Ratu Kalinyamat
bertapa tanpa mengenakan pakaian apapun selain rambutnya
sendiri sebagai suatu penolakan, sebagai suatu jerit seorang
wanita atas kekerasan dan kebiadaban yang terjadi pada
suaminya. Namun Sumangkarpun mencoba mengingkari
perasaan sendiri pada waktu itu.
Demikianlah meskipun Tohpati itu duduk diam seperti
patung, namun hatinya bergolak dahsyat. Sedahsyat pusaran
dimuara sungai yang sedang banjir bandang.
Tiba-tiba Tohpati itu mengeluh “Aku kini sampai pada suatu
titik yang terkatung-katung ditengah-tengah gumulan ombak
yang tidak menentu. Aku tidak dapat terus, tetapi aku tidak
dapat kembali”
Sumangkar merasakan kesulitan itu. Sumangkar dapat
mengerti sepenuhnya, bahwa Tohpati benar-benar tidak dapat
maju tetapi juga tidak dapat kembali. Meskipun demikian ia
mencoba menjajagi hati anak muda yang perkasa itu “Angger
tidak usah terus dan tidak usah kembali. Angger dapat
mencoba berhenti. Tetapi angger harus membiarkan orang
lain kembali”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Memang
benar, ia dapat menghilang dan tidak muncul kembali. Ia
dapat menganjurkan orang lain untuk menghentikan
perlawanan. Tetapi kenyataannya tidak dapat
membenarkannya. Ia tidak mau lari dari kenyataan yang
bagaimanapun pahitnya. Karena itu, Tohpati itu menggeleng
lemah “Tidak paman, tidak”
Sumangkarpun tahu, bahwa Tohpati tidak akan dapat
menyetujuinya. Tetapi ia tidak mempunyai pendapat lain yang
dapat dikemukakan saat itu, sehingga sejenak ia terdiam.
Kembali mereka diamuk oleh kegelisahan dihati masingmasing.
Kembali mereka dicengkam oleh kesepian dipadang
rumput yang tidak terlalu luas itu. Suara cengkerik terdengar
mengorek-ngorek dinding telinga. Sekali-sekali terdengar
pekik binatang-binatang hutan mengejutkan.
Dalam keheningan malam itu tiba-tiba Sumangkar
menundukkan wajahnya. Terasa sesuatu berdesir dihatinya,
sehingga duduknya bergeser beberapa jari. Matanya yang
tajam, menembus keremangan malam menusuk kekejauhan.
Sumangkar menarik nafas. Ia berpaling ketika terdengar
Tohpati menggeram perlahan-lahan. Tetapi Sumangkar itu
mengangguk-anggukkan kepalanya ketika ia mendengar
Tohpati bergumam perlahan-lahan “Dua orang berjalan
diujung padang ini”
“Ya, aku melihatnya”
“Siapa paman, apakah orang itu orang-orang kita?”
“Entahlah ngger. Apakah angger memberikan perintah
kepada seseorang atau kedua orang itu untuk suatu
pekerjaan?”
“Aku tidak. Entahlah kalau Sanakeling. Atau Alap-alap
Jalatunda atau yang lain. Mungkin juga para pengawas yang
telah dikirim lebih dahulu”
Meskipun demikian, firasat Sumangkar yang tua itu
memberitahukan kepadana, bahwa orang itu akan dapat
membawa bahaya. Dengan demikian maka Sumangkar
beringsut sejengkal demi sejengkal untuk meraih golok
pembelah kayu yang diletakkannya.
“Apakah paman memerlukan benda itu?”
“Aku tidak tahu ngger, mudah-mudahan tidak”
“Mudah-mudahan. Tetapi orang itu datang dari jurusan
yang lain dari setiap jurusan yang akan dilalui para pengawas
ke Sangkal Putung. Juga sama sekali bukan jurusan orangorang
Pajang yang berada di Sangkal Putung”
“Mungkin mereka memilih jalan yang melingkar demi
keamanan mereka”
“Mungkin”
Sumangkar memandang kedua bayangan itu dengan
seksama. Semakin lama menjadi semakin dekat. Namun
agaknya mereka belum melihat Sumangkar berdua dengan
Tohpati yang sedang duduk.
“Bagaimana kalau mereka orang-orang Pajang paman?”
“Apakah angger akan membiarkannya?”
“Tidak, aku tidak dapat membiarkan mereka mengetahui
kedudukan kami. Aku tidak dapat membiarkan orang-orangku
dihancurkan oleh orang-orang Pajang dalam peperangan”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Sudah
tentu Tohpati tidak akan berbuat demikian. Tidak akan
membiarkan orang-orangnya hancur disergap oleh lawannya,
betapapun juga.
Maka kalau benar kedua orang itu orang Pajang, maka
kedua orang itu pasti mendapat tugas untuk menyelidiki
pertahanan laskar Jipang.
Sumangkar dan Tohpati kemudian saling berdiam diri.
Bahkan nafas merekapun seakan-akan mereka tahankan,
agar kehadiran mereka tidak segera diketahui oleh kedua
orang itu.
“Kalau orang-orang itu orang Pajang” bisik Tohpati
perlahan-lahan sekali “alangkah beraninya”
Sumangkar mengangguk, tetapi ia tidak menjawab.
“Tetapi aku pasti, mereka bukan orang-orang kita”
sambung Tohpati hampir tak terdengar.
Sekali lagi Sumangkar mengangguk.
Dada mereka tiba-tiba berdesir ketika melihat kedua orang
itu berhenti sesaat. Namun kemudian mereka melangkah
kembali. Tetapi mereka kini tidak menuruti arah mereka
semula. Menyilang garis pandangan Tohpati. Jantung Tohpati
hampir-hampir berhenti berdenyut, ketika dilihatnya kedua
orang itu berjalan kearahnya.
“Mereka kemari” bisik Tohpati.
Sumangkar menerik afas panjang-panjang “Tak ada
gunanya untuk menyembunyikan diri dan mengintai mereka.
Mereka telah melihat kehadiran kita.”
“Belum tentu. Mungkin suatu kebetulan.”
Sumangkar menggeleng. “Aku yakin.”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Apabila
demikian maka kedua orang itu pasti dua orang yang terlalu
percaya kepada diri mereka sendiri, sehingga mereka sengaja
mendatanginya.
Terkaan Sumangkar itu sesaat kemudian ternyata terbukti.
Kedua orang itu berhenti berjalan, dan salah seorang daripada
mereka berkata “Siapa yang duduk disitu?”
Tohpati menjadi bimbang sesaat. Ditatapnya wajah
Sumangkar untuk mendapatkan pertimbangan. Ketika
Sumangkar menganggukan kepalanya, maka Macan
Kepatihan itupun segera menjawab “Aku disini, siapa kalian?”
“Aku siapa?” desak salah seorang yang berdiri itu.
“Kau siapa?” Jawab Tohpati.
Sejenak mereka saling berdiam diri. Kedua orang itu masih
tegak seperti patung. Dalam keremangan cahaya
bulan,mereka tempaknya seperti bayangan hitam yang
menakutkan.
Tohpati menjadi semakin berdebar-debar ketika kedua
orang itu melangkah kembali. Dan bahkan mendekatinya.
“Berhenti” teriak Tohpati “Kalau tidak, aku akan menyerang
kalian dengan senjata jarak jauh.”
“Apa kau membawa panah?” terdengar suara diantara
mereka.
“Tulup” sahut Tohpati “Aku tulup biji tulupku dengan getah
pohon luwing dan bisa serangga. Kalian akan mati terkena
sentuh saja”.
“Jangan terlalu kejam” sahut suara itu pula.
“Karena itu jawab, siapa kalian?”
Tohpati terkejut ketika kemudian didengarnya suara tertawa
berderai. Diantara suara tertawa itu terdengarlah kata-kata
“Menyerang dengan tulup bukanlah pekerjaan yang mudah.
Bagaimanakah kalau aku berlari melingkar-lingkar.”
Sesaat Tohpati tidak menjawab. sebenarnya ia tidak
membawa tulup. Kalau orang itu berlari melingkar-lingkar,
maka ia tidak akan dapat berbuat apa-apa. Jangankan berlari
melingkar-lingkar sedangkan apabila mereka berjalan
perlahan-lahan dalam garis yang lurus sekalipun ia tidak akan
dapat menyerang dari jarak yang jauh. Sebenarnya
Tohpatipun tidak perlu menyerangnya dari jarak yang jauh.
Namun ia hanya ingin menggertaknya dan segera mengetahui
siapakah mereka itu. Tetapi ternyata orang itu orang yang
berani dan tidak gentar mendengar ancamannya.
Namun tiba-tiba terasa Sumangkar merebut tongkat
bajanya. Demikian tiba-tiba sehingga Tohpati tidak sempat
menahannya. Sebelum Tohpati itu menyadari, Sumangkar
telah melatakkan ujung tongkat itu dimuka mulutnya sambil
berjongkok. Dengan suara parau Sumangkar berteriak “Nah
cobalah. Berlarilah melingkar-lingkat. Salah seorang dari
kalian berdua akan mati. Aku tidak akan memperdulikan yang
seorang lagi.”
Kedua orang yang berdiri beberapa puluh langkah dari
mereka itupun terdiam. Baru sejenak kemudian terdengar
salah seorang berkata “Bagus. Kalian benar-benar dapat
mempergunakan tulup. Kalian tidak akan dapat dibingungkan
oleh bayangan kami berdua yang berlari melingkar-lingkar.
Tetapi kami benar-benar tidak akan berbuat jahat terhadap
kalian, siapapun kalian berdua itu.”
“Kalau demikian, sebut namamu” sahut Sumangkar.
Orang itu diam sesaat , dan kemudian terdengar ia
menyebutkan sebuah nama “Supita, namaku Supita dan
kawanku ini bernama Sukra.”
Sumangkar menarik nafas panjang-panjang. Bahkan
hampir ia tertawa mendengar orang-orang itu menyebutkan
namanya. Sekali ia berpaling memandang wajah Tohpati.
Agaknya Tohpatipun sependapat dengan pikirannya, sehingga
karena itu terdengar Tohpati menjawab lantang “Namaku
Patra dan kawanku bernama Dadi. Nah apakah kau puas
mendengar nama-nama kami?”
Orang itu terdengar tertawa. Suaranya berderai melingkarlingkar
membentur dinding hutan dan menggema kembali
berulang-ulang. Katanya “Adakah gunanya kita menyebutkan
nama masing-masing?”
Sumangkar menyahut “Nama-nama yang kami sebut,
mungkin jauh lebih baik dari nama kalian sebenarnya. Nah
apakah maksudmu datang kemari.”
“Apakah kita dapat berbicara perlahan-lahan” berkata orang
itu.
Sumangkar tidak segera menyahut. Ditatapnya wajah
Tohpati seakan-akan menyerahkan segenap persoalan
kepadanya. Namun Tohpati tidak dapat berbuat lain daripada
menerima orang itu. Seandainya orang itu lari sekalipun pasti
akan dikejarnya. Dan kini orang itu bersedia datang
kepadanya.
Karena itu, maka Tohpati menjawab tegas “Datanglah,
supaya aku tidak mengajarmu.”
Sekali lagi terdengar salah seorang daripadanya tertawa.
Sejenak kemudian kedua bayangan itu bergerak maju
perlahan-lahan penuh kewaspadaan.
Tohpati dan Sumangkarpun segera berdiri. Diserahkannya
tongkat Tohpati kembali. Tongkat ciri kebesaran, keperkasaan
dan kewibawaan Macan Kepatihan, sehingga kawan maupun
lawan mengenal tongkat itu seperti mengenal pemiliknya
sendiri.
Semakin dekat kedua bayangan itu, hati mereka masingmasing
baik yang menunggu maupun yan mendatangi, saling
berdebaran. Semakin dekat, maka wujud masing-masing
menjadi semakin jelas dibawah cahaya keremangan bulan
sepotong yang menggantung diantara bintang-bintang dilangit.
Ketika bayangan itu sudah cukup dekat, maka terdengarlah
Tohpati menggeram keras. Selangkah ia maju dan tiba-tiba
tubuhnya menjadi gemetar. Bayangan itupun kemudian
berhenti beberapa langkah daripadanya.
Yang terdengar adalah suara Macan Kepatihan itu parau
“Kau. Kau guru dan murid lereng merapi. He, apa kerjamu
disini Tambak Wedi?”
Terdengar orang itu, yang tak lain adalah Ki Tambak Wedi
dann Sidanti, menarik nafas perlahan-lahan. Dengan
menganggukkan kepalanya Ki Tambak Wedi menjawab
“Selamat malam angger Macan Kepatihan. Apakah angger
pernah melihat muridku?”
“Hampir kupecahkan dadanya dengan tongkatku ini kalau
paman Widura tidak menyelamatkannya. Nah, sekarang kalian
datang untuk memberi kesempatan kepadaku menyelesaikan
pekerjaan itu?”
“Jangan marah. Dengarlah dulu maksud kedatangan kami”
berkata Ki Tambak Wedi. Sesaat ia berpaling kepada
Sumangkar yang berdiri dibelakang Tohpati. Tampaknya
alisnya berkerut, dan dengan ragu-ragu ia berkata “Adi
Sumangkar?”
Sumangkar tertawa pendek. Kini ia maju selangkah.
Goloknya terselip pada ikat pinggangnya. Sambil mengangguk
ia menjawab “Ya, Kakang Tambak Wedi. Agaknya kakang
masih ingat kepadaku.”
“Ah. Aku tidak akan dapat melupakan kalian. Sepasang
murid perguruan Kedung Jati.”
“Huh” potong Tohpati “Kau juga tidak lupa kepada guruku?”
“Tentu tidak angger. Aku adalah kawan seiring dengan
almarhum patih Mantahun.”
“Omong kosong. Kau tinggalkan paman dalam kesulitan.
Bahkan kemudian aku temui muridmu di Sangkal Putung
dalam laskar paman Widura.”
Tambak Wedi terbahak-bahak. Sahutnya “Angger keliru.
Angger keliru. Muridku berada di Sangkal Putung dengan
tugasnya sendiri. apakah angger tidak mendengar bahwa
Untara terluka?”
“Untara?”
Tambak Wedi mengangguk penuh kebanggaan.”Ya,
angger Untara terluka. Hampir-hampir mambawa nyawanya.”
Tohpati mengerutkan keningnya. Kemudian terdengar ia
bertanya “Apakah hubungan luka Untara itu dengan paman
Tambak Wedi?”
“Ada sangkut paut yang erat dengan perjuanganmu, ngger”
jawab Tambak Wedi “Karena itulah maka aku sengaja
menemuimu. Maksudku aku akan datang keperkemahanmu.”
“Apakah paman Tambak Wedi tahu letak perkemahan
kami?”
“Aku tidak tahu tepat. Tetapi aku kira-kira saja letak
perkemahan itu.”
Macan Kepatihan menggeram. “Kau sedang memata-matai
perkemahan kami untuk kepentingan Untara?”
“Tidak ngger, tidak.” potong Tambak Wedi cepat-cepat.
“Aku datang untuk keperluan yang cukup penting.”
“Apa itu?”
“Apakah angger dapat menerima kami diperkemahan
angger?”
Tohpati menggeleng. Dengan tegas ia berkata “Tidak.
Disini paman dapat mengatakan keperluan itu.”
Tambak Wedi mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia
menjadi kecewa tetapi ia tahu keberatan Macan Kepatihan.
Karena itu ia berkata “Angger. Luka Untara adalah bukti,
bahwa sebenarnya aku tidak pernah meninggalkan pamanmu
patih Mantahun.”
“Apakah hubungannya?”
“Sidantilah yang melakukannya atas petunjukku.”
Tohpati mengerutkan keningnya. Desisnya “Tetapi Untara
masih hidup. Ia masih berkeliaran, bahkan sampai ke Benda
dan sekitarnya.”
“Sidanti salah hitung. Disangkanya serangannya berhasil,
karena itu tidak diulanginya.”
“Omong kosong. Mungkin benar Sidanti melukai Untara,
sebagai suatu cara untuk berpura-pura mengusir atau
mengejar Sidanti. Sidanti akan lari kepadaku. Namun dalam
pada itu, segala rahasiaku akan jatuh ketangan Untara.”
“Tidak angger. Tidak. Sebenarnya Untara dan Sidanti telah
bermusuhan. Aku memang memberikan beberapa petunjuk.
Bukankah aku sahabat pamanda kepatihan?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Dan dibiarkannya Tambak
Wedi berkata “Namun sayang. Tugas Sidanti itu tidak dapat
selesai dengan baik.”
“Apa sebabnya Sidanti melukai Untara?”
“Untara adalah pemimpin laskar Pajang dilereng merapi ini.
Sedangkan lereng merapi ini adalah Ki Tambak Wedi. Apalagi
Untara adalah lawan sahabat Tambak Wedi, patih Mantahun.”
Tohpati menarik alisnya. Sesaat ia terdiam. Dicobanya
untuk menimbang kata-kata Ki Tambak Wedi. Namun
kemudian terdengar Sumangkar berkata “Muridmu yang
bernama Sidanti itu, berusaha membunuh Untara karena
daerah kekuasaanmu dikuasai pula olehnya, begitu?”
“Ya. Sebagian begitu.”
“Kalau demikian, maka kalian telah terlibat dalam persoalan
kalian sendiri.” sahut Sumangkar.
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya mendengar katakata
Sumangkar. Namun sejenak kemudian ia tersenyum
sambil berkata “Hem, Adi Sumangkar, jangan menarik garis
dari kepentingan yang saling mendorong itu. Aku
mendendamnya karena ia berada didalam daerah
kekuasaanku, tetapi aku tidak akan berbuat demikian terhadap
angger Macan Kepatihan, meskipun angger itu berada
dilereng merapi pula.”
Namun kata-kata itu segera disahut oleh Tohpati “Jangan
mengelabuhi aku paman. Seorang pimpinan Jipang telah
dibunuh mati oleh Sidanti.”
Hati Sidanti menjadi berdebar-debar karenanya. Tetapi ia
sama sekali tidak ikut campur dalam percakapan itu, seolaholah
sama sekali tidak mempunyai kepentingan, atau benarbenar
seperti anak-anak yang sedang dibicarakan nasibnya
oleh ayah bundanya.
Yang menjawab kemudian adalah Ki Tambak Wedi “Ya,
angger. Hal itu terpaksa dilakukan. Maksudnya untuk
menghilangkan jejak dibunuhnya Untara, sehingga Sidanti
tidak pernah meninggalkan Sangkal Putung dan dapat berbuat
serupa terhadap pemimpin-pemimpin yang lain”
“Hem” geram Tohpati “Jadi Sidanti membunuh Plasa Ireng
hanya sekedar untuk mendapat kepercayaan. Jadi Plasa Ireng
itu nilainya tidak lebih dari alat untuk mendapat kepercayaan.
Seandainya demikian, kenapa Sidanti kemudian melukainya
arang kranjang meskipun Plasa Ireng telah terbunuh? Itu
benar-benar suatu kekejaman. Kekejaman yang tidak pernah
dilakukan oleh orang-orang yang beradab. Orang-orangku
yang kalian sebut liar itupun jarang-jarang yang berbuat
demikian.”Sekali lagi Ki Tambak Wedi menarik nafas. Ia
terdorong dalam kesulitan untuk menjawab pertanyaanpertanyaan
itu. Meskipun demikian ia tidak segera kehilangan
akal, maka katanya “Angger, memang sulit untuk menjawab
pertanyaan angger. Memang sukar untuk menjelaskan sikap
kami. Tetapi biarlah aku coba urut-urutannya. Sidanti
menggabungkan diri dalam kelaskaran Pajang dan berhasil
memilih Sangkal Putung sebagai daerah garis perangnya,
kenapa tidak ditempat lain? Karena aku yakin bahwa suatu
ketika Untara akan hadir ditempat itu. Kemudian Sidanti akan
membunuh pimpinan-pimpinan Pajang itu satu demi satu
tanpa kecurigaan. Baru kemudian setelah selasai
pekerjaannya, ia akan memberitahukan kepada angger.
Sebab apabila sebelum itu angger telah menyadari kedudukan
Sidanti , serta orang lain mendengarnya, maka jiwa Sidanti
sendiri akan terancam. Karena itulah, maka Sidanti selalu
berusaha menjadi orang yang tampaknya paling gigih di
Sangkal Putung sebagai usaha untuk menyelubungi dirinya.
Tetapi usahanya itu tidak dapat sempurna. Suatu ketika usaha
itu diketahui setelah Untara hampir mati. Sayang ia dapat
sadar kembali dan mengatakan siapa yang telah berusaha
untuk membunuhnya. Nah sekarang tidak ada lagi cara lain
untuk berjuang selain melalui garis perang yang langsung
berhadapan. Karena itu Sidanti aku bawa kemari. Mungkin
dapat angger pergunakan untuk ganti yang telah terbunuh itu.”
***
Tohpati mendengarkan kata-kata Tambak Wedi itu dengan
wajah yang tegang. Sepercik harapan timbuk didalam hatinya.
Mungkin Sidanti tidak benar-benar seperti apa yang dikatakan
oleh Ki Tambak Wedi itu, namun dengan hadirnya Sidanti
diperkemahannya, pasti akan mengurangi kekuatan Sangkal
Putung. Mungkin ia masih harus mencoba kesetiaannya sekali
dua kali dengan pangawasan yang ketat. Namun apabila
kemudian ternyata kata-kata Tambak Wedi itu benar, maka ia
akan mendapat kekuatan baru disamping berkurangnya
kekuatan di Sangkal Putung.
Tetapi tidak demikian yang terlintas diotak Sumangkar. Ia
tidak dapat menerima Sidanti apapun alasannya. Ia tidak mau
melihat Sidanti mengkhianati Tohpati. Menusuk dari belakang
atau perbuatan apapun yang akan mencelakakannya. Tetapi
seandainya Sidanti benar-benar ingin bekerja sama dengan
Tohpatipun sama sekali tidak dikehendakinya. Dengan
demikian maka peperangan ini akan semakin riuh. Dengan
kekuatan baru mungkin Tohpati akan melupakan persoalanperasoaan
yang sudah timbul didalam kepalanya. Hal itu akan
menghanyutkan kejemuannya terhadap perang, seandainya ia
mendapat kemenangan baru saat-saat terakhir nanti. Dengan
demikian penderitaan akan berjalan semakin lama. Usaha
yang sia-sia dan putus asa inipun akan berjalan semakin lama
pula. Korban yang berjatuhan akan menjadi semakin banyak.
Korban-korban dari mereka yang sama sekali tidak tahu sudut
tepinya peristiwa antara Pajang dan Jipang.
Karena itu, ketika diketahuinya Tohpati menjadi ragu-ragu
maka Sumangkar itupun menjadi cemas. Sehingga ketika
Tohpati tidak segera menjawab, berkatalah Sumangkar sambil
tertawa lirih “Sebuah dongeng yang bagus Kakang Tambek
Wedi.”
Tambak Wedi terkajut mendengar tanggapan Sumangkar
itu. Karena itu, maka segera wajahnya menjadi tegang.
Suaranyapun menjadi tegang pula. Katanya “Adi Sumangkar.
Apakah adi tidak percaya pada muridku, murid Ki Tambak
Wedi.”
“Kakang, bagaimana aku akan percaya. Ingatkah kakang
apa yang telah kakang lakukan pada saat-saat ki Patih
Mantahun terjepit antara dua pasukan Pajang yang kuat, yang
dipimpin langsung oleh Ki Gede Pemanahan dan Ki Penjawi,
segera sepeninggal Arya Penangsang. Alangkah ngerinya.
Patih itu berjuang mati-matian tanpa mengenal takut meskipun
usianya telah lanjut. Nah, apa kerjamu waktu itu Ki Tambak
Wedi? Seandainya kau tidak meninggalkannya waktu itu,
setidak-tidaknya Patih Mantahun akan dapat meloloskan
dirinya.”
Wajah Tambak Wedi menjadi merah semerah bara.
Untunglah malam yang remang-remang telah melindunginya,
sehingga perubahan wajah itu tidak segera diketahui oleh
Tohpati. Namun demikian terasa dadanya bergetar dan
suaranyapun gemetar pula. “Adi. Adi terlalu berparasangka.
Aku sudah menasehatkan untuk meninggalkan pertempuran
kepada kakang Mantahun waktu itu. Tetapi ia menolak.”
Mendengar jawaban Tambak Wedi Sumangkar tertawa.
Dengan menengadahkan wajahnya ia berkata “Kata-katamu
aneh kakang. Pada saat perang antara Jiang dan Pajang
pecah, setelah Arya Penangsang gagal membunuh Karebet
karena ia memiliki Aji Lembu Sekilan, maka kau hampirhampir
tak pernah tampak lagi dikepatihan Jipang. Apalagi
setelah laskar Jipang terdesak dan Arya Penangsang
terbunuh. Sehingga tidak mungkin kau berada disekitar
kakang Mantahun pada saat menjelang ajalnya. Ketahuilah,
bahwa kakang Mantahun meninggal dalam pangkuanku,
setelah menyingkir dari peperangan. Namun laskar Pajang
berhasil merebut jenazahnya.”
Tubuh Tambak Wedi menjadi gemetar menahan marah.
Meskipun demikian ditenangkannya hatinya sejauh mungkin.
Ia masih mengharap Macan Kepatihan menerima muridnya.
Karena itu, maka katanya “Angger Macan Kepatihan,
terserahlah dalam penilaian angger. Tetapi kalau angger mau
bekerja bersama Sidanti, maka aku janjikan bahwa tenagaku
akan aku serahkan pula. Angger pasti percaya, bahwa Untara,
Widura, Agung Sedayu dan siapa lagi, biarlah mereka maju
bersama-sama, maka mereka akan terbunuh olehku, asal
laskar Jipang membebaskan aku dari laskar Pajang yang pasti
akan membantu pemimpin-pemimpinnya”
Dentang jantung Tohpati seakan-akan menjadi semakin
cepat. Sekali-sekali dipalingkannya wajahnya memandang
Sumangkar, namun Sumangkar tidak sedang memandangnya.
Bahkan Sumangkar itu agaknya benar-benar menyerahkan
persoalan itu kepadanya. Namun percakapan Ki Tambak Wedi
dan Sumangkar telah memberinya banyak bahan.
Dikenangnya apa yang pernah dilakukan oleh Ki Tambak
Wedi itu atas gurunya, Patih Mantahun. Dikenangnya pula
saat Sidanti datang menyongsongnya, benar-benar bukan
sedang bermain-main. Dikenangnya bentuk mayat Plasa Ireng
yang sobek dipunggungnya arang kranjang. Ya, dikenangnya
semuanya. Sehingga kemudian Tohpati itu menjawab “Paman
Tambak Wedi, aku tidak dapat percaya, bahwa Sidanti akan
melakukan kerjasama yang jujur. Pada saat Adipati Jipang
sedang berusaha merebut kekuasaan dengan kekuatan yang
agaknya cukup, paman berada dipihak kami. Tetapi demikian
Jipang terdesak oleh kekuatan Pajang yang tak terduga-duga,
murid paman itu berada dipihak Pajang. Apakah sekarang ada
persoalan baru yang telah menyebabkan Sidanti berbalik
pendirian lagi?”
“Sudah aku katakan sebabnya ngger, bukan benar-benar
berpihak pada Untara”
Tohpati menggeram, kemudian katanya sambil
menggeleng “Aku semakin yakin, bahwa kejujurannya tidak
dapat dipercaya. Mungkin ia berselisih dengan Untara atau
dengan Widura. Jangan disangka bahwa aku akan terjebak”
Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram keras. Tubuhnya
menjadi semakin gemetar oleh kemarahannya yang semakin
memuncak. Namun lebih dari Ki Tambak Wedi yang sudah tua
itu, Sidanti tidak dapat melawan kemarahannya. Karena itu
dengan lantang ia mendahului gurunya “Guru. Kenapa kita
harus mengemis belas kasihannya?”
Mendengar kata-kata Sidanti itu, maka telinga Macan
Kepatihan serasa tersentuh api. Sekali ia menggeretakkan
giginya, kemudian setapak ia melangkah maju sambil
menunjuk wajah Sidanti “Kau ternyata lebih jantan dari
gurumu. Nah, sekarang bersikaplah jantan untuk seterusnya”
“Baik” sahut Sidanti dengan beraninya. Diangkatnya
dadanya sambil berkata “Aku juga memiliki harga diri, Tohpati
yang perkasa. Jangan disangka, bahwa hidup matiku ada
ditanganmu”
Ki Tambak Wedipun kemudian telah benar-benar
kehilangan setiap kesempatan untuk menggabungkan Sidanti
pada kekuatan Tohpati untuk membalas dendam kepada
Untara beserta laskarnya. Alangkah kecewanya ketika semua
rencananya dapat ditebak oleh Sumangkar, dan karena itu,
maka didalam hatinya, Ki Tambak Wedi itu mengumpat tiada
habisnya. Diumpatinya Sumangkar, dan bahkan Ki Tambak
Wedi itu berjanji, bahwa Sumangkar itu harus dilenyapkannya.
Kini muridnya telah kehilangan kesabaran dan merasa
tersinggung harga dirinya. Maka keadaan akan dapat
berkembang kearah yang tidak dikehendakinya. Namun ia
tidak perlu pengkhawatirkan Sidanti. Selama ini anak muda itu
telah ditempanya terus menerus. Mudah-mudahan telah
dicapainya suatu tingkatan yang dapat menyamai Macan
Kepatihan itu. Bukankah pada saat mereka bertempur di
Sangkal Putung, kekuatan mereka tidak terpaut terlalu
banyak. Ki Tambak Wedi itupun bahkan dengan bernafsu
mendorong muridnya untuk masuk kedalam pertengkaran
yang lebih dalam, sehingga ia akan mendapat kesempatan
untuk membinasakan Sumangkar yang telah merusak
segenap rencananya.
Macan Kepatihan itupun menjadi marah bukan buatan.
Tangannyapun kemudian menjadi gemetar dan dengan sertamerta
ia berkata “Siapkan senjatamu. Tohpati akan
mengayunkan tongatnya pada gerakan yang pertama”
Sidanti tidak menjawab. selangkah ia meloncat kesamping,
ditatapnya Tohpati dengan tajamnya, dan tiba-tiba kedua
tangannya telah menggenggam dua belah pedang pendek.
Dalam pada itu Ki Tambak Wedi berkata “angger Tohpati,
aku tidak mengharapkan perkelahian ini. Tetapi aku tidak
dapat menyalahkan muridku. Sebagai murid lereng Merapi, ia
tidak akan bersedia menelan hinaan”
“Persetan” sahut Tohpati “Dengan membunuhmu maka aku
akan mengurangi kekuatan Sangkal Putung”
Sidanti sama sekali tidak berkata apapun. Kedua
pedangnya bersilangan dimuka dadanya.
Namun Tohpati masih juga menggeram “Manakah
senjatamu yang mengerikan itu?”
Sidanti masih tetap diam. Hanya didalam hatinya ia berkata
“Peduli apa kau dengan senjata yang tertinggal di Sangkal
Putung itu. Tetapi ternyata aku cukup kuat dengan senjata
yang sepasang ini sekuat senjata yang aneh itu”
Kediaman Tohpati benar-benar telah membangkitkan
luapan kemarahan Tohpati tiada taranya. Karena itu segera ia
meloncat dan menyerang Sidanti dengan tongkat baja
putihnya.
Tohpati Sidanti telah benar-benar bersiap. Ketika tongkat
baja Tohpati terayun kekepalanya, Sidanti sama sekali tidak
berkisar dari tempatnya. Sidanti itu telah pernah bertempur
dengan Tohpati sehingga kekuatan Tohpati telah
diketahuinya.
Sidanti yakin bahwa selama ini Tohpati pasti tidak akan
sempat memperdalam ilmunya, selain yang telah dimilikinya.
Karena itu sengaja ia tidak mengelak, tetapi dibenturnya
serangan itu dengan kedua pedang pendeknya. Dengan
pedang itu Sidanti ingin menunjukkan, bahwa kini
kekuatannya tidak lagi seperti beberapa waktu yang lalu,
setelah dengan tekun ia melatih diri sejak ia meninggalkan
Sangkal Putung. Lukanya yang tidak terlalu parah segera
dapat disembuhkan oleh Ki Tambak Wedi. Dalam pada itu
Sidanti yang menyimpan dendam dihatinya, segera berusaha
untuk menambah ilmunya. Dendam kepada Untara dan orangorang
Sangkal Putung itu harus ditumpahkan.
Kini tiba-tiba Sidanti menemukan lawan yang tidak
disangka-sangka. Namun lawan inipun sedahsyat orang yang
didendamnya. Karena itu maka disadarinya, bahwa ia harus
berjuang sekuat-kuat tenaganya.
Ketika tongkat baja putih Tohpati membentur kedua pedang
pendek Sidanti, terdengarlah gemerincing senjata-senjata itu.
Suaranya membelah sepi malam, membentur ujung rimba.
Demikian dahsyatnya sehingga bunga-bunga api memercik
keudara.
Tohpati terkejut mengalami benturan senjata itu. Apalagi
ketika dilihatnya Sidanti tetap ditempatnya, dan kedua
senjatanya masih ditangannya. Bahkan kemudian terdengar
anak muda murid Ki Tambak Wedi itu menggeram.
Alangkah marahnya Macan Kepatihan. Terasa bahwa
kekuatan Sidanti telah meningkat. Anak muda itu kini dapat
mengimbangi kekuatannya yang disalurkan pada ayunan
tongkat putihnya. Namun apa yang terjadi adalah suatu
peringatan baginya, bahwa lawannya kini bukanlah Sidanti
beberapa saat yang lampau.
Meskipun demikian, sebenarnya tangan Sidanti yang
melawan tongkat baja putih Macan Kepatihan, merasakan
arus kekuatan yang hampir melontarkan pedang-pedangnya.
Namun dengan menggeretakkan giginya, ia berhasil menahan
senjata-senjata itu, meskipun tangannya terasa nyeri. Dengan
demikian, maka Sidanti merasa, bahwa kekuatan Macan
Kepatihan masih belum dapat dikembarinya, namun ia masih
dapat membanggakan kelincahannya dan ketajaman ujung
pedangnya. Dengan sentuhan-sentuhan kecil, ia akan dapat
merobek kulit Macan Kepatihan itu. Namun apabila ia
tersentuh kepala tongkat Tohpati yang kekuning-kuningan dan
berbentuk tengkorak itu, maka tulang-tulangnyapun akan
dipecahkan.
Demikianlah maka mereka segera terlibat dalam sebuah
perkelahian yang sengit. Sidanti yang lincah meloncat-loncat
disekitar lawannya, seakan-akan bayangan hantu yang
sedang menari-narikan sebuah tarian maut. Namun lawannya
adalah seekor harimau yang garang. Betapa Macan Kepatihan
itu dengan tangguhnya melawan sambaran-sambaran pedang
Sidanti. Dilindunginya dirinya dengan tongkat putihnya, dan
sekali-sekali tongkatnya terjulur mematuk tubuh lawannya.
Namun Sidanti benar-benar seperti bayangan yang tidak
dapat disentuhnya.
Perkelahian itu semakin lama menjadi semakin cepat.
Macan Kepatihan yang garang itupun menjadi semakin
garang, sedang Sidanti yang lincah menjadi semakin lincah.
Kedua senjatanya dengan cepatnya menyambar seakan-akan
dari segala penjuru. Dengan kelincahannya, sekali-sekali
ujung pedangnya berhasil menyentuh tubuh Tohpati meskipun
hanya seujung rambut. Namun ujung rambut yang runcing itu
telah berhasil menggores kulit dan bahkan telah berhasil
meneteskan darah. Tetapi darah yang menetes dari luka itu
bahkan telah membakar kemarahan Tohpati. Wajahnya yang
membara seakan-akan menyala dalam kegelapan. Sehingga
tandangnyapun menjadi semakin dahsyat.
Ki Tambak Wedi untuk sesaat berdiri mematung melihat
muridnya bertempur. Mula-mula ia masih juga ragu-ragu,
apakah Sidanti dapat mengimbangi Tohpati. Namun kemudian
Ia tersenyum. Ia telah menemukan timbang-berat keduanya.
Meskipun Sidanti belum dapat menyamai Tohpati
sepenuhnya, namun masih dapat diharapkan, Tohpati berbuat
kesalahan-kesalahan kecil yang dapat membantu Sidanti
Seandainya tidak sekalipun, maka ia tidak perlu terlalu cemas,
bahwa muridnya akan dikalahkan oleh lawannya.
Ki Tambak Wedi itu kemudian mengangguk-angguk sambil
bergumam “Itulah murid Ki Tambak Wedi. He, adi Sumangkar,
apakah aku tidak berbangga karenanya?”
Sumangkar yang memperhatikan perkelahian itu berpaling.
Jawabnya “Ya, kakang dapat berbangga karenanya. Umurnya
masih cukup muda, sehingga perkembangannya dihari depan
akan menjadi semakin menggemparkan lereng Merapi”
Ki Tambak Wedi tertawa pendek. Sambil menganggukanggukkan
kepalanya terus ia berkata “Siapakah yang akan
menang diantara mereka?”
“Aku tidak tahu” jawab Sumangkar pula. “Mereka memiliki
kelebihan sendiri-sendiri. Meskipun demikian, muridmu masih
harus belajar sebulan dua bulan lagi dengan tekun, supaya ia
dapat mensejajarkan diri dengan angger Macan Kepatihan
sepenuhnya. Tetapi meskipun demikian, bukan berarti
muridmu kehilangan kesempatan untuk memenangkan
perkelahian ini”
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya. Perkelahian
diantara keduanya masih berjalan dengan serunya. Bahkan
semakin seru. Seperti angin pusaran mereka berputar-putar.
Tetapi semakin seru perkelahian itu semakin nampak, bahwa
sebenarnya Tohpati adalah seorang yang pilih tanding.
“Kau lihat perkembangan perkelahian itu?” bertanya
Sumangkar.
Ki Tambak Wedi mengerutkan keningnya kembali sambil
menjawab “Apakah kau sedang bergembira karena kau
melihat kelemahan muridku?”
“Ya” sahut Sumangkar pendek.
Tiba-tiba Ki Tambak Wedi tertawa. Tertawa
berkepanjangan dan sangat menyakitkan telinga. Diantara
suara tertawanya terdengar ia berkata “Meskipun tampak
kekurangan pada muridku, namun ia akan mempunyai cukup
waktu untuk menanti aku membunuhmu, adi”
Mendengar suara tertawa dan kata-kata Ki Tambak Wedi,
Sumangkar berpaling. Dilihatnya Ki Tambak Wedi masih
tertawa dan memandang muridnya yang sedang bertempur
itu. Namun Sumangkar sama sekali tidak terkejut.
“Kau mendengar kata-kataku adi?” tiba-tiba Ki Tambak
Wedi berteriak “Bahwa aku akan membunuhmu?”
Sumangkar mengangguk perlahan “Ya, aku mendengar”
sahutnya.
Namun ancaman Ki Tambak Wedi itu telah mempengaruhi
Macan Kepatihan yang sedang bertempur dengan Sidanti,
sehingga sambil mengayunkan tongkatnya dengan
dahsyatnya ia menggeram “Ki Tambak Wedi, biarlah aku
menyelesaikan persoalan ini dengan Sidanti. Paman
Sumangkar tidak akan ikut campur dalam hal ini”
“Benar ngger, pamanmu Sumangkar tidak ikut campur
dalam persoalan ini, tetapi ia pasti menghalangi aku
seandainya aku ingin membunuh angger pula bersama-sama
dengan muridku. Karena itu maafkan aku ngger. Aku terpaksa
membunuhnya. Sesudah itu untuk membunuh angger Macan
Kepatihan yang perkasa akan mejadi semudah seperti
membunuh seekor kelinci. Biarlah aku mendapat bintang jasa
didada, atau lebih baik Sidanti yang akan menyebut dirinya
telah membunuh Macan Kepatihan. Kepala angger akan kami
bawa sebagai bukti pekerjaan yang telah dilakukan oleh
Sidanti. Besok Sidanti akan menerima anugerah pangkat
Senapati dari Wiratamtama Pajang. Kalau mereka yang
membunuh adipati Jipang mendapat Mentaok dan Pati, maka
kami akan memilih daerah disebelah barat Mentaok, atau
daerah Wanakerta disebelah Pajang. Dari daerah-daerah itu
kami akan dapat menguasainya, atau apabila kami mendapat
Wanakerta, kami akan langsung menembus jantung Pajang”
“Diam” teriak Tohpati keras sekali. Suaranya mengguntur
menyobek kepekatan malam yang sunyi. Namun suara itu
ditimpa oleh gelak tertawa Ki Tambak Wedi “Bukankah itu
suatu rencana yang bagus? Aku lebih berpijak pada
kenyataan daripada angger Tohpati. Siapakah yang akan
dapat mengalahkan Pemanahan, Penjawi dan Adipati Jipang
itu didalam laskar angger? Ki Tambak Wedi akan dapat
menepuk dada melawan mereka. Karena itu jangan menyesal”
“Persetan dengan ocehanmu Tambak Wedi. Tetapi kau
benar-benar setan yang licik. Ayo, majulah bersama Sidanti,
Macan Kepatihan bukan seorang pengecut”
Suara Ki Tambak Wedi semakin berkepanjangan. Katanya
“Nah, kenapa angger menolak uluran tangan kami? Kalau
kami bekerja bersama, bukankah kami dapat membagi tanah
Demak ini? Angger mendapat Jipang, dan kami mendapat
Pajang dan Demak beserta daerah pesisir lainnya”
“Kau jangan banyak bicara pemimpi tua. Jipang bukanlah
tempat orang-orang yang hanya dapat mengantuk dan mimpi
seperti kau. Jipang mempunyai cukup kekuatan untuk
melawanmu. Apalagi Tohpati sendiri mampu membunuh kau
berdua sekarang ini”
“Jangan sombong ngger, jangan membual. Semakin
banyak kau membual, semakin tampak bahwa kau menjadi
berputus asa menjelang saat kematianmu yang nista”
Mendengar hinaan itu Macan Kepatihan menjadi marah
bukan buatan. Namun karena itu, maka tandangnya menjadi
terganggu. Dalam pada itu Sidanti mempergunakan saat itu
sebaik-baiknya, menyerang dengan segenap kemampuan dan
kelincahannya.
Macan Kepatihan menggeram keras sekali untuk
melepaskan kemarahan yang seolah-olah akan meledakkan
dadanya. Apalagi suara tertawa Ki Tambak Wedi masih saja
mengganggunya.
Namun Disela suara tertawa Ki Tambak Wedi itu kemudian
terdengar Sumangkar berkata “Angger Tohpati, kenapa
angger menjadi gelisah sehingga murid Tambak Wedi itu
mendapat kesempatan untuk memperpanjang nafasnya?
Dalam pengamatan kami Raden, maka Sidanti benar-benar
sudah hampir mati terjepit oleh kekuatan tongkat angger.
Namun karena angger terganggu oleh suara Ki Tambak Wedi,
maka Sidanti itu mampu bernafas kembali”
Sekali lagi Tohpati menggeram. Kata-kata Sumangkar telah
memperingatkannya, bahwa ia telah berbuat kesalahan.
Namun dalam pada itu kembali suara Ki Tambak Wedi “Suatu
peringatan yang baik. Peringatan yang terakhir dari adi
Sumangkar. Setelah ini maka adi akan mati aku cekik, dan
angger Tohpati akan mati pula untuk kemudian aku penggal
lehernya”
Kembali kegelisahan merambat dihati Tohpati. Namun
kemudian Sumangkar berkata lantang kepada Tohpati
“Jangan hiraukan aku ngger. Bukankah aku seorang juru
masak yang baik? Karena itu aku selalu membawa golok
pembelah kayu ini. Namun sebagai murid Kedung Jati,
sebagai saudara seperguruan Patih Mantahun, maka golok ini
akan dapat aku pergunakan untuk membelah dada Ki Tambak
Wedi yang sombong. Bukankah Sumangkar murid kedua dari
perguruan Kedung Jati yang tidak kalah besarnya dari
perguruan lereng Merapi?”
“Setan” desis Ki Tambak Wedi. Kini Ki Tambak Wedi itu
tidak tertawa lagi. Diamat-amatinya wajah Sumangkar didalam
keremangan cahaya bulan. Wajah itu masih tenang setenang
awan yang berlayar lembut dikebiruan langit “Kau merasa
dirimu setingkat dengan Ki Tambak Wedi?”
Sumangkar tidak menghiraukan pertanyaan itu, namun
kepada Tohpati ia berkata “Cekiklah Sidanti itu Raden.
Sementara itu biarlah aku akan menyumbat mulut pemimpi tua
itu dengan golokku”
Ternyata kata-kata Sumangkar itu memberi juga
ketenangan pada Macan Kepatihan. Disadarinya kemudian,
bahwa Sumangkar adalah saudara seperguruan gurunya
sendiri, sehingga karena itu Macan Kepatihan itu tersenyum
sendiri atas kegelisahan yang mencengkam dadanya. Kenapa
ia mencemaskan nasib Sumangkar juru masak yang malas
itu? Ia bukan seorang juru masak kebanyakan. Ia adalah
seorang murid dari perguruan Kedung Jati seperti juga
gurunya sendiri. Patih Mantahun yang sakti.
Dalam pada itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata
“Cecurut yang malang. Kau benar-benar jemu untuk hidup.
Bukankah Ki Tambak Wedi telah terkenal mampu menangkap
angin?”
Sumangkar tersenyum, jawabnya “Perguruan Kedung Jati
terkenal karena murid-muridnya mampu menyimpan nyawa
rangkapan didalam tubuhnya”
Ki Tambak Wedi menggeram penuh kemarahan. Apalagi
ketika dilihatnya bahwa Macan Kepatihan telah menemukan
keseimbangannya kembali. Sehingga karena itu maka katanya
“Kau juga pandai membual adi Sumangkar. Kalau murid
Kedung Jati dapat menyimpan nyawa rangkap didalam
tubuhnya, maka Patih Mantahun itu tidak akan mati terbunuh
meskipun harus bertempur melawan Ki Gede Pemanahan dan
Ki Penjawi atau Ki Juru Mertani ditambah Hadiwijaya dan
Ngabehi Loring Pasar”
Sumangkarlah yang kini tertawa menyakitkan hati. Dengan
renyah ia menjawab “Kau salah kakang. Mantahun waktu itu
hanya membawa nyawa rangkap tiga. Tetapi ia benar-benar
harus melawan lima orang sekaligus, Ki Gede Pemanahan, Ki
Penjawi, Karebet, Juru Mertani dan Sutawijaya dengan Kiai
Pered ditangannya. Nah, karena itulah maka ketiga nyawanya
terpaksa dilepaskan”
“Setan belang” umpat Ki Tambak Wedi “Jangan banyak
bicara. Sekarang kau harus dienyahkan”
Sumangkar memutar tubuhnya menghadap Ki Tambak
Wedi yang memandanginya seolah-olah biji matanya akan
meloncat dari kepalanya. Namun Sumangkar masih tetap
dalam ketenangan. Ia tahu, bahwa Ki Tambak Wedi adalah
seorang yang sakti pilih tanding. Tetapi ia tidak bernafsu untuk
mengalahkannya. Ia hanya harus bertahan, sampai Macan
Kepatihan menyelesaikan tugasnya. Setelah itu, maka ia akan
dapat menghindar bersama-sama dengan Macan Kepatihan.
Dan ia mengharap bahwa ia akan mampu melakukannya,
bertahan melampaui ketahanan Sidanti melawan Macan
Kepatihan.
Karena itu ketika Ki Tambak Wedi memakinya sekali lagi,
berkatalah Sumangkar “Kakang, aku sudah siap. Kali ini
akupun membawa nyawa tiga rangkap. Ayo mulailah. Kalau
kau berhasil membunuh aku satu kali, maka kedua nyawaku
yang lain akan mampu mencekik lehermu itu”
Ki Tambak Wedi tidak menjawab. Sekali ia menggeram dan
dengan dahsyatnya ia meloncat menerkam Sumangkar.
Namun Sumangkar sudah siap. Meskipun ia belum merasa
perlu untuk mempergunakan senjata, namun goloknya tidak
dapat diletakkannya dan tidak dapat terus disangkutkannya
pada ikat pinggangnya karena tidak berwrangka. Karena itu
maka sambil menghindar ia berkata “Kakang, sebenarnya aku
sama sekali tidak menganggap perlu mempergunakan senjata
ini. Namun terpaksa aku harus memeganginya terus supaya
senjata ini tidak hilang apabila aku letakkan. Sebab aku
sekarang adalah seorang juru masak. Aku perlu golok ini
untuk membelah kayu bakar”
Tetapi Sumangkar itu terkejut ketika terasa goloknya
menyentuh benda keras ditangan Ki Tambak Wedi. Barulah
kini ia sadar. Didalam kedua tangan hantu lereng Merapi itu
tergenggam sepasang gelang-gelang besi. Dengan gelanggelang
itu Ki Tambak Wedi menyambar golok Sumangkar.
Namun untunglah Sumangkar cepat menyadarinya, sehingga
goloknya tidak terloncat dari tangannya. Dengan demikian,
maka Sumangkar tidak dapat lagi berkelahi sambil membual.
Ia harus benar-benar bertempur dengan segenap
kewaspadaan dan kemampuan yang ada padanya.
Maka dalam keremangan cahaya bulan, tampaklah dua
lingkaran perkelahian yang semakin lama menjadi semakin
sengit. Ki Tambak Wedi yang menjadi amat marah itupun
bertempur dengan darah yang seolah-olah menyala
membakar seluruh tubuhnya. Sumangkar itu adalah sumber
kegagalannya malam ini. Kegagalan atas rencananya. Dan
kegagalan itu membuatnya sangat marah. Karena itu, maka Ki
Tambak Wedipun segera berusaha untuk menyingkirkan
Sumangkar supaya muridnya dapat membunuh Tohpati
meskipun ia harus membantunya. Pikirannya yang tiba-tiba
saja timbul untuk membunuh Tohpati dan membawa bukti
kematian itu ke Pajang, sangat mempengaruhinya. Dengan
demikian ia ingin Sidanti akan mendapat kepercayaan
melampaui kepercayaannya yang telah didapat Untara, sebab
apabila ia berhasil, maka telah membawa bukti kesetiannya,
sedang Untara dan Widura yang telah berjuang berbulanbulan
di Sangkal Putung sama sekali tidak mampu
menangkap Macan Kepatihan hidup atau mati.
Tetapi Sumangkar ternyata bukan seorang yang bermalasmalasan
saja. Ketika lawannya menjadi semakin dahsyat,
maka gerakannyapun menjadi semakin tangguh. Ternyata
murid kedua dari perguruan Kedung Jati itu tidak
mengecewakan. Ketika terasa olehnya bahwa kedua tangan
Ki Tambak Wedi seakan-akan terbalut oleh selapis baja, maka
Sumangkar tidak lagi segan-segan mempergunakan goloknya.
Meskipun golok itu golok pembelah kayu yang tidak setajam
pedang Sidanti, namun ditangan Sumangkar senjata itu
merupakan senjata yang cukup berbahaya.
Bulan dilangit beredar dengan lambannya. Sepotongsepotong
awan mengalir keutara dihembus angin lembah
yang lembut. Betapa dinginnya malam namun keempat orang
yang sedang berjuang antara hidup dan mati itu telah basah
oleh keringat yang mengalir dari segenap lubang-lubang
dipermukaan kulit mereka. Dan ketika tubuh-tubuh mereka
telah menjadi basah, maka gerak merekapun menjadi semakin
cepat dan semakin lincah.
Sidanti kini benar-benar telah menemukan nilai-nilai baru
didalam tata geraknya. Unsur-unsur yang dapat memberinya
kekuatan dan kelincahan. Kakinya melontar-lontar dengan
cepatnya membawa tubuhnya yang seakan-akan tidak
memiliki berat. Seperti seonggok kapuk yang diputar angin
pusaran, sekali melenting tinggi, kemudian menukik
menyambar dengan sepasang pedang pendeknya.
Tohpati kini terpaksa melawannya dengan sepenuh
kemampuannya. Bahkan kadang-kadang ia menjadi bingung
melihat gerak Sidanti. Tetapi Macan Kepatihan adalah
seorang yang memiliki pengalaman yang sangat luas,
sehingga sesaat kemudian ia telah berhasil menemukan
keseimbangannya kembali. Meskipun terasa juga, kadangkadang
ujung pedang Sidanti berhasil menggores kulitnya dan
meneteskan darahnya, namun kini ia tidak menjadi cemas.
Apabila sekali ia mencoba melihat perkelahian antara Ki
Tambak Wedi dan Sumangkar, maka terasa olehnya, bahwa
keduanyapun mempunyai ilmu yang dapat disejajarkan,
sehingga karenanya maka ia tidak perlu memecah
perhatiannya, mencemaskan nasib Sumangkar.Demikianlah,
mereka berempat telah memeras tenaga masing-masing. Ki
Tambak Wedi terpaksa mengakui, bahwa murid kedua
perguruan Kedung Jati benar-benar mampu melawannya.
Meskipun senjata yang dipergunakan bukanlah senjata ciri
perguruan Kedung Jati, namun senjata seadanya itu benarbenar
dapat membantu Sumangkar memperpanjang umurnya.
***
Golok yang kehitam-hitaman ditangannya itu, berputaran,
sekali mematuk, sekali menebas menyambar seperti hendak
menebang roboh tubuh Ki Tambak Wedi itu. Namun hampir
disetiap kesempatan Ki Tambak Wedi dengan beraninya
memukul golok lawannya dengan tangannya yang terlindung
oleh sepasang gelang baja. Dalam benturan-benturan yang
terjadi itu, maka menyalalah bunga api memercik keudara.
Setiap kali terjadi benturan, senjata Sumangkar, golok
pembelah kayunya mengalami luka dibagian tajamnya,
sehingga kemudian mata golok yang memang bukan senjata
buatan khusus itu, menjadi semacam mata gergaji. Namun
dengan demikian, maka setiap goresan akan mampu
menyobek kulit dengan bekas yang tersayat-sayat.
Ki Tambak Wedipun kemudian terpaksa berjuang dengan
sengitnya untuk segera mengalahkan Sumangkar. Namun
Sumangkar tidak mau menerima keadaan dengan kedua
tangan ngapurancang, Tetapi sepasang tangannya berjuang
sekuat-kuat tenaganya, tenaga murid kedua perguruan
Kedung Jati. Goloknya kadang-kadang menyambar dalam
genggaman tangan kanannya, namun kemudian mematuk
dalam kelincahan tangan kirinya.
“Demit, tetekan” Ki Tambak Wedi tak habis-habisnya
mengumpat. Tetapi lawannya sama sekali tidak takut
mendengar umpatan itu, bahkan dengan serunya Sumangkar
melawannya tanpa mengenal lelah.
Keduanya adalah orang-orang sakti yang pilih tanding.
Keduanya adalah orang-orang tua yang telah hampir merasa
dirinya harus beristirahat dan menyerahkan segala persoalan
kepada mereka yang masih muda. Namun pada saat-saat
terkhir, mereka masih harus melindungi anak-anak muda yang
mereka anggap akan dapat meneruskan umur mereka. Ki
Tambak Wedi, seorang guru yang terlalu bangga akan
muridnya dan terlalu jangkaunya, sedang Sumangkar melihat
Tohpati adalah penerus perguruannya, lewat kakak
seperguruan. Karena itu maka seandainya anak muda itu
lenyap, lenyap pulalah ajaran-ajaran perguruan Kedung Jati
yang pernah terkenal karena orang menyangka bahwa muridmurid
perguruan Kedung Jati tidak dapat mati, karena memiliki
nyawa rangkap. Sedang perguruan lereng Merapi yang
terkenal seakan-akan setiap muridnya mampu menangkap
angin.
Dipihak lain, Sidanti bertempur dengan sepenuh tekad
melawan Macan Kepatihan. Kali ini ia akan menebus
kekalahannya pada saat ia berhadapan dengan Macan
Kepatihan itu. Seperti juga gurunya, ia benar-benar ingin
membunuh Tohpati. Membawa kepalanya ke Pajang dan
mengharap hadiah daripadanya, seperti hadiah yang akan
diterima oleh mereka yang berhasil membunuh Arya
Penangsang, tanah mentaok dan Pati. Kalau ia membunuh
Macan Kepatihan, maka setidak-tidaknya ia akan menerima
hadiah separo dari mereka yang membunuh Arya
Penangsang.
Dengan harapan itu, serta pangkat yang akan melampaui
pangkat Untara, maka Sidanti berjuang sekuat-kuat
tenaganya.
Namun ternyata Macan Kepatihan tidak menyerahkan
lehernya begitu saja. Bahkan semakin lama Tohpati seakanakan
menjadi semakin segar. Tongkatnya menjadi semakin
cepat bergerak menyambar-nyambar seperti burung garuda
yang bertempur diudara.
Mula-mula Sidanti berbangga dengan kemenangankemenangan
kecilnya. Ketika sekali dua kali ujung pedangnya
mampu meneteskan darah dari tubuh Tohpati. Namun
kemudian terasa, bahwa kulitnya pasti menjadi merah biru
pula. Setiap sentuhan ujung tongkat Macan Kepatihan yang
berbentuk tengkorak itu, seakan-akan benar-benar
memecahkan tulangnya. Meskipun ia selalu dapat
menghindarkan dirinya dari benturan langsung, atau dengan
sepasang senjatanya menghentikan ayunan tongkat
lawannya, namun terasa tongkat itu menyengat-nyengat
tubuhnya semakin lama semakin sering. Sehingga dengan
demikian, maka Sidanti kemudian tidak lagi dapat
membanggakan kelebihan-kelebihan yang ada padanya.
Betapa ia menjadi semakin lincah disaat-saat terkhir, namun
lawannyapun ternyata cukup tangguh untuk mengimbanginya.
Karena itulah maka perkelahian itu semakin lama menjadi
semakin seru. Ketika bulan menjadi semakin merendah
kegaris cakrawala diujung barat, maka mereka yang
bertempur itu semakin ngetok kekuatan. Mereka tidak mau
masing-masing menjadi korban dari perkelahian itu, dan
mereka masing-masing berusaha untuk mengalahkan
lawannya sebelum pasangannya dapat dikalahkan.
Tetapi kemudian, perkelahian itu menjadi terganggu
karenanya. Dikejauhan mereka melihat tiga bayangan yang
bergerak-gerak dalam keremangan cahaya bulan. Tiga
bayangan manusia yang datang mendekat daerah perkelahian
itu.
Baik Ki Tambak Wedi maupun Sumangkar bertanya-tanya
didalam hati mereka, siapakah mereka, orang-orang yang
mendatangi itu. Tohpati dan Sidantipun kemudian melihat
mereka pula. Karena itu, maka mereka menjadi berdebardebar.
Tetapi mereka tidak dapat menghentikan perkelahian
itu. Perkelahian itu adalah perkelahian antara hidup dan mati.
Namun kalau yang datang itu kawan dari salah satu pihak,
maka keseimbangan perkelahian itu akan terganggu.
Sesaat Tohpati menggeram keras sekali. Tiba-tiba ia
memperketat tekanannya. Ia melihat satu tenaga cadangan
yang akan mampu mempercepat penyelesaiannya. Kalau ia
mengerahkan tenaganya dan berhasil, maka perkelahian itu
akan menjadi semakin cepat selesai. Tetapi kalau tidak, maka
akibatnya ia akan menjadi lebih dahulu kelelahan dan mungkin
ia akan menjadi korban. Namun ia tidak dapat berbuat lain.
Ketiga bayangan yang menjadi semakin dekat itu benar-benar
mengganggunya.
Akibatnya terasa pula oleh Sidanti. Serangan Macan
Kepatihan menjadi bertambah dahsyat. Sedahsyat angin
prahara yang melanda tebing pegunungan, menggetarkan
pepohonan dan menggugurkan daun-daunnya. Sekali Sidanti
terpaksa meloncat surut, namun Tohpati mengejarnya terus.
Serangan Sidanti itu serasa benar-benar menyusup dari
segenap arah, mematuk seluruh bagian tubuhnya. Dengan
demikian maka Sidantipun terseret kedalam pencurahan
segenap tenaga, segenap kekuatan dan segenap
kemampuannya. Namun, meskipun demikian, maka amat
sulitlah baginya untuk segera dapat membebaskan diri dari
belitan serangan Tohpati yang seperti lesus itu.
Pada saat-saat terakhir, Ki Tambak Wedi sebenarnya telah
menemukan segi-segi lawannya. Betapapun saktinya
Sumangkar, namun pada orang tua itu masih terdapat
beberapa kelemahan. Apalagi ketika pada saat-saat terakhir ia
lebih senang tinggal didapur saja, maka nafsunya untuk
bertempur tidak sehangat Ki Tambak Wedi lagi. Meskipun
Sumangkar mampu mengimmbangi hampir setiap usaha Ki
Tambak Wedi untuk menembus pertahanannya, namun
lambat laun, terasa bahwa Ki Tambak Wedi masih selapis
berada diatas Sumangkar.
Tetapi pada sat yang demikian, pada saat Ki Tambak Wedi
memperkuat tekanannya untuk segera mengakhiri perkelahian
itu, supaya ia sempat memenggal leher Tohpati, maka pada
saat yang demikian itu pula, Sidanti terpaksa beberapa kali
beringsut surut.
“Gila” desis Ki Tambak Wedi itu “Macan Kepatihan benarbenar
berkelahi seperti seekor harimau jantan yang garang”
Dengan menggeram keras sekali ia mencoba mengakhiri
perkelahiannya dengan Sumangkar, ketika dengan tangan
kirinya ia memukul golok Sumangkar kesamping, dan dengan
tangannya yang lain, Ki Tambak Wedi berusaha memecahkan
kepala lawannya itu. Namun usahanya masih belum berhasil,
Sumangkar masih mampu menggenggam golok itu
ditangannya, dan masih mampu melontar kesamping sambil
merendahkan dirinya, sehingga tangan Ki Tambak Wedi yang
berlapis baja itu terbang beberapa jari dari kepalanya. Sesaat
kemudian ketika Ki Tambak Wedi berusaha menerkamnya,
maka Sumangkar sudah mampu mempersiapkan dirinya, dan
menjulurkan goloknya dimuka dadanya. Bahkan kemudian
ketika Ki Tambak Wedi mengurungkan serangannya,
Sumangkarlah yang meloncat maju dengan sebuah ayunan
pendek.
Namun kembali Ki Tambak Wedi mengumpat didalam
hatinya. Kini ia benar-benar melihat muridnya dalam kesulitan.
Karena itu maka mau tidak mau ia harus membagi
perhatiannya. Namun karena orang tua itu memiliki
pengalaman yang bertimbun-timbun didalam perbendaharaan
ilmunya, maka segera ia menemukan jalan untuk
menyelamatkan muridnya tanpa mengorbankan
kehormatannya. Dengan lantang kemudian ia berkata “Ayo,
meskipun Macan Kepatihan bukan muridmu Sumangkar,
namun ia adalah murid saudara seperguruanmu, sehingga
ilmumu berdua bersumber dari perguruan yang sama. Kalau
ternyata kau tidak mampu melawan aku seorang diri, marilah,
aku beri kesempatan kalian bertempur berpasangan. Muridku
pasti akan senang juga melayanimu dengan cara itu”
“Kau licik” sahut Sumangkar “Agaknya kau telah melihat
bahwa muridmu telah hampir sampai pada titik ajalnya”
“Persetan, aku sobek mulutmu itu”
“Silakanlah kakang” jawab Sumangkar.
Ki Tambak Wedi menggeretakkan giginya. Namun ia tidak
merubah rencana. Langsung ia melepaskan Sumangkar dan
berlari kearah Sidanti yang semakin terdesak. Dengan
demikian maka Sumangkar tidak dapat berbuat lain daripada
berlari pula mengejar Ki Tambak Wedi itu.
Sesaat kemudian maka mereka terlibat dalam pertempuran
berpasangan. Mula-mula Sumangkar dan Tohpati agak
canggung juga menyesuaikan diri masing-masing, namun
karena mereka bersumber pada ilmu yang sama, maka
segera mereka menemukan titik-titik yang dapat membuka
kemungkinan-kemungkinan seterusnya.
Dalam pada itu, ketika mereka telah luluh dalam satu
lingkaran perkelahian, maka bayangan yang datang
mendekati mereka menjadi semakin dekat. Mereka berjalan
perlahan-lahan dengan penuh kebimbangan. Setapak mereka
maju, dan sesaat mereka berhenti. Sejenak mereka maju lagi,
namun dua tiga langkah mereka kembali tegak mengawasi
perkelahian yang semakin seru.
“Mereka bertempur berpasangan” berkata salah seorang
dari mereka.
“Ya. Salah satu pihak sedang mencari keseimbangan”
jawab yang lain.
“Siapakah mereka?”
Tak seorangpun yang dapat menjawab. Namun salah
seorang dari mereka berkata “Marilah kita mendekat”
Mereka berjalan maju lagi. Langkah mereka terayun satusatu
diantara rumput-rumput liar. Ragu-ragu dan penuh
kewaspadaan, Namun kemudian mereka berhentu pada jarak
yang tidak terlalu dekat.
“Dahsyat” terdengar salah seorang bergumam.
“Ya” sahut yang lain.
Dan yang lain lagi berkata “Aku sangak, mereka adalah
guru dan murid saling berpasangan. Dua perguruan bertemu
dipadang rumput ini”
Namun sesaat kemudian mereka bertiga mengerutkan
kening mereka. Hampir bersamaan mereka dapat melihat
semakin jelas ketika mereka sudah menjadi lebih dekat lagi.
Perlahan-lahan disela deru angin malam terdengar salah
seorang berdesis “Macan Kepatihan”
Yang lain mengangguk-anggukkan kepala mereka. Tongkat
baja putihnya, yang berkilat-kilat dikeremangan cahaya bulan
yang hampir tenggelam telah menunjukkan kepada mereka,
siapakah salah seorang dari mereka yang sedang bertempur
itu.
Namun kemudian timbullah kebimbangan dihati mereka
bertiga. Salah seorang berkata “Macan Kepatihan bertempur
berpasangan. Siapakah yang seorang itu? Bukankah guru
Macan Kepatihan itu Patih Mantahun? Dan Patih Mantahun itu
telah mati terbunuh?”
Salah seorang bergumam lirih “Perguruan Kedung Jati
terkenal, bahwa murid-muridnya mampu menyimpan nyawa
rangkap didalam tubuhnya”
“Aku juga mendengar itu” sahut yang lain.
Tetapi yang seorang lagi tertawa perlahan-lahan.
Gumamnya “Sebuah dongeng untuk menidurkan anak-anak
disenja hari”
Kedua orang yang lain saling berpandangan sesaat,
seolah-olah mereka tidak mengerti, kenapa yang seorang itu
sama sekali tidak menaruh perhatian atas berita tentang
nyawa yang rangkap itu.
“Apakah kalian percaya bahwa ada seorang yang mampu
menyimpan nyawa rangkap didalam dirinya? Aji Pancasonea
barangkali? Nah, kalau kalian percaya, atau setidak-tidaknya
bimbang akan hal itu, mulailah sejak ini menganggap bahwa
itu hanya sebuah dongengan semata-mata. Dan hal itupun
terbukti pula, bahwa Patih Mantahun tidak lagi bangkit dari
kuburnya”
Kedua orang yang lain kini berdiam diri. Namun mata
mereka tajam menatap pasangan-pasangan yang sedang
bertempur dengan serunya. Dalam keremangan cahaya
bulam, maka mereka seolah-olah hanya melihat bayanganbayangan
hitam yang berputaran dan berbenturan, disela-sela
cahaya keputih-putihan yang memantul dari tongkat putih
Macan Kepatihan dan sekali-sekali gemerlapnya pedang
Sidanti. Golok Sumangkar yang kehitam-hitaman bahkan
disana sini tampak berkarat, sama sekali tidak mampu
memantulkan cahaya bulan yang semakin rendah.
“Apakah kalian ingin melihat lebih jelas?” terdengar salah
seorang bertanya.
“Marilah Kiai” jawab yang lain.
Orang yang mengajak itu mengangguk-anggukkan
kepalanya. Kainnya yang bercorak gringsing menutupi
sebagian tubuhnya sedang kedua orang yang lain, berjalan
dibelakangnya dengan penuh kewaspadaan. Mereka adalah
dua orang anak muda yang sebaya. Yang seorang bertubuh
sedang dan yang lain pendek gemuk hampir bulat. Dilambung
mereka masing-masing tergantung sehelai pedang. Namun
dilambung orang yang berjalan dipaling depan dan bahkan
kedua anak-anak muda itu, melingkar sebuah cambuk yang
bertangkai pendek dan berujung janget.
Ternyata orang yang pertama, yang berkain gringsing itu,
telah menuntun mereka untuk mempergunakan senjata, ciri
perguruannya, disamping senjata yang disukainya. Cambuk
yang bertangkai tidak lebih dari sejengkal dan ujungnya
berjuntai agak panjang, terbuat dari tambang kulit yang sangat
kuat beranyam rangkap tiga ganda. Lemas namun kuatnya
bukan main.
Tiba-tiba orang yang berkain gringsing itu berkata
“Kemarilah ngger”
Kedua anak muda yang berjalan dibelakangnya segera
berdiri disampingnya sebelah menyebelah.
“Apakah kalian kenal yang seorang lagi?”
Keduanya mengerutkan kening mereka dan mempertajam
pandangan mata mereka. Tiba-tiba mereka berdesis “Sidanti”
“Ya, Sidanti” berkata orang yang berkain gringsing “Yang
seorang pasti Ki Tambak Wedi”
Dua orang anak muda, Agung Sedayu dan Swandaru,
mengangguk-anggukkan kepala mereka. Perlahan-lahan
mereka berdesis “Kiai, lalu siapakah yang seorang lagi,
pasangan Macan Kepatihan itu?”
Kiai Gringsing, yang oleh murid-muridnya lebih dikenal
dengan nama Ki Tanu Metir menjawab “Aku belum tahu,
siapakah orang itu. Aku masih belum dapat mengenalnya.
Seandainya ia adalah seorang yang telah pernah terkenal
didaerah ini, atau daerah Pajang, mungkin aku dapat
menyebut namanya”
Kedua muridnya mengangguk-anggukkan kepala mereka.
Kini mereka menjadi semakin berani. Apabila salah satu pihak
dari mereka adalah Sidanti dan Ki Tambak Wedi, sedang
dipihak lain dalam keadaan yang seimbang melayaninya,
maka bersama guru mereka, mereka tidak akan menjadi
cemas lagi siapapun yang sedang bertempur itu. Karena itu
maka Agung Sedayu kemudian berkata “Marilah kita dekati
Kiai. Aku ingin melihat dengan pasti siapakah yang tengah
bertempur itu”
Kiai Gringsing mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia menjawab “Marilah. Tetapi berhati-hatilah. Siapa
tahu bahwa mereka akan memilih lawan. Dan pilihan itu jatuh
kepada kita”
Swandaru tersenyum. Selangkah ia maju. Tetapi ia segera
berhenti ketika ia melihat perkelahian itu cepat bergeser dari
tempatnya.
“Kenapa?” desisnya. “Apakah ada perubahan dari
keseimbangan mereka?”
Tetapi ternyata perkelahian itu segera berjalan kembali
dengan sengitnya.
Mereka hanya bergerak sekedar menemukan bentuk yang
baru dari daerah perkelahian serta letak pasangan dari antara
mereka.
Namun waktu yang sesaat itu telah menggoncangkan hati
Kiai Gringsing. Pada saat yang demikian itu, ia mengenal,
siapakah seorang lagi, yang selama ini menjadi teka-teki
diantara murid-muridnya. Namun untuk meyakinkannya, ia
dengan serta-merta melangkah maju lagi beberapa langkah,
sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat, bahkan terlalu
dekat.
Yang sedang bertempur itupun kemudian terkejut melihat
kehadiran mereka yang terlalu dekat itu. Apalagi dengan
demikian segera mereka mengenal siapakah orang-orang
yang datang mendekat. Yang pertama-tama berteriak diantara
mereka adalah justru Ki Tambak Wedi “He, orang yang
menamakan diri Kiai Gringsing , apakah kerjamu disini?”
Kiai Gringsing tidak menjawab. Matanya sedang menekuni
gerak seorang lagi diantara mereka yang selama ini tak
pernah disangkanya akan bertemu kembali. Tiba-tiba
terdengar ia bergumam “Sumangkar, murid kedua dari
perguruan Kedung Jati”
“He, siapakah kau?” sahut Sumangkar yang mendengar
namanya disebut-sebut.
“Bertanyalah kepada Ki Tambak Wedi” sahut Kiai Gringsing
“Aku mendengar ia menyebutmu Kiai Gringsing. Siapakah
sebenarnya kau ini?”
“Itulah aku sebenarnya”
Sumangkar masih mau berkata lagi. Tetapi tiba-tiba
terdengar Tohpati berteriak “He, bukankah kalian orang-orang
yang aku temukan ditengah kali itu? Yang gemuk itu, yang
satunya dan apakah kau orang tua itu pula?”
“Ya, akulah itu” jawab Kiai Gringsing.
Ternyata dada Tohpati berdesir mendengar pengakuan itu,
meskipun hal itu telah diketahuinya atau setidak-tidaknya telah
digambarkannya. Sehingga karena itu ia berkata “Aku sudah
menyangka. Kalau aku tahu bahwa kalian orang-orang aneh
dari Sangkal Putung, maka pada saat itu kalian pasti telah aku
bunuh”
“Apa salah kami?” teriak Kiai Gringsing “Dan karena itu
pula agaknya waktu itu kami tidak mengaku orang-orang
aneh”
“Gila!” teriak Tohpati “Jangan mengigau, nanti akan datang
giliran kalian untuk aku bunuh setelah musuh-musuhku ini
mati”
Yang terdengar adalah suara tertawa Ki Tambak Wedi.
Sementara itu mereka basih bertempur dengan serunya. Dan
diantara derai tertawa itu terdengar Ki Tambak Wedi berkata
“Jangan sombong Macan Kepatihan yang gagah perkasa.
Mungkin kalian berdua mampu membunuh kami, tetapi orangorang
itu?”
Macan Kepatihan benar-benar terkejut mendengar katakata
Ki Tambak Wedi yang biasanya terlalu menyombongkan
diri. Tetapi ia tidak segera bertanya lagi. Tekanan Ki Tambak
Wedi bahkan menjadi semakin mendesak.
Dalam kesibukan perkelahian itu yang terdengar kemudian
adalah geram Sidanti penuh kemarahan “Agung Sedayu,
musuh bebuyutan, apakah kau sudah jemu hidup sehingga
kau berani mendatangi tempat ini, dimana aku dan guruku
sedang berpesta? Kedatanganmu akan merupakan hadiah
terbesar bagiku sesudah kepala Tohpati malam ini”
Ketika Agung Sedayu hampir membuka mulutnya untuk
menjawab maka terasa lengannya digamit oleh gurunya.
Dengan serta-merta ia mengurungkan niatnya sambil
berpaling kepada gurunya, untuk mendapat penjelasan.
Namun Kiai Gringsing itu hanya mengangkat dagunya kearah
perkelahian itu. Dalam kebimbangan Agung Sedayu menuruti
arah itu. Barulah kemudian ia tahu maksud gurunya, bahwa
kata-kata Sidanti itu pasti akan menyinggung perasaan
Tohpati pula. Dan Kiai Gringsing mengharap biarlah Macan
Kepatihan itulah yang menjawab.
Sebenarnyalah kemudian Macan Kepatihan menggeram
“Gila kau Sidanti, kau sangka bahwa Macan Kepatihan sama
murahnya dengan kepalamu?”
“Jangan marah ngger” sahut Ki Tambak Wedi “Sidanti
hanya berkata sebenarnya”
Betapa marahnya Macan Kepatihan mendengar
penghinaan itu. Namun kemudian terdengar Sumangkar
berkata tenang “He orang yang menamakan dirinya Kiai
Gringsing, kau lihat, bahwa ditempat ini terjadi dua macam
perkelahian? Yang pertama perkelahian jasmaniah. Kami
masing-masing telah bertempur dengan sekuat-kuat tenaga
kami, namun belum ada diantara kami yang dapat dikalahkan
oleh pihak yang lain, Sedang perkelahian yang kedua adalah
perkelahian mulut. Kami masing-masing mencoba saling
menyombongkan diri kami. Kami masing-masing berkata
bahwa kami akan membunuh lawan-lawan kami. Kalau itu
mampu lakukan, maka sudah pasti kami lakukan. Tetapi
ternyata seperti yang kau lihat. Kami masih bertempur matimatian
sehingga kami harus tertawa mendengar suara kami
sendiri. Karena itu Kiai, kalau Kiai masih ingin menonton,
menontonlah dengan tenang. Waktu masih panjang. Kalau
ada diantara kami yang akan memusuhi Kiai, maka itu masih
harus melalui waktu yang cukup banyak untuk mengalahkan
lawan-lawan kami”
Ki Tambak Wedi dan Sidanti menggeram mendengar katakata
itu, bahkan Tohpati sendiri menggertakkan giginya.
Namun dengan demikian mereka tidak lagi berteriak-teriak
dan saling mengancam. Mereka kini memusatkan tenaga
mereka dalam pertempuran yang terjadi. Namun meskipun
demikian hati mereka telah digelisahkan oleh kehadiran Kiai
Gringsing dengan murid-muridnya. Mereka mempunyai
persoalan sendiri-sendiri terhadap mereka. Tohpati menyadari
bahwa diantara orang-orang itu terdapat orang-orang Sangkal
Putung. Namun justru karena itu ia mulai menimbangnimbang.
Kalau tidak ada persoalan diantara mereka dengan
Sidanti, maka mereka pasti akan membantu Sidanti. Karena
itu maka kehadiran mereka benar-benar mempengaruhi
perasaannya. Dalam pada itu, Ki Tambak Wedipun menjadi
gelisah. Disadarinya bahwa orang yang menyebut dirinya Kiai
Gringsing itu tidak dapat dikalahkan. Ternyata Kiai Gringsing
telah mengambil lawan Sidanti menjadi muridnya. Dengan
demikian maka apabila terpaksa mereka harus berhadapan
saat itu, maka tidak akan dapat memberinya kesempatan apaapa.
Yang terdengar kemudian adalah suara Kiai Gringsing. Kiai
Gringsing senang mendengar kejujuran sikap Sumangkar,
sehingga menyahut “Kau benar-benar murid kedua perguruan
Kedung Jati yang perkasa. Aku terpaksa tertawa mendengar
pengakuanmu. Dan aku akan mencoba memenuhinya. Duduk
disini sambil melihat kalian berkelahi”
“Gila!” teriak Ki Tambak Wedi, namun suaranya segera
tenggelam dalam kata-kata Sumangkar “Silakan Kiai, silakan.
Kiai akan dapat menilai, sampai sejauh mana ekmungkinan
yang ada dikedua belah pihak. Dan kira-kira Kiai akan lebih
senang melawan pihak yang mana? Bukankah dengan
demikian Kiai dapat berbuat sesuatu?”
Kembali Kiai Gringsing tertawa, jawabnya “Tidak, aku tidak
berpihak. Aku tidak akan berpihak pada yang lemah untuk
nanti mendapatkan lawan yang lemah itu”
Sumangkar tertawa pendek. Sekali ia harus meloncat
kesamping untuk menghindari sambaran tangan Ki Tambak
Wedi. Namun ia harus segera menggeliat pula, ketika
dilihatnya pedang Sidanti menjulur mematuk lambungnya.
Namun ketika Ki Tambak Wedi akan menyerangnya kembali,
segera Sumangkar meloncat dan memutar golok ditangannya.
Ia tidak perlu memperhatikan Sidanti lagi, karena dengan
serta-merta, tongkat Macan Kepatihan menyambar lengan
anak muda itu, sehingga ia terpaksa meloncat surut.
Namun dalam pada itu, timbullah banyak pertimbangan
dikepala Tohpati. Seandainya perkelahian itu dibiarkannya
berjalan dalam keseimbangan, maka semalam suntuk mereka
pasti tidak akan menemukan penyelesaian. Bahkan mungkin
pada saat-saat mereka hampir mati kekelahan, pada saat
itulah Kiai Gringsing baru tampil ke gelanggang.
Karena itu, maka segera timbul banyak pertimbangan
dikepala Macan Kepatihan. Ia sendiri tidak yakin, apakah yang
dapat dilakukan oleh Kiai Gringsing. Apakah ia akan berpihak
ataukah ia akan melawan segala pihak. Namun keadaannya
pasti akan menjadi paling baik. Seperti tantangan Sumangkar,
Kiai Gringsing dapat berpihak yang dianggapnya paling lemah
untuk membinasakan yang kuat, supaya apabila kemudian
terpaksa bagi Kiai Gringsing untuk bertempur, maka
musuhnya adalah pihak yang lemah. Namun agaknya
permusuhan telah terjadi antara Kiai Gringsing dan Ki Tambak
Wedi seperti halnya murid-muridnya dikedua belah pihak.
Apakah permusuhan itulah yang menyebabkan Sidanti
meninggalkan Sangkal Putung? Sekali-sekali terlintas juga
didalam benaknya untuk melawan saja Kiai Gringsing
bersama muridnya itu bersama-sama dengan Sidanti dan
gurunya dalam satu gabungan kekuatan, maka pasti Kiai
Gringsing dapat dikalahkan. Namun kemudian Tohpati itu
menjadi ragu-ragu pula. Meskipun hatinya cenderung berbuat
demikian. Sebab apabila yang tinggal adalah mereka
berempat, maka kekuatan mereka pasti akan tetap seimbang.
Dalam keragu-raguan itu tiba-tiba Tohpati mendengar
tawaran Ki Tambak Wedi yang agaknya mempunyai pikiran
yang sama, sehingga tawaran itu benar-benar mengejutkan
Macan Kepatihan “He, angger Tohpati yang perwira. Orang
baru itu adalah musuhku bebuyutan. Sedangkan apa yang kita
lakukan adalah suatu permainan yang tidak berarti apa-apa.
karena itu, apakah tidak sebaiknya kita hentikan permainan
ini, dan kita binasakan saja lawan kita yang berbahaya itu
bersama-sama. Kemudian baiklah permainan ini kita lanjutkan
kembali?”
Tohpati mengerutkan keningnya. Semula ia tidak yakin
akan tawaran Ki Tambak Wedi, namun kemudian tampaklah
serangan-serangan Ki Tambak Wedi mengendor, sehingga
Tohpati menjadi ragu-ragu dan bertanya “Apakah
pertimbanganmu?”
Ki Tambak Wedi tertawa, jawabnya “Sebenarnyalah kita
sudah dapat mengetahui keadaan kita masing-masing. Juga
Kiai Gringsing itu pasti tahu, kenapa kita akan menyatukan
kekuatan kita. Bukankah dengan demikian kita akan dapat
meneruskan permainan ini tanpa terganggu dan tanpa
menunggu kemungkinan yang paling buruk? Membiarkan Kiai
Gringsing menunggu kita masing-masing mati kelelahan?”
Sekali lagi Tohpati dilanda oleh keragu-raguan. Sementara
itu, Swandaru dan Agung Sedayu yang mendengar tawaran Ki
Tambak Wedi itu segera meraba hulu pedang masing-masing.
Tanpa berpikir akibat yang akan terjadi maka tiba-tiba
Swandaru tertawa sambil berkata “Kiai, kita akan mendapat
latihan yang baik”Kiai Gringsing mengerutkan keningnya.
Ditatapnya wajah Swandaru dan Agung Sedayu bergantiganti.
Tiba-tiba ia menjadi cemas. Mungkin Agung Sedayu
dapat mempertahankan dirinya melawan Sidanti atau Tohpati
sekalipun dalam taraf kekuatannya kini setelah ia maju
dengan pesatnya.
***
Namun Swandaru masih belum dapat disejajarkan dengan
salah seorang dari mereka. Apalagi kalau kekuatan mereka
digabung, maka Sumangkar dan Ki Tambak Wedi akan
menjadi lawan yang amat berat meskipun kekuatan mereka
telah menunjukkan tanda-tanda menurun karena perjuangan
yang berat diantara mereka.
Tetapi Swandaru yang sedang berkembang itu tidak dapat
menimbang berat ringan orang-orang yang dihadapinya. Ia
masih dalam tingkatan ingin mencoba segala kemampuan
yangada dididalam dirinya. Apalagi kini dihadapannya berdiri
Sidanti dan Tohpati. Ia ingin menakar diri. Apakah
kekuatannya sudah seimbang dengan Tohpati atau Sidanti?
Dalam kesibukan berpikir itu, Kiai Gringsing mendengar
Sumangkar menjawab tawaran Ki Tambak Wedi sebelum
Tohpati mengambil keputusan “Ki Tambak Wedi, dihadapan
kami berdiri Ki Tambak Wedi dan Sidanti. Kini datang Kiai
Gringsing dengan kedua muridnya, anak-anak Sangkal
Putung. Adakah itu suatu kebetulan? Apakah Ki Tambak Wedi
sudah menyediakan perangkap untuk menjebak kami
berdua?”
Ingatan Tohpati benar-benar seperti tersengat lebah
mendengar kata-kata itu. Alangkah mengejutkan meskipun
seharusnya kemungkinan itu telah dipertimbangkannya. Ya,
seandainya mereka telah merencanakan itu, alangkah
bodohnya. Kalau ia menerima tawaran Ki Tambak Wedi,
kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti mengkhianatinya
dalam perkelahian itu, maka membunuh Tohpati akan sama
mudahnya dengan memijat bji ranti. Karena itu tiba-tiba
Tohpati menggeram dengan marahnya. Katanya “Hem.
Ternyata kalian adalah orang-orang yang sangat licik. Kalian
berpura-pura saling bertentangan antara kedua pihak guru
dan murid sekali. Tetapi ternyata kalian telah menjebak kami.
Tetapi jangan kalian sangka Tohpati akan menyerah. Tohpati
hanya menyerah apabila Tohpati telah menjadi mayat”
Ki Tambak Wedi mengumpat didalam hatinya. Sumangkar
benar-benar gila. Beberapa kali ia merusak usahanya. Kini
orang itu telah menempatkannya pada kesulitan pula. Karena
itu ia berteriak “Sumangkar, kau adalah biang keladi dari
kehancuran Macan Kepatihan. Kini kau menolak tawaranku.
Baiklah marilah kita teruskan perkelahian ini. Siapa yang
menang, biarlah ia menjadi korban berikutnya dari
kebodohanmu. Dan kita berempat akan mati dilapangan
rumput ini. Apa katamu?”
“Lebih baik demikian Ki Tambak Wedi” sehut Sumangkar
“Lebih baik kita mati berempat disini daripada hanya kami saja
berdua. Setuju”
Sekali lagi Ki Tambak Wedi menggeram. Rupanya
kesempatan untuk bersama-sama menghancurkan Kiai
Gringsing telah benar-benar tertutup baginya, sehingga tidak
ada pilihan lain daripada meneruskan perkelahian itu matimatian.
Tetapi sejak saat itu Tohpati selalu dihantui oleh
kemungkinan yang sangat pahit. Terjebak oleh perangkap Ki
Tambak Wedi dan Kiai Gringsing bersama-sama. Karena itu
maka otaknya bekerja dengan sibuknya, disamping tenaganya
yang berjuang melawan lawan-lawannya, ia harus
menemukan jalan untuk melepaskan diri seandainya Kiai
Gringsing dan kedua anak muda Sangkal Putung itu mulai
menyerangnya pula dengan cara apapun.
Karena itulah maka Tohpati harus menemukan suatu cara
untuk mengusir mereka dari padang rumput ini. Bukan karena
ia takut untuk bertempur sampai mati, tetapi ia tidak mau mati
meringkuk dalam perangkap lawannya.
Tiba-tiba dalam kesibukan pertempuran itu Tohpati
memasukkan jari-jari tangan kirinya kedalam mulutnya, dan
sesaat kemudian terdengarlah ia bersuit nyaring membelah
sepi malam.
Sekali suaranya seolah-olah meluncur memenuhi padang
rumput, bahkan terpantul oleh bukit dikejauhan melengking
berkali-kali.
Ki Tambak Wedi terkejut mendengar suara itu. Bahkan
semua orang yang mendengarnya, termasuk Sumangkar.
Namun sebelum mereka menyadari keadaan mereka,
terdengar kembali suitan Tohpati untuk kedua kalinya dan
sesaat kemudian untuk ketiga kalinya.
“Gila!” teriak Sidanti “Apakah yang kau lakukan pengecut?”
“Mari, mari Ki Tambak Wedi dan Kiai Gringsing, majulah
bersama-sama. Cobalah tangkap Tohpati dan Sumangkar
malam ini”
“Kau panggil anak buahmu?” bertanya Sidanti
“Itu adalah hakku”
“Pengecut, kau tidak berani berkelahi sebagai seorang lakilaki”
“Aku adalah pemimpin pasukan Jipang. Aku tdiak mau
masuk kedalam perangkap kalian. Apakah aku harus
membiarkan kalian berbuat licik, berusaha memasukkan kami
berdua kedalam perangkap? Sedang aku, Macan Kepatihan
sebagai pemimpin pasukan tidak boleh memanggil
pasukannya?”
“Gila” desis Ki Tambak Wedi.
Namun sebelum mereka sempat berkata lagi, kembali
terdengar Tohpati bersuit. Kali ini berkepanjangan.
“Apa arinya?” gumam Ki Tambak Wedi.
Macan Kepatihan tertawa, katanya “Orang-orangku harus
menangkap kalian hidup-hidup”
“Kau benar-benar licik seperti setan” geram Ki Tambak
Wedi.
Tohpati tidak menjawab, namun tongkatnya berputar
semakin cepat menyambar lawan-lawannya.
Dalam pada itu timbullah pikiran baru didalam benak Ki
Tambak Wedi. Kalau pasukan Tohpati segera datang dan
membantu, maka keseimbangan akan segera berubah.
Betapapun lemahna orang seorang dalam pasukan Tohpati,
namun mereka pasti akan mampu menambah kekuatan kedua
orang yang tak dapat mereka kalahkan bersama dengan
Sidanti. Karena itu, maka tiba-tiba Ki Tambak Wedi itu
menggeram “Bagus Tohpati, karena kau tidak menepati
kejantananmu, maka biarlah aku melepaskan kesempatan kali
ini memenggal lehermu, memenggal leher adik gurumu. Tetapi
ingatlah, aku pasti akan datang untuk kedua kalinya”
“Pengecut” terdengar suara Tohpati “Kau akan lari?”
“Bukan aku yang licik”
“Tidak ada kesempatan. Perintahku, mengepung tempat ini
dan merapat dari jarak yang agak jauh, supaya setiap usaha
untuk lari dapat digagalkan”
“Persetan, laskarmu akan aku tumpas kalau berani
menghalangi aku”
Macan Kepatihan itu tertawa berkepanjangan. Katanya
“Jangan mengigau. Umurmu tidak akan lebih dari umur
bintang pagi yang baru terbit itu”
Ki Tambak Wedi menggeram sekali lagi. Tiba-tiba ia
berkata kepada muridnya “Musuh kita kali ini licik seperti
demit. Tak ada gunanya kita menjual kejantanan diri,
menghadapi setan-setan pengecut itu. Marilah kita tinggalkan
padang rumput ini, kita mencari kesempatan dilain kali”
“Tunggulah sebentar” cegah Sumangkar “Aku belum
selesai”
“Persetan” sahut Ki Tambak Wedi yang menyangka bahwa
Sumangkar ingin memperlambatnya, sehingga laskar Jipang
cukup waktu untuk mengepung mereka.
Sesaat kemudian Ki Tambak Wedi dan Sidanti itu
berloncatan menarik diri masing-masing, kemudian segera
mereka berlari meninggalkan gelanggang sebelum mereka
terjebak dalam kepungan laskar Macan Kepatihan.
Kegelisahan itu sebenarnya tidak saja melanda Ki Tambak
Wedi dan Sidanti. Kiai Gringsingpun ternyata terpaksa berpikir
menghadapi keadaan itu. Seandainya laskar Jipang yang
sarangnya mungkin tidak jauh dari tempat ini benar-benar
datang, maka mereka benar-benar berada dalam kesulitan.
Sebab Kiai Gringsing seperti juga Ki Tambak Wedi menyadari,
bahwa didalam laskar Tohpati itu ada orang-orang seperti
Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orang-orang lain yang
tidak jauh tingkatnya dari mereka itu. Disamping Sumangkar
dan Tohpati, maka mereka pasti akan menjadi orang-orang
yang sangat berbahaya.
Sekali dua kali Kiai Gringsing menimbang-nimbang.
Diamat-amatinya muridnya. Ia menjadi cemas apabila ia
menatap Swandaru yang gemuk itu. Anak itu kurang
perhitungan. Ia merasa tenaganya terlampau kuat, sehingga ia
tidak pernah mempertimbangkan kekuatan lawan-lawannya.
Karena itu maka ketika dilihatnya Ki Tambak Wedi
melarikan dirinya, tiba-tiba Kiai Gringsing berteriak “angger
Macan Kepatihan dan Sumangkar yang perkasa. Aku kali ini
lebih berkepentingan dengan Ki Tambak Wedi dan Sidanti.
Karena itu biarlah aku mengejar mereka. Mudah-mudahan lain
kali aku dan murid-muridku dapat menjumpai kalian berdia
dalam kesempatan seperti ini”
“Kau juga mau lari?” teriak Macan Kepatihan.
Kiai Gringsing tertawa, tetapi ia sudah meloncat sambil
berkata kepada murid-muridnya “Jangan lepaskan Sidanti”
Swandaru dan Agung Sedayu tidak sempat bertanya lebih
banyak. Segera mpun berloncatan mengikuti Ki Tanu Metir
mengejar Ki Tambak Wedi dan Sidanti.
Tohpati dan Sumangkar melihat mereka berlari-larian
meninggalkan lapangan rumput sambil tertawa “Hem”
geramnya “Aku sudah hampir kehabisan akal”
Sumangkar tidak segera menyahut. Ia masih memandang
kedalam malam yang semakin gelap, karena bulan yang
terbelah telah lenyap dibalik pepohonan.
Baru setelah mereka lenyap dari pandangan mata
Sumangkar, maka berkatalah orang tua itu kepada Tohpati
“Semula aku tidak tahu, apakah maksud angger sebenarnya”
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian jawabnya
“Kita tidak akan dapat melawan mereka semuanya apabila
mereka benar-benar ingin menjebak kita”
“Ya, dan angger telah membuat permainan yang baik
sekali. Ternyata mereka semuanya pergi meninggalkan kita.
Mereka menyangka bahwa angger benar-benar memanggil
anak buah angger”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
kemudian ia berkata bersungguh-sungguh “Tetapi ada
sesuatu yang tidak wajar paman. Aku sangka, Ki Tambak
Wedi dan Kiai Gringsing benar-benar tidak akan bekerja
bersama-sama, meskipun kita harus berhati-hati terhadap
dugaan itu”
Sumangkar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian
jawabnya “Aku juga menyangka demikian. Bahkan aku
menyangka diantara mereka benar-benar ada persoalan yang
telah membawa mereka dalam suatu keadaan permusuhan”
“Nah, bukankah kalau demikian kita akan dapat
mempergunakan salah satu pihak untuk keuntungan kita?
Sidanti misalnya?”
“Belum pasti ngger. Belum pasti kalau Sidanti dan Ki
Tambak Wedi akan dapat memberi keuntungan kepada
angger. Kalau sekali ia telah meninggalkan kesetiannya
kepada kesatuannya dan berpihak kepada lawannya, maka
orang yang demikian adalah orang yang benar-benar tidak
dapat dipercaya. Mungkin ia akan memperalat kita untuk
kepentingannya, kemudian menhancurkan kita sendiri.
Gurunya, Ki Tambak Wedi, bukankah contoh yang sangat baik
bagi sifat Sidanti itu?”
“Aku akan dapat mempergunakannya dimana perlu paman,
jangan sebaliknya”
Sumangkar mengerutkan keningnya. Kembali dadanya
dirayapi oleh kecemasan. Mungkin Tohpati akan dapat
mempergunakan Sidanti tanpa mencelakakan dirinya.
Mungkin kemudian Sidanti akan dapat dibinasakan oleh
Tohpati apabila ada tanda-tanda ia akan mengkhianatinya.
Namun dengan demikian, maka keadaan akan menjadi
semakin parah. Peperangan akan menjadi semakin berlarutlarut.
Karena itu, maka diberanikan dirinya berkata “Raden,
apakah Raden dapat bekerja sama dengan anak muda itu?
Setiap kali angger malahan akan kehilangan kesempatan
untuk berbuat sesuatu. Angger setiap kali hanya akan
mengawasinya saja. Pekerjaan itu pasti akan menjemukan
sekali. Dan bukankah dengan demikian angger akan
memperluas kesulitan rakyat Jipang dan Pajang sendiri?”
Tohpati menundukkan wajahnya. Tiba-tiba hatinya bergetar
cepat sekali. Teringatlah ia kini, akan apa yang
mengganggunya akhir-akhir ini. Kesadaran diri atas segala
yang telah berlaku dan akan dilakukan benar-benar
mengganggunya siang dan malam. Perang, kebencian,
kekerasan dan permusuhan merajalela.
Sesaat kemudian terdorong dalam suatu kesepian yang
pekat. Malam menjadi sangat gelapnya. Dilangit bintangbintang
masih bercanda dengan awan yang mengalir
dihanyutkan oleh angin yang lembut.
Sementara itu Ki Tambak Wedi dan Sidanti berlari
kencang-kencang meninggalkan padang rumput itu. Mereka
benar-benar menyangka bahwa Tohpati sedang memanggil
anak buahnya. Apabila demikian, maka mereka pasti akan
dibinasakan. Binasa dalam keadaan yang benar-benar
mengecewakan.
Apalagi ketika mereka berpaling, mereka melihat tiga buah
bayangan mengejarnya, maka segera mereka mempercepat
langkah mereka. Sesaat kemudian mereka telah menyelinap
kedalam gerumbul-gerumbul liar dan hilang didalamnya.
Kiai Gringsing yang berlari sambil menunggu muridmuridnya
ternyata kehilangan jejak. Karena itu, maka segera
mereka berhenti diantara gerumbul-gerumbul perdu. Sambil
mengangguk-anggukkan kepalanya, Kiai Gringsing bergumam
“Hilang, mereka hilang disini”
“Marilah kita cari Kiai” ajak Swandaru.
Swandaru benar-benar tidak melihat bahaya yang dapat
menyergapnya apabila mereka mencari. Ki Tambak Wedi
akan dapat menerkam muridnya satu persatu. Bagi Kiai
Gringsing sendiri, maka bahaya itu tidak akan sampai
membinasakannya. Namun bagaimana dengan Swandaru dan
Agung Sedayu? Ki Tambak Wedi dan Sidanti dapat berada
disetiap kegelapan dibalik gerumbul-gerumbul itu. Dengan
ujung-ujung pedangnya Sidanti dapat mendahuluinya. Apalagi
Ki Tambak Wedi.
Karena itu, maka Kiai Gringsing menggelengkan kepalanya
sambil bergumam “Sangat berbahaya Swandaru, terutama
bagimu dan bagi Agung Sedayu”
“Kalau demikian, lalu apa yang harus kita lakukan Kiai?”
Kiai Gringsing berdiam diri untuk sejenak. Ia tahu pasti
bahwa Swandaru menjadi kecewa. Jauh lebih kecewa dari
Agung Sedayu, sebab ia kehilangan kesempatan untuk
mencoba ilmunya. Sehingga Ki Tanu Metir dengan sangat
hati-hati mencoba melunakkan hatinya “Kita kehilangan lawan
Swandaru”
“Tetapi kita tidak mencarinya”
“Disetiap ujung daun-daun perdu itu mungkin sekali kau
temukan ujung pedang Sidanti atau ujung-ujung jari Ki
Tambak Wedi”
“Tetapi dengan demikian mereka tidak berlaku jantan”
“Mungkin demikian, namun apakah yang dapat kita katakan
dengan kejantanan itu apabila lambung kita telah tembus oleh
pedangnya. Dan bukankah sangat sulit untuk mencari dua
orang saja diantara gerumbul-gerumbul liar itu?. Mungkin
mereka tidak menunggu kita dengan ujung pedang, tetapi
mereka kini telah hilang menyusur gerumbul-gerulbul itu
masuk kedalam hutan. Nah, apakah dengan demikian kita
tidak hanya akan membuang waktu?”
“Apakah kita akan kembali ketempat Tohpati?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya. Katanya
“Setiap kemungkinan untuk dapat bertemu semua pihak telah
hilang. Seandainya Tohpati benar-benar memanggil anak
buahnya, maka kita akan masuk kedalam perangkapnya.
Seandainya Macan Kepatihan hanya menakut-nakuti Ki
Tambak Wedi dan muridnya, maka kini ia pasti sudah pergi”
“Ternyata bukan Ki Tambak Wedi dan Sidanti saja yang
menjadi ketakutan Kiai, kita juga menjadi ketakutan dan lari
terbirit-birit”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya. Ia tahu benar
perasaan muridnya yang seorang itu. Swandaru menjadi
sangat kecewa, bahwa ia tidak berhasil mendapat tempat
untuk mencoba segala macam ilmu yang selama ini
dipelajarinya.
Maka berkatalah dukun tua itu “Swandaru, kita harus
mempertimbangkan segala ekmungkinan yang dapat terjadi
atas perbuatan kita. Kita bukan orang-orang yang memiliki
kekhususan yang berlebih-lebihan. Bukan orang yang tak
pernah melihat kelemahan diri. Apabila demikian ngger, maka
kita telah mulai dengan langkah yang sangat berbahaya”
“Tetapi kita bukan pengecut-pengecut Kiai. Bukankah kita
anak-anak jantan yang pantang menghindari kesulitan?”
Ki Tanu Metir mengangguk-anggukkan kepalanya.
Kemudian jawabnya “Ya, apabila kesulitan itu berada dijalan
kita, maka kita tidak boleh menghindar. Kita harus mencoba
mengatasinya. Tetapi bukan kita mencari kesulitan apabila
kesulitan itu sama sekali tidak akan berarti apa-apa bagi kita”
“Kiai, baik Sidanti maupun Tohpati adalah orang-orang
yang sangat berbahaya bagi Sangkal Putung. Kenapa mereka
kita lepaskan setelah mereka berada diujung hidung kita?
Apakah dengan demikian kita tidak hanya malas mengatasi
kesulitan yang bakal datang?”
Ki Tanu Metir tersenyum. Muridnya yang seorang ini
memang keras hati. Dalam kekerasan itu maka apabila
mendapat menyaluran yang tepat, maka Swandaru akan
dapat menjadi seorang prajurit yang nggegirisi. Tetapi ternyata
bahwa akalnya masih belum mampu mempertimbangkan
setiap kemungkinan dari tindakannya.
“Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Sebaiknya mulai saat ini
belajarlah menilai diri sendiri secara wajar. Jangan erlalu
menghargai kekuatan sendiri berlebih-lebihan. Dengan
demikian kita akan mudah terjerumus kedalam tindak yang
kurang bijaksana. Coba hitunglah, apa yang dapat kita
lakukan bertiga dan apa yang dilakukan oleh Tohpati berdua
ditambah dengan laskarnya yang bakal datang. Kita tidak tahu
berapa orang, tiga, enam, sepuluh atau lebih. Diantaranya
akan datang Sanakeling, Alap-alap Jalatunda, dan orangorang
lain yang cukup berbahaya bagi kita. Nah, kita harus
memperhitungkan kemungkinan-kemungkinan yang akan
terjadi kalau kita bertempur melawan mereka”
“Jadi kita tidak berani menghadapi mereka itu?”
“Ada bedanya Swandaru” jawab Ki Tanu Metir “Ada
perbedaan antara seorang pengecut dan seorang yang
memperhitungkan kekuatan diri. Seseorang dapat saja
meninggalkan perkelahian dan pertempuran dalam keadaan
tertentu. Kalau kita meninggalkan Tohpati yang memanggil
laskarnya, maka kita sama sekali bukan pengecut. Tohpatilah
yang mulai. Sebab ia memanggil orang banyak untuk
menghadapi kita bertiga. Dan kita tidak mau membunuh diri
kita. Seorang pemberani bukanlah seorang yang membabi
buta dan membunuh diri sendiri”
Swandaru terdiam sesaat. Ia dapat mengerti keterangan
gurunya itu. Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya ia
berguman “Ya, aku mengerti Kiai”
“Bagus, ingatlah untuk seterusnya” sahut Kiai Gringsing.
Swandaru tidak menjawab. Ia dapat mengerti keterangan
gurunya, namun dihati kecilnya tumbuhlah perasaan yang
aneh. Seolah-olah ia sedang melarikan diri dari suatu tugas
yang harus diselelsaikan.
Ketika malam yang hening merambat makin jauh, maka
bergumamlah ktim “Kita kembali ke kademangan. Ada sesuatu
yang harus kita sampaikan kepada angger Widura dan angger
Untara. Perjalanan kita kali ini menangkap suatu peristiwa
yang tidak kita duga-duga sebelumnya. Sidanti dan Tohpati
berdiri berhadapan langsung sebagai lawan”
“Apakah yang penting dari peristiwa ini Kiai?” bertanya
Agung Sedayu.
“Mereka tidak bekerja bersama” sahut Kiai Gringsing.
“Mungkin hal ini baik bagi Sangkal Putung. Tetapi mungkin
buruk pula. Sidanti dapat membentuk suatu gerombolan baru
yang akan mempersulit keadaan. Ki Tambak Wedi mempunyai
pengaruh yang kuat dilereng Merapi ini”
Kedua murid Ki Tanu Metir itu terdiam. Berbagai persoalan
hilir mudik didalam kepala mereka. Swandaru masih merasa
aneh tentang dirinya, sedang Agung Sedayu dapat berpikir
lebih tenang dan memandang lebih jauh. Sifat-sifatnya dimasa
anak-anaknya ternyata ikut membantu mengekangnya
menghindari bentrokan-bentrokan yang sama sekali tidak
perlu. Untunglah bahwa setelah ia berhasil memecahkan
dinding yang mengungkungnya dalam dunia ketakutan, ia
tidak kehilangan keseimbangan. Untunglah bahwa ia berada
didekat kakaknya yang dapat memberinya petunjuk-petunjuk,
untunglah bahwa gurunya adalah seorang dukun yang banyak
sekali berusaha menyembuhkan orang-orang sakit, bukan
sebaliknya membuat orang menjadi sakit.
Sejenak kemudian maka merekapun meninggalkan padang
rumput itu, dan kembali ke kademangan Sangkal Putung.
Pada saat itu Tohpati dan Sumangkar telah pula
melangkah pergi. Mereka tidak meneruskan perjalanan
mereka ke Sangkal Putung. Tetapi mereka bermaksud
kembali kesarang mereka. Tohpati berjalan dengan wajah
tertunduk, sedang disampingnya Sumangkar berjalan sambil
mengamat-amati goloknya. Perlahan-lahan ia bergumam
“Besok aku akan mengalami kesulitan”
“Apa?” Tohpati terkejut mendengar keluhan itu.
Sambil menunjukkan goloknya Sumangkar berkata “Mata
golokku menjadi pecah-pecah. Aku tidak dapat lagi
mempergunakannya untuk membelah kayu”
“Oh” Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kalau bukan
Sumangkar yang berkata demikian, maka orang itu pasti
sudah ditamparnya. Namun tiba-tiba untuk melepaskan
kejengkelannya Tohpati itu berkata lantang “Besok aku akan
pergi ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya”
Sumangkarlah kini yang terkejut “Besok? Apakah angger
sudah cukup siap?”
Tohpati tidak segera menjawab. Ia melangkah semakin
lama menjadi semakin cepat dan semakin panjang, sehingga
Sumangkar terpaksa berkali-kali mempercepat langkahnya
pula.
Ketika Tohpati tidak segera menjawab pertanyaannya
maka sekali lagi Sumangkar bertanya “Angger, apakah angger
besok dapat menyiapkan laskar Jipang untuk menyerang
Sangkal Putung?”
“Aku telah siap sejak pecah perang Jipang dan Pajang”
geram Tohpati tanpa berpaling.
Sumangkar mengerutkan keningnya. Tiba-tiba terasa
sesuatu pada dinding Tohpati itu. Meskipun demikian
Sumangkar mencemaskan nasib Macan Kepatihan itu pula
sehingga ia berkata “Mungkin angger Tohpati sendiri telah
siap sejak lama. Tetapi apakah laskar angger, dan pimpinanpimpinan
yang lain telah siap pula?”
“Aku tidak peduli apakah mereka sudah siap atau belum.
Besok aku akan menyerbu Sangkal Putung. Untuk yang
terakhir kalinya”
“Kenapa yang terakhir kalinya ngger?”
“Aku sudah jemu pada peperangan ini. Aku sudah jemu
melihat pepati. Aku sudah jemu melihat darah dan
penderitaan”
Dada Sumangkar berdesir mendengar jawaban itu. Ia
sendiri adalah orang yang jemu menghadapi persoalan yang
seakan-akan tidak berpangkal dan tidak berujung. Tetapi ia
melihat pada dada Tohpati itu membayang keputus-asaan dan
kekecewaan yang meluap-luap. Disamping Widura dan
Untara, kini ia mengenal lawan yang baru, yang cukup
berbahaya pula laginya. Bukan Sidanti, tetapi Ki Tambak
Wedi. Ia tidak akan dapat menggantungkan nasibnya terus
menerus kepada Sumangkar, paman gurunya itu. Bahkan
kemudian diketahuinya pula bahwa di Sangkal Putung ada
orang yang menamakan dirinya Kiai Gringsing yang memiliki
ilmu sejajar dengan Ki Tambak Wedi, sehingga orang itu
berani menonton perkelahian yang sedang berlangsung
diantara mereka. Diantara ilmu yang bersumber dari Kedung
Jati melawan ilmu yang bersumber dari lereng Merapi.
Persoalan-persoalan yang tumbuh didalam
perkemahannya, persoalan-persoalan yang tumbuh
disekitarnya telah mendorong Tohpati dalam keadaan yang
sulit. Tetapi semuanyaitu tidak akan menggoncangkan
tekadnya, seandainya tidak ada persoalan-persoalan yang
tumbuh didalam dadanya sendiri. Beberapa hari ia telah
diganggu oleh pertimbangan-pertimbangan yang
membingungkannya. Pertimbangan-pertimbangan yang tidak
pernah dikenalnya sebelumnya. Tak pernah sehelai
bulunyapun yang meremang, apabila ia melihat darah, mayat,
mendengar pekik rintih dan tangis. Dadanya sama sekali tidak
tergetar melihat pedang yang berlumur darah dan bahkan
tubuh yang terpisah-pisah. Namun tiba-tiba kini ia merasa
ngeri hanya mengenangkan itu semua.Mengenangkan
kembali dan tidak sedang menghayatinya.
“Setan” geramnya.
Sumangkar berjalan terloncat-loncat disampingnya. Ketika
ia mendengar Tohpati menggeram, maka sekali lagi ia
bertanya “Kenapa angger menjadi jemu?”
Sekali lagi Tohpati menggeram, katanya “Kenapa paman
bertanya? Paman adalah salah satu sebab dari kejemuan itu.
Paman telah membujuk aku. Paman telah memperlemah
tekadku. Dan paman pasti akan menyetujui pendapatku.
Peperangan ini harus segera berakhir. Pajang atau Jipang
yang akan hancur”
Dada Sumangkar benar-benar bergetar mendengar
jawaban itu. Sehingga cepat-cepat ia menjawab “Angger telah
memilih jalan yang sama sekali tidak tepat”
Langkah Tohpati terhenti mendengar perkataan Sumangkar
itu. Dengan tajamnya ia memandang wajah orang tua itu
dengan sinar kemarahan yang menyala-nyala “Apakah yang
kau katakan paman?”
“Angger mencoba menempuh jalan yang salah”
“Kenapa?”
“Angger telah meninggalkan segenap perhitungan seorang
senapati”
“Apa gunanya perhitungan-perhitungan itu lagi? Bukankah
paman juga menghendaki supaya kami cepat hancur dan
peperangan berhenti?”
“Tidak”
“Paman” geram Tohpati “Paman sudah tua. Dan perkataan
paman sama sekali tidak dapat didengar dengan pasti. Apa
yang paman kehendaki sebetulnya? Jangan mencla-mencle”
“Tidak, aku tetap pada pendirianku. Aku menghendaki
peperangan segera berakhir. Tetapi aku tidak menghendaki
laskar Jipang membunuh dirinya”
“Apa pedulimu paman. Hidupku adalah wewenangku. Kalau
besok aku menyerbu Sangkal Putung sebagai sulung
menjelang api, dan kemudian aku akan binasa karenanya,
namun peperangan akan berhenti, bukankah paman akan
tertawa pula karenana. Paman akan tertawa melihat mayat
Tohpati dipenggal kepalanya dan diseret sepanjang jalan raya
Pajang untuk dipertontonkan kepada rakyat. Dan paman akan
tertawa melihat Untara mendapat hadiah serupa dengan yang
diterima oleh Pemanahan dan Penjawi?”
“Angger salah terka. Aku tidak ingin melihat angger
membunuh diri bersama seluruh laskar”
“Apa pedulimu? Apa pedulimu. He? Nyawa ini adalah
nyawaku. Hidup ini adalah hidupku sendiri”
“Aku tidak keberatan kalau Raden membunuh diri dengan
cara itu. Tetapi jangan membinasakan laskar angger itu.
Jangan membawa mereka terjun kedalam lembah kengerian
itu”
“Diam, diam kau tua bangka” teriak Tohpati dengan
marahnya sehingga tongkatnya terayun-ayun menunjuk
keakrah kepala Sumangkar. Tetapi kini Sumangkar tidak
meletakkan goloknya, tidak menyerahkan kepalanya sambil
ngapurancang. Tetapi orang tua itu tiba-tiba meloncat surut
sambil mempersiapkan dirinya. Benar-benar bukan
Sumangkar juru masak yang malas, tetapi Sumangkar yang
telah berhasil mengimbangi kekuatan hantu lereng Merapi.
Mata Tohpati terbelalak karenanya, seakan-akan ingin
meloncat dari pelupuknya. Betapa dadanya menjadi bergelora
seolah-olah akan meledak melihat sikap Sumangkar itu.
Melihat Sumangkar menyilangkan goloknya dimuka dadanya
dan siap menghadapi setiap kemungkinan.
Sejenak kemudian tubuhnya menjadi gemetar karena
marahnya. Tongkatnya yang putih berkilauan itupun bergetar
dalam genggaman tangannya. Sambil menunjuk si dengan
tongkatnya itu Macan Kepatihan menbentak “He, Sumangkar,
apakah kau akan berani melawan Macan Kepatihan?”
***
“Hem” Sumangkar berdesah “Angger Macan Kepatihan,
meskipun angger bernyawa rangkap berkadang dewa-dewa
dilangit, namun kau tidak akan mampu melawan Sumangkar”
“Persetan dengan kesombonganmu itu tetapi kau telah
berbuat kesalahan terhadap pemimpinmu disini”
“Apa salahku?Aku mencoba mengatakan apa yang baik
bagiku. Bagi pendirianku. Apakah itu salah? Kalau kau tidak
mau mendengarkan nasehatku, jangan kau dengar.
Berbuatlah sesuka hatimu. Kau bukan anakku, bukan cucuku.
Kau bagiku tidak lebih dari murid saudara seperguruanku.
Apakah kau akan mati pancang, ataukah mati digilas guntur
dari lagit, aku tidak akan kehilangan. Tetapi sebagai orang tua
aku ingin melihat, kalau kau mati, matilah dengan hormat.
Kalau kau jemu melihat penderitaan, jangan kau jerumuskan
anak buahmu dalam penderitaan. Kalau kau jemu melihat
pepati, jangan kau bawa anak buahmu kedalam lembah
kematian. Kau dapat berbuat banyak, namun orang akan
menilai apa yang telah kau lakukan. Apalagi kalau kau sudah
memutuskan untuk pergi ke Sangkal Putung yang terakhir
kalinya. Maka nilaimu sebagai seorang pemimpin akan
terletak pada saat-saat yang demikian itu”
Tohpati menjadi seolah-olah terbungkam. Ia tidak mampu
menjawab kata-kata Sumangkar itu. Dan bahkan
kepalanyapun terkulai tunduk menghunjam ketanah dimuka
kakinya. Tongkatnyapun kemudian tertunduk dengan
lemahnya.
Terdengar Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Kemudian
katanya “Maafkan aku paman”
Sesaat mereka terhentak kedalam kesenyapan. Angin
malam yang lembut mengusap mahkota dedaunan. Suaranya
yang gemerisik seolah-olah suara tembang yang sangat
rawan dikejauhan.
Dalam keheningan malam itu terdengar suara Tohpati berat
“Maafkan aku paman. Ternyata aku telah kehilangan akal”
“Jangan menyesal ngger” sahut Sumangkar sambil
mendekati Tohpati yang masih berdiri ditempatnya. “Aku
hanya ingin memberimu peringatan. Rupa-rupanya dengan
cara yang wajar, kau tidak dapat mendengar kata-kataku.
Mungkin dinding hatimu yang kisruh itu hampir-hampir telah
tertutup rapat oleh kebingungan dan kekecewaan, sehingga
aku harus menjebolnya dengan sedikit permainan yang agak
kasar”
“Tidak paman” sahut Tohpati “Aku berterima kasih kepada
paman. Paman telah menarik aku kembali pada tempat yang
sewajarnya bagiku. Aku akan dapat tegak kembali sebagai
seorang kesatria dari Kepatihan Jipang. Aku bukan sebangsa
cecurut yang kerdil menghadapi kesulitan. Terima kasih
paman. Akan aku pikirkan nasehat paman. Aku akan kembali
ke Sangkal Putung untuk yang terakhir kalinya, tetapi tidak
besok. Aku akan berbicara dengan Sanakeling”
Sementara itu mengangguk-anggukkan kepalanya.
Desisnya “Bagus. Angger adalah seorang pemimpin. Angger
tidak boleh kehilangan kebeningan pikiran. Kepadamu
tergantung beratus-ratus nyawa anak buahmu. Sedang pada
beratus-ratus nyawa itu tergantung beribu-ribu jiwa
keluarnganya”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya. Perlahanlahan
ia berkata “Marilah kita kembali keperkemahan”
Sumangkar mengangguk kecil “Marilah” katanya.
Sepanjang jalan kembali itu mereka sama sekali tidak
mengucapkan sepatah katapun. Mereka terbenam dalam
kesibukan pikiran masing-masing.
Begitu sampai kebaraknya, segera Tohpati berteriak
kepada seseorang yang berada disamping barak itu untuk
berjaga-jaga “He, panggil Sanakeling kemari”
Orang itu mengangguk hormat sambil menjawab “Baik
Raden”
Sepeninggal orang itu maka berkatalah Sumangkar “Aku
akan kembali kebarakku Raden. Silakan Raden
membicarakan persoalan ini dengan para pemimpin laskar
Jipang”
“Tidak paman” sahut Tohpati “Paman tetap disini”
Sumangkar menggeleng lemah “Aku hanya akan
mengganggu saja ngger. Mungkin aku akan menambah
persoalan yang akan angger bicarakan. Mungkin aku tidak
dapat menahan mulutku, apabila aku mendengar persoalanTiraikasih
website - http://kangzusi.com/
persoalan yang aku tidak sependapat. Karena itu, aku tidak
akan mencampuri persoalan-persoalan para pemimpin. Aku
hanya akan tunduk pada setiap perintah. Mudah-mudahan
angger tetap pada kejernihan hati”
“Nasehat paman sangat kami perlukan”
“Tetapi aku adalah orang tua ngger. Aku sudah tidak dapat
menyesuaikan diri lagi dengan anak-anak muda seperti
angger Sanakeling, angger Alap-alap Jalatunda dan beberapa
orang yang lain. Tetapi aku akan menjalankan setiap perintah”
Sumangkar benar-benar tidak mau lagi tinggal dibarak
Tohpati. Karena itu maka Macan Kepatihan terpaksa
membiarkannya pergi meninggalkannya dan berjalan tersuruksuruk
diantara beberapa barak kembali menuju kebaraknya
sendiri. Sebuah barak doyong beratap daun-daun ilalang,
bertiang bambu muda dan berdinding anyaman bambu pula.
Didalam barak itu ditemuinya beberapa orang tidur
mendengkur diatas tumpukan ilalang kering. Ketika salah
seorang membuka matanya terdengar suaranya parau “Dari
mana kau, paman Sumangkar?”
“Berjalan-jalan” sahut Sumangkar
“Tidurlah, hari telah jauh malam, bahkan hampir menjelang
pagi. Besok Kau terlambat bangun. Kenapa golok itu kau
bawa kemari?”
“golokku rusak”
“Kenapa?”
“Tulang-tulang harimau yang keras telah memecahkan
dibagian tajamnya”
Orang yang terbangun itu menguap sekali, lalu sahutnya
“Apakah kau mendapat seekor harimau?”
“Hanya tulang-tulangnya” sahut Sumangkar.
“Huh” orang itu mencibirkan bibirnya. “Jangan membual,
sekarang tidurlah”
“Aku belum mengantuk”
Orang itu, yang mengenal Sumangkar tidak lebih dari
seorang juru masak yang malas mengumpat. Katanya
“Pemalas tua. Besok kau pasti akan terlambat bangun. Kalau
kau tidak dapat menyiapkan makan kami, maka kepalamu
akan aku gunduli”
“Bukankah tidak aku sendiri juru masak diperkemahan ini?”
Bantah Sumangkar.
“Tetapi kaulah yang paling malas diantara mereka. Dan
kemalasanmu akan dapat menjalar kesegenap orang.”
“Bukankah itu bukan salahku.”
“Diam. Sekarang kau tidur. Kalau tidak aku sumbat
mulutmu dengan ilalang.”
Sumangkar tidak menjawab. Segera ia merebahkan dirinya
diatas tumpukan ilalang itu pula.
“Nah. Begitulah.” Gumam orang yang membentakbentaknya.
Sumangkar hanya tersenyum “Biarlah ia mendapat
kepuasan” katanya dalam hati “kasian orang itu. Jarang-jarang
ia menemukan kepuasan seperti ini. Apa salahnya aku
menyenangkan hatinya?”
Lamat-lamat masih terdengar orang itu berkata “Kalau kau
tidak mau menuruti perintahku, maka kau benar-benar akan
menyesal seumur hidupmu.”
Sumangkar masih saja berdiam diri. Dan orang itupun
masih saja bergumam untuk melepaskan kepuasannya. Ia
mengumpat Sumangkar sepuas-puasnya. Akhirnya orang
itupun terdiam. Ketika Sumangkar mengangkat kepalanya,
dilihatnya orang itu tidur mendekur menikmati mimpi yang
indah.
“Kasihan” desis Sumangkar “Anak itu tidak pernah
mendapat kesempatan untuk membentak-bentak orang lain
kecuali aku dan para juru masak. Para pemimpin lebih banyak
membentak-bentaknya daripada memberinya hati.”
Tetapi sejenak kemudian Sumangkar itupun benar-benar
merasa sangat penat. Matanya mulai diganggu oleh kantuk
yang amat sangat, sehingga sejenak kemudian orang tua
itupun tertidur pula diatas batang-batang ilalang kering.
Dalam pada itu, penjaga yang mendapat perintah dari
Tohpati untuk memanggil Sanakeling telah melakukan
pekerjaannya. Betapa Sanakeling mengumpat tidak habishabisnya.
Matanya yang seolah-olah melekat itu benar-benar
mengganggunya.
“Kenapa tidak menunggu sampai esok” keluhnya. Tetapi ia
tidak dapat membantah panggilan itu. Sanakeling tahu, bahwa
agaknya Macan Kepatihan sedang diganggu oleh perasaan
yang tidak menyenangkannya. Sehingga Alap-alap Jalatunda
mengalami perlakuan yang sedemikian buruknya. Karena itu,
maka betapapun juga, Sanakeling berjalan pula kebarak
Tohpati.
Sedangkan Tohpati hampir tidak sabar menunggu
kedatangan Sanakeling. Mondar-mandir ia berjalan didalam
ruang yang sempit itu. Ketika itu ia mendengar langkah
seorang diluar pintu, maka segera ia menyapa “Kau
Sanakeling”
“Ya Raden”
“Duduklah”
Sanakeling melangkah memasuki ruangan yang diterangi
oleh pelita yang samar. Meskipun demikian, betapa
terkejutnya Sanakeling melihat tubuh Tohpati. Dibeberapa
tempat dilihatnya goresan-goresan dan darah yang telah
kering.
“Kenapa luka itu?” bertanya Sanakeling dengan sertamerta.
Macan Kepatihan menggeram. Dipandanginya goresangoresan
itu. Tetapi sama sekali luka-luka itu tak terasa lagi.
“Kakang bertempur?” bertanya Sanakeling.
“Ya” sahut Tohpati pendek.
“Dengan orang-orang Sangkal Putung?”
Tohpati menggeleng, “Tidak” sahutnya “Dengan Sidanti”
“Sidanti?” ulang Sanakeling. “Jadi benar dengan orang
Sangkal Putung”
“Tidak” Macan Kepatihan mencoba menjelaskan “Sidanti
sudah tidak lagi di Sangkal Putung. Agaknya ada
pertentangan diantara mereka”
“Oh” Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Tetapi kenapa kakang bertempur melawan Sidanti itu?
Apakah dengan demikian kakang tidak dapat mengambil
keuntungan dari pertentangan itu?”
“Sidanti telah berkhianat atas kesatuan dan kesetiaannya.
Dimanapun ia berada maka ia akan berbuat hal yang serupa.
Anak itu memang ingin menggabungkan kekuatannya dengan
kita. Namun aku menolaknya”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Namun
tersirat pula kekecewaan hatinya. Segera ia mengetahui apa
yang agaknya terjadi. Tohpati dan Sidanti pasti telah
bertempur. Tetapi luka-luka itu benar-benar
mengherankannya, sehingga ia bertanya “Apakah Sidanti
seorang diri?”
“Tidak, bersama gurunya”
“Oh” Sanakeling mengangguk-angguk kembali. Ia kini
dapat membayangkan semakin jelas perkelahian yang terjadi
antara Tohpati dan Sumangkar melawan Sidanti dan Ki
Tambak Wedi.
Namun ia masih juga diliputi oleh perasaan kecewa. Kalau
saja Sidanti dapat berada dipihaknya, maka orang itu akan
dapat menambah banyak kekuatan pada kesatuan Jipang.
Sudah pasti bahwa Ki Tambak Wedi akan membantunya pula.
Mungkin pengaruh yang dimilikinya atas orang-orang dilereng
Merapi akan menambah jumlah kekuatan mereka. Tetapi ia
tidak berani menanyakannya kepada Tohpati. Besok atau
kapan saja apabila ada kesempatan ia ingin menemui Sidanti
dan membawanya dalam lingkungan mereka. Namun diantara
kekecewaan yang merayapi hatinya, Sanakeling menjadi
heran pula. Agaknya Sumangkar yang tua itu masih saja
memiliki ketangguhan yang dapat dibanggakan, meskipun
selama ini ia lebih senang berada dimuka perapian menanak
nasi.
Sanakeling itupun kemudian duduk disebuah bale-bale
bambu. Ia masih memandangi tubuh Tohpati yang tergores
oleh ujung pedang di beberapa tempat.
“Sidanti menjadi semakin maju” desisnya “Agaknya
gurunya selalu mengolahnya”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Kalau
demikian maka Sidanti akan lebih baik baginya.
Namun seolah-olah Tohpati mengetahui apa yang tersirat
didalam kepala Sanakeling itu. Maka katanya “Tetapi
betapapun baiknya anak itu, namun ia tidak dapat kita jadikan
kawan. Suatu ketika ia pasti akan menerkam kita sendiri”
Sanakeling tidak menjawab. Ia mengangguk lemah.
“Nah, lupakanlah Sidanti dan Ki Tambak Wedi itu” berkata
Tohpati tiba-tiba. “Kewajiban kita adalah menyerang Sangkal
Putung. Bagaimanamun juga kepergian Sidanti pasti akan
mengurangi kekuatan Sangkal Putung. Aku tidak tahu, apakah
laskar Sangkal Putung terpecah atau tidak. Syukurlah kalau
ada sebagian dari mereka pergi mengikuti Sidanti, tetapi
ukuran kita laskar Sangkal Putung masih utuh”
“Ya” sahut Sanakeling. Ia menjadi gembira mendengar
pendapat Macan Kepatihan itu. Laskarnya sudah terlalu lama
menunggu sehingga ia takut apabila akan timbul kejemuan
dikalangan mereka. Kejemuan itu sudah pasti akan sangat
membahayakan. Mereka akan dapat berbuat aneh-aneh untuk
mengisi kekosongan waktu mereka. Dan kadang-kadang akan
sangat merugikan. Kadang-kadang mereka berpencaran
kedesa-desa dan dengan demikian maka kadang-kadang ada
diantara mereka yang dapat ditangkap oleh laskar Pajang.
“Bagaimana pendapatmu?” bertanya Macan Kepatihan itu
kemudian.
“Sangat menarik. Aku sudah lama mengharap keputusan
itu. Agaknya kakang selalu ragu-ragu. Sekarang apabila
kakang telah menemukan keputusan, maka keputusan itu
harus segera dilaksanakan. Tidak ditunda-tunda lagi. Aku juga
sudah membuat perintah untuk bersiap. Tetapi karena aku
ragu-ragu bahwa kakang akan menundanya lagi, maka
perintahku belum perintah terakhir, belum perintah kepastian”
“Sekarang aku sudah pasti. Kita harus secepatna pergi ke
Sangkal Putung, bagaimana kalau besok?”
“He?” mata Sanakeling terbelak. Namun kemudian ia
tersenyum “Tidak mungkin. Besok aku baru mengambil
keputusan tentang perintah yang akan aku berikan. Besok
perintah itu pula baru akan dijalankan. Besok malam secepatcepatnya
laskar itu baru siap. Sedang kalau ada beberapa
kelambatan maka laskar itu baru akan siap lusa. Sehingga
sehari sesudah itu kita baru akan dapat mulai dengan setiap
rencana penyerangan yang baik. Bukankah kakang telah
beberapa kali mengalami kegagalan? Apakah kakang Raden
Tohpati, harus gagal lagi nanti?”
“Tidak. Kali ini harus kali yang terakhir”
Sanakeling tertawa. Sahutnya “Bagus. Karena itu persiapan
kita harus benar-benar masak. Bukankah kita harus
mendapatkan Sangkal Putung sebagai tempat perbekalan?
Kalau kita menduduki Sangkal Putung, maka kita harus dapat
memanfaatkannya. Lumbung kademangan itu harus dapat
segera kita singkirkan. Kita duduki tempat itu sejauh dapat kita
pertahankan. Meskipun kakang akan melepaskan beberapa
kepentingan didaerah selatan ini kelak, namun apa yang ada
didaerah yang subur dan kaya itu harus benar-benar
bermanfaat bagi kita. Korban telah banyak jatuh untuk
merebut daerah itu”
Tohpati mengangguk-anggukkan kepalanya.
Terbayanglahh apa saja yang pernah dilakukan untuk merebut
daerah ini. Bahkan akhirnya dirinya sendirlilah yang memimpin
pasukan Jipang untuk menguasai daerah yang kaya. Kaya
akan hasil bumi, sehingga lumbung-lumbung Sangkal Putung
penuh dengan padi. Dan kaya akan berbagai macam bendabenda
berharga. Penduduk Sangkal Putung terkenal sebagai
penduduk yang senang sekali menyimpan barang-barang
berharga. Perhiasan, ternak dan benda-benda lainnya.
Tetapi meskipun ia sendiri yang memimpin laskar Jipang
didaerah Sangkal Putung, namun ia belum berhasil untuk
merebutnya. Belum berhasil untuk menguasai kekayaan yang
tersimpan didalamnya. Dan Pajangpun agaknya tidak mau
melepaskan daerah itu, sehingga ditempatkannya Untara
untuk mencoba melindunginya.
Tohpati menarik nafas dalam-dalam. Sejak Arya Jipang dan
kemudian Patih Mantahun terbunuh dipeperangan, maka
korban masih saja berjatuhan. Satu demi satu dan bahkan
sepuluh dua puluh sekaligus. Peperangan masih saja terjadi
dimana-mana. Gerombolan kecil-kecil dari sisa-sisa laskar
Jipang masih bergerak terus, meskipun demikian mereka tidak
lebih dari gerombolan-gerombolan perampok dan penyamun.
Tetapi karena mereka masih merasa terikat oleh seorang
pemimpin yang mereka segani, maka mereka masih belum
melepaskan diri dari kelaskaran mereka. Kesetiaan mereka
kepada pemimpin mereka masih mengikat mereka untuk
merasa wajib melakukan perang untuk seterusnya. Dan
karena itulah maka dimana-mana masih timbul pepati.
Sedang pemimpin itu adalah dirinya sendiri, Tohpati
Tohpati menggigit bibirnya. Ia berterima kasih kepada
kesetiaan itu. Ia merasa betapa dirinya mendapat kehormatan
untuk mengikat sekian banyak manusia dalam satu ikatan.
Tetapi ia merasa bahwa dirinyalah sumber dari setiap akibat
dari kesetiaan itu. Akibat yang kadang-kadang tidak
dikehendakinya.
Ruangan itu untuk sejenak dikuasai oleh kesepian. Masingmasing
terbenam dalam angan-angan sendiri. Angan-angan
yang bertolak dari gejolak perasaan yang berbeda-beda.
Sanakeling masih dikuasai oleh nafsu untuk memiliki segenap
kekayaan yang ada di Sangkal Putung. Kekayaan yang
mungkin masih akan dapat membantu gerakan-gerakan yang
mereka lakukan. Dan kekayaan yang mungkin dapat
dimilikinya. Bahkan mungkin untuk dirinya sendiri. Mungkin
akan ditemuinya perhiasan-perhiasan yang sangat berharga.
Gelang, kalung atau pendok emas tretes berlian. Atau apa
saja yang dapat dimilikinya sendiri.
Sesaat mereka masih tetap membisu. Sanakeling masih
saja berangan-angan tentang kekayaan yang akan dapat
dirampasnya dari Sangkal Putung, sedang Tohpati berjejak
pada pendapat yang berbeda. Pendapat seorang pemimpin
yang melihat kenyataan-kenyataan dari laskar yang
dipimpinnya, perkembangan keadaan dan perhitunganperhitungan
atas masa-masa yang akan datang.
Malam yang hening itu kemudian dipecahkan oleh suara
Sanakeling penuh nafsu “Kakang, baiklah aku kembali
kebarakku. Aku berjanji bahwa orang-orangku dan orangorang
baru yang telah aku panggil dari daerah utara akan
merupakan kekuatan yang dapat dibanggakan. Sangkal
Putung kini ternyata telah berkurang kekuatan, sedang
kekuatan kita bertambah. Menurut perhitunganku maka
kekuatan yang telah ada disini ditambah dengan kekuatankeuatan
baru, akan dapat melanda Sangkal Putung dan
menghancurkannya. Laskar dari utara itu kelak akan kembali
dengan perbekalan untuk mereka, sedang laskar didaerah
inipun akan dapat memperkuat diri dengan semua yang akan
kita dapatkan dari Sangkal Putung”
Tohpati mengerutkan keningnya. Ia tidak menanggapi
angan-angan Sanakeling itu, tetapi ia berkata “Kembalilah.
Aku tidak dapat menunggu lebih lama dari waktu yang kau
katakan”
Sanakeling mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi
timbullah keheranannya atas sikap Tohpati itu. Beberapa kali
ia menunda penyerangan sehingga laskarnya tercerai berai
kembali, namun tiba-tiba kini Macan Kepatihan itu menjadi
sangat tergesa-gesa.
“Mungkin Raden Tohpati melihat kelemahan Sangkal
Putung kini” pikirnya.
Sanakeling itu kemudian berdiri. Dilihatnya halaman barak
itu. Gelapnya masih menghitam.
“Aku akan kembali” katanya.
“Kembalilah. Ingat-ingat perintahku”
“Baik” sahut Sanakeling sambil melangkah meninggalkan
ruangan itu. Disepanjang jarak yang ditempuhnya, bahkan
sampai ketempatnya dan ketika ia telah membaringkan
dirinya, dirasakannya beberapa keanehan pada pemimpinnya
itu. Ia melihat wajahnya yang murung, dan kadang-kadang
perbuatan-perbuatan yang tidak pernah dilakukannya
sebelumnya. Dalam keseluruhannya, tampaklah Tohpati
menjadi sangat gelisah. Tetapi Sanakeling tidak
mempedulikannya. Mungkin Tohpati sedang diganggu oleh
beberapa persoalan yang bersifat pribadi. Mungkin ia kesal
pada kegagalan-kegagalan yang dialaminya, atau mungkin
Tohpati sedang membuat rencana-rencana baru yang belum
dimengertinya.
Pada hari berikutnya, maka tampaklah kesibukan
diperkemahan itu. Beberapa orang berjalan hilir mudik dari
satu barak kebarak yang lain, sedang beberapa orang lagi
pergi meninggalkan perkemahan itu diatas punggungpunggung
kuda. Mereka harus pergi berpencaran mencari
tempat-tempat yang tersebar dari kawan-kawan mereka.
Gerombolan-gerombolan yang seolah-olah liar dan melakukan
berbagai perbuatan yang kadang-kadang benar-benar kasar
dan menakutkan. Perampokan, perampasan dan sebagainya.
Kadang-kadang hanya sekedar untuk memberikan kesan
bahwa keadaan sedemikian buruknya, tetapi kadang-kadang
mereka benar-benar melakukannya untuk memperpanjang
hidup mereka.
Dalam pada itu Sangkal Putungpun telah disibukkan pula
oleh persoalan yang dibawa Kiai Gringsing beserta muridmuridnya.
Untara dan Widura yang mendengarkan cerita Ki
Tanu Metir menjadi berlega hati, bahwa kekuatan Sidanti pada
saat yang pendek masih belum mungkin bergabung dengan
kekuatan Tohpati. Meskipun demikian disaat-saat yang akan
datang, mereka merasa, bahwa pekerjaan mereka akan
menjadi semakin berat. Apakah Sidanti dan Tohpati
menemukan titik-titik persamaan dan kemudian dapat bekerja
sama, apakah Sidanti dengan Ki Tambak Wedi akan
menyusun kekuatan baru untuk menggagalkan semua
rencananya. Kalau demikian, maka Sidanti pasti hanya akan
sekedar membalas dendam, dan mungkin setelah usaha
Untara dan Widura gagal di Sangkal Putung, Sidanti akan
menjual jasa melenyapkan Tohpati.
“Tetapi kedudukan Tohpati cukup kuat ngger” berkata Ki
Tanu Metir kemudian.
Untara, Widura dan bahkan Ki Demang Sangkal Putung
yang ikut pula mendengarkan segenap cerita itu mengerutkan
kening-kening mereka. Terdengarlah kemudian Untara
bertanya “Bukankah kita sudah mengetahui kekuatan
mereka?”
“Ternyata ada yang belum angger ketahui”
“Apakah itu?” bertanya Widura.
Ki Tanu Metir memandang mereka satu demi satu.
Kemudian katanya “Murid kedua dari Kedung Jati ternyata ada
diantara mereka”
“Siapa?” desak Untara
“Angger pasti sudah pernah dengar namanya, Sumangkar”
“Sumangkar” Untara dan Widura hampir bersamaan
mengulang nama itu.
“Ya” berkata Untara seterusnya “Aku pernah mendengar
nama itu, dan pernah pula melihat dan bertemu dengan orang
itu di kepatihan Jipang. Bukankah paman Sumangkar itu adik
seperguruan paman Mantahun?”
“Ya” sahut Kiai Gringsing.
Untara menarik nafas dalam-dalam. Yang terdengar
kemudian adalah suara Widura “Nama itu cukup mengejutkan
hampir seperti nama patih Matahun sendiri. Tetapi kenapa
selama ini orang itu tidak pernah hadir didalam setiap
pertempuran? Bukankah dengan tenaganya maka Sangkal
Putung pasti sudah dapat dipatahkan sejak serangan yang
pertama?”
Kiai Gringsing menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Entahlah. Aku tidak tahu. Apakah Sumangkar belum lama
berada diantara mereka, apakah ada sebab-sebab lain”
Namun ternyata berita itu benar-benar telah menyebabkan
Untara dan Widura berpikir keras. Kalau pada saat-saat
mendatang orang itu hadir pula dalam pertempuran, maka
keadaan Sangkal Putung pasti akan sangat berbahaya. Tetapi
tiba-tiba Untara tersenyum, katanya “Sumangkar benar-benar
berbahaya bagi kita disini seandainya ia ikut bertempur
bersama Tohpati, kecuali Kiai Gringsing bersedia menolong
kami”
Ki Tanu Metir mengerutkan keningnya mendengar katakata
Untara itu. Namun kemudian ia tersenyum sambil
menjawab “Hem, apakah aku harus melibatkan diriku
langsung dalam pertengkaran antara Pajang dan Jipang?”
“Adalah menjadi kewajiban kita bersama untuk berbuat
demikian Kiai” sahut Untara “Seperti Sumangkar merasa wajib
pula untuk melindungi Tohpati”
“Ya, angger benar. Angger tahu pasti pendirian Sumangkar
dalam pertentangan antara Jipang dan Pajang. Sumangkar
adalah orang kedua setelah Mantahun dalam perguruannya,
sedang orang kedua setelah Mantahun dalam tata kelaskaran
Jipang adalah Tohpati itu sendiri. Sehingga mau tidak mau,
maka Sumangkar adalah orang yang langsung
berkepentingan atas Tohpati itu. Baik Tohpati sebagai
pemimpinnya maupun Tohpati sebagai murid saudara
seperguruannya”
Mendengar jawaban itu, Untara mengerutkan keningnya.
Widura yang duduk disamping Untara menganggukanggukkan
kepalanya sambil memijit-mijit betisnya.
“Ya” desah Untara “Kiai benar. Seharusnya aku tidak
melibatkan Kiai dalam pertentangan yang belum pasti Kiai
setujui. Sebenarnyalah bahwa aku belum tahu pasti pendirian
Kiai dalam pertentangan antara Pajang dan Jipang”
Kiai Gringsing itupun tertawa. Sahutnya “Jangan
menangkap kata-kataku itu terlalu tajam ngger. Meskipun aku
termasuk orang yang menjadi bersedih hati melihat
pertentangan yang berlarut-larut antara orang-orang Pajang
dan orang-orang Jipang, namun aku melihat kenyataankenyataan
yang kini berlangsung. Akupun tidak akan dapat
melihat kelaliman dan kekerasan berlangsung terus-menerus.
Aku tidak menutup mata, bahwa laskar Jipang yang putus asa
itu menjadi liar dan berbuat banyak hal yang terkutuk. Karena
itu akupun tidak akan mengingkari tugasku untuk membantu
mencegah perbuatan-perbuatan itu”
Tiba-tiba wajah Untara dan Widura menjadi cerah.
Meskipun Kiai Gringsing tidak menjanjikan sesuatu dengan
jelas, namun apa yang dikatakannya adalah jaminan, bahwa
apabila Sumangkar turut campur pula dalam pertempuran
yang akan datang, dalam setiap pertempuran yang pasti akan
berlangsung lagi, maka Kiai Gringsing akan dapat menjadi
lawannya yang cukup berbahaya bagi murid kedua setelah
Mantahun dari perguruan Kedung Jati itu.
****
home
Home